11.06.2009

Suara Anak Negeri Untuk KPK dan POLRI


Untuk kejujuran yang telah tergadai dan belum terbeli lagi..
Untuk kepercayaan yang telah hilang dan mungkin sulit kembali..
Untuk uang dan kekayaan yang telah menguasai negeri ini disetiap lini..

Assalamualaikum kawan2 apa kabar? sudah hari Jumat ya sekarang.. tidak terasa satu minggu kini sudah akan berlalu, satu minggu yang telah dipenuhi dengan siaran-siaran televisi dan halaman utama media cetak yang memuat berita yang sama dan mungkin akan terus sama selama beberapa waktu kedepan, yaitu tentang Kasus KPK dan POLRI. (hehehe.. saya segan menyebut KPK sebagai cicak, karena cicak terlalu lemah dan kecil untuk institusi yang seharusnya kian membesar seperti KPK ini, sementara saya malas menyebut POLRI sebagai buaya, karena buaya terlalu buas dan garang untuk mewakili POLRI yang seharusnya sejalan dengan prinsip melindungi dan melayani masyarakat)

It takes me for weeks to deal with my thought saying 'Do i need to blog this matter? what do i know well about this ridiculous one?' i may know less but i come into realization that less less is more when it comes to pour this opinion...

Siapapun yang salah dalam kasus ini, maka harus ditindak, jika memang KPK yang salah dan dapat dibuktikan sebagaimana ditestimonikan Antasari dengan bukti yang kuat yang bisa ditunjukkan POLRI (dengan tuduhan penyalah gunaan wewenang, kata mereka) dan pengacara Anggodo (yang mengaku memiliki bukti transfer uang dll), tapi tentunya jangan sampai dijadikan ini sebagai pendukung agenda pengerdilan institusi mulia ini, karena institusi ini adalah obat psikologis bagi jiwa masyarakat yang terluka dan tersakiti akibat menyaksikan praktik Korupsi yang sudah menggurita di negeri ini, dan apapun bentuknya dalam praktik korupsi maka masyarakatlah yang dirugikan.. baik itu secara tidak langsung atau untuk jangka waktu yang panjang nantinya..

Lalu jika POLRI yang nyata-nyata salah dan terbukti menjadi pemain lapangan dalam upaya pemeretelan fungsi KPK, maka tidak bisa dengan mundur dari jabatan kemudian masalah selesai, karena kalau begitu semuapun bisa lari dari tanggung jawab. Semua harus diusut sampai akhirnya terbukti siapa dalang dan man behind the gun-nya, sadar atau tidak POLRI sekarang sedang bertaruh dengan menggantungkan nama baik, citra dan kehormatan institusi POLRI sendiri dimata masyarakat, yang saya tahu sekarang mereka sedang berusaha memperbaiki citra itu. Jika kasus ini berakhir dengan kenyataan bahwa POLRI hanyalah alat dari sang dalang, maka selamat!!! POLRI telah menjatuhkan marwahnya sendiri dan sang dalang pun harus siap menerima penghakiman dari masyarakat yang terluka.

Yang saya geramkan, adalah sikap presiden saya, presiden SBY yang kemaren telah menang satu putaran dengan suara mayoritas 60%, dimata saya sebagai seorang pemuda yang miskin pengalaman politik namun kaya idealisme ini, seharusnya Presiden SBY bisa tampil lebih garang dalam menindak, dan lebih jauh lagi justru ini sebetulnya adalah perfect moment untuk menunjukkan komitmen dalam pemberantasan korupsi, jika tidak maka masa2 bulan madu Presiden SBY dengan masyarakat yang telah memilihnya benar2 telah rusak dan berakhir dengan kekecewaan 60% suara yang telah mereka berikan (saya sendiri tidak memilih SBY waktu Pemilu kemaren).

Tentang Anggodo dan antek2nya serta anggodo2 yang lain, siapapun mereka, seberapapun kayanya mereka, maka mereka tetaplah tidak bisa menjadikan aparat penegak hukum dinegara ini sebagai boneka yang digerakkan dengan uang dan relasi pertemanan. Tindak mereka Pak Presiden, dengan segala alat negara yang negeri ini punya, tidak perlu menjadi kaku yang disertai rasa takut kalau2 terjadi kerusakan tatanan pemerintahan, karena semuanya bisa diatasi dengan komitmen, komunikasi serta koordinasi yang baik sesama institusi negeri ini. Namun jika tidak, maka mungkin masyarakat dan mahasiswa yang akan bergerak sebagai gelombang people power yang mengamuk, menyeret lalu menendang jauh semua ketimpangan itu.

Wassalamualaikum

12 komentar:

  • Elsa says:
    6 November 2009 at 09:48

    aku pingin tahu, gimana endingnya sandiwara ini.... jangan-jangan ntar gak happy ending.

  • irmaniz says:
    6 November 2009 at 12:18

    udah denger berita Evan Brimob?
    mana dari Sumsel pula..ck..ck..ck..

  • Erikson says:
    6 November 2009 at 13:10

    @Elsa: mari kita tunggukan mbak.. namun harapannya adalah semoga masalah ini tidak hilang tertimpa isu lain, karena sudah sering kita lihat terlupakannya suatu kasus karena ditimpa kasus lain.

  • Erikson says:
    6 November 2009 at 13:12

    @Irma: sudah yuk.. kemaren b rasoku la 9000 lebih yang gabung forum membenci dio, dan itu kemungkinan besak kawan si Dedek yuk , angkatan Erikson yang gawe di Brimob Palembang.. budak Muara Enim..

  • irmaniz says:
    6 November 2009 at 16:54

    hadooohhhhh, memang mulutmu harimaumu, memalukan nian sehhhh...

    iyo son ayuk jugo sempet kros cek samo kawan yg di brimob ternyata emang ado yg namonyo evan itu biaso dipanggil evan tempurung..

    tapi terakhir seh katonyo dio udah dipanggil samo atasannyo untuk minta maaf. biarlah jadi pelajaran untuk kito jugo.

  • Erikson says:
    6 November 2009 at 17:06

    @irma: hahahah jela nian ruponyo.. Evan Tempurung memang galak mintak alem caknyo budaknyo dr namonyo b la dipanggil mak itu.. yo lah yuk pelajaran berharga nian tu buat kito.. kl mujur tobat si Evan itu biar berenti mintak alem sepanjangan itu.. teringam nyingoknyo..

  • cebong ipiet says:
    7 November 2009 at 05:41

    benul benul benul itu...pemimpin negara masak membiarkan anak buahnya diacak acak sama satu makhluk jejadian berinisial aw ini. institusi besar pemerintahan mau maunya dijadiin boneka huh...

  • Erikson says:
    7 November 2009 at 06:12

    @Cebong: ya begitulah bong miris ngeliatnya.. semoga aja nanti kebenaran akan terkuak, amin..

  • suwung says:
    7 November 2009 at 14:40

    mas ditunggu tulisanya oleh kisda

  • Erikson says:
    7 November 2009 at 19:20

    @suwung: hahaha kapan ya ada momen lagi? :D:D:D:D:D salam kenal aja dengan kisda hehehe

  • tengkuputeh says:
    10 November 2009 at 16:02

    Dalam organisasi pemerintahan mencapai idealisme adalah sulit, bukan berarti tidak bisa.

  • Erikson says:
    10 November 2009 at 19:32

    @tengku: ya memang begitu adanya.. tapi mungkin fleksibilitas yang tetap terjaga bisa membuat kita tetap memegang nilai2, meski sulit lebih baik dicoba daripada ikut2an arus yang merugikan..

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.