3.30.2013

Idealita Kontra Realita

Sudah sebulan lebih aku pindah seksi. Kali ini di tempat yang sangat sibuk, itu sebabnya banyak yang enggan masuk seksi ini. Seksi Pelayanan namanya. Aku sendiri bersikap biasa saja, antara sungkan menunjukkan keengganan atau kecenderungan mengikuti jalan hidup. Tapi sejujurnya aku melihat ini sebagai tanggung jawab atau amanah. Itu sebab mengapa aku bisa melihat kehadiran semangat dari dalam diri sebagai wujud idealita.

Sayangnya, di seksi yang baru ini aku lebih banyak tersadar bahwa idealita berbenturan dengan realita.

Pada minggu pertama aku ditempatkan di loket terdepan sebagai petugas penerima laporan dan atau permohonan. Hal yang menyenangkan menjumpai banyak wajah. Tapi di saat yang sama justru menjadi hal yang menjengkelkan bilamana bertemu dengan pribadi yang suka menentang aturan, meremehkan petugas dan mau nya tahu beres tanpa mau diberi arahan. Dan saat itu, sekitar pukul 11.00 WIB hari Kamis tanggal 25 Februari 2013. Aku mendapati rekan sebelah meja berhadapan dengan pelapor yang enggan ikuti aturan, sang pelapor/ pemohon membentak rekan tadi yang kemudian berinisiatif meminta arahan atasan.

Saat itulah aku coba memberitahukan dengan santun pada sang pelapor ihwal tata aturan yang sebenarnya, sedikit banyak ia seperti bersedia. Dan segera aku susul rekan tadi untuk sudahi saja inisiatifnya sebab pelapor/ pemohon sudah melunak secara sikap walau dengan intonasi yang tetap tinggi. Tapi rekan tadi meminta pihak pelapor menghadap ke ruangan atasan, dan tak lama entah apa bentuk diskusi antara mereka akhirnya permohonan itu diterima. Atasan kami keluar mendekati kami para petugas front office dan si pelapor kembali ke bangku tempat mereka semula.

Saat rekan ku diminta memproses permohonan tak lengkap itu, ia dengan sungkan menolak. Dan memilih mengalihkan instruksi berisiko itu ke yang lain saja. Sial, tak lain tak bukan di sebelahnya adalah aku. Berat untuk menuruti permintaan atasan, karena memang salah. Apa lagi aku baru saja menjelaskan dengan pada pemohon ihwal tata aturan yang ada. Mau dikemanakan mukaku? Mengapa jadi aku yang tanggung risiko? Reflek, akhirnya saat instruksi ditujukan padaku, dengan tegas aku menolak. Penolakan yang diartikan sebagai pembangkangan pada atasan. Tapi buatku itu lebih baik daripada hidup tanpa prinsip.

Dan drama tak patut itu terjadi. Didepan banyak orang aku bersikeras mempertahankan sikap, atasanku murka karena mungkin ketegasan dan integritasku merobek wibawanya. Bertambah pelik saat pemohon tadi justru ikut memaki dengan umpatan yang tak pantas diingat dan dengan sikap yang merendahkan martabat. Naluriku meruyak ke permukaan, aku membalas sikap intimidatif mereka dengan tak kalah bernyali. Nyaris sebuah kotak saran lemparan mereka menyasar mukaku. Dan tak lama kemudian, seorang rekan menarikku keluar 'arena' untuk meredam suasana.

Bagaimana cerita selanjutnya aku tak tahu, tapi sejak saat itu aku dipindah ke backoffice. Itu tak masalah bagiku. Dari pengalaman itu aku belajar bahwa keteguhan memegang prinsip bisa saja diuji oleh realita tak kondusif yang muncul dari orang yang harusnya menyokong. Entah itu rekan yang suka mengalihkan risiko, atasan yang kompromistis atau pihak ketiga yang sulit mengerti. Tapi itulah harga mahal yang harus dibayar atas keteguhan memegang prinsip. Namun sandaranku cukup lah pendirian bahwa pekerjaan yang kulakoni adalah untuk keluarga. Aku tak mau tanganku kupakai untuk mencuci tangan kotor orang lain.

Mungkin ini namanya lain padang lain belalang. Di seksi yang baru ini sibuknya bagai pabrik, tapi ini memang jalan cerita yang harus dilewati. Sudah dirancang ALLAH. SWT begini. Satu pemikiran yang membuatku melihatnya sebagai amanah. Dan disaat yang sama inilah wahana baru yang bisa membuatku lebih berani bersikap dan berkembang. Supaya aku jadi belalang yang tidak sekadar hidup di padang ilalang lalu mati terbuang. Dan agar ada legasi yang dapat aku beri meski di tempat ini idealita bisa kapan saja berbenturan keras dengan realita.

Read more »

3.17.2013

Sekip dan Mozaik Satu Dekade.

Tahun 2003 akhir saat itu. Aku dengan enam teman sekolah jauh- jauh dari Baturaja datang ke Palembang untuk ikut tes uji coba STAN. Kami menginap di penginapan sederhana milik pemerintah di daerah Sekip. Itulah kali pertama aku tahu wilayah ini. Karena memang meski besar di Baturaja, aku cukup jarang mengelilingi Palembang.

Kini, 10 tahun sudah berlalu sejak masa 2003 itu, setelah berputar dalam banyak liku perjalanan, jarak dan pengalaman. Tidak kukira ternyata aku akan menjadi kian akrab dengan daerah ini, tiap kali kekasihku datang ke Palembang, ia menginap di Sekip. Karena disitu ia sempat tinggal lama dengan keluarganya semasa menyelesaikan kuliah 6 tahun lamanya. Sehingga aku jadi makin sering ke daerah ini. Terlebih di saat- saat seperti ini menjelang pernikahan kami, komunikasi dan segala persiapan harus lebih intens dan mantap.

Setidaknya untuk beberapa waktu kedepan, aku kira, aku memang akan berjodoh dengan daerah ini. Kami memilih untuk mengontrak rumah sebagai tempat tinggal untuk memulai hidup baru kami nanti di wilayah ini pula. Tadinya sempat kami mencari di daerah lain tapi dengan banyak pertimbangan dan kemantapan hati, ke Sekip juga jadi pilihan kami. Meski kami tahu wilayah ini rentan banjir karena dikepung kali.

Hidup kadang beginilah memang. Hal sederhana yang aku kira sepele tak bermakna ternyata adalah kepingan mozaik dari lukisan hidupku kini. Semua terhubung sejak dulu tanpa sadar sampai akhirnya didetik ini setidaknya memang benar bahwa tiada hal yang kebetulan, semua sudah dirancang Tuhan. Termasuklah tentang aku, kau dan wilayah Sekip ini.

Read more »

3.16.2013

USM STAN: TPA, Bahasa Inggris dan Pernak- Perniknya

Menarik saat mengingat bahwa sejak 2003 aku mulai biasa mengerjakan soal- soal seputar tes potensi akademik atau TPA biasa disingkat orang. Bagiku, memecahkan kerumitan di soal sejenis ini sama menariknya dengan memecahkan soal Trigonometri, Logaritma atau Fisika Dinamika Gerak Lurus. Aku mulai akrab dengan tipikal soal TPA karena saat itu aku mulai terpikir untuk melanjutkan sekolah di STAN. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Waktu itu aku kelas 3 SMA.

Rentetan Pengalaman dengan TPA.

Seingatku sudah sekitar 8 kali aku ikut tes TPA, yang pertama waktu Try Out STAN di tahun 2003 dan hasilnya aku ada di peringkat 60-an dari sekitar 100 peserta lalu di tahun 2004 dan berhasil menjadi peringkat 1 dari 350an lebih peserta, dan ditahun yang sama aku ikut Try Out di Palembang tapi hasilnya tidak diketahui. Kemudian aku juga ikut Try Out yang diadakan sebuah lembaga Bimbingan Belajar dengan peringkat 1 dari 5 peserta saja, karena memang pesertanya sedikit.

Sekitar Juni 2004 aku ikut USM STAN dan lulus untuk Prodip I. Kemudian dalam rangka persiapan lanjut sekolah ke STAN kembali untuk program DIII, dan aku ikut tes di tahun 2008 tapi belum berhasil sehingga untuk persiapan yang lebih baik di tahun depan aku ikut Try Out di kota Depok tahun 2009. Hasilnya peringkat 1 dari sekian ratus peserta. Dan terakhir di tahun 2009 untuk kali kedua akhirnya Alhamdulillah aku lulus dan bisa kembali kuliah di STAN. Rencananya tahun depan aku akan ikut tes kembali untuk bisa kuliah di program DIV STAN.

Sederet pengalaman diatas menunjukkan bahwa kecakapan dibangun lewat ketekunan dan keberhasilan dibangun lewat kegigihan tekad serta doa untuk bisa terus bertahan dan maju.

TPA, Bukan Soal Biasa.

Tipe soal TPA menuntut penyelesaian dengan nalar yang baik karena pemecahanya bukan lewat rumus baku seperti pada ilmu Eksakta. Biasanya satu soal TPA mengandung informasi sebagai petunjuk solusi, namun petunjuk itu menyebar, seolah tidak saling terhubung dan tidak lengkap. Sehingga dalam menyelesaikannya kita harus mampu menghubungkan 'clue' yang ada agar terlihat keterkaitanya. Disaat yang sama itulah baru ketahuan titik kosong yang hendak kita cari tahu sebagai jawaban. Jadi, jangan harap soal TPA akan dengan gamblang memberi petunjuk yang mudah dalam menjawab.

Contoh: Setiap Minggu Agus mendapat uang saku dari orangtuanya. 1/3 dari uang sakunya ia gunakan untuk ongkos dan 2/5 dari sisanya ia belikan jajanan. Setelah digunakan untuk ongkos dan jajan, ia masih memiliki sisa Rp. 24.600,- untuk ditabungkan. Berapakah jumlah uang saku yang diterimanya dalam satu bulan?

Jawab: Petunjuk 1: Uang saku diberikan secara Mingguan. Sebesar Rp. X,-Petunjuk 2: 1/3 untuk ongkos, 2/5 dari sisanya untuk jajan. Petunjuk 3: Setelah jajan dan ongkos masih sisa Rp. 24.600,-Petunjuk 4: Soal meminta jumlah uang saku dalam satu bulan.

Langkah 1: Cari besar nilai uang saku dalam seminggu. Yakni cari nilai X. 1/3x --> untuk ongkos, sisanya 2/3x. 2/5 dari sisa dipakai untuk jajan, atau sebesar 2/5. 2/3x= 4/15x Sehingga: 1/3x + 4/15x + Rp. 24.600,- = x x= Rp. 61.500,-

Langkah 2: Kalikan nilai x dengan 4 untuk nilai uang saku bulanan. Sehingga didapat nilai Rp. 246.000,-

TPA pada Seleksi STAN

Diatas hanya salah satu contoh soal tingkat mudah dalam TPA, karena memang ada beberapa soal yang tingkat kerumitanya tinggi. Untuk STAN, seleksi TPA itu sendiri dibagi menjadi 7 jenis. Yaitu sebagai berikut;

#1. Tes kosa kata yang meliputi sinonim, antonim, dan klasifikasi kata. Akan tetapi, tipikal soal ini menyoal kosa kata yang tidak lazim dipakai sehari- hari, sehingga peserta harus terbiasa dengan kosa kata asing yang merupakan istilah yang kerap dipakai dalam media dan konteks tertentu. Aku pribadi membiasakan diri dengan banyak membaca serta memahami derivasi etimologi perbendaharaan kata yang kadang mirip makna dan ejaanya.

#2. Tes Wacana. Soal dalam bentuk wacana ini akan menyajikan sebuah wacana yang terdiri dari beberapa paragraf. Dan pertanyaan akan berkutat pada isi wacana itu seputar fakta didalamnya dan kesimpulannya. Kadang tipe soal ini memakan waktu, sehingga perlu untuk mencari cara menjawab dengan cepat dan tepat. Tidak ada salahnya menggunakan trik skimming (membaca kilat) atau menjawab dengan membaca soal lebih dahulu. Karena kita memang tidak dituntut untuk paham wacana tersebut.

#3. Tes Analisis. Peserta diberikan sebuah kondisi atau keadaan suatu situasi dengan syarat yang ditentukan. Solusi tipe soal ini biasa aku cari dengan menggambarkan syarat situasi itu dalam beberapa kemungkinan susunan. Biasanya terdapat satu yang mendekati jawaban yang dusediakan dalam pilihan.

#4. Tes Deret Angka dan Huruf. Pernah lihat sederetan angka dan atau huruf lalu kita diminta menjawab tiga isian deret selanjutnya? Di STAN soal ini selalu muncul. Bagiku tipe soal ini meminta agar kita menemukan pola deret tesebut yang kadang tersimpan dalam tiap deret digit didepan atau setelahnya atau saling lompat. Uniknya kadang pola itu tersimpan tidak langsung di tiap deret itu secara langsung tapi di turunan kedua setelah satu pola ditemukan.

#5. Tes Matematika Sederhana. Sederhana disini dalam arti bahwa soal dengan jelas menuntut perhitungan cepat atas jawaban, hanya saja soal tipe ini bukan sekadar menjumlah atau mengali. Tapi bagaimana pecahan atau bilangan berkoma harus dihitung cepat untuk dapat diambil persentase misalnya. Sesekali terselip juga Logaritma Sederhana dalam beberapa soal tipe ini.

#6. Tes Matematika Logika. Inilah tes tersulit karena rangkaian logika digabung dengan kerumitan cerita tentang angka sehingga untuk bisa dijawab harus di analisis dahulu. Aku terbiasa memetakan petunjuk pada soal menjadi rangkaian informasi yang mungkin bisa divisualisasikan. Biasanya ini cukup membantu dalam memecahkan soal. Slh bntuk sederhana tipe soal ini seperti yang aku jadikan contoh soal diatas.

#7. Tes Pola Bangun Datar dan Bangun Ruang. Tipe tes semacam ini menuntut peserta untuk mampu menggambarkan beberapa bangun atau bangun ruang dan pola didalamnya yang membentuk aturan tertentu. Semakin cakap mengimajinasikannya maka makin mampu peserta menjawab. Aku sering melatih daya imajinasi untuk menghadapi tipe soal ini dengan banyak latihan soal.

Kabar baiknya adalah semua tipe tes tersebut adalah standar psikotes yang lazim diujikan di ujian masuk institusi swasta, pemerintah atau kampus kedinasan lain sehingga perbanyaklah porsi latihan agar terbiasa menyelesaikan soal- soal jenis demikian. Rekomendasi, bisa beli buku psikotes karangan Prof Yul Iskandar ada tiga seri disitu lengkap dibahas dan untuk variasi bisa beli buku kumpulan soal ujian masuk CPNS atau cari di internet dengan kata kunci 'kumpulan psikotes'.

Jangan Lupakan Bahasa Inggris

Satu lagi, dalam seleksi STAN peserta harus diuji Bahasa Inggris untuk pemahaman wacana, tata bahasa dan kosa kata. Jujur saja, menurut pendapat saya, tingkat kesulitan Bahasa Inggris ujian STAN setara dengan ujian TOEFL PBT. Sehingga bisa dimaklumi bila banyak peserta yang mengaku sulit di tahap ini.

Penting sekali untuk mengasah keahlian Bahasa Inggris dengan latihan soal TOEFL, makin sering makun bagus karena mempertajam naluri berbahasa dan memperkaya kosa kata, kedua hal ini sangat membantu saat ujian. Ujian Bahasa Inggris di STAN digabung dalam satu sesi tanpa jeda bersama TPA, hanya saja alokasinya dibedakan. Dari 150 menit waktu yang tersedia. Hampir 120 menit akan dialokasikan untuk TPA, baru Bahasa Inggris. Terkadang pengawas ujian tidak memberitahukan hal ini sehingga ada baiknya peserta bertanya sebelum ujian dimulai untuk menghindari kepanikan diakhir waktu.

Waspadai Sistem Minus, Nilai Mati dan Alokasi Waktu

Dalam ujian STAN diterapkan sistem minus dalam penilaian hasil ujian. Nilai 4 untuk jawaban benar, 0 bila tidak menjawab dan -1 untuk jawaban salah. Akumulasi nilai akhir adalah hasil perhitungan nilai tersebut. Sangat penting bagi peserta ujian untuk sebanyak mungkin menjawab dengan benar dalam ujian karena untuk masing- masing sesi TPA dan Bahasa Inggris peserta minimal harus memnjawab soal dengan benar 1/3 dari jumlah soal yang ada.

Hasil perhitungan nilai akhir disandingkan dengan syarat minimal 1/3 jawaban benar akan jadi penentu kelayakan peserta untuk 'diadu' secara nasional sebagai calon mahasiswa. Jika ada 5.000 peserta yang memenuhi syarat nilai akhir dan nilai mati, sementara diperlukan hanya 2.400 orang, maka 2.400 orang peringkat atas yang akan dinyatakan lulus dan berhak untuk daftar ulang sebagai mahasiswa.

Selain dua hal diatas perlu diketahui bahwa dengan jumlah soal sebanyak 180 buah alokasi waktu yang tersedia cuma 150 menit. Artinya, jika hendak dikerjakan semua, satu soal harus diselesaikan kurang dari satu menit. Saya sendiri tidak pernah menjawab semua soal ujian tapi semampunya saja. Selain pertimbangan waktu juga karena meminimalisir nilai minus yang khawatir justru menggerus perolehan nilai.

Sebagai contoh:

Dalam suatu ujian STAN, seorang peserta bernama Nathan berhasil menjawab 110 soal TPA dan 40 soal bahasa inggris. Dimana jawaban salah untuk TPA ada 10 dan ada 10 pula untuk Bahasa Inggris. Sehingga nilai Nathan adalah:

TPA : (110-10)X 4 + (10X -1) = 390 B. Inggris : (40-10)X 4 + (10 X -1) = 110 Total : 500.

Apakah Nathan lulus?

Belum tentu, karena harus dilihat dulu apakah untuk dua tes itu jumlah jawaban benarnya sdh diatas minimal 1/3 dari jumlah soal. TPA minimal 40 jawaban benar, Bhs. Inggris minimal 15 jawaban benar. Dan atas dual hal ini, Nathan jelas berhasil. Apa tentu Nathan lulus? Belum tentu karena masih harus dilihat berada dalam posisi berapa Nathan dalam pemeringkatan nasional. Jika masih dalam rentang yang dibutuhkan maka Nathan baru dapat dinyatakan lulus.

Santai, Jangan Tertekan.

Persiapan yang baik itu perlu, makin awal makin baik karena jelas makin matang. Untuk itulah menjelang ujian seharusnya sudah tidak perlu cemas lagi. Justru di saat tersebut sebaiknya diisi dengan kegiatan santai atau istirahat untuk rileks dan mengisi ulang energi supaya prima saat ujian. Tidur saja lebih awal semalam sebelum ujian. Bagi yang muslim ini malah memberi kesempatan untuk sholat tahajjud di sepertiga malam sebagai waktu yang mustajab.

Ada harapan gembira, menurut isu internal yang berkembang di lingkungan Kementrian Keuangan tahun ini STAN akan kembali menerima mahasiswa baru sekitar 5.000 orang. Sehingga bagi yang berminat dapat menpersiapkan diri jauh- jauh hari. STAN, bagaimanapun adalah sakah satu jalan untuk menjadi pribadi bermanfaat. Dan tiket masuk nya sederhana, cuma penguasaan yang baik tentang TPA, Bahasa Inggris serta Doa. Ohya, satu lagi, kadang faktor keberuntunfan juga ikut serta mengingat tipe soalnya pilihan ganda.

Selamat berjuang untuk kita semua, semoga berjumpa di kampus tercinta. Aamiin.

Read more »

3.10.2013

Rokok, Hak Asasi dan 5 Fakta Ironi.

Bukan hal yang mudah bagi saya memutuskan untuk menuliskan hal ini. Sedari kecil saya sudah akrab dengan asap rokok. Ayah saya perokok berat. Begitu juga keluarga, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Di lingkungan teman sepermainan masa remaja pun setali tiga uang. Kondisi ini berlanjut saat saya memasuki dunia kerja dimana mayoritas teman lingkungan kerja adalah para perokok. Dan kebetulan pula, dunia pendakian gunung yang saya gilai turut membuat saya masuk dalam pergaulan yang sebagian diikat oleh rokok sebagai identitas.

Bahkan untuk beberapa waktu lamanya saya akui saya sempat menjadi perokok, walau tidak sampai pada fase kecanduan, murni sebagai pelarian semata. Intinya saya akrab betul dengan aroma asap dari rokok yang dinyalakan, cita rasa tembakau didalamnya atau manis gabus filter di ujung batangnya. Rentetan pengalaman itu membentuk pola pikir saya bahwa merokok itu hak. Setiap orang sah- sah saja untuk menikmatinya. Terlebih untuk mereka yang sudah belasan atau puluhan tahun lamanya menjadi perokok.

Hingga akhirnya di satu titik, saya berpikir ulang ihwal rokok ini. Jika memang merokok itu nikmat, lalu mengapa edukasi dan himbauan untuk stop merokok makin kian massif? Atau kalau memang merokok itu adalah hak, lalu mengapa sebagian masyarakat menjadi gusar dan anti rokok? Dan terakhir, siapa sebenarnya yang diuntungkan lewat batangan rokok yang kerap kita hisap?

Pertanyaan yang mencecar pikiran itu memunculkan bayangan intimidasi yang menuntut jawaban logis dan tegas. Karena bagaimanapun juga, dari sudut pandang ekonomi dan sosial, rokok terbukti lebih banyak membawa kerugian daripada kebaikan. Semua tahu itu. Oleh karena itu, mungkin beberapa informasi berikut dapat menjadi jawaban yang (semoga) mencerahkan, agar tidak ada lagi debat kusir yang tak berkesudahan soal rokok.

1. Prevalensi Merokok Kita Melonjak

Lembaga Demografi FEUI menuturkan bahwa ada indikasi peningkatan persentase orang merokok di Indonesia. Dan realitanya 67,4% pria Indonesia adalah perokok, tertinggi di dunia. Fakta statistik tersebut dirilis oleh Global Tobacco Survey Indonesia akhir tahun lalu. Sementara jumlah wanita perokok di Indonesia mencapai 4,5% yang merupakan posisi ke 13 dunia, persis dibawah Mexico. Dihubungkan dengan angka kemiskinan di negeri ini, maka persentase setinggi itu tentunya menyasar masyarakat ekonomi lemah.

Itu artinya, fakta miris yang kita hadapi adalah bahwa rokok telah menjadi barang utama bagi kaum papa yang lebih diutamakan ketimbang pangan primer. Uang yang seharusnya dialokasikan untuk membiayai pendidikan dan kesejahteraan justru dihabiskan untuk membeli rokok. Sehingga jika kondisi ini dibiarkan, dalam jangka panjang, negeri ini akan menanggung biaya kesehatan dan ongkos sosial lainnya. Dan ini beresiko membuat peningkatan kualitas manusia bangsa ini tidak hanya tertinggal tetapi juga tenggelam.

2. Kehilangan Momentum Bonus Demografi

Remaja merokok makin menjadi pemandangan biasa di sekitar kita. Padahal mereka adalah pemain bursa kerja 15- 20 tahun mendatang. Menurut Riset Kesehatan Dasar 3 tahun silam jumlah remaja yang merokok di seluruh Indonesia mencapai 28,2% dan khusus wilayah DKI mencapai 44,6%. Remaja- remaja tersebut jika dibiarkan tanpa kesadaran akan risiko rokok akan menuai akibat secara akumulatif 15 tahun sejak mereka mulai mengonsumsi rokok. Periode dimana seharusnya mereka produktif di pasar kerja justru harus mereka hadapi dengan kondisi sakit- sakitan.

Bila demikian, bonus demografi yang digadang- gadang akan Indonesia nikmati kelak jelas cuma tinggal mimpi. Bonus demografi secara dramatis akan menjadi petaka demografi, miris. Akan tetapi, mereka menjadi perokok bukan tanpa alasan. Mulai dari kemudahan mendapat rokok (membeli eceran), faktor pergaulan hingga perilaku orang tua yang juga perokok.

3. Melemahkan Ekonomi Negara, Makin Jauh Dari Sejahtera.

Bukalah serial data angka APBN di pos Beban Subsidi. Kita akan lihat bahwa pengeluaran negara akibat rokok ini meningkat. Secara riil ini terlihat dari makin tingginya subsidi kesehatan dalam banyak bentuk untuk membantu penduduk miskin yang sakit, salah satunya akibat rokok.

Menurut Badan Litbang Kesehatan Kemenkes tahun 2010. Kerugian total makroekonomi yang meliputi disabilitas pada angka natalitas dan waktu produktif yang hilang akibat konsumsi rokok mencapai Rp. 245,4 Triliyun. Bahkan, Rp 2,11Triliyun dari total Rp 7,40 Triliyun dana Jamkesmas dihabiskan untuk pengobatan penyakit akibat rokok. Sementara biaya pembelian rokok di masyarakat mencapai Rp. 138,0 Triliyun.

Dan sadarkah kita bahwa di tahun yang sama penerimaan negara dari cukai rokok tidak lebih dari Rp. 56 Triliyun? Sehingga jelas rokok adalah musuh bagi tujuan kesejahteraan negara. Fakta ini menjadi antitesis segala prediksi optimis yang ditujukan ke Indonesia oleh dunia internasional dua tahun belakangan ini.

4. Asap Rokok Adalah Racun, Titik!

Rokok memang tidak mematikan secara langsung. Tetapi asapnya sudah membuat rasa tak nyaman sekeliling, apalagi di kalangan masyarakat anti rokok. Tidak berhenti sampai disitu. Kita tidak boleh lupa bahwa kontak sosial dengan perokok rentan membuat seseorang jadi perokok pasif. Perokok pasif inilah yang lebih rentan berisiko menghirup racun dari asap rokok yang dihembuskan perokok aktif. Ada 4.000 zat kimia yang berbahaya bagi tubuh dalam sebatang rokok.

Racun tersebut meninggalkan bekas dari yang paling ringan menjadikan mulut berbau, noda pada gigi hingga yang paling fatal berupa gangguan mental pada bayi dari ibu yang perokok baik aktif maupun pasif, penyakit jantung hingga kanker paru- paru. Merokok memang selama ini dipahami sebagai hak asasi, tapi hak asasi itu bukanlah absolut. Sebab dibatasi oleh hak orang lain pun untuk menikmati udara bebas tanpa asap rokok.

Jika merokok adalah kenikmatan. Maka nikmatilah rokok itu sendirian, jangan hembuskan racunnya pada mereka yang tak bersalah. Seorang perokok tentunya tak mau dicap sebagai pembunuh yang meracuni pelan- pelan.

5. Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Rokok telah menyebabkan kematian sekitar 400.000 orang dan jutaan orang menjadi sakit karenanya. Angka dramatis tersebut sejauh ini hanya dipandang sebagai statistik sebuah mortalitas. Padahal itu adalah petaka pembunuhan terstruktur akibat pembiaran yang berlarut-larut. Fakta ini menggiring kita pada satu pertanyaan. Mengapa industri rokok lalu masih kuat bercokol di negeri ini? Mengapa pemerintah terkesan cuma diam? Dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari besarnya pangsa pasar rokok di Indonesia?

Sejarah industri rokok di Indonesia adalah cerita tarik ulur regulasi selama 20 tahun lebih sejak 1991 ketika kali pertama label bahaya rokok wajib dicantumkan dalam kemasan. Dan 19 tahun kemudian melalui UU 36/2009 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa Tembakau adalah zat adiktif. Kini pergulatan itu berlanjut melalui pembahasan RUU Tembakau yang diajukan kubu pro rokok dan RUU Penyiaran yang melarang iklan rokok di TV. Ada lobi dan kompromi tingkat tinggi yang sangat jauh dari akar rumput sebagai subjek kebijakan.

Pelaku industri rokok jelas menjadi pihak yang mendulang rupiah dan laba dari rokok. Baik domestik maupun asing. Ironisnya, negara asal produsen rokok internasional merek ternama yang marak dikonsumsi masyarakat Indonesia kelas menengah ke atas justru sama sekali tidak ada dalam 17 top negara dengan penduduk perokok terbanyak. Seharusnya kita sadar bahwa kita tak lebih dari bangsa yang dibodohi.

Saya tak hendak menyampaikan kebencian pada teman- teman perokok melalui tulisan ini, tapi setidaknya ada hal yang sekiranya patut saya sampaikan sebagai renungan pribadi dan kita semua bahwa begitu banyak cerita yang tak tersampaikan ihwal rokok ini, yang membuat kita lupa akan bahayanya bagi kita, lingkungan sekitar dan lebih jauh lagi bagi masa depabpn bangsa ini.

Saya sangat menghargai teman- teman perokok yang berbudi, yang enggan melepas asap racun rokok kepada saya saat berbicara berhadap- hadapan atau saat berkumpul bersama dengan beberapa teman. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa pola pikir bangsa ini masih menempatkan aktivitas merokok sebagai hak asasi, namun sampai disini marilah kita letakkan hak asasi ini berbatasan dengan hak asasi orang lain yang pula berhak akan udara bebas tanpa rokok.

Salam damai, untuk masa depan bangsa yang lebih baik.

Ebas
Palembang
Awal Maret 2013.

Read more »

3.07.2013

Prahara Baturaja: Potret Buram Disharmoni TNI POLRI

Cerita disharmoni TNI & POLRI bukanlah kabar baru di negeri ini. Peristiwa kerusuhan yang dilakoni dua institusi ini terakhir terdengar di Gorontalo, Sumatera Utara (Belawan) dan Maluku (Masohi). Ketiganya terjadi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Dan hari ini, cerita kelam itu terjadi lagi. Markas Polres Ogan Komering Ulu, Baturaja, Sumatera Selatan habis dibakar oknum TNI dari kesatuan Yon Armed Martapura. Pertanyaan kemudian muncul. Ada apa?

Sebuah Kronologis dan Konflik Individual Personil

Menarik untuk dicermati. Bagaimana sebuah isu personal individu kemudian bisa mengalami eskalasi hingga tataran institusional. Pasca rekonstruksi perkara di Mapolda Sumsel terungkap bahwa Prahara Baturaja bermula dari rasa sakit hati oknum POLRI yang tengah bertugas di pos jaga mendapati serangan verbal dari oknum TNI yang sembari melaju dengan sepeda motor. Mulutmu harimaumu. Pepatah ini kemudian muncul menjadi kebenaran bagi sang oknum TNI. Oknum POLRI yang dikuasai emosi dan sakit hati bereaksi dengan mengejar lalu melesakkan tembakan ke oknum TNI yang kemudian jatuh sekarat dan wafat dalam perjalanan sebelum memdapat tindakan medis. Emosi berujung sesal, pameo ini tidak berlebihan bila dinisbahkan atas peristiwa ini. Satu dibui satunya lagi tewas.

Penulis yang notabene penduduk Baturaja melihat ekses peristiwa ini dilapangan beberapa waktu lalu ketika pulang ke Kampung Halaman. Baturaja Tanpa Polisi. Itu benar terjadi, seolah sudah tahu potensi kericuhan yang dapat muncul, petugas POLRI yang biasa berjaga di jalanan lalu lintas, selama hampir beberapa pekan tidak tampak terlihat. Sudah jadi rahasia umum bahwa jiwa kebersamaan di kalangan TNI begitu tinggi, mungkin asumsi ini yang mendasari sangkaan munculnya potensi serangan dari oknum kelompok TNI. Sehingga POLRI di lapangan diputuskan untuk 'dihilangkan' dari pandangan khalayak umum juga khalayak TNI.

Dari sini, isu individual meruyak menyeret prestis institusi dan memunculkan potensi kerusuhan. Terlebih terkait kabar bahwa belum ada kepastian hukum yang jelas ihwal insiden penembakan tersebut dalam dua bulan ini. Prasangka intervensi dan independensi pengambilan keputusan mengemuka. TNI yang dalam insiden ini berada dalam posisi korban yang ditembak, mengalami kondisi psikis semacam disepelekan. Dan sebagai entitas yang kuat sekelompok oknum TNI mengambil sikap.

Eksekusi pilihan sikap lewat atribut lengkap jelas menyeret institusi sadar atau tidak. Sekelompok oknum TNI mendatangi Mapolres OKU untuk meminta penjelasan ihwal proses hukum terkait Almarhum rekan mereka. Namun apa yang mereka terima mungkin tidak sesuai harapan sehingga memicu tindakan barbar dan destruktif. Sebuah ekses yang mengaburkan masalah awal yang sebenarnya. Sofistikasi yang seharusnya bisa dicegah lewat sikap tanggap dan keterbukaan serta kerendahan hati kedua pihak. Tapi bukan tidak mungkin ada penyebab lain yang sudah menahun dan mengendap tanpa sadar selama ini seperti kesenjangan sosial, kerenggangan hubungan dan ketidakpuasan masyarakat.

POLRI Diuji! TNI Unjuk Gigi?

Dimata penulis, POLRI adalah institusi yang kini tengah gencar mengangkat citra sebagai sebenar- benarnya pengayom masyarakat. Melalui profesionalisme pelayanan, keramahan dan sikap cepat tanggap dalam menerima aduan.

Prahara Baturaja adalah ujian konsistensi dan kebersediaan untuk introspeksi diri POLRI. Bagaimana tidak, saat pembakaran terjadi, sama sekali tidak muncul reaksi simpati atau defensif dari masyarakat untuk membela POLRI. Bahkan di media sosial pun terisi ekspresi dari banyak pihak bahwa insiden pembakaran ulah sekelompok oknum TNI adalah 'terapi kejut' bagi POLRI untuk menyadari bahwa masih banyak ruang untuk memperbaiki diri agar masyarakat benar- benar merasa terayomi dengan kepastian hukum yang tegas dan transparan.

Masyarakat bagaimanapun membutuhkan POLRI untuk menciptakan keamanan di kehidupan sipil. Dan POLRI pun bisa mandul tanpa masyarakat selaku subjek hukum yang mereka kelindani. Hubungan ini adalah konsekuensi logis dari kontrak sosial kenegaraan kita. Tidak ada yang lebih superior, semuanya sama.

Sementara itu, TNI adalah martabat dan kehormatan negara, mereka adalah simbol wibawa negeri ini dari berbagai ancaman kedaulatan yang dapat muncul secara multiarah. Wibawa itu terlalu agung untuk menyulut kerusuhan tidak perlu atau untuk sekedar menunjukkan jati diri dihadapan apapun atau siapapun. Masyarakat ada bersama TNI jika keagungan yang diamanahkan untuk mereka ditempatkan secara mulia, bukan untuk keakuan. Aksi barbar dan destruktif jelas merugikan negara dengan motif apapun.

TNI dan POLRI menjadi gagah dan berwibawa bukan karena seragam yang mereka pakai. Tapi karena tugas mulia yang diamanahkan untuk mereka. Prahara Baturaja adalah momentum untuk menyadarkan kembali kedua pihak tentang hal tersebut sekaligus sebagai pelajaran betapa masyarakat akar rumput sudah jengah dengan arogansi berbalut seragam.

Harmonisasi Tripartit.

TNI dan POLRI harus bersedia duduk bersama di tiap level, mulai dari para pimpinan hingga aparat di lapangan, ini adalah syarat mutlak mewujudkan perdamaian. Dialog adalah jalan untuk membuka kesadaran tentang tugas mereka seharusnya dan tentang bagaimana belajar menghargai satu sama lain dalam bentuk apapun. Terutama lisan! Tapi apa cukup hanya kedua pihak itu saja? Tidak! Masyarakat harus dilibatkan sebagai elemen kunci di lapangan.

Masyarakat adalah pemangku kepentingan ihwal indikator kinerja kedua pihak. Upaya habis-habisan POLRI membangun citra dan memperbaiki diri harus menyentuh masyarakat di lapangan melalui sikap profesional aparat yang bertugas agar tidak jauh panggang dari api. Bagi TNI, masyarakat adalah kontrol sosial bagi perilaku anggota mereka, praktik tak santun di lapangan oleh oknum TNI yang membawa nama kesatuan jelas menciderai masyarakat dan tugas mulia TNI itu sendiri.

Diantara ketiga pihak ini harus terbangun rasa percaya, sikap saling menghormati dan keterbukaan demi mewujudkan ketenangan dan kedamaian. Prahara Baturaja telah membuat kotak pandora terbuka sekaligus bak pelangi pasca badai. Tergantung bagaimana kemudian kita menyikapinya.

Read more »