10.04.2014

Realita Untuk Dirga (II)

Dirga bergegas pulang membawa serta rasa bangga. Tetapi disaat yang sama, batinnya dirundung cemas membayangkan ayahnya yang sejak dua jam lalu terbujur kaku dimeja operasi. Gemetar kaki Dirga saat melangkah memasuki pintu rumah sakit, ia terus berjalan menyusuri labirin lorong yang menuju ruang operasi. Derap langkahnya senada dengan batinnya yang tiada berputus asa dalam doa. "Semoga ayah sembuh!" Dirga masih belum siap bila semuanya harus berubah. Ia terbiasa hidup lurus menuju cita- cita. Ayahnya adalah suntikan utama semangatnya.

Dirga sudah berada 10 meter dari ruang tunggu kamar operasi. Ia tahu ibu dan beberapa saudara ayahnya telah sedari tadi menunggu disana. Langkah Dirga makin berat, ia seperti tak sanggup mengangkat kepala dan menatap lurus ruangan itu. Semua yang terlintas dalam benaknya adalah kilasan memori masa kecilnya. Saat ia dan ayahnya berplesir sore mengitari kota dengan motor vespa sederhana sambil ayahnya memberi cerita cita yang hebat baginya, tentang menjadi seseorang, tentang hidup dalam kehormatan. Nyatanya memang cuma harapanlah yang mampu membuat Dirga bertahan. Harapan yang baru ia sadari bahwa sedari dulu telah dibangun oleh ayahnya lewat cerita.

"Semoga ayah sembuh! Ya Allah". Dirga kemudian mempercepat langkahnya. Tas gendongnya berayun mengikuti derap langkahnya yang maju terpacu. Begitu tiba tepat di pintu ruang operasi itu, Dirga melihat ibunya tengah berbicara dengan pria berjas putih dan berkacamata yang tampak lelah. Dirga menghentikan langkahnya, menatap sambil berharap. Dirga tahu pria itulah dokter yang mengoperasi ayahnya. Tetapi dada Dirga berguncang hebat saat tak lama kemudian ibunya duduk sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Mata sang ibu terlihat berkaca- kaca. Ia segera mendekati ibunya yang langsung dirangkul saudara- saudara ayahnya. Sang dokter masih juga belum beranjak.

"Bu. Maaf Dirga baru datang. Ada apa Bu?". Dirga bertanya pada ibunya. Ibunya diam. Keheningan kemudian mendaulat suasana. Dirga lalu bertanya pada sang dokter. "Dok, bagaimana operasi ayah saya?" Ujar Dirga dengan suara yang bergetar. "Maaf, ayahmu meninggal. Ada riwayat asma yang tidak teridentifikasi sebelumnya. Sehingga saat operasi berlangsung pasokan oksigen yang ada tidak cukup dengan kebutuhan. Kami sudah berusaha tapi ditambah faktor usia ayahmu yang sudah cukup tua membuat segala upaya kami tak cukup membantu". Dirga diam. Mematung dan membisu. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya yang tadi menitikkan air mata lalu mendekat dan merangkulnya. Kini cuma ibunya yang ia punya, selain cita- cita yang sepertinya akan menjadi tanda tanya. Dirga sadar satu hal. Cerita hidupnya tidak akan pernah lagi sama.

September 2000

Hampir empat puluh hari lewat sejak ayah Dirga dimakamkan. Bengkel sumber penghidupan keluarga masih belum juga dibuka. Kini dirumah, Dirga tinggal berdua saja dengan ibunya yang tidak nemiliki apa- apa selain rumah yang mereka tempati ini. Rumah inilah hasil kerja ayahnya 20 tahun terakhir membuka bengkel ini. Bengkel yang telah menjadi sumber dana pendidikan Dirga. Bengkel ini pula yang mampu membuat ibu Dirga mampu menabung yang sayangnya sudah habis terkuras untuk biaya berobat ayah Dirga.

Dirga melamun. Sudah sebulan sejak ia lulus SMA tapi ia belum bergerak kemana- mana. Dua pekan lalu Julian datang menemuinya untuk sekadar berbagi cerita. Julian kinj tengah mengambil bimbingan belajar di liar kota dan tetap fokus pada cita- cita nya menjadi Sarjana Tehnik Elektro. Tawaran Julian untuk ikut gabung di bimbingan belajar yang sama ditanggapi pesimis oleh Dirga. "Aku belum tahu mau bagaimana Jul" Kalimat itu dihargai Julian sebagai tanda bahwa Dirga masih dalam suasana duka. Julian kemudian menarik diri dari Dirga, memberi waktu pada temannya itu untuk mengatur langkah.

November 2000

"Bu aku ini mau bagaimana?" Dirga bertanya pada ibunya yang tengah menghidangkan sarapan pada suatu pagi yang basah oleh hujan semalam. "Bagaimana apa maksudmu, Nak?" Ibunya pura- pura tak paham maksud Dirga semata hanya untuk memancing agar Dirga bercerita lebih banyak. Sudah dua bulan ini Dirga lebih banyak diam. Ibunya tak mau mengganggu kecuali bila ia yang memulai dan itu artinya ia sudah siap dengan kenyataan hidup yang ada. "Bu, apa aku masih bisa lanjut sekolah?" Dirga akhirnya menyuarakan hatinya. Itulah yang telah lama ia pendam dalam pergumulannya bersama diam. Bahwa hidup ternyata menjadi lebih berat seperti ini adalah hal yang menghentakkan jiwa Dirga.

Sering Dirga bertanya pada dirinya sendiri. Apa aku bisa tanpa ayah? Uang darimana? Aku mau jadi apa? Bila aku tak kuliah, apa aku sanggup mengubur cita- cita menjadi advocad/psikolog? Rentetan pertanyaan itu berkecamuk memukuli batinnya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya dan meminta pendapat ibunya. "Nak, ibu paham maksudmu. Ibu sangat ingin melihatmu kuliah menjadi Sarjana dan ibu tahu itulah kebahagiaanmu. Tapi itu semua butuh biaya setidaknya 4-5 tahun kedepan. Apa kita sanggup? Ibu tentu akan berusaha, tapi apa itu cukup?" Ibunya menjawab dengan bertanya tentang dua hal: kesanggupan dan kecukupan.

Dirga diam lalu masuk ke kamarnya. Ia duduk termenung, matanya tertuju ke jendela yang langsung menghadap ke petak bengkel ayahnya dihalaman sebelah. Bengkel yang telah ada jauh sebelum ia lahir. Menurut cerita ibunya, sebelum menikah, Ayahnya sudah mendirikan bengkel itu, ia menjadi pemilik sekaligus montir tetap disana. Penghasilan dari bengkel itu menjadi modal ayahnya menikahi ibunya. Tetapi ada cerita lain yang tertutup rapat tentang bengkel itu. Sebuah cerita yang tidak pernah ia tahu, yang kemudian pada akhirnya membuka mata hati Dirga tentang kehidupan. Sejauh ini yang Dirga lihat tentang bengkel itu cuma sepetak lahan yang tak terlalu luas dengan beberapa alat berat pendukungnya beserta satu pertanyaan: Mengapa bengkel ini tidak bisa berkembang lebih besar?

Awal Tahun 2001

Dirga makin seperti orang bingung. Ia tak pernah keluar rumah. Hatinya malu mendapati dirinya tak mampu kuliah selepas SMA. Dua pertanyaan ibunya tentang kesanggupan dan kecukupan dua bulan silam memang tak bisa ia jawab. Ia mulai membenci hidup dan dirinya sendiri. Batinnya berontak. Ia bertanya dalam hati. Mengapa Tuhan memampukan ia bercita- cita setinggi itu? Mengapa Tuhan membiarkan ia menjaga harapannya. Lebih dari itu, ia bertanya. Mengapa ia terlahir dari seorang ayah yang hanya seorang pemilik bengkel? Ibunya hanya bisa menatap dan membatin bila melihat Dirga.

Tetapi ibunya tidak pernah benar- benar pasrah. Ia tetap seorang ibu yang menginginkan kebaikan bagi anaknya. Mendapati Dirga seperti larut dalam kecewa, ibunya menghubungi paman Dirga yang tinggal di luar kota. Pamannya bernama Roni, ia adik bungsu almarhum ayahnya yang kini hidup mapan dengan membuka restoran. Ibunya menceritakan banyak hal tentang perubahan sikap Dirga pada paman Roni. Tak cuma itu, di setiap dua pertiga akhir malam, ibunya kerap menyebutkan nama Dirga dalam setiap untaian doanya. Sebuah harapan agar pikiran Dirga dibukakan dan diberi jalan lain.

Atas permintaan ibu Dirga, paman Roni berkunjung kerumah Dirga sekitar tiga hari lamanya dengan alasan berlibur mengunjungi sanak saudara, padahal maksud utamanya adalah memberi pandangan agar Dirga tidak larut dalam suasana yang menenggelamkan hidupnya. Paman Roni datang sendirian kerumah Dirga pada suatu hari yang telah ia sampaikan ke Ibu Dirga. Ia berbincang akrab dengan ibu Dirga dan Dirga sendiri ada disitu, tetapi ia tidak benar- benar hadir. Senyum Dirga hampa, matanya kosong, paman Roni merasakan itu. Tetapi ia tidak menunjukkan perasaanya. Ia ingin menyentuh hati Dirga di saat yang tepat dengan lebih personal dan lebih dalam untuk mencongkel kesadarannya yang terbenam.

Pada malam harinya, saat itu mungkin sudah hampir enam bulan sejak Dirga lulus SMA. Paman Roni datang masuk ke kamar Dirga dengan membawa sebuah album tua yang sudah kusam tetapi bersih. "Ga, kamu lagi ngapain?" Paman Roni menyapa Dirga sambil matanya berkeliling memandangi dinding kamar Dirga yang seperti beku oleh jiwa Dirga. "Lagi baru mau tidur paman, ada apa?" Ujar Dirga dengan nada seperti tidak ingin diganggu. Tatapan paman Roni jatuh pada gulungan kertas di sudut kamar Dirga, gulungan yang ada sisa perekat kertas di keempat ujungnya. Ia membuka gulungan itu dan melihat tulisan tangan Dirga tentang sederet nama kampus beken target tujuannya yang ia tulis enam bulan silam.

Bersambung....

Read more »

9.29.2014

Realita Untuk Dirga (I)

Maret 2000

Ada semangat menyala di dada Dirga. Seorang pelajar SMA kelas 3 yang sebentar lagi akan lulus. Meski belum tahu persis mau jadi apa, Dirga memang bukan pemuda biasa. Ia ingin berhasil dan sukses dalam hidupnya. Tidak ada hari terlewat tanpa ia memikirkan rencana lanjutan studinya. Ia menulis besar- besar sederet nama kampus beken di negeri ini yang akan jadi incarannya. Tidak tanggung- tanggung, sebuah jurusan yang konon biayanya selangit pun berani ia cantumkan di urutan nomor 1.

"Ga, gak kerasa nih, dua bulan lagi kita ujian akhir. Mudah- mudahan kita lulus dan bisa lanjut sekolah di kampus idaman masing- masing!" Julian berujar santai ke Dirga usai lonceng tanda jam pelajaran berbunyi.

"Aamiin, iya Jul. Gue kepengen banget jadi advocat atau kalo enggak ya psikolog, gua mau ambil studi hukum atau psikologi aja rencananya di Universitas Gajah Mungkur" Sembari mengambil tas gendongnya, Dirga menimpali ucapan Julian.

"Yakin Ga? Gue gak minat kesitu. Rencananya gue mau ambil Manajemen di Arilangga, Surabaya aja". Mereka lanjut berbagi cerita sampai berpisah di depan gerbang sekolah. Julian sudah dijemput oleh sopir keluarga, sementara Dirga berjalan kaki pulang kerumahnya yang berjarak sekitar 1,5 Km.

Dirga dan Julian berteman akrab sejak kelas 1. Mereka menyukai bidang yang sama, Sosial. Olahraga mereka pun sama yakni Sepak Bola. Seperti kebetulan, mereka menggandrungi satu klub yang sama, Sridijaya FC. Mungkin banyaknya kesamaan ini yang membuat mereka dekat. Tapi ada satu hal yang membedakan Dirga dan Julian. Status ekonomi keluarga. Hal yang tidak pernah mereka anggap jadi penghalang pertemanan. Dirga berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang montir handal tempaan pengalaman sedangkan Julian dibesarkan di lingkungan mewah, terlahir sebagai anak dari seorang eksportir meubel yang kaya raya.

Juli 2000

"Ayah, Ibu, Dirga mohon doanya semoga bisa mengerjakan ujian hari ini" Ujar Dirga sembari mencium punggung tangan kanan kedua orangtuanya. Ayah Dirga mengangguk sambil terbaring lemas di ranjang rumah sakit tempat sebulan belakangan ini ia dirawat. Ibu Dirga tersenyum melepas anaknya. Ibunya sejak sebulan ini pula menghabiskan waktu menjaga ayah Dirga. Ayahnya menderita Diabetes dan pekan depan akan dilakukan amputasi pada kaki kirinya yang sudah membusuk.

Sementara ini bengkel mata pencaharian ayah Dirga terpaksa tutup. Dirga fokus pada ujian akhir sekolah dan segala persiapan mencapai mimpinya sehingga tidak ada yang bisa menjaga bengkel sejak ayahnya sakit.

"Ga, wish us luck!" ujar Julian yang dijawab dengan anggukan tenang oleh Dirga. Sesaat sebelum ujian dimulai, keduanya berbincang singkat tentang rencana merantau keluar kota begitu ujian usai untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas.

Hari demi hari lewat, ujian pun selesai. Masa menunggu pengumuman Dirga gunakan untuk merawat dan menemani ayahnya di Rumah Sakit. Kondisi kesehatan ayah Dirga semakin menurun, padahal lusa Amputasi akan dilakukan. Dirga mulai cemas, ia bahkan belum menjawab tawaran Julian untuk ke luar kota. Dirga teringat pesan ayahnya beberapa bulan silam: "Ga, selagi ayah mampu membiayai sekolah kamu, teruskanlah!". Tapi yang kini ia lihat adalah ayahnya yang terbaring lemah dan kurus. Dada Dirga sesak oleh bimbang. Semangatnya yang menyala berubah menjadi tanda tanya.

"Dirga, Ibu gak tahu mesti ngomong apa. Tapi rasanya Ibu harus jujur kalau tabungan Ayah dan Ibu sudah menipis untuk biaya berobat Ayah mu ini. Apalagi untuk persiapan operasi besok. Ibu kira sebaiknya rencana kuliahmu nanti saja kita bahas kalau Ayahmu sudah sembuh, ya nak". Sambil memijit tangan ayahnya, Dirga termenung mendengar penuturan ibu nya. Ibu Dirga tampak merasa sedih dan terpaksa bertutur demikian.

Dirga tak menjawab perkataan ibunya, ia diam. Benaknya masih dipenuhi asa untuk sekolah di Univ. Gajah Mungkur dan menjadi psikolog atau advocat. Tapi hatinya sudah mulai disusupi tanya dan ragu terlebih jika ia menatap ke ayahnya yang seharian ini cuma menerawang kosong ke langit- langit kamar rumah sakit ini. Sepi, tidak ada percakapan atau suara lagi antara mereka selain bunyi berisik gemericik gelembung udara dari tabung oksigen di sebelah ranjang ayah Dirga. Untuk persiapan operasi besok, tabung itu memang disambungkan lewat selang ke hidung ayahnya. Entah mengapa sejak semalam Ayah Dirga kesulitan bernafas.

Agustus 2000

"Bu, Dirga kesekolah dulu ya. Hari ini pengumuman kelulusan. Nanti Dirga langsung nyusul ke ruang tunggu operasi saja kalau sudah pulang. Mohon doanya Bu". Dirga pamit dan mencium tangan ibunya lalu memeluk ayahnya yang seperti hanya membalas dengan kerlingan mata. Pengumuman kelulusan memang pas dihari yang sama dengan operasi amputasi kaki ayah Dirga.

Sepanjang jalan tidak henti- hentinya Dirga berdoa semoga ayahnya sembuh. Ia belum siap bila harus menunda sekolahnya. Sementara ini ia menolak halus ajakan Julian merantau keluar kota.

"Aku belum bisa kemana- mana sementara ini, ayahku sakit. Mungkin nanti kalau situasinya pas aku kabari Jul" Dirga menjelaskan ke Julian. Keduanya sudah sejak 15 menit yang lalu berdiri paling depan menanti pengumuman kelulusan dari kepala sekolah. Tibalah saat pengumuman, di podium sambil berdiri, kepala sekolah membacakan hasilnya. Ketika diumumkan Dirga bahagia bukan main, tak cuma lulus, Dirga bahkan meraih nilai tertinggi untuk kelompok ilmu sosial, bahkan jauh diatas Julian teman dekatnya.

"Selamat Ga, gue bangga punya sohib kayak loe!" Julian mengucapkan selamat ke Dirga. Mereka berdua berjabat tangan. "Ga, semoga ayah loe cepat sembuh ya, kalo mau nyusul gue ke luar kota kabari aja ya!" Dirga membalas dengan mengucapkan terima kasih ke Julian. Kegembiraan ini cukup pikir Dirga, ia harus segera kembali ke rumah sakit menemani ibunya yang tengah menunggu ayahnya dioperasi.

Bersambung...

Ebas.
Pangkal Pinang. 29092014.00:06.

Read more »

9.27.2014

Nasib Sanib

Sanib gusar. Sudah dua bulan belakangan hujan tak juga turun di kampungnya. Kegusaranya sangat beralasan sebab sehari- hari Sanib bekerja sebagai petani jagung. Musim kering membuat panen jagungnya kali ini terancam gagal.

"Ya tidak apa- apa Mas, kan kita masih punya tabungan dari hasil panen bulan- bulan kemarin. InsyaALLAH cukup untuk beli beras dan bahan sehari- hari" Ujar Minah sambil meletakkan kopi hangat disebelah suaminya itu.

Sanib dan Minah sudah sepuluh tahun berumah tangga, meski tidak mewah, mereka berdua beserta enam orang putra putri mereka hidup tenteram. Sanib memang rajin bercerita ke Minah tentang apapun, termasuk soal kekeringan yang melanda kampung mereka.

"Kalau sampai tabungan kita habis tapi hujan belum juga turun. Aku perlu cari pekerjaan lain supaya bisa dapat uang, mungkin aku mau ikut kayak si Darma kerja nebang kayu dihutan!" Sanib bertutur sambil berusaha menyembunyikan kegusarannya, ia menyeruput halus kopi buatan istrinya itu.

Satu bulan kemudian

Hujan masih juga belum turun, tanah di kampung Sanib makin keras mengering dan terbelah. Kebun Jagung Sanib sudah tinggal cerita. Pekan lalu, api dari kebakaran ladang tetangganya telah menyambar dan melumat habis tanaman jagung Sanib yang memang sudah mengering layu. Sanib cuma bisa pasrah.

"Dek, aku berangkat ya. Mungkin 2-3 hari lagi pulang. Hutannya agak jauh, jadi mending nginap daripada bolak- balik, biar hasilnya lebih banyak" ujar Sanib pada Minah saat hendak pamit berangkat ke hutan. Sudah dua minggu ini ia ikut si Darma jadi penebang kayu hutan. Hasilnya lumayan, sekali pergi ia bisa pulang bawa uang untuk makan dan kebutuhan selama 2 minggu.

"Iya Mas, hati- hati ya. Ini pakaian didalam tas sudah kusiapkan sama minyak tawon kalau Mas pegal-pegal dimalam hari" Minah memberikan tas yang lebih mirip karung itu ke Sanib. Minah memang sayang benar pada Sanib, lelaki sederhana yang tahu betul arti tanggung jawab pada keluarga.

"Iya Dek, doain ya" Sanib mengecup lembut kening Minah dan disambut kecupan Minah di punggung tangan kanan Sanib. Ia pun berangkat setelah memeluk Minah dan satu persatu putra- putri nya itu. Darma telah cukup lama menunggu didepan rumah mereka dengan menggunakan truk reot keluaran tahun 1992 itu mereka berangkat.

Minah dan keenam anaknya tidak sekejap pun melepas pandangan yang ditumpangi Sanib, sampai akhirnya Sanib mengecil dan menghilang di kelokan jalan. Minah menghela nafas panjang sembari berdoa agar hujan lekas turun sehingga Sanib bisa kembali menggarap ladang dan tidak perlu jauh- jauh mencari nafkah.

Tiga hari kemudian

Minah bahagia, ia dandan tak biasa hari ini. Sanib, sang suami akan pulang. Ia telah menyiapkan sepiring pisang goreng sedari pagi tadi, tak lupa pula secangkir kopi hangat di gelas bermotif lurik khas hijau putih. Enam orang anaknya sedang bermain di belakang bersama ayam dan itik peliharaan mereka. Sumringah betul Minah hari itu menanti Sanib.

Saat Minah tengah membersihkan ruang depan, tiba- tiba truk reot tumpangan Sanib dan Darma tiba di depan rumah mereka. Minah bergegas keluar menyambut di depan pintu. Tetapi hanya Darma yang terlihat. Kemana Sanib? Pikir Minah. Darma pun mendekati Minah, takut dan bingung ia melangkah.

"Nah, Sanib titip pesan katanya ia sayang banget sama kamu dan anak- anak. Ia minta maaf gak bisa pulang menuhin janji" Ujar Darma ke Minah. Minah masih bingung dan bertanya- tanya.

"Memangnya ada apa Dar? Kok Mas Sanib gak pulang sekalian?" Minah penasaran

Akhirnya meluncurlah penuturan Darma yang membuat Minah terhuyung pingsan.

"Maaf Minah, Sanib sudah meninggal. Dua hari yang lalu ia tidak sengaja ketiban pohon besar yang ditebang. Kami sudah berusaha membawanya ke rumah sakit untuk diselamatkan tapi ditengah jalan ia meninggal. Ia cuma titip pesan itu tadi aja ke kamu. Sekarang jenazahnya ada di rumah sakit"

Beberapa jam kemudian

Minah baru saja siuman dikelilingi enam anaknya dan saudara- saudaranya dari kampung sebelah. Dirumahnya sudah ramai pelayat berdatangan dan membacakan pengajian untuk arwah Sanib. Jasad Sanib tiba dari rumah sakit dijemput mobil kepala desa dua jam yang lalu saat Minah tengah pingsan. Minah kemudian mendekati jenazah Sanib, menatapnya dalam- dalam. Seperti dulu saat mereka masih pengantin baru. Minah telah ikhlas menerima kepergian Sanib. Entah apa yang dialaminya semasa pingsan tadi sehingga ia jadi begitu tegar.

"Mas, doaku selalu untukmu. Sebisanya, insyaALLAH akan kurawat dan kubesarkan anak- anak kita" ujar Minah dalam hati sembari terus berdoa agar hujan segera lekas turun.

Ebas
Pangkal Pinang. 27092014. 23:42.

Read more »

9.08.2014

Tulisan Untuk Tuhan

Tuhan, bila ini caraMu untuk bilang
Bahwa aku cuma hambaMu yang lemah
Maka aku pasrah

Tuhan, bila ini kuasaMu untuk tunjukkan
Betapa agung dan sempurnanya Engkau
Maka aku terima

Tuhan, bila lewat semua ini kau ajariku
Tentang kepatutan sebagai hambaMu
Maka jangan sisakan pongah dikalbuku

Tuhan, siapa aku yang berani tanya putusanMu?
Kau beri jalan lurus dan mulus bukan untukku
Dan cuma tersisa terjal dan liku

Tuhan, getar hebat didadaku
Saat kubaca kuatnya firmanMu
Kau bilang "Sesungguhnya janjiKu amat teguh"

Tuhan, jangan Kau tolak doaku karena dosaku
Pun pula bagi para orang tua, istri dan saudaraku
Bila bukan Engkau, tak ada lagi tempat bagiku

Tuhan, ada setan berbisik hebat bilang Kau lupakan aku
Tuhan, ada malaikat berujar lembut bilang Kau tengah mengujiku
Tuhan, Engkau paham betul gemuruh bimbang menerpa imanku

Tuhan, Engkau ada, Engkau nyata
Darimu aku bermula, Engkau maha mencipta
Apa mungkin aku telah lupa?

Tuhan, Selamatkanlah aku dari gila.
Ingatkan aku bahwa aku lemah.
Sadarkan bahwa kuasaku terbatas, Kuasamu tanpa batas.

Tuhan, ajariku agar sabar tunggu janjiMu
Tuhan, ajariku untuk ingat kuasaMu
Tuhan, ajariku untuk terima mauMu
Tuhan, ingatkanku bahwa aku cuma hambaMu

Semua kini terserah kehendakMu, Tuhan.

Ebas
Pangkal Pinang. 09092014.

Read more »

9.01.2014

Kalkulasi BBM di Lorong Politik

Menjadi presiden dan wakil presiden terpilih pasca Pilpres 2014, Jokowi-JK langsung dihadapkan pada polemik menahun BBM yang sejak dulu timbul tenggelam mengemuka. BBM, yang kerap dipelintir sebagai akronim dari Benar- Benar Masalah, merupakan batu sandungan yang mempersingkat masa bulan madu Jokowi-JK dengan 70 juta lebih pemilihnya. Dikatakan menjadi batu sandungan bukanlah tanpa sebab, karena sejelas apapun nalar  ekonomi Jokowi-JK dan Tim Transisi untuk menaikkan harga BBM, implementasinya akan masuk ke jalur politik yang panjang lagi penuh intrik.

Kita sudah sejak lama tahu bahwa isu kenaikan harga BBM telah menjadi komoditi yang paling empuk untuk menggiring opini publik bahwa sang penguasa tidak memihak wong cilik. Akhirnya kebijakan ini dianggap sebagai kebijakan tidak populer yang sebisa mungkin harus dijauhi. Tetapi Jokowi-JK sepertinya tidak punya opsi lain, rencana untuk meminta SBY-Boediono menaikkan harga BBM di akhir masa jabatannya telah gagal setelah hasil pertemuan di Bali tanggal 30 Agustus 2014 beakhir nihil. Alasan apapun yang ada di benak SBY patut dimaklumi. Konklusi sederhananya adalah: Setiap pemerintahan memiliki ujiannya masing- masing. Itu benar, meski kita juga mungkin sepakat bahwa ujian BBM yang menimpa Jokowi-JK ini hadir terlalu dini.

Saat membuat tulisan ini, saya tidak memposisikan diri sebagai fans die hard Jokowi-JK, bahkan saya tidak memilih mereka Pilpres kemarin, meski saya akui saya adalah penggemar Jusuf Kalla (untuk sikap gesit dan beraninya). Murni saya letakkan diri saya sebagai bagian masyarakat yang hendak memberi sudut pandang yang lebih realistis disaat sebagian yang lainnya mungkin masih terseret sisa drama dan sentimen gelaran pilpres kemarin. Mari kita bicara realita, data dan fakta.

Apa yang kini dihadapi Jokowi-JK sebetulnya adalah persoalan yang telah berlarut-larut dan menimbulkan komplikasi dalam tata kelola arah pembangunan bangsa. Bertahun- tahun lamanya, masyarakat telah dimanja oleh subsidi BBM yang sebenarnya telah menciptakan ruang gerak pembangunan yang sempit. APBN tertekan, bahkan diambang defisit dibuatnya. Sayangnya, praktik politik pragmatis yang selama ini berjalan diparlemen dan eksekutif justru mendorong bertahannya pola ini selama 1 dekade teakhir. Mereka mengatasnamakan rakyat. Padahal sejatinya hanya menanam bom waktu yang justru semakin menyengsarakan rakyat.

Percaya atau tidak, faktanya adalah Indonesia telah menghabiskan hampir Rp1.650 Triliun untuk mendanai subsidi BBM dalam lima tahun terakhir. Di tahun 2014 yang hanya tersisa 4 bulan lagi, anggaran subsidi BBM telah menyentuh level hampir Rp400 Triliun atau setara lebih dari 30% APBN 2014.  Dan program ini dijalankan ditengah keadaan produksi minyak bumi yang terus menurun selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2004 produksi minyak bumi Indonesia mencapai 1,1 juta barrel/hari menjadi hanya 0,82 juta barrel/hari saja di tahun 2014. Sementara itu, cadangan minyak kita pun terus menurun dari 4,7 Miliar barrel pada tahun 2004 menjadi 3,7 Milliar barrel pada tahun 2014. Keterangan ini bersumber dari mantan pejabat tinggi PERTAMINA, Ari Soemarno.

Pergerakan konsumsi BBM bersubdisi yang eksponensial itu menjadi duka tersendiri karena subsidi yang semula ditujukan kepada masyarakat miskin, nyatanya lebih banyak dinikmati oleh mereka dari kalangan yang sebetulnya mampu. Berdasarkan hasil penelitian Kompas, pada sektor transportasi darat, terpapar data bahwa 53% penikmat subsidi BBM adalah mobil pribadi, 40% sepeda motor, 3% mobil angkutan umum dan 4% untuk mobil pengangkut barang. Konsumsi sektor transportasi darat ini meliputi 97,3% dari total pemakaian BBM bersubsidi di semua sektor, sektor lainnya adalah rumah tangga, usaha kecil, transportasi air dan perikanan dengan konsumsi masing- masing tidak sampai 1%. Sampai disini, seharusnya kita bertanya: Mengapa kita masih berani memanjakan diri lewat subsidi ditengah cadangan dan produksi yang semakin menipis? Mengapa kita berteriak bahwa BBM telah telah membantu rakyat miskin bila nyatanya mereka yang kita suarakan itu mengkonsumsi tak sampai 1% dari kuota yang ada?

Mungkin kita sepakat untuk mengamini pernyataan Jokowi disaat sesi debat Pilpres kemarin bahwa ada solusi Revolusi Energi yang dapat ditempuh untuk menghindarkan Indonesia dari kelangkaan energi. Tetapi eksplorasi dan pengembangan itu butuh uang dan waktu. Dari mana uang itu bila APBN sudah tersedot habis ke belanja tak produktif? Semua fakta yang ada (bila kita mau menerima) telah menyajikan keadaan yang menggambarkan betapa terjepitnya Indonesia saat ini. Pemerintahan SBY- Boediono bukannya tidak menyadari situasi, skema pembatasan kuota yang kemarin dijalankan telah menunjukkan pemahaman dan sikap disiplin mereka untuk tegas pada kuota, tetapi keadaan berakhir lain, masyarakat tampak kaget mendapati kelangkaan, antrian mengular di banyak SPBU di tanah air. Terlalu lama dimanja dengan ketersediaan BBM bersubsidi rupanya telah membentuk mentalitas kita menjadi pribadi yang mudah terkejut untuk kemudian lupa kembali.

PERTAMINA memberi gambaran bahwa bila pemerintah tak tegas pada kuota maka anggaran subsidi BBM akan jebol dan berakhir menjadi defisit APBN. Kuota yang seharusnya cukup sampai akhir tahun 2014 ternyata bablas hanya sampai Juli 2014 saja. SBY-Boediono kebingungan, Jokowi-JK kelabakan. Kita akhirnya kembali menonton drama BBM, Benar- Benar Masalah. Mari kita akui bahwa untuk saat ini, maka menaikkan harga BBM adalah keniscayaan. Meski untuk menjalankannya pemerintah akan dihadapkan pada bayang- bayang inflasi, meningkatnya kemiskinan dan gejolak sosial lainnya. Itu pun kalau berjalan mulus di parlemen. Harusnya kita berhenti menganggap kebijakan menaikkan harga BBM sebagai kebijakan yang tidak popular. Praktik dekonstruksi anggapan ini akan sangat membantu Indonesia lepas dari jeratan candu subsidi BBM.

Tidak bisa dipungkiri bahwa menaikkan harga BBM, praktis akan menimbulkan inflasi. Skema penyesuaian harga BBM menurut Kementerian Keuangan apabila dinaikkan sebesar Rp500/liter akan mendorong inflasi 0,6% dan menyelamatkan anggaran negara Rp24 Triliun, bila dinaikkan sebesar Rp1.000/liter akan mendorong inflasi 1,2% dan menyelamatkan anggaran Rp48Triliun dan bila dinaikkan sebesar Rp2.000/liter akan mendorong inflasi 2,4% dan menyelamatkan anggaran Rp96Triliun. Benar bahwa rakyat miskin lah yang akan paling merasakan dampak inflasi ini, tetapi disinilah titik kritis dimana Jokowi-JK bersama Bank Indonesia dapat bekerja keras mengendalikan inflasi agar tidak bertambah liar.

Lebih dari itu, tambahan kemampuan fiskal Negara yang diperoleh dari menaikkan harga BBM akan dapat dialihkan ke belanja sektor lain yang benar- benar menyentuh jantung kehidupan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Secara bertahap, dengan mengamankan tiga sektor ini, tentu akan memberi efek yang dapat menekan biaya sosial pemicu inflasi. Bukankah inilah yang justru kita inginkan? Sebuah kebijakan yang benar- benar memihak wong cilik sekaligus memperjelas arah pembangunan bangsa.

Membangun puskesmas, membangun sekolah, menguatkan konektivitas antar wilayah, pembangunan simpul- simpul infrastruktur dan menciptakan diversifikasi sumber energi hanya akan dapat diwujudkan bila ruang gerak fiskal di APBN lebih leluasa, tidak lagi tersandera beban subsidi BBM. Terpilihnya Jokowi- JK bukanlah fakta ajaib yang akan mengusir habis semua masalah negeri, tetapi arah kebijakan mereka lah yang membuat kita berani berharap lebih. Tetapi berharap saja tidak cukup, kita harus mengawal dan mengawasi, bukan mencibir dan memaki. Ada perbedaan yang jelas antara mengawal dengan kritis berdasarkan logika dan nalar yang empiris dengan mengawal secara sinis berdasarkan sentimen pribadi dan kelompok.

Jokowi-JK memang tidak menang secara mayoritas mutlak, hanya 53,15%. Tetapi bila kini mereka yang telah sah dinyatakan menang. Maka tidak ada jalan lain, selain duduk bersama, bergerak bersama untuk kepentingan bersama. Karena berkontribusi tak harus duduk menjadi penguasa, karena sesungguhnya Jokowi-JK tidaklah istimewa tanpa dukungan kita. Bila bukan kita yang memberikan dukungan maka bisa dipastikan kebijakan Jokowi-JK akan terganjal di lorong politik yang sarat intrik kepentingan. Di parlemen, koalisi Jokowi-JK memang tak unggul, tetapi apalah arti keunggulan hitungan matematika politik bila para eksekutif telah mendapat simpati dan berkoalisi dengan pihak yang dukungannya sesungguhnya sangat istimewa dan menentukan, yaitu rakyat.

Pangkal Pinang, 01 September 2014.

Read more »

8.30.2014

Sajak Pajak

Atas nama bangsa
Ada banyak tujuan mulia
Juga harapan dan cita
Demi tercapainya sejahtera

Diatas panggung semua beretorika
Diatas podium semua bisa bebas bicara
Tapi tak semua ingat satu kunci utama
Cita mulia tanpa dana kan berakhir nelangsa

Tetapi negeri ini tak pernah jalan sendiri
Ada sisi lain yang tak pernah kita sadari
Tentang jiwa militan pengabdi negeri
Tentang mereka yang patut kita apresiasi

Jauh dari sorotan dan lampu kamera
Tak tersentuh liputan media massa
Ada lebih dari tiga puluh ribu jiwa
Bersama mereka terselip banyak cerita
Tentang duka cita mengisi pundi negara

Sempat mereka habis dikebiri
Oleh laku lancung oknum tak tahu diri
Mereka dihakimi oleh sumpah sarat emosi
Tudingan pun silih berganti menghampiri
Bergeming, mereka tetap maju tak peduli

Dari hasil kerja mereka, mengalir dana untuk negara
Dari jerih dedikasi mereka, berjalanlah tujuan bangsa
Dari tekun kontribusi mereka, cerahlah harapan sejahtera
Dari tegar sabar mereka, terwujudlah cita mulia bersama
Dari geliat semangat mereka, berdirilah marwah negara

Pangkal Pinang, 30 Agustus 2014
Sabtu 23:51 WIB

Read more »

8.23.2014

DJP Ibarat Jerman di Masa Lalu?

Tanpa bermaksud memaksakan dua kondisi yang sebetulnya tidak sepadan antara sejarah negeri Jerman dengan DJP dalam konteks kekinian, tulisan ini hanya bermaksud mengajak para pembaca untuk melihat bagaimana sejarah tentang pemaksaan kondisi berkepanjangan dapat berdampak buruk terhadap performa dan kinerja bahkan lebih dari itu dapat memberi ekses negatif terhadap entitas lain disekitarnya.

Jerman di tahun 1919 telah luluh lantak tak berbentuk. Ekonominya terpuruk akibat kalah dalam perang dunia I. Lebih tragis lagi, Jerman diharuskan membayar kerugian ekonomi yang diderita negara- negara yang telah ia hancurkan semasa perang. Poin tersebut tertuang didalam Traktat Versailles yang dimotori oleh Amerika Serikat. Sebuah poin yang telah membuat Jerman berada di titik paling ekstrim yang pernah dicatat sejarah dunia. Jerman nelangsa.

Kondisi tersebut bukannya tak dapat dihindarkan. Ketika Traktat itu dirumuskan oleh Perancis, Amerika Serikat dan Inggris telah muncul opsi untuk tidak menelurkan sanksi yang justru membuat Jerman tergadai. Opsi itu adalah seruan agar terlebih dahulu dunia membantu memulihkan ekonomi Jerman, bukan malah memberatkan. Tetapi Opsi yang dilontarkan John Maynard Keynes itu diabaikan. Hasilnya ekonomi Jerman makin limbung dan tak pernah disangka, situasi ini justru pada gilirannya memukul perekonomian Inggris dan memicu kondisi Malaise pada tahun 1929. Dunia kena getahnya.

Bila hendak jujur melihat DJP kini, tak berlebihan kiranya memposisikan DJP layaknya Jerman dahulu yang tengah rapuh. Target penerimaan pajak dalam satu dekade terakhir tidak pernah tercapai (kecuali 2004 (100,02%) dan 2008 (106,84%)) dan untuk tahun 2014, bila melihat trend yang ada hingga minggu ketiga Juli 2014 realisasi penerimaan masih dikisaran angka 45,95% dari target yang ditetapkan, bahkan ketika target itu telah dipangkas Rp50 Triliun pada Juni lalu sehingga sulit untuk terlalu optimis bahwa target di tahun 2014 ini pun akan tercapai.

Ditambah kebijakan yang makin royal dalam memberikan insentif kepada pengusaha di sektor unggulan, maka akan makin banyak potensi penerimaan yang tergerus secara sistematik (e.g: PMK-135/PMK.11/2014 & PMK-198/PMK.03/2013). Kegagalan rutin DJP ini selalu dijadikan kambing hitam oleh banyak pihak. Tetapi tidak banyak yg bisa memberi input konstruktif kepada instansi yang ditugasi untuk mencari uang demi mengisi lebih dari 70% pendanaan APBN ini. Kalaupun ada, masih tidak mudah pula untuk dicoba dengan alasan klasik yaitu birokrasi.

Alhasil, DJP selalu berputar dalam pola yang seperti penuh inovasi tetapi sebetulnya tidak beranjak kemana- mana. Ajeg dan involutif. DJP bukannya tidak mau berbenah. Sejak 2002 DJP telah memodernkan diri dan membersihkan diri dari tradisi lama yang menggerogoti performanya dari dalam. Tetapi jaman terus maju, tuntutan kebutuhan berkembang begitu pula sepak terjang dan perilaku para pengemplang pajak. Semua tuntutan itu harus diatasi agar DJP dapat berjalan dalam performa terbaiknya.

Kondisi ini tentu telah disadari banyak pihak. DJP harus dipulihkan struktur dan daya dukungnya. Dua variabel itu memainkan peran penting agar DJP bisa lebih kuat dan bertaji. Usul yang kini kian mengemuka adalah dengan menjadikan DJP sebagai badan otonom yang mandiri dalam mengelola diri sendiri. Apapun itu, mulai dari perumusan kebijakan, sumber daya manusia hingga penegakan hukum. Selama ini DJP seperti memiliki dua wajah, disatu sisi menampilkan fungsi penerimaan tetapi disisi lain masih terkait dalam fungsi pengeluaran. Ini dikarenakan DJP dibawah Kementerian Keuangan harus tunduk pada Menteri Keuangan yang menjadi Bendahara Umum Negara. DJP hilang fokus. Ingin berlari tetapi dengan ekor dipegangi. Selama tidak ada keinginan kuat dari petinggi negeri, maka DJP akan tetap kedodoran. Perlu ada eskalasi perhatian kepada DJP hingga tingkat nasional.

Usulan untuk terlebih dahulu memulihkan DJP telah banyak dilontarkan dengan ragam landasan akademis yang kredibel dan logis. Kini semua usul itu diserahkan kepada para pengambil keputusan apakah akan dieksekusi atau cuma menguap didalam tumpukan wacana yang hilang ditelan waktu. Tetapi fakta bahwa DJP harus dipulihkan tidaklah bisa diabaikan. Terlalu aneh bila melihat institusi besar ini seperti terus dibiarkan kecil. Karena DJP yang terus dibebani tanpa dipulihkan hanya akan merugikan rakyat juga pada gilirannya. DJP tak patut seperti Jerman yang hancur karena ketidakpedulian dunia untuk memulihkan mereka.

Hanya dibutuhkan kepedulian para petinggi negeri untuk menimbang ulang posisi sentral DJP di dalam kehidupan bernegara dengan pandangan yang jernih dan lurus. Jika Jerman kala itu telah dibuat tidak berdaya dengan sejumlah tuntutan tanpa menimbang keadaan mereka yang sudah berat, jangan sampai petinggi negeri ini mengulang kesalahan Traktat Versailles dengan terus membebani DJP dengan target yang berat tanpa mempersenjatai dengan lebih layak dan lengkap. Opsi yang telah banyak diwacanakan patut dicoba sebagaimana dulu itu opsi dari John Maynard Keynes seharusnya patut juga dicoba untuk memulihkan Jerman.

Sementara itu dari sisi lain, Jerman juga telah memberi banyak inspirasi dan pelajaran lewat pencapaiannya di ajang Piala Dunia 2014. Jerman berhasil menggeser dominasi Spanyol, menggulung Brazil dengan skor 7-1, dan menempatkan diri sebagai tim Eropa pertama yang menjuarai ajang prestisius itu di Benua Amerika. Semua pencapaian itu adalah hasil evolusi sempurna Sepak Bola Jerman sejak 10 tahun silam. Ketika Jerman gagal lolos dalam penyisihan grup Piala Eropa 2000 dan 2004, saat itu adalah titik nadir dunia Sepak Bola di bumi Deutschland.

Jerman sadar betul arti pembinaan dan pengembangan kemampuan pemain. Investasi besar- besaran digelontorkan demi meningkatkan tehnik dan keahlian pemain. Sinergi yang kuat antara Pemerintah, Klub dan Asosiasi telah menelurkan sederet pemain muda yang siap turun di Piala Eropa Perancis 2016 dan Piala Dunia Rusia 2018. Regenerasi Die Mannschaft berjalan lancar dan siap menatap optimis ajang- ajang monumental beberapa tahun kedepan. Jerman adalah Jerman, sebuah negara yang berani merombak diri demi mengejar ketertinggalan. DJP ibarat sebuah klub Sepak Bola dengan sokongan pemain potensial yang siap diasah dan dikembangkan. Sistem seleksi yang bonafide dan bersih telah menyediakan input Sumber Daya Manusia yang cepat dalam belajar. Tetapi pengandaian yang sama juga terjadi pada pola pengembangannya.

Ada kebuntuan jalur pengembangan diri bagi pegawainya dengan alasan lagi- lagi birokrasi. Pengembangan meliputi banyak aspek mulai dari jenjang karir sampai dengan peningkatan kapasitas teknis. Keadaan ini telah menjadi api dalam sekam yang menghalangi DJP bergerak lebih maju. Fakta bahwa 57,52% pegawai DJP bergolongan III dan 38,21% bergolongan II harus dihadapi dengan bijaksana agar tidak menjadi sumber demotivasi bibit- bibit muda yang datang membawa harapan dan cita- cita. Regenerasi dan pengembangan jenjang karir adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya bak dua sisi mata uang. Tidak mungkin regenerasi berjalan lancar bila jalur pengembangan karir masih jauh dari jelas.

DJP harus mulai fokus mengembangkan pegawai DJP yang bergolongan II sama banyak porsinya dengan kesempatan untuk berkembang bagi pegawai golongan III, sebab selama ini fokus pengembangan ada di golongan III padahal sudah lebih dari 11.500 pegawai DJP yang berpendidikan DIV/S1 sementara sekitar 7.000 masih berada di jenjang DIII dan sekitar 8.800 setara SMA/DI. Bila pengandaian Piramida SDM di DJP ibarat buah pir yang gemuk di tengah tapi mengecil dibawah, maka harus ada kerangka program yang mampu menjembatani mereka yang kini tengah dibawah untuk beranjak keatas dan menambah input kuantitas di level tersebut untuk menjaga keseimbangan. Jika fokus pengembangan yang sering ditunjukkan lewat pemberian beasiswa hanya menyasar kelompok pegawai golongan III maka, maaf, ini akan sangat bertentangan dengan tujuan menyeimbangkan struktur kepegawaian yang ada. Membuka kembali Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat (UPKP) dan menambah intake SDM dari level tersebut dapat menjadi opsi yang sejalan dengan tujuan itu.

Dan bila hendak lebih revolusioner, maka DJP dapat mengadopsi contoh yang dilakukan BPKP dengan mengadakan kerja sama khusus bersama Perguruan Tinggi penyelenggara pendidikan yang bersedia menjadi mitra penyelenggaran pendidikan bagi pegawai tugas belajar golongan II. Tapi cerita pahitnya selalu sama, DJP adalah sebuah entitas yang berada dibawah Kementerian, tata kelola SDM dan jalur pengembangannya ada di tangan sakral seorang Menteri Keuangan yang kadang masih harus bersinergi dengan Kementerian PAN-RB.

Tetapi Menteri Keuangan, bagaimanapun, bukanlah seseorang paham betul isi perut dan kepala DJP yang dihuni lebih dari 30.000 manusia ini. Ia adalah seorang Bendahara Umum Negara yang tidak mungkin 1x24 jam melihat aspek- aspek yang dinilai teknis dan detil seperti ini.Dan disaat yang sama tentu tidak mungkin berharap pada para petinggi DJP untuk terus- menerus menyuarakan hal ini kepada khalayak baik internal dan eksternal, sebab ada saatnya dalam hidup, kita tidak mungkin mempertaruhkan hal yang untuk mendapatkannya telah begitu banyak yang harus dikorbankan dan diperjuangkan.

Wacana mengenai pemisahan DJP menjadi Badan Otonom memberikan harapan tentang kesempatan untuk mengembangkan SDM nya dengan lebih fleksibel. Pola pembinaan dan regenerasi yang ada sekarang ini lebih mirip aturan yang bak menghalangi jalan seseorang untuk maju dan berkembang. Bila ini dibiarkan, maka DJP akan dirongrong demotivasi dari bibit- bibit muda yang secara pelan akan layu karena secara sistemik dibuat terlambat berkembang. Otonomisasi DJP secara penuh dengan diiringi willing yang kuat untuk menjaga dan mengembangkan SDM akan menghasilkan rasa keadilan yang pada akhirnya memberi semangat dan motivasi ditataran akar rumput (grass root).

Jerman telah memberikan pelajaran tentang regenerasi dan pembinaan, investasi dibidang pelatihan yang mereka lakukan ditambah sinergi yang kuat antara pihak- pihak terkait telah melahirkan harapan akan masa depan yang cerah. DJP dapat melakukan itu dengan jalan memisahkan diri dari Kementerian Keuangan dan menjadi Badan Otonom yang diberi kewenangan lebih untuk mengatur dan mengelola SDM nya, sebab itu ibarat jalan menuju pembebesan dari kungkungan birokrasi yang selama ini melilit inovasi. DJP adalah sebuah entitas besar yang membutuhkan pola pengembangan karir dan regenerasi yang jelas. Sebab tanpa itu, DJP hanya akan bergerak pasif, minim stewardship dan semangat yang seadanya saja karena SDM nya merasa seperti bonsai yang dibiarkan kerdil demi tampil sebagai ornamen dalam etalase usang yang tidak pernah bersalin rupa.

Erikson Wijaya
Palembang, 23 Agustus 2014. 11:22 WIB

Pernah dimuat di portal resmi Ditjen Pajak dengan link ini dan gambar diambil dari sini

Read more »

8.22.2014

Hidup Minus Drama

Saya merasa semakin malas untuk terlalu banyak berkumpul entah itu dengan teman maupun dengan keluarga besar, apabila itu tidak penting- penting sekali. Buat saya kini, menghabiskan waktu berdua dengan istri dirumah, berolah raga atau menekuni hobi jauh lebih menarik. Bukannya enggan bergaul atau membaur tetapi pengalaman hidup telah memberitahu saya bahwa setiap orang disekitar kita selalu punya cara dan selalu merasa punya hak untuk sekadar ingin tahu isi dapur dan kehidupan pribadi rumah tangga kita. Dan saya kira jalan terbaik agar tidak terjebak didalamnya adalah dengan menjauhi atau meminimalkan komunikasi saja

Saya berpikir mungkin ini tanda bahwa saya semakin menua. Kalau iya pun tak mengapa. Sebab itu berarti saya tidak lagi sekadar mampu menyusun prioritas hidup tetapi juga berani menjalankannya. Bersama dengan orang tua, maka istri saya adalah orang yang paling berhak atas waktu saya. Saya harus pandai mengatur diri dan memastikan bahwa mereka telah saya penuhi hak nya. Sementara orang lain diluar sana sebagian hanyalah pribadi yang atas nama takdir telah saya temui. Bisa jadi, mereka dengan segala tutur dan tingkah lakunya tidak memberi arti dalam perjalanan hidup saya. Tetapi sebagian lagi bisa jadi memang telah ada untuk tidak sekadar singgah kecuali memberi hikmah dan sudut pandang. Agar bisa membedakan keduanya perlu intuisi yang terlatih.

Pelajaran hidup yang melekat justru saya dapat dari model pribadi yang minus hikmah ini. Mereka adalah pribadi hasil bentukan masyarakat yang abai empati. Tutur mereka dengan santai dapat meninggalkan luka bahkan mungkin tanpa mereka sadari. Awalnya saya geram, tapi seiring waktu saya mampu membuat pilihan untuk tetap santai. Saya kuat dan terlatih menghadapi serangan verbal yang atas nama pergaulan dan perhatian kerap mereka lontarkan. Buat saya, ada garis tegas yang jelas antara sekadar ingin tahu untuk mengukur diri dengan peduli yang lahir dari rasa empati. Dan itu tidak bisa ditutupi. Truth is a truth, lie is a lie.

Saya cuma mau seperti ini. Tenang tanpa drama nihil guna. Mahal betul harga ketenangan itu. Tak tembus berbilang ratusan juta rupiah. Ketenangan yang saya dapatkan adalah kejelasan arah hidup yang mau saya tuju bersama mereka terkasih. Kejelasan yang tidak diganggu oleh standar yang kerap dituntut mereka diluar sana. Mereka bersuara karena apa yang merek lihat. Mereka tidak sampai berpikir soal apa yang mungkin mereka tidak tahu atau apa mereka tengah lupa soal takdir? Lagipula kelak di ujung pergantian dimensi, saya akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka yang berhak atas saya. Bukan mereka yang cuma kerap tampil kesiangan di akhir pagi.

Erikson Wijaya
Indralaya. 22 Agustus 2014.

Read more »

7.17.2014

Demikian Sikap Saya

Angan ini tak pernah saya kira terlalu tinggi, sekadar angan- angan sederhana khas manusia muda. Tetapi pahit betul mendapatinya tak juga menjadi nyata. Siapa sangka bahwa semuanya tidak pernah semudah sebagaimana lisan bertutur. Ini adalah saat- saat dalam hidup, dimana saya menelan bulat- bulat diri saya sendiri dihadapan kuasa Ilahi. Inilah momen dimana saya mulai bertanya berapa lama lagi saya harus begini? Terbebani oleh doa- doa dan harapan saya sendiri.

Tidak mungkin saya hidup tanpa harapan, tak mungkin saya berani berharap tanpa berdoa. Tapi keruh juga jiwa ini melihat sebagian orang mendapatkan apa yang saya inginkan tanpa mereka berusaha dan berdoa, bahkan tanpa menyembah sang maha kuasa. Saya seperti berada diujung pengharapan. Ingin sekali melupakan semua doa dan harapan yang sudah terpatri sangat dalam. Sebab itulah yang orang sebut dengan Pasrah. Tapi saya tidak melihat hubungan antara melupakan dengan kepasrahan. Untuk apa berharap dan berdoa bila hanya akan dilupakan?

Tiba- tiba saya teringat betapa lama seorang Nabi Yaqub a.s berdoa mengharapkan perjumpaan lagi dengan putranya Nabi Yusuf a.s. bahkan hingga kedua matanya buta karena menangis dalam harapan dan akhirnya perjumpaan itu terjadi. Atau ketika Nabi Zakariya a.s. berdoa mengharapkan seorang penerus sejak lama hingga akhirnya diujung usianya terlahirlah Nabi Yahya a.s. Juga tentang jatuh bangunnya Nabi Yusuf a.s. mulai dari dibuang kedalam sumur, dijadikan budak, difitnah, dipenjara hingga akhirnya ia naik tahta memperoleh kemuliaan.

Tetapi siapa saya? Apa pantas saya menyandingkan pengharapan saya dengan cerita mereka? Tentu tidak, mereka adalah para nabi yang dimuliakan, dan saya adalah manusia biasa yang kerap lalai dan berdosa, tetapi saya tak sanggup mengubur doa dan harapan itu. Keduanya telah terpanjatkan hingga kini selagi saya mampu. Saya memilih menjaganya hingga saya dapati bahwa sesungguhnya janji ALLAH.SWT itu adalah benar. Di sepertiga malam terakhir, di antara azan dan iqamah, di saat hujan turun juga selepas shalat wajib atau sunah.

Meski bisikan setan yang mengganggu keyakinan kerap datang menggoyang. Karena saya yakin bahwa ALLAH.SWT itu jauh lebih besar dan berkuasa daripada kuasa manusia yang paling berkuasa di bumi ini.

Read more »

7.06.2014

Refleksi 1 Dekade

Hidup yang hidup adalah hidup yang punya tujuan/ cita- cita. Saya dan begitu juga mereka, tentu punya itu. Saya berharap bagi orang- orang yang belum tahu tujuannya untuk segera menemukannya. Karena sekali tujuan itu ditetapkan, maka petualangan hidup baru dapat dimulai.

Tujuan saya sederhana. Saya ingin sekolah setinggi- tingginya. Saya senang bisa tenggelam bersama tumpukan buku bacaan yang membuka pikiran. Saya juga suka dibuat penasaran oleh soal Matematika atau Psikotes yang menarik dan mengkontraksikan antar neuron otak saya. Saya juga gemar menulis dan mengolah kata menjadi menarik. Tetapi saya sadar bahwa saya belum menghasilkan apa- apa. Tak ada karya nyata yang bisa saya pajang menjadi kebanggaan, selain tulisan/opini lepas di internet dan blog pribadi ini. Pendidikan saya pun masih rendah, masih D-III. Kadang malu, tapi memang itu fakta.

Sesekali saya berpikir ulang jalan hidup saya. Selepas SMA tepat 10 tahun lalu saya berpeluang besar menjadi seorang Dokter lewat surat keterangan lulus PMDK dari Universitas Sriwijaya, tetapi saya takut keuangan keluarga tidak mampu menyokong hingga tuntas, saya kala itu tidak berani berpikir ambil resiko, padahal itulah minat sebenarnya yang saya bidik sejak kelas 3 SMA. Kondisi ini akhirnya membuat saya memilih kuliah D-I saja di STAN. Pilihan yang sangat ekstrim. Menjalani pilihan itu sebetulnya tidaklah terlalu buruk, selulusnya dari situ saya bisa langsung bekerja sebagai PNS dan telah dapat membantu keluarga. Tetapi saya tetaplah saya, mimpi untuk bersekolah lebih tinggi itu terlanjur terpatri.

Tahun demi tahun berlalu, saya tetap menapaki jalur yang sudah saya pilih satu dekade yang lalu. Ada sedikit perasaan yang tidak nyaman sebetulnya, saya melihat di usia saya yang 3 tahun lagi masuk 30, Saya bahkan belum menjadi Sarjana. Maklum, iklim birokrasi kerap menghadang semangat saya untuk secepatnya bersekolah. Harus tunggu 2 tahun sejak masa sekolah kedinasan terakhir baru boleh ikut tes sekolah lagi. April 2014 kemarin, sebetulnya saya ikut tes melanjutkan sekolah ke D-IV STAN, tapi saya gagal. Saya kecewa dan tidak bisa berbuat banyak selain menerima kenyataan. Mungkin nilai saya memang kurang, mungkin juga kuotanya di pangkas atau mungkin saya gugur di administrasi sebab tanggal penawaran pas tanggal itu pula saya memenuhi syarat, sehingga ada daerah abu- abu yang meragukan.

Di instansi tempat saya bekerja, hanya dengan sekolah kedinasan maka golongan 2 bisa lebih cepat naik ke golongan 3. Sementara kalau sekolah mandiri, memang bisa, namun harus menunggu kurang lebih 8-10 tahun agar bisa naik ke golongan 3 yang bisa ikut lanjut ke S2. Sebetulnya saya mulai takut. Saya melihat jalan yang begitu panjang dan saya ditinggalkan. Tetapi untuk mundur dan banting stir, saya belum punya pegangan. Disaat yang sama, tidak banyak yang berubah dari cita- cita/ tujuan saya, yaitu sekolah setinggi- tingginya. Saya masih menggilai setumpuk soal Matematika dan Psikotes sampai kadang saya merasa tidak enak hati pada istri saya.

Saya masih menyimpan tujuan itu, saya masih mampu menghidupkan bayangan nikmatnya berstatus mahasiswa, belajar 2 tahun dan kembali bekerja sembari mempersiapkan diri ikut seleksi beasiswa S2. Tetapi untuk kesana, saya harus menjadi Sarjana secepatnya. Kesedihan saya atas kegagalan tes kemarin sudah lama lewat, saya tidak mungkin hancur disitu. Doa saya masih sama. Saya selalu minta pada ALLAH.SWT supaya diberi pertolongan untuk lulus D-IV STAN. Ini Ramadhan, dan saya tidak mau kehilangan momen. Doa itu makin kerap saya panjatkan. Sebab saya melihat lewat doa itu pasti akan ada jalan. Meski dimata sebagian orang saya sudah tak lagi semuda mereka, tetapi setidaknya saya jalani hidup saya dengan tujuan/ cita- cita. Saya 'hidup' sebelum mati.

Wahai Engkau sebaik- baik pemberi pertolongan, berilah hambaMu ini pertolonganMu ya ALLAH. Aamiin

Read more »

6.23.2014

Untuk Semua Sahabat (Lama) Saya

Saya kehabisan kosakata untuk menggantikan "lama" di judul tulisan ini. Seharusnya memang tidak boleh ada kata lama dalam persahabatan. Sahabat adalah sahabat, ceritanya tidak akan pupus oleh waktu. Tetapi memang, perjalanan takdir hidup seringkali sarat kejutan. Kita dibentangkan jalan lain yang membuat cerita itu harus terhenti. Dari waktu ke waktu, selalu begitu, berulang antara ihwal pertemuan dan perpisahan. Semakin sering, semakin banyak perjalanan, makin banyak pula sahabat- sahabat yang saya temui, untuk kemudian berpisah kembali.

Bagi saya, sahabat adalah keluarga yang dapat kita pilih. Saya ingat semasa kuliah, saat seorang sahabat tanpa ragu membantu saya pindah kos di tengah malam. Atau sahabat yang sering kali rutin menjadi partner olahraga saya (jogging). Atau kisah lain ketika beberapa sahabat berkenan hadir ke pernikahan saya walau untuk itu mereka harus menempuh jalan jauh yang panjang dan mahal. Dan banyak lagi yang lain. Mereka telah membuat saya merasa dimanusiakan sedemikian rupa hingga membuat saya tersentuh.

Sahabat dalam perjalanan pun tak kalah kuat dalam ingatan. Sambil menulis ini, pikiran saya terbang ke masa- masa saat saya aktif menggilai dunia pendakian. Seorang sahabat membopong saya dengan cahaya seadanya di Gunung Gede saat saya kaki saya terkilir karena salah ambil pijakan saat turun, atau ketika saya dan sekelompok sahabat berbagi cerita sambil menapaki medan berat dan menanjak, tidak ada rasa bosan saat itu. Meski letih, tapi rasanya kaki ini masih kuat saja melangkah. Semua itu karena dinikmati dalam kebersamaan. Satu visi, satu pandangan dan tujuan.

Ada banyak sahabat yang telah mampir dan meninggalkan catatan baik dalam hidup saya, sedikit dari mereka sudah meninggal. Sebagian yang lainnya masih ada dan sehat. Kerap saya memantau cerita mereka lewat media sosial, cuma untuk memastikan mereka baik- baik saja. Bagi saya sekarang ini, itu sudah cukup. Memang sesekali saya disengat rasa rindu untuk sekadar ngobrol atau menemui mereka tapi cerita hidup sudah berbeda, tanggung jawab sudah bertambah dan keadaan tidak lagi sama. Oleh sebab itu, saya sungkan membuka obrolan lebih jauh bila saya lihat itu tak penting. Semoga "like" atau "RT" yang saya berikan sudah cukup menunjukkan bahwa saya masih ada dan masih ingat mereka.

Saya sadar, konsekuensi waktu memang begini adanya. Kita tidak bisa lawan itu. Namun cerita baik dalam persahabatan tidak akan hilang. Percayalah! Semua kisah baik itu mengendap dan mengeras dalam ingatan. Waktu boleh terus berjalan, dan jarak boleh bermil- mil jauhnya. Tetapi dalam satu waktu dan kesempatan, bila saya dapati mata ini menangkap sosok kalian, saya tidak akan pernah ragu untuk menyapa nama kalian, menjabat nama kalian dan bila sempat mungkin kita bisa duduk- duduk sebentar berbagi cerita sambil menyeruput kopi hangat seperti dulu biasa kita lakukan?

Erikson Wijaya 

23 Juni 2014. 01: 04 WIB.
Kep. Bangka Belitung.

Read more »

6.14.2014

Dibekap Candu Subsidi BBM

Masih sisa 6 bulan lagi, habis tahun 2014. Itupun kalau belum kiamat. Bila melihat kedepan tentang kesejahteraan, rasanya cuma bisa realistis. Berat untuk berharap banyak pada SBY and Friends di masa-masa akhir jabatan mereka sebab memang mereka enggan ambil resiko, dan lebih memilih bersembunyi dibalik citra "mensejahterakan rakyat". Sementara, soal kesejahteraan di negeri ini adalah soal ketidaktegasan dalam tata kelola anggaran BBM. Semula hanya dikisaran Rp293 Triliun tapi belakangan jebol sampai tembus Rp392 Triliun. Angka yang setara lebih dari 30% untuk pengeluaran/belanja ternyata habis untuk meninabobokan rakyat.

Dari inti masalah kesejahteraan, untuk kesekian kali, diingatkan kepada para pengambil kebijakan bahwa sudah saatnya mencabut beban subsidi BBM yang tiap tahun makin menghabisi anggaran. Apalagi penikmat subsidi ini bukanlah kaum papa yang membutuhkan. Saya menunggu, barangkali besok di sesi debat yang membahas soal kesejahteraan rakyat, salah satu saja dari Capres bisa memberi solusi terkait subsidi yang sudah tak sehat ini. Terlebih dari itu, bersedia mengurai APBN yang kronis sejak era SBY yang rajin sekali menggelontorkan anggaran untuk subsidi tiap tahun. Kita semua wajib sadar dan tahu bahwa negeri ini berjalan menuju titik nadir.

Efek rongrongan subsidi ini luas. Pemotongan anggaran belanja pemerintah kemarin misalnya. Rp100 Triliun dipangkas untuk dialihkan ke subsidi yang membengkak. Akibatnya harapan peningkatan pembangunan lewat belanja infrastruktur di Kementerian/ Lembaga sulit terwujud. Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa pembangunan, karena aksi itu menihilkan penyerapan tenaga kerja, konsumsi dan investasi. Jadi memang realistis kalau pertumbuhan ekonomi direvisi hanya 5,15% saja.

Subsidi memang diperlukan, karena itu alat atau bentuk nyata bukti komitmen pemerintah kepada rakyatnya. Tapi bila subsidi itu salah sasaran dan menghambat pembangunan maka itu bukan alat untuk mensejahterakan, justru menyimpan petaka yang tiba masanya harus dibayar dengan ongkos sosial yang mahal. Jadi untuk apa dipertahankan? Terlebih bila pun pelaksanaanya minim pengawasan. Kerap kita dengar aksi penyelundupan BBM ke luar negeri tapi penegekan hukum atas itu lemah.

Mencabut subsidi memang pahit. Rentan dipolitisir dan mudah memancing kemarahan massal. Di titik ini sangat dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu merebut dan meyakinkan hati rakyat bahwa kita telah dirusak oleh kebiasaan yang telah lama memanjakan kita sendiri. Kita ditipu oleh kebijakan yang salah sasaran. Dan untuk itu kita harus berbalik arah mencari jalan agar tidak terkejut oleh realita. Subsidi BBM yang hampir menyentuh angka Rp400 Triliun adalah angka yang terbesar sejak 10 tahun terakhir. Angka yang bisa diputar menjadi banyak alternatif lain sebagai instrumen mensejahterakan rakyat. Fasilitas kesehatan dan pendidikan adalah dua yang paling utama.

Mungkin kita memang butuh energi alternatif? Bisa jadi. Tetapi untuk itu lagi- lagi, kita butuh uang. Bila mengandalkan pola yang ada selama ini melalui hutang, justru tidak efisien karena tidak banyak yang bisa kita nikmati. Keuntungan untuk kita bisa habis untuk mengganti cost recovery dan membagi sisa bagianya juga. Ada satu titik yang masih bisa dicoba yaitu secara swadana dan swadaya kita membangun sendiri perusahaan energi dengan merekrut putra- putri terbaik negeri ini. Namun tentu saja anggaran untuk itu akan dangat besar, tetapi apalah artinya bila dibandingkan dengan hampir Rp1.650 Triliun yang sudah kita habiskan untuk subsidi BBM dalam 5 tahun terakhir.

Erikson Wijaya
14 Juni 2014. 15: 23 WIB.
Pangkal Pinang.

Read more »

6.08.2014

Ketika Data Berbicara (Mengungkap yang Mengendap)

Saya adalah seorang Account Representative Ditjen Pajak di Provinsi Kep. Bangka Belitung. Wilayah yang saya awasi adalah Kecamatan Koba, Bangka Tengah. Disana banyak eks- rekanan PT Koba Tin (perusahaan penambang Timah terbesar di Kabupaten tersebut yang kini telah berhenti beroperasi) yang kerap saya awasi pajak nya. Tapi dari sekian ratus eks- mitra itu, ada beberapa yang tidak berbisnis menjadi mitra dengannya, tetapi justru dengan BUMN ternama di sektor yang sama yaitu PT Timah (Persero) Tbk. Satu diantaranya saya sebut saja CV Dulsawan.

CV Dulsawan ini Sudah sejak 2008 menjadi mitra PT Timah (Persero) Tbk. Ia menjual jasa reklamasi lahan bekas area penambangan dan juga penyedia jasa angkutan hasil penambangan bijih timah. Bisa dibilang pemenuhan kewajiban perpajakannya sejak kali pertama berdiri termasuk cukup patuh dan tak ada pelanggaran yang cukup berarti. Setidaknya dilihat dari SPT Tahunan & PPN yang dipungut Bendahara BUMN tempatnya menjadi mitra. Tetapi di 2011 kemarin oleh AR sebelum saya statusnya sebagai Pengusaha Kena Pajak diusulkan dicabut karena tidak pernah melaporkan SPT Masa PPN.

Ketika saya mulai menangani CV Dulsawan, saya mencoba untuk menggambarkan kepatuhan pajaknya dengan cara membuat historis lengkap pelaporan & pembayarannya disandingkan dengan pelaporan lawan menurut ketentuan yang ada. Sebab baru pada Juli 2012 PT Timah (Persero) Tbk kembali ditunjuk sebagai pemungut PPN. Itu artinya ada celah dimana saya harus meneliti PPN yang harusnya oleh CV Dulsawan dipungut dan disetorkan ke Kas Negara disetiap akhir bulan sejak awal hingga masa Juni 2012.

Ini bertepatan dengan saat dimana CV Dulsawan kembali mengajukan permohonan agar dikukuhkan kembali sebagai Pengusaha Kena Pajak setelah saya sarankan agar dapat mengajukan tagihan dan menerbitkan Faktur Pajak yang PPN nya nanti dipungut bendahara PT Timah (Persero) Tbk. Saya sempat membaca kontrak antara CV Dulsawan dengan PT Timah (Persero) Tbk. Disebutkan bahwa PPN yang ditagihkan ke pembeli akan dibebankan kepada pembeli sebesar 10% dari nilai tagihan. Dari situ saya berpikir bahwa CV Dulsawan tidak dibebani kewajiban untuk membayar PPN. Uang yang dipakai adalah uang PT Timah (Persero) Tbk.

Seiring waktu, analisis saya atas PPN CV Dulsawan terus saya lanjutkan dan kemudian saya temukan bahwa ada PPN sebesar Rp120Jt pada tahun 2009 yang saat itu dibayarkan oleh PT Timah (Persero) Tbk tetapi tidak disetorkan ke Kas Negara oleh CV Dulsawan. Dari situ, saya susun surat himbauan untuk menagih PPN tersebut. Tetapi sudah lebih 2 minggu tak juga ada balasan dan saat dihubungi via telepon, sang pemilik CV Dulsawan ternyata tebgah di luar kota sehubungan agendanya untuk maju sebagai Calon Anggota Legislatif DPRD. Baiklah, kemudian saya layangkan himbauan kedua.

Satu minggu kemudian ada panggilan dari nomor yang belum saya kenal, dan terjadilah obrolan singkat berikut:

Tn. Pandir: "Siang dengan Pak Erikson? Saya Pandir dari CV Dulsawan" ujar suara diseberang sana

Saya: "Siang Pak Pandir, iya dgn saya sendiri, ada yang bisa saya bantu Pak? Terkait surat yang sudah dikirimkan oleh kantor kami mungkin?" Jawab saya mantap tapi dengan nada yang sopan.

Tn. Pandir: "Iya. Bisa kita ketemu besok pagi Pak dikantor Bapak?"

Saya: "Bisa pak, memang lebih enak kalau dibahas langsung, saya tunggu ya Pak, terima kasih"

Tn. Pandir: "Baik, oke"

Besoknya, sesuai janji temu- konsultasi, Tn. Pandir selaku empunya CV Dulsawan datang ke kantor dan kami langsung bertemu membahas ihwal uang PPN Rp120Jt yang menurut data saya belum dusetorkan. Tetapi meski data saya kuat, ternyata tidak semudah itu. Tn. Pandir rupanya cukup paham konsep PPN sehingga saya harus meladeni argumentasinya beberapa saat lamanya.

Tn. Pandir: "Oke Pak, terus terang saya akui betul angka itu dan memang belum saya bayarkan. Rencana saya tahun 2012 akhir kemarin tetapi saya masih menghitung- hitung"

Saya: " Terima kasih Pak atas keberaniannya mengakui kealpaan itu. Tetapi bukankah angka ini sudah jelas dan tak ada lagi yang perlu dihitung, pelaporan dari PT Timah (Persero) Tbk sudah valid. Rincian transaksinya pun jelas"

Tn. Pandir: "Iya, memang demikian. Namun Bapakkan paham bahwa sejak akhir 2011 sampai Juni 2013 lalu status PKP saya dicabut dan atas itu saya pun baru tahu setelah Bapak jelaskan beberapa waktu lalu sehingga saya ajukan yang baru. Dan di masa pencabutan itu, transaksi tagihan saya ke PT Timah (Persero) Tbk jalan terus dan oleh mereka PPN saya tetap dipungut, padahal harusnya tak ada PPN yang mereka pungut karena saya saat itu bukan PKP dan dari mereka pun tidak mempertanyakan!"

Saya: "Begini Pak, mungkin memang benar Bapak tidak pernah menerima pemberitahuan atas pencaburan itu dan itu juga bisa jadi bahan evaluasi dari kami. Namun saya sudah membaca kondisi kontrak antara CV Dulsawan & PT Timah (Persero) Tbk sepertinya sudah jelas bahwa yang mereka pungutkan pajaknya sepanjang masa itu adalah uang mereka sendiri sehingga pihak CV Dulsawan menerima utuh pembayaran tagihan tanpa ada potongan karena PPN ditanggung pihak pembeli"

Tn. Pandir: "hmmmhhhhh...." ia tercekat dan mulai menjadi lebih terbuka

Saya: "Justru seharusnya CV Dulsawan dilarang menerbitkan Faktur Pajak karena bukan PKP dan itu adalah pelanggaran, mungkin sebaiknya Bapak bisa pikirkan untuk segera menyetorkan PPN yang sudah lama belum jadi hak negara tapi belum juga Bapak setorkan"

Tn. Pandir: "Okelah, saya minta waktu empat minggu untuk mencicilnya, bisa?"

Saya: "Oke pak, kalau begitu tolong bapak tanda tangani surat pernyataan ini sebagai bukti komitmen Bapak dan agar jadi dasar pengingat saya dan Bapak juga harus membayar denda 2% sesuai aturan, saran saya segeralah tunaikan kewajiban pajak Bapak selagi mampu agar tidak berat di belakangan"

Satu bulan kemudian, saya dihubungk oleh Tuan Pandir pemilik CV Dulsawan dan ia memberi kabar sudah menyetorkan PPN yang saya himbau bulan lalu. Langsung saya cek dan benar saja sudah masuk setoran atas nama CV Dulsawan di Monitoring Penerimaan Negara. Lumayan juga bisa menambah kontribysi penerimaan negara yang terus dikejar target hingga akhir tahun. Semula saya sempat pesimis saat menangani wilayah Kecamatan Koba yang dihuni para Wajib Pajak eks mitra yang telah bangkrut. Apa yang bisa digali? Kalaupun ada, jawaban mereka sama. Tagihan kami belum dibayar.

Tapi ternyata kondisi itu tidak berlaku bila saya pasang mata dengan jeli kepada mereka, sebab masih ada cerita lama dari mereka yang belum terungkap. Mereka yang mencari untung lebih besar dari Timah lewat uang pajak yang malah mereka endapkan. Semoga ini bisa jadi inspirasi saya agar tak putus semangat menjalani hari depan. Sebab rupanya masih banyak yang masih dapat saya upayakan.

Read more »

6.03.2014

1 Diantara 30.000

Siapalah saya ini? cuma 1 diantara 30.000 manusia yang cari nafkah diatap yang sama. Apa masih perlu saya tuangkan segala karya dalam kata atau segala usaha dalam cerita? Sebab itu mungkin tetap tak akan membuat saya menjadi berarti diantara 30.000 lebih nyawa itu. Pada awalnya saya datang membawa cita dan mimpi. Mungkin begitu juga mereka. Hari berlalu, bulan dan tahun. Lalu di tepi pengharapan saya bertanya untuk siapa ini semua?

Ada yang bilang itu semua untuk lebih dari 28 juta penduduk yang masih dianggap tak berpunya. Tapi siapa saya? Robin Hood bukan, Spiderman jauh. Sebab jauh didalam hati kecil saya masih ada cita dan mimpi itu. Satu harapan untuk sekadar dianggap ada dan diberi kemudahan. Tak sekadar menerima rupiah setiap bulan semata. Namun, tetap realita memang begitu adanya. Saya cuma 1 diantara 30.000 manusia yang diwajibkan untuk patuh pada aturan yang memberi rasa cemas dan beban.

Takut- takut saya menuliskan ini. Khawatir dianggap tidak bersyukur. Tapi sudahlah, setiap orang punya ukuran masing- masing. Namun setidaknya untuk urusan apresiasi mungkin kita sama. Ingin dianggap ada dan ingin diberi jalan. Sebab memang itu alasan yang kerap kita sembunyikan dalam kilahan "Yah sudahlah". Mungkin para pembesar disana sudah nyaman betul dengan posisi mereka kini. Jadilah segala aturan dan buah pikir itu makin berjarak dan tidak memihak.

Tapi saya harus percaya baha Tuhan maha adil. Tuhan tentu melihat bagaimana saya bekerja dan tentu begitu juga orang- orang yang beriman pasti melihatnya. Walau nyatanya saya cuma 1 di antara 30.000. Saya menunggukan dengan sabar keadilan Tuhan akan datang. Dan kini jalan hidup tetap saja terus saya telusuri, didepan sana saya belum tahu apa tetap di jalan ini atau berbelok ke jalur lain yang membuat saya merasa lebih berarti dan berguna. Itu rahasia Tuhan.

Karena sulit untuk percaya bahwa akan ada satu sistem yang lebih adil untuk saya dan mereka yang nyatanya cuma 1 diantara 30.000.
Karena sulit untuk percaya akan ada sistem yang lebih memihak bila yang membuatnya justru adalah mereka yang terkikis empatinya.
Karena saya memang cuma 1 diantara 30.000.

Read more »

6.01.2014

Membaca Mega

Ia adalah saksi hidup silih bergantinya para penguasa. Ia cuma sekadar ibu rumah tangga biasa yang kemudian terseret arus pusaran politik nasional. Tahun demi tahun berlalu dan telah banyak dinamika dan prahara yang menempanya. Ditelikung lawan, dikhianati bawahan, dijungkalkan dan ditekan rezim sudah pernah ia alami. Semua itu seharusnya lebih dari cukup untuk menjadikan ia ambisius dan kembali merebut kemenangan yang tidak pernah benar- benar dinikmatinya sejak awal. Tapi ia lebih dari sekadar politisi matang yang mengincar kemegahan istana. Ia menjelma kini menjadi seorang negarawan yang mencintai negaranya.

Saat tragedi Kudatuli 27 Juli 1996 ia dilengserkan dari jabatan sebagai ketua umum yang didapat secara legal penuh legitimasi. Ia dituduh membangkang rezim penguasa. Gerak- geriknya diawasi dan segala sangkaan disasarkan kepadanya meski kemudian tidak terbukti. Ia kembali naik ke panggung politik nasional dan mendirikan PDI Perjuangan yang menjadikannya muncul sebagai tokoh simbol pembebasan rezim Soeharto. Benar saja, Pemilu 1999 PDIP menjuarainya. Tetapi ia ditelikung oleh Poros Tengah besutan lawan politiknya. Ia tak jadi Presiden, hanya wakil. Ia terima. Keadaan yang mungkin bagi sebagian politisi akan lebih memilih untuk menolak dan mengerahkan massa untuk memberontak. Kebesaran jiwanya demi kedamaian pun terlihat.

Ketika tahun 2001- 2004 akhirnya ia menjadi Presiden menggantikan Gus Dur yang diturunkan. Saat itu ia mulai dipersepsikan kaku dan kurang cakap. Banyak orang yang lupa ia adalah tokoh dibalik pembentukan KPK yang kini menjadi ikon pemberantasan korupsi. Di eranya perbaikan fundamental ekonomi yang ambruk pasca krisis 1998 mulai memperlihatkan hasil. Dan di tahun 2003 Indonesia melunasi hutang dari IMF dan berani menolak hutang baru. Dan terpenting adalah ia menginisiasi pemilu langsung yang menhantarkan seluruh rakyat Indonesia mencicipi demokrasi yang partisipatif. Tetapi itu semua kabur oleh bising selentingan dari para lawan politiknya yang lebih banyak mengangkat sisi buruk kebijakannya seperti privatisasi. Atas kebijakan itu dan keengganannya untuk 'curhat' ke media, membuatnya dicap kaku dan makin diserang lawannya.

Ia kemudian gagal melenggang ke istana pada pilpres 2004 setelah kalah suara dari SBY yang masih misteri mengenai sikap dan kebenaran tata lakunya semasa menjadi bawahannya. Khususnya saat menjelang masa kasak kusuk pemilu. Ia mundur dari panggung dan memilih mengawal dari luar sebagai oposisi. Cerita yang sana berulang di pilpres 2009. Saat diberitakan kekalahannya, terlihat benar ia kecewa namun tegar. Banyak politisi yang saat itu mulai tak lagi meliriknya lantaran dianggap tak lagi punya daya tarik. Ia kembali dianggap bak ibu rumah tangga biasa. Dan ia pun memilih jalur yang sama seperti lima tahun sebelumnya, menjadi oposisi.

10 tahun ia memimpin PDIP menjadi oposisi. Konsistensi sikapnya menjadi panutan seluruh kader PDI Perjuangan. Ia adalah simbol perjuangan di jalur yang tegas dan mengawal pemerintahan untuk kepentingan rakyat. Satu dekade berlalu, penguatan didalam PDI Perjuangan berjalan apik dan menghasilkan tokoh- tokoh yang memberi harapan baru seperti: Joko Widodo, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Maruarar Sirait, dll. Semasa itu pula ia diuji antara hasrat berkuasa atau demi kepentingan bangsa. Semasa itulah ia mendengar suara rakyat yang mendamba perubahan. Dan akhirnya disaat hiruk pikuk pilpres 2014 mulai terdengar, ia undur diri dari kontestasi dan menyodorkan para pembaharu yang searah juang dengannya.

Ia menjawab teka teki tentang adanya eksklusivitas trah Soekarno di tubuh PDI Perjuangan lewat sikap kenegarawanannya. Ia berjiwa besar dan mengabaikan segala pembenaran yang membuatnya merasa pantas maju kembali mencalonkan diri. Ia mampu membedakan panggilan nurani atau syahwat politik semata. Itulah Mega. Seorang negarawan yang namanya kan harum dikenang sejarah Indonesia.

Erikson Wijaya Kamis.
01 Juni 2014. 22:31
Di sudut kamar

Read more »

PPh 1% untuk UMKM Antara Berkah dan Musibah

Juli tahun lalu terbit Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Sederhanaya, peraturan ini membidik kelompok usaha kecil dan menengah yang omset setahunnya kurang dari Rp4,8Miliar. Aspek unggulan kebijakan ini adalah kesederhanaan bagi Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, yaitu Pajak Penghasilan yang dibayar cukup 1% per bulan tanpa ada keharusan untuk melaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak atas pembayaran yang telah dilakukan. Pun begitu juga bila dalam bulan yang bersangkutan tidak ada omset sehingga tidak ada Pajak Penghasilan yang dibayar. Mempermudah dan menyederhanakan! Mungkin itulah tujuan utama para pemikir yang membidani lahirnya kebijakan ini. Tapi praktik dilapangan tidak semudah yang dibayangkan, keunggulan dan tujuan mulia kebijakan ini tampak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan (too good to be true) lantaran dasar pengenaan yang digunakan adalah penghasilan kotor/omset/bruto.

Protes bermunculan, keluhan dan kecewa tak terhindarkan. Khususnya dari para pelaku usaha yang saat ini masih harus bertarung melawan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), kenaikan upah karyawan dan kenaikan bahan baku. Mereka mempertanyakan keberpihakan pemerintah kepada usaha kecil dan menengah (UMKM). Kebijakan ini diragukan antara berkah atau justru musibah. Dalam kondisi seperti itu, maka membayar Pajak Penghasilan sebesar 1% dari omset itu berarti mereka harus menaikkan harga produk agar bisa membebankan pengenaan pajak kepada konsumen dan itu sama saja dengan kehilangan pelanggan. Kalaupun mereka menanggung sendiri Pajak Penghasilan tersebut maka mereka harus membebankanya kedalam Harga Pokok Penjualan sehingga mengurangi Laba Kotor dan itu pun masih harus diperhitungkan dengan Beban Operasional seperti Upah dan Transportasi, akibatnya Laba Bersih mereka berkurang yang sama saja dengan menekan skala usaha mereka.

Bila ditelaah dengan kritis maka ada banyak keganjilan yang dibawa kebijakan ini. Baik secara Akuntansi maupun Fiskal. Tidak ada satu prinsip akuntansi manapun (FASB atau IFRS) yang sepakat untuk mengenakan Pajak Penghasilan dari Laba Kotor, begitu juga didalam Undang- Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 17 disebutkan bahwa Pajak Penghasilan terutang adalah sebesar tariff yang berlaku dikalikan dengan Penghasilan Kena Pajak (Laba Bersih Sebelum Pajak/ EBIT). Itupun diperhitungkan lagi dengan fasilitas Pasal 31E tentang batasan omset yang diberi fasilitas pengurangan 50%. Di titik ini, penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali tujuan penerapan kebijakan Pajak Penghasilan 1% untuk UMKM. Tujuan untuk penyederhanaan dan untuk mempermudah harus diimbangi dengan tata cara yang tidak menyalahi prinsip- prinsip yang berlaku umum.

Dari sisi Wajib Pajak, saya sepakat bahwa kebijakan ini cenderung memberatkan. Tetapi ada satu aspek yang patut kita cermati terkait penerapan kebijakan ini. Sudah rahasia umum bahwa volume transaksi di level UMKM termasuk yang besar, bahkan kelompok ini mampu bertahan saat krisis tahun 2008. Tetapi ketangguhan ini tidak diiringi dengan optimalnya penerimaan pajak dan kepatuhan pelaporan dari penggiat pelaku usaha UMKM itu sendiri. Dalam bahasa lain, dapat dikatakan bahwa sektor ini belum optimal disentuh kebijakan perpajakan. Bisa disebabkan karena rendahnya kesadaran tentang perpajakan yang dipicu oleh paradigma bahwa pajak itu sulit dan rumit. Berangkat dari niat baik untuk memberi kemudahan dan mengoptimalkan peran UMKM inilah maka Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 ini diluncurkan.

Secara historis, saya kira lahirnya kebijakan ini didorong oleh rendahnya kepatuhan wajib pajak sektor UMKM itu sendiri dan fasilitas kemudahan yang ditawarkan kebijakan tersebut adalah untuk menghapus paradigma yang sudah melekat di benak pelaku usahanya. Sehingga sudah seharusnya wajib pajak dari sektor usaha UMKM untuk sadar pajak sejak dini, jangan sampai niat baik pemerintah untuk mempermudah justru dianggap malah memberatkan sebab bila kini kebijakan yang adapun ternyata melenceng itu tidak lepas dari pengabaian wajib pajak mengenai kewajiban perpajakan mereka selama ini. Tetapi, tulisan ini tidak hendak menyalahkan siapapun. Melainkan untuk menawarkan cara pandang baru agar kedua pihak sama- sama mendapat porsi untuk menjalankan peran masing- masing.

Akan lebih baik bila pemerintah segera meralat kebijakan pengenaan Pajak Penghasilan 1% dari omset itu. Perhitungkan terlebih dahulu biaya pokok yang tidak dapat dihindari para pengusaha. Sebab itu akan lebih menunjukkan keberpihakan. Sementara para pelaku usaha UMKM tidak boleh menjadi abai terhadap kewajiban perpajakan mereka. Supaya tidak terkejut bila sewaktu- waktu ada kebijakan yang bertujuan baik. Karena pada kondisi ini, penting untuk menjalin komunikasi antara pemerintah dan wajib pajak, khususnya kelompok UMKM. Dan pada akhirnya ragam kemudahan dan fasilitas yang diluncurkan pemerintah benar- benar dapat menjadi berkah yang mendorong makin moncernya kegiatan usaha.

Erikson Wijaya
Minggu. 01 Juni 2014.
Sore di Pangkal Pinang

Read more »

5.30.2014

Soal BBM: Akibat Tak Tegas Anggaran Dipangkas

Ada- ada saja lakon para pembesar negeri ini. Akibat tak berani tarik subsidi BBM yang salah sasaran itu. Kini ragam prediksi yang sudah sejak lama ditakuti hampir menjadi kenyataan. APBN terancam defisit sekitar 3%. Porsi anggaran subsidi makin membuat APBN limbung dan tidak seimbang. Wacana pengetatan subsidi yang menggelinding sejak setahun lalu berakhir tanpa hasil karena nyatanya realisasi subsidi jauh diatas target. Akibatnya pejabat negeri ini mengutak atik anggaran dengan alasan efisiensi. Bahasa sederhananya: Pemangkasan!

Pemangkasan itu sendiri adalah hal yang baik. Tetapi jadi masalah kalau sasaran pemangkasan itu justru menyasar pos- pos yang menjadi instrumen pembangunan. Dan itulah yang terjadi kini, Pemerintah melakukan pemangkasan untuk anggaran di Kementerian/ Lembaga. Ambil contoh di Kementerian Keuangan, sebesar Rp300 Miliar dipangkas. Semua satuan kerja dibawah Kemenkeu kini harus melakukan perencanaan ulang rencana aksi yang sudah disusun sejak lama. Dampaknya banyak program pengembangan kompetensi aparat yang terpaksa ditunda atau malah dibatalkan.

Tak sepatutnya pemangkasan dilakukan, di pos manapun. Sebab evaluasi pra penyusunan APBN sudah menjadi entry point kelayakan usulan program yang diajukan K/L. Begitu seharusnya. Aksi main pangkas ditengah jalan terlihat lebih sebagai upaya cuci tangan atas kegagalan mengelola kebijakan dan keengganan menyentuh masalah yang memang sangat tidak populer. Bila saja sejak dulu pemerintah berani tegas bersikap terkait subsidi BBM. Mungkin tak banyak biaya sosial dan ekologis yang harus ditanggung bangsa ini.

Sulit berharap pada rezim SBY yang akan turun panggung lima bulan lagi ini. Juga nyaris tak ada capres yang berani menjual program cerdas tentang BBM ini. Subsidi BBM memang polemik yang berpotensi besar menimbulkan rusuh massal dan sangat mudah dipolitisir para lawan politik. Tetapi bila tiba masa diamanahi kuasa, seharusnya seorang politisi melepas baju politik dan pakailah jubah besar seorang negarawan. Cabut saja subsidi BBM yang nyatanya lebih banyak dinikmati oleh kaum menengah ke atas, industrialis dan penimbun musiman yang memburu rente.

Kalau ada capres yang berani tegas kemana arah program pengelolaan subsidi BBM ini, maka bisa diyakini ia punya visi dan memguasai masalah yang akut ini. Tentunya penting untuk sadar bahwa BBM bersubsidi sudah patut dicabut, digantikan program subsidi bentuk lain yang lebih membuat mandiri dan menyentuh langsung keselamatan masyarakat. APBN tidak bisa terus- terusan digantungi biaya tak produktif yang justru membatasi gerak tujuan pembangunan jangka panjang bangsa ini.

Saya sangat berharap capres terpilih kelak berani ambil resiko meski harus membidani kebijakan yang tidak populer terkait BBM sebab saya yakin sikap kenegarawanan seorang pemimpin akan membuatnya mensejahterakan rakyatnya untuk jangka panjang, bukan sekadar meninabobokan dan kemudian meninggalkan petaka ketergantungan saat rakyat tersadar. Bukan pula presiden yang melulu kebingungan dan mengundang banyak wacana tapi minim pengawasan yang dapat memberi solusi masalah ini. Sebab bisa kita renungkan seperti kebijakan pemangkasan anggaran ini, jelas tidak selaras dengan tujuan pembangunan.

Erikson Wijaya
30 Mei 2014. Jumat. 20: 46
Di Sudut Kamar

Read more »

5.25.2014

Pilpres Dimata Seorang Tukang Urut

Tadi malam, seorang tetangga yang mencari nafkah sebagai Tukang Urut, berkomentar siapapun yang terpilih nanti tidak akan mengubah hidupnya. Ia akan tetap mengandalkan hidup pada jari jemarinya yang terampil dan telah membuatnya dicari banyak orang. Susilawati namanya, di usianya yang sudah 53 tahun, bila dalam keadaan sehat ia setidaknya mampu mengumpulkan omset minimal saya hitung- hitung Rp4.500.000,- dalam sebulan. Itu sebabnya ia tidak pernah pasang tarif. Doa tulus dari 'pasien' nya lebih ia damba selain keikhlasan amplop berisi Rupiah yang kerap dilayangkan untuknya.

Bagi seorang Susilawati, hiruk pikuk Pemilihan Presiden tidak lagi menarik, ia sudah 'berpraktik' sebagai Tukang Urut sejak era Soeharto 32 tahun silam, saat ia masih tinggal di Rantau Prapat, Sumatera Utara. Dan kini pun begitu juga, sejak pindah ke Pangkal Pinang 2 tahun yang lalu, cukup berbekal tas hitam kecil berisi segala macam minyak urut mulai dari minyak tawon, minyak zaitun, minyak GPU, dan lainnya, ia sudah kerap didatangkan ke banyak titik di Pulau Bangka ini.

Berkaca dari seorang Susilawati sebetulnya kita diingatkan tentang satu hal. Kemandirian. Ia tak tertarik untuk berharap banyak pada SBY, Jokowi atau Prabowo akan perubahan bagi hidupnya. Negara baginya mungkin hanya sekadar status yang mengisi KTP. Nasionalismenya sudah mewujud padat menjadi kemandirian untuk bertahan hidup. Di saat yang sama, betapa banyak dari kita yang dengan tegas menunjukkan keberpihakan pada tokoh politik tertentu karena beragam motif dan alasan, mulai dari yang paling idealis sampai ke yang paling pragmatis, atau pun cuma sekadar ikut-ikutan meramaikan.

Tidaklah salah menjadi WNI yang partisan. Pun, tidak pula hina bersikap apolitik seperti Susilawati. Sebab, negara memang kerap kali absen untuk warganya, khususnya untuk warga kelas bawah. Di negeri ini, hukum kerap kali hanya tajam bagi rakyat kecil namun tumpul dimuka para pembesar. Kebijakan yang dibuat sangat jarang menyentuh langsung kehidupan puluhan juta Susilawati yang hidup dari Sabang sampai Merauke. Subsidi BBM yang tidak pernah benar- benar mereka nikmati justru jadi alat politik atas nama mereka yang dimainkan politisi yang cari aman demi jabatan.

Lalu, di sebaran yang lain, kelompok masyarakat kelas menengah keatas sering kali terlihat sikap nya memuji atau membenci tokoh tertentu, terutama sekarang menjelang Pemilihan Presiden. Apa mereka semua betul- betul paham alasan dukungan itu? Saya ragu. Demi ingin terlihat pintar kita sering membabi- buta bersikap memihak dan mencela pihak yang lain. Di mata saya, tokoh politik yang patut didukung adalah yang berani tidak populer demi tujuan jangka panjang. Berani ambil resiko meski itu rentan jadi fitnah dan dipolitisir lawan mereka.

Silahkan baca visi- misi baik Jokowi atau Prabowo. Siapa yang berani hapus subsidi BBM untuk bisa dialihkan ke sektor lain? Siapa yang berani melirik Ditjen Pajak untuk mengejar habis pengusaha dan oknum nakal pencuri uang pajak? Siapa yang punya ide kumpulkan semua potensi anak negeri untuk membangun industri yang dapat menyaingi perusahaan asing yang menggerus aset negeri? Siapa yang berani revisi ulang UU Pilkada untuk hentikan praktik politi dinasti yang tidak elok? Siapa yang berani meneguhkan KPK dan memberi batas tegas dari intervensi politik? Silahkan anda semua lihat dan putuskan sendiri. Ini lebih bermartabat ketimbang sibuk menyebar isu personal yang sarat fitnah.

Bila tak pula kita temui yang demikian itu. Maka tak berlebihan bila dikatakan bahwa kita adalah pribadi yang sama dengan seorang Susilawati, hanya saja bila Susilawati punya alasan yang tegas untuk tidak sempat membaca itu semua karena sibuk mencari nafkah. Lalu apa alasan kita? Bisa jadi benar komentar Susilawati ini, siapapun yang terpilih tak akan mengubah hidup kita. Tidak ada gunanya hidup digantung dan menunggu. Jadi lebih baik bekerja, berkarya dan berdoa saja tentunya di bidang keahlian kita masing- masing, misalnya seperti Susilawati ini dengan keahlian sebagai Tukang Urut.

Salam
Erikson Wijaya

Read more »

5.21.2014

Poros Prabowo: Pondasi Rapuh Tenda Besar?

Prabowo- Hatta resmi dideklarasikan di Rumah Polonia. Teka- teki siapa sang pendamping Mantan Danjen KOPASSUS ini terjawab. Melalui kalkulasi politik yang pelik, Hatta Rajasa resmi disepakati oleh GERINDRA, PAN, PKS, PPP,PBB dan GOLKAR. Jangan harap kita tahu kesepakatan politik macam apa yang telah terbangun didalam poros yang diidentikkan dengan istilah Tenda Besar ini, karena sejak reformasi membidani lahirnya praktik demokrasi 16 tahun silam, selalu ada sisi yang tak terungkap menyisakan tanda tanya. Namun dengan mata telanjang dapat kita saksikan sebuah gerbong besar berisi lebih dari 50% perolehan Pemilihan Legislatif 09 April 2014 plus Mahfud MD dan Rhoma Irama. Mereka beramai- ramai bersama gerbong Prabowo- Hatta memasuki gelanggang Sudden Death melawan gerbong Jokowi- JK yang didukung PDIP, NASDEM, PKB dan HANURA. Menarik, sebab baru kali ini sejak era reformasi Pemilihan Presiden hanya berlangsung satu putaran!

Apapun yang akan terjadi di kompetisi ini nanti, tulisan ini saya susun khusus untuk menyoroti Koalisi Tenda Besar ala Prabowo- Hatta. Ada gejolak logika yang membuat saya penasaran. Kasak- kusuk terbentuknya koalisi di poros ini lebih sarat drama yang membuat siapapun yang mencermati mungkin akan bertanya ada apa? Dimulai dari perilaku tarik ulur dukungan dari PPP, Manuver last minute GOLKAR yang ganjil, usulan cawapres dari PKS yang mental, penolakan sosok Hatta Rajasa di internal koalisi sampai ke bergabungnya Mahfud MD dan Rhoma Irama yang kita tahu bahwa keduanya sempat digadang- gadang menjadi capres PKB beberapa saat yang lalu. Sampai kemudian akhirnya semua pihak secara deklaratif sepakat, masih ada sekam yang terlihat belum diredam. Wajar bila kemudian Koalisi Tenda Besar ini menyimpan pertanyaan: Siapa dapat apa? Siapa akan ada dimana?

Penting untuk dipahami bahwa Pemilihan Presiden itu tidak sama dengan Pemilihan Legislatif. Rakyat melihat sosok, aura, dan kenyamanan personal. Rakyat terlihat lebih bijak dengan tidak lagi melihat partai apa mengusung siapa. Pemilihan Legislatif kemarin menjadi buktinya. Tidak ada satu Partai Politik pun meraih suara dominan, semua akhirnya membutuhkan teman, termasuk PDIP yang berada di angka tertinggi 18,95%. Terkait hal ini, ada semacam indikasi bahwa beberapa partai politik tidak melihat atau malahan tutup mata atas gejala ini. Gejala ini terlihat lebih kuat di poros Prabowo- Hatta dengan usungan lima partai plus dua tokoh juga upaya merangkul Demokrat yang ingin netral, menunjukkan bahwa poros ini masih terperangkap dalam pandangan masih berkuasanya Partai Politik dalam menggiring konstituen dan penggemar. Semua upaya dicoba agar perolehan suara usungan makin besar dan makin memberi efek psikologis bak pertempuran Thalut melawan Jhalut di kisah para Nabi. Sampai kemudian tercium aroma tak sedap politik dagang sapi.

Koalisi besar dalam praktik sistem pemerintahan presidensial sebetulnya ampuh untuk menguatkan dukungan setiap kebijakan yang akan diambil, khususnya kebijakan yang menjadi jualan semasa kampanye. Prabowo- Hatta memiliki itu, program mereka sangat dekat dengan cita- cita kedaulatan bangsa salah satunya berdikari dengan konsep ekonomi kerakyatan yang sempat identik dengan rencana nasionalisasi (belakangan GERINDRA melalui Fadli Zon menyampaikan nasionalisasi yang mereka maksudkan adalah Renegosiasi Kontrak). Namun koalisi besar bisa menjadi rapuh bila Partai Politik yang ada didalamnya bermain aman, wajah teman perilaku lawan. Gaya semacam ini yang kita lihat didalam Koalisi yang dibangung Demokrat periode lalu, Setgab yang seharusnya menjadi rumah koalisi justru menjadi rumah bagi para pemain politik dua kaki. Sejarah bisa berulang bila Koalisi Tenda Besar yang dibangun di poros Prabowo- Hatta menggunakan pola yang sama. Ini ancaman sekaligus sinyal buruk bagi rakyat yang memimpikan realisasi janji kampanye yang digagas Prabowo. Saya melihat, ada indikasi ke arah situ. Melirik rekam jejak partai pengusung poros Prabowo- Hatta, dapat dikatakan ada beberapa partai politik yang tidak berani menginisiasi kebijakan yang tidak populer yang justru menjadi daya tarik Prabowo. Dan menjadi aneh justru ketika Prabowo mengaminkan penggabungan mereka? Prabowo lupa? Atau tidak tahu? Atau tidak percaya diri?

Dengan bahasa singkat, bisa dikatakan bahwa pondasi tenda besar yang telah resmi digaungkan poros Prabowo- Hatta cenderung rapuh khususnya sejalan dengan kenyataan bahwa Koalisi Tenda Besar ini disusun dengan mengesampingkan bahan utama: Kesamaan platform dan visi. Ada pragmatisme yang diabaikan Prabowo semata demi mengamankan tiket pencalonan menuju RI-1. Mereka, para partai pengusung dan tokoh itu, seharusnya sudah sejak lama mengamati rekam jejak calon yang akan diusung, kesamaan platform dan visi partai pengusung dan segeralah ambil sikap! Itu seharusnya yang dilakukan jika mereka ingin membuktikan bahwa pilihan mereka murni tanpa mahar. Namun yang terjadi justru lain, beberapa praktik kawin mawin dalam koalisi baru jelas di saat- saat terakhir, mungkin setelah kalkulasi atau spekulasi politik mereka keliru dan tidak laku lagi.

Setajam apapun sebuah kompetisi selalu akan menghasilkan satu pemenang. Pun begitu pula dalam politik. Bedanya untuk ukuran Indonesia yang masih dianggap hijau dalam berdemokrasi ini, kita belum terbiasa mengamati visi- misi sebagai ukuran dalam mengambil sikap politik. Isu personal dan kisah masa lalu lebih menarik untuk diperbincangkan sampai akhirnya kita lupa bahwa politik itu adalah jalan menuju masa depan. Prabowo banyak dikritisi atas Tragedi Mei’98 namun, meski berat, saya memilih untuk tidak larut didalamnya, Level kekuatan hukum negeri ini masih belum mampu menyentuh aktor besar yang paling bertanggung jawab saat itu selain Tim Mawar yang telah dihukum dan diadili. saya lebih memilih menyoroti sikapnya yang belakangan ini ia ambil. Sangat disayangkan bila semua program aksinya yang jelas harus kandas karena kesalahan memilih teman dalam koalisi. Ibarat kata, ia memilih menuruti kemauan lebih banyak orang ketimbang berjalan dengan sedikit teman yang memiliki kesamaan pandangan, sebab mungkin sejarah akan berulang.

Salam.

Read more »

5.16.2014

Basa Basi Demokrasi

Mereka dulu lantang menantang rezim
Dengan daya upaya yang mengundang takzim
Darah muda mereka mendidih di garda terdepan
Sebagian mereka gugur bak tumbal pergantian zaman

Mei sembilan delapan sudah enam belas tahun silam
Mereka sudah diberi panggung untuk tak sekadar diam
Lewat jabatan mereka diharapkan bisa berperan
Lewat kesejahteraan mereka dibebani pertanggungjawaban

Mereka yang gugur, telah dicatat sebagai pahlawan reformasi
Namun tetap, nyawa mereka tak patut pergi menyisakan elegi
Sementara sebagian rekan mereka utuh bernyawa dan kini sejahtera
Sejarah menunggu mereka mengungkap tanda tanya atau malah lupa?

Reformasi bukan semata soal aksi dan orasi
Didalamnya tersimpan cita- cita dan rindu negeri tak terperi
Mereka adalah pelaku sekaligus saksi atas raja yang ditumbangkan
Pekikan mereka adalah harapan, langkah mereka adalah perlawanan

Berbilang tahun telah berlalu, detak waktu terus melaju
Tak juga terjawab tanda tanya itu, mereka bahkan seperti bisu
Miris ketika sebagian mereka justru merapat ke gerbong masa lalu
Bersama tangan penarik pelatuk yang menyasar darah rekan mereka dulu

Mungkin inilah politik itu, busuk dan sarat kepentingan
Mereka bersalin rupa, demi jabatan dan untuk bermain aman
Mereka tak lagi bicara esensi demokrasi atau suksesi negeri
Mungkin inilah basa basi demokrasi?

Erikson Wijaya
Kepulauan Bangka Belitung
Kamis. 15 Mei 2014. 20:38

P.S:
------
Mengenang tragedi Mei'98 dan merasai duka mereka yang kehilangan

Read more »

5.12.2014

P.S: I Love You


Sayang
Hari ini tepat setahun
Lafaz Ijab Qabul itu mengalir terucap
Di satu pagi yang tidak akan kita lupa
Saat semuanya terasa begitu cepat

Sayang
Mungkin baru setahun
Tapi telah begitu banyak cerita kita
Cita, duka, lara dan bahagia
Semuanya terasa sama menguatkan cinta

Sayang
Kukatakan dengan penuh sadar
Inilah setahun terbaik yang pernah kumiliki
Bersamamu, meniti segalanya dari awal
Saling menjaga dan memahami tanpa henti

Sayang
Mengimamimu adalah kesucian
Menyayangimu adalah keutamaan
Melindungimu adalah penghargaan
Walau kadang ku jatuh dalam ketidaksempurnaan

Sayang
Hari depan masih terbentang
Tak peduli seberapa panjang
Semoga kita tetap bergenggaman tangan
Dalam pertolongan Sang Pemilik Kehidupan

P.S:
-----
Selamat Hari Ulang Tahun Pernikahan kita, sayang.
Abang Sayang Iis.

Read more »