12.30.2011

Judisium, Sebuah Sisi Lain.


Akhirnya aku judisium, tepatnya tanggal 27 Desember kemarin. Dan artinya mulai saat itu statusku sudah bukan Mahasiswa atau Pegawai Tugas Belajar lagi. Kini aku sedang menanti untuk ditempatkan di kantor yang baru. Dimana? Kalau permintaan ku dikabulkan maka aku akan berkantor di Kota Palembang, sekaligus memulai hidup baru disana, mempersiapkan banyak hal untuk kehidupan yang sudah aku coba rancang. Dan mengucapkan selamat tinggal serta terima kasih kepada rimba Metropolitan Jakarta untuk masa 7 tahun belakangan ini. Life goes on and it can't wait, so let us move on!

Judisium, prosesi singkat namun sakral dan wajib ini nyaris aku lewatkan lantaran ketinggalan pesawat di Bandara Juanda Surabaya sehari sebelumnya, untungnya bantuan Tuhan lewat seorang teman datang disaat yang tepat. Sehingga pagi tanggal 27 Des itu aku sudah bangun dengan suasana berbeda, bergegas mandi, menyiapkan seragam serta sedikit berkaca untuk meyakinkan bahwa aku cocok juga mengenakan dasi. Kuhitung seumur hidup sangat jarang aku berpakaian serapi dan selengkap ini. Hahaha...

Sekitar pukul 09.00 WIB hari itu, 91 orang total rekan satu angkatan ku sudah berkumpul di Gedung G Aula Kampus. Mereka nampak rapi, sumringah dan cerah. Beberapa bahkan bisa aku pastikan sengaja membeli kemeja atau celana baru untuk prosesi monumental ini. Aku? Ah, jangan ditanya. Sudah bagus masih mau mencukur kumis dan brewok ini. Dasi pun dapat minjam dari teman. Kenapa? Ya, karena memang sudah cukup nyaman dengan kemeja putih dengan kancing lepas satu ditengah (untung ketutupan sama dasi) dan celana panjang hitam yang jahitan bawahnya agak robek. Lagi pula, prosesi nya tak lama, hanya 2-3 jam saja. Sayang dan sungkan kalau repot- repot beli.

Pernyataan Judisium pun dibacakan oleh Pihak Kampus, ibarat Ijab Qabul yang menjadi sarat sah pernikahan, maka sah sudah kami lulus. Tepuk tangan kami pun membahana, sorakan kami begitu gegap gempita memenuhi langit- langit aula gedung ini. Selanjutnya pembacaan peringkat. Namaku dipanggil, Erikson Wijaya dengan IPK ?,?? Peringkat ? dari 91 orang. Berdiri sebentar terus duduk lagi. Lega! Sekaligus senyum lapang karena akhirnya 1 fase sudah terlewati. Sambil duduk kemudian aku termenung, Eitss.. sebaiknya aku tidak boleh lupa bahwa bertambahnya jenjang pendidikan maka akan diikuti oleh bertambahnya tanggung jawab atas penguasan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari selama 2 tahun ini.

Tanggung jawab ini seperti beban moral tak tampak yang akan mudah terlupakan jika tidak dibarengi dengan dedikasi dan kesadaran dalam berkarya. Tapi sisi lain dari tanggung jawab ini sebetulnya adalah sebuah cara untuk mempertahankan apa yang sudah didapat, memperbaharui serta membagikannya dengan cara yang senyaman mungkin tanpa bermaksud merasa lebih baik dari orang lain. Sisi lain ini kelihatannya akan mengalihkan tanggung jawab akademis praktis yang mulanya terlihat seperti beban menjadi sebuah hobi yang terasa nikmat untui digilai dan diaktualisasikan. Semacam mental yang sifatnya unstoppable learning machine.

Oya, baru ingat seperti nya selain itu aku juga harus menyiapkan kembali mental untuk siap berjibaku dengan aktifitas kantor dan rutinitas yang akan menjemukan jika tidak disiasati dengan kreatif. Working is just like biking, it keeps you from falling because it will let you keep pedalling, but you need to take a brief halt periodically to strecht your leg.

Read more »

12.26.2011

Melepas Ego di Gunung Raung


Siang itu ditengah angin kencang, udara dingin, hujan dan kabut pekat, pada ketinggian beberapa puluh meter di bawah Puncak Sejati Gunung Raung 3332mdpl, sekelompok anak muda tengah berjuang untuk meneruskan pendakian. Dan, saat berteduh di sebuah tepi cekungan dibawah Puncak Tusuk Gigi, ternyata disanalah perjuangan yang sebetulnya baru akan terjadi. Puncak Tusuk Gigi, puncak ketiga setelah Puncak Bendera dan Puncak Kemukus.

Adalah aku Ebas (Erikson Bin Asli Azis), Joneh (Bagus Pujo Trilaksono), Poski (Surahman), Ichank (Ichsan Permana) dan Tople (Chairus Topan), keenam pemuda yang tepat pada 24 Desember 2011 kemarin berjibaku dalam dingin dan hujan untuk memenuhi mimpi kami menuju Puncak Sejati Raung dengan dipandu oleh Cak Nyung (Josinyo) dari REGASSPALA.

Apa yang terjadi didetik- detik siang itu, merupakan momen yang sangat berkesan dan akan terkenang selalu. Sebuah momen tentang apa yang oleh Norman Edwin sebut kan dalam kuotasi terkenalnya yang kurang lebih berbunyi: "Bukan Gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri".

Setelah melewati medan hutan dan tiba di batas vegetasi, semua dari kami sepertinya mulai terperanjat dalam diam, aku yakin ada semacam sensasi komplek ketika melihat hamparan medan karang membentuk bukit terjal menjadi atap hutan hijau nan berkabut dibawah sana, turun naik meliuk- liuk membentuk lajur menuju beberapa titik yang lebih tinggi diatas sana.

Kami terus mengikuti jalur trek bebatuan dan cuaca masih cukup cerah menjanjikan. Hijau hutan dibawah sana lantang terlihat. Dan medan masih cukup landai untuk menuju puncak pertama yaitu Puncak Bendera. Ketika menuju Puncak Bendera ini, ada semacam tumpukan bebatuan yang terjadi secara alamiah betul- betul menakjubkan. Dan ketika sudah tiba di Puncak Bendera, kami bersiap untuk turun menapaki lembah menuju puncak selanjutnya yaitu Puncak Kemukus. Perjalanan menuju puncak Kemukus ini tidak mudah, untuk turun kami memilih cara aman dengan menggunakan webbing.

Tidak ada pilihan lain selain menggantungkan diri menuju jalan ke bawah berpegangan tangan pada seutas webbing, beberapa dari kami yang tidak biasa dengan kondisi ini harus berjuang lebih kuat mempertahankan keyakinan untuk bisa sampai ke bawah, termasuk aku. Disaat ini, hujan mulai turun, udara dingin mulai menyergap kencang dan kabut perlahan menghalangi jarak pandang. Ichank bertanya apa akan diteruskan? Dan berkata: "Kondisi mulai tidak memungkinkan, mungkin sebaiknya inilah puncak sejati kita, disini!! Apa kita yakin akan tetap lanjut?!!!". Aku jawab: "Lanjut!!!"

Saat semua sudah sampai dibawah, kami kembali meneruskan perjalanan menuju Puncak Kemukus, (beberapa menyebutnya Puncak 17 Agustus), dan ketika tiba di puncak ini, udara makin dingin, ditambah medan yang makin berat membuat pegangan tangan pada batu karang menjadi tidak kuat, sementara untuk mencapai Puncak Sejati masih ada satu puncak lagi yaitu Puncak Tusuk Gigi. Alam benar- benar tidak bisa ditebak, memang sepanjang trekking kemarin kami dirundung hujan, namun menurut informasi terakhir di pos awal, kondisi ini jarang terjadi di Puncak sana.

Karena hujan makin deras, angin kian kencang dan dingin kian menyergap serta kabut yang tambah pekat kami memutuskan untuk beristirahat sebentar menunggu kondisi mereda di sebuah cekungan di tepi tebing tepat dibawah puncak Tusuk Gigi. Tapi nyatanya, kondisi tidak membaik sementara kami juga dikejar waktu agar bisa segera turun kebawah secepatnya. Saat itu aku masih ingin meneruskan hingga ke Puncak Sejati, tekad ku sudah bulat (atau nekad?) namun di tim ternyata Joneh, Ichank dan Tople memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan. Hanya Poski yang bersedia lanjut. Dari sini, konflik bermula.

Lebih ngeri dari itu semua adalah kilatan petir ditengah gemuruh awan pada langit hujan, Cak Nyung memberikan peringatan untuk kembali mempertimbangkan dengan kondisi petir ini. Setelah kembali meyakinkan semua anggota tim akhirnya fixed bahwa Joneh, Tople dan Ichank menunggu dibawah, ditengah dingin hanya berlindung jas hujan dan sedikit ransum. Sementara aku dan Poski akan tetap menuju Puncak Sejati. Bendera- bendera titipan saudara dari Bekasi sudah aku pegang untuk dibawa keatas dan dikibarkan. Joneh, Tople dan Ichank memberikan semangat dalam diam mereka. Kami semua speechless. Belum pernah aku seemosional ini dalam sebuah pendakian.

Tapi di titik ini, saat semua kami terdiam merenungi kondisi yang benar- benar tidak terduga ini, Poski dan Cak Nyung berdiskusi berdua dalam bahasa Jawa, dan suasana kembali berubah. Kondisi ku yang sempat kelelahan ketika trekking dari camp 8 ke Pos 4 membuat Cak Nyung khawatir jika aku turut serta keatas, terkesan dipaksakan tanpa menimbang resiko apalagi medannya tentu lebih berat karena menanjaki bebatuan sambil dikepung udara dingin, khawatir nanti akan membuat waktu tempuh lebih lama sementara waktu kami terbatas dan tentu akan membuat mereka bertiga menunggu lebih lama dibawah bertahan dalam dingin, bagaimana kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan?

Aku paham maksud nya sampai disini, intinya Cak Nyung selaku pemandu kami, khawatir bila aku ikut serta keatas, namun beliau segan untuk menyampaikannya mengingat aku begitu bersemangat menggebu- gebu sejak awal. Poski yang menyampaikan kepadaku, sambil menawarkan solusi supaya cukup ia dan Cak Nyung saja yang keatas dengan memberikan pertimbangan kondisi medan yang berat, fisikku yang sempat drop di bawah tadi. Aku keberatan saat itu! Puncak Sejati sudah terlihat sangat dekat dari tempat kami beristirahat, bagaimana mungkin aku dengan mudah melepasnya, setelah dua bulan lebih aku merindukannya!!

Gambaran- gambaran euforia pendakian Raung beberapa minggu lalu pun melayang- layang didalam benakku. Ketika hunting alat, ketika pesan tiket yang useless, ketika mencari pelarian ke Gunung Gede, ketika latihan fisik, ketika main ke Cibogo, ah terlebih lagi bila ingat tahun depan aku sudah pindah domisili ke Sumatera Selatan, maka entah kapan lagi aku bisa mendaki Raung ini. Semacam obsesi. Mulailah, disini pertarungan yang melibatkan ego/ambisi menuju puncak Sejati dengan sikap berbesar hati makin memuncak. Bagai orkestra dengan segala instrumen yang dimainkan dengan nada yang tinggi, lalu meninggi dan meninggi kemudian makin meninggi. Tapi, tiba- tiba berhenti. Klimaks, Lalu tenang dan Terdiam.

"Bang, abang kan tadi sempat drop dibawah, kalau kita paksakan keatas bertiga nanti takutnya abang gak bisa cepat ngikutin kita, malah memperlambat, jadi kasihan dengan mereka bertiga yang menunggu dibawah, kelamaan kedinginannya, apalagi kan kita diburu jadwal kereta besok. Atau cukup aku dan Cak Nyung aja yang keatas, abang menunggu disini saja sama mereka, lebih meminimalkan resiko itu, kami paling 2 jam saja sudah balik lagi kesini. Gimana Bang?" Poski berkata.

"Ya sudahlah, aku tunggu disni saja sama mereka. Kalian berdua yang keatas" Aku jawab demikian sambil mengingat- ingat kembali alat- alat yang mungkin perlu mereka bawa keatas, termasuk bendera Caracol Veneno, Nandjak Adventure dan Bendera Merah Putih lalu menyerahkannya. Lalu Poski dan Cak Nyung mulai menuruni jalur menuju puncak Tusuk Gigi hingga akhirnya tiba di Puncak Sejati. Saat itu aku mulai mencoba memaknai pendakian ini sebagai pendakian oleh satu team, bukan secara personal yang kebetulan sedang bersama. Hingga aku rela melepas raungan ego, ditengah kondisi alam yang sedang tidak bisa ditebak dapat saja membahayakan, penuh resiko.

Dua jam selanjutnya aku habiskan bersama Joneh, Tople dan Ichank sambil berlindung jas hujan, kami menyalakan api untuk menghangatkan diri. Sesekali badai berlalu, kabut pekat lewat berganti cerah, namun sesaat kemudian datang lagi bersama hujan, sampai dua jam berselang, Poski dan Cak Nyung kembali lagi, walau belum sepenuhnya lepas namun setidaknya saat itu aku mulai belajar memandang keutuhan kebersamaan ini atas nama satu tim. Keberhasilan Poski dan Cak Nyung sampai ke Puncak Sejati kucoba untuk kumaknai sebagai keberhasilan tim ini. Bendera yang dititipkan sudah berhasil dikibarkan. Kami berjalan kembali untuk pulang ke pos peristirahatan dibawah sana.

"Don't look back and keep walking". Begitu seharusnya, namun sesekali aku masih sempat menoleh kebelakang melihat puncak sejati dari kejauhan, secara personal aku memang tidak mencapai Puncak Sejati, namun secara mental aku telah berhasil mencapai puncak yang lebih tinggi yaitu puncak penaklukan ego untuk tidak melawan alam dan bersifat realistis terhadap kondisi diri dan keadaan. Sebuah pembelajaran baru yang aku dapat dari pendakian Gunung Raung. Gunung yang bagiku sepertinya bukan hanya sekedar gunung namun lebih dari itu seperti guru yang keras dalam menempa para pendaki yang ingin memaknai arti sebuah pendakian. Ditengah hujan, dingin dan kabut, Puncak Sejati makin jauh terlihat namun kenangan dan pelajaran darinya makin dekat dan terasa sayang untuk dilepas.

Keesokan harinya:

Aku sudah di bandara Juanda Surabaya, pulang mendahului Tople, Ichank, Poski dan Joneh karena dikejar jadwal Yudisium yang wajib diikuti dikampus ku. Bagai manusia dengan jiwa yang baru saja aku disini. Pagi disini sudah ramai, riuh rendah suara calon penumpang beradu pelan dengan bunyi derit troli kereta dorong mereka. Tapi suara gemuruh suasana kemarin siang di Puncak Raung sana marih meraung kencang memberi tanda untuk selalu ingat tentang makna sebuah pendakian, kebersamaan dan lebih jauh lagi adalah tentang kehidupan.

Alhamdulillah ya ALLAH, semoga hamba dan saudara- saudara sependakian kemarin termasuk dalam golongan hambaMU yang dapat mengambil pelajaran, Amin.

Diatas langit Surabaya, Pesawat Garuda Citylink ini terbang membawaku menuju Jakarta menderukan mesin seperti sedang membuang obsesi ku mencapai Puncak Sejati dan menggantinya dengan setumpuk pelajaran berharga nan tak ternilai. Bukan lah gunung yang kita taklukan namun diri kita sendiri.

Oh ya, hari ini aku Yudisium, statusku sudah bukan Mahasiswa lagi, tinggal menunggu masa magang dan akhirnya kembali kekantor, insyaALLAH di Palembang, Sumatera Selatan.

P.S:
-----
Untuk foto- foto di puncak Sejati, file nya belum terkumpul.

Read more »

12.16.2011

Drama Stasiun Senen


Sekedar Sharing Pengalaman Hari ini

Harusnya aku sudah berangkat menunumpang Matarmaja tujuan Malang, tapi karena suatu hal terpaksa dimundurkan jadi hari Rabu. Jadi begini, minggu kemaren aku pesan tiket kereta ekonomi Matarmaja tujuan Malang untuk keberangkatan hari ini 16 Desember (karena hanya H-7 yang dilayani). aku pesan sen untuk 7 orang. Dan ketika tiket diberikan, disitu tertera tulisan :"BERANGKAT DARI STASIUN SENEN".

Tidak menngerti itu tulisan maksudnya apaan, dan tidak terlalu aku anggap penting! Karena mikirnya tidak apa- apa, 3 anggota tim saja yang berangkat dari Stasiun Senen, selebihnya 4 orang dari stasiun Bekasi. Dan ternyata ketika tadi sampai Stasiun Senen mau berangkat, ada banner lumayan besar ukurannya ditempel di pintu ruang tunggu (jauh dari ruang pemesanan tiket) bunyinya, kira- kira begini:

"Mulai dari 1 Des 2011 Kereta Ekonomi Jarak jauh tidak berhenti di stasiun Bekasi, Cikampek.. bla..bla.. Jadi harus berangkat dari stasiun Senen, Kota, Tanah Abang atau Tanjung Priok."

Aku shock!! Itu bagaimana nasib nya sodara2 yang di Bekasi??? Alamat bakalan repot ini urusanya, mana peralatan pendakian di Bekasi semua!! Dan akhirnya aku berusaha menemui pihak stasiun, tapi jawabanya kita diminta menghubungi Kepala Stasiun Bekasi, dan kebetulan pas salah satu dari kita sudah menunggu di Bekasi jadinya bisa menemui langsung Ka. Stasiun, namun hasilnya nihil, dengan alasan pertaruhan jabatan.. bla.. bla.. bla..

Jadinya cuma bisa say goodbye sama Matarmaja, dan sialnya lagi baru sadar bahwa tiket yang sudah dipegang tidak bisa ditukar jadwal dengan alasan sudah lewat H-1 dan sudah tidak bisa di batalkan karena sudah lewat 30 menit sebelum keberangkatan. Akhirnya Raung disepakati untuk dimundur saja ke hari Rabu insyaALLAH.. Dan berhubung semangatnya sudah semangat Raung, agak berat rasanya kalau mau putar haluan.

Aku berusaha berprasangka baik saja dengan kejadian ini, mungkin Tuhan punya maksud lain. Selebihnya aku lalu pulang lagi kekos, sambil menyempatkan membeli dua ikat Rambutan untuk dimakan di Bis Patas AC 44 jurusan Ciledug- Senen. Ah, hidup memang penuh dengan kejutan, dan tiba- tiba aku teringat perkataan Khalifah Ali RA.Beliau RA berkata bahwa kalau kita tidak mendapatkan apa yang kita senangi maka senangilah apa yang kita dapatkan. Mungkin semacam ikhtiar kecil untuk menjadi lebih bersyukur.

Read more »

12.15.2011

Cerita Porter Gunung


Ketika sekelompok orang, mungkin aku salah satunya, memaknai sebuah pendakian sebagai sebuah pelarian dari hingar bingar kehidupan, atau dengan sederet alasan filosofis lainnya, maka ada sebagian kelompok yang lain beranggapan bahwa mendaki gunung untuk menyambung hidup, mereka adalah para porter (pengangkut barang). Dan, memang begitu kenyataannya, keberadaan mereka para porter bisa dengan cukup mudah ditemui misalnya di Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Namanya Roni, berkepala plontos, dengan senyum ramah dan polos. Usianya baru 19 Tahun, aku berkenalan dengannya Juni lalu ketika mendaki Rinjani, ia diminta pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani untuk menjadi porter yang akan menemani perjalanan aku dan kedua temanku. Awalnya aku menyangsikan tubuh mungilnya untuk mengangkat barang- barang kami yang berat. Namun, entah betisnya yang khilaf atau tubuhnya yang kalap, tapi kedua pundaknya seperti tampak biasa dibebani dua keranjang penuh isi, kakinya pun tetap lincah untuk sedikit berlari. Agak malu juga aku kalau sempat tertinggal jauh jadinya.

Di waktu istirahat, kami bercerita tentang apapun seputar Gunung Rinjani, sampai ke pengalaman Roni menjadi porter, yang intinya bahwa menjadi porter bagi penduduk kampung gerbang masuk kawasan pendakian Rinjani sudah menjadi semacam pekerjaan tetap disamping pekerjaan mereka sebagai petani musiman, mereka menyambung hidup dengan naik turun gunung. Upah yang mereka terima lumayan besar daripada menggantung hidup sebagai petani, itu kenapa pilihan menjadi porter lebih menarik, apalagi jika yang dibantu adalah pendaki dari luar negeri, mereka kadang terkenal royal.

Satu hal yang mereka antisipasi adalah ketika pihak balai menutup kawasan di periode Desember- Januari biasanya, disitu tidak ada aktivitas pendakian, sehingga banyak dari mereka mengalihkan sumber pencaharian dengan menjadi buruh kasar musiman di Malaysia dan kembali lagi menjadi porter bila jalur sudah dibuka kembali.

Haha, yang lucu adalah ketika mereka pulang dari Gunung maka kabar itu akan menyebar ke satu kampung dan mereka akan didatangi oleh sanak famili untuk mencicipi cipratan rejeki porter. Dan yang menyentuh adalah waktu aku sampai pada kesimpulan bahwa, mungkin inilah salah satu maksud ALLAH.SWT menciptakan Gunung Rinjani. Tanpa keberadaan Rinjani mungkin mereka sudah kehilangan pilihan untuk menopang hidup. Aku hanya khawatir dan jangan sampai Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani senasib dengan Kawasan Taman Nasional Batang Gadis di Sumatera Utara yang digadang- gadang akan dijadikan areal proyek tambang jika betul demikian maka tentu saja dapat mengancam keseimbangan ekologi dan sumber rejeki penduduk lokal (para porter, red).

Dan akhirnya, ketika sekelompok orang, mungkin aku salah satunya, memaknai sebuah pendakian sebagai sebuah pelarian dari hingar bingar kehidupan, atau dengan sederet alasan filosofis lainnya, maka inilah Roni, berkepala plontos, dengan senyum ramah dan polos. Usianya baru 19 Tahun dan sudah menikah serta beranak satu, ia memaknai pendakian sebagai upaya untuk menyambung hidup. Just for a living, nothing more.

Ebas
Ditengah persiapan menuju Gunung Raung besok 16 Desember.

Read more »

12.11.2011

Kebebasan Itu?


Seperti orang kebanyakan, aku suka dengan kebebasan, bebas mau kemana saja, melakukan apa saja. Bagai setiap hari sudah jadi milikku sepenuhnya. Tertawa, berkelana, gembira lalu lelap seketika. Tapi ah, aku lihat kebebasan itu memang tidak ada di dunia ini. Karena selalu dibatasi oleh tanggung jawab dan setiap manusia yang hidup, sedikit atau banyak pasti telah mengambil tanggung jawab dengan atau tanpa disadari. Begitulah.

Andaikan tidak ada tanggung jawab lain yang harus aku penuhi, mungkin setiap hariku akan terisi dengan petualangan demi petualangan mendaki pegunungan dari Sabang hingga Merauke. Namun itu tidak mungkin karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri, lagipula harus punya uang untuk bisa kemana-mana itu tadi, uang yang hanya bisa aku dapat kalau aku menjalankan tanggung jawab sebagai pegawai yang baik.

Lelaki penikmat kebebasan, begitu mungkin judulnya kalau sudah berkumpul dengan teman2 bahkan aku bagai tidak ingat bahwa kodrat lelaki dewasa yang sudah mampu itu adalah menikah lalu menjadi suami kemudian ayah. Siklus kehidupan yang harus disyukuri, lagi-lagi karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri melainkan demi mereka yang menjadi alasan mengapa aku diciptakan, mungkin nanti kalau sudah terasa hikmahnya maka aku baru bisa senyum ikhlas melepaskan kesenangan masa muda yang penuh dengan fantasi petualangan yang liar turun ke rimba menikmati alam dari ketinggian.

Tapi yah sudahlah, berbesar hatilah. Pepatah lama dari Negeri Jerman berkata bahwa mereka yang berbahagia adalah mereka yang bisa melupakan apa saja yang tidak bisa mereka raih. Lalu aku belajar melupakan. Ajaran agamaku, Islam mengatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah bersyukur. Lalu aku belajar mensyukuri selalu hingga nanti aku mati. Karena tiada yang tahu prihal umur. Semoga kesadaran penuh dan dalam tentang makna kebebasan dan tanggung jawab bisa aku pahami dan jalankan disisa umur ku kedepan. Amin. Karena aku hanya ingin hidup tenang dengan mereka yang aku sayangi, iya kamu dan mereka.

Ebas
Malam ini dingin karena hujan.

Read more »

12.10.2011

Rundown Raung


NAMA KEGIATAN:
Tamasya Raung Kita

RUTE JALUR:
Naek (in) : Jalur Kalibaru
Turun (out) : Jalur Kalibaru
Kalibaru adalah sebuah kecamatan di Banyuwangi yang menjadi salah satu lokasi pintu masuk pendakian Raung, disini ada Posko REGASSPALA, KPA yang dua orang personilnya akan menemani pendakian kita, mereka yang sudah begitu paham mengenai medan jalur utara sampai menghantarkan ke Puncak Sejati

Transport: Kereta Ekonomi Matarmaja
Tujuan: Stasiun Kotabaru Malang

WAKTU KEGIATAN:
16-21 Desember 2011

Note:
Ditanggal keberangkatan, tim akan berangkat menjadi tiga titik sebar: Stasiun Senen (3), Stasiun Bekasi (4) dan Kalibaru (1). Masing-masing harus stand by jangan telat, apalagi ketinggalan kereta, usahakan 30 menit sebelum kereta masuk, sudah siap di peron.

PESERTA KEGIATAN:
Bange
Ichank
Tople
Pujo
Kubil
Willy
Poski
Ebas

PERIZINAN:
Perizinan Gunung Raung menurut informasi bisa dibilang sederhana, siapkan fotokopi KTP dan dari tim kita akan disiapkan surat perizinan oleh Sobat Bange yang akan ditujukan ke Kecamatan, Desa, Polsek dan Koramil yang berada di Kalibaru, penyampaiannya akan dibantu oleh REGASSPALA, sudah dikoordinasikan. Kemungkinan tetap ada biaya administrasi, namun tidak terlalu material dan ditanggung kelompok.

PERLENGKAPAN DAN PERALATAN PRIBADI:
Headlamp dan baterai cadangan minimal dua
Sleeping Bag
Peralatan Makan (sendok, gelas dan piring)
Geter
Peralatan Mandi (sikat gigi, sabun)
Matras
Drigen ukuran 5Lt
Sepatu Gunung/Sendal
Kaos Kaki (Bawa secukupnya)
Pakaian ganti secukupnya
Sarung Tangan
Kupluk/Topi
Jas Hujan (boleh model Ponco atau setelan)
Korek Api

PERLENGKAPAN DAN PERALATAN KELOMPOK
Carrier, cukup 5 saja yang bawa supaya bisa gantian, selebihnya daypack
Daypack, 3 orang bawa daypack yaitu: Tople, Poski dan Pujo
Tenda, kita bawa 2 disiapkan oleh Bange, 1 tenda solo juga dibawa oleh Willy
Kompor dan nesting, bawa masing-masing 2 oleh Ichank dan Bange
Golok, bawa 3 oleh Tople, Ichank dan Poski
Webing, kita usahakan sampai 100 meter lebih kalau bisa, sejauh ini sudah ada 60meter oleh Bange, Ichank dan Poski
Karabiner, bawa 4. Masing-masing kita usahain bawa 1.

Note:
Untuk Webing, masih kurang banget jadi tolong masing2 usahain juga ya supaya aman.

LOGISTIK KELOMPOK:
Gas 5 tabung
Kopi + Susu
Roti Tawar
Telor
Ikan Teri+ Kacang
Sayur Bumbu
Sambal Masak
Bumbu Masak
Kornet
Buah-buahan Kaleng
Minuman Kemenangan
Snack
Coklat
P3K Kelompok

note:
Logistik kelompok dibeli di Kalibaru dengan sumber dana dari iuran tim, termasuk unsur dari total dana yang dibutuhkan

LOGISTIK PRIBADI:
Beras setiap orang bawa, diisikan ke 1 botol aqua 600mL.
Obat-obatan Pribadi

RUNDOWN KEGIATAN
Hari I
Jumat, 16 Desember 2011

13.00- 13.30: Kumpul di stasiun Senen, dekat ATM Center.
13.30- 14.00: masuk ke peron, siap berangkat menuju Malang Kotabaru.

Hari II
Sabtu, 17 Desember 2011

07.00- 08.00: Tiba di Stasiun Kotabaru Malang, istirahat dan sarapan pagi.
08.00- 08.30: Menuju terminal Arjosar Malangi untuk cari Bis ke Banyuwangi (Kalibaru)
09.00- 14.30: Perjalanan ke Kalibaru
14.30- 15.00: Tiba di Kalibaru, ke Basecamp REGASSPALA, mengurus perijinan, makan siang.
15.00- 16.00: Belanja Logistik di Kalibaru
17.00- 19.00: bermalam di Posko REGASSPALA*)

Hari III
Minggu, 18 Desember 2011

05.30- 06.00: Bangun pagi, sarapan
06.00- 07.00: Packing dan Check alat, bersiap berangkat
07.00- 08.00: Perjalanan ke Desa Terakhir. Naek Ojek.
08.15- 09.15: Tiba di Pos I, mempersiapkan air, sumber mata air terakhir.
09.15- 12.30: Tiba di Pos II (Semar), istirahat, sholat, makan snack ringan
12.30- 14.30: Tiba di Pos III (Petro), istirahat makan snack ringan
14.30- 20.00: Tiba di Pos IV (Bagong), nge-camp disini untuk summit

Hari IV
Senin, 19 Desember 2011

05.30- 07.00: Sholat, bangun pagi, sarapan dan summit
07.00- 09.00: Tiba di Puncak Sejati, Raung.
09.00- 10.00: Santai di Puncak, istirahat, enjoy the moment
10.00- 12.00: Tiba di Pos IV, sholat, makan siang dan berkemas untuk turun.
12.00- 16.00: Tiba di Pos III, istirahat makan snack ringan.
16.00- 18.00: Tiba di Pos II, istirahat makan snack ringan.
18.00- 20.00: Tiba di Pos I, istirahat, makan malam dan lanjut naek ojek.
21.00- 22.00: Tiba di Posko REGASSPALA, istirahat, tidur.

Hari V
Selasa, 20 Desember 2011

08.00- 13.00: Perjalanan Banyuwangi- Malang
13.00- 13.30: Berangkat ke Jakarta dari Malang, Matarmaja

Hari VI:
Rabu, 21 Desember 2011

07.30- 08.00: Tiba di Jakarta, kembali beraktivitas.

BIAYA-BIAYA:

1. Kontribusi Buat REGASSPALA:
Rp 50.000 x 8 orang hari= Rp 400.000 (Rp 50.000/orang)

2. Transportasi:

Kereta Matarmaja: Jakarta- Malang: Rp 50.000
Kereta Matarmaja: Malang- Jakarta: Rp.40.000
Ongkos Bis Malang- Kalibaru: Rp 45.000 x 2
Ongkos Ojek Basecamp- Pos I: Rp 30.000 x 2
Ongkos Kotabaru - Terminal Arjosari: Rp 5.000 x 2
REGASSPALA: Rp50.000 (sebagai tanda terima kasih kita, mereka tidak pernah minta)
Konsumsi Kelompok: Rp.50.000
Estimasi Biaya/orang: Rp 350.000 (estimasi mark-up)

RENUNGAN:

Dalam pendakian ini, kita adalah tim, dan kita harus saling menjaga dan membantu bila diperlukan dan jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan. Harus sigap dan siap setiap saat karena alam/gunung bisa berubah dalam hitungan detik, ia tak selamanya bersahabat dan tidak bisa memahami kekurangan kita. Lagipula kata banyak orang bijak: Bukan gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri. sadaapppphh sok tua banget guaa.. udahh yaa :D. Bismillah!! Semangat Raung!!! Berang2 Makan Cucut!! Berangcut!

Read more »

12.07.2011

Memaknai Kelulusan


Akhirnya aku lulus, hampir sebulan aku menunggu kabar ini, lega rasanya karena bisa juga aku lewati semester terakhir sekaligus semester yang menurutku berat diantara 3 semester lainnya.Berat, karena semua mata kuliahnya sangat teknis dan praktikal. Alhamdulillah, ini artinya sudah mau selesai statusku sebagai Mahasiswa Tugas Belajar, tinggal menunggu yudisium akhir bulan ini dan harus segera dikembalikan ke kantor baru. Entah dimana, hanya Tuhan yang tahu.

Pagi ini sambil duduk menghadap laptop, diluar sana udara dingin sisa hujan tadi malam masih sangat terasa sementara didalam sini dikepalaku semua scene hari demi hari selama dua tahun ini melintas cepat terasa enggan untuk singgah. Ya sudahlah, memang kita tak akan mampu menahan waktu sebab ia akan terus berjalan tanpa mau menunggu tanpa mau tahu. Dan demi apapun, tahun depan aku harus sudah melangkah pergi dari kampus ini menuju tempat dimana aku diharapkan, setelah memegang selembar surat keterangan yang memberi keterangan bahwa aku lulus sehingga siap dinaikkan pangkatnya, kemudian take-home-pay nya, atau malah sedikit saja status sosialnya.

Harusnya aku bahagia atau setidaknya mengembangkan senyum sumringah kepada nasib saat ini, namun aku manusia yang dikaruniai otak dan hati, dan tidak mau terjebak dalam kepasrahan terselubung dalam kemasan kenyamanan hidup. Kudapati banyak orang melewati periode indoktrinasi pendidikan secara ekstrim baik dan lupa untuk membebaskan kreatifitas dan imajinasi walau sedikit saja agar berani mengemukakan perbedaan pendapat, hanya demi dianggap patuh atau demi mendapat nilai yang baik.

Ada kegelisahan yang tidak bisa aku pungkiri, semacam ekspresi kekecewaan kepada lingkungan yang 'pragmatis' dan 'oportunis', berada bersama keduanya membuatku merasa tidak nyaman dan makin menjadi tidak nyaman karena tahu bahwa aku tidak akan bisa berbuat apapun untuk mengubah keadaan itu. Akhirnya aku cuma bisa berdamai dengan keadaan. Lalu berbesar hati dan Ya sudahlah. Aku hanya mulai berpikir bahwa aku harus mampu bertahan dengan prinsip ku sendiri ketika harus terus menjalani fase pendidikan kedepan. Berani mengambil resiko walau harus menjadi berbeda dengan orang kebanyakan. Karena yang kucari bukan nilai, pangkat atau uang. Namun kesempatan untuk mengembangkan diri walau setitik demi setitik setiap harinya.

Ebas
Diantara kamar yang berantakan

Read more »

12.04.2011

Dinamika DINAMIKA 2011


Selamat datang Kawan, Salam kenal Sahabat
Bersama menjemput pengetahuan di kampus kita tercinta
Jangan patah semangat, mari bulatkan tekad
Demi raih prestasi meski rintangan kan slalu menghadang

(Penggalan Lirik Jingle DINAMIKA 2011, by: Mia Putri Melani)

Hanya Tuhan yang tahu kebingungan dan kekhawatiran ku waktu diserahi amanah menjadi ketua panitia DINAMIKA 2011. Kala itu Oktober kemarin aku sudah memutuskan untuk maju saja mendaftarkan diri untuk posisi Ketua Panitia, bermodal grand design seadanya yang aku tulis sampai bergadang menjelang pagi dan sedikit keberanian untuk mengikuti interview namun bagaimanapun entah mengapa aku pikir ini jadi semacam Blessing in Disguise akibat pembawaan ku yang kurang mampu membedakan makna nekad dan berani. Dan kemudian, Tuhan memberikan jalan kemudahan, kehadiran para rekan yang bersedia mengikuti serangkaian proses rekruitmen sampai akhirnya bergabung menjadi panitia makin memantapkan langkah, dan roda kepanitiaan mulai berjalan, makin lama makin cepat karena dikejar waktu.

Lalu hari hari selanjutnya adalah tentang menjalani konsekuensi dari komitmen, tanpa ada kata tanya atau ragu-ragu lagi. Karena komitmen bukan tentang eksistensi tapi dedikasi dan kontribusi. Aku bersyukur ada bersama para rekan yang sadar penuh tentang sebuah tanggung jawab. Kala harus rapat berjam- jam meski dilanda lelah dan kantuk tidak lagi jadi soal atau ketika harus berat menyiapkan hal- hal kecil demi kelancaran esok hari. Jangan tanya lagi tentang siapa diatas siapa, karena bagai berenang yang mulai lelah tidak ada jalan lain selain terus maju jika tidak ingin tenggelam. Sementara ombak di belakang siap menyeret kembali perenang ke daratan. Kalau ada kata yang lebih tinggi maknanya dari 'terima kasih' tentu akan aku pakai untuk mengapresiasi semua itu.

Ada begitu banyak yang bisa kuceritakan. Namun singkat saja jadi dua kata: Aku bersyukur. Pengalaman selama satu bulan terakhir ini menjadi hal mendalam yang tak bisa dilupakan. Aku menyadari makna penting untuk berbesar hati, memaklumi dan belajar diam jika belum mampu memberi solusi. Dan apa lagi ya? Ah, mungkin kita semua memulai ini dari pameo sederhana bahwa hal baik lakukan saja sepanjang niatnya baik maka insyaALLAH ada saja jalannya. Sampai akhirnya kemarin waktu penutupan DINAMIKA 2011. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu bagaimana akumulasi semua sensasi keluar dalam bentuk mata yang berkaca-kaca bahkan pecah jadi air mata. Bersujud syukur atas semua kelancaran yang diberikan. Akhirnya kerja keras setiap kita dalam panitia terbayar dengan euforia gembira para Mahasiswa /Mahasiswi baru dalam momentum sore kemarin, 03 Desember 2011, diantara baliho besar penyambutan mereka dan bunyi letupan kecil kovayet yang melemparkan serpihan kertas warna warni.

Kemudian hari ini mulai terasa berbeda lantaran, semua scene yang pernah ada di hari- hari kemarin sudah habis masanya dan harus tergantikan dengan kesadaran bahwa waktu akan terus berjalan, tanggung jawab baru lainnya harus segera dihadapi dan diselesaikan, dan cukuplah hari kemarin menjadi sejarah yang sarat dengan pelajaran. Aku kira tidak ada waktu yang cukup lagi untuk turun kedalam emosi karena amanah sebagai pribadi dan bagian dari suatu entitas harus segera diselesaikan, termasuk menyusun Laporan Pertanggungjawaban DINAMIKA 2011 yang harus sudah jatuh tempo 24 Desember hingga 10 Januari nanti. Mungkin DINAMIKA 2011 ini adalah salah satu rangkaian penutup tahun selain mendaki Gunung Raung yang akan aku lakukan dua minggu lagi. Bismillah..

Ebas
Ah, baru sadar masa kontrak kamar kos ini akan segera habis. Mari berkemas.

Read more »