8.28.2011

Mudik 2011: Bukan Catatan si Boy


Hari ini Minggu, aku sudah di Rumah Manis Rumah, Home Sweet Home kata orang Barat :). Harusnya Sabtu aku sudah sampai, tapi karena saking cintanya aku sama Pelabuhan Merak, harusnya cukup 1 jam sana aku disana tapi kali ini, lama juga, lama sekali malah! 15 Jam. Tempo waktu yang bisa cukup untuk 1 kali perjalanan Jakarta - Baturaja. Kenapa cinta? Karena katanya cinta sama benci itu beda tipis, mereka berdua ada dipikiran kita hanya saja beda rasa ! Cinta itu katanya enak sementara. Hatred is vice versa. Jadi daripada rasa tidak enak ini aku simpan-simpan, lebih bagus aku ubah saja jadi cinta. Enjoy!

Kemaren itu perjalanan yang rutin dalam 7 tahun terakhir, tp sekaligus jadi yang terlama. Mulanya lancar maju melaju membelah malam di tol Jakarta - Merak, cukup saja ditemani obrolan santai dengan kawan lama tentang cerita lama. Bedanya kali ini diiringi playlist dinamis anak muda rentang dua jaman. Jaman aku SMA dan jaman menjelang umur seperempat abad ini. Ah, sesekali lagu barat ada juga.

Kami tidak sedang syuting "Catatan Harian si Boy" jadi tidak perlu ngebut melaju diatas angin, tapi bukan juga syuting tersanjung jadi bisa berlama-lama sampai muncul tersanjung 6. Biasa saja. Karena memang situasi ini diluar kendali kami. Keluar Tol, tidak ada lagi istilah langsung masuk Pelabuhan karena harus 'parkir gratis' alias mengantri berkilo-kilo panjangnya demi bisa masuk area ikan besi bersandar. Sempat terpikir dalam hati mengumpat kemalangan kali ini, hanya saja tidak tahu mau di tujukan kesiapa. Begitu selalu. Ke Presiden atau Menteri Perhubungan aku rasa tepatnya, tapi terlalu jauh khawatir tidak sampai ke Rumah Aspirasi. Buang-buang energi saja.

Selalu ada 'saviour' untuk setiap tragedi, kalau tidak ada mungkin pas lagi kurang beruntung kurasa. Kali ini beruntung aku membawa 5 buku yang sengaja aku niat untuk ditandaskan sepanjang perjalanan, sayangnya 1 tertunaikan 4 lagi masih belum. Ah, terlalu banyak rupanya !. Lain kali mungkin cukup 2 saja, seperti Keluarga Berencana. Dan sepertinya TTS adalah yang pasti akan dibawa ! Karena TTS ini cukup manjur untuk jadi obat anti stres dan darah tinggi. Energinya disalurkan buat main tebak kata hanya saja kadang ada yang sulit sehingga berubah jadi Teka Teki Sulit. Mungkin karena terbitan KOMPAS. Patutnya aku beli juga yang tipis yang biasa dijual di Kereta Api atau Terminal yang sampul depannya lebih bening :) sehingga berubah jadi Teka Teki Seksi. Aduh ! :D

Hari masih terang tanah, akhir nya kami masuk kapal juga, empat manusia dan empat bungkus nasi untuk berbuka yang harga dan kenikmatannya tidak berbanding lurus. Ah mungkin karena mendadak dan ramai jadi sang koki kehilangan cita rasa, yang penting laris dan kenyang. Itu cukuplah! Aku pun memang sudah bermasalah dengan lidah semenjak kecil, bagiku soal rasa itu hanya ada dua yaitu enak dan enak sekali, jarang ada yang tidak enak. Asyik sekali kan?!. Laut damai kali ini, tidak ada tanda tanda tak ramah, mungkin malam itu harusnya selat sunda bernama Selat Peacefull. Cukup malam itu tentu, karena besok besok hanya Tuhan yang tahu.

Ikan besi muntah sekitar jam 20.00 tepat pas bersandar di ujung Pulau Sumatera, Bakauheni namanya. Kamipun dimuntahkan juga, dan langsung terus saja seperti kuda poni yang lepas dari pacuan. Walau cuma mengandalkan lampu sorot yang hanya bisa melihat beberapa ratus meter kedepan. Tapi akhirnya sampai juga di bumi Sriwijaya, memang betul ternyata bahwa kita tidak perlu tahu banyak banyak soal apa yang didepan, cukup sebatas yang mampu kita usahakan saja, mengenai nanti ya lihat bagaimana nanti, yang penting jalan terus, kalaupun mau berhenti boleh saja supaya kebosanan tidak merampas umur kita.

Asik sekali memang.. !

Read more »

8.24.2011

BSE 3 Tahun


Selamat hari jadi yang ke Tiga buat blog ku, BSE. Ada yang bilang People Grow So Does Blog semoga waktu Tiga tahun ini sadar atau tidak sudah menjadi masa-masa untuk belajar dan begitu juga waktu waktu didepan nanti, supaya bisa lebih baik dari sebelumnya. Tanpa Henti. Aku suka senyum senyum sendiri kalau membaca ulang postingan dulu. Ah malu rasanya melihat kenarsisan diri sendiri, ketidakpentingan isi postingan dan cara bertutur di setiap tulisan.

Tapi apa mau dikata, begitulah aku dulu itu. Sekarang aja mungkin sudah agak lebih baik. Hahaha... Itupun masih mungkin. Tapi ibarat perjalanan, semua postingan dulu itu seperti jalan setapak panjang, kalau aku tolehi kebelakang, warna warni, dan rupanya beragam. Dan setapak itu kini berhenti dipostingan ini. Sekarang, menunggu untuk dilanjutkan lagi dan semoga lebih baik. Aku pikir aku harus berterima kasih sama masa lalu itu, sebabnya karena mereka aku jadi tahu seperti apa yang baik itu. Tak mungkin ada baik kalau ada yang buruk, karena memang harus ada pembandingnya.

Jadi aku berterima kasih kepada semua kebodohan masa lalu yang terekam di postingan BSE ini berkat adanya memori itu aku bisa belajar dan karena itulah aku bisa jalani hari kini dan hari depan dengan lebih baik. Terdengar udik ya? Ya aku kira! Karena memang harus mengakui dulu kekurangan dan kekeliruan untuk bisa belajar lebih baik. Ibaratnya apa ya... Berdamai dengan diri sendiri lah. Selain itu aku juga mau terima kasih banyak sama pihak blogspot, yang masih menyediakan domain gratis, mungkin aku nanti mau beli domain sendiri. Entah kapan.

Aku punya cita-cita sama BSE ini. Mau kurawat sampai aku meninggal. Demi apa? Demi anak cucuku nanti, supaya mereka bisa tau dan kenal cerita tentang Bapak atau Nenek nya apalagi kalau sudah meninggal nanti, jadi mungkin cuma cerita dari BSE ini hidup yang bisa mereka saksikan.C'est La Vie! Dan Blog ini telah membuat otakku tetap hidup jemariku mampu mengetik lancar di keyboard laptop HP ini.

P.S:
-----
Buat rekan-rekan blogger yang pernah dan akan berkunjung ke BSE ini, sebelum dan sesudahnya aku juga ucapkan terima kasih banyak. :))

Read more »

8.22.2011

Surat untuk Peserta USM STAN 2011


Gelora Bung Karno. Minggu, 21 Agustus 2011.

Dek, tadi aku liat kalian di GBK, hampir penuh kayaknya. Aku jadi ingat 7 tahun lalu di Palembang tapi. Muka kalian macam-macam, ada yang cemas, ada yang santai macam di pantai ada juga yang fokus optimis. Mantaplah. Pas ujian dimulai, aku rasa aku paham gimana itu rasanya mulai mengerjakan soal hitungan yang banyak jebakan atau analisa logika yang membingungkan. Oh ya, hal yang paling aku ingat itu waktu dengar kalian membalik halaman pas pergantian sesi ujian. Serempak dan GBK jadinya seperti bergema kalian buat. Sensasional.

Tadi pas aku sebelum masuk GBK, aku liat kalian datang bersama ayah dan atau ibu kalian pagi-pagi sekali, kalian masih menyempatkan diri duduk santai,sangat tenang diantara hiruk pikuk persiapan menjelang ujian yang cuma tinggal hitungan jam lagi. Aku kira pasti kalian sedang mendengarkan dukungan ayah dan atau ibu kalian agar tenang dalam ujian yang sebetulnya adalah bahasa lain yang bunyinya:'Nak, Bapak pengen sekali kamu lulus supaya masa depan mu nanti cerah dan kamu bisa mandiri'.

Jadi mungkin semangat kalian sudah sangat tinggi, walau kalian tahu bahwa mungkin DI ini tidak menjanjikan kedalaman akademis apalagi prestis universitas, tapi tak masalah karena mungkin dua hal itu sudah jadi masa lalu yang sebagian dari diri kalian pernah menginginkannya. Tapi sekarang tidak lagi sebab hanya sekedar pernah. Karena disini yang diperlukan adalah sikap realistis dan siap menghadapi konsekuensi dari pilihan, because life is not video game.

Waktu kalian berjibaku dengan soal ujian, aku yakin para orang tua kalian diluar sana berjibaku dalam doa, apalagi mengingat persiapan kalian yang sudah begitu panjang sejak beberapa bulan terakhir. Atau ketika bahkan kalian hanya sekedar mengadu nasib mencari peruntungan tanpa persiapan apapun dan hanya mengandalkan doa, keyakinan dan innate agility saja. Dan isi harapannya tentu sama: Semoga ada rejeki kelulusan untuk kalian.

Hahaha.. lama- lama aku sok tua ya
. :)

Mungkin kalian pernah bertanya-tanya dalam hati, bahwa kalau hanya jenjang DI gimana kelanjutan akademisnya? Sekedar sharing, kalau untuk urusan ini murni balik lagi ke pribadi masing-masing. Sepanjang masih ada niat dan kemauan, ada saja kesempatan untuk bisa lanjut kuliah. Bisa lanjut ke DIII Khusus, yaitu Prodip III khusus lulusan DI, kemudian bisa ambil DIV (setara S1) dan kemudian bisa ikut seleksi beasiswa S2 Luar Negeri atau linkage. Bahkan hingga lanjur ke beasiswa S3 Dalam/Luar Negeri.

Semua yang barusan aku sebut itu programnya dari kantor jadi kedinasan sifatnya, kalau mau yang diluar juga bisa, tapi setiap pilihan ada saja opportunity cost nya. Tergantung prioritas masing-masing saja, tapi apapun itu yang pasti ada jalan untuk meng-upgrade diri, jadi jangan khawatir, cuman memang harus kuat mental agar tidak termakan dengan sikap dan pendapat skeptis mereka yang mungkin agak tidak yakin dengan pilihan yang telah kita ambil sejak awal ini, yaitu Prodip I.

Lagipula adalah hak setiap orang untuk tidak percaya atau tidak mendukung tapi jangan coba-coba menghalangi, karena kita harus yakin bahwa semangat kita tak bisa terbendung. Lagipula kita sudah sadar dan realistis dalam memandang segala konsekuensi jalan yang harus ditempuh kedepan. Lalu yang perlu dilakukan sekarang adalah selalu bersyukur dan menikmati usaha/proses. Perkara hasil, that will be God's bussiness.

Tu kan mulai sok tua lagi hahaha... :))

Ah mari kita lanjut saja Dek, karena harapan orang tua mu dan orang tua kita menanti untuk sebisanya kita buat menjadi nyata. Lulus USM, Kuliah, Kerja, Bantuin Orang Tua. Terus? Ya.. terserahmu lah Dek.. Sudah sama-sama besar kita, sudah bisa menentukan jalan hidup masing-masing. Just do whatever your heart says. :))

Semoga berhasil dan semoga kita berjumpa di Kemenkeu. Amin.

Read more »

8.19.2011

Antara UTS dan Perut Labil


Apa rasanya mendadak sakit perut saat sedang mengerjakan soal ujian? makin lama ditahan makin tak tertahan, keringat tidak lagi panas tapi dingin dan semua yang nempel dibadan makin terasa tak nyaman. Pagi tadi semua sederhana saja. Baca ulang bahan sekilas saja yang semalam dengan tidak senonoh saya tindih sampai tidak berbentuk karena ketiduran eh salah karena baca sambil tidur eh salah lagi tidur sambil baca maksudnya. Terus berangkat kekampus, duduk diam hening lalu... ahh mungkin karena dini hari tadi salah pilih makan sahur. Dan demi apapun tadi aku jadi yang pertama keluar ujian karena mau cepat-cepat ke bilik termenung.

Untunglah tadi dapat pengawas yang matanya sayu alias kurang tidur alias ngantuk alias tidur sambil ngawas, khawatir dicurigain soalnya, apalagi udah 2x wiri wara toilet-kelas. Maklum kampus STAN ini sangat ketat kalau sudah urusan ujian. Merciless kalau ketahuan nyontek dengan modus apapun, jadi kadang beberapa pengawas bawaanya paranoid kalau melihat peserta ujian agak aktif dikit. Cemas juga aku tadi mengingat UTS ini materinya masih teori (Komputer Audit) jadi butuh waktu lebih buat nulis dan menggambar, nah boro-boro mau menggambar kalau waktu yang ada buat nulis aja diganggu sakit perut ini yang gak sms dulu kalau mau datang. Whatever comes next, yang penting kerjakan sebisanya dan segera keluar!

Pilihlah makan sahur mu anak muda! jangan yang pedas-pedas, dan minumnya jangan terlalu banyak es. Tidak baik untuk kenyamanan ujianmu! :))


Read more »

8.17.2011

Paradox of Plenty


What is the meaning of growth if it is not translated into the lives of people? (UNDP, Human Development Report, 1995)

"Harian Seputar Indonesia edisi Jumat 22 Juli 2011 mengatakan bahwa Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memandang positif kondisi perekonomian Indonesia yang dinilai memiliki fundamental makro yang sangat kuat"

Apa yang terlintas dalam pikiran kita waktu mendengar pernyataan IMF diatas?

Saya pikir kita sudah sama-sama paham bahwa membahas kondisi ekonomi akan menjadi suatu bahasan yang tidak ada habis-habisnya, bagi kita penduduk Indonesia bahasan ini menjadi begitu menarik karena bukan sekedar wacana tanpa menjadi nyata tapi lebih karena kita sendiri menjadi sasaran langsung yang merasakan dampak setiap kondisi ekonomi negara kita, Indonesia. Pernyataan IMF yang saya paparkan dalam pembuka tulisan ini adalah salah satu pemicu yang membuat saya merasa ingin turut andil menanggapinya.

Sebelumnya ijinkan saya berpendapat bahwa Indonesia adalah negara yang cukup kuat dalam bidang ekonomi, lantaran sudah dua kali diuji dalam dua resesi besar, yang pertama di era krisis moneter tahun 1998 dan kemudian menyusul 10 tahun berikutnya, di tahun 2008 sebagai dampak krisis di Amerika Serikat yang membuat Lehman Brothers gulung tikar. Untuk resesi yang pertama harus diakui bahwa Indonesia tidak cukup mampu berdiri bangkit dibandingkan beberapa negara tetangganya, namun untuk krisis yang melanda di tahun 2008, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara bersama India dan China yang bisa bertahan dari krisis. Ini menunjukkan adanya penguatan pondasi ekonomi secara berkesinambungan didalam 1 dekade terakhir. Akan tetapi saya bertanya-tanya, apakah makna perekonomian yang kuat itu, jika dalam praktik dilapangan masih banyak dijumpai pengemis dilampu merah, biaya sekolah yang makin tinggi, perkembangan daerah yang tidak merata dan lain sebagainya?

Pernyataan ini membuat saya berpikir kembali mengenai sumber kekuatan ekonomi negeri ini yang sekarang dianggap memberi prospek positif bagi kondisi kedepan. Semacam sektor unggulan yang telah bisa dijadikan andalan selama ini, kalau kita melihat ke sekitar, dengan mudah kita bisa melihat pengaruh gaya hidup menjadikan ekonomi indonesia bergantung pada sektor konsumtif baik konsumsi jasa maupun barang yang wajar saja membuat pembangunan mall dan pusat perbelanjaan tumbuh pesat, apalagi di Ibu Kota. Sebuah sektor yang hanya mampu digawangi pemodal kelas tinggi yang biasanya menjalin kerja sama dengan pihak asing. Dan kemudian apa yang terjadi? Sektor ini menjadi penopang ekonomi dalam negeri. Kalau dilihat sekilas, sektor ini memang menjanjikan lantaran menyediakan kesempatan untuk bergelut dalam era globalisasi yang sarat kompetisi dengan banyak negara luar, sebut saja China.

Barang dan jasa yang dianggap sejalan dengan gaya hidup bisa dengan mudah didatangkan dari pemasok dalam dan luar negeri, seperti misalnya Pakaian atau Gadget dengan merk ternama, lalu dijual kembali dengan menambahkan margin laba yang cukup tinggi. Tapi kalau ditelisik lebih dalam, sektor ini sebetulnya rentan, karena efek global yang melatarbelakanginya bisa berubah mengikuti kondisi ekonomi dunia, sehingga aspek kemandirian bangsa tidak menjadi bahasan utama dalam menjalankannya. Belum lagi instabilitas kondisi keamanan dan politik dalam negeri yang bisa saja membuat para pemodal baik dalam dan luar negeri menarik investasinya dalam sekejap sehingga meski menjanjikan tetap saja rentan. Dan kita sama-sama tahu bagaimana labilnya suasana politik pemerintahan dalam negeri saat ini, kasus timbul tenggelam silih berganti, menuruti paham ilmu komunikasi; mengganti suatu subjek untuk menggesernya dengan satu subjek yang lebih besar.

Kemudian sektor yang juga tak kalah menunjang ekonomi negeri saat ini adalah sektor perbankan yang justru menurut saya kini telah mengalami pergeseran dalam memandang apa yang disebut dengan Bunga. Bunga yang bagi para pemodal adalah rate of return (menurut Adiwarman Karim) atas dana yang ia tanamkan di bank, kini seperti menjadi komoditi sektor perbankan dalam menarik pemodal sehingga mau tidak mau sektor perbankan telah bersandar dalam permainan Bunga atau Interest ini. Lalu lihat kemudian yang terjadi, sektor perbankan menjadikan nasabah sebagai alat untuk menghasilkan uang kembali, makin banyak nasabah yang meminjam maka makin besar kemungkinan untuk menerima pengembalian lebih dari nilai pinjaman yang akan dibagi antara Bank dan Pemodal. Suatu kondisi yang sebetulnya justru menghambat perkembangan ekonomi karena membuat banyak pebisnis kecil berpikir ratusan kali lantaran harus mempertimbangkan beban bunga yang harus ia bayar demi modal yang akan ia pinjam. Dan kemudian kondisi ini dimanfaatkan oleh para pemodal kapitalistik dalam dan luar negeri, mereka berlomba-lomba menyimpan dana dibank demi mengharap Rate Of Return yang tinggi, sehingga ketika disuatu titik, kompleksitas kondisi dalam negeri terganggu maka hal yang sama bisa saja terjadi yaitu: penarikan dana besar-besaran.

Sektor Perbankan bisa saja memasang label beranggotakan LPS-IDIC (Lembaga Penjamin Simpanan) untuk memberi rasa aman pada para pemilik modal, namun hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah siapa yang dapat menjamin nasabah pengguna dana mampu mengembalikan pinjaman? Ok saja jika pinjaman diberikan pada para nasabah Pegawai Negeri yang pengembaliannya dijamin melalui sistem debit langsung atas take home pay bulanan, lalu bagaimana dengan nasabah yang berasal dari pemodal kecil yang hendak memulai usaha, untuk usaha kecil butuh waktu setidaknya 2-3 tahun untuk mencapai Break Event Point, lalu di terbayang betapa susahnya sang nasabah di awal 2-3 tahun pertama untuk membayar pinjamannya. Sebuah kondisi yang tidak memihak pada industri kecil yang sebetulnya dapat dijadikan kendaraan untuk mewujudkan sila keadilan sosial, sehingga jika terus dibiarkan maka benar saja bahwa kemajuan ekonomi masih akan terus dinikmati para kaum menengah keatas, pertumbuhan ekonomi hanya tetap berupa angka tanpa manifestasi yang merata.

Ok, mungkin kondisi buruk itu belum secara nyata terjadi tapi suatu saat mana tahu kita. Sehingga mungkin sudah saatnya ekonomi negeri ini disandarkan pada sektor yang selama ini mungkin tidak terlalu dibanggakan tapi nyatanya dalam skala lokal bisa berdampak lebih mengena, adil dan berkesinambungan, meski memang belum merata diseluruh negeri lantaran ketersediaan modal yang belum memfasilitasi realisasinya. Kita tahu bahwa sejak kecil kita selalu di doktrin mengenai kekayaan alam yang melimpah. Tapi semakin tua kita makin dihadapkan oleh eksploitasi besar-besaran sumber daya alam oleh negara asing, yang dalam hitungan puluhan tahun bisa saja habis menyisakan kemelaratan bagi generasi mendatang, generasi yang sebetulnya dari mereka kita pinjam sumber daya alam ini untuk mereka nikmati kembali dalam kualitas yang lebih baik. Sementara itu perjanjian perpanjangan kontrak eksploitasi nya terus saja diperpanjang. Satu-satunya yang masih bisa kita harapkan adalah sumber daya alam yang meliputi sektor pertanian dan peternakan serta perikanan. Tiga sektor ini melimpah, menunggu untuk dikelola dengan lebih intensif.

Fokus secara total pada ketiga aspek ini dapat menggulirkan pertumbuhan yang sehat bagi masyarakat secara sosial, ekonomi bahkan psikisnya. Karena dapat membuka lapangan kerja, memberikan kesempatan untuk berkarya dan mengurangi angka kemiskinan didaerah yang justru disana ketiga sektor ini bertaburan, Paradox of Plenty kalau menurut Richard Auty (1993). Jika para penyelenggara negara dibidang ekonomi memperhatikan dan memberi perhatian lebih pada sektor ini, maka meski lambat, kelihatannya akan menjamin sebuah stabilitas dan kekuatan berasas kemandirian. Bermula dari penyediaan modal, pembinaan dan pengawasan hingga beberapa periode saja maka setiap sentra industri di tiap aspek ini bisa bergerak dengan sendirinya, namun dengan catatan bahwa sentra industri ditiap aspek harus dimodali dari kas negara tanpa dibarengi kewajiban untuk mengembalikan, atau kalaupun ada diberikan tempo waktu yang wajar yang tidak membuat para pelaku usahanya terseok-seok dalam menjalankannya.

Coba lihat ketika terjadi resesi ekonomi di Amerika yang membawa dampak di banyak negara, terbukti banyak sentra industri kecil tetap bisa bertahan disaat banyak sektor perbankan dan sektor konsumtif lainnya gulung tikar. Benarlah saat JK mengatakan bahwa Sentra bisnis yang perlu diperhatikan bukanlah angka yang tertera di papan fluktuasi saham di BEJ, tapi adalah perputaran transaksi di pusat dagang Tanah Abang salah satunya, Lebih dari itu, jika pemerintah mau serius memberi perhatian lebih disektor ini dengan mendirikan banyak sentra industri untuk ketiga aspek yang saya sebutkan tadi, disertai dengan pembinaan dan pengawasan yang mantap, maka kekuatan yang bermula dari bawah akan menciptakan kondisi ekonomi mikro yang kuat, dan secara agregat menjelma menjadi kekuatan makro baru yang bersandar pada aspek yang lebih mengangkat nilai kemandirian bangsa.

Bayangkan, di tepi pantai para nelayan tidak perlu lagi membuat pasar dadakan untuk menjual ikan tangkapanya, cukup setor ke industri pengolahan yang didanai pemerintah, lalu dikelola menjadi produk siap jual yang seiring waktu berjalan, dibarengi dengan konsistensi pengawasan bisa juga memiliki nilai yang tak kalah baik, langsung dikemas dalam kaleng bahkan untuk tujuan jangka panjang bisa menembus pasar luar negeri. Bayangkan, di lahan jagung, petani tak perlu lagi mempreteli butiran jagung, cukup dimasukkan kedalam mesin lalu langsung dikemas menjadi produk siap olah. Begitu juga dengan susu sapi yang dari peternak bisa diolah menjadi susu kemasan siap jual, tidak lagi hanya terbatas penjualannya dari rumah ke rumah berkeliling dengan sepeda.

Untuk mewujudkan hal itu tentu saja seperti yang sudah saya singgung: Perhatian dari Pemerintah, tetap menjadi syarat dengan menimang proporsinya juga. Bayangkan jika negeri ini sebebas barat atau seketat negeri sosialis, tentu tidak sesuai dengan kultur asli Indonesia, yang benar menurut saya adalah membuat batasan kebijakan dimana pemerintah tetap memainkan perannya sebagai regulator tanpa membuat pelaku usaha industri tadi merasa didikte tidak bebas berkreasi, tugas pemerintah adalah menunjukkan keseriusan dalam mendukung ekonomi penopang kemandirian bangsa dengan menjalankan serangkaian kebijakan yang membuat rakyat kecil non-pemodal merasa bahwa niat baik mereka kini telah dengan yakin difasilitasi, salah satunya yang sudah berjalan sejauh ini adalah pengucuran KUKM yang gencar ditayangkan televisi, mungkin masih dalam bilangan tahun sehingga masih sangat baru dan lama untuk diharapkan hasilnya, tapi setidaknya konsistensi dan dukungan terus menerus dari pemerintah akan mempercepat terwujudnya masa-masa dimana perekonomian dalam negeri bangkit dan kuat. Sehingga pertumbuhan ekonomi yang terjadi bukan hanya sekedar angka tapi juga peningkatan kualitas hidup penduduk kearah yang lebih baik.

Tulisan ini bukan sebuah kritik kepada pemerintah, karena penulis menyadari bahwa ia juga adalah bagian dari pemerintah dan keterbatasan ilmu yang ia miliki, tulisan ini murni hanya sebagai bentuk ekspresi intelektualitas sang penulis yang masih jauh dari baik apalagi sempurna.

Read more »

Pajak untuk Kemandirian Negeri


Kita sering berbicara mengenai kesejahteraan dan kemandirian bangsa dalam berbagai aspek kehidupan, dan membicarakan hal tersebut maka tidak bisa lepas dari pembahasan mengenai sumber pendapatan negara. Hal ini karena, untuk dapat mewujudkan hidup yang benar-benar sejahtera tanpa bayang-bayang ketergantungan atau kekhawatiran tentang masa mendatang diperlukan sumber pendapatan yang kuat dan mandiri.

Dalam sejarah perjalanan Republik ini, telah kita ketahui bahwa sumber pendapatan negara dari Pajak telah menjadi unsur utama dalam menunjang kegiatan perekonomian, menggerakkan roda pemerintahan dan penyediaan fasilitas umum bagi masyarakat. Bahkan secara persentase, setidaknya pajak memenuhi kurang lebih 70% pos penerimaan dalam APBN beberapa tahun belakangan. Ini menunjukkan peranan Pajak dalam mewujudkan stabilitas roda kehidupan negeri ini harus makin ditingkatkan mengingat makin tingginya tuntutan kebutuhan dan makin kompleksnya tantangan jaman, terutama memasuki Era Globalisasi dan berlakunya CAFTA.

Karena kita tahu CAFTA telah membuat sektor UMKM terpuruk karena tingginya ongkos produksi dan harga yang tidak mampu bersaing dengan produk China, UMKM sendiri adalah sebuah sektor yang di tahun 2010 lalu diharapkan mampu mengisi 45% PDB sebesar Rp 3000T (Bataviase, April 2010) walaupun suku bunga sendiri belum juga bersahabat dalam mendukung kemajuan UMKM terutama yang masih berskala kecil. Sementara produk China bebas masuk ke pasar dalam negeri dan memposisikan diri sebagai pelayan yang memenuhi segala apa yang dibutuhkan masyarakat.

Kembali lagi ke Pajak, jumlah pemenuhan porsi Pajak dalam APBN yang sangat dominan tersebut sebetulnya hanya dalam bentuk Persentase saja, nyatanya secara nominal jumlah tersebut masih jauh dari potensi yang sebetulnya bisa digali, penggalian potensi ini berubah menjadi semacam keharusan yang sebetulnya menjadi inti atau jiwa dari program modernisasi Perpajakan yang gencar berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Mengapa? Karena menurut pendapat saya, modernisasi harus berujung pada satu titik yaitu terpenuhinya tujuan Budgetair dan Regulerend atas Pajak dalam kehidupan Republik ini.

Tujuan Budgetair yaitu bagaimana Pajak terus difokuskan pada intensifikasi untuk menggali sumber penerimaan yang belum terungkap, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan ini, reformasi yang berlaku belakangan ini merupakan salah satunya, bagaimana regulasi dalam ketentuan perundang-undangan pajak kini telah secara lebih baik menjamin keseimbangan antara hak dan kewajiban Wajib Pajak dan Petugas Pajak, ini sangat penting karena kontrol internal yang efektif dari sisi kelembagaan akan dapat meminimalkan kebocoran potensi yang seharusnya bisa masuk ke kas negara sebagai Pajak sedangkan dari sisi Wajib Pajak ini berperan banyak dalam membangun kepercayaan mereka.

Tetapi menurut saya, ada semacam euforia yang terjadi dalam kerangka reformasi ini. Bagaimana kemudian pemberian fasilitas Tax Cut atau Tax Holiday menjadi semacam pilihan kebijakan fiskal yang dianggap mampu mendorong atau dapat meningkatkan penerimaan Pajak, mungkin benar adanya namun dalam jangka panjang, sementara ibarat manusia, maka reformasi dalam bidang perpajakan ini seperti Bayi yang baru belajar berlari. Sehingga banyak Potensial Loss yang harus direlakan demi membangun iklim yang dirasa nyaman dan membangun kepercayaan bagi Wajib Pajak. Pemerintah bisa saja mengatasnamakan kebijakan ini untuk tujuan jangka panjang dan penyehatan iklim industri, namun harus dilihat sisi keberpihakan industri yang dipilih, apakah relevan dengan karakter bangsa atau yang juga harus dipikirkan adalah alternatif pembiayaan lain yang harus dicari sebagai ganti Potensial Loss yang terjadi. Entah itu SUN atau meminjam uang kepada IMF. Mana yang bunga nya yang lebih rendah dan kondisi yang memberi beban yang lebih ringan saat Maturity Date tiba, tentunya ini setelah melalui analisis cost-benefit oleh para pengambil kebijakan.

Selain mengejar dari sisi intensifikasi, upaya memaksimalkan penerimaan dari Pajak juga dilakukan salah satunya dengan Pencanangan jumlah Wajib Pajak 10 Juta, sebuah program ekstensifikasi karena meningkatkan jumlah Wajib Pajak walau mungkin dengan segala kekurangan administrasi disana sini dalam pelaksanaanya, namun satu hal yang dapat saya ambil hikmahnya adalah bahwa masih betapa sedikitnya jumlah masyarakat sadar pajak jika dibandingkan dengan jumlah total penduduk Republik ini. Disnilah perjuangan yang sesungguhnya untuk dapat mewujudkan konsep Pajak sebagai unsur yang menuntun pada kemandirian bangsa. Peran pemerintah disini bukan hanya mewajibkan membayar pajak, memberi NPWP dan mengenakan sanksi. Tapi lebih dari itu adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat banyak tentang arti penting Pajak bagi kehidupan negeri, kehidupan mereka dan kita semua juga.

Banyak cara mencintai negeri ini, bisa dengan mendukung Timnas Sepak Bola, mendaki gunung, membeli produk dalam negeri, namun mencintai negeri dengan memiliki NPWP? rasanya ini akan menjadi pilihan ke 10 jika ada 10 pilihan saja. Disini fungsi pajak dari sisi Regulerend memainkan peranannya, tentu kita masih ingat penerapan kebijakan penghapusan biaya Fiskal Luar Negeri bagi para pemegang kartu NPWP atau kebijakan Sunset Policy yang memunculkan para pemain lama untuk meminta pengampunan dosa. Terlihat jelas bahwa memiliki NPWP baru sebatas motivasi untuk memperoleh fasilitas, bukan atas nama kebanggan pribadi sebagai penduduk negeri. Menurut saya, dalam kondisi semacam ini, cukup relevan jika tindakan untuk meningkatkan jumlah Wajib Pajak dilakukan dengan cara yang agak indirect-coercive mengingat masih rendahnya kesadaran untuk ber NPWP. Bahkan mungkin sudah waktunya field isian NPWP menjadi hal yang lumrah dalam banyak aspek kepengurusan terkait dengan kegiatan yang menunjukkan kemampuan finansial.

Stigma timbal-balik langsung masih menjadi alasan utama keengganan ber NPWP, sungguh lah kalau begitu betapa iklan himbauan mengenai arti penting pajak yang kini marak di layar kaca sangat tepat untuk disiarkan berulang-ulang supaya masyarakat disadarkan mengenai kemana larinya uang Pajak yang masuk ke negara. Ditjen Pajak harus lebih awas dan intens lagi mengenai penyiaran ini, terutama dari segi muatan dan sasaran, karena tidak dipungkiri bahwa ada banyak hal mengenai pajak yang masih secara keliru dipahami masyarakat, hal ini miris namun memang masih terjadi, seperti misalnya masih banyak yang beranggapan bahwa pembayaran uang Pajak itu dilakukan di kantor Pajak bukan ke Bank Umum/Persepsi/Kantor Pos atau adanya pengenaan biaya dalam pengurusan administrasi Pajak (padahal sudah jelas bahwa Jasa pengurusan NPWP ini secara nyata merupakan contoh Non Jasa Kena Pajak). Terdengar aneh, itulah faktanya, bukan suatu aib rasanya jika iklan layanan masyarakat yang sangat basic ini ditayangkan agar membangun persepsi yang lebih baik bagi masyarakat yang mungkin belum mengetahui.

Perpaduan dari pelaksanaan yang baik dari sisi tujuan Budgetair dan Regulerend ini dapat diukur melalui angka Tax Ratio dan kita harus mengakui bahwa Indonesia masih terbilang rendah dalam hal Tax Ratio ini, di tahun 2010 hanya 13,3% mengalami penurunan 0.6% dibanding tahun 2007. Kenyataannya adalah kita harus banyak berbenah, reformasi yang kin telah sedang berjalan harus kita teruskan sebagai jalan untuk memperbaiki banyak hal menuju pencapaian kesadaran masyarakat akan arti penting Pajak dan termasuk memperbaiki diri secara individual atas nama petugas pajak dan secara institusional atas nama DJP secara terus menerus. Sehingga Pajak sebagai penerimaan negara dapat menjadi sumber andalan menuju kemandirian bangsa sehingga kedepan pemerintah tidak lagi dihadapkan pada pilihan sulit mengambil kebijakan yang bagaikan buah simalakama, atau setidak-tidaknya jika memang ada yang harus dikorbankan, tentulah bukan kesejahteraan rakyat yang dipertaruhkan.

Read more »

Kakek Tua Negara Indonesia


Negeriku ini tepat 17 Agustus akan masuk usia 66 tahun, kalau ia adalah manusia, sepertinya ia akan terlihat berambut putih agak keriput kulitnya dan bisa jadi sudah memegang tongkat layaknya seorang kakek paru baya, mungkin kini ia sedang duduk di bangku tua sambil matanya menerawang ke langit. Bercerita mulutnya pada anak-anak dan pemuda generasi dibawahnya tentang bagaimana ia dulu dan perihal masa lalu.

Deskripsinya lebih mirip seperti kakek-kakek betulan. Biar saya tebak, kisaran isi cerita sang kakek adalah seputar semangat muda, kisah cinta, membesarkan anak, menimang cucu, beratnya mencari nafkah atau sesekali soal waktu ia masih jadi bagian dari laskar bambu runcing bersama sohib seperjuangannya, tapi sepahit apapun ceritanya pasti selalu saja ada sisi happy ending nya, tidak CSM alias Cerita Sedih Melulu.

Hidup sang kakek akhirnya Happy Ending karena di hari tua nya, ia hidup memiliki istri yang mendampinginya dan anggap saja seperti di film-film maka sang kakek akan menutup usia diatas kasur empuk berselimut hangat tanpa ada lagi susah hati karena sudah mewariskan hidup layak dan nilai kehidupan pada anak-anak dan cucunya. Itu sudah. Dan cerita sulit masa lalu sang kakek berakhir manis. Semanis madu tanpa setetes pun empedu.

Tapi aku tak mau menyamakan negeri ini dengan sang kakek, karena selain analogi nya tidak tepat ya aku khawatir saja dianggap pesimis (apalagi fatalis) lantaran berpikir umur Negeriku ini sama dengan umur biologis kita manusia, karena paling tidak sikap optimis salah satu founding father, Soekarno bisa kita tiru, beliau senang sekali berkata bahwa dengan memandang peta saja, seorang anak pun dapat melihat betapa wajarnya integritas fisik Republik Indonesia (Donald K Emmerson 2001). Walau kini banyak gerakan separatisme diberbagai daerah mungkin sebaiknya kita berpikir saja bahwa Republik ini akan berumur panjang dan berdiri wajar dan optimis sebagai Republik tentu.

Namun ada satu hal yang aku pikir boleh aku andai-andaikan seperti sang kakek tadi. Satu hal saja? Iya. Tentang apa? Tentang para pembesar negeri ini. Karena yakin saja bahwa bagaimanapun mereka sekarang atau pun nanti akan menjadi kakek tua yang memasuki masa ingin bercerita dan ingin didengarkan. Para pembesar negeri ini tersebar dimana- mana, mereka menangani berbagai bidang yang jika disinergikan, akan berujung satu yaitu: Kemakmuran Negeri. Jadi kalau sudah sama-sama tahu kita ujungnya. Maka tidak ada salahnya kalau aku tiba pada kesimpulan bahwa semua hal tadi belum berujung. Mungkin masih melingkar-lingkar pada lintasan yang bukan tempatnya demi bisa kembali berpacu dalam lintasan yang benar selalu.

Alangkah malang nasib para pembesar negeri ini nanti jika di usia senja mereka nanti tidak ada happy ending, kehidupan yang layak dan nilai kehidupan yang bisa diberikan untuk generasi dibawahnya, satu hal yang bisa menjadi penghibur diri adalah Harapan bahwa anak cucu nya yang akan memperbaiki keadaan, sementara sejarah mencatat sejak dulu waktu Negeri ini lahir 66 tahun yang lalu pengharapan demi pengharapan terus saja di lempar antar generasi, semangat cinta tanah air yang turut menelurkan Pancasila dan mengumandangkan anti Imperialisme berlanjut sampai sebuah harapan bahwa Negeri ini bisa menjadi Negeri yang benar-benar merdeka secara batin bukan sekedar merdeka diatas kertas dan diakui pendiriannya. Dan akhirnya Soekarno dan pembesar negeri yang hidup disaat itu hanya bisa mewariskan cerita instabilitas kehidupan bernegara yang mewarnai pencarian model atau sistem yang kala itu diinginkan.

Selanjutnya diera Baru, harapan yang telah ada makin dibawa lebih tinggi menuju tingkat kesejahteraan dan kemandirian hidup bernegara dan dalam tata pergaulan Internasional, namun rezim militer malah mengkebiri dan memangkas aspirasi politik, tapi aku melihat satu hal positif dari tindakan totaliter Soeharto yaitu upaya represif yang nampaknya memang dibutuhkan untuk mendukung terciptanya kehidupan yang "aman" dalam rangka membangun iklim yang kondusif bagi kemajuan ekonomi, tidak apa karena memang harus selalu ada trade-off dari setiap prioritas. Dan kala itu kebebasan berpendapat, kritik dan demonstrasi menjadi ongkosnya. Dan harapan pun berlanjut berganti warna dari gelap hitam kemerdekaan hakiki yang menanti untuk terwujud menuju kelabu langit politik yang terbuka bagi kebebasan, suatu warna yang sangat cerah bagi mereka yang apolitis.

Turunnya Soeharto secara dramatis menandai perjalanan baru Republik ini menuju Era Reformasi sejak 13 tahun lalu hingga SBY menjabat saat ini. Yang menarik dicermati adalah perkembangan kondisi ekonomi dan politik, yang pasti model kerangka yang diingini sudah tidak lagi menjadi bahasan utama karena yang lebih penting adalah apakah semenjak lepas dari kungkungan totalitarian Soeharto hingga kebebasan berpendapat tidak lagi mahal harganya, harapan yang semenjak awal untuk memperoleh kemerdekaan yang hakiki sudah diperoleh? Karena jika peralihan antar rezim bermula dari satu hal yang dianggap menghalangi, harusnya pergantian yang sudah terjadi sejak lama sudah mulai menunjukkan hasil. Tapi lihat apa yang terjadi kini, kondisi politik secara bebas memang dijamin namun mereka yang duduk sebagai ruling party masih disibukkan dengan silih bergantinya polemik yang saling menutupi secara periodik. Sehingga politik transaksional menjadi trend dan dianggap biasa. Hopeless.

Dampaknya menjalar kemana-mana, karena polemik politik yang membawa efek domino telah mengalihkan niat baik dan porsi pikiran para pembesar negeri untuk mencurahkan intelektualitas nya demi memajukan ekonomi dan membangun infrastruktur negeri, dua hal yang saling melengkapi untuk mencapai kemajuan yang bermanfaat dalam jangka panjang. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa stabilitas politik memberi daya tarik akan citra suatu negeri. Harapan yang ada kini adalah semoga suatu saat nanti negeri ini tiba pada suatu politik yang tidak represif namun fair dan jauh dari aroma transaksional agar mereka yang diberi tanggung jawab membawa negeri ini dapat menjalankan tugas dengan baik.

Dan lebih penting lagi agar kelak waktu mereka tiba di masa purna bakti mereka punya sesuatu untuk diwariskan sebagai modal bagi generasi berikutnya untuk menggantikan peran mereka, dan seperti yang ada di film-film, mereka akan menutup usia diatas kasur empuk berselimut hangat tanpa ada lagi susah hati karena sudah mewariskan hidup layak dan nilai kehidupan pada anak-anak dan cucunya, yaitu kita yang kini hidup dengan semangat muda yang potensial.

Sebuah tulisan untuk negeriku tercinta yang sudah memasuki usia 66 tahun. Darah ku merah dan tulang ku putih, karena aku berkewarganegaraan Indonesia dan kupikir seharusnya akan selalu begitu.

Read more »

8.06.2011

Akhirnya Memang Kita Berbeda


Aku pernah berpikir mungkin lebih baik kalau aku ini jadi orang Amerika yang hanya memiliki satu bahasa yang memang benar-benar satu, bukan karena disatukan dalam ikrar yang sifatnya menghimbau. Dari semua daratan, dari Alaska sampai ke Florida, dari Maine sampai menmebus ke kepulauan Hawaii. Semua bahasanya sama, bahasa American English.

Aku ini orang Indonesia, sebagai konsekuensinya aku harus mampu hidup dalam ragam adat dan budaya, agama dan kepercayaan, bahasa serta kearifan lokal. Ini bukan perkara mudah karena pertemuan antara tabiat dan watak meramaikan proses ini. Aku benci sebetulnya, karena ini membuat aku sering menutupi dadaku yang bergemuruh naik pitam dalam rona senyum manis, hanya karena tidak mau dianggap menciderai nilai keragaman tadi. Ah, kesabaranku memang tipis, mungkin setipis kulit bawang saja...

Indonesia adalah belasan ribu pulau dan aku ada di salah satunya, Indonesia adalah keragaman bahasa serta agama dan aku menggunakan serta memeluk salah satunya. Itu berarti secara zahir perbedaan antara kita memang sudah tidak bisa dihindari, dan proses pembentukan karakter berlanjutlah disini. Aku yakin bisa berdamai dengan hati dan pikiranku sendiri agar bisa hidup damai berdampingan dengan mereka disekitarku. Aku tidak boleh terpancing lalu mempertajam sisi perbedaan yang membuat kita semakin jauh. Bagiku untuk hal ini, urus saja urusan masing-masing. MYOB.

Banyak yang cenderung berpikir untuk menonjolkan sisi perbedaan itu, latar belakang dan motifnya banyak, mulai dari personalitas sampai ke marginalitas, aku jujur saja merasa tidak nyaman, namun kembali lagi pada realita bahwa aku tidak punya hak untuk membuat seseorang bersikap sama seperti yang aku pikir, mungkin memang harus seperti ini nadanya, kalau dipaksakan justru nanti malah sumbang. Dan aku harus sadar bahwa kemajuan dunia global menuntut cara pandang yang global pula, bukan lokal yang di kurung dalam perbedaan. Kiprah yang dimainkan secara total dalam dunia global oleh setiap pemuda lokal, bagiku adalah jalan untuk bisa mengharumkan nama bangsa menuju apa yang kita sebut Nasionalisme.

Setiap orang berbeda dalam memaknai kecintaan akan tanah air, ada yang memberi arti dengan olah raga, batik, makanan daerah, seni dan lainnya, atau berupa pernyataan seperti ini:

"Garuda, maafkan aku yang melupakanmu, tapi cinta lebih kuat dari perbatasan".

Kalimat ini diucapkan oleh penyanyi berkewarganegaraan Perancis berdarah asli Indonesia, Anggun Cipta Sasmi, aku kurang tahu maksudnya apa, tapi mungkin semacam ungkapan hatinya waktu ia mau pindah kewarganegaraan. Dan mungkin ini adalah cara Anggun memaknai rasa kecintaanya akan Indonesia, yaitu mencintai tanpa harus tinggal di Indonesia, seperti kata-katanya sendiri, walau warna paspor nya jadi beda, namun darahnya tetap merah dan tulangnya tetap putih.

Dan lagi-lagi setiap orang itu berbeda-beda.. Sukses buat Anggun! Sukses buat kita semua kawan.. ku hargai perbedaan diantara kita dan telah kuambil sikap dan pikiran dalam menanggapinya. :)

Read more »

8.03.2011

7 Tahun Bersamamu


Kau masih saja sama, seperti sore tadi waktu aku melewatimu, aku sama sekali tidak terkejut apalagi takjub, karena kau memang selalu begitu. Dan mungkin selamanya akan tetap begitu. Tidak disatu ujung atau di satu sisi, semuanya kini sudah sama memberi rona kelam pada wajahmu yang kian menua lantaran di makan usia dan rodan zaman.

Aku terbiasa menatapmu dari balik jendela kaca sambil sesekali menengadah keatas untuk melihat apakah awan sore ini cukup bersahabat sehingga membuatmu tidak makin dijejali dengan sumpah serapah mereka yang menjadikanmu dimensi ruang yang berisi harapan sekaligus semangat juang atau sesekali menjadikan mu tempat sampah sambil mengutuk kesialan, ketidakberuntungan atau ketidaknyamanan yang aku, mereka dan semua didalam mu alami.

Karena aku dan mereka adalah bagian yang mengisimu, menambah gemerlap kesan kompleks atasmu bagai etalase hidup bertema diorama senja antara petang menjelang malam. Ada sebagian dari diriku yang mencintaimu, namun sayangnya sebagian lainnya sudah bosan. Rasanya hidupku kini bukan hidup yang bisa aku bayangkan atau sedikit saja mampu ku terka, karena kompleksnya kepingan puzzle mu yang terus menelikung harapan ku kini.

Agustus 2004, aku pertama kali mendatangimu, walau kala itu banyak yang bilang kau tidak sebaik Ibu tiriku, namun setidaknya waktu itu kepolosan pikiran ini membuatku tidak punya rasa takut, cemas dan ragu, sampai pelan-pelan aku mulai sadar bahwa kau sudah mengajariku soal hidup dalam perantauan, kemandirian, dan pada titik ini ku lihat aku setidaknya lebih baik daripada dulu. Itu artinya dalam tujuh tahun kita bersama, bukanlah hal yang sia-sia, ada faedahnya.

Aku paling suka melihat mu basah dibawah temaram remang lampu jalanan, di malam yang sudah larut. Karena disitu aku bisa bangga melaju membelahmu dan melepas kepenatan lewat deru angin dibelakangku, maklum anak muda. Aku senang karena dekat dengan mu membuatku mampu melihat dunia lewat jendela melalui halaman yang mungkin jumlahnya beratus-ratus tandas ku baca. Tapi kudapati, kedekatan antara jiwa-jiwa hanyalah sebatas kulit yang setiap hari berganti atau lebih ekstrim lagi seperti rokok yang dihisap lalu dihembuskan menyisakan abu yang terbang ditiup angin. Tidak berbekas.

Aku rindu kehidupan yang sebenarnya, dan apa yang kucari setelah 7 tahun dengan mu adalah rumah beserta keluarga, rumah adalah tempat dimana aku dibutuhkan oleh orang - orang yang hatinya membutuhkanku, dan hatiku juga membutuhkan mereka. Dan tentang keluarga, ia adalah mereka yang tidak akan pernah aku bisa pilih namun ALLAH.SWT yang menetapkan karena ada alasan untuk setiap cerita. Keluarga juga adalah orang yang layak menerima cinta dan hatiku yang kepada mereka aku bisa berbuat baik tanpa menuntut timbal balik karena aku sadar memang untuk merekalah aku hidup.

7 Tahun bersamamu, Jakarta.

Terhitung bulan Agustus 2011 ini, sudah genap 7 tahun aku tinggal di Jakarta, dan aku kira sudah dekat saatnya mengucapkan "Selamat Tinggal Jakarta". Semoga saja ALLAH.SWT mengabulkan doaku untuk pindah ke Sumatera Selatan, Palembang. Amin.

Read more »