10.04.2014

Realita Untuk Dirga (II)

Dirga bergegas pulang membawa serta rasa bangga. Tetapi disaat yang sama, batinnya dirundung cemas membayangkan ayahnya yang sejak dua jam lalu terbujur kaku dimeja operasi. Gemetar kaki Dirga saat melangkah memasuki pintu rumah sakit, ia terus berjalan menyusuri labirin lorong yang menuju ruang operasi. Derap langkahnya senada dengan batinnya yang tiada berputus asa dalam doa. "Semoga ayah sembuh!" Dirga masih belum siap bila semuanya harus berubah. Ia terbiasa hidup lurus menuju cita- cita. Ayahnya adalah suntikan utama semangatnya.

Dirga sudah berada 10 meter dari ruang tunggu kamar operasi. Ia tahu ibu dan beberapa saudara ayahnya telah sedari tadi menunggu disana. Langkah Dirga makin berat, ia seperti tak sanggup mengangkat kepala dan menatap lurus ruangan itu. Semua yang terlintas dalam benaknya adalah kilasan memori masa kecilnya. Saat ia dan ayahnya berplesir sore mengitari kota dengan motor vespa sederhana sambil ayahnya memberi cerita cita yang hebat baginya, tentang menjadi seseorang, tentang hidup dalam kehormatan. Nyatanya memang cuma harapanlah yang mampu membuat Dirga bertahan. Harapan yang baru ia sadari bahwa sedari dulu telah dibangun oleh ayahnya lewat cerita.

"Semoga ayah sembuh! Ya Allah". Dirga kemudian mempercepat langkahnya. Tas gendongnya berayun mengikuti derap langkahnya yang maju terpacu. Begitu tiba tepat di pintu ruang operasi itu, Dirga melihat ibunya tengah berbicara dengan pria berjas putih dan berkacamata yang tampak lelah. Dirga menghentikan langkahnya, menatap sambil berharap. Dirga tahu pria itulah dokter yang mengoperasi ayahnya. Tetapi dada Dirga berguncang hebat saat tak lama kemudian ibunya duduk sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Mata sang ibu terlihat berkaca- kaca. Ia segera mendekati ibunya yang langsung dirangkul saudara- saudara ayahnya. Sang dokter masih juga belum beranjak.

"Bu. Maaf Dirga baru datang. Ada apa Bu?". Dirga bertanya pada ibunya. Ibunya diam. Keheningan kemudian mendaulat suasana. Dirga lalu bertanya pada sang dokter. "Dok, bagaimana operasi ayah saya?" Ujar Dirga dengan suara yang bergetar. "Maaf, ayahmu meninggal. Ada riwayat asma yang tidak teridentifikasi sebelumnya. Sehingga saat operasi berlangsung pasokan oksigen yang ada tidak cukup dengan kebutuhan. Kami sudah berusaha tapi ditambah faktor usia ayahmu yang sudah cukup tua membuat segala upaya kami tak cukup membantu". Dirga diam. Mematung dan membisu. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya yang tadi menitikkan air mata lalu mendekat dan merangkulnya. Kini cuma ibunya yang ia punya, selain cita- cita yang sepertinya akan menjadi tanda tanya. Dirga sadar satu hal. Cerita hidupnya tidak akan pernah lagi sama.

September 2000

Hampir empat puluh hari lewat sejak ayah Dirga dimakamkan. Bengkel sumber penghidupan keluarga masih belum juga dibuka. Kini dirumah, Dirga tinggal berdua saja dengan ibunya yang tidak nemiliki apa- apa selain rumah yang mereka tempati ini. Rumah inilah hasil kerja ayahnya 20 tahun terakhir membuka bengkel ini. Bengkel yang telah menjadi sumber dana pendidikan Dirga. Bengkel ini pula yang mampu membuat ibu Dirga mampu menabung yang sayangnya sudah habis terkuras untuk biaya berobat ayah Dirga.

Dirga melamun. Sudah sebulan sejak ia lulus SMA tapi ia belum bergerak kemana- mana. Dua pekan lalu Julian datang menemuinya untuk sekadar berbagi cerita. Julian kinj tengah mengambil bimbingan belajar di liar kota dan tetap fokus pada cita- cita nya menjadi Sarjana Tehnik Elektro. Tawaran Julian untuk ikut gabung di bimbingan belajar yang sama ditanggapi pesimis oleh Dirga. "Aku belum tahu mau bagaimana Jul" Kalimat itu dihargai Julian sebagai tanda bahwa Dirga masih dalam suasana duka. Julian kemudian menarik diri dari Dirga, memberi waktu pada temannya itu untuk mengatur langkah.

November 2000

"Bu aku ini mau bagaimana?" Dirga bertanya pada ibunya yang tengah menghidangkan sarapan pada suatu pagi yang basah oleh hujan semalam. "Bagaimana apa maksudmu, Nak?" Ibunya pura- pura tak paham maksud Dirga semata hanya untuk memancing agar Dirga bercerita lebih banyak. Sudah dua bulan ini Dirga lebih banyak diam. Ibunya tak mau mengganggu kecuali bila ia yang memulai dan itu artinya ia sudah siap dengan kenyataan hidup yang ada. "Bu, apa aku masih bisa lanjut sekolah?" Dirga akhirnya menyuarakan hatinya. Itulah yang telah lama ia pendam dalam pergumulannya bersama diam. Bahwa hidup ternyata menjadi lebih berat seperti ini adalah hal yang menghentakkan jiwa Dirga.

Sering Dirga bertanya pada dirinya sendiri. Apa aku bisa tanpa ayah? Uang darimana? Aku mau jadi apa? Bila aku tak kuliah, apa aku sanggup mengubur cita- cita menjadi advocad/psikolog? Rentetan pertanyaan itu berkecamuk memukuli batinnya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya dan meminta pendapat ibunya. "Nak, ibu paham maksudmu. Ibu sangat ingin melihatmu kuliah menjadi Sarjana dan ibu tahu itulah kebahagiaanmu. Tapi itu semua butuh biaya setidaknya 4-5 tahun kedepan. Apa kita sanggup? Ibu tentu akan berusaha, tapi apa itu cukup?" Ibunya menjawab dengan bertanya tentang dua hal: kesanggupan dan kecukupan.

Dirga diam lalu masuk ke kamarnya. Ia duduk termenung, matanya tertuju ke jendela yang langsung menghadap ke petak bengkel ayahnya dihalaman sebelah. Bengkel yang telah ada jauh sebelum ia lahir. Menurut cerita ibunya, sebelum menikah, Ayahnya sudah mendirikan bengkel itu, ia menjadi pemilik sekaligus montir tetap disana. Penghasilan dari bengkel itu menjadi modal ayahnya menikahi ibunya. Tetapi ada cerita lain yang tertutup rapat tentang bengkel itu. Sebuah cerita yang tidak pernah ia tahu, yang kemudian pada akhirnya membuka mata hati Dirga tentang kehidupan. Sejauh ini yang Dirga lihat tentang bengkel itu cuma sepetak lahan yang tak terlalu luas dengan beberapa alat berat pendukungnya beserta satu pertanyaan: Mengapa bengkel ini tidak bisa berkembang lebih besar?

Awal Tahun 2001

Dirga makin seperti orang bingung. Ia tak pernah keluar rumah. Hatinya malu mendapati dirinya tak mampu kuliah selepas SMA. Dua pertanyaan ibunya tentang kesanggupan dan kecukupan dua bulan silam memang tak bisa ia jawab. Ia mulai membenci hidup dan dirinya sendiri. Batinnya berontak. Ia bertanya dalam hati. Mengapa Tuhan memampukan ia bercita- cita setinggi itu? Mengapa Tuhan membiarkan ia menjaga harapannya. Lebih dari itu, ia bertanya. Mengapa ia terlahir dari seorang ayah yang hanya seorang pemilik bengkel? Ibunya hanya bisa menatap dan membatin bila melihat Dirga.

Tetapi ibunya tidak pernah benar- benar pasrah. Ia tetap seorang ibu yang menginginkan kebaikan bagi anaknya. Mendapati Dirga seperti larut dalam kecewa, ibunya menghubungi paman Dirga yang tinggal di luar kota. Pamannya bernama Roni, ia adik bungsu almarhum ayahnya yang kini hidup mapan dengan membuka restoran. Ibunya menceritakan banyak hal tentang perubahan sikap Dirga pada paman Roni. Tak cuma itu, di setiap dua pertiga akhir malam, ibunya kerap menyebutkan nama Dirga dalam setiap untaian doanya. Sebuah harapan agar pikiran Dirga dibukakan dan diberi jalan lain.

Atas permintaan ibu Dirga, paman Roni berkunjung kerumah Dirga sekitar tiga hari lamanya dengan alasan berlibur mengunjungi sanak saudara, padahal maksud utamanya adalah memberi pandangan agar Dirga tidak larut dalam suasana yang menenggelamkan hidupnya. Paman Roni datang sendirian kerumah Dirga pada suatu hari yang telah ia sampaikan ke Ibu Dirga. Ia berbincang akrab dengan ibu Dirga dan Dirga sendiri ada disitu, tetapi ia tidak benar- benar hadir. Senyum Dirga hampa, matanya kosong, paman Roni merasakan itu. Tetapi ia tidak menunjukkan perasaanya. Ia ingin menyentuh hati Dirga di saat yang tepat dengan lebih personal dan lebih dalam untuk mencongkel kesadarannya yang terbenam.

Pada malam harinya, saat itu mungkin sudah hampir enam bulan sejak Dirga lulus SMA. Paman Roni datang masuk ke kamar Dirga dengan membawa sebuah album tua yang sudah kusam tetapi bersih. "Ga, kamu lagi ngapain?" Paman Roni menyapa Dirga sambil matanya berkeliling memandangi dinding kamar Dirga yang seperti beku oleh jiwa Dirga. "Lagi baru mau tidur paman, ada apa?" Ujar Dirga dengan nada seperti tidak ingin diganggu. Tatapan paman Roni jatuh pada gulungan kertas di sudut kamar Dirga, gulungan yang ada sisa perekat kertas di keempat ujungnya. Ia membuka gulungan itu dan melihat tulisan tangan Dirga tentang sederet nama kampus beken target tujuannya yang ia tulis enam bulan silam.

Bersambung....

Read more »