12.31.2010

Someday Somewhere


I don't know what happen to me, but i feel couldn't be better. Everytime one asks me or even i am asking my self about what my greatest passion in life is, the only thing coming up is: study abroad.

Mungkin ini bedanya antara cita-cita dengan sekedar keinginan, mana pernah ada kata bosan untuk mengejar cita-cita dan ia tidak akan mati walau sedetik sekalipun. Ia hidup dan menjadi pengingat ketika aku melangkah menjauh dari menggapainya. Kadang bukan sekedar pengingat saja, ia muncul menjadi bayang-bayang rasa bersalah yang membisikkan: 'kamu tidak sedang menuju menggapaiku, mengapa kamu justru menjauh?'.

Bisikan nurani itu membuat aku berputar berbalik arah tidak peduli sudah seberapa jauhpun aku melangkah. Dan akhirnya kembali lagi menekuni apa yang sudah menjadi 'true callings' hidupku. Ada dorongan yang kuat untuk semakin dalam berkutat didalamnya, lalu puas karena sudah berani memulai dan meneruskannya, bahkan saat sepertinya segala sesuatu itu masih jauh adanya.

Tentang True Calling:
Seorang teman pernah berkata bahwa aku belajar bahasa inggris dengan cepat, aku sendiri tidak menyadari hal ini, namun demikian lah yang ia katakan. Aku sendiri merasa walau masih jauh dari sempurna tapi aku tidak bisa bohong bahwa aku menikmati sekali setiap saat belajar bahasa inggris ini, mulai dari membaca, menonton, berbicara hingga bermain scrabble. Hahaha.. walau jarang menang!. Seorang teman yang lain lagi mengatakan bahwa aku sepertinya menikmati sekali belajar bahasa inggris dalam kondisi apapun, dan memang begitulah semuanya aku jalani tanpa merasa ada tekanan atau paksaan. Buatku, menjadi mampu menulis dan berbicara bahasa Inggris itu seperti memuntahkan isi perutku yang terasa mual kemudian menjadi lega dan lapang.

Kemudian aku merasakan sesuatu hal dengan lebih jauh, bahwa ini semua adalah satu anugrah dari ALLAH.SWT sebagai modal untuk mendorong menuju cita-cita yang pasti dimiliki seorang perantau, dulu aku pun begitu, saat kali pertama datang ke Jakarta, tujuannya ya cuma buat sekolah, tampak sederhana dan biasa. Sekolah dan kemudian kerja. Namun seiring waktu, tampaknya aku bukanlah hidup untuk diriku sendiri, aku hidup untuk menghidupkan dan mewujudkan harapan seorang lelaki paru baya yang aku panggil Ayah. Setiap kali aku pulang, selalu ada satu waktu untuk kami berdua untuk bercerita, pembicaraan antara lelaki dewasa dengan seorang lelaki yang mulai beranjak dewasa. Sebagai anak, aku mendengarkan lalu memahami dalam-dalam tentang kejadian yang ia hadapi dimasa lalu, soal sesalnya karena cita yang belum jua terwujud dan berujung harapannya yang ia titipkan padaku untuk bisa membuatnya bangga dan merasa hidup tidak sia-sia.

'Sekolah lah terus, belajarlah, kau kan sudah jadi PNS, jadi banyak kesempatan, dan itulah yang bisa membuat aku ni bangga...'

begitulah kata-katanya disuatu malam di tangga belakang rumah, sambil matanya menatap kedepan ke arah jalanan yang masih basah karena hujan. Dan sering kali setiap aku menelepon, disela-sela pembicaraan kami, aku merasa ucapan itu terngiang dengan jelas di telinga, lalu turun ke hati, mengendap menjadi tekad yang kuat.

Kini, kesadaran dan niatan untuk berbakti membanggakan Ayah sudah jelas arahnya mau mengantarkan aku kemana. Seperti yang aku tulis dipembukaan postingan ini yaitu Kuliah di Luar Negeri. Lalu muncul pertanyaan? Kemudian kalau sudah kuliah ke luar negeri mau bagaimana? Bagi ku sampai saat ini belum terpikirkan secara detil mau jadi apa, yang aku tahu adalah aku punya banyak kesempatan untuk dicoba, melakukan usaha terbaik yang aku bisa, semampuku. Urusan hasil dan kedepannya bukan jadi pengetahuanku, itu sudah diluar batas kemampuanku sebagai manusia yang bertuhan, tapi aku yakin apapun yang akan terjadi nanti tentulah ada manfaatnya dan itulah yang terbaik buatku dan rasanya lapang, karena kelapangan yang paling lapang itu adalah tawakkal setelah berusaha maksimal, begitulah pendapatku.

Kedepan, diwaktu dan kesempatan yang ada sudah tidak pada tempatnya lagi membuang waktu untuk hal yang tidak perlu, bukan berarti aku tidak mau menikmati hidup, hanya saja aku tidak mau terlalu berlebihan takutnya melupakan. Aku pernah jatuh, aku pernah salah langkah, dan tersesat sendiri dalam kebingungan. Tapi aku tidak mau terus menyalahkan diri sendiri, bagiku semuanya adalah uji coba dalam proses belajar agar jadi tahu seperti apa rasanya jatuh, tersesat dan hilang arah. Aku sudah 23 tahun dan perlahan dengan sendirinya dengan cara ku aku sebaiknya makin bijak dan dewasa... ahhh sudahlah aku jangan banyak bicara lagi, waktu terus berjalan dan terus berganti, yang penting aku telah menemukan apa yang aku citakan dan tinggal mengisi hari-hari dengan hal-hal yang dapat membuat aku makin siap untuk mencapainya.

Someday, when chance meets with preparation, somewhere which is nowhere never known.

Read more »

12.28.2010

Persaudaraan Tanpa Atribut


Hidup adalah rangkaian pilihan, begitu ujar salah seorang saudara saya.

Ketika dua bulan lalu saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ikut serta sebagai siswa dalam pendidikan dan pelatihan STAPALA 2011, maka disaat itu saya memilih dan saya bertanya dengan dalam ke relung jiwa saya apa benar ini jalan yang benar-benar saya inginkan? batin saya ...berucap lirih menjawab, jawaban yang tidak bisa saya pungkiri kebenarannya.

Kemudian saya menenggelamkan identitas saya sebagai mahasiswa biasa menjadi mahasiswa plus siswa diklat STAPALA, menjalani hari-hari dengan dua peran yang disimbolkan dengan warna putih-hitam dipagi hingga siang hari dan orange-hijau dipetang hingga malam hari. Dua bulan lamanya, November- Desember 2010. Dua bulan yang menjadi masa-masa yang sangat terkenang dan berkesan dalam hidup saya, dua bulan yang membuat saya menjamah lebih dalam setiap sudut kampus ini, dan dua bulan yang telah membuat saya mendapatkan lebih dari
apa yang saya niatkan saat pertama kali memilih untuk mendaftarkan diri sebagai siswa diklat STAPALA.

Masa-masa diklat yang saya jalani bertepatan dengan masa libur semester, sehingga praktis tidak menganggu kegiatan perkuliahan, seperti kekhawatiran orang kebanyakan yang enggan ikut kegiatan ekstrakurikuler. Ada semacam kepuasan saat saya belajar banyak hal baru didalam diklat STAPALA, seperti: pengetahuan tentang teknis survival, navigasi, manajemen perjalanan dan penanganan medis. Saya yang dulu begitu serampangan setiap kali berpetualang menjadi lebih tahu bagaimana sebaiknya merancang dan menyiapkan banyak hal sebelum menyambangi alam bebas. Apa cukup sampai disitu? tentu tidak. Ada perubahan yang begitu drastis jika kini sayaberkaca melihat tubuh saya sendiri, 8 Kilogram berat badan saya menyusut. Semua karena latihan fisik mulai dari lari, push-up, sit-up, back-up dan bending yang pasti jadi menu wajib setiap kali menghadiri diklat.

Diklat tahap awal menjadi masa-masa yang berat bagi saya secara fisik dan mental, karena saat itu saya harus berjuang menyesuaikan diri dengan tempaan fisik yang begitu diharuskan, namun dari situ banyak hal yang telah saya benahi, tidak terlalu sering lagi saya push-up dengan posisi huruf V terbalik, bahkan kini saya alhamdulillah sanggup lari jogging dikampus sebanyak 5-7 putaran. Secara mental saya harus melawan ego dan emosi, bukan karena saya ini raja atau malaikat, namun lebih karena saya harus menjadi biasa diperlakukan dengan cara yang tidak biasa saya dapatkan, semua demi kelangsungan keikutsertaan saya didalam diklat yang harus saya jagakan.

Perjalanan diklat yang saya temui menghantarkan saya menjumpai beragam sensasi antara perubahan diri dan peningkatan potensi, didalamnya ada banyak kejutan, hentakan, rasa takut, rasa cemas dan pengerahan segala daya upaya untuk menaklukannya, ibarat lompatan-lompatan percik hujan yang akhirnya kembali menyatu kedalam aliran yang tenang lalu hanyut ke muara sungai menuju lautan. Begitu juga mungkin saya, setiap kecil pengembangan potensi yang terjadi tanpa saya sadari, pasti telah masuk kedalam alam bawah sadar saya membentuk diri saya yang baru.

Dalam tahapan-tahapan yang terjadi selanjutnya adalah semua semakin terasa tidak mudah, perjuangan makin terasa berat. Saya semakin sadar bahwa menjadi anggota STAPALA tidaklah semudah saat sekedar menyerahkan formulir pendaftaran. Ada rasa salut kepada mereka-mereka yang telah lebih dahulu dan berhasil melewati apa yang tengah saya jalani kini.

Tahapan yang kian berat yang harus saya jalani dalam diklat ini menempatkan saya sebagai seorang yang harus berjuang lebih melawan segala keterbatasan bahkan yang belakangan mulai muncul menyertai tanpa saya duga sebelumnya. Jujur, saya menikmati setiap tantangan di setiap level yang dimunculkan, apa lagi saya tahu betul bahwa saya tidak sendirian menjalaninya, ada tiga puluh orang lebih orang yang saya anggap sudah menjadi saudara seperjuangan didalam diklat ini, apalagi posisi saya sebagai kapten membuat saya memiliki naluri untuk mengenal setiap mereka lebih kenal dan lebih akrab. Carrier berat yang berisi peralatan pendakian, menjadi elemen baru yang selalu dibawa sebagai tambahan dilevel yang baru disetiap latihan fisik yang kami jalani. Hanya mereka yang pernah mengalaminya yang tahu betul bahwa push up dengan membawa Carrier bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Saya sebisanya mengerahkan tenaga yang terbaik yang mampu saya berikan.

Perjuangan yang kami tempuh bersama, Tekanan yang kami hadapi serempak dan semangat yang kami tumbuhkan satu sama lain rupanya telah lambat laun mengukuhkan kami menjadi pribadi-pribadi yang senasib dan sepenanggungan. Mulailah tumbuh cerita tentang terbentuknya persahabatan dan rasa saling pengertian menghadapi perbedaan diantara tiga puluh lebih kepala kami ini. Pernah ada cerita saat disenja hari kami bersama disatukan di hutan jati belakang kampus, hutan yang dulu tampak begitu tak bermakna ternyata telah menjadi
saksi bisu banyak kenangan perjalanan ini. Kita tahu betul seperti apa nampaknya wajah kampus ini dimalam hari ketika dibanyak kesempatan kami belajar bersama memahami materi yang tak sempat kami cerna dalam-dalam sewaktu diklat. Semua bisa kami alami, dan akhirnya kini saya kenang karena garis takdir telah mempertemukan kami melalui diklat STAPALA 2011.

Namun jika garis takdir itu seperti jalanan yang tidak pernah terduga rutenya, maka ia ibarat jalanan penuh liku. Dan kita pernah menjalaninya, merasakan kebersamaan sambil menyatukan visi dan meyakinkan hati bahwa kita akan memperjuangkan pilihan yang telah kita ambil yang sejatinya adalah memperjuangkan apa yang menjadikan kita mau melangkah sampai sejauh ini. Dalam diam saya kembali merenungi lirih jawab yang terucap dalam hati dulu saat saya memilih mendaftarkan diri. Apa yang kini sedang saya lakukan? Untuk apa saya melakukan semua ini? Apa ini benar-benar dorongan naluri? atau hanya sekedar mencari wahana untuk eksistensi diri? Saya sering merasa bodoh karena kadang lambat menyadari apa yang sebetulnya terbaik buat saya. Tapi wajar, karena saya memang tidak bisa menerawang masa depan, yang saya bisa hanya mencoba dan ini saya anggap sebagai proses pembelajaran yang tidak pernah salah untuk dijalani.

Berulang kali saya berusaha meyakinkan diri bahwa inilah yang terbaik untuk saya, tak henti-hentinya saya menguatkan diri untuk tetap bertahan dibatas maksimal yang saya bisa, karena saya mulai menyadari satu hal yang sepertinya menggerogoti saya dari dalam, namun saya tidak mau menyerah, dan walaupun saya harus kalah, saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya kalah secara terhormat, kalah setelah berjuang semampu yang saya bisa, walau mungkin saja banyak orang akan menilai lain. Di setiap langkah gontai yang kelelahan dan didalam hati saya yang terdiam, saya mulai harus mengakui bahwa ketika saya pertama kali mendaftarkan diri untuk menjadi bagian diklat ini, itu semua murni karena saya hanya ingin menjadi bangga dengan mengenakan seragam dan slayer kebesaran dibawah naungan organisasi yang dipandang elit, kompak bahkan ekslusif ini. Ada persaudaraan yang erat didalamnya kata banyak orang, dan saya akui memang benar begitu adanya, paling tidak begitulah yang saya lihat.

Tapi rupanya, semua kebanggaan yang saya dambakan itu tak cukup kuat untuk memotivasi saya, justru dalam perjalanan cerita diklat saya, saya menemukan hal lain yang jauh lebih berharga daripada kebanggaan itu, saya telah menemukan persaudaraan yang dalam, atas nama SABUMI bersama saudara-saudara seperjuangan diklat saya. Satu hal yang telah meluluhlantakkan pandangan saya yang begitu sempit, tentang arti kebanggaan yang tersemat hanya dalam seragam, slayer dan nomor keanggotaan. Yang bahkan jika saya telah mendapatkan itu semua, saya tidak yakin bisa menjadi pribadi yang bermanfaat seutuhnya, karena niatan saya yang hanya ingin mencicipi kebanggaan semata. Dan akhirnya semuanya muncul sebagai satuan ukur yang mendasari keputusan saya untuk berbelok mengambil jalan lain, walau ada sedikit semacam rasa sesal bahwa akhirnya saya tidak bisa menjadi bagian komunitas yang mendapat tempat istimewa dikampus ini, namun saya mendapatkan persaudaraan yang menguatkan sekaligus membuat sisi kemanusiaan saya terkuatkan.

Bahwa kita pernah saling gendong, berat sekali badanmu saudaraku!!!
Bahwa kita pernah Olahraga bersama, keringat kita jatuh kebumi yang menyatukan kita saudaraku!!!
Bahwa kita pernah saling mendukung dan menguatkan, selamanya akan tetap begitu saudaraku!!!
Bahwa kita pernah berpoto, tertawa dengan begitu ceria, jangan lupakan itu saudaraku!!!

Dan saya sudah begitu mengenal cara bicara, cara berjalan dan cara tertawa kalian, semuanya tidak akan hilang,walau mungkin jalan yang kita ambil berbeda, karena hidup adalah rangkaian pilihan. namun bagi saya semuanya harus lenyap dibawah SABUMI yangmembuat saya sadar bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kekeluargaan yang tidak mengkotakkotakan serta menerima segala kekurangan dan perbedaan masing-masing dari kita. Saya ikhlas bahwa kini akhirnya saya tidak bisa menjadi anggota STAPALA, namun berat rasanya bila saya harus kehilangan semangat persaudaraan yang menyatukan kita. Untuk itu, dimanapun kita, apapun afiliasi yang mengikat kita, jangan pernah melupakan SABUMI karena kita sama-sama tahu, bukan seberapa seringnya bertemu, bukan pula seberapa banyaknya persamaan yang ada yang membuat orang-orang itu layak disebut bersaudara, namun justru pada seberapa sering ia ingat dan menyebutkan saudara-saudaranya dalam untaian doa yang ia panjatkan.

EBAZ - 033/SBM/2011

Read more »

12.05.2010

Persinggungan Masa


Banyak sudah kisah yang tertinggal
Kau buat jadi satu kenangan
Seorang sahabat pergi tanpa tangis arungi mimpi
Selamat jalankawan cepatlah berlabuh
......

(Tipe X)

Pagi yang sarat cahaya, kemudian melahirkan perkenalan kita.
Aku tidak tahu siapa kau dan kau juga tidak kenal siapa aku.
Kita merasa asing, duduk diam masih malu-malu untuk menyapa.
Satu sama lain, lalu kita menikmati dunia yang rasanya baru.
Dunia yang mengakrabkan kita diantara buku, bangku dan tawa.

Seiring waktu, kemudian kita bercerita disela-sela sesepuh yang memberi petuah.
Diiring tawa, tapi aku merasa lega karena kita saling pasang telinga, lapang.
Diantara semua mata yang awas menatap kedepan, ada kita yang bahagia berbagi.
Diantara mereka yang sibuk menolong diri sendiri, ada kita yang tetap memberi.
Kita bukan malaikat, tapi juga bukan Iblis, kita masih punya masa depan.

Tertawa kita disaat kita masih bisa tertawa, tak apa, karena kita masih muda.
Walau kita tak pernah tahu usia, tapi yakin bahwa tetap ada jalan ke surga.
Dijalan itu ada tikungan, tanjakan, belokan, bebatuan tapi ada juga panorama.
Kemudian semua yang telah kita lewati itu membuat kita menyatu dalam persahabatan.
Lalu yang aku tahu, persahabatan itu umpama rokok yang dihisap dalam-dalam lalu dikeluarkan, mengikhlaskan.

Dalam diamku, aku hanya sanggup mengingat, jelas bayang-bayangmu kemarin.
Dalam diamku, aku hanya menyesali karena aku belum bisa menjadi pelangi.
Dalam diamku, aku hanya bisa terpaku, bingung lalu lidahku kelu, membatu.
Dalam diamku, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan tersenyumlah.
Dan terbanglah ke langit yang tinggi menggapai pelangi yang lebih indah pasti.

Seorang kawan berkata, waktu adalah ibarat musuh karena ia akan memisahkan.
Tapi waktu jugalah yang mengubah acuh menjadi peduli,dan sungkan menjadi akrab.
Disuatu titik di persinggungan masa kita, ucapan sang kawan aku benarkan.
Waktulah yang memisahkan, apapun didunia ini, ada pertemuan dan perpisahan.
Dan ia menjadi saksi bisu atas segala kejadian, meninggalkan tanda dan kenangan.

Cermin di segala tempat sahabat terdekat tak pernah terlambat
Menampung setiap ungkapan, mendekap semua keluhan
Meraih suka, menangkap tawa, merebut duka
.....

(Iwan Fals)

Bila langkah terhenti, itu bukan berarti hidupmu sampai disini.
Menangislah.. Terssenyumlah.. Mawar pasti berduri, dan juga hidup ini..
Penuh kejutan yang tak pasti.. anggap ini sebagai pelajaran hati..
Yang bisa kuatkan diri. Jangan kau berhenti
...

(Andra & The Backbone)

P.S:
----
Pict taken from http://www.google.co.id/imglanding?q=struggle&hl=en&biw=1280&bih=582&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=SmHn2GiqktxWzM:&imgrefurl=http://thebeautifullstruggle.tumblr.com/&imgurl=http://static.tumblr.com/dweeekz/b5Ql5dmhg/tumblr_l53q5o45n81qajzsso1_500_large.jpg&zoom=1&w=500&h=375&iact=hc&ei=pending&oei=dhH7TKGGF8vxrQes09zbCA&esq=5&page=1&tbnh=139&tbnw=202&start=0&ndsp=19&ved=1t:429,r:3,s:0

Read more »