4.24.2011

Catatan Cerita Ciremai


Dua tahun lalu, kereta yang saya tumpangi melintasi kawasan Cirebon dalam perjalanan menuju Malang, dari kaca jendela kereta saya melihatnya menjulang gagah memakukan diri disebelah Barat, lantang dan terang beralaskan sawah padi milik penduduk dan sebagian puncaknya hilang tertutup langit senja kemerahan. Ciremai 3078 mdpl.

Ciremai memang sebetulnya sudah sejak lama ingin saya daki, tapi mengingat cerita yang saya dapat dari berbagai sumber mengenai medannya yang berat (khususnya dari Linggarjati) saya berkali-kali menundanya. Namun tawaran dari seorang kawan membuat saya mencoba memberanikan diri, terutama dengan pertimbangan karena saya sudah berhasil melawan batas 'zona nyaman' saya dengan menuju Salak yang medannya berat. Akhirnya saya bersama dua orang kawan yaitu Mohek dan Arga, dari Kampus Bintaro saya menuju Kampung Rambutan yang jadi lokasi kumpul.

Ciremai memang sebetulnya sudah sejak lama ingin saya daki, tapi mengingat cerita yang saya dapat dari berbagai sumber mengenai medannya yang berat (khususnya dari Linggarjati) saya berkali-kali menundanya. Namun tawaran dari seorang kawan membuat saya mencoba memberanikan diri, terutama dengan pertimbangan karena saya sudah berhasil melawan batas 'zona nyaman' saya dengan menuju Salak yang medannya berat. Akhirnya saya bersama dua orang kawan yaitu Mohek dan Arga, dari Kampus Bintaro saya menuju Kampung Rambutan yang jadi lokasi kumpul.



Kamis, 21 April 2011 @17.30

Gerbang Kampus, disana saya, Mohek, Arga dan Oblok berkumpul untuk lanjut ke Kampung Rambutan, tapi tidak lama kemudian ada Gawon yang rupanya hendak ke Ciremai dan lewat Kampung Rambutan juga, jadinya kami berangkat bareng. Kami menumpang angkot 09 dan turun di pertigaan lampu merah Bintaro Sektor 3, dari situ kami menumpang angkot 08 jurusan Pasar Jumat, malam itu jalanan macet, mungkin walau belum akhir pekan besoknya sudah hari libur. Ah.. atau memang tiap hari Jakarta macet seperti ini. Dari Ps. Jumat perjalanan menuju Kp. Rambutan kami teruskan dengan menumpang Metromini 509.



Kamis, 21 April 2011 @19.30

Kami tiba di Terminal Kampung Rambutan, Oblok sendiri memisahkan dari rombongan karena memang tujuannya sampai terminal untuk meneruskan ke rumah saudaranya di sekitaran Jakarta Timur. Dibagian Terminal Antar Kota sudah menunggu Yudha, Toni, Suci, Lisna dan 6 orang lainnya yang merupakan rombongan dari Ciputat, tapi sebelum berangkat kami menunggu rombongan Ekong, Rommy dan 2 orang kawannya yang terlambat karena ada kendala teknis, jadinya kami berangkat sekitar jam 22.30. Di saat tersebut, Gawon juga sedang menunggu 5 orang kawannya (Moset dkk) yang untungya datang tidak lama menjelang keberangkatan.



Kamis, 21 April 2011 @22.30

Setelah nego dengan supir Bis, akhirnya kami menumpang Bis Setia Negara jurusan Cirebon-Jakarta dengan ongkos Rp 40rb dengan kesepakatan akan mengantarkan kami sampai ke BaseCamp Pendakian Linggarjati. Jadi kami tidak perlu berjalan kaki dari pertigaan sebelum memasuki Desa Linggarjati. Kemudian Bis melaju meninggalkan Jakarta, didalam Bis saya hanya terjaga sebentar lalu tertidur, sementara yang lain tampaknya masih menikmati hiburan film Komedi Bokir dan Benyamin tahun 1970an. Sesekali saya terbangun dan melihat kemacetan Jalur Pantura di malam hari.



Jumat, 22 April 2011 @05.30

Hari masih cerah, saya rasa sudah sampai namun belum juga ternyata. Kami masih didaerah Indramayu, mungkin kemacetan Pantura tadi malam menyebabkan kami lambat tiba. Bis terus melaju, penumpang naik turun bergantian dari satu titik ke titik perhentian sepanjang jalan. Saya menikmati suguhan pemandangan sawah hijau yang terbentang sepanjang jalan, diselingi perumahan penduduk dan komplek perumahan yang mulai dibangun, menunjukkan komersialisasi lahan sudah menjalar kedaerah Kabupaten di Jawa Barat, tidak hanya kota besar semisal Bandung saja.



Jumat, 22 April 2011 @08.00

Bis masuk ke daerah Kuningan, kami istirahat sejenak untuk sarapan pagi, walaupun tadinya hendak sarapan di BaseCamp saja, tapi karena pertimbangan waktu jadinya sarapan Kupat Tahu di warung lokasi pemberhentian istirahat Bis yang kami tumpangi ini. Kemudian bis melaju memasuki kawasan yang menanjak dan semakin lama makin dekat kami ke Cirebon, dan akhirnya sekitar hampir 1 jam kami tiba di Pertigaan Desa Linggarjati dan terus melaju menuju BaseCamp yang rupanya melintasi gedung bersejarah, gedung tempat perjanjian linggarjati ditandatangani. Namun sampai disana ternyata Jalur pendakian via Linggarjati masih ditutup, jadinya kami memutar keluar memilih jalur pendakian Linggasana, dan Bis hanya mengantar kami hingga pertigaan gerbang saja, jadinya dari gerbang desa Linggasana sampai ke Pos I Linggasana kami berjalan kaki.



Jumat, 22 April 2011 @10.00

Kami semua tiba di Pos I Linggasana dan menyerahkan potokopi KTP/Identitas diri untuk SIMAKSI lalu memulai pendakian, kecuali rombongan Ekong dan Rommy yang memiliki meneruskan perjalanan siang nanti karena hendak istirahat dan 1 diantara mereka memilih untuk sholat Jumat dulu. Akhirnya kami 18 orang memulai pendakian, 5 orang rombongan pertama adalah Moset dan Gawon dkk, dan kami dibelakangnya. Dari Pos I ini, pendakian dimulai dengan melintasi perumahan penduduk yang tertata rapi, dengan udara yang sejuk, banyak empang dan peternakan ayam dikiri kanan jalan. Tak lama kemudian barulah memasuki kawasan perkemahan Cigenteng yang berupa Kawasan Hutan Pinus dan Kebun Kopi,hingga kami tiba di Kulu Wuku (CMIW), disini persediaan air masih banyak sehingga bisa mengisi persediaan terlebih dahulu.



Jumat, 22 April 2011 @11.30

Keluar dari kawasan hutan Pinus, medan yang kami hadapi terus menanjak, biasanya memang di 2-3 jam pertama pendakian tubuh saya melakukan penyesuaian ritme baik napas maupun stamina. Barulah kemudian jika sudah pas, maka langkah kaki ini terasa ringan walau rasa pegal pasti selalu meyertai bahu dan kaki. Tidak lama kemudian kami memasuki belukar rerumputan perdu tapi dari situ pemandangan nya sungguh indah, tepi pantai laut Jawa terlihat jelas bahkan deburan riak ombaknya menimbulkan bayang putih yang bergerak ditepiannya. Perjalanan terus berlanjut sampai kami tiba di Pos Pengbadakan yang merupakan pos awal memasuki hutan belukar Ciremai yang didominasi pepohonan tinggi besar. Sekitar hampir 1 jam lebih perjalanan, kami beristirahat di Pos Kondang Amis, yang berdekatan dengan sumber mata air, disini kami istirahat untuk sholat dan mengisi persediaan air yang merupakan air terjun yang berjarak 5 menit dari shelter, tapi untuk sampai ke sumber mata air ini harus hati-hati karena medannya sangat curam dan licin.



Jumat, 22 April 2011 @16.00

Perjalanan makin menanjak, dengan medan tanah licin cukup menyulitkan pendakian, untunglah jalurnya jelas dan ada beberapa jalur yang cukup vertikal dan hanya bisa dilewati dengan bantuan tali dan akar pepohonan, sekitar hampir dua jam lebih tracking akhirnya saya, Arga dan Mohek baru menyadari bahwa kami cukup jauh meninggalkan rombongan Yudha dkk, akhirnya kami sepakat menunggu mereka di Pos Pangalap, disana rupanya hujan turun dan sembari menunggu kami akhir nya mendirikan tenda... Sebetulnya sudah sejak di Pos Kuburan Kuda (pos sebelum Pangalap) kami bertiga memang mendahului rombongan karena kesepakatan sejak awal kami semua akan nge-camp di Sanggabuana I kalau tidak salah, namun berubah menjadi di Buana Lingga mengingat waktu yang tampaknya tidak lagi memungkinkan untuk mencapai BatuLingga sebelum magrib. Atas saran Yudha, saya sebagai salah satu anggota tim yang membawa Tenda diminta duluan supaya tiba lebih awal untuk mendirikan Tenda. Maklum sekarang pendakian lagi ramai. khawatir tidak kebagian lahan.



Jumat, 22 April 2011 @ 17.30

Akhirnya dari Pos Pangalap kami meneruskan perjalanan ke pos berikutnya yaitu Tanjakan Bapa Tere, namanya saja sudah tanjakan jadi medan yang kami hadapi pun mulai makin vertikal sementara hari perlahan mulai gelap. Setiap beberapa saat saya beristirahat untuk sekedar mengatur nafas dan mengistirahatkan pundak yang kelelahan membawa carrier. Gunung Ciremai ini memang unik, karena ada banyak lahan kosong untuk dijadikana lahan nge-camp sehingga kadang membuat sebagian pendaki tertipu (termasuk saya) karena saya kira sudah tiba di pos ternyata belum. Beberapa kali terjadi susul menyusul antar rombongan, diantaranya rombongan saya, Mohek dan Arga dengan rombongan 3 orang dari Bogor serta rombongan Moset. Saat hari makin gelap kami kebingungan antara tetap meneruskan perjalanan menuju BatuLingga atau turun lagi menemui rombongan kawan dibelakang untuk nge-camp bareng. Tapi kelihatannya terlalu jauh untuk turun kembali sehingga melalui teriakan alakadarnya khas para pendaki kami teriakkan bahwa kami mendirikan tenda disebuah lahan cukup luas yang kami temui beberapa meter diatas Tanjakan Bapa Tere (Pos setelah Tanjakan Bin Bin dan Tanjakan Seruni), waktu itu pukul 18.30.



Jumat, 22 April 2011 @20.00

Tenda sudah kami dirikan, carrier dan semua peralatan sudah kami susun di dalam tenda, bersiap untuk istirahat, tapi sebelumnya untuk memberi energi dan hangat tubuh Mohek memasak Indomie dan segelas besar kopi susu, tapi itupun setelah mendapat pinjaman kompor dari Gawon karena kompor yang kami bawa rupanya rusak. Setelah makan dan sholat akhirnya kami beristirahat dan sepakat untuk saling membangunkan pukul 03.00 dini hari untuk meneruskan perjalanan menuju puncak Ciremai. Untunglah malam saat kami beristirahat tidak turun hujan karena sangat mengkhawatirkan tempat kami mendirikan tenda adalah lahan miring yang pasti dilalui air dari atas yang landai. Sebagai pengantar tidur masih sempat kami dengarkan lagu-lagu A7X dari hp Arga.. lalu tidak adalagi apa-apa cuma kami bertiga yang mulai tertidur dan malam yang gelap dan perlahan kian dingin. Sementara tenda dua rombongan yang lain masih terdengar sibuk belum tertidur.



Sabtu, 23 April 2011 @03.00

Alarm dari HP Arga berbunyi, saya terbangun lalu membangunkan mereka berdua, lalu saya tertidur lagi sampai lima menit kemudian baru benar-benar bangun setelah melihat Mohek hendak menyiapkan diri meneruskan perjalanan. hangatnya Sleeping Bag membuat saya betah berlama-lama didalam tenda. Kemudian setelah beberapa menit kami siap menuju puncak, beberapa peralatan yang kami perlukan sudah kami kantongi seperti senter, sepatu, sandal, kaos kami, jaket dll, lalu yang juga penting adalah Madu, Gula Merah dan air minum (ini yang berat, karena Ciremai ini sulit air sehingga konsumsi air harus benar-benar diatur). Keuluar dari tenda kami membangunkan dua tenda tetangga lalu kami mendahului mereka, Arga didepan membawa senter, saya ditengah dan Mohek di belakang. Perjalanan kami teruskan untuk menuju Pos Berikutnya yaitu Sangga Buana I dan II, Pengasinan lalu Puncak.



Sabtu, 23 April 2011 @04.00

Kami tersusul oleh rombongan dari Bogor (Otong, Joko dan Ainur), mereka 3 orang pendaki yang lucu membuat kelelahan pendakian dini hari kami terasa menyenangkan, saya yang sempat mengalami kram dan sedikit mual menjadi makin menikmati perjalanan ke Puncak. Diiringi juga oleh Sarjana Muda-nya Iwan Fals, dan lagu-lagu lainnya membuat suasana makin hidup. Dan tidak terasa kami sudah mencapai Pos Sanggabuana I tapi hanya sejenak saja kami istirahat untuk minum ekstra Joss karena kami langsung meneruskan menuju Sanggabuana II yang berjarak kira-kira 200m dari pos sebelumnya. Sekitar pukul 05.00 pagi kami beristirahat di beberapa shelter dan mulai menyadari bahwa Matahari sudah mulai terbit, artinya sudah tidak mungkin lagi bagi kami untuk meliat sunrise dari puncak sehingga kami memutuskan untuk melihat dari sana saja, dan beberapa saat kemudian pun kami tiba di pos Sangga buana II. Tidak ada yang istimewa lagi selain rasa senang karena Puncak sudah semakin dekat dan sudah melihat sunrise.



Sabtu, 23 April 2011 @05.30

Perlahan akhirnya kami sudah hampir sampai di alun-alun Pengasinan, pos terakhir. Saya akhirnya mendahului Mohek dan Arga karena rasanya rombongan sudah cukup ramai dan hari sudah terang sehingga tidak terlalu khawatir jika sendiri ke atas. Dan akhirnya menjelang pukul 6 pagi saya sampai di Pos Pengasinan, dan tanpa berlama-lama langsung meneruskan perjalanan ke Puncak yang memakan waktu tidak lebih dari 1 jam karena medanya berbatu sehingga banyak pegangan yang membuat lebih aman. Sayangnya saya tidak memiliki persediaan air sehingga minum dari tetes air yang bergantungan di pohon rumput yang akhir nya dilihat oleh pendaki lain yang berbaik hati memberi saya 300mL air kurang lebih. Dan akhirnya dengan langkah-langkah yang sebisanya saya teruskan untuk menapaki jalan menuju puncak, sampai juga saya di Puncak 0 km Ciremai. Diujung lelang ini Alhamdulillah saya dimampukan untuk melihat pemandangan indah, kota Cirebon, tepi pantai, kawah, dan lain sebagainya.



Sabtu, 23 April 2011 @09.00

Rombongan kawan-kawan yang lain sudah tiba juga kurang lebih satu jam setelah saya sampai, dan setelah puas menikmati pemandangan dan membuat kenangan disana, maka saya memutuskan untuk turun terlebih dahulu, pertimbangannya supaya bisa nanti turun bareng dengan rombongan Yudha, Toni, Lisna dan Suci yang nge-camp dibawah sehingga begitu kami selesai packing kami bisa langsung menemui mereka untuk pulang bareng. Tapi rencana berubah sebabnya adalah mereka ingin tinggal satu malam lagi ditempat saudaranya Lisna di Kuningan, sehingga kami pulang lebih dahulu ke Jakarta, dan begitu sampai ditenda langsung bersiap packing, makan dan pulang.



Sabtu, 23 April 2011 @10.30

Saya dan Arga sudah tiba di tenda, turun memang selalu lebih cepat sebab tanjakan yang tadi sulit menjadi lebih ringan apalagi kalau tidak sedang hujan. Namun tidak lama kemudian hujan turun, untunglah sekita jam 11 Mohek sudah tiba dan bergabung bersama kami di Tenda, kami sepakat untuk bersiap-siap packing karena hujan yang makin deras membuat air pelan-pelan merembes kedalam tenda. Apapun yang bisa di masukkan kedalam carrier segera kami masukkan sehingga begitu sudah selesai semua, hanya logistik dan kompor+gas yang kami sisakan karena kami berniat untuk makan siang dulu sebelum turun ke bawah. Keadaan memang bisa merubah seseorang, ada yang menjadi lebih baik atau lebih buruk tentunya, dan yang terjadi pada Mohek adalah yang baik, buktinya ia bisa menjadi koki handal yang menyajikan nasi tim sayur, sarden sayur dan kopi susu yang pas. This is it.. Menu Darurat ala Chef Mohek!



Sabtu, 23 April 2011 @11.30

Hujan sudah tidak terlalu deras, kamipun sudah makan sehingga ditengah rintik hujan kami semua keluar untuk melipat tenda dan memasukkan kedalam carrier saya, makin berat karena tendanya agak basah, dan kami sepakat bergantian membawa carrier saya ini. Setelah pamit dengan dua tenda tetangga akhirnya kami turun kebawah, namun tidak seperti sebelumnya, medannya makin berat karena licin baru saja turun hujan. Sayapun beberapa kali memilih prosotan di medan tanah licin dari pada ambil resiko terjatuh dengan carrier berat di pundak saya. Ketika melewati shelter dibawah Pos Bapa Tere kami sempatkan berpamitan dengan rombongan Yudha yang masih makan siang lalu meneruskan perjalanan. Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki yang baru hendak menuju puncak, seperti halnya rombongan Ekong yang saya jumpai ketika turun dari Puncak.



Sabtu, 23 April 2011 @13.00

Ketika melintasi Pos Pangalap saya bertukar carrier dengan Arga yang sejak awal hanya membawa daypack, dan meneruskan perjalanan sambil tetap berhati-hati memperhatikan jalan yang memberikan alternatif jalur yang kalau tidak diperhatikan dengan seksama bisa membuat tersesat, untungnya banyak pendaki sebelumnya memberi tanda X jika ada jalur yang salah dan memberi tali berwarna yang diikatkan pada dahan pohon bila jalur tersebut benar. Pukul jam 1 siang itu kami sudah sampai di Pangalap dan ini sama seperti waktu yang kami estimasikan sebelumnya bahwa setidak-tidak nya paling cepat pukul 16.30 kami sudah keluar kawasan. Melintasi Pos Kuburan Kuda, Kondang Amis dan kemudian Pangbadakan akhirnya kami keluar kawasan hutan dan memasuki kawasan Pohon Pinus dan Kebun Kopi milik penduduk yang merupakan tanda bahwa kami akan keluar kawasan.



Sabtu, 23 April 2011 @17.00

Kami tiba di Pos I Linggasana, sesekali saya menoleh kebelakang melihat betapa panjangnya perjalanan yang sudah saya dan kawan-kawan tempuh, terutama bila saya lihat ke puncaknya. Di salah satu rumah penduduk, kami beristirahat dengan Indomie, Teh Manis Hangat, Gorengan untuk kemudian segera mandi dan sholat, tak lupa pula segera men-recharge hp untuk memberi kabar kepada orang-orang tercinta kalau saya sudah tiba kembali di peradaban, siap memulai kembali aktivitas sebagai Mahasiswa yang belajar untuk mencari ilmu, bukan angka, bukan pangkat, bukan pula hal lainnya yang menyesakkan jiwa, karena saya tidak mau kehilangan keyakinan setelah memperoleh nikmatnya kesadaran. Sekitar 1 jam kemudian rombonngan Moset (Moset, Gawon, Pasid, Ikhlas dan Ken) tiba juga, dan akhirnya sepakat kami untuk bareng pulang ke Jakarta, setelah mereka mandi, makan dan sholat serta istirahat sejanak.



Sabtu, 23 April 2011 @19.00

Kami berpamitan dengan petugas di Pos I Linggasana, dan turun ke bawah dipertigaan Linggasana lalu terus hingga keluar pertigaan Cilimus. Jauh juga rupanya. Dari situ kami menumpang Bis 3/4 yang biasa disebut masyarakat setempat Bis elep. Ongkosnya 5rb untuk sampai ke Terminal Cirebon, atau 10rb kalau mau langsung ke Stasiun. Tapi kami turun saja di Terminal dan menunggu Bus yang ke Jakarta dan turun di Lebak Bulus, terdekat dengan Kampus STAN Bintaro. Malam itu pukul 20.00 kurang lebih, dan dengan perjalanan kurang lebih setengah jam kami sudah tiba di putaran Terminal Cirebon dan mulai menunggu Bus, sayangnya tidak lama sebelum kami sampai rupanya Bus Luragung baru saja melintas dan terpaksa kami menunggu hampir 1,5 jam kemudian ketika Bus Luragung lainnya melintas dan kami menumpang dengan tiket Rp 35rb sampai ke Terminal Lebak Bulus. Dan perjalanan pulang menuju Jakarta selama 6 jam dimulai.



Minggu, 24 April 2011 @03.00

Kami ber 8 tiba di Terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan dan menumpang angkot 08 yang menghantarkan kami sampai ke Kampus STAN, sementara salah seorang dari kami sudah menumpang Bajaj ke Pejompongan terlebih dahulu dari Lb Bulus. Dan menjelang jam 4 pagi kami sampai di Kampus, untuk kembali ke kos masing-masing, beberapa langsung beristirahat di Posko STAPALA (Moset dkk yang merupakan SPA) sementara saya dan Mohek langsung pulang menyisakan tenda yang harus kami cuci :).

Demikian catatan pendakian ini saya buat, terima kasih banyak saya ucapkan untuk kawan-kawan atas partisipasinya, Oblok untuk pinjaman Nesting dan Kompornya, Yudha Cs (sorry ya jadi ninggalin :D), Pendaki asal Tebet yang memberi saya air untuk menuju Puncak, Rombongan Bogor yang membuat tracking malam menjadi seru, Moset dkk untuk kebersamaan yang tidak disengaja, dan semoga kita bisa mengambil pelajaran atas tiap pendakian yang kita jalani.

Read more »

4.15.2011

C'est La Vie


Pernah baca Buku Bread for Friends? Tulisannya Lintong Simaremare. Bukunya ringan (ringan bobotnya dan ringan untuk dicerna) mungkin mirip More About Nothing-nya Wimar Witoelar. Kalau butuh bahan bacaan sambil duduk santai sore-sore kelihatannya BfF cocok..

Buku ini ringan sekaligus inspiratif karena dibangun dari analogi sederhana yang sering kali terlewat dalam kehidupan sehari-hari. Siapa sangka kalau kebiasaan mencuri buah mangga milik tetangga (mungkin dari kita pernah melakoninya) beranalogi dengan keberhasilan seseorang yang mengundang orang lain juga untuk mencicipinya.. Ahh hidup ini.. C'est La Vie..

Salah satu cerita yang saya sukai ada di halaman 96 yang judulnya Loyalitas Tim, Walau judulnya mengenai organisasi dan kelompok tapi pesannya kena juga untuk kehidupan pribadi individu. Karena cerita itu membahas mengenai sikap menyalahkan, membongkar keburukan orang lain untuk membela diri sendiri atau malah mungkin untuk menutupi kekurangan diri sendiri.

Kadang ketika berada dalam suatu kelompok, apapun tanggung jawab yang dipegang, seseorang begitu menginginkan agar perubahan positif terjadi dalam organisasi tersebut sehingga ada upaya dan mungkin tuntutan untuk mewujudkannya entah dari dalam diri pribadi atau lingkugan bawah atau atas. Namun seiring waktu ternyata perubahan yang dimaksud tak kunjung terasa juga, yang ada justru tumpukan kekecewaan karena mendapati tidak semua pihak yang sejalan dengan dirinya. Lalu muncullah ungkapan yang menyatakan betapa ia telah melakukan yang terbaik dan betapa pula orang-orang disekitar tidak memahami dan tidak mendukungnya.

Menurut saya ada kewajaran yang kurang wajar disitu, kurang wajar karena terjadi upaya pembongkaran keburukan seseorang didalamnya, yang tidak harusnya terjadi. Sementara wajar karena yang bersangkutan telah dengan berani mengungkapkan kekecewaanya. Memang tidak mudah, emosi dan ketidakpuasan bermain disitu. Butuh waktu lama untuk menyadari betapa membeberkan kekurangan orang lain untuk menutupi ketidakmampuan kita mentolerir keadaan adalah hal yang kurang tepat, mungkin dibutuhkan kesabaran dan berpikir agar mengambil jalan yang lebih baik. Introspeksi diri seperti nasihat AA Gym (mulai dari diri sendiri dan sekarang juga) bisa jadi adalah alternatif yang bisa diterapkan sambil tetap menjalin komunikasi yang sehat dan beretika agar hubungan kerjasama dan rasa saling pengertian bisa berjalan.

Ahh.. lagi lagi memang berat, dibutuhkan kedewasaan dan kesabaran. Mengalah bukan berarti kalah, dan kemenangan karena emosi justru adalah kekalahan. Pelan pelan saja..

Read more »