5.29.2010

Simpan Saja Dalam Buku


Ada kawan ku yang membuat buku untuk menghadiahi ayahnya ketika sang ayah berulang tahun beberapa bulan lalu... salut dan bangga melihatnya :D !! dan dikatakannya bahwa ayahnya terharu lalu speechless!

Ada juga kawan ku yang mengabadikan kecintaannya terhadapa bahasa daerah kampung halaman saya, yaitu bahasa Ogan dengan membuat Kamus Indonesia-Inggris-Ogan... It is amazingly so cool!!!

Buku ya.. Buku.. cuma sebuah kata yang terdiri dari empat huruf tapi isinya... semua tahu bahwa kadang seisi dunia inipun hampir bisa dirangkum dalam wadah empat huruf itu. Hebat. Memang begitu adanya. Katakanlah misalnya biografi Nabi Muhammad SAW mulai dari saat beliau lahir hingga beliau meninggal, rentang waktu sekitar 60 tahun itu terangkum dalam sebuah buku setebal hampir 800 halaman yang dikarang oleh Muhammad Husain Haikal.

Atau Perahu Kertas, sebuah novel ringan tapi penuh isi yang ditulis oleh Dee ini, separuh kehidupan tokoh Kugy dan Keenan ada didalam lembaran kertas buku novel itu, sama seperti Into The Wild-nya John Krakauer tentang hidup seorang Christopher Johnson McCandless, kenangan tetang live-off-the-land adventure nya tersimpan disitu, membuat kenangan kisah hidup tokoh bernama Kugy, Keenan dan Christopher bisa hidup sampai sekarang.

Sekali lagi kalau begitu, sebuah buku itu cukup hebat untuk menyimpan kenangan, dan tak cukup sampai disitu saja. Bagi seorang penulis maka buku adalah wujud kreatifitasnya, bagi seorang adventurer maka buku adalah bukti nyata petualangannya, dan lain lagi bagi seorang yang introvert maka buku adalah sahabat akrab yang paling tau apa isi kepala dan hatinya. Namun jika semuanya di gabungkan maka buku adalah wujud sebuah eksistensi tentang suatu cerita yang pernah ada dan hidup dalam kehidupan seseorang baik itu nyata atau sebuah imajinasi. Buku menyimpan semua itu, yang nanti akan bercerita kepada generasi mendatang bahwa sang penulisnya pernah ada dan hidup serta mengalami apa yang ia tulis.

Kalau begitu kini aku sedang berbicara tentang menulis sebuah buku...karena menulis buku itu kadang menjadi bukti adanya sisi humanis seseorang yang tidak terlihat jika sekilas, seperti apa yang dilakukan seorang Mantan Bareskrim Susno Duaji untuk membela dirinya dari segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya terkait dengan kasus Century, persis sama seperti yang dilakukan Wapres Boediono ketika gelombang tuduhan antek neoliberalist tertuju kepadanya. Bahkan salah satu Presiden USA pun menuliskan memoar tentang dirinya sendiri dengan judul Dreams From My Father. Bagaimanapun setiap orang punya cara yang berbeda untuk mengekspresikan diri, salah satunya adalah dengan menulis Buku.

Sulitkah kemudian untuk menulis buku? Yang pasti semua pasti semua orang pasti bisa menulis,termasuk aku. Tidak peduli apakah bagus atau tidak tulisan itu, karena kalau kita berbicara tentang kreativitas maka tidak ada satu orang pun yang boleh mencela atau memandang rendah tentangnya, karena kerativitas itu ibarat balita yang belajar berjalan, sesekali jatuh dan kemudian tersungkur untuk seterusnya bangkit lalu berjalan dengan lincah. Aku juga sebetulnya ingin menulis buku, sudah jalan malah.. baru satu bab, tentang apa? tentang salah satu bagian kecil kehidupan ku, tujuannya tidak muluk-muluk, ya itu tadi sebagai wujud eksistensi diri saja. Jadi kelak aku tetap bisa ingat bahwa aku juga adalah manusia yang bisa berkarya, berekspresi dan mengenang kembali sisi humanist ku yang aku tulis di buku itu.

'kalo lo mau nulis buku, menurut gua ya sekarang waktu yang tepat!!!' salah seorang kawanku berkata seperti itu pada satu malam saat kami dalam perjalanan untuk mendaki gunung di Jawa Barat. Diceritakan alasan dan pikirannya lalu aku lihat ada benarnya juga, dengan pemikiranku sendiri aku menambahkan bahwa setiap waktu adalah waktu yang tepat untuk berkarya, karena makin lama dibiarkan maka ide itu akan mati, Ideas without action is worthless.

Mungkin sebaiknnya aku mulai saja menulis sebuah buku.. bukan untukku, bukan untuk mereka tapi untuk eksistensiku didunia ini..

Read more »

5.24.2010

Eksotika Papandayan


'Menurutku setiap pendaki gunung itu punya satu alasan lain yang membuat ia mendaki, bukan sekedar untuk menaklukan saja!'
Kutipan itu di diucapkan dalam sebuah chat oleh seorang kawan beberapa jam menjelang keberangkatanku mendaki Gunung Papandayan, di Garut, Jawa Barat. Gunung yang menjadi debut dalam perjalanan pendakian ku, tepat di tahun 2008 lalu. Dan kini memori itu terulang kembali, namun lebih dalam dan lebih kuat melekat,bukan karena aku telah menjadi biasa mendaki, tapi lebih karena satu dorongan lain harus aku akui memang ada. *apasihh sonnn seriusss banget ahhhh :P*

Gunung Papandayan berdiri dengan anggun memanjang mengangkangi sebagian bumi Garut, bahunya melebar hijau dengan iringan kepulan asap yang menyapa-nyapa meminta untuk dikunjungi.. Dan Pagi itu tepat jam 6 pagi kami ber 18 tiba di gerbang masuk menuju bukit untuk menuju areal posko pendakian. Pagi yang dingin namun dapat tertandingi oleh kehangatan tawa diantara kami yang menumpangi sebuah mobil pick-up mini beradu padat dengan tumpukan carriel yang berisi peralatan selama menginap di atas sana..

Jalanan terjal yang kami tempuh ternyata menyuguhkan panorama matahari terbit yang membuat aku kagum akan kebesaran ALLAH.SWT, karena walaupun itu adalah matahari yang sama yang aku lihat diantara kebisingan hiruk pikuk metropolis Jakarta, tapi disini, di kaki Gunung Papandayan, dapat aku lihat bahwa ia terbit dengan pelan memberi terang sehingga bunga-bunga bermekaran menghiasi perjalanan kami yang masih menanjak, hingga kami tepat sampai disatu titik di kaki Gunung Papandayan. Terlihat jelas dari sini, sisa ledakan Papandayan ditahun 2002, telah membelah dirinya sendiri menjadi dua, dengan pemandangan yang sangat kontras, bebatuan dan hutan hijau yang dipisahkan oleh kepulan asap belerang ditengah antara keduanya.

Jam 9 pagi itu, kami mulai mendaki dengan perut yang sudah terisi sarapan di kantin setempat, semua peralatan kami bawa, termasuk aku yang membawa sebuah carriel besar 80lt berisi dua tenda, sleeping bag, baju-celana cadangan dan peralatan-peralatan standar lainnya. Saat menapaki jalanan bebatuan sebagai track pembuka itu saya teringat kembali saat-saat tahun 2008 lalu, bersama tiga orang rekan mendaki Papandayan ini. Aku mencatat bahwa selain memang karena ada sedikit hobi mendaki dalam diriku, tetapi kala itu jujur aku akui bahwa pendakian adalah cara terbaik untuk melarikan diri dari segala kekecewaan, ketakutan dan kebosanan dengan apapun disekitarku. Aku mencatatkan perjalanan ku kala itu dalam blog ku yang berbahasa inggris, ini dia..

Tak banyak yang berubah dengan medan pendakiannya, hampir setengah perjalanannya adalah bukit bebatuan dengan angin dingin yang menyeimbangkan udara panas dari asap belerang ditepian danaunya. Dan beberapa kali semua kelelahan kami terbayar lunas ketika alam Papandayan menampilkan keindahan hutannya dibagian ujung yang lain yang dapat kami lihat diantara bebatuan untuk bersandar melepas lelah, menghela napas, menghidupkan semangat... Dan didaerah ini aku tidak bisa berbohong untuk membuat sebuah kejutan untuk seseorang "disana", kejutan sederhana namun it will be timeless memory. Bebatuan itu aku susun membentuk rangkaian kalimat I LOVE YOU, tapi bukan berarti cintaku hanya setinggi bebatuan digunung ini, hanya agar ia tahu, bahwa saat aku sedang berada di titik salah satu tertinggi di Jawa Barat pun aku masih mengingatnya... *anjritttt gombal gila ni aku :P*

Dua tanjakan dan satu turunan yang kami lewati sekitar kurang lebih 2 jam akhirnya membuat kami sampai pada area hutan mati, mati karena semua pohonnya telah menjadi kayu kering diantara lahan pasir, tapi justru karena kondisi nya seperti itu malah membuat pemandangannya menjadi tidak membosankan. Dan kemudian kami mulai memasuki areal hutan menuju Camp Area tempat kami bermalam.. Area ini kaya akan air alam yang sejuk, sungai yang menyegarkan dan pemandangan yang kembali membuatku kagum akan kebesaran ALLAH.SWT. Saat aku menengadahkan kepala ku maka hamparan langit Papandayan sore itu yang biru akan semakin terlihat indah saat bersandingan dengan perbukitannya yang hijau berpadu padan dengan harmoni alam yang berasal dari bunyi gemericik aliran air sungai.

Kami semua mulai berbenah mulai dari mendirikan tenda, mencari kayu bakar, memasak dsb. Saat semua sudah siap, maka kami punya waktu untuk istirahat, tertawa bersama yang menghibur satu sama lain. Aku mencoba nekad menyempatkan mandi, airnya memang dingin, namun keringat dan bau badan ini harus segara diselesaikan demi keselamatan tim putri selama pendakian.. *apassiihhhhhh :P*, Kemudian sesaat setelah itu hari menjelang magrib, aku pun masuk sejenak kedalam tenda untuk sholat.. dannn.....

zzzz...zzzz.....zzzz...zzzzz....zzzzz.....zzzzzz....zzzzzz.....zzzzz... (maaf ceritanya terputus soalnya mulai dari situ aku ketiduran dan baru bangun paginya :P)

Pagi hari besoknya, aku terbangun, dan segera mengambil kayu bakar untuk kebutuhan memasak pagi itu juga, tidak terlalu sulit mencari kayu bakar disekitar camp area, karena memang banyak tersedia, tinggal tebas, potong dan angkut.. seret juga boleh kalau malas angkat-angkat :D, setelah itu api menyala dan konsumsi dijalankan lalu selesai dengan sarapan pagi bersama mie rebus campur sosis..

Aku berniat mandi pagi akhirnya, sekalian mengambil air buat persediaan masak nanti siang. Cuman begitu botol air terisi penuh, kecantikan alam pegunungan Papandayan dan alaminya aliran sungai tempat aku mengambil air tadi membuatku berpetualang lebih jauh mengikuti arah aliran sungai, sementara botol air tadi sudah aku titipkan ke kawan yang mau kembali. Aliran sungai kecil itu aku ikuti, jalananya licin, dengan tanah lempung yang cukup keras untuk dijadikan pegangan saat akan berpindah dari satu sisi ke sisi lain tanpa batu lompatan. Sampai akhirnya diujung aliran sungai terdapat air terjun yang bunyi derasnya semakin membuat harmoni paduan suara alam Papandayan...Lalu disitu, disebuah batu besar ditepi aliran, aku duduk berdiam cukup lama, menatap ke langit Papandayan, melemparkan pandangan keperbukitan dalam kelokan badan gunung yang tertutup kabut tipis dan menjatuhkan pandangan ke derasnya air yang jatuh ke bawah..

Ada sekitar hampir 1 jam aku duduk disana, apa yang aku lihat itu adalah yang tidak bisa aku dan mereka lihat di kota Jakarta, karena di Jakarta semuanya telah tergantikan dengan arus kesibukan 24 jam tanpa batas selain juga menyisakan harmoni yang kacau dan rusak. Sungguh nikmat berdiam diri ditengah alam yang masih murni itu, sambil berdoa, berpikir jernih untuk menguatkan hati, tekad serta pikiran agar selalu dapat menjadi teman yang setia menjalani hari depan. Kekuatan yang berasal dari kemandirian dari dalam diri sendiri akan menjadi kekuatan yang menguatkan, sementara kekuatan yang berasal dari orang lain justru akan menjadi kekuatan yang melemahkan, sifatnya bergantung, tanpa ada jaminan bahwa orang itu akan ada selalu untuk kita. Bukan berarti aku egois, tapi aku lihat bahwa menjadi manusia yang bergantung itu membuat seseorang itu belum benar-benar menjadi manusia yang dikatakan mandiri secara mental, dan tentang ketergantungan,maka hanya kepada ALLAH.SWT selayaknya tempat untuk bergantung.


Coba lihat dialam Papandayan ini, bagaimana mungkin seseorang bisa hidup bertahan didalamnya jika ia bersifat tergantung atau mengharapkan orang lain untuk memudahkan pekerjaanya, padahal penduduk asli setempat pun rela berjalan berkilo-kilo untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya, ada petani tua yang bertugas menjaga kebersihan aliran air yang dimanfaatkan sebagai sumber air mineral yang disalurkan dengan menggunakan pipa-pipa panjang ke bawah, ada juga porter yang menjual jasa kepada pengunjung, porter ini tahan secara fisik berjalan melintasi medan Papandayan mulai dari kaki nya sampai ke puncak Papandayan itu dalam rentang waktu yang singkat. Sementara begitu kerasnya mereka terhadap diri mereka sendiri sehingga alampun menjadi lembut mereka hadapi.. Dan begitu pula seharusnya hukum ini berlaku untuk siapapun yang ingin menjadi manusia yang mandiri secara mental dan fisik.

Lama juga aku duduk dibatu itu, kemudian segera turun untuk mandi, aku mandi persis dibawah air terjun kecil, dingin luar biasa tentunya. dan kemudian mencari tempat yang lebih luas untuk berendam sejenak. Sejurus kemudian, aku kembali ke tenda, namun karena kelamaan menikmati pemandangan dan mandi itu tadi, jadinya aku tertinggal rombongan yang memutuskan untuk mendaki hingga kepuncak, ahhh... tak apa lah lagipula aku juga sudah pernah kesana itu 2008 lalu, dan juga kesempatan untuk menikmati pemandangan itu tadi cukup lah sebagai kesempatan yang tidak kalah hebat dibanding mendaki ke pucak.

Menjelang siang.. kami semua sudah berkumpul kembali lalu mulai berbenah untuk turun kembali ke bawah, karena takut terlalu terlambat tiba di Jakarta, lalu tenda-tenda dilipat, semua barang ditata didalam carriel masing-masing dan setelah siap semuanya, kami semua berpoto bersama dan bergegas meninggalkan area perkemahan lalu berjalan menuruni gunung Papandayan. Masih aku sempatkan menoleh ke area perkemahan dan menengok keatas gunung Papandayan sambil dalam hati berkata:'Sampai bertemu kembali!!! Semoga Berjodoh :D'. Perjalanan kebawa juga tidak kalah menantangnya, pemandangan yang terpampang juga tidak kalah indahnya, sayang tertutup kabut karena memang sudah cukup sore. Kabut-kabut tipis mulai turun menggantikan hijau pegunungan menjadi putih pekat, sementara kami harus tetap waspada karena disisi bawah terdapat jurang curam yang cukup dalam.

Perjalanan kami kebawah ditemani hujan yang cukup deras, dan kami juga melewati bukit yang berbatu untuk sampai ke lahan datar dibawah, medan berbatu dan berpasir ditambah juga hujan menjadikan sandal yang kukenakan menjadi sangat licin dan rentan sekali untuk putus dan terjatuh sehingga aku lebih memilih berjalan sambil duduk. Namun tetap saja dialam yang basah itu Papandayan tidak mampu menyembunyikan kecantikannya yang sesekali tersibak saat kabut tipis mengurai tergerak oleh angin. Disatu tempat saat perjalanan pulang ini aku melewati lagi suatu tempat ditepian yang menghadap ke alam luas Papandayan, suatu tempat yang dulu itu aku pernah berdiri disana lalu berteriak sekencang-kencangnya semampu yang aku bisa, teriakan besar yang mewakili hal-hal yang tersimpan dihati ini tentang cita-cita dan keinginan di masa depan yang satu persatu ingin aku raih dan perjuangkan.

Saat jam 2 siang kami tiba kembali di pos pintu masuk pendakian, Carriel aku letakkan dan segera mencari makanan dan minuman hangat. Kemudian mandi, sholat dan berkemas kembali untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta mengingat waktu yang tersedia cukup terbatas. Lalu kami ber 18 turun ke bawah dengan menggunakan mobil Pick-Up mini, sepertinya mobil yang sama yang kami sewa saat menuju kemari dari bawah kemaren itu. Begitu tiba dibawah kami segera meneruskan perjalanan ke Terminal Garut untuk mencari Bus ke Jakarta, lalu tepat sekitar jam 18.30 kami bergerak meninggalkan Garut menuju Jakarta..

Terima kasih banyak kepada Bung Arif Notonegoro selaku Team Leader perjalanan kali ini, dan juga untuk semua anggota tim Papandayan (Om G, Rudy, Sylva, Ika, Yuli, Resta, Lutfi, Alfa, Om Tj, Danang, Yani, Hawel, Ryan, Tina, dll) .. ditunggu informasi perjalanan berikutnya dan poto-potonya juga :)

Salam BSE,
EBAZ _Erikson Bin Asli aziZ_

Read more »

5.20.2010

RELATIVITAS


Ini aku dengan dunia ku sendiri yang menurut mereka hanyalah satu warna dengan sedikit gradasi, hitam putih, itu saja. Mereka kira aku sedang menggunakan kacamata hitam yang dengan itu dunia ku hanyalah dunia dua warna, bahkan putih itu cuma sekedarnya saja sebetulnya, karena sebenarnya ia tidak ada, yang ada cuma hitam dan abu-abu…

Kalian kira aku bahagia dengan ini?salah bila kalian kira demikian. Aku juga mau melihat dunia yang kalian katakan sebetulnya penuh warna itu. Boleh aku pinjam kacamata kalian?biar aku bisa katakan bahwa pelangi itu indah karena terdiri banyak warna. Dan agar aku bisa tahu bahwa benar adanya tentang apa mereka yang katakan mengenai keindahan ciptaan Tuhan…

Sudut pandang ku mungkin yang menjadikan aku tak tahu apapun yang kalian lihat dari mata kalian, karena walaupun mata kita sama, namun aku melihat dari jarak dan cara pandang yang tak pernah terlintas dalam benak kalian, kalian mau apa? Kalian tidak terima kalau aku katakan bahwa apa yang kalian lihat tidak sama dengan yang kulihat. Kemudian mau apa aku? Apakah aku bisa terima bahwa kalian tidak bisa memahami bahwa aku telah melihat sesuatu yang sama itu dengan cara yang lain? Begitulah keadaanya sekarang, terasa naif jika aku paksakan semua harus sama, dan tidak mungkin kita harus melihat dengan cara dan hasil yang sama. Relativitas itu berlaku disini, diantara sebuah ruang yang memisahkan dunia ku dan dunia kalian.

Aku tidak lebih baik dari kalian, dan kalian juga tidak pernah sama sekali kutuduh lebih buruk dariku, tapi ijinkan aku melihat dunia ini dengan sudut pandangku, karena bukan aku tak mau mencicipi keindahan dari cara pandang yang lain, tapi keadaan lah yang sekarang memaksa kita harus berbeda, tak perlu aku ceritakan mengapa harus begitu, karena kalian pun tak akan pernah mau mencoba mengerti, lagipula terlalu bodoh untuk diriku menyeret akal pikiran ini memasuki dimensi dunia dan harmoni kalian. Cukuplah aku disini, dengan dunia ku sendiri… aku tak lagi mengharapkan kalian berdiri di belakang ku untuk mendorong memajukanku, tidak pula berdiri didepan untuk menyemangatiku, juga tidak pula disamping untuk menopangku… Namun tolong jangan salahkan sudut pandangku.. jangan lemahkan semangatku… dan mari kita nikmati relativitas ini…

Relativitas.. ya sekali lagi biar kuulangi… R-E-L-A-T-I-V-I-T-A-S, sebuah kata keramat?ahhh tidak juga.. paling tidak telah ada seorang Ilmuwan jenius bernama Albert Einstein yang membantu kita memahaminya dalam bentuk yang lebih sederhana bahwa kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung pada benda tersebut.Kemudian jika demikian seperti itu adanya?lalu adakah yang salah dengan kita? Mungkin rasa-rasanya sama sekali tidak ada yang salah, yang salah adalah ketika kita mulai mencoba membunuh relativitas itu sendiri lewat pemaksaan dan aksi saling menyalahkan.

Kini.. telah kupilih jalan ini, tak banyak aku yakin yang akan bisa mengerti, namun aku tak peduli, telah kukenakan kacamataku sekenanya, melekat kuat seiring tekad yang tertanam disini, didalam hati ini, sebuah tekad yang dalam diam selalu kukatakan pada diri sendiri :’tak peduli apapun jalan yang telah kupilih ini walau harus menjadi banyak berbeda namun selama aku bertanggung jawab dan konsisten didalam nya, insyaALLAH aku yakin kan kunikmati jua hasilnya nanti..’.

Kawan, jalan kita berbeda, aku hanya ingin menikmati hidupku dengan rentang relativitas yang tak perlu kita perdebatkan lagi, mungkin warna yang kini kulihat masih seperti dulu, seperti yang kau pikirkan dulu itu, namun biarlah.. sudah tidak ada waktu lagi untuk berdebat dalam diam, sambil rikuh menyalahkan. Kita berbicara dalam diam, tanpa kata kita menikmati relativitas ini… dan kemudian di kelokan jalan itu aku akan menghilang berjalan mengejar cita-citaku…

Read more »

5.02.2010

Menjelang Ujian Semester


Ujian Semester di kampus saya ini bukanlah komet yang datangnya tiap 75 tahun sekali.. tapi lebih mirip lebaran yang datangnya dua kali setahun, cuman bedanya kalo lebaran pasti banyak makanan semisal ketupat, opor dan semur.. ini kalo ujian hidangannya adalah buku catatan dan soal-soal latihan ... bahkan ada kawan saya yang bilang begini (untuk keselamatan ybs, saya tidak sebutkan identitasnya hahahaha):'Cuman Belajar dan Ujianlah yang tidak saya senangi dalam kuliah ini...' sooooo.....

Assalamualaikum wr wb and apa kabar semua? minggu depan saya ujian akhir semester, terus itu libur, terus itu mudik... udah gitu aja???enggakk lahhh bukan itu yang pentingnya... ini yang penting bahwa saya cuma mau sharing aja ni, suasana menjelang ujian akhir semester ini.. everything is gonna be hot and time is so limited..

Ada buku-buku yang harus selesai dibaca untuk persiapan yang baik pas ujian, artinya bahwa setiap hari adalah membaca, membaca adalah setiap hari, senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu adalah membaca... dah gila ya son?ya aku gila, aku sadar aku gila... gila untuk membaca untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.. halah!!!! kemudian semua ini adalah tentang komitmen pemanfaatan waktu dengan bijaksana, jangan sampai kebanyakan tidur, siklus tidur saya memang aneh, seperti bayi, jika siang sudah tidur, maka malamnya saya kuat begadang sampai dini hari, namun begitu saya justru ingin seperti kebanyakan kawan saya yang tetap bisa begadang sampai dini hari walau siang mereka belum tentu tidur... *mengelap jidat*

Sebisa mungkin saya memaksa tubuh ini untuk kuat, namun mata ini ahhhhh berat.. ibarat cahaya, maka cuma seperti lampu temaram jalanan jakarta yang remang-remang.. jadinya dikala siang itulah atau kapan pun itu ketika saya sedang ga ngantuk, ketika itu juga saya manfaatkan waktu itu.. walau jujur saya sebetulnya bosan, ada kalanya seperti mengalami tekanan, apresiasi dosen yang belum tentu sebanding dengan usaha kadang membuat saya berpikir apa bedanya dosen dengan penjajah? jika saja semua dosen adalah paham bahwa penilaian itu adalah tentang proses dan bukan hasil, mungkin banyak mahasiswa2 yang tetap konsisten belajar.. *melirik ke buku public finance yang belum dibaca*

Well... mmhhh.. tapi dosen bukan Tuhan, dosen tidak bisa menentukan nasib mahasiswa dan mahasiswa juga bukan kerbau yang hanya diam duduk menunggu giliran untuk disembelih, mahasiswa adalah manusia muda yang diberi kesempatan memasuki dunia intelektual yang menuntut konsistensi dan tanggung jawab dalam bentuk karya nyata, perkara hasil mungkin sekarang masih terbatas pada angka yang tertera dikertas, namun kelak karya nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat dan lingkungan yang diperbuat setiap mahasiswa akan membuat semua usahanya menjadi indah pada waktunya.

Seorang Muhammad Ali pernah mengatakan seperti ini: 'I hate every minute of this training, but i said to myself:"Don't quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion."'

Dan sekarang saya ijin dengan Om Muhammad Ali buat minjem kata2nya, saya berkata seperti ini :'saya benci setiap menit keadaan ini, tapi saya berkata kepada diri saya sendiri:"jangan berhenti, bersakit2lah sekarang dan kelak habiskan hidupmu sebagai seorang pemenang"'. Ya pemenanng, dan saya lebih memilih mejadi tenang tanpa beban dengan mendefinisikan 'menjadi pemenang' disini sebagai keadaan ketika saya telah mendapatkan hasil apapun dan berapapun itu dari usaha terbaik yang bisa saya lakukan..

Selamat Datang UAS..kan kupersembahkan usaha terbaik ku untuk menyambutmu dan terima kasih banyak pada sedulur2ku yang membantu menyemangati saat jiwa ini mulai turun semangat, ucapan semangat dan dorongan dari kalian lah yang membuatku tetap kuat bertahan


Wassalamualaikum

Read more »

5.01.2010

Memelihara Kesadaran


Pernah ada suatu waktu dimana saya belum menjadi seperti sekarang ini, belum mengalami berbagai gejolak pemikiran dan masih didalam hidup yang hitam putih. Sampai pada suatu masa saya bertemu dengan orang-orang yang telah banyak membuka mata saya tentang hidup yang berwarna warni; ada cerah dalam hijau, kuning dan jingga namun ada yang gelap dan muram dalam abu-abu, biru dan ungu. Mereka datang dengan wajah dan cara mereka sendiri pada suatu masa yang bersinggungan dengan masa yang saya jalani.


Assalamualaikum kawan2 apa kabar?Good day lah semuanya :)) postingan ini dibuat ditengah2 tugas kuliah yang harus saya selesaikan dengan deadline tidak boleh lewat dari pekan ini, kenapa?karena tanggal 10 Mei saya akan Ujian Akhir Semester sehingga pekan depan harus murni saya manfaatkan untuk mempersiapkan UAS, jangan disibukkan lagi oleh tugas-tugas... MySpace

Suatu kali saya senang berjumpa dengan orang-orang yang membuat saya tertawa (sampai sekarang saya masih mengingat-ingat kapan terakhir kali saya tertawa lepas terpingkal-pingkal tanpa beban), kesenangan itu kemudian menyemangati saya, menyegarkan dan membuat saya percaya bahwa masih ada orang-orang yang masih bisa diajak bercerita tanpa tendensi ambisi dan misi pribadi.. walau padahal belum lama kami saling mengenal... MySpace

Lain waktu saya kecewa dengan orang yang lain yang datang dengan wajah lembut, senyum manis atas nama sahabat, saudara atau apapun lah istilahnya.. mereka menawarkan banyak hal yang nampak baik, namun semua palsu. saya merasa seperti dimanfaatkan sebagai pelengkap untuk menggaapai atau mengamankan posisi/kondisi mereka semata, setelah itu hilang sudah apa yang tadinya mereka jadikan judul sebagai sahabat atau saudara... MySpace

Jika mengingat keduanya, dalam diam dan langkah kaki yang gontai menelusuri selasar gedung kampus, pikiran saya berkecamuk, berontak untuk mengambil porsi dalam pikiran saya agar saya bisa telaah apa ini yang sedang terjadi, kenapa harus bertemu mereka dan apa manfaatnya semua bagi saya?Saya lebih sering lagi mengingat diri saya saat belum bertemu mereka, hidup saya terasa lebih tenang, bebas dan lepas, walau dunia dimata saya tetaplah hanya dua warna, hitam dan putih. MySpace

Namun saya memiliki keyakinan yang teguh bahwa semua ini pasti akan dan harus berlalu, dan biarlah yang mati tetap menjadi mati, karena masa lalu atau bagian yang akan menjadi masa lalu tentunya hanya akan menjadi benda mati juga, tidak bisa berbuat apa-apa, jangankan membunuh, menghantuipun tak mampu. Penting bagi saya untuk menjadi sadar dan mempertahankan kesadaran saya bahwa semua bagian dari keceriaan dan kekecewaan adalah akibat yang terjadi karena pilihan-pilihan hidup yang pernah saya ambil. Andai saya bisa tahu bahwa batas kepalsuan dan ketulusan itu adalah abstrak mungkin saya bisa berbelok arah dan putar haluan, mencari arah yang akan menawarkan lebih banyak keceriaan, dan rupanya mendamba ini semua seperti gila, tidak mungkin. MySpace

Kini saya sedang menjalani konsekuensi pilihan yang saya ambil, didalamnya ada banyak warna: warna kebahagiaan dalam jingga, kuning dan magenta; warna kesabaran dalam putih, ungu dan marun; warna keberanian dalam merah, oranye dan hitam; semuanya menutupi hitam, biru dan ungu kekecewaan saya serta menyemarakkan hijau, kuning dan jingga keceriaan saya. Dan kelak akan ada suatu masa, dimana saya berkata:'oh ini rupanya hikmahnya yang dl itu' mungkin tidak sekarang tapi nanti disuatu waktu yang tak terduga barangkali. MySpace

Wassalam

P.S:
-----
Setengah jam sebelum pergantian hari...
Photo By Kang Erry

Read more »