11.19.2011

Bukan Sekedar Mendengar


Aku cukup sering melihat atau terlibat dalam suatu pembicaraan yang kedua pihak sama- sama ingin terus bicara, tak ada jeda untuk mendengar, apalagi memahami. Yang susah adalah kalau bertemu lawan bicara yang bersikeras walau sudah diberitahukan seperti apa seharusnya. Ujung- ujungnya, dengan terpaksa mengalah, capek kalau diteruskan. Lebih gawat lagi kalau sampai emosi alias marah. Bisa jadi lebih tidak berguna lagi.

Aku kira mungkin di titik ini adalah tanda bahwa aku sebaiknya belajar lebih banyak untuk mendengar, bukan sekedar mendengar, tp mendengar untuk memahami agar bisa melihat suatu hal dari sisi lain, lalu memutuskannya dengan benar. Bukan baik, karena kebenaran insyaALLAH baik, tapi kebaikan tidak selalu benar.

Banyak mendengar memang seperti terlihat tidak menguasai pembicaraan, namun jika sekiranya lebih banyak bicara akan menunjukkan ke-tidak-mengerti-an tentang topik bahasan, maka lebih arif untuk mendengar saja, supaya informasi yang kita terima lebih banyak dan menuntun pada kesadaran bahwa ada hal yang mungkin terlewat atau belum dipahami. Bahaya kalau terus-terusan bicara tanpa tahu inti atau tema utama yang dibicarakan. Diam untuk saat saat seperti ini memang akan lebih menjadi emas.

Introspeksi diri sepertinya bisa jadi jawaban, mengetahui dan mencoba memahami poin yang belum dipahami agar pembicaraan menjadi lebih terarah dengan realistis dan objektif, singkatnya seperti menjauhkan diri dari debat kusir yang tak kunjung usai. Keahlian mendengar sepertinya menjadi suatu keahlian yang tidak dianggap penting padahal begitu besar menfaatnya dalam pergaulan atau hubungan sosial. Mungkin memang kita lebih baik banyak mendengar daripada bicara karena bisa jadi itulah maksud Tuhan menciptakan dua telinga dan hanya 1 mulut. Dan disaat sudah mengetahui kebenaran suatu hal maka sikap diam saja saat perdebatan sengit atas hal itu, tentu tidak akan menjadi emas.

Ebas
Diantara
Deru Kipas Angin
Detak Jam Dinding

Read more »

11.18.2011

Take It or Leave It!


Ada dua genre besar pertunjukkan yang biasa dipertontonkan dalam panggung kehidupan, yaitu kebaikan dan keburukan. Tentu saja keduanya memiliki nilai pengajaran yang sama berharganya, yang berbeda adalah dalam hal penyampaiannya saja. Dan sepertinya mereka yang mendapat pengajaran melalui kejadian-kejadian baik, disampaikan oleh orang-orang yang dipandang baik adalah orang yang beruntung karena tidak perlu mengalami pergolakan batin, atau semacam keraguan, untuk menerima nilai pengajaran yang berharga itu tadi.

Tapi itu tidak terjadi bila mendapati pengajaran melalui kejadian yang buruk, melawan norma bahkan ditentang agama atau melalui orang-orang yang sepertinya bukan orang baik-baik, entah karena kesan sekilas, gaya bicara atau laku sehari-hari. Karena tantangan berat pertama yang harus dihadapi adalah bersabar untuk tidak buru-buru menghakimi petuah sang kawan tersebut. Sebab bisa jadi aku lupa, bahwa bukan masalah siapa yang menyampaikan tapi apa yang disampaikan.

Bila bertemu hal demikian maka memang bukanlah keteladanan yang sedang mereka tunjukkan, nilai pengajarannya sendiri aku rasa tidak mudah bahkan untuk sekedar dilihat sekalipun, jadi apalagi untuk diambil hikmahnya. Mungkin kejernihan berpikir dan kelapangan untuk menerima akan dapat mempermudah untuk menerima nilai pengajarannya mulai dari yang paling sederhana, yaitu: Belajar hal baik dari hal buruk, dengan melihat konsekuensi keburukan yang dialami sang tokoh yang telah memberi pengajaran kepada kita.

Aku mulai bertanya-tanya, mungkin mereka sengaja dikirim Tuhan untuk dipertemukan dengan ku dalam satu garis takdir kehidupan, entah apapun rencanaNYA. Mungkin inilah yang terbaik. Tidak patut kemudian mereka dibenci atau dijauhi karena mereka adalah guru yang memberi pengajaran tanpa mereka sadari. Lagi pula hanya Tuhan yang tahu seberapa bagus diri kita ini. Tanpa mereka mungkin masa depan ku tidak akan kaya dengan nilai yang menguatkan mental dan kebijaksanaan, kemudian kehidupan ku tidak akan pernah sama dengan kini. Lagi, lagi mungkin inilah yang terbaik. And the choice lies in me to make how this thing will turn out. Bismillah.

Ebas
Bintaro Pagi ini.

Read more »

11.11.2011

Wae Wa E O (Kita Bisa)


Walau negeriku ini sudah carut marut sama kasus korupsi dan kisruh politik. Tapi rupanya masih mampu menyajikan pesta pembukaan Sea Games dengan meriah dan gegap gempita. Sehingga membuat negeri tetangga patut aku kira angkat topi dan membuka sebelah matanya agar tidak lagi memandang sebelah mata. Karena nyatanya Indonesia juga mampu menggelar perhelatan akbar dengan pembukaan yang menyemarakkan langit kota Palembang. Dan untuk itu aku bangga menjadi pemuda Indonesia, semoga kamu dan kita semua akan selalu begitu.

Banyak yang membuat perhelatan ini menjadi semarak, selain event Olah Raga itu sendiri, coba cermati lagu resmi dan video klipnya yang berjudul Wae Wa E O (Kita Bisa), ciptaan Yovie Widianto yang dinyanyikan oleh Yovie dan teman-teman. Pemain video klipnya menunjukkan wajah ceria dan optimis dan yang aku paling suka itu intro nya yang menunjukkan atlet dari Timur Indonesia, dengan iringan aransemen yang khas Indonesia yang timur. Jelas nian tersirat pesta olah raga ini menjadi kesempatan untuk menyatukan negeri ini dari Barat ke Timur. Apalagi dengan maskot Modo Modi ciri Nusa Tenggara.

Andai olah raga adalah agama mungkin sudah banyak yang jadi penganutnya, lihat saja betapa mudahnya kita menjadi damai dan bersatu karenanya seolah lupa dengan kisruh para oknum pejabat negeri ini lantaran seputar urusan politik. Kita mungkin sudah lama bosan memberi sadar mereka bahwa masih banyak yang perlu diurus sebetulnya, jadi lebih baik kita alihkan sejenak perhatian kita untuk mendukung negeri ini agar para atletnya mampu memberi usaha terbaik pantang menyerah sampai titik penghabisan. Lalu kita nikmati kebersamaan karenanya, bergendengan tangan menuju mimpi yang sama.

Merubah negeri ini hanya bagai mimpi jika tidak didahului perubahan diri sendiri. Dan aku pun begitu, sebaiknya aku harus selalu ingat kenyataan bahwa kita berbeda dalam banyak hal, namun sama dalam Indonesia. Walau perhelatan ini akan lewat sebagai euforia sesaat tapi setidaknya, lebih baik kita tidak kehilangan momentum untuk bersatu dalam satu irama, menunjukkan kepada dunia bahwa Kita Bisa. Agar mereka tahu bahwa masih ada yang mampu menyatukan kita walau ditengah tanda tanya akan kepedulian para oknum pembesar negeri tentang nasib yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Olah Raga dan Seni. Mohon kiranya dua gula itu tidak ditetesi empedu kisruh politik lagi, karena disitulah kami tertawa dan gembira.

Wae Wa E O.

Ebas
Bintaro Malam ini.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

11.08.2011

Lantai Tiga Pagi Ini


Hari ini aku ujian terakhir tingkat tiga, sudah masuk hari ketiga ruanganya dilantai tiga dengan posisi di deret ketiga. Entah apa salah si angka Tiga sampai harus aku ulang berulang ulang sampai bosan mengulang, lalu apa lagi ini salah si Ulang sampai harus aku ulang- ulang lagi berulang- ulang. Ah sudahlah. Tapi pagi ini tidak seperti hari sebelumnya, aku sudah diruangan beberapa belas menit sebelum, lain hal kemarin waktu aku tergopoh-gopoh menaiki tangga karena sudah mepet waktu. Sebuah kemajuan.

Begitu sampai aku duduk dan melepas pandangan menembus dinding ruangan berkaca yang bukan karena tingginya ia jadi istimewa, tapi pas saja menghadap ke jalanan Bintaro Utama, masih pagi jadi nampak sekali terlihat geliat kehidupan disini baru mau mulai. Diluar sana cuaca seperti masih dingin lembap, asik kalau dibawa tidur aku kira. Satu dua mobil melintas tidak memberi takut seorang Ibu yang menggandeng anaknya melenggang menyebrang jalan, mungkin mau mengantar ke sekolah. Putih Merah seragam sang anak aku lihat.

Barisan ruko yang memagarai kompleks perumahan dibelakang bagai masih malas saja tuk menyambut aktivitas pagi ini. Berdiri kokoh tapi dingin, enggan untuk beringsut walau cuma sejengkal, tapi aku suka melihatnya, dalam tenang, ada sepi kemudian menenangkan. Apalagi kalau langit sedang cerah, sepertinya kalau tidak salah lihat ada gunung jauh menjulang di ujung belakang nya. Kata kawan ku itu Gunung Salak, entah mana yang benar, karena semula aku kira itu Gunung Gede atau Pangrango. Aha! Mungkin aku saja yang sedang merindu turun ke rimba. Desember ini memang ada rencana mau ke Raung, andai Desember bisa datang lebih cepat. Seperti orang gila saja. Haha!

Dari tempat yang sama, bisa dengan jelas terlihat dua tiga mahasiswi berjalan santai memasuki gerbang kampus sambil kedua tangan mensedekapi buku Akuntansi tebal didada, mungkin adik kelas. Tapi sesaat kulihat didepan aku lihat ada keberuntungan. Pengawas ujian hari ini cantik, lebih cantik dari hari yang sudah-sudah. Dan ah, ternyata ujian sudah mau dimulai. Semoga besok pengawas yang sama datang lagi. Duduk sekitar hampir 3 jam didepan memberi awas gerak gerik pengadu nasib di lantai tiga seperti pagi ini.

Ebas
Sudut Kamar

Read more »