9.10.2010

Kalau Bukan Ayahku. Kalah Bukan Aku.


Siapa lagi yang bisa aku ingat untuk terus maju disaat aku terjatuh, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang bisa aku banggakan tentang pengorbanan dan perjuangan seorang manusia, kalau bukan tentang ayahku.

Siapa lagi yang bisa aku rindukan kasih sayang dan perhatiannya saat aku jauh disana, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang mau tanpa aku meminta membuatkan segelas teh manis hangat di pagi hari, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang mau tanpa aku berucap memasakkan makanan kesukaanku, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang mau memanjatkan duku,kelapa dan rambutan untukku waktu aku kecil, kalau bukan ayahku.


Siapa lagi yang dalam diamnya selalu mengajarkan aku untuk menjadi manusia yang tekun dan rajin, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang dalam diamnya selalu menunjukkan bahwa sabar dan mengalah adalah jalan untuk menjadi ikhlas, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang dalam diamnya membuatku ingat tentang kenyataan bahwa manusia itu harus berpikir kedepan, kalau bukan ayahku.


Ayahku, bukan lah seorang yang berharta banyak untuk diwariskan saat ia meninggal kelak. Ia juga tidak memiliki gelar keserjanaan dari universitas kenamaan yang membuat batu nisannya kelak agak prestisius. Tapi setidak-tidaknya ia adalah salah seorang manusia yang mengakui adanya Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, bukan harta, pangkat, jabatan dan status sosial atau pesona pesona duniawi lainnya. Tapi ia bukanlah Malaikat, ia juga manusia biasa yang bisa berbuat salah dan khilaf.. Namun demikian aku belajar banyak dari kesalahan dan kekhilafanya, karena ia memang ingin, aku menjadi lebih baik dari dirinya.


Lalu tentang mereka...

Siapapun mereka...

Mereka mungkin sedang mencela atas ketidakberpunyaan ayahku akan harta dan pangkat, tapi bagiku cemoohan mereka makin menunjukkan siapa mereka sebenarnya..

Mereka boleh saja mencela atas segala tangga nada yang tidak harmonis dalam ritme permainan musik kehidupan ayahku, tapi bagiku mereka mungkin telah terlalu jauh tinggi dilangit mereka sana untuk mendengar indahnya musik di bumi kami ini..


Dan aku ada diantara ia dan mereka...

Sehingga..

Siapa lagi yang akan berdiri paling depan menghadang cibiran, cemoohan, sindiran, ejekan mereka tetang ayahku, kalau bukan aku.

Siapa lagi yang akan berusaha memperjuangkan pendidikanku setinggi-tingginya untuk kebanggaan ayahku, kalau bukan aku.

Siapa lagi yang dimasa depan kelak akan mewujudkan cita-citanya menjadi anak yang peduli terhadap keluarga, kalau bukan aku.

Read more »

9.09.2010

Belenggu Harta


Mengapa orang yang pintar secara pendidikan dan gelar akademis pun masih saja lupa dan akhirnya menjadi sombong?? sungguh aku takut.. karena jika orang yang pintar saja bisa terkontaminasi lalu bagaimana dengan orang yang biasa-biasa saja seperti aku dan banyak orang lainnya mungkin.. Ah, kadang aku takut menjadi kaya dan berharta jika mengingat dan melihat mereka yang terlupakan olehnya.. :(

Harta.. H-A-R-T-A, menurut KBBI, harta itu sama dengan barang (uang dsb) yg menjadi kekayaan; barang milik seseorang; dan berharta sama saja dengan memiliki harta. Nah, karena semua tahu bahwa (nyaris) semua urusan dunia ini memerlukan uang, sehingga akan menjadi suatu kebanggan kalau berharta. Bangga karena semua urusan tidak akan lagi menjadi penghalang, dan dalam hitungan detik semua beres.

Mungkin itu kenapa orang jadi sombong jika berharta, belum lagi dampak-dampak lainnya, dampak seperti meningkatnya status sosial dan banyaknya pujian dan mendekatnya orang-orang yang mungkin menyimpan kepentingan. Semua kepemilikan pada akhirnya membuat bangga, ya sekali lagi bangga. Dan itulah kenyatannya. Salahkah? aku lebih memilih untuk menyalahkan karena menurutku bangga itu beda tipis sekali dengan sombong, akibatnya jika kebanggan yang muncul itu dipelihara maka bukan tidak mungkin ia akan meningkat menjadi sombong. Dan orang yang sombong cenderung tidak mau mendengar nasihat sehingga sulit untuk kembali menjadi rendah hati.

Tapi kemunculan rasa bangga itu tidak bisa ditampik, ia seperti rumput yang tumbuh saat seorang petani berkebun. Hal yang bisa dilakukan adalah menyianginya dan menyemprotkan pestisida agar rerumputan itu mati atau lambat pertumbuhannya, sedikit saja seorang petani lambat menindakinya, maka rumput itu akan tumbuh lebih tinggi dari tumbuhan itu sendiri, keadaan ini sama dengan yang kita alami, jika saja kita lambat menyadarinya, maka kebanggaan itu akan menjelma menjadi kesombongan yang membuat kita merasa lebih baik dari orang lain dan berujung pada pemikiran bahwa kita berhak untuk mendikte kehidupan orang lain, berhak untuk dilayani dan berhak untuk dimuliakan. Padahal, ahhhh..

Namun mengapa orang yang pintar dan tinggi secara akademis pun kadang lalai prihal ini, sering justru merekalah yang tanpa sadar telah hanyut oleh kepemilikan harta itu, tanpa sadar mereka merasa terus menerus tertantang untuk berlomba menambah harta kekayaan mereka, sehingga kehadiran mereka yang kekurangan dan membutuhkan dianggap hanya sebagai benalu yang tidak membawa manfaat, akhirnya muncullah cacian dan makian kepada mereka yang dinilai kurang berharta itu. Apa mungkin gelar kesarjanaan dan kecerdasan otak tidak berperan penting disini?? Mungkin benar begitu.

Read more »

9.08.2010

Jalan Pulang

Aku belum genap berusia kepala dua saat untuk pertama kalinya aku mulai memasuki dunia kerja, tahun itu adalah tepat setahun setelah aku menyelesaikan pendidikan kilatku, aku sudah tidak perlu lagi bersusah payah mencari pekerjaan, memasukkan surat lamaran ke gedung tinggi perkantoran yang kata kebanyakan orang merupakan simbol dunia modern, paradoksal metropolitan, eksotika Jakarta atau apapun lah namanya. Bahkan ada satu dua nama jalan di Jakarta ini yang pernah aku dengar dari beberapa orang temanku, jika ada seseorang yang bekerja disalah satu bangunan tinggi di jalanan itu, maka sudah jaminan hidupnya kaya dengan gaji diatas standar rata-rata, pakaian necis dan status sosial yang mengundang rasa kagum.

Aku tersenyum kecil bila mengingat kata-kata itu, bagiku, jangan kan nama jalanan itu, daerah di seputaran Jakarta pun belum banyak yang aku tahu, walau memang aku sudah lebih dari setahun ini tinggal di kota ini, kawasan Bintaro tepatnya. Didaerah itu aku berkuliah di sebuah kampus kedinasan bernama Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, STAN begitu singkatnya. Aku bersyukur karena kampus ini menyediakan fasilitas jaminan kerja begitu aku lulus. Namun aku juga tidak bisa berbohong bahwa pendidikan kilat dan kewajiban kerja ini membuatku kadang merasa ada suatu babak yang hilang dalam hidupku sebagai seorang anak muda. Terutama jika aku ingat bahwa sebagian besar teman-teman ku masih menikmati kehidupan mereka dengan menyandang status Mahasiswa.

Kala itu biasanya segera aku menendang kebodohan sisi lain seorang aku yang kadang aku dapati tidak bersukur dengan membanding-bandingkan duniaku dengan dunia orang lain. Sebuah kesalahan besar yang selalu sebisa mungkin aku buang jauh-jauh agar tidak meracuni niat tulus ku menjalani hidupku. Niat tulus yang membuatku tetap mampu berdiri tegar menjalani hari-hariku: Demi Keluarga ku di Sumatera!. Sampai Sekarang.

Dalam langkah tegapku memasuki hari-hari pertamaku dikantor seorang aku adalah pemuda sederhana yang berusaha selalu tampil sebaik mungkin walau tidak sesempurna dalam gambaran pakaian necis, sepatu pantofel hitam kilau mengkilap, dan seragam jas berdasi. Bukan karena aku tidak bekerja di salah satu dari nama dua jalanan yang itu tadi, tapi lebih karena pembawaanku memang begitu, sejak dulu tepatnya sejak aku bersekolah di Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga Kuliah.

Ketika aku duduk di bangku SMA aku bahkan cenderung menghindari obrolan dengan teman-temanku jika tema yang dibicarakan mulai berkisar tentang merk atau model HP terbaru, trend baju anak gaul masa kini atau harta, pangkat dan jabatan orang tua. Bukan karena aku percaya pada streotyping nya Dian Sastro terhadap anak muda Indonesia jaman sekarang tapi justru karena aku sadar bahwa aku berasal dari keluarga yang jika sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya dan cukup makan sehari-hari maka kata Alhamdulillah sudah sangat kuat untuk mewakili betapa kami belum membutuhkan segala gadget modern itu.

Namun aku selalu pasang telinga lebar-lebar jika topik yang dibahas adalah seputar informasi beasiswa pendidikan gratis, buku literatur keluaran terbaru dari penerbit semisal Erlangga, Tiga Serangkai dan lain sebagainya serta informasi tawaran ujian masuk ke perguruan tinggi ternama di negeri ini.

Ya, aku memang fanatik dalam dunia pendidikan, bagiku pendidikan adalah jalan untuk bisa mendapat tempat seluas-luasnya meluluskan hasrat Need of Achievement (N-Ach) ku yang kurasa begitu tinggi, begitu paling tidak kata salah satu teori motivasi dari David McClelland (CMIIW). Pendidikan juga yang menjadi landasan pikiran ku bahwa kemiskinan secara fisik itu diawali dari kemiskinan akan ilmu pengetahuan yang hanya bisa diatasi dengan bersekolah.

P.S:
-----
#Postingan ini dibuat untuk refleksi dan introspeksi diri, agar kedepan, semua aku bisa belajar menghindari hal-hal yang membuat aku menjadi semakin bukan aku, sehingga aku bisa tetap menjadi seorang aku. Halahh... lebay!! hahahahha.. :D

#gambar diambil dari: http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://people.ucsc.edu/~bkdaniel/number-water-footprint.jpg&imgrefurl=http://people.ucsc.edu/~bkdaniel/&usg=__FwDbTfdfzn6GhFKUTQBXnvt7xfk=&h=294&w=468&sz=12&hl=en&start=0&sig2=RRBmi2iU5bsP9ynN9YryOw&zoom=1&tbnid=ZfAhyNdfvCguTM:&tbnh=123&tbnw=170&ei=79SGTPTcH4OCvgPMltG-BA&prev=/images%3Fq%3Dfootprint%26hl%3Den%26client%3Dfirefox-a%26channel%3Ds%26rls%3Dorg.mozilla:id:official%26biw%3D1280%26bih%3D534%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:10%2C39&itbs=1&iact=hc&vpx=347&vpy=213&dur=12334&hovh=178&hovw=283&tx=234&ty=79&oei=wdSGTJTCN5OXcfz_mMsF&esq=2&page=1&ndsp=24&ved=1t:429,r:10,s:0&biw=1280&bih=534

Read more »

9.06.2010

My English Blog


(Film Serial Prison Break ini menjadi salah satu trigger belajar bahasa inggris ku.)

Jujur ini ya.. salah satu niatan pertama kali aku nge-blog itu adalah untuk menyalurkan hobi bahasa inggris ku yang biasanya aku keluarkan dalam bentuk tulisan, khususnya kalau lagi tidak ada kawan yang mau dan atau bisa diajak bahasa inggris. waktu itu blog nya aku tulis disinihh dan disinihh..; dan hari ini, kedua blog itu mau aku lebur jadi satu saja, supaya cukup satu blog saja yang aku isi dengan Bahasa Inggris, yaitu Erikson's English Blog a.k.a EEB :D

Kecintaan ku terhadap bahasa inggris mungkin didorong oleh hobi ku dalam menulis dan berbicara, (sampai sekarang aku masih tercatat sebagai Immediate Past President di Catalyst Toastmasters Club, suatu klub yang concern tentang pembelajaran public speaking dalam Bahasa Inggris), Kalau ditilik lagi kebelakang, sebetulnya lumayan panjang ceritanya kenapa aku bisa suka bahasa inggris.

Dulu waktu aku kelas 1 SMP, siang hari sepulang sekolah kalau tidak salah aku sedang ikutan kawan bermain layangan didekat rumah (ada tanah kosong dua blok sebelah rumah, tp sekarang sudah jadi bengkel dan warteg), kemudian seingat ku, Ubak ku memanggilku supaya ikut ke pasar, ya.. namanya anak-anak, diajak kepasar ya senang-senang aja... Tapi sesampainya di Pasar aku malah didaftarkan kursus Bahasa Inggris, ya jaman itu tahun 1998, biaya kursus masih murah.. hahahha..., aku bingung, tapi mau menolak sudah tidak bisa, jadilah namaku tercatat dan siap mengikut kursus perdana sekitar 1-2 minggu kemudian..


Berikutnya, hari-hari ku adalah adalah hari anak SMP yang setiap 3 kali seminggu ikut kursus Bahasa Inggris, awal-awal nya dulu sering malas berangkat kursusnya, sampai nangis dan dimarahin karena maksa minta diantar baru mau berangkat.. hahaha... Aku ingat kata-kata Ubak ku waktu itu:

"Orang yang mau maju dan berhasil belajar itu, berangkat dan jalan sendiri, tidak mengandalkan orang lain"

Akhirnya berangkat sendiri memang aku ke sana, tapi sambil merajuk hahaha.... Ya, mana ngerti aku soal keberhasilan dan kemajuan, yang aku tahu waktu itu aku sedang dipaksa belajar, sendirian pula. Jadilah pas awal-awal kursus, nilai ku nilai yang merajuk juga.. :D

Tapi.. seiring waktu, selama mengikut kegiatan kursus, aku merasa.. mmhhh..menangkap pelajaran yang diberikan instruktur itu rasanya mudah sekali meresap lekat, jadi enak dan aku pun mulai terbiasa. Dan saat pelajaran bahasa inggris di sekolah pun terasa manfaatnya, aku bisa mengikuti pelajaran dari Pak Guru, jaman kelas SMP dulu nama gurunya itu Pak Agus (Kls 1 SMP), Pak Andri (Kls 2 SMP), dan Pak Supeno (Kls 3 SMP). Aku mulai suka membaca cerita-cerita berbahasa inggris, walau tidak sepenuhnya paham, yang penting ada sajalah yang nyangkut barang 1-2 paragraf. Kalau tidak salah pernah juga dibelikan paman (adik bapak) buku cerita rakyat Negeri Korea dalam Bahasa Inggris, tentang 7 bersaudara dengan kelebihan masing-masing yang sedang menyelamatkan kerajaan mereka dari musuh.


Kamus English- Indonesian setebal 1736 halaman; Drs. Peter Salim, M.A. Aku beli di Gramedia Plaza Semanggi.

Hahah..segitulah,cerita singkat sampai aku bisa menyenangi Bahasa Inggris hingga sekarang, dan semakin kesini, aku semakin sadar bahwa tidak ada kata selesai dalam belajar, tinggal lagi bagaimana menjadikan yang sudah diperoleh menjadi lekat juga membawa manfaat. Alhamdulillah ya ALLAH.. atas kemudahan yang Engkau berikan ini, juga aku ucapkan terima kasih banyak pada Ubak/Bapak ku atas insiden penjemputan paksa tahun 1998 siang itu, mungkin segalanya akan berbeda jika kejadian itu tidak pernah ada. Buat guru-guru Bahasa Inggris ku, terima kasih banyak.


Balik lagi ke rencana EEB, aku akan berusaha konsisten dengan EEB (tanpa meninggalkan BSE tentunya hehehehhe..) ini seperti yang dibuat oleh kawan bloggerwati yang ini, dosen asal Indonesia yang mengajar di Universitas di USA. Tulisannya sederhana, bukan hal-hal yang berat, sesuai dengan motto di blog bahasa indonesianya ;'cerita-cerita spontan, nyata, dan tak jelas', hahaha..

Read more »

9.05.2010

AITY


AITY: Am I There Yet?

Kalau diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, itu berarti Apakah Saya Sampai?, jadinya kalau disingkat ASS, hahaha maka dari itulah penyingkatan judulnya dibuat in english, karena kalau ASS itu yang baca blogger dari english-speaking country bisa saja BSE dilaporkan ke blogger sebagai blog dengan content nudity :D

Singkatan judul diatas aku ambil dari Road Map to Success-nya John C Maxwell. Dalam suatu bab dibuku tersebut ia menyebutkan bahwa kecendrungan banyak orang dalam menyelesaikan sesuatu itu adalah selalu ingin tahu apakah sudah sampai atau belum. Termasuk aku.

Namun, ada yang lebih patut diingat lebih mendalam lagi mengenai hal ini, misalnya dalam konteks seorang pelajar yang sedang menyelesaikan studinya. Jika pertanyaan AITY itu ia terus kumandangkan dalam benaknya, maka ia sedang mengejar sesuatu untuk kemudian tidak mendapatkan apa-apa. Baginya begitu ia sudah sampai pada suatu titik, maka semua selesai. Dalam hal ini fokusnya adalah tujuan.

Tapi jika pertanyaanya diubah menjadi Am I Headed There?. Semuanya akan berbeda jauh, sang pelajar tersebut akan memahami setiap jam masa studinya sebagai saat-saat yang harus ia gunakan untuk memastikan bahwa ia sedang menjalani suatu proses, tanpa pernah memikirkan hasil akhirnya nanti. Ini terjadi karena adanya pemahaman bahwa setiap orang harus bertanggungjawab atas pilihan yang dibuat. Sehingga tidak ada ketergesa-gesaan dalam menjalani pilihan tersebut, tidak merasa berat dan terbebani.

Sering aku berpikir dan sampai sekarang juga belum menemukan jawaban yang pasti, tentang bagaimana mengubah pola pikir Am-I-There-Yet? menjadi Am-I-Headed-There?. Mudah dalam menteorikannya, namun sulit dalam praktik, itu pasti. Bukankah aku juga pun kadang labil komitmennya? Jadi tak patut rasanya memberikan suatu yang definite. Dan juga bukankah ALLAH.SWT membenci hambaNYA yang tidak melakukan apa yang telah diucapkan, apalagi tidak melakukan apa yang dinasihatkan pada orang lain.

Well..balik lagi ke perubahan pola tadi. Rasanya setiap orang punya cara masing-masing, namun yang pasti perubahan yang positif itu datang dari proses pengolahan input yang positif juga. Membaca buku-buku pengembangan diri misalnya, memang buku semacam ini tergolong berat, tapi memberikan gambaran tentang petunjuk saat seseorang merasa hidup dan apapun disekitarnya tidak berpihak kepadanya. Atau, membaca buku biografi seseorang yang telah keluar dari ancaman kegagalan, ketakutan menuju kebermanfaatan dan keselamatan. Misalnya membaca Biografi Nabi Muhammad SAW (sekalian nambah pahala dibulan puasa :D).

Input-input positif dari kegiatan membaca buku akan menjadi stimulan tindakan bertahan positif saat banyak kecendrungan negatif datang, dan ini membuat kita selamat dari captivity in negativity.


Membaca buku pengembangan diri pun, kadang menuntut kita untuk membuka pikiran lebih luas, karena banyak sumber penulisan mengenai buku ini, dan mayoritas berasal dari dunia Barat. Ya, kita tahu, dunia barat sangat mengajarkan optimisme. Dan ini lain dari apa yang telah kita tahu sejak kecil, bahwa ada Kuasa Tuhan dalam setiap usaha. Hal yang bisa saja hilang bila kita tidak memiliki benteng yang kuat saat memahami bacaan dari pengarang barat.

Tapi tidak demikian juga sebetulnya, ada juga penulis barat yang religius, sebut saja John C Maxwell, ia beragama Nasrani, dan ia pernah menjadi pastor. Aku beberapa pernah membaca buku karangan John C Maxwell tentang leadership dan principles of success, walau aku dan dia berbeda keyakinan, tapi aku memilih untuk meneruskan membaca, dan jika memang ada yang tidak sesuai dengan keyakinan agama yang ku anut, ya aku tinggalkan, aku cuma ambil kebenaran positif yang sejalan dengan prinsip agama ku. Aku tidak menutup diri dalam belajar, sumber dari buku apapun jika memang tidak menyalahi maka aku ambil.

Proses internalisasi dari kegiatan membaca secara tidak sadar membuat aku telah berpola pikir: Am I Headed There? Dan bagaimana dengan kawan-kawan?

Read more »

9.03.2010

A Story of Kingstone


Kingstone disini bukan ibu kota Jamaica di kepulauan Karibia, Kingstone disini juga bukan homofone dari nama merek flashdisk, tapi Kingstone itu artinya Baturaja, Ibu kota kabupaten OKU (Ogan Komering Ulu) Induk yang ada di provinsi Sumatera Selatan. Aku lahir disini. Baturaja, hampir 23 tahun lalu.. kemudian setelah lebih 6 tahun merantau ke Ibu Kota, Baturaja telah banyak berubah..

Baturaja sudah tambah ramai daripada era dulu, kalau dulu pusat ekonomi masyarakat cuma satu dua sentra, kini sudah banyak.Mulai dari pasar Inpres bahkan Mall juga sudah ada beberapa, diantaranya Raja Mall dan Kanio Mall, pasar tradisional mulai tergeser oleh kehadiran toko-toko swalayan waralaba semisal Indomart atau Alfamart. Praktis, penduduk tinggal masuk ke Mall yang menyuguhkan diskon, atau memilih sendiri barang belanjaan ke ruangan sejuk ber-AC. Penambahan sentra ekonomi ini juga diiringi oleh perluasan area perkotaan, Jalinsum (Jalan Lintas Sumatera) yang dulu sepi kini sudah mulai tersentuh pembangunan, setidaknya sudah ada dua trade-mark kenamaan representasi kemajuan Baturaja, yaitu Masjid Agung Islamic Center dan Kolam Renang Baturaja (Standar Internasional). Kedepan mungkin area ini bakal ramai oleh hunian semcam ruko dan perumahan penduduk, khususnya setelah pembukaan lahan secara besar-besaran mulai terasa dan terlihat sepanjang jalan lintas ini.


Raja Mall dari depan.


Dulu Baturaja belum mampu menawarkan kesempatan pendidikan yang berkelanjutan karena terbatasnya jumlah Sekolah Tinggi atau Universitas atau Lembaga Pendidikan lainnya. Namun kini, pemuda-pemudi Baturaja dan daerah sekitarnya dapat merasakan bangku Universitas, setelah kehadiran Universitas Baturaja (UNBARA), STIE, STAI, STAIN, LPPK. Bahkan untuk level SMA pun pilihannya sudah banyak, jika dulu hanya ada satu dua SMA, kini jika dihitung untuk level SMA/Sederajat sudah lebih dari sepuluh. Pembangunan intelektuali ini dengan nyata dapat dilihat telah diiringi oleh pembangunan infrastruktur yang lumayan mengangkat citra Baturaja, semisal pembangunan kantor perijinan terpadu di salah satu pusat keramaian (dulu area ini adalah terminal) juga penambahan jembatan yang menghubungkan banyak lokasi di Baturaja yang makin membuat lalu lintas makin lancar dan mobile.


Taman Kota Baturaja


Baru-baru ini Baturaja juga sudah melaksanakan pemilihan kepala daerah, dan semoga saja pembangunan yang telah ada ini tetap dijalankan dengan tetap mengedepankan prioritas utama yaitu pembangunan yang membawa manfaat baik jangka pendek dan jangka panjang pada masyarakat Baturaja. Menjadikan Baturaja sebagai kota yang tetap tangguh ditengah gempuran era modernisasi dan globalisasi tanpa kehilangan ciri khas kebanggannya, terutama dari nilai histori dan kebudayaan.

Ramainya pusat kegiatan ekonomi di Baturaja sekarang ini layak dipertahankan dengan prinsip menguatamakan kesejahteraan rakyat, bukan karena lobi-lobi politik atau kepentingan pihak yang berkekuatan uang. Majunya perekonomian bukan diukur dari banyaknya Mall atau swalayan waralaba, namun diukur dari kemampuan masyarakat mengikuti kemajuan dan perkembangan itu, jika akibat pembangunan ekonomi konsumtif semacam ini menyebabkan semakin banyak penduduk yang kehilangan pekerjaan, semakin banyak penduduk yang hidup dibawah standar normal pemenuhan kebutuhan sehari-hari, maka kemungkinan besar ada yang terlewat dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan tersebut. Bolehlah jika Pemerintah Daerah Baturaja dalam hal ini dipimpin oleh Bupati melakukan evaluasi.


Kolam Renang Baturaja


Kemajuan SDM merupakan indikator kuat akan keberhasilan suatu daerah di masa depan, institusi pendidikan di Baturaja telah banyak menelurkan lulusan-lulusan yang memegang sertifikat atau ijazah tertanda LULUS dan semoga memiliki kualifikasi yang layak. Namun sudah mampukah Pemda Baturaja menciptakan iklim yang kondusif bagi lulusan tersebut untuk mengaplikasikan keahliannya dengan berwirausaha, karena memang sulit untuk menjadi PNS di Baturaja, mulai dari tahapan seleksinya sampai berkembangnya rumor sogok-menyogok didalamnya. Pembangunan dibidang pendidikan di Baturaja memang menyenangkan, namun aku kurang tahu pada prioritas urutan keberapa sektor ini diutamakan, jika saja di tempat yang strategis di kota ini dibangun pusat kegiatan remaja (student center) semacam gelanggang, perpustakaan dan diikuti sosialisasi yang gencar dan berkelanjutan mungkin lapangan Ahmad Yani yang telah disulap menjadi taman kota, akan berubah menjadi sepi dari kegiatan santai yang kurang bermanfaat.

Pembangunan SDM selain dibidang intelektual juga sebaiknya diiringi pembangunan di bidang kerohanian, keberadaan Islamic Center menunjukka adanya niat Pemerintah Daerah Baturaja membangun penduduk Baturaja dalam hal tersebut. Namun niat yang telah direalisasikan dalam pembangunan Masjid yang megah ini akan semakin mengakar-rumput seandainya kegiatan dibidang kepemudaan-keagamaan digalakkan dengan kontinyu sehingga tumbuh rasa memiliki dan menghidupkan kehidupan didalamnya. Apalagi keberadaan sarana yang sudah tersedia didalam kompleks Masjid ini. Tinggal lagi bagaimana agar Masjid ini tidak melulu diramaikan oleh sesepuh-sesepuh Baturaja tapi juga oleh tunas-tunas yang akan memimpin dan mengelola di era mendatang.


Islamic Center Baturaja


Kadang aku merasa jika sedang berkendaraan di Baturaja, tak ubahnya aku sedang di Jakarta atau Palembang. Karena Baturaja sudah ramai bahkan cenderung pada keadaan ramai yang menyesakkan, dengan kata lain keramaian ini memunculkan kondisi yang tak teratur, dibidang lalu lintas khususnya. Bidang jalan yang sempit tampaknya belum mampu memperlancar arus lalu lintas, sehingga pada titik-titik tertentu kemacetan tak bisa dihindari. Belum lagi panas teriknya membuat tensi emosi menjadi tinggi, khawatir mendorong pada keadaan yang lebih buruk lagi. Ruas jalan di kota ini memang sudah banyak ditambah, namun terpusatnya sentra-sentra kebutuhan masyarakat membuat ketimpangan volume lalu lintas. Jalan baru yang dibangun seiring dengan jembatan tambahan belum maksimal difungsikan, karena memang kegiatan masyarakat tidak banyak disitu,sehingga sekarang fungsinya hanya sebatas sebagai jalan tembus.


Jembatan Ogan IV


Bagaimanapun, aku adalah bagian dari kota ini, lahir disini dan tumbuh besar disini selama 18 tahun. Tulisan ini cuma kontribusi dan bentuk kepedulian saja, bukan kritik atau sebuah celaan karena aku juga sadar aku belum banyak berbuat bagi kota ini. Mungkin kelak aku bisa berbuat sesuatu yang lebih nyata buat kota ini, Bismillah. untuk sekarang cukuplah melakukan yang terbaik sebisaku dibidang yang aku dalami di Jakarta, Pajak. Karena ini merupakan karunia yang diberikan ALLAH.SWT untuk ku agar bisa kukembangkan, sama seperti dulu saat aku duduk di bangku SMU N 1 Baturaja dan begitu bersemangat menggali ilmu dan memperkayak diri secara akademis.

Salam

Terima Kasih

Read more »