12.30.2011

Judisium, Sebuah Sisi Lain.


Akhirnya aku judisium, tepatnya tanggal 27 Desember kemarin. Dan artinya mulai saat itu statusku sudah bukan Mahasiswa atau Pegawai Tugas Belajar lagi. Kini aku sedang menanti untuk ditempatkan di kantor yang baru. Dimana? Kalau permintaan ku dikabulkan maka aku akan berkantor di Kota Palembang, sekaligus memulai hidup baru disana, mempersiapkan banyak hal untuk kehidupan yang sudah aku coba rancang. Dan mengucapkan selamat tinggal serta terima kasih kepada rimba Metropolitan Jakarta untuk masa 7 tahun belakangan ini. Life goes on and it can't wait, so let us move on!

Judisium, prosesi singkat namun sakral dan wajib ini nyaris aku lewatkan lantaran ketinggalan pesawat di Bandara Juanda Surabaya sehari sebelumnya, untungnya bantuan Tuhan lewat seorang teman datang disaat yang tepat. Sehingga pagi tanggal 27 Des itu aku sudah bangun dengan suasana berbeda, bergegas mandi, menyiapkan seragam serta sedikit berkaca untuk meyakinkan bahwa aku cocok juga mengenakan dasi. Kuhitung seumur hidup sangat jarang aku berpakaian serapi dan selengkap ini. Hahaha...

Sekitar pukul 09.00 WIB hari itu, 91 orang total rekan satu angkatan ku sudah berkumpul di Gedung G Aula Kampus. Mereka nampak rapi, sumringah dan cerah. Beberapa bahkan bisa aku pastikan sengaja membeli kemeja atau celana baru untuk prosesi monumental ini. Aku? Ah, jangan ditanya. Sudah bagus masih mau mencukur kumis dan brewok ini. Dasi pun dapat minjam dari teman. Kenapa? Ya, karena memang sudah cukup nyaman dengan kemeja putih dengan kancing lepas satu ditengah (untung ketutupan sama dasi) dan celana panjang hitam yang jahitan bawahnya agak robek. Lagi pula, prosesi nya tak lama, hanya 2-3 jam saja. Sayang dan sungkan kalau repot- repot beli.

Pernyataan Judisium pun dibacakan oleh Pihak Kampus, ibarat Ijab Qabul yang menjadi sarat sah pernikahan, maka sah sudah kami lulus. Tepuk tangan kami pun membahana, sorakan kami begitu gegap gempita memenuhi langit- langit aula gedung ini. Selanjutnya pembacaan peringkat. Namaku dipanggil, Erikson Wijaya dengan IPK ?,?? Peringkat ? dari 91 orang. Berdiri sebentar terus duduk lagi. Lega! Sekaligus senyum lapang karena akhirnya 1 fase sudah terlewati. Sambil duduk kemudian aku termenung, Eitss.. sebaiknya aku tidak boleh lupa bahwa bertambahnya jenjang pendidikan maka akan diikuti oleh bertambahnya tanggung jawab atas penguasan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari selama 2 tahun ini.

Tanggung jawab ini seperti beban moral tak tampak yang akan mudah terlupakan jika tidak dibarengi dengan dedikasi dan kesadaran dalam berkarya. Tapi sisi lain dari tanggung jawab ini sebetulnya adalah sebuah cara untuk mempertahankan apa yang sudah didapat, memperbaharui serta membagikannya dengan cara yang senyaman mungkin tanpa bermaksud merasa lebih baik dari orang lain. Sisi lain ini kelihatannya akan mengalihkan tanggung jawab akademis praktis yang mulanya terlihat seperti beban menjadi sebuah hobi yang terasa nikmat untui digilai dan diaktualisasikan. Semacam mental yang sifatnya unstoppable learning machine.

Oya, baru ingat seperti nya selain itu aku juga harus menyiapkan kembali mental untuk siap berjibaku dengan aktifitas kantor dan rutinitas yang akan menjemukan jika tidak disiasati dengan kreatif. Working is just like biking, it keeps you from falling because it will let you keep pedalling, but you need to take a brief halt periodically to strecht your leg.

Read more »

12.26.2011

Melepas Ego di Gunung Raung


Siang itu ditengah angin kencang, udara dingin, hujan dan kabut pekat, pada ketinggian beberapa puluh meter di bawah Puncak Sejati Gunung Raung 3332mdpl, sekelompok anak muda tengah berjuang untuk meneruskan pendakian. Dan, saat berteduh di sebuah tepi cekungan dibawah Puncak Tusuk Gigi, ternyata disanalah perjuangan yang sebetulnya baru akan terjadi. Puncak Tusuk Gigi, puncak ketiga setelah Puncak Bendera dan Puncak Kemukus.

Adalah aku Ebas (Erikson Bin Asli Azis), Joneh (Bagus Pujo Trilaksono), Poski (Surahman), Ichank (Ichsan Permana) dan Tople (Chairus Topan), keenam pemuda yang tepat pada 24 Desember 2011 kemarin berjibaku dalam dingin dan hujan untuk memenuhi mimpi kami menuju Puncak Sejati Raung dengan dipandu oleh Cak Nyung (Josinyo) dari REGASSPALA.

Apa yang terjadi didetik- detik siang itu, merupakan momen yang sangat berkesan dan akan terkenang selalu. Sebuah momen tentang apa yang oleh Norman Edwin sebut kan dalam kuotasi terkenalnya yang kurang lebih berbunyi: "Bukan Gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri".

Setelah melewati medan hutan dan tiba di batas vegetasi, semua dari kami sepertinya mulai terperanjat dalam diam, aku yakin ada semacam sensasi komplek ketika melihat hamparan medan karang membentuk bukit terjal menjadi atap hutan hijau nan berkabut dibawah sana, turun naik meliuk- liuk membentuk lajur menuju beberapa titik yang lebih tinggi diatas sana.

Kami terus mengikuti jalur trek bebatuan dan cuaca masih cukup cerah menjanjikan. Hijau hutan dibawah sana lantang terlihat. Dan medan masih cukup landai untuk menuju puncak pertama yaitu Puncak Bendera. Ketika menuju Puncak Bendera ini, ada semacam tumpukan bebatuan yang terjadi secara alamiah betul- betul menakjubkan. Dan ketika sudah tiba di Puncak Bendera, kami bersiap untuk turun menapaki lembah menuju puncak selanjutnya yaitu Puncak Kemukus. Perjalanan menuju puncak Kemukus ini tidak mudah, untuk turun kami memilih cara aman dengan menggunakan webbing.

Tidak ada pilihan lain selain menggantungkan diri menuju jalan ke bawah berpegangan tangan pada seutas webbing, beberapa dari kami yang tidak biasa dengan kondisi ini harus berjuang lebih kuat mempertahankan keyakinan untuk bisa sampai ke bawah, termasuk aku. Disaat ini, hujan mulai turun, udara dingin mulai menyergap kencang dan kabut perlahan menghalangi jarak pandang. Ichank bertanya apa akan diteruskan? Dan berkata: "Kondisi mulai tidak memungkinkan, mungkin sebaiknya inilah puncak sejati kita, disini!! Apa kita yakin akan tetap lanjut?!!!". Aku jawab: "Lanjut!!!"

Saat semua sudah sampai dibawah, kami kembali meneruskan perjalanan menuju Puncak Kemukus, (beberapa menyebutnya Puncak 17 Agustus), dan ketika tiba di puncak ini, udara makin dingin, ditambah medan yang makin berat membuat pegangan tangan pada batu karang menjadi tidak kuat, sementara untuk mencapai Puncak Sejati masih ada satu puncak lagi yaitu Puncak Tusuk Gigi. Alam benar- benar tidak bisa ditebak, memang sepanjang trekking kemarin kami dirundung hujan, namun menurut informasi terakhir di pos awal, kondisi ini jarang terjadi di Puncak sana.

Karena hujan makin deras, angin kian kencang dan dingin kian menyergap serta kabut yang tambah pekat kami memutuskan untuk beristirahat sebentar menunggu kondisi mereda di sebuah cekungan di tepi tebing tepat dibawah puncak Tusuk Gigi. Tapi nyatanya, kondisi tidak membaik sementara kami juga dikejar waktu agar bisa segera turun kebawah secepatnya. Saat itu aku masih ingin meneruskan hingga ke Puncak Sejati, tekad ku sudah bulat (atau nekad?) namun di tim ternyata Joneh, Ichank dan Tople memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan. Hanya Poski yang bersedia lanjut. Dari sini, konflik bermula.

Lebih ngeri dari itu semua adalah kilatan petir ditengah gemuruh awan pada langit hujan, Cak Nyung memberikan peringatan untuk kembali mempertimbangkan dengan kondisi petir ini. Setelah kembali meyakinkan semua anggota tim akhirnya fixed bahwa Joneh, Tople dan Ichank menunggu dibawah, ditengah dingin hanya berlindung jas hujan dan sedikit ransum. Sementara aku dan Poski akan tetap menuju Puncak Sejati. Bendera- bendera titipan saudara dari Bekasi sudah aku pegang untuk dibawa keatas dan dikibarkan. Joneh, Tople dan Ichank memberikan semangat dalam diam mereka. Kami semua speechless. Belum pernah aku seemosional ini dalam sebuah pendakian.

Tapi di titik ini, saat semua kami terdiam merenungi kondisi yang benar- benar tidak terduga ini, Poski dan Cak Nyung berdiskusi berdua dalam bahasa Jawa, dan suasana kembali berubah. Kondisi ku yang sempat kelelahan ketika trekking dari camp 8 ke Pos 4 membuat Cak Nyung khawatir jika aku turut serta keatas, terkesan dipaksakan tanpa menimbang resiko apalagi medannya tentu lebih berat karena menanjaki bebatuan sambil dikepung udara dingin, khawatir nanti akan membuat waktu tempuh lebih lama sementara waktu kami terbatas dan tentu akan membuat mereka bertiga menunggu lebih lama dibawah bertahan dalam dingin, bagaimana kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan?

Aku paham maksud nya sampai disini, intinya Cak Nyung selaku pemandu kami, khawatir bila aku ikut serta keatas, namun beliau segan untuk menyampaikannya mengingat aku begitu bersemangat menggebu- gebu sejak awal. Poski yang menyampaikan kepadaku, sambil menawarkan solusi supaya cukup ia dan Cak Nyung saja yang keatas dengan memberikan pertimbangan kondisi medan yang berat, fisikku yang sempat drop di bawah tadi. Aku keberatan saat itu! Puncak Sejati sudah terlihat sangat dekat dari tempat kami beristirahat, bagaimana mungkin aku dengan mudah melepasnya, setelah dua bulan lebih aku merindukannya!!

Gambaran- gambaran euforia pendakian Raung beberapa minggu lalu pun melayang- layang didalam benakku. Ketika hunting alat, ketika pesan tiket yang useless, ketika mencari pelarian ke Gunung Gede, ketika latihan fisik, ketika main ke Cibogo, ah terlebih lagi bila ingat tahun depan aku sudah pindah domisili ke Sumatera Selatan, maka entah kapan lagi aku bisa mendaki Raung ini. Semacam obsesi. Mulailah, disini pertarungan yang melibatkan ego/ambisi menuju puncak Sejati dengan sikap berbesar hati makin memuncak. Bagai orkestra dengan segala instrumen yang dimainkan dengan nada yang tinggi, lalu meninggi dan meninggi kemudian makin meninggi. Tapi, tiba- tiba berhenti. Klimaks, Lalu tenang dan Terdiam.

"Bang, abang kan tadi sempat drop dibawah, kalau kita paksakan keatas bertiga nanti takutnya abang gak bisa cepat ngikutin kita, malah memperlambat, jadi kasihan dengan mereka bertiga yang menunggu dibawah, kelamaan kedinginannya, apalagi kan kita diburu jadwal kereta besok. Atau cukup aku dan Cak Nyung aja yang keatas, abang menunggu disini saja sama mereka, lebih meminimalkan resiko itu, kami paling 2 jam saja sudah balik lagi kesini. Gimana Bang?" Poski berkata.

"Ya sudahlah, aku tunggu disni saja sama mereka. Kalian berdua yang keatas" Aku jawab demikian sambil mengingat- ingat kembali alat- alat yang mungkin perlu mereka bawa keatas, termasuk bendera Caracol Veneno, Nandjak Adventure dan Bendera Merah Putih lalu menyerahkannya. Lalu Poski dan Cak Nyung mulai menuruni jalur menuju puncak Tusuk Gigi hingga akhirnya tiba di Puncak Sejati. Saat itu aku mulai mencoba memaknai pendakian ini sebagai pendakian oleh satu team, bukan secara personal yang kebetulan sedang bersama. Hingga aku rela melepas raungan ego, ditengah kondisi alam yang sedang tidak bisa ditebak dapat saja membahayakan, penuh resiko.

Dua jam selanjutnya aku habiskan bersama Joneh, Tople dan Ichank sambil berlindung jas hujan, kami menyalakan api untuk menghangatkan diri. Sesekali badai berlalu, kabut pekat lewat berganti cerah, namun sesaat kemudian datang lagi bersama hujan, sampai dua jam berselang, Poski dan Cak Nyung kembali lagi, walau belum sepenuhnya lepas namun setidaknya saat itu aku mulai belajar memandang keutuhan kebersamaan ini atas nama satu tim. Keberhasilan Poski dan Cak Nyung sampai ke Puncak Sejati kucoba untuk kumaknai sebagai keberhasilan tim ini. Bendera yang dititipkan sudah berhasil dikibarkan. Kami berjalan kembali untuk pulang ke pos peristirahatan dibawah sana.

"Don't look back and keep walking". Begitu seharusnya, namun sesekali aku masih sempat menoleh kebelakang melihat puncak sejati dari kejauhan, secara personal aku memang tidak mencapai Puncak Sejati, namun secara mental aku telah berhasil mencapai puncak yang lebih tinggi yaitu puncak penaklukan ego untuk tidak melawan alam dan bersifat realistis terhadap kondisi diri dan keadaan. Sebuah pembelajaran baru yang aku dapat dari pendakian Gunung Raung. Gunung yang bagiku sepertinya bukan hanya sekedar gunung namun lebih dari itu seperti guru yang keras dalam menempa para pendaki yang ingin memaknai arti sebuah pendakian. Ditengah hujan, dingin dan kabut, Puncak Sejati makin jauh terlihat namun kenangan dan pelajaran darinya makin dekat dan terasa sayang untuk dilepas.

Keesokan harinya:

Aku sudah di bandara Juanda Surabaya, pulang mendahului Tople, Ichank, Poski dan Joneh karena dikejar jadwal Yudisium yang wajib diikuti dikampus ku. Bagai manusia dengan jiwa yang baru saja aku disini. Pagi disini sudah ramai, riuh rendah suara calon penumpang beradu pelan dengan bunyi derit troli kereta dorong mereka. Tapi suara gemuruh suasana kemarin siang di Puncak Raung sana marih meraung kencang memberi tanda untuk selalu ingat tentang makna sebuah pendakian, kebersamaan dan lebih jauh lagi adalah tentang kehidupan.

Alhamdulillah ya ALLAH, semoga hamba dan saudara- saudara sependakian kemarin termasuk dalam golongan hambaMU yang dapat mengambil pelajaran, Amin.

Diatas langit Surabaya, Pesawat Garuda Citylink ini terbang membawaku menuju Jakarta menderukan mesin seperti sedang membuang obsesi ku mencapai Puncak Sejati dan menggantinya dengan setumpuk pelajaran berharga nan tak ternilai. Bukan lah gunung yang kita taklukan namun diri kita sendiri.

Oh ya, hari ini aku Yudisium, statusku sudah bukan Mahasiswa lagi, tinggal menunggu masa magang dan akhirnya kembali kekantor, insyaALLAH di Palembang, Sumatera Selatan.

P.S:
-----
Untuk foto- foto di puncak Sejati, file nya belum terkumpul.

Read more »

12.16.2011

Drama Stasiun Senen


Sekedar Sharing Pengalaman Hari ini

Harusnya aku sudah berangkat menunumpang Matarmaja tujuan Malang, tapi karena suatu hal terpaksa dimundurkan jadi hari Rabu. Jadi begini, minggu kemaren aku pesan tiket kereta ekonomi Matarmaja tujuan Malang untuk keberangkatan hari ini 16 Desember (karena hanya H-7 yang dilayani). aku pesan sen untuk 7 orang. Dan ketika tiket diberikan, disitu tertera tulisan :"BERANGKAT DARI STASIUN SENEN".

Tidak menngerti itu tulisan maksudnya apaan, dan tidak terlalu aku anggap penting! Karena mikirnya tidak apa- apa, 3 anggota tim saja yang berangkat dari Stasiun Senen, selebihnya 4 orang dari stasiun Bekasi. Dan ternyata ketika tadi sampai Stasiun Senen mau berangkat, ada banner lumayan besar ukurannya ditempel di pintu ruang tunggu (jauh dari ruang pemesanan tiket) bunyinya, kira- kira begini:

"Mulai dari 1 Des 2011 Kereta Ekonomi Jarak jauh tidak berhenti di stasiun Bekasi, Cikampek.. bla..bla.. Jadi harus berangkat dari stasiun Senen, Kota, Tanah Abang atau Tanjung Priok."

Aku shock!! Itu bagaimana nasib nya sodara2 yang di Bekasi??? Alamat bakalan repot ini urusanya, mana peralatan pendakian di Bekasi semua!! Dan akhirnya aku berusaha menemui pihak stasiun, tapi jawabanya kita diminta menghubungi Kepala Stasiun Bekasi, dan kebetulan pas salah satu dari kita sudah menunggu di Bekasi jadinya bisa menemui langsung Ka. Stasiun, namun hasilnya nihil, dengan alasan pertaruhan jabatan.. bla.. bla.. bla..

Jadinya cuma bisa say goodbye sama Matarmaja, dan sialnya lagi baru sadar bahwa tiket yang sudah dipegang tidak bisa ditukar jadwal dengan alasan sudah lewat H-1 dan sudah tidak bisa di batalkan karena sudah lewat 30 menit sebelum keberangkatan. Akhirnya Raung disepakati untuk dimundur saja ke hari Rabu insyaALLAH.. Dan berhubung semangatnya sudah semangat Raung, agak berat rasanya kalau mau putar haluan.

Aku berusaha berprasangka baik saja dengan kejadian ini, mungkin Tuhan punya maksud lain. Selebihnya aku lalu pulang lagi kekos, sambil menyempatkan membeli dua ikat Rambutan untuk dimakan di Bis Patas AC 44 jurusan Ciledug- Senen. Ah, hidup memang penuh dengan kejutan, dan tiba- tiba aku teringat perkataan Khalifah Ali RA.Beliau RA berkata bahwa kalau kita tidak mendapatkan apa yang kita senangi maka senangilah apa yang kita dapatkan. Mungkin semacam ikhtiar kecil untuk menjadi lebih bersyukur.

Read more »

12.15.2011

Cerita Porter Gunung


Ketika sekelompok orang, mungkin aku salah satunya, memaknai sebuah pendakian sebagai sebuah pelarian dari hingar bingar kehidupan, atau dengan sederet alasan filosofis lainnya, maka ada sebagian kelompok yang lain beranggapan bahwa mendaki gunung untuk menyambung hidup, mereka adalah para porter (pengangkut barang). Dan, memang begitu kenyataannya, keberadaan mereka para porter bisa dengan cukup mudah ditemui misalnya di Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Namanya Roni, berkepala plontos, dengan senyum ramah dan polos. Usianya baru 19 Tahun, aku berkenalan dengannya Juni lalu ketika mendaki Rinjani, ia diminta pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani untuk menjadi porter yang akan menemani perjalanan aku dan kedua temanku. Awalnya aku menyangsikan tubuh mungilnya untuk mengangkat barang- barang kami yang berat. Namun, entah betisnya yang khilaf atau tubuhnya yang kalap, tapi kedua pundaknya seperti tampak biasa dibebani dua keranjang penuh isi, kakinya pun tetap lincah untuk sedikit berlari. Agak malu juga aku kalau sempat tertinggal jauh jadinya.

Di waktu istirahat, kami bercerita tentang apapun seputar Gunung Rinjani, sampai ke pengalaman Roni menjadi porter, yang intinya bahwa menjadi porter bagi penduduk kampung gerbang masuk kawasan pendakian Rinjani sudah menjadi semacam pekerjaan tetap disamping pekerjaan mereka sebagai petani musiman, mereka menyambung hidup dengan naik turun gunung. Upah yang mereka terima lumayan besar daripada menggantung hidup sebagai petani, itu kenapa pilihan menjadi porter lebih menarik, apalagi jika yang dibantu adalah pendaki dari luar negeri, mereka kadang terkenal royal.

Satu hal yang mereka antisipasi adalah ketika pihak balai menutup kawasan di periode Desember- Januari biasanya, disitu tidak ada aktivitas pendakian, sehingga banyak dari mereka mengalihkan sumber pencaharian dengan menjadi buruh kasar musiman di Malaysia dan kembali lagi menjadi porter bila jalur sudah dibuka kembali.

Haha, yang lucu adalah ketika mereka pulang dari Gunung maka kabar itu akan menyebar ke satu kampung dan mereka akan didatangi oleh sanak famili untuk mencicipi cipratan rejeki porter. Dan yang menyentuh adalah waktu aku sampai pada kesimpulan bahwa, mungkin inilah salah satu maksud ALLAH.SWT menciptakan Gunung Rinjani. Tanpa keberadaan Rinjani mungkin mereka sudah kehilangan pilihan untuk menopang hidup. Aku hanya khawatir dan jangan sampai Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani senasib dengan Kawasan Taman Nasional Batang Gadis di Sumatera Utara yang digadang- gadang akan dijadikan areal proyek tambang jika betul demikian maka tentu saja dapat mengancam keseimbangan ekologi dan sumber rejeki penduduk lokal (para porter, red).

Dan akhirnya, ketika sekelompok orang, mungkin aku salah satunya, memaknai sebuah pendakian sebagai sebuah pelarian dari hingar bingar kehidupan, atau dengan sederet alasan filosofis lainnya, maka inilah Roni, berkepala plontos, dengan senyum ramah dan polos. Usianya baru 19 Tahun dan sudah menikah serta beranak satu, ia memaknai pendakian sebagai upaya untuk menyambung hidup. Just for a living, nothing more.

Ebas
Ditengah persiapan menuju Gunung Raung besok 16 Desember.

Read more »

12.11.2011

Kebebasan Itu?


Seperti orang kebanyakan, aku suka dengan kebebasan, bebas mau kemana saja, melakukan apa saja. Bagai setiap hari sudah jadi milikku sepenuhnya. Tertawa, berkelana, gembira lalu lelap seketika. Tapi ah, aku lihat kebebasan itu memang tidak ada di dunia ini. Karena selalu dibatasi oleh tanggung jawab dan setiap manusia yang hidup, sedikit atau banyak pasti telah mengambil tanggung jawab dengan atau tanpa disadari. Begitulah.

Andaikan tidak ada tanggung jawab lain yang harus aku penuhi, mungkin setiap hariku akan terisi dengan petualangan demi petualangan mendaki pegunungan dari Sabang hingga Merauke. Namun itu tidak mungkin karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri, lagipula harus punya uang untuk bisa kemana-mana itu tadi, uang yang hanya bisa aku dapat kalau aku menjalankan tanggung jawab sebagai pegawai yang baik.

Lelaki penikmat kebebasan, begitu mungkin judulnya kalau sudah berkumpul dengan teman2 bahkan aku bagai tidak ingat bahwa kodrat lelaki dewasa yang sudah mampu itu adalah menikah lalu menjadi suami kemudian ayah. Siklus kehidupan yang harus disyukuri, lagi-lagi karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri melainkan demi mereka yang menjadi alasan mengapa aku diciptakan, mungkin nanti kalau sudah terasa hikmahnya maka aku baru bisa senyum ikhlas melepaskan kesenangan masa muda yang penuh dengan fantasi petualangan yang liar turun ke rimba menikmati alam dari ketinggian.

Tapi yah sudahlah, berbesar hatilah. Pepatah lama dari Negeri Jerman berkata bahwa mereka yang berbahagia adalah mereka yang bisa melupakan apa saja yang tidak bisa mereka raih. Lalu aku belajar melupakan. Ajaran agamaku, Islam mengatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah bersyukur. Lalu aku belajar mensyukuri selalu hingga nanti aku mati. Karena tiada yang tahu prihal umur. Semoga kesadaran penuh dan dalam tentang makna kebebasan dan tanggung jawab bisa aku pahami dan jalankan disisa umur ku kedepan. Amin. Karena aku hanya ingin hidup tenang dengan mereka yang aku sayangi, iya kamu dan mereka.

Ebas
Malam ini dingin karena hujan.

Read more »

12.10.2011

Rundown Raung


NAMA KEGIATAN:
Tamasya Raung Kita

RUTE JALUR:
Naek (in) : Jalur Kalibaru
Turun (out) : Jalur Kalibaru
Kalibaru adalah sebuah kecamatan di Banyuwangi yang menjadi salah satu lokasi pintu masuk pendakian Raung, disini ada Posko REGASSPALA, KPA yang dua orang personilnya akan menemani pendakian kita, mereka yang sudah begitu paham mengenai medan jalur utara sampai menghantarkan ke Puncak Sejati

Transport: Kereta Ekonomi Matarmaja
Tujuan: Stasiun Kotabaru Malang

WAKTU KEGIATAN:
16-21 Desember 2011

Note:
Ditanggal keberangkatan, tim akan berangkat menjadi tiga titik sebar: Stasiun Senen (3), Stasiun Bekasi (4) dan Kalibaru (1). Masing-masing harus stand by jangan telat, apalagi ketinggalan kereta, usahakan 30 menit sebelum kereta masuk, sudah siap di peron.

PESERTA KEGIATAN:
Bange
Ichank
Tople
Pujo
Kubil
Willy
Poski
Ebas

PERIZINAN:
Perizinan Gunung Raung menurut informasi bisa dibilang sederhana, siapkan fotokopi KTP dan dari tim kita akan disiapkan surat perizinan oleh Sobat Bange yang akan ditujukan ke Kecamatan, Desa, Polsek dan Koramil yang berada di Kalibaru, penyampaiannya akan dibantu oleh REGASSPALA, sudah dikoordinasikan. Kemungkinan tetap ada biaya administrasi, namun tidak terlalu material dan ditanggung kelompok.

PERLENGKAPAN DAN PERALATAN PRIBADI:
Headlamp dan baterai cadangan minimal dua
Sleeping Bag
Peralatan Makan (sendok, gelas dan piring)
Geter
Peralatan Mandi (sikat gigi, sabun)
Matras
Drigen ukuran 5Lt
Sepatu Gunung/Sendal
Kaos Kaki (Bawa secukupnya)
Pakaian ganti secukupnya
Sarung Tangan
Kupluk/Topi
Jas Hujan (boleh model Ponco atau setelan)
Korek Api

PERLENGKAPAN DAN PERALATAN KELOMPOK
Carrier, cukup 5 saja yang bawa supaya bisa gantian, selebihnya daypack
Daypack, 3 orang bawa daypack yaitu: Tople, Poski dan Pujo
Tenda, kita bawa 2 disiapkan oleh Bange, 1 tenda solo juga dibawa oleh Willy
Kompor dan nesting, bawa masing-masing 2 oleh Ichank dan Bange
Golok, bawa 3 oleh Tople, Ichank dan Poski
Webing, kita usahakan sampai 100 meter lebih kalau bisa, sejauh ini sudah ada 60meter oleh Bange, Ichank dan Poski
Karabiner, bawa 4. Masing-masing kita usahain bawa 1.

Note:
Untuk Webing, masih kurang banget jadi tolong masing2 usahain juga ya supaya aman.

LOGISTIK KELOMPOK:
Gas 5 tabung
Kopi + Susu
Roti Tawar
Telor
Ikan Teri+ Kacang
Sayur Bumbu
Sambal Masak
Bumbu Masak
Kornet
Buah-buahan Kaleng
Minuman Kemenangan
Snack
Coklat
P3K Kelompok

note:
Logistik kelompok dibeli di Kalibaru dengan sumber dana dari iuran tim, termasuk unsur dari total dana yang dibutuhkan

LOGISTIK PRIBADI:
Beras setiap orang bawa, diisikan ke 1 botol aqua 600mL.
Obat-obatan Pribadi

RUNDOWN KEGIATAN
Hari I
Jumat, 16 Desember 2011

13.00- 13.30: Kumpul di stasiun Senen, dekat ATM Center.
13.30- 14.00: masuk ke peron, siap berangkat menuju Malang Kotabaru.

Hari II
Sabtu, 17 Desember 2011

07.00- 08.00: Tiba di Stasiun Kotabaru Malang, istirahat dan sarapan pagi.
08.00- 08.30: Menuju terminal Arjosar Malangi untuk cari Bis ke Banyuwangi (Kalibaru)
09.00- 14.30: Perjalanan ke Kalibaru
14.30- 15.00: Tiba di Kalibaru, ke Basecamp REGASSPALA, mengurus perijinan, makan siang.
15.00- 16.00: Belanja Logistik di Kalibaru
17.00- 19.00: bermalam di Posko REGASSPALA*)

Hari III
Minggu, 18 Desember 2011

05.30- 06.00: Bangun pagi, sarapan
06.00- 07.00: Packing dan Check alat, bersiap berangkat
07.00- 08.00: Perjalanan ke Desa Terakhir. Naek Ojek.
08.15- 09.15: Tiba di Pos I, mempersiapkan air, sumber mata air terakhir.
09.15- 12.30: Tiba di Pos II (Semar), istirahat, sholat, makan snack ringan
12.30- 14.30: Tiba di Pos III (Petro), istirahat makan snack ringan
14.30- 20.00: Tiba di Pos IV (Bagong), nge-camp disini untuk summit

Hari IV
Senin, 19 Desember 2011

05.30- 07.00: Sholat, bangun pagi, sarapan dan summit
07.00- 09.00: Tiba di Puncak Sejati, Raung.
09.00- 10.00: Santai di Puncak, istirahat, enjoy the moment
10.00- 12.00: Tiba di Pos IV, sholat, makan siang dan berkemas untuk turun.
12.00- 16.00: Tiba di Pos III, istirahat makan snack ringan.
16.00- 18.00: Tiba di Pos II, istirahat makan snack ringan.
18.00- 20.00: Tiba di Pos I, istirahat, makan malam dan lanjut naek ojek.
21.00- 22.00: Tiba di Posko REGASSPALA, istirahat, tidur.

Hari V
Selasa, 20 Desember 2011

08.00- 13.00: Perjalanan Banyuwangi- Malang
13.00- 13.30: Berangkat ke Jakarta dari Malang, Matarmaja

Hari VI:
Rabu, 21 Desember 2011

07.30- 08.00: Tiba di Jakarta, kembali beraktivitas.

BIAYA-BIAYA:

1. Kontribusi Buat REGASSPALA:
Rp 50.000 x 8 orang hari= Rp 400.000 (Rp 50.000/orang)

2. Transportasi:

Kereta Matarmaja: Jakarta- Malang: Rp 50.000
Kereta Matarmaja: Malang- Jakarta: Rp.40.000
Ongkos Bis Malang- Kalibaru: Rp 45.000 x 2
Ongkos Ojek Basecamp- Pos I: Rp 30.000 x 2
Ongkos Kotabaru - Terminal Arjosari: Rp 5.000 x 2
REGASSPALA: Rp50.000 (sebagai tanda terima kasih kita, mereka tidak pernah minta)
Konsumsi Kelompok: Rp.50.000
Estimasi Biaya/orang: Rp 350.000 (estimasi mark-up)

RENUNGAN:

Dalam pendakian ini, kita adalah tim, dan kita harus saling menjaga dan membantu bila diperlukan dan jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan. Harus sigap dan siap setiap saat karena alam/gunung bisa berubah dalam hitungan detik, ia tak selamanya bersahabat dan tidak bisa memahami kekurangan kita. Lagipula kata banyak orang bijak: Bukan gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri. sadaapppphh sok tua banget guaa.. udahh yaa :D. Bismillah!! Semangat Raung!!! Berang2 Makan Cucut!! Berangcut!

Read more »

12.07.2011

Memaknai Kelulusan


Akhirnya aku lulus, hampir sebulan aku menunggu kabar ini, lega rasanya karena bisa juga aku lewati semester terakhir sekaligus semester yang menurutku berat diantara 3 semester lainnya.Berat, karena semua mata kuliahnya sangat teknis dan praktikal. Alhamdulillah, ini artinya sudah mau selesai statusku sebagai Mahasiswa Tugas Belajar, tinggal menunggu yudisium akhir bulan ini dan harus segera dikembalikan ke kantor baru. Entah dimana, hanya Tuhan yang tahu.

Pagi ini sambil duduk menghadap laptop, diluar sana udara dingin sisa hujan tadi malam masih sangat terasa sementara didalam sini dikepalaku semua scene hari demi hari selama dua tahun ini melintas cepat terasa enggan untuk singgah. Ya sudahlah, memang kita tak akan mampu menahan waktu sebab ia akan terus berjalan tanpa mau menunggu tanpa mau tahu. Dan demi apapun, tahun depan aku harus sudah melangkah pergi dari kampus ini menuju tempat dimana aku diharapkan, setelah memegang selembar surat keterangan yang memberi keterangan bahwa aku lulus sehingga siap dinaikkan pangkatnya, kemudian take-home-pay nya, atau malah sedikit saja status sosialnya.

Harusnya aku bahagia atau setidaknya mengembangkan senyum sumringah kepada nasib saat ini, namun aku manusia yang dikaruniai otak dan hati, dan tidak mau terjebak dalam kepasrahan terselubung dalam kemasan kenyamanan hidup. Kudapati banyak orang melewati periode indoktrinasi pendidikan secara ekstrim baik dan lupa untuk membebaskan kreatifitas dan imajinasi walau sedikit saja agar berani mengemukakan perbedaan pendapat, hanya demi dianggap patuh atau demi mendapat nilai yang baik.

Ada kegelisahan yang tidak bisa aku pungkiri, semacam ekspresi kekecewaan kepada lingkungan yang 'pragmatis' dan 'oportunis', berada bersama keduanya membuatku merasa tidak nyaman dan makin menjadi tidak nyaman karena tahu bahwa aku tidak akan bisa berbuat apapun untuk mengubah keadaan itu. Akhirnya aku cuma bisa berdamai dengan keadaan. Lalu berbesar hati dan Ya sudahlah. Aku hanya mulai berpikir bahwa aku harus mampu bertahan dengan prinsip ku sendiri ketika harus terus menjalani fase pendidikan kedepan. Berani mengambil resiko walau harus menjadi berbeda dengan orang kebanyakan. Karena yang kucari bukan nilai, pangkat atau uang. Namun kesempatan untuk mengembangkan diri walau setitik demi setitik setiap harinya.

Ebas
Diantara kamar yang berantakan

Read more »

12.04.2011

Dinamika DINAMIKA 2011


Selamat datang Kawan, Salam kenal Sahabat
Bersama menjemput pengetahuan di kampus kita tercinta
Jangan patah semangat, mari bulatkan tekad
Demi raih prestasi meski rintangan kan slalu menghadang

(Penggalan Lirik Jingle DINAMIKA 2011, by: Mia Putri Melani)

Hanya Tuhan yang tahu kebingungan dan kekhawatiran ku waktu diserahi amanah menjadi ketua panitia DINAMIKA 2011. Kala itu Oktober kemarin aku sudah memutuskan untuk maju saja mendaftarkan diri untuk posisi Ketua Panitia, bermodal grand design seadanya yang aku tulis sampai bergadang menjelang pagi dan sedikit keberanian untuk mengikuti interview namun bagaimanapun entah mengapa aku pikir ini jadi semacam Blessing in Disguise akibat pembawaan ku yang kurang mampu membedakan makna nekad dan berani. Dan kemudian, Tuhan memberikan jalan kemudahan, kehadiran para rekan yang bersedia mengikuti serangkaian proses rekruitmen sampai akhirnya bergabung menjadi panitia makin memantapkan langkah, dan roda kepanitiaan mulai berjalan, makin lama makin cepat karena dikejar waktu.

Lalu hari hari selanjutnya adalah tentang menjalani konsekuensi dari komitmen, tanpa ada kata tanya atau ragu-ragu lagi. Karena komitmen bukan tentang eksistensi tapi dedikasi dan kontribusi. Aku bersyukur ada bersama para rekan yang sadar penuh tentang sebuah tanggung jawab. Kala harus rapat berjam- jam meski dilanda lelah dan kantuk tidak lagi jadi soal atau ketika harus berat menyiapkan hal- hal kecil demi kelancaran esok hari. Jangan tanya lagi tentang siapa diatas siapa, karena bagai berenang yang mulai lelah tidak ada jalan lain selain terus maju jika tidak ingin tenggelam. Sementara ombak di belakang siap menyeret kembali perenang ke daratan. Kalau ada kata yang lebih tinggi maknanya dari 'terima kasih' tentu akan aku pakai untuk mengapresiasi semua itu.

Ada begitu banyak yang bisa kuceritakan. Namun singkat saja jadi dua kata: Aku bersyukur. Pengalaman selama satu bulan terakhir ini menjadi hal mendalam yang tak bisa dilupakan. Aku menyadari makna penting untuk berbesar hati, memaklumi dan belajar diam jika belum mampu memberi solusi. Dan apa lagi ya? Ah, mungkin kita semua memulai ini dari pameo sederhana bahwa hal baik lakukan saja sepanjang niatnya baik maka insyaALLAH ada saja jalannya. Sampai akhirnya kemarin waktu penutupan DINAMIKA 2011. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu bagaimana akumulasi semua sensasi keluar dalam bentuk mata yang berkaca-kaca bahkan pecah jadi air mata. Bersujud syukur atas semua kelancaran yang diberikan. Akhirnya kerja keras setiap kita dalam panitia terbayar dengan euforia gembira para Mahasiswa /Mahasiswi baru dalam momentum sore kemarin, 03 Desember 2011, diantara baliho besar penyambutan mereka dan bunyi letupan kecil kovayet yang melemparkan serpihan kertas warna warni.

Kemudian hari ini mulai terasa berbeda lantaran, semua scene yang pernah ada di hari- hari kemarin sudah habis masanya dan harus tergantikan dengan kesadaran bahwa waktu akan terus berjalan, tanggung jawab baru lainnya harus segera dihadapi dan diselesaikan, dan cukuplah hari kemarin menjadi sejarah yang sarat dengan pelajaran. Aku kira tidak ada waktu yang cukup lagi untuk turun kedalam emosi karena amanah sebagai pribadi dan bagian dari suatu entitas harus segera diselesaikan, termasuk menyusun Laporan Pertanggungjawaban DINAMIKA 2011 yang harus sudah jatuh tempo 24 Desember hingga 10 Januari nanti. Mungkin DINAMIKA 2011 ini adalah salah satu rangkaian penutup tahun selain mendaki Gunung Raung yang akan aku lakukan dua minggu lagi. Bismillah..

Ebas
Ah, baru sadar masa kontrak kamar kos ini akan segera habis. Mari berkemas.

Read more »

11.19.2011

Bukan Sekedar Mendengar


Aku cukup sering melihat atau terlibat dalam suatu pembicaraan yang kedua pihak sama- sama ingin terus bicara, tak ada jeda untuk mendengar, apalagi memahami. Yang susah adalah kalau bertemu lawan bicara yang bersikeras walau sudah diberitahukan seperti apa seharusnya. Ujung- ujungnya, dengan terpaksa mengalah, capek kalau diteruskan. Lebih gawat lagi kalau sampai emosi alias marah. Bisa jadi lebih tidak berguna lagi.

Aku kira mungkin di titik ini adalah tanda bahwa aku sebaiknya belajar lebih banyak untuk mendengar, bukan sekedar mendengar, tp mendengar untuk memahami agar bisa melihat suatu hal dari sisi lain, lalu memutuskannya dengan benar. Bukan baik, karena kebenaran insyaALLAH baik, tapi kebaikan tidak selalu benar.

Banyak mendengar memang seperti terlihat tidak menguasai pembicaraan, namun jika sekiranya lebih banyak bicara akan menunjukkan ke-tidak-mengerti-an tentang topik bahasan, maka lebih arif untuk mendengar saja, supaya informasi yang kita terima lebih banyak dan menuntun pada kesadaran bahwa ada hal yang mungkin terlewat atau belum dipahami. Bahaya kalau terus-terusan bicara tanpa tahu inti atau tema utama yang dibicarakan. Diam untuk saat saat seperti ini memang akan lebih menjadi emas.

Introspeksi diri sepertinya bisa jadi jawaban, mengetahui dan mencoba memahami poin yang belum dipahami agar pembicaraan menjadi lebih terarah dengan realistis dan objektif, singkatnya seperti menjauhkan diri dari debat kusir yang tak kunjung usai. Keahlian mendengar sepertinya menjadi suatu keahlian yang tidak dianggap penting padahal begitu besar menfaatnya dalam pergaulan atau hubungan sosial. Mungkin memang kita lebih baik banyak mendengar daripada bicara karena bisa jadi itulah maksud Tuhan menciptakan dua telinga dan hanya 1 mulut. Dan disaat sudah mengetahui kebenaran suatu hal maka sikap diam saja saat perdebatan sengit atas hal itu, tentu tidak akan menjadi emas.

Ebas
Diantara
Deru Kipas Angin
Detak Jam Dinding

Read more »

11.18.2011

Take It or Leave It!


Ada dua genre besar pertunjukkan yang biasa dipertontonkan dalam panggung kehidupan, yaitu kebaikan dan keburukan. Tentu saja keduanya memiliki nilai pengajaran yang sama berharganya, yang berbeda adalah dalam hal penyampaiannya saja. Dan sepertinya mereka yang mendapat pengajaran melalui kejadian-kejadian baik, disampaikan oleh orang-orang yang dipandang baik adalah orang yang beruntung karena tidak perlu mengalami pergolakan batin, atau semacam keraguan, untuk menerima nilai pengajaran yang berharga itu tadi.

Tapi itu tidak terjadi bila mendapati pengajaran melalui kejadian yang buruk, melawan norma bahkan ditentang agama atau melalui orang-orang yang sepertinya bukan orang baik-baik, entah karena kesan sekilas, gaya bicara atau laku sehari-hari. Karena tantangan berat pertama yang harus dihadapi adalah bersabar untuk tidak buru-buru menghakimi petuah sang kawan tersebut. Sebab bisa jadi aku lupa, bahwa bukan masalah siapa yang menyampaikan tapi apa yang disampaikan.

Bila bertemu hal demikian maka memang bukanlah keteladanan yang sedang mereka tunjukkan, nilai pengajarannya sendiri aku rasa tidak mudah bahkan untuk sekedar dilihat sekalipun, jadi apalagi untuk diambil hikmahnya. Mungkin kejernihan berpikir dan kelapangan untuk menerima akan dapat mempermudah untuk menerima nilai pengajarannya mulai dari yang paling sederhana, yaitu: Belajar hal baik dari hal buruk, dengan melihat konsekuensi keburukan yang dialami sang tokoh yang telah memberi pengajaran kepada kita.

Aku mulai bertanya-tanya, mungkin mereka sengaja dikirim Tuhan untuk dipertemukan dengan ku dalam satu garis takdir kehidupan, entah apapun rencanaNYA. Mungkin inilah yang terbaik. Tidak patut kemudian mereka dibenci atau dijauhi karena mereka adalah guru yang memberi pengajaran tanpa mereka sadari. Lagi pula hanya Tuhan yang tahu seberapa bagus diri kita ini. Tanpa mereka mungkin masa depan ku tidak akan kaya dengan nilai yang menguatkan mental dan kebijaksanaan, kemudian kehidupan ku tidak akan pernah sama dengan kini. Lagi, lagi mungkin inilah yang terbaik. And the choice lies in me to make how this thing will turn out. Bismillah.

Ebas
Bintaro Pagi ini.

Read more »

11.11.2011

Wae Wa E O (Kita Bisa)


Walau negeriku ini sudah carut marut sama kasus korupsi dan kisruh politik. Tapi rupanya masih mampu menyajikan pesta pembukaan Sea Games dengan meriah dan gegap gempita. Sehingga membuat negeri tetangga patut aku kira angkat topi dan membuka sebelah matanya agar tidak lagi memandang sebelah mata. Karena nyatanya Indonesia juga mampu menggelar perhelatan akbar dengan pembukaan yang menyemarakkan langit kota Palembang. Dan untuk itu aku bangga menjadi pemuda Indonesia, semoga kamu dan kita semua akan selalu begitu.

Banyak yang membuat perhelatan ini menjadi semarak, selain event Olah Raga itu sendiri, coba cermati lagu resmi dan video klipnya yang berjudul Wae Wa E O (Kita Bisa), ciptaan Yovie Widianto yang dinyanyikan oleh Yovie dan teman-teman. Pemain video klipnya menunjukkan wajah ceria dan optimis dan yang aku paling suka itu intro nya yang menunjukkan atlet dari Timur Indonesia, dengan iringan aransemen yang khas Indonesia yang timur. Jelas nian tersirat pesta olah raga ini menjadi kesempatan untuk menyatukan negeri ini dari Barat ke Timur. Apalagi dengan maskot Modo Modi ciri Nusa Tenggara.

Andai olah raga adalah agama mungkin sudah banyak yang jadi penganutnya, lihat saja betapa mudahnya kita menjadi damai dan bersatu karenanya seolah lupa dengan kisruh para oknum pejabat negeri ini lantaran seputar urusan politik. Kita mungkin sudah lama bosan memberi sadar mereka bahwa masih banyak yang perlu diurus sebetulnya, jadi lebih baik kita alihkan sejenak perhatian kita untuk mendukung negeri ini agar para atletnya mampu memberi usaha terbaik pantang menyerah sampai titik penghabisan. Lalu kita nikmati kebersamaan karenanya, bergendengan tangan menuju mimpi yang sama.

Merubah negeri ini hanya bagai mimpi jika tidak didahului perubahan diri sendiri. Dan aku pun begitu, sebaiknya aku harus selalu ingat kenyataan bahwa kita berbeda dalam banyak hal, namun sama dalam Indonesia. Walau perhelatan ini akan lewat sebagai euforia sesaat tapi setidaknya, lebih baik kita tidak kehilangan momentum untuk bersatu dalam satu irama, menunjukkan kepada dunia bahwa Kita Bisa. Agar mereka tahu bahwa masih ada yang mampu menyatukan kita walau ditengah tanda tanya akan kepedulian para oknum pembesar negeri tentang nasib yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Olah Raga dan Seni. Mohon kiranya dua gula itu tidak ditetesi empedu kisruh politik lagi, karena disitulah kami tertawa dan gembira.

Wae Wa E O.

Ebas
Bintaro Malam ini.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

11.08.2011

Lantai Tiga Pagi Ini


Hari ini aku ujian terakhir tingkat tiga, sudah masuk hari ketiga ruanganya dilantai tiga dengan posisi di deret ketiga. Entah apa salah si angka Tiga sampai harus aku ulang berulang ulang sampai bosan mengulang, lalu apa lagi ini salah si Ulang sampai harus aku ulang- ulang lagi berulang- ulang. Ah sudahlah. Tapi pagi ini tidak seperti hari sebelumnya, aku sudah diruangan beberapa belas menit sebelum, lain hal kemarin waktu aku tergopoh-gopoh menaiki tangga karena sudah mepet waktu. Sebuah kemajuan.

Begitu sampai aku duduk dan melepas pandangan menembus dinding ruangan berkaca yang bukan karena tingginya ia jadi istimewa, tapi pas saja menghadap ke jalanan Bintaro Utama, masih pagi jadi nampak sekali terlihat geliat kehidupan disini baru mau mulai. Diluar sana cuaca seperti masih dingin lembap, asik kalau dibawa tidur aku kira. Satu dua mobil melintas tidak memberi takut seorang Ibu yang menggandeng anaknya melenggang menyebrang jalan, mungkin mau mengantar ke sekolah. Putih Merah seragam sang anak aku lihat.

Barisan ruko yang memagarai kompleks perumahan dibelakang bagai masih malas saja tuk menyambut aktivitas pagi ini. Berdiri kokoh tapi dingin, enggan untuk beringsut walau cuma sejengkal, tapi aku suka melihatnya, dalam tenang, ada sepi kemudian menenangkan. Apalagi kalau langit sedang cerah, sepertinya kalau tidak salah lihat ada gunung jauh menjulang di ujung belakang nya. Kata kawan ku itu Gunung Salak, entah mana yang benar, karena semula aku kira itu Gunung Gede atau Pangrango. Aha! Mungkin aku saja yang sedang merindu turun ke rimba. Desember ini memang ada rencana mau ke Raung, andai Desember bisa datang lebih cepat. Seperti orang gila saja. Haha!

Dari tempat yang sama, bisa dengan jelas terlihat dua tiga mahasiswi berjalan santai memasuki gerbang kampus sambil kedua tangan mensedekapi buku Akuntansi tebal didada, mungkin adik kelas. Tapi sesaat kulihat didepan aku lihat ada keberuntungan. Pengawas ujian hari ini cantik, lebih cantik dari hari yang sudah-sudah. Dan ah, ternyata ujian sudah mau dimulai. Semoga besok pengawas yang sama datang lagi. Duduk sekitar hampir 3 jam didepan memberi awas gerak gerik pengadu nasib di lantai tiga seperti pagi ini.

Ebas
Sudut Kamar

Read more »

10.29.2011

Move On


Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini aku suka dengan kata "Move On" ini. Pertama dengar waktu kawan satu kelas ada yang lagi down karena satu hal, kemudian kawan yang lain memberi masukan dengan kata-kata ini. Terus waktu di kampus dua hari lalu dapat sms undangan datang ke Conversation Club dengan tema bahasannya Move On. Sebuah kebetulan? Only God knows.

Setiap scene perjalanan hidup ini pasti pernah bertemu dengan suatu peristiwa, momen yang memberi pengalaman emosi yang baru, mungkin sama saja sebetulnya karena berkutat dengan emosi buruk atau baik, tapi ada pembaruan yang mematangkan jiwa dan pola pikir, tapi dengan catatan jika ada keberanian untuk lanjut melangkah, sebab terlalu lama melambung dengan kegembiraan akan membuat lupa dengan tanggung jawab yang sebenarnya, dan terlalu lama tenggelam dalam duka akan mengikis rasa syukur.

Momen atau peristiwa itu memang tidak bisa dihindari tapi bukan berarti tidak bisa ditinggalkan. Move on adalah kuncinya. Move on saja jangan terlalu peduli, perkara nanti lihat saja bagaimana nanti, yang penting hari kemarin harus berani untuk ditinggalkan. Karena tanggung jawab di hari esok sudah menanti. Ah, aku bagai sudah dewasa dan matang saja menulis demikian ini. Tapi memang nyatanya setiap kita pernah menjalani pengalaman, dan punya cara sendiri-sendiri untuk mengambil pelajaran dan membuatnya sebagai peringatan yang keras lagi kuat.

Seperti Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari Mekkah ke Madinah, disana beliau dan kaum Muhajirin melanjutkan hidup (Move On) dan meninggalkan semua kenangan semasa hidup sejak dahulu demi hidup yang lebih tenang dan lebih baik di Madinah sana. Hanya dengan Move On, maka Nabi Muhammad SAW dapat melanjutkan dakwah yang merupakan tugas yang lebih utama yang menanti untuk ditunaikan. Aku kira begitu juga setiap kita, mungkin dengan Move On apa yang menjadi tugas utama akan dapat terlaksana dengan lebih baik, lebih tepat sasaran dan tidak sia-sia. Die for something is better than life for nothing.

Ebas,
Bintaro, siang ini.

Read more »

10.28.2011

Gracias a Dios.


Jujur saja aku sepertinya belum terlalu baik dalam membedakan berani dengan nekad, sebab bagi ku keduanya sama berarti melangkah maju tanpa tahu apa yang akan terjadi didepan, dengan menjawab pertanyaan 'bagaimana nanti?' dengan kalimat 'kita lihat nanti!'. Terdengar naif namun memang itu yang terjadi, mungkin seperti tidak paham antara beda keinginan dengan emosi sesaat, yang akhirnya membuat sesuatu menjadi tidak tuntas, bahaya sekali ini aku kira. Sampai kapan aku terus seperti ini? Tidak boleh berlama- lama lagi!

Melalui chat room, seorang teman pernah memberi jawaban ketika aku pernah suatu kali mengeluh tentang amanah yang dulu dengan yakinnya aku ambil. Ia hanya berkata bahwa karena aku telah mengambilnya maka aku harus menyelesaikannya dan bertanggung jawab atasnya, bukankah sebelumnya sudah aku sudah beri tahu diriku sendiri mengenai resiko pribadi dan psikologis yang akan aku hadapi nantinya? Akhirnya, tidak ada pilihan lain selain menyelesaikannya. Dan kini sudah 10 bulan aku menjalankan amanah ini, seperti ada rasa lega bahwa tanggung jawab ini akan berakhir 1 bulan lagi dan rasa syukur bahwa ternyata akhirnya bisa aku selesaikan.

Amanah yang aku maksud adalah memegang tanggung jawab sebagai Ketua Angkatan, tidak mudah, sama sekali tidak mudah, bagian yang terberat adalah bagaimana mengenali dan mengendalikan diri sendiri supaya dapat tampil lebih baik dalam melayani orang lain, yang notabene selalu aku persepsikan sebagai tugas pokok sebuah kepemimpinan yaitu melayani kepentingan orang lain, mendahulukannya diatas kepentingan pribadi, walau harus menjadi yang terakhir yang penting tugas dapat terlaksana. Dan dapat mempertanggung jawabkannya di pengadilan Tuhan yang maha adil, di akhirat kelak.

Pernah aku sekali waktu terpikir untuk mundur namun motivasi ku sejak awal untuk dapat melakukan kebaikan lebih banyak membuat aku bertahan walau berat tapi selalu aku coba sanggupkan diri. Semua ini tidak akan pernah dapat terjadi tanpa pertolongan Tuhan yang memberi kekuatan dan kemudahan melalui kehadiran banyak rekan dan berbagai pihak hingga pertolongan demi pertolongaNYA datang disaat yang tepat. Aku kira semua ini telah menjadi pembelajaran buat ku dalam mengambil langkah ke depan untuk berani maju mengambil tanggung jawab walau hanya didasari dengan niat baik lalu aku coba putuskan dengan bijak dan aku jalankan dengan berani, selebihnya aku serahkan pada Tuhan yang maha menentukan hasil dan maha tahu apapun yang terbaik.

Read more »

10.25.2011

Vamos Pronto!


Aku buka twitter sore tadi, begitu lihat timeline, seorang teman SMA dulu me retweet sebuah tweet dari akun yang aku kenal, dan isi tweetnya membuat aku merasa sensasi sore ini beda, bukan sekedar sore dengan hujan yang biasa dingin namun pikiran serta sudut pandang yang baru, walau tidak baru sekali karena seringkali terlupa.

RT@xxxxx: Jngn pernah meremehkan dirimu. Tuhan memberikanmu hidup bkn krena kamu membutuhkannya, tapi karena seseorang membutuhkanmu.

Begitulah isi tweet yang aku maksud, aku tersenyum dalam hati membacanya, senyum senang karena aku mulai merasa tidak sia-sia hidup ini, aku tahu bahwa tweet itu bukan kutipan ayat suci sehingga kebenarannya masih perlu dipertanyakan, namun buatku, dari mana kebenaran itu datang, tidaklah jadi soal, karena kebenaran itu selalu insyaALLAH baik.

Mungkin benar ada orang yang membutuhkanku sehingga aku diciptakan,dan mereka setidaknya membuat hidupku tidak sia-sia karena mungkin kini garis takdir tengah mempertemukan kami atau justru sudah lewat masa-masa itu tanpa disadari dan mungkin saja belum terjadi. Begitupun mungkin mengapa mereka diciptakan adalah karena aku membutuhkan mereka di suatu dimensi waktu yang mungkin tidak aku sadari telah terlewat atau mungkin tengah kulewati kini atau belum hingga nanti terjadi.

Dan aku kira patutlah aku ucapkan Terima Kasih, lalu dari sini sebagusnya aku harus bergerak atau move on menjalani hidup untuk mana tahu akan menjumpai orang-orang yang membutuhkan ku dan saat itu mana tahu aku pun pasti membutuhkan orang lain walau hanya sesaat atau berkelanjutan. Doakan aku harus pergi kalau begitu.

Read more »

10.24.2011

Merapi, Kali Ini.


Akhirnya tercapai juga keinginan mendaki gunung di Jawa Tengah. Merapi, kali ini. Alhamdulillah walau agak gentar kalau aku ingat erupsi nya yang masih baru dalam hitungan tahun, sampai juga ke puncaknya yang pekat belerangnya dan panas uapnya, 2911 mdpl lewat jalur Selo, Semarang.

Akhir pekan ini, 21-23 Oktober aku ikut serta dengan 23 orang yang dikoordinir oleh Lisna (temen sependakian Semeru dan Ciremai beberapa waktu lalu) merapat ke Merapi, beberapa orang dari kami berangkat dari Stasiun Senen menumpang Kereta Tawang Jaya tujuan Stasiun Semarang Poncol, selebihnya naik dari Stasiun Bekasi dan 1 orang di Terminal Terboyo, Semarang. Kereta Ekonomi yang kami tumpangi lebih tertib, tidak berjejalan dan tidak ada yang berdiri.

Berangkat dari Jakarta pukul 21.30 malam kami sampai di Semarang pukul 06.00 pagi waktu setempat, istirahat sejenak dan sarapan pagi di warung makan keluar stasiun (tapi menurutku kurang recommended karena harganya mahal untuk ukuran wilayah Jawa yang sering aku dengar murah biaya makan). Sekilas aku perhatikan Semarang memang khas, dibeberapa titik banyak bangunan yang masing sangat khas era Belanda-nya, wajar kalau sempat dijadikan salah satu lokasi syuting SHG 6 tahun lalu.

Perjalanan lanjut menuju Terminal Terboyo, untuk transit menuju Boyolali sekaligus menjemput Bang Jainer Hasudungan (anggota tim berangkat dari stasiun kereta Api Cirebon). Kemudian dengan menumpang Bis Ekonomi non-AC kami total 23 orang menuju Boyolali, perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam, melintasi beberapa daerah yang sering aku dengar salah satunya : Salatiga. Sekitar siang pukul 10 pagi kami sudah tiba di Terminal Boyolali, setelah berbenah diri sejenak perjalanan lanjut kembali dengan menumpang angkutan 3/4 tipe ELF jurusan Selo yang langsung akan mengantarkan kami ke Base Camp pendakian Merapi.

Wilayah Selo itu ibarat kawasan Puncak, Selo Pass begitu warga sekitar menamainya, di akhir pekan menjadi ramai kunjungan wisatawan untuk menikmati pemandangan dari ketinggian yang langsung mengadap ke Gunung Merbabu. Kurang lebih 1 jam kemudian kami tiba di Pos Pendaftaran pendakian, dan setelah hampir 2 jam istirahat dan persiapan kamipun mulai mendaki.


Pendakian dimulai dengan melintasi jalur aspal sebagai pembuka, namun terbilang tinggi juga tanjakannya. Sampai kemudian mulai memasuki area perkebunan warga. Aku agak terkejut secara fisik dengan medan kali ini, walau sudah masuk ke area perkebunan sekalipun, tidak banyak ditemui kawasan hutan pepohonan menahun yang biasanya membuat trekking tidak terlalu panas, yang ada hanya pepohonan perdu begitu terus sampai ke perbatasan vegetasi.

Ini membuat aklimatisasi tubuhku agak lambat, jantung berdegup kencang dan cepat namun beberapa kali aku paksakan untuk terus berjalan. Jalur yang ada memang cukup jelas namun banyak percabangan, semacam jalur yang baru dibuka. Menjelang magrib kami istirahat di tanah yang cukup datar, agak luas untuk Sholat dan bersantai. Dari sini, kami kembali mendaki dan masing-masing mulai menyalakan senter. Baru beberapa menit trekking tiba-tiba hujan cukup deras, mentalku agak gentar disini, mungkin karena sudah agak lama tidak mendaki bersamaan dengan hujan, terakhir tahun lalu, aku ingat betul itu, waktu ke Cikuray.

Tujuan kami adalah mendirikan tenda di pos terakhir, Pasar Bubrah. Hujan masih turun sementara angin justru bertiup makin kencang, ujian yang berat aku pikir, sudah mental sempat agak down kini fisik juga diserang, namun beginilah alam. Ketika sudah tiba di batas vegetasi kawasan batuan cadas, angin yang berhembus kian kencang,belum lagi kata seorang kawan berkata bahwa jalurnya sudah banyak berubah pasca erupsi, hopeless. Baru kali ini aku mendaki gunung yang untuk menuju ke pos terakhirnya saja seperti beratnya medan untuk menuju puncak, hanya bebetauan kering yang cukup curam. Aku pikir dalam hati: Bagaimana menuju puncaknya nanti??

Akhirnya setelah bersusah payah, kami tiba di Pos Pasar Bubrah, pos ini berupa dataran luas yang banyak bebatuan. Malam itu pukul 22.00 dan kami langsung mendirikan tenda, dibawah intimidasi angin malam Merapi yang dingin yang kencang, adalah sebuah pengalaman baru atau ujian baru, entahlah aku bingung juga, begitulah memang selalu ada kapok kalau sedang susahnya begitu, tapi kembali rindu kalau sudah usai begini, inilah katanya yang dinamakan candu.


Pagi kami sudah bangun, sudah agak terang suasana dari luar tenda. Aku mau keluar cuman rasanya malas, bagus di dalam tenda saja. Kalau ingat angin tadi malam rasanya sungkan untuk summit attack, terbayang kencang dan dinginnya pasti, namun setelah Sholat Subuh aku pakai baju empat lapis, celana dua lapis, kupluk dan kaos kaki dua lapis lalu keluar bergabung dengan tim yang akan menuju puncak. Setelah lengkap membawa logistik dan air minum kami bergerak, tapi tidak lupa berdoa, itu jangan lupa.

Kami mulai menapaki punggungan Merapi dari jalur yang murni bebatuan kerikil sebesar kepala bayi hingga medan dengan batuan karang sebesar bola kaki. Harus ekstra hati- hati agar pijakan yang salah tidak melongsorkan batuan tadi ke tim yang ada dibawah. Batuan yang keras bisa dijadikan pegangan namun hati-hati dengan batuan kapur yang rapuh, jangan salah ambil pegangan. Aku terus menapak satu dua hingga tiga langkah lalu istirahat menghela nafas sambil memperhatikan jalur didepan yang baik diambil.

Bersyukur medan berat yang dilewati tadi malam ternyata memberikan aku keyakinan dan kekuatan untuk bisa menuju puncak. Medan ke puncak memang lebih berat, lebih terjal dan lebih berbatu dibanding track terakhir menuju Pasar Bubrah hanya bedanya angin tidak sekencang tadi pagi, cuma kabut saja yang sering mengganggu pandangan. Tidak perlu pakai tali atau SRT untuk melewati medannya, namun harus pandai melihat mana jalur yang pas untuk dilewati dan minimum resikonya. Sekitar 2 jam mendaki puncak, akhir nya aku tiba juga, seperti biasa, aku sujud syukur dan menyadari aroma pekat belerang di Puncak ini sangat kuat dan memang sebaiknya harus segera turun, pemandangan di kawah sangat pekat kabutnya seperti mendidih saja mungkin. Sementara disisi lain, hamparan kota Semarang tampak kecil seujung kuku tidak berarti. Sungguh suatu anugrah bisa melihat dan menikmati ini semua.


Tidak ada pilihan lain jika sudah tiba dipuncak, kecuali turun. Begitu juga kalau sudah digunung. Kami mulai berangsur-angsur turun, namun hanya aku yang salah ambil jalur, maksud hati mau by pass tapi malah hampir terhempas di jalur berpasir kerikil yang rentan dilewati bebatuan yang jatuh dari atas. Nyawa taruhannya, untung dasar nasib umur masih panjang akhirnya sampai juga dibawah sambil berlari atau sandboarding
di jalur yang landai dan aku baru sadar bawah Pos Pasar Bubrah ini luas sekali, dan ada banyak tenda pendaki di sisi sisi yang lain. Dari Pasar Bubrah, Sindor- Sumbing dapat terlihat jelas (CMIIW) dan Merbabu juga tampak.

Begitu tiba di Pasar Bubrah, kami semua langsung repacking dan menyiapkan untuk segera turun kembali ke peradaban. Tentunya setelah makan siang dan merekam kebersamaan dalam gambar kenangan (singkatnya: berfoto), akhirnya 23 orang ini turun kembali karena dikejar jadwal kereta pukul 19.00. Meninggalkan Puncak Merapi dan Pasar Bubrah dengan kebisingan angin yang tenggelam dimakan hening bebatuan. Meninggalkan hembusan angin dingin yang tadi malam bergerak hebat mengarak awan mencerahkan sang mega menjadi biru terang kontras berlatar kepulan kawah sang Merapi.

Untuk 23 orang tim pendakian Merapi via Selo: (Mbak Wiwik, Arief, Uwi, Bang Jainer, Oblok, Lisna, Yuda, Bang Lukman, Oji, Ichank, Aconk, Kofle, Pak Lurah, Bange, Iyenk, Mbak Efi, Kang Erry, Dani, Harun, Kentung, Eddy. Terima kasih banyak untuk kebersamaannya dan aku tunggu kalau ada kabar mau mendaki lagi. :D

Ebas
Sudut Kamar.

Read more »

10.19.2011

Dinamika Sebuah DINAMIKA


PENGANTAR

DINAMIKA (Studi Perdana Memasuki Kampus) STAN dari tahun ke tahun terus mencari bentuk yang ideal dengan tema yang khas, memorable, dan aplikatif. Menurut saya ini wajar karena sebagai sebuah prosesi singkat tentu ada banyak usaha dan dinamika pemikiran untuk memaksimalkan waktu yang tersedia dalam menuju hasil yang diinginkan, sehingga apapun tema yang diangkat dan bagaimana pengejawantahannya harus lah berimbas pada pembentukan pribadi baru yang mencintai almamater dan berkepribadian paripurna (sosial, akademis, inisiatif) sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman yang makin kompetitif tanpa meninggalkan budaya ketimuran yang identik.

KONDISI KINI

Menanggapi tuntutan tersebut, maka akan muncul pertanyaan besar yaitu apakah dalam waktu singkat itu akan memicu munculnya pribadi paripurna yang diharapkan? Memang proses pembentukan sebuah kepribadian adalah proses panjang dan melibatkan banyak aspek. DINAMIKA adalah salah satu dari sekian banyak aspek itu, dan ekspektasi riil yang menjadi target utama adalah bagaimana DINAMIKA itu sendiri dapat menjadi kawah candradimuka para mahasiswa baru dalam memasuki arena yang lebih panjang lagi. Sehingga manakala mereka terjun ke lingkungan perkuliahan dan dunia kerja, setidaknya DINAMIKA sudah berhasil menanamkan gambaran nyata tentang dua aspek tersebut dan membuat mereka tahu bagaimana bersikap positif demi menjaga nama baik almamater dan tidak menciderai nilai nilai akademisi serta kemanusiaan. Sehingga ada dua tujuan yang hendak dicapai disini yaitu tujuan Akademis dan tujuan Sosial.

SEBUAH KONSEP

Para Mahasiswa/i Baru wajarnya dipandang sebagai sebuah investasi yang harus dirawat untuk jangka panjang, bukan hanya sebagai aset yang hanya difokuskan untuk habis dipakai tanpa diberdayakan, pemikiran seperti ini harus berlaku dua arah. DINAMIKA adalah salah satu jalan untuk menanamkan mindset ini kepada diri para mahasiswa/i baru melalui penugasan-penugasan yang bermuatan edukatif dan berlandaskan alasan yang logis mengenai tugas yang diberikan, supaya ada transfer nilai yang kooperatif dan meminimalisir kesan ‘perploncoan’. Artinya sudah saatnya jika para mahasiswa/i baru dilibatkan secara langsung dalam menentukan tugas yang hendak dikerjakan, yang bermula dari usulan panitia kemudian bisa ditanggapi oleh mahasiswa/i tersebut sepanjang menyertakan penjelasan yang rasional dan logis, karena panitia bukan Malaikat yang selalu benar dan mereka Mahasiswa/i baru juga bukan (maaf) Kerbau yang hanya menurut saja, pengkondisian semacam ini juga melatih keberanian mereka dalam mengemukakan pendapat dan bersikap kritis serta mengajarkan pada diri kita sendiri untuk terbuka menyikapi perbedaan pendapat.

Kampus sarat dengan pencarian dan kajian ilmiah sebagai tanda adanya geliat kehidupan akademis didalamnya, disini muncul sebuah tantangan yang kita tengah hadapi bersama yaitu dimana STAN sebagai kampus ‘birokrat’ juga harus mampu hadir sebagai ‘research center’ yang juga concern dengan pembahasan kritis mengenai suatu keilmuan, khususnya dibidang Ekonomi. DINAMIKA merupakan salah satu media untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menyajikan sebuah konsep yang mampu menanamkan nilai kepedulian akan ilmu pengetahuan kepada para mahasiswa/i baru. Bersyukur sebuah konsep dasar yang ditetapkan Badan Eksekutif Mahasiswa telah mengakomodir kebutuhan ini dengan menghadirkan sesi seminar wajib dan pilihan sesuai dengan preferensi. Poin yang perlu diperhatikan kembali adalah tolak ukur yang tepat untuk melihat sebuah potensi yang ada dari para mahasiswa baru, yaitu bagaimana respon mereka terhadap pembahasan dalam seminar tersebut mampu dituangkan dengan baik secara lisan ataupun tulisan untuk kemudian dibukukan menjadi sebuah dokumentasi atas nama angkatan mereka, hal ini tentunya akan memunculkan kebanggaan satu angkatan dan mendorong sebuah penghargaan yang menyadarkan potensi yang mereka miliki dan patut untuk dikembangkan.

Penugasan-penugasan serupa hal ini sangat penting untuk menanamkan sikap kritis dan berani berpendapat yang sangat berguna dalam dinamika dunia kampus atau dunia kerja. Tetapi ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan bahwa seorang manusia yang paripurna adalah ia yang tahu bagaimana bersikap dalam perannya sebagai anggota sosial masyarakat sehingga DINAMIKA harus menjadi sebuah kesempatan untuk menyadarkan para mahasiswa/i baru akan hal mendasar ini. DINAMIKA seyogyanya tidak hanya antara Panitia-Kampus-Mahasiwa/i, karena untuk mencapai tujuan sosialnya alangkah baiknya jika sejak dini dihadirkan sebuah pengkondisian bagi mahasiswa/i baru untuk turun ke lapangan kehidupan bermasyarakat yang membuat keberadaan mereka lebih bernilai ditengah lingkungan. Hal ini juga merupakan upaya kita untuk menjawab selentingan miring dari masyarakat akan apatisme mahasiswa/i STAN dengan lingkungan sekitarnya.

Konsep Ideal merupakan sebuah bentuk yang dianggap paling pas mengenai suatu atau beberapa hal yang muncul dari opini seseorang, setelah tadi saya coba memaparkan konsep dari sisi mahasiswa/i selaku pelaku aktif atau peserta. Kini, sisi lain yang ingin saya soroti adalah dari sisi panitia. Kepanitiaan dalam hal ini merupakan kerja sama yang sehat antara Lembaga dan Mahasiswa penyelenggara, keduanya harus saling mengawasi dan berkomunikasi dengan baik. Sekretariat bukan atasan dan Mahasiswa juga bukan anak emas yang dalam posisi harus dilayani. Keduanya harus berjalan dalam posisi saling mengawasi dan mengingatkan, sehebat apapun kreasi dan imajinasi mahasiswa penyelenggara dalam mengkonsep acara DINAMIKA ini, tentu perlu diperhatikan lewat monitoring yang baik dari pihak sekretariat, jadi ada semacam pengawalan langsung dari lembaga yang tentu saja berguna untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti campur tangan pihak lain yang tidak berkepentingan atau kendala lain yang bersifat birokrasi yang mengganggu kelancaran pelaksanaan acara.

Panitia dan lembaga dapat bekerja sama dengan membuat semacam ‘kontrak’ yang berisi kejelasan tugas, pokok dan fungsi masing-masing keduanya dan kejelasan secara langsung petugas yang saling in-charge didalamnya.

TANTANGAN DAN KESEMPATAN

Perlu ditegaskan bahwa tantangan utama dalam sebuah DINAMIKA adalah bagaimana merubah pola pikir dan sikap para mahasiswa/i baru dari dunia SMA ke dunia Kampus, namun untuk DINAMIKA kali ini justru lebih kompleks lagi yaitu bagaimana menanamkan nilai-nilai positif yang berguna di dunia kerja yang dalam waktu tidak lama akan mereka geluti. Dan yang perlu digaris bawahi disini adalah sebuah tugas pokok dari DINAMIKA itu sendiri yaitu membuka cakrawala, memberi arahan dan gambaran lalu menanamkan nilai positif yang berguna bagi mereka dalam jangka panjang, karena DINAMIKA ibarat sebuah kawah candradimuka. Keberadaan panitia penyelenggara yang semuanya berasal dari para mahasiswa/i tugas belajar adalah potensi untuk mendukung pencapaian tujuan itu melalui pembahasan yang matang mengenai pola koordinasi dan komunikasi antar panitia. Belum lagi mereka tentu akan menjadi tokoh-tokoh yang secara lebih matang memberikan informasi dan arahan kepada para mahasiswa/i baru yang membutuhkan asupan informasi awal yang jelas dan tepat mengenai dunia kerja dan dunia kampus.

Pelaksanaan DINAMIKA yang sukses tentu menjadi keinginan semua elemen kampus ini, dan tujuan yang ingin dicapai adalah hadirnya para generasi paripurna yang berjiwa sosial, berhasrat tinggi untuk mengembangkan diri dalam ranah keilmuan dan berinisiatif dalam berkontribusi di dunianya. Dan semua nilai-nilai tadi akan kita coba bersama tanamkan kepada mereka melalui sebuah studi perdana sebelum mereka menjalani aktivitas perkuliahan, sebuah prosesi yang kita sebut DINAMIKA dan tentu saja dengan segala dinamikanya.

DISCLAIMER

Konsep yang saya buat ini tentu membutuhkan masukan dan saran untuk menjadi lebih baik lagi untuk meminimalisir unsur subjektifitas yang tidak diperlukan. Karena saya sendiri sadar bahwa saya memiliki keterbatasan dan hanya mencoba memberikan yang terbaik yang saya bisa tanpa bermaksud menggurui atau merasa lebih baik.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

10.18.2011

La Indonesia Es No Pequeno


Hari ini aku mendengar tiga kabar yang sama diputar oleh 3 acara berita yang tidak sama. Tentang kisruh perbatasan RI-Malaysia, ini cerita lama yang timbul tenggelam pembahasannya, kadang panas namun mereda diam dan tiba-tiba meledak lagi. Indonesia ini memang tidak kecil. La Indonesia Es No Pequeno kalo kata orang Spanyol. Dan setiap pagarnya menjadi rentan konflik atau setidaknya menjadi leverage oleh bangsa tetangga dalam pertaruhan keutuhan dan kedaulatan negeri tercinta ini ketika kita lengah oleh caruk maruk urusan mereka yang kita titipi amanah untuk mengurus negeri.

Disebutkan juga tadi bahwa DPR mengadakan Sidang membahas konflik perbatasan ini, para pejabat seperti Menlu dan Menhan, sekilas ditampakkan ketika mereka berpoto bersama sesaat sebelum atau sesudah rapat dalam pakaian rapi khas pejabat. Aku penasaran tentang apa yang mereka bicarakan dalam rapat itu, atau lebih jauh lagi aku pengen tahu apakah mereka yang hadir dalam rapat itu sudah pernah melihat langsung turun ke lapangan lokasi perbatasan di tanah Kalimantan.

Banyak faktor yang memicu masalah perbatasan ini mengemuka, selain keadaan internal negara kita yang sedang sibuk dalam stabilisasi kehidupan politik sehingga ranah kesejahteraan publik kurang diperhatikan para petinggi negeri dan faktor eksternal dari negeri tetangga yang sudah lebih makmur sehingga terus berpikir bagaimana menjaga kemakmuran dan menambah sumber daya salah satunya dengan mempersengketakan batas yang mungkin sudah lama mereka incar melalui perawatan secara ilegal ketika kita lengah.

Masalah perbatasan ini muncul saat reshuffle sedang ramai dibahas, sepatutnya Presiden mempertimbangkan pejabat yang membawahi prihal ini untuk diganti dengan pejabat yang lebih concern, berani dan total tanpa kompromi dalam mengurusi urusan perbatasan negara karena menyangkut wibawa negeri di mata tetangga. Selain masalah kinerja ada hal lain yang memicu konflik perbatasan yaitu masalah tingkat kesejahteraan penduduk yang bermukim diwilayah pagar negara tersebut. Jangan bicara soal nasionalisme atau berharap mereka untuk tetap mencintai negeri ini jika mereka diabaikan sementara buaian kemakmuran dari negeri tetangga terus kencang merayu.

Ada ancaman yang terdengar naive dari seorang penduduk wilayah perbatasan Kalimantan- Serawak, Malaysia, bahwa ia mengancam untuk menggeser wilayah perbatasan jika pemerintah tidak memperhatikan keadaan mereka. Wajar memang, infrastruktur seperti yang diberitakan terlihat sangat minim bahkan untuk memasok logistik sehari-hari sekalipun sementara akses ke Malaysia justru lebih mudah sehingga penduduk setempat lebih cenderung ke Malaysia untuk belanja kebutuhan sehari-hari, bahkan isi dapur mereka banyak diisi produk Malaysia seperti minyak goreng atau beras. Mereka telah mulai berpikir realistis. Ancaman yang lebih bernada harap atas perbaikan nasib mereka.

Sementara di banyak titik pagar negeri ini, negeri tetangga mungkin telah banyak menanamkan jejak perawatan ilegal yang nanti bisa menjadi senjata ketika mempersengketakan prihal batas ini hingga terbawa ke Mahkamah Internasional. Didukung pula oleh dokumentasi arsip kepemilikan batas dan bukti keberadaan serta perawatan atas penguasaan wilayah tersebut maka wajar jika Mahkamah Internasional akan cenderung melepas wilayah tersebut dari RI ke negara lain. Sementara kita harusnya telah belajar dari kasus Sipadan dan Ligitan hampir 10 tahun silam.

Sudah harusnya memang para pejabat yang rapat membahas konflik wilayah perbatasan ini untuk turun (jika memang belum) dan merasai kehidupan di teras negeri ini bersama penduduk yang bahkan mungkin tidak pernah tahu apa itu arti reshuffle, Galaxy Tab, iPad, Blackberry, dll, yang belum kenal siapa itu Nazaruddin dan Gayus Tambunan atau yang lebih paham dengan mata uang Ringgit ketimbang Rupiah. Namun jika sudah mungkin perlu dirasa sesekali menginap dan mendengarkan cerita mereka yang hidup di perbatasan mengenai sulitnya akses untuk memperbaiki kesejahteraan hidup mereka.

Le Indonesia es Grandes, Yo Estoy Seguro en Indonesia es Mis Nasionalidad. Vosostros sois estupendo, Realmente!

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.16.2011

Perdagangan Organ Tubuh


Coba perhatikan lagi!

Mau tidak mau, sadar tidak sadar kondisi pasar sudah bergerak sendiri menurut tuntunan tangan tak tampak mungkin sudah masuk ke segala aspek, namun jangan sampai menyentuh sisi sosial yang sangat mendasari kehidupan yang harusnya bisa dinikmati semua kita umat manusia, lebih lagi yang mengaku sebagai manusia yang bertuhan. Disini pemerintah harus berani tegas mengambil sikap karena jika hanya diam maka sama dengan sebuah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan.


Berbicara mengenai perihal ini, setiap kita, manusia, tentu ingin hidup dalam kehidupan secara fisik yang baik dan tentunya dengan dukungan organ tubuh yang sehat. Dan bagi masyarakat kebanyakan, sehat saja bahkan mungkin sudah cukup dan melampaui keinginan material dan prestis lainnya yang sepertinya masih didamba sebagian golongan yang lain.

Sering kita dengar kabar berita mengenai kegiatan donor dan implantasi organ tubuh dari tubuh pendonor ke tubuh resipien. Hal ini sah dan dibenarkan karena bukan dalam rangka jual beli namun untuk tujuan sosial atas nama kemanusiaan, sama halnya ketika kita mendonorkan sekantong darah kita dalam kegiatan Donor Darah yang biasa digelar Palang Merah Indonesia. Tapi kalau ditujukan untuk tujuan mencari keuntungan materi maka hal tersebut tidak dibenarkan.

Aku sendiri tergerak melakukan donor karena tahu sulitnya mencari sekantong darah waktu orangtua ku dirawat dirumah sakit dan secara intensif membutuhkan darah, belum lagi kalau susah lantaran golongan darahnya tidak cocok.

Dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU 36/2009”). Hal ini ditegaskan dalam Pasal 64 ayat (3) UU 36/2009, yang menyebutkan bahwa organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun. Tetapi sebuah pandangan baru datang dari seorang ekonom Harvard, dalam bukunya ia mengatakan bahwa mungkin kini sudah saatnya era bebas perdagangan organ tubuh, sebuah pandangan yang menuai pro dan kontra. Pro karena menjanjikan kesejahteraan dan penyelamatan hidup bagi dua pihak. Namun kontra karena membuat banyak kaum marginal akan 'kaya mendadak' dengan mempertaruhkan hidup mereka sendiri dan perlahan menggeser nilai sosial kehidupan.

Yang paling jelas diketahui bahwa ada organ dalam tubuh kita yang belum diketahui secara pasti hubungan antara jumlah dan optimalisasi fungsinya, seperti ginjal kita, Terdiri dari dua, namun masih menjadi pertanyaan apakah kedua nya harus ada dalam tubuh untuk menopang sistem organ menjadi organisme yang bernama manusia. Jika organ yang masih rancu seperti ini saja tidak memberi rasa tenang untuk dilepaskan, maka tidak mungkin aku kira untuk organ yang penangkatannya menyebabkan kematian. Lagi pula banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk melegalkan perdagangan organ tubuh.

Ginjal atau darah jika dilegalkan untuk diperdagangkan tentu tidak akan lagi menjadi barang langka dan makin lama nilainya makin turun karena akan makin banyak orang yang rela melepas darah dan atau ginjalnya demi uang. Pada awalnya mungkin penjual organ akan mengalami surplus konsumen yang signifikan namun kelangkaan lama- lama akan lenyap dan menggeser nilai surplus ke arah si pembeli. Lebih jauh lagi untuk organ selain Darah dan Ginjal akan memicu munculnya sindikat yang membunuhi anak jalanan untuk diambil organnya lalu dijual, seperti yang banyak difilmkan. Memicu kriminilitas.

Mungkin jalan tengah yang bisa diambil untuk menjembatani keadaan ini adalah dengan tetap menempatkan sisi mulia keberadaan organ tubuh sebagai karunia Tuhan yang jika diinginkan dapat dijadikan alat untuk saling berbagi setelah meyakini pertimbangan medis yang teruji atau pilihan hidup yang diikhlasi. Tanpa kompensasi dalam bentuk lembaran rupiah. Demi menghindari pergeseran nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi makna kehidupan tentang bersyukur serta kerja keras.

Jadi...Coba perhatikan lagi!

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.13.2011

Menilik Ongkos Demokrasi


Sudah 10 tahun lebih berlalu sejak rezim orde baru, otoritarianisme, hengkang dari tatanan kehidupan politik negeri ini, dan kala itu demokrasi lahir menjadi sistem baru yang dianggap paling tepat sebagai lokomotif menuju kemajuan dan perbaikan. Pertanyaanya sudah sampai mana kemajuan tersebut serta perbaikan yang dilakukannya? Laiknya lokomotif yang memerlukan bahan bakar, begitu pula demokrasi membutuhkan biaya. Berapa besar?

Demokrasi memakan biaya dalam penerapannya, baik secara ekonomi atau atau non-ekonomi, dalam sistem demokrasi sudah pasti biaya yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memfasilitasi aspirasi banyak pihak melalui pemilihan umum (Pemilu). Indonesia yang terdiri dari 33 provinsi dan 349 kabupaten (data dari sini) tentu saja setiap periode tertentu harus menyelenggarakan pemilu dari berbagai level ini, sebut saja pemilihan anggota DPR/DPRD/DPD, pemilihan Kepala Daerah level Gubernur atau Bupati (Pilkada) serta Pemilihan Kepala Negara.
Semakin berat jadinya beban APBN/D, apalagi dengan wacana penambahan pejabat Wakil Menteri bersamaan dengan reshuffle Kabinet Indonesia bersatu Jilid II, semakin pening kepala Menteri Keuangan mencari uang.

Tapi setidaknya sistem ini lebih baik jika dibandingkan dengan sistem diktator yang mengekang kebebasan bersuara atau sistem korporatokrasi yang menguntungkan para pemodal yang memiliki agenda pribadi. Karena hanya dengan Demokrasi setiap orang berhak untuk menjadi presiden, berhak untuk memilih secara langsung serta berhak untuk beraspirasi atas jaminan kehidupan yang aman dan adil. Tapi bukan berarti bahwa Demokrasi adalah sistem yang terbaik didunia. Karena sejarah telah mencatat sistem Khalifah di jaman kala itu telah membuat kehidupan jazirah Arab lebih bersinar.

Sejauh mana negara kita bergerak dari titik start 10 tahun silam? Miris mendengar pendapat seorang anggota DPR-RI (lupa namanya) bahwa wajar negara kita sekarang dilanda carut marut yang kompleks sekarang ini, karena kita sedang berada dalam masa transisi. 10 Tahun masih belum bergerak juga dari masa transisi? Lalu kira-kira berapa lama normalnya sebuah masa transisi itu? Kemajuan secara peradaban mungkin hanya dirasa olah kaum ekonomi menengah keatas, namun kemajuan dalam konteks perbaikan tingkat kesejahteraan bagi kaum marginal masih patut dipertanyakan.

Mungkin yang jadi stressing point disini bukan sistemnya tapi siapa yang ada didalam sistem itu dan bagaimana mereka menjalankannya, bisa jadi sebagian mereka yang kini duduk di pemerintahan adalah mereka yang terpilih dengan sokongan dana kampanye dari pihak yang memiliki kepentingan pribadi, sehingga ada semacam politik balas budi dalam konteks negatif yang terjadi kemudian serta berbuntut panjang, dan fakta yang harus kita terima adalah bahwa Demokrasi di negara kita telah melahirkan pembuat keputusan yang poltical will nya masih abu-abu antara membela kepentingan rakyat dengan kepentingan golongan.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

Dua Tahun Tak Lama


Dua tahun bukan waktu yang lama, cukup tundukkan kepala sejenak lalu bayangan tentang hari 2 tahun lalu itu sudah muncul seperti masih kemarin saja, jelas dan hidup. Aku sukuri semua yang terjadi dua tahun ini pada hidupku, walau godaan dengan kata 'jika saja', 'seandainya', 'apabila' selalu datang meminta untuk kuturuti, tapi untungnya tidak. Karena aku diberi akal yang harus aku gunakan untuk berpikir bukan untuk merasa, karena rasa tempatnya di hati.

Dua tahun ini 2010-2011 seperti menjadi kesempatan ku untuk mengenali diri sendiri dengan lebih baik. Dan tanpa sadar hal ini membentuk aku yang sekarang. Terima kasih ya ALLAH sudah menuntun ku menjalani jalur ini. Aku senang karena keputusan ku untuk menjadi ketua angkatan dan dua tahun menjadi ketua kelas di bangku kuliah mengantarkan pada pengalaman dan pemahaman yang sangat berguna. Tentang sabar, berbuat baik, bergaul dan bersikap positif.

Beberapa kali aku jatuh karena emosi dan artinya aku gagal, namun belajar dari kegagalan lebih baik daripada aku gagal menyikapi keberhasilan. Semoga di masa depan nanti, semua pengalaman ini membantu ku untuk menjadi pemenang dalam hidup, dan aku tahu bahwa masih banyak yang harus dipelajari untuk menjadi pemenang yang dapat mengatasi kesulitan, rintangan dalam kehidupan.

Dan aku harus jujur pada hal apa saja yang harusnya tidak aku lewatkan, aku kira masih ada waktu sebelum tahun ini ditutup, seperti biji kurma yang masih dapat ditanam walau esok mungkin sudah kiamat.

P.S:
-----
I am sorry for being a little bit dramatic but I'm so incredibly heartened by what have been happening in my life on this last two years.

Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »