10.27.2012

Beyond Blogging

Saya kurang terlalu peduli dengan status blogger yang biasa disematkan pada orang yang rajin menulis di blog. Bisa jadi itu saya. Namun hingga kini, gelar itu masih terasa berat untuk disandang. Sebabnya adalah setiap kali saya menulis di blog pribadi saya ini, saya nyaris tidak pernah untuk meniatkannya untuk memberi pencerahan, menawarkan sudut pandang apalagi menghujat atau menghakimi, ini karena saya sadar kapasitas saya masih banyak perlu ditambah. Sebutan sebagai blogger itu lebih cocok ditujukan kepada tokoh kenamaan dengan jam terbang tinggi dibidang masing- masing sehingga tiap artikel yang mereka buat selalu bernas dan mencerahkan.

Saya sendiri menganggap blogging sebagai terapi, saya merasa seperti tengah berdialog, berdebat dengan diri saya sendiri ketika menuliskan kalimat demi kalimat didalam blog saya. Dunia yang saya gilai sejak saya sadar bahwa dalam hidup saya tidak selalu mampu bertemu dengan kawan yang bisa selalu diajak dialog. Kalaupun bisa, tidak bisa untuk setiap saat dan tidak juga untuk semua hal. Ada batas, ada kemakluman ruang pribadi yang harus dijaga. Hingga detik ini saya hanya bisa berbagi soal naik turun hidup selain dengan pacar saya ya dengan blog, tapi tidak semua hal pribadi bisa saya tulis di blog. Because once it's published, it will be public thing!

Blogging memungkinkan saya merangkum pengalaman hidup sebagai pengingat atau sekadar tempat menumpahkan pemikiran soal apapun yang menarik minat saya yang kebetulan sangat beragam, itu soalnya blog saya bertema campuran; Pengalaman hidup dan pelajaran, ekonomi, sejarah, politik, pendakian gunung, kuliah, kantor, keluarga atau tentang seorang tokoh top. Mungkin sekarang masih sangat divergen begini, tapi saya kira nati akan mengerucut juga. Walau tidak bisa terlalu ekstrim tentunya. Tapi yang jelas saya akui kebiasaan blogging ini turut serta membantu proses pendewasaan saya, seperti catatan hidup yang merekam banyak kejadian.

People change so does blog. Manusia itu berubah, tercermin dari tutur dan sikap nya. Di dunia blogging, ini dilihat dari caranya berbahasa dan menyampaikan pesan atau berkomentar. Change!! Pelajaran hidup yang saya simpan di blog sedikit banyak mereduksi pandangan hidup yang kalut menjadi tenang. Kusut menjadi rapi dan pesimis menjadi optimis. Tapi itu bukan karena saya sendiri, banyak manusia- manusia yang memberi contoh keberanian hidup, syukur, yakin dan tulus. Seperti banyak juga yang memaparkan sikap main aman, iresponsible dan berakal bulus. Semuanya memberi saya dorongan untuk mencatat dan menyarikannya sebagai terapi melalui blogging.

Read more »

10.25.2012

Menikmati Kopi


Saya lumayan suka minum kopi (ngopi), saya yakin bukan karena waktu kecil saya suka curi sesap kopi ayah di meja dapur. Tapi lebih karena memang rasanya yang beda, tidak sempurna dan tidak biasa, seperti ada pahit pekat yang bertabrakan hebat dengan manisnya gula lalu menghasilkan sensasi tanggung yang menagih sesap demi sesap. Kenikmatan dalam ketidaksempurnaan.Berikutnya juga karena aroma khas nya yang tegas, seperti berkarakter. Aduk kopi disebuah cangkir kecil didalam ruangan berukuran 4x2,5m! saya cukup yakin semua mahluk bernyawa didalam ruangan itu akan bereaksi secara reflek menyadari aroma kopi mengudara lalu mungkin akan berkata lirih berbisik 'hmm.. wangi kopi nih!'. Begitulah, dari aromanya saja beda dan memikat.

Saya tidak paham persis bagaimana para pecinta kopi menikmati sensasi minuman ini. tapi sepertinya mulai dari para petani bertopi caping di sebuah saung lahan sawah hingga para eksekutif kota metropolitan di sebuah gerai "food and beverage" berlogo gurita wanita (atau wanita gurita?), saya kira sama saja! Mereka menikmatinya dengan disesapi sedikit demi sedikit.. Keduanya nikmat walau berbeda tempat. Tapi apa betul memang nikmat? Diperlukan renungan kritis kelihatannya.

Kopi memang nikmat, tapi hanya bagi pribadi yang paham bagaimana menikmatinya. Menikmati kopi itu buat saya sama seperti menikmati hidup. Bebas lepas dan apa adanya. Itu mengapa para petani sederhana nun jauh di pelosok sana tetap bisa menikmati kopi hasil tanaman sendiri walau gempuran iklan seputar kopi di TV makin bombastis dengan embel- embel impor atau nama hewan ini hewan itu. Sementara bagi yang belum paham betul bagaimana menikmati kopi, mungkin semua masih seputar dimana, merek apa dan dengan gelas apa kopi itu diminum. Lain levelnya bisa jadi lain rasanya bagi mereka. Para orang tua kita dahulu sudah terbiasa minum kopi di gelas plastik biasa dan tampak sekali itu tidak mengurangi sensasi nikmat kopi bagi mereka. Masih jelas dalam bayangan saya saat nenek dulu menyesapi kopi dari gelas ransum waktu rehat sejenak dari menebas rumput liar di kebun. Ini bukan berarti saya menolak perubahan gaya minum kopi yang dibawa arus zaman, tapi sebagai pengingat saja bagi saya agar tetap ingat cara menikmati kopi.

Pahit pekat biji kopi yang bertabrakan dengan manis gula ditambah dengan aroma tegas yang kuat tetap akan ada sebagai sebuah ciri khas, tidak soal dimanapun kopi dinikmati. Entah di rumah, di kantor, di pinggir jalan, di 'food court' atau di gerai yang kini marak menjamur di mall- mall, semua kembali lagi ke tujuan awalnya, untuk benar- benar dinikmati atau semata- mata demi gengsi. Karena mungkin tanpa sadar buat sebagian kita, minum kopi itu seperti teman pribadi yang menemani kala kita tengah bermonolog dengan diri sendiri apalagi disaat jiwa saya sedang seperti ini, meronta- ronta minta naik gunung lagi.

Read more »

10.16.2012

Menerima Kehidupan

Sesak kalau ingat semua laku bodoh yang sempat saya buat di hari kemarin, kemarinya lagi atau kemarin- kemarinya lagi. Sesak sekali, seperti berada di ruang pengap yang gerah dan ingin segera lari. Kemana tapi? Bila saya lari antar dua kutub bumi pun tetap akan terasa gerah, ya sudah! Mungkin saatnya duduk diam menikmati genit debur ombak atau cumbuan angin gunung.

Semua orang mungkin punya saat- saat seperti ini. Duduk diam, sendiri atau ditengah keramaian tanpa berbuat apa, cuma duduk saja, sekilas seperti menikmati hidup. Tapi, mata memandang ke depan, menantang langit sambil menatap tajam membangun semangat hidup. Adakah semua laku bodoh itu tadi terjadi begitu saja tanpa maksud, tapi murni kesalahan hidup? Bila iya, malang nian saya sempat salah langkah bahkan berkawan dengan pribadi- pribadi yang tak bisa kasih arah.

Mungkin memang skenario hidup saya begini? Skenario yang disusun dengan apik sarat polemik dan liku intrik oleh sang pemilik kehidupan. Hingga kini, apa mungkin itu semua berhubungan erat dengan pengalaman yang kadung saya buat? Bagaimana kedepannya nanti? Semua akhirnya mengambang dalam ekspresi: 'Ya, jalani saja hidup ini!'. Saya tak paham takdir, sungguh! Pun bila memang ini sudah takdir, saya sudah sedang belajar menikmati hidup yang begini ini. Apa adanya!

Apa yang bisa saya simpulkan selama 25 tahun ini? Dalam hidup, tidak usah lagi terlalu menyoal bagaimana semua bermula dan berjalan, tapi bagaimana saya menjalani dan menutupnya nanti. Setiap kita punya cerita yang tidak akan pernah sama, jadi tidak ada yang perlu dibandingkan. Kelihatanya ini bisa menjadi titik sandar saya untuk berdamai dengan hidup, menerima dan lalu memaafkan siapapun yang sempat memberi kecewa. Terutama untuk hal bodoh yang buat sesak jiwa.

Read more »

10.13.2012

Pajak, Dependensi Negeri dan Luapan Emosi


Bukan sebuah curhatan, bukan pula keluhan. Mungkin anggap saja sebuah gurauan. Gurauan kecil tentang hal yang keberadaanya bagai nyawa tp disaat yang sama ia jadi sasaran beraroma caci maki dan sedikit hina dina.

What a paradox! Dunia memang sudah dipenuhi fakta paradoksal yang dapat mendemotivasi siapapun. Sebagai pribadi mari perkuat motivasi dari dalam. None helps!!


Kembali ke soal gurauan tadi. Tahukah anda dengan pajak? Kata ini mungkin sudah sejak lama memiliki image tak lepas dari uang, materi dan kesejahteraan. Sejak dulu.. tapi mungkin dulu semua membatu karena negeri kita belum melewati momen untuk mengusung transparansi dan akuntabilitas. Akhirnya, semua dugaan atau sangkaan mengendap menunggu terungkap. Dan like business as usual, pajak tetap menjalankan fungsi mencari uang dengan membiarkan endapan potensi yang bisa hilang.

Tapi era bisu itu sudah berlalu... Kita sudah mengambil momentum reformasi sebagai lokomotif menuju perbaikan. Tak boleh lagi ada kebisuan, semua informasi kini bagai terpapar bersedia untuk ditelanjangi. Institusi Ditjen Pajak sudah memulainya sekitar sejak satu dekade lalu. Semua sangkaan bisa diperjelas dan dimintakan pertanggungjawaban. Tapi ini semua bukannya sempurna tanpa cela. Bagaikan didalam setandan pisang, tentu ada 1 atau 2 yang lambat matangnya. Begitu juga di Ditjen Pajak, bedanya mereka yang lambat matang ini kini tengah tiarap menunggu untuk dipereteli.

Percuma bila budaya caci mencaci, hina menghina atau hujat menghujat tetap dipelihara karena ini tidak membuat kita menjadi katalis perubahan menuju perbaikan. Kita sebagai bagian dari masyarakat patut untuk sadar diri dan melek informasi bahwa saluran informasi pengaduan dan pengawasan sudah terbuka dari multiarah. Mulai dari call center 500200 atau front desk milik KPK. Sesuai mottonya: Lunasi pajaknya dan awasi penggunaanya. Ikut berpartisipasi berarti kita tahu diri untuk mengoptimalkan nyawa penerimaan negara dari pajak.

Tidak perlu lagi membuang energi lewat serentetan cacian kepada institusi pajak, coba introspeksi diri lagi. Apa dasar luapan emosi itu? Sentimen pribadi atau rasa prihatin pada negeri. Bila karena yang pertama ada baiknya kita coba berhenti jadi katak dalam tempurung. Bila yang kedua, mari kita bersama gunakan keterbukaan segala akses sebagai alat pengawasan kinerja perpajakan.

Karena apapun bentuk kepedulian yang kita sampaikan, baik itu hujatan, kritik, hinaan atau keprihatinan akan dicatat oleh sejarah dengan tinta dan nada yang berbeda tergantung dari bagaimana cara kita menyampaikannya dan motif apa dibaliknya. Nuranilah yang bicara!!

Read more »

10.06.2012

Menggugat Jaringan Kepentingan


Jaringan atau networking, dalam konteks hubungan sosial sudah bukan barang baru, ia sudah lama ada sebagai cerita dari masa ke masa. Patah tumbuh dan hilang berganti, begitulah. Dibentuk dan dibina sekelompok manusia dengan kesamaan latar belakang dan tujuan, jaringan kepentingan ini di satu titik telah dapat menggeser persamaan hak berdasarkan kemanusiaan menjadi persamaan hak menurut ego demi hegemoni dan eksistensi suatu entitas.

Rantai jaringan kepentingan secara institusional bisa memutus nilai profesionalisme dan menyuburkan bibit nepotisme. Ketika rezim orde baru berkuasa, sangat jelas terlihat bagaimana penetrasi militer menyentuh sendi kehidupan saat itu bahkan hingga ke tingkat akar rumput. Lalu lambat laun rezim ini dinisbahkan sebagai rezim otoritarianisme yang akhirnya tumbang oleh people power 1998. Dari aspek kehidupan sipil kita dipertontonkan pada pola pengambilan kebijakan oleh petinggi sebuah lembaga yang mendasari pada kesamaan almamater, asal daerah, atau hubungan darah kekeluargaan. Pola ini membentuk sebuah dinasti yang menegasikan budaya kerja profesional. Dan pada akhirnya semua tinggal soal waktu, menunggu kehancuran.

Sebetulnya dari kacamata saya yang masih awam ini, tidak ada yang salah dengan jaringan kepentingan, sepanjang ia tidak dibawa ke dalam lingkungan yang membutuhkan keahlian suatu bidang tertentu dimana setiap orang, siapapun, berhak mengupayakanya secara fair memenuhi standar baku yang ditetapkan. Karena apa yang disebut sebagai fairness seharusnya hanya ada saat kita memiliki kemampuan yang dibutuhkan, bukan karena siapa kita dan soal latar belakang.

Tulisan ini terdengar utopis di tengah suasana yang tidak bisa menjamin apapun. Negeri kita memang seperti tanpa 'Recht' justru di saat kita ingin membangun negeri lewat karya sebagai anak bangsa. Profesionalisme jangan dibiarkan terpasung oleh jaringan kepentingan kaum Vocal Minority yang menyabotase persamaan hak. Lewat karya intelektual kita bisa menggulingkan mereka yang dengan itu juga mereka bisa meniti posisi mereka kini. Upaya perlawanan ini bisa dibilang seperti yang disebutkan Bung Karno sebagai perjuangan melawan bangsa sendiri yang lebih sulit dari melawan bangsa penjajah.

Read more »