8.27.2010

Buang Jauh Ekslusifisme


Eksklusif, kurang tahu juga artinya menurut KBBI, mungkin -terpisah atau memisahkan-, namun aku sering mendengar kata ini tertuju pada sekelompok teman satu angkatan waktu SMA dulu, mungkin cerita ini basi? tidak perlu dibahas, namun buat ku kejadian hari ini membuat aku ingat bahwa kita tidak bisa menjadi se-eksklusif yang kita inginkan.

Pagi tadi di Stasiun Kereta Api Tanjung Karang, Bandar Lampung. Aku dalam perjalanan mudik ke Baturaja, tiba-tiba saat hendak masuk ke gerbong kereta, pundakku ditepuk seorang kawan yang tidak pernah aku sangka akan dilakukannya, jika aku ingat bagaimana ia dan kelompoknya dianggap demikian 'beda' masa itu.

Tidak perlu aku sebutkan nama aslinya, namun secara reflek aku merespon ramah namun jg ragu apakah aku bisa dengan cepat mengakrabkan diri dengannya dalam obrolan santai setelah hampir 6 tahun berkomunikasi sekedarnya saja. Setelah kuletakkan barang bawaanku ke dalam kabin kereta (emang kalo dikereta namanya kabin juga bukan ya? hehehehe..). Aku turun menjumpainya diluar, dan setelah berjabat tangan, berbagi sedikit cerita dan sapaan alakadarnya, aku mulai berpikir ulang dengan membanding-bandingkan, kenapa dulu mereka demikian terkesan beda dan eksklusif dikalangan pertemanan SMA kami ya? padahal jika kini kulihat dengan dekat dan berpikir lebih tenang, maaf mereka tak lebih baik atau lebih berhasil dari kami yang biasa-biasa saja,
dan bukan berarti kami sekarang sudah yang paling baik dan berhasil.
.

Walaupun begitu, aku sangat menghargai sikap baik kawan itu tadi yang setelah melewati masa sekian tahun dengan minim komunikasi, dia masih mau menyapa dan bersikap ramah, seolah dulu pas jaman SMA, kami cukup berteman baik. Aku juga tidak sebegitu teganya untuk membalas sikap ramahnya dengan cara yang menunjukkan kesan balas dendam atau luapan emosi kebanggaan yang tidak pada tempatnya. Semua berjalan biasa, obrolan santai tentang perjalanan kuliah, pengalaman di tanah rantau dan pencarian kerja membuat aku cepat menanggapai dan menyesuaikan diri. Melihatku bersikap dengan baik pun, mungkin dia menjadi semakin ramah.

Sampai akhirnya obrolan kami menyinggung tentang masa-masa pendidikan SMA kami tahun 2002-2004 silam...

Aku coba beranikan diri bertanya:'kenapa kalian dulu terkesan demikian beda, ekslusif sehingga membuat banyak orang enggan mendekat atau berteman dengan kalian?' dan 'memang apa bedanya kami dengan kalian? apa sih yang kalian sombongkan sebetulnya? g ada bedanya kita ini, sama aja.' Kawan itu diam sejenak (mungkin mengiyakan dan merasa dalam hati) lalu balas menimpali dengan mengatakan bahwa secara pribadi masing-masing sebetulnya ia tidak pernah merasa demikian namun karena kelakuan satu atau dua orang didalam lingkaran pertemanan mereka saja lah yang membuat julukan itu melekat kuat ke image setiap mereka. Ada rasa malu dan kesungkanan dalam nada bicaranya, dan ia tetap bersikap ramah. Aku hargai itu.

Lalu saat menuliskan postingan ini saya sambil berpikir. Siapa kita yang merasa diri berbeda, lebih unggul atau lebih hebat dari orang lain??? Siapa kita yang selalu tanpa sadar bersikap seolah berstatus sosial lebih baik??? Kita bahkan bukan siapa-siapa, belum memiliki apa-apa dan memang tidak akan pernah memiliki apa-apa selain hanya amanah dari ALLAH.SWT. Karena saat kelak kita menjumpai ajal, maka hanya amal sajalah yang akan paling setia menemani, sementara harta akan tinggal, pangkat akan dilepas dan kecerdasan akan tiada berfungsi lagi.

Terima Kasih

Read more »

8.26.2010

Road To Devotion


Hari ini, 26 Agustus 2010, what is it so special about that? Nothing! Tapi ditanggal itu, 6 tahun lalu saya diantar oleh Ubak (panggilan ayah didaerah saya) dan dua orang saudara saya untuk bersekolah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Prodip I Pajak. Waktu itu ada cuplikan obrolan antara aku dengan Ubak , seperti yang ku posting disini.

Berarti sudah 6 tahun aku di Jakarta, insyaALLAH mungkin bisa 7 tahun sampai selesai kuliah tahun depan 2011 akhir. Postingan ini adalah review dan sedikit perbandingan antara hidup di kota Jakarta sama jika kalau aku lebih memilih hidup dan kerja di tanah kelahiran ku, Baturaja. Well... Jakarta, apapun sudah tersedia, asal ada duit semuanya bisa didapat dengan mudah. Mau pintar? Tempat kursus ada, toko buku banyak, forum-forum musiman buat diskusi juga banyak, pameran juga rutin..yahh asal kuat bayar aja. Mau Hedon? Tempat hiburan tengah malam juga banyak asal kuat duit buat begadang sama kongkow-kongkow aja. Ibaratnya, kalau sudah punya duit di Jakarta ini, sama seperti berdiri didepan pintu, yang satu ke upgrading diri dan yang satu ke pseudo-happines buat diri juga.

Bagi yang punya cita-cita buat sekolah tinggi (insyaALLAH aku masuk di kelompok ini), investasi intelektual masa depan, maka Jakarta jadi tempat yang sangat cocok. Karena di kota metroploitan ini (apa sudah megalopolitan ya??) banyak akses informasi dan kesempatan. Aku sendiri sering menghadiri pameran pendidikan luar negeri yang diadakan di ballroom hotel hotel di jalan protokol atau di Jakarta Convention Center. Kesempatan menambah ilmu juga banyak, setahun lebih aku mengikuti kursus Bahasa Inggris, Conversation dan TOEFL Preparation, hasilnya lumayan buat bekal baca buku Bahasa Inggris atau nonton film bikinan negara Uwak Sam (US) atau bisalah dimanfaatkan untuk ngobrol atau ngeblog dengan Bahasa Inggris. Hehehe.. belum lagi keberadaan suatu klub bahasa inggris yang aku ikuti sampai sekarang, Toastmasters, benar-benar banyak membantu.

Jangan kita ngomongin tempat hiburan dikota ini, tidak akan selesai dengan hitungan jari. Mulai dari yang sekedar taman tempat duduk santai sampai tempat duduk gemetar (dugem) ada disini. Mall terus dibangun seperti tak pernah cukup, Gedung-gedung pencakar langit makin berdiri tegak mengangkangi terik siang dan dingin malam ibukota (anjriittt lebay banget bahasanya hahahahha). Dan saat tengah malam maka Jakarta itu seperti yang dideskripsikan dalam puisinya Gie :'lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya'. Antara eksotis, angkuh dan dingin namun tetap membuat betah penghuninya untuk tetap tinggal, karena di siang hari, keheningan itu berubah menjadi hiruk pikuk tuntutan bisnis dan urusan, kelap-kelip lampu itu berubah menjadi silau terik cahaya kendaraan yang melaju kencang.

Betahkah kamu tinggal di Jakarta? Itu pertanyaanya sekarang, jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Iya disini bukan berarti tanpa alasan, bisa jadi karena memang tidak ada pilihan lain untuk mencari makan dan memberi nafkah, maka seorang pegawai tetap bertahan di kota ini sambil menahan rindu pada keluarganya. Atau Tidak disini karena memang ada celah lain untuk keluar tanpa mempertaruhkan kelayakan hidup. Aku sendiri, setelah 6 tahun belakangan ini mulai mempertimbangkan untuk cabut dari Jakarta. Bosan. Mahal. Padat. Itulah alasanya. Selain juga karena memang rasanya Rupiah-rupiah yang bisa aku dapat, akan lebih berguna jika bukan di kota ini, ada banyak yang bisa disimpan/dihemat atau digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat daripada untuk membayar kontrakan bulanan, uang ongkos perjalanan kesana-kemari, makan tiga-kali sehari dan hal lainnya.

Namun siapkah aku meninggalkan keunggulan yang ditawarkan ibukota ini? Ya jika memang itu resikonya, sebaiknya aku harus siap. Bahkan dengan resiko yang paling buruk, yaitu kehilangan akses informasi dan kesempatan akan pendidikan. Tapi aku yakin satu hal, bahwa ALLAH.SWT melihat kerja keras dan mengetahui keinginan yang tesimpan didalam hati hambaNYA. Di Baturaja mungkin aku tidak lagi menjumpai pameran pendidikan luar negeri atau forum English Conversation yang menawarkan link/channel ke hal lain yang lebih besar, tapi semangat ini tidak akan padam, telah tertanam didalam pikiran dan tidaklah seorangpun atau kondisi yang bagaimanapun bisa menghapusnya. Seperti dulu saat jaman SMA, setiap waktu ku ku habiskan dengan belajar, begitu juga nanti, bisa aku manfaatkan waktuku untuk belajar bahasa inggris secara mandiri, dan persiapan untuk materi yg lain pula yang diperlukan. Karena recananya aku ingin melanjutkan sekolah di kampus ini lagi di jenjang Prodip IV.

Berencana memang tidak menjamin masa depan yang sama persis seperti yang kita inginkan bisa terwujud, tapi dengan berencana, hari-hari kedepan sudah siap dihadapi dan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat yang makin mendekatkan diri pada gambaran yang diinginkan. Baturaja bukanlah Jakarta, beda jauh malah. Tapi Baturaja nampaknya mulai menawarkan jalan dan kesempatan yang lebih wajar bagi ku untuk memperbaiki, menebus dan mewujudkan banyak hal. karena ini semua bukan melulu tentang ku tapi juga tentang cinta, hubungan darah dan keluarga. Di Baturaja, ritme kehidupan berlangsung lebih lambat dan ini bukan berarti aku kalah dan manja. Aku cuma sedang ingin mengambil kemungkinan dalam satu kesempatan, yaaa.. mana tahu bisa terwujud.

P.S:
-----
Poto diambil di Pulau Tidung saat liburan bersama kawan-kawan sekelas, dipoto itu saya bersama penduduk setempat yang terjun dan berenang bareng dari satu jembatan dipulau tersebut.

Read more »

8.24.2010

Bertahan Dan Berjalan


Jika aku bisa melesat masuk kedalam jiwa dan tubuh ku sendiri, rasanya aku ingin masuk mengarungi ke dalam belantara sel saraf otak dalam kepala ini, tujuannya simpel yaitu mengangkat slot yang berisi kenangan buruk yang kadang aku sesali bila teringat atau memangkas ingatan tentang suatu episode yang pernah aku jalani.

Tapi itu tidak bisa terjadi...

Mengutip dari tulisan seorang Dee, dalam karyanya Perahu Kertas, benar adanya bahwa kadang kita berputar-putar menjadi sesuatu yang bukan kita untuk akhirnya kemudian menjadi diri kita sendiri. Berputar-putar disitu bukanlah enak, dalam putaran itu kita bingung, limbung, linglung dan akhirnya diam mematung (halah bahasanya hahaha..). Banyak benturan yang dihadapi dalam masa pencarian itu, kadang aku merasa sudah menemukan namun seiring berjalan waktu, aku mulai sadar bahwa 'sesuatu itu' bukan hal yang sebetulnya aku cari, aku makin sadar bahwa aku berada ditempat yang aku tak seharusnya.

Aku memang bisa melihat bintang dengan siapapun dari segala arah, dan bintang itu adalah bintang yang sama walau aku melihat dari sudut yang bagaimanapun. Namun benarkah aku melihat bintang itu dengan orang yang tepat? Aku mulai berpikir bahwa tidak ada orang yang benar-benar jahat seperti iblis, atau sangat baik seperti malaikat. Tapi paling tidak aku mulai tahu bahwa ada orang-orang yang kepada mereka aku layak memberikan yang terbaik yang aku punya, sementara yang lain? mereka mungkin tidak jahat, namun aku tidak mau mencintai dan mendedikasikan hidupku untuk orang yang bukan haknya. Mati sia-sia, percuma. Terdengar sempit mungkin, tapi realistis. Bukan berarti ini tentang menjadi egois dalam kehidupan sosial, tapi ini tentang hal agar kapal terus berlayar dan bertahan sampai berlabuh di dermaga.

Kata seorang kawan:'tak perlu merasa bersalah atas hati-hati yang lain, bahkan kau hanya punya satu hati'. Well, aku mungkin tidak akan berubah namun bagaimana aku menempatkan orang-orang dalam prioritas di hati ini sudah seharusnya berubah karena mohon maaf aku hanya punya satu hati, tidak cukup kalau kuberikan ke semua orang. Selain karena memang aku bukan Malaikat apalagi Nabi. Menyesali yang telah lalu sudah tidak mungkin lagi, sudah tak ada gunanya lalu sebaiknya tertawakan saja.. kemudian berlari menyendiri untuk menemukan jalan pikiran yang baru.. kedepan nikmati saja hidup ini dan menjalani hal-hal yang makin mendekatkan diri pada cita-cita. Semacam Road Map yang bisa dijalani agar kedepan bisa lebih jelas apa yang sebaiknya dilakukan.

I know now what it is worth figthing, that is Family...

Read more »

8.07.2010

Deru Jalanan Waktu


Kita terus melaju dalam deru yang tertuntun waktu. Tertawa dan bercerita seperti waktu akan terus berpihak pada kita. Tapi aku harus ingat bahwa kita akan tiba pada suatu masa yang sudah kita ketahui bersama. Kalian akan ada pada jalan kalian dan begitupun aku. Kita akan menemukan kompas kita masing-masing. Everything changes, everything turns, and i will be going on my way.

Kawan, tidak banyak waktu kita untuk bisa bersama-sama dan untuk setiap masa-masa bersama kita itu, aku cuma ingin berbuat baik kepada kalian, agar setiap waktu yang sedikit itu bisa terisi dengan hal-hal baik yang tak perlu diingat-ingat. Aku dan kalian sama, sama-sama sekedar saling dipertemukan dalam ketersinggungan masa yang kini sedang kita jalani.

Terlalu banyak sifat burukku yang jika kuperturutkan hanya akan membuat masa yang sedikit itu cuma akan terisi dengan torehan emosi, timbunan amarah dan tatapan benci. karena mungkin aku hanyalah seorang labil yang berpura-pura dewasa atau seorang penakut yang berpura-pura berani. Namun dipertemukan dengan kalian membuatku belajar banyak dan harus banyak belajar.

Kalian bukanlah angin yang berhembus tanpa pernah dianggap, atau garam dilautan yang tak pernah diperhitungkan, karena ada maksud untuk setiap pertemuan, ada hikmah untuk setiap kejadian, tak ada yang kebetulan. Mungkin beberapa bulan, tahun, belasan atau puluhan tahun lagi baru kita akan melihat sesuatu yang melemparkan ingatan kita melesat ke masa-masa sekarang saat kini kita sedang dipertemukan dalam masa yang sama. Dan kalaupun ternyata tidak, bisa saja hal-hal bermanfaat yang kita dapat dari pertemuan ini akan terus terbawa tanpa sadar sampai nanti, mungkin sampai mati.

Aku tidak bisa berbuat baik dengan baik ke semua orang, tapi berbuat baik kepada kawan-kawan yang membuat aku merasa ada atas kebaikan kecil yang aku lakukan adalah tak ubahnya seperti membalas hutang budi yang tak terbilang dengan gelar Rupiah. Aku tak bisa mengingat semua wajah yang singgah dalam kehidupanku, namun aku tak akan bisa lupa dengan kawan-kawan yang telah membuatku merasa ada dan berguna. Hah, aku seperti orang yang hadir dengan self-concept yang rendah. Mungkin benarlah begitu, bukankah langkah awal memperbaiki diri itu adalah dengan mengakui?

Too often of being trapped in a not-knowing-what-to-do condition but i just have a little faith, and i keep it. I will make a choice where i may lost many things, but i can get my everything to be back, my life, my family.

Read more »