10.22.2013

Dua Garis Itu Berwarna Merah

Dalam hitungan (kurang lebih) delapan bulan kedepan insyaALLAH saya akan menjadi Ayah dan istri saya akan menjadi Ibu. Kami akan hidup dengan tambahan tanggung jawab baru sebagai orang tua. Sebuah nikmat dan karunia yang besar ini terungkap setelah dua hari yang lalu, tiga kali hasil testpack uji kehamilan pada istri memberikan dua garis merah tanda positif. Sungguh ALLAH. SWT itu benar- benar Maha Mendengar.

Sudah lewat sekitar lima bulan sejak kami menikah. Memang baru dua bulan terakhir ini kami benar-benar hidup bersama, karena sebelumnya istri masih bertugas di daerah lain sebagai Dokter PTT. Di dua bulan terakhir inilah kami mulai secara intensif menyiapkan banyak keperluan berumahtangga. All i can say is that living under construction is not easy. Dan disamping itu saya dan istri tidak sama sekali menunda untuk memiliki anak, sedapatnya saja, lebih cepat lebih baik.

Tetapi keinginan tersebut tidak begitu saja terkabul. Ternyata soal kehamilan wanita itu mutlak kuasaNYA. Serinci apapun program kehamilan kami susun, bila belum waktunya maka tetap saja belum membuahkan hasil. Beberapa kali di empat bulan pertama pernikahan saya dan istri dapati siklus bulanan istri terlambat sampai 7 hari tapi beberapa kali testpack pun hasilnya negatif. Cuma ada satu garis merah yang muncul. Emosi saya kala itu seperti dipermainkan, asa yang kadung tinggi melambung tiba- tiba jatuh bebas menghantam tanah. Istri berusaha menenangkan.

Hal semacam itu terjadi beberapa kali. Tapi seperti biasa, sehebat apapun sebuah penolakan atas kuasaNYA tidak akan pernah membuat hidup menjadi lebih mudah. Hanya penerimaan yang dapat membuat jalan pikiran dan pandangan hati terbuka. Saya dan istri kemudian saling menguatkan dan mengingatkan bahwa kepadaNYA kembali semua urusan. Segenap doa dan ikhtiar kami genapi sembari menikmati hidup dalam kebersamaan yang hangat.

Hari demi hari berganti minggu sampai akhirnya ketika kami sadari bulan ini siklus istri sudah cukup lama terlambat (kurang lebih 10 hari) dan kami memberanikan untuk meyakinkan diri membeli dua buah alat uji kehamilan. Dan saat malam hari alat itu kami pakai, hasilnya meski agak kabur mulai menunjukkan ada sebuah garis merah. Keesokan harinya dipagi hari, test yang sama kami lakukan, hasilnya lebih terang. Tetapi kami masih belum terlalu yakin dan sepakat membeli satu lagi dengan merek berbeda dan kami pakai besoknya. Hasilnya dua garis itu muncul terang berwarna merah yang berarti Istri positif hamil. Saat itu tanggal 20 Oktober 2013 pukul 05:00 WIB

Alhamdulillah. Ternyata ALLAH. SWT mendengar doa kami. Satu hal yang membuat saya yakin bahwa kehadiran seorang anak itu murni hak prerogatifNYA. Sehingga kurang pantas bila ada sebagian dari diri kita yang cenderung bersikap (maaf) jumawa sebab telah memiliki anak, apalagi mengaitkannya dengan ihwal kejantanan, dan memandang kurang simpatik pada mereka yang belum dikaruniai putra/ putri. Tidak ada suami istri yang tidak mau memiliki permata hati. Namun, semua kembali soal kuasaNYA. Saya pribadi hanya dapat membantu doa untuk para rekan yang telah dengan sabar dalam penantian menunggu kehadiran anak. Semoga pahala atas sabar itu terus mengalir dan semua indah pada waktunya.

Pun untuk diri saya dan istri. Kami mohon doa semoga janin yang tengah dikandung istri dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat hingga saatnya lahir nanti. Serta menjadi pribadi yang sholeh/sholehah. Aamiin. Rencananya bila ia lelaki saya berpikir menamainya El Ismail Amir. Bila ia wanita pikiran saya memberinya nama El Marwah Shafiyah. Perjalanan masih panjang, dan waktu akan terus berjalan bersama ketetapan ALLAH. SWT yang maha melihat dan maha mendengar. Semoga berkah dan petunjukNya selalu kita dapatkan. Aamiin.

Ebas
Pangkal Pinang.
23102013.

Read more »

10.09.2013

Melanjutkan Cerita Hidup

Satu tahun lalu saya berdoa pada ALLAH. SWT jika ada rezeki saya jadi Account Representative semoga ditempatkan ditempat yang terbaik menurutnya. Sampai kemudian ternyata sampailah saya di Pulau Bangka. Kota Pangkal Pinang. Ternyata tanpa saya duga, garis hidup saya memuat cerita di dareah ini yang katanya kaya Timah. And here i am an Account Representative at KPP Pratama Bangka.

Hijrah ini bertepatan seminggu sebelum pernikahan saya dan istri digelar. Ibarat babak, maka ini menjadi semacam babak baru kehidupan yang sebelumnya tidak kami duga tapi harus dihadapi. Di Bangka ini kami memulai hidup berumahtangga, menjalani visi misi bersama dan saling mendukung. Saya dengan peran baru sebagai pemimpin rumah tangga dan istri sebagai partner utamanya. Belakangan saya sadar bahwa perkataan Bapak saya lima tahun lalu memang benar bahwa hidup seorang laki- laki itu baru dimulai sebenarnya kalau ia sudah menikah.

Di kantor, dengan tanggung jawab baru itu, saya senang menjalaninya. Teman- teman kerja yang baik dan lingkungan yang lumayan. Dua hal ini adalah sedikit dari banyak berkah yang tidak saya duga ternyata ada menyertai saya. Mereka berkenan membagi ilmu untuk hal- hal yang saya belum paham, untungnya saya pun tak pernah malu bertanya. Saya merasa lebih beruntung lagi mendapatkan atasan yang memadai ibadahnya sehingga bisa saya contoh. Sering dalam tiap perjalanan dinas sepanjang jalan kami berdiskusi tentang ilmu agama. Meski tidak terlalu dalam, tapi esensinya cukup membuat diri saya terbuka wawasan dan pandangan.

Lika- liku dunia kerja sebagai AR menyadarkan saya bahwa dunia tidak selalu semanis madu. Saya mulai 'terbangun' bahwa memang kesadaran masyarakat kira akan kewajiban pajak dan arti pentingnya masih sangat kurang. Tiap kali saya dapati himbauan yang saya buat tidak ditanggapi bahkan diabaikan begitu saja oleh wajib pajak. Parahnya, resistensi tinggi sering saya dapati saat melakukan kunjungan ke lapangan. Untungnya saya belum mendapati penolakan lewat bentrok fisik atau kurang menyenangkan lainnya.

Mirisnya harus saya akui bahwa, banyak oknum Konsultan Pajak 'gelap' yang turut memperburuk situasi. Mereka yang seharusnya menjadi pengingat wajib pajak soal kewajiban mereka, justru turut membantu bersekongkol menghindari pajak. Seperti kemarin saat saya dapati uang PPN milik negara tidak disetor oleh suatu perusahaan yang konsultannya sering saya ajak diskusi. Sangat disayangkan, ia tidak terbuka di tiap sesi diskusi kami malah menutupi praktik itu. Hilang sudah kepercayaan saya pada si oknum. Inginya saya maklum bahwa itulah penghidupan mereka mencari nafkah. Tapi saya tidak bisa.

Sebagai AR, dalam setahun ini, saya ditugasi target Rp 33 M. Saya coba jalankan sebisanya untuk mencapai target itu. Belum tahu apa tercapai apa tidak, tapi saya kira kalau sudah usaha dan doa optimal tinggal berserah saja. Dalam bekerja saya merasa lapang karena peran istri saya yang melayani kebutuhan saya lebih dari apa yang saya harap. Mulai dari menyiapkan pakaian untuk berangkat, sarapan, makan siang sampai menyambut saya dengan senyuman tiap kali petang pulang.

Oh ya, disini, hobi saya lari dan sedikit bodyweight trainning bisa berjalan dengan baik, setiap Selasa- Jumat dan akhir pekan saya kerap olahraga di stadion. Sesekali saya dan istri jalan ke pantai untuk piknik kecil- kecilan pelepas penat. Apa yang saya jalani kini sudah membuat saya paham apa itu arti kata 'cukup' dan membenarkan pameo bahwa 'bahagia itu sederhana'.

Hidup akan terus berjalan. Sekarang kami di Bangka, esok lusa mana tahu. Cerita dan manusia akan hilang berganti. Tapi bagaimanapun dan dimanapun itu semoga berkah ALLAH. SWT selalu menyertai kami dan kita semua.

Read more »