9.29.2014

Realita Untuk Dirga (I)

Maret 2000

Ada semangat menyala di dada Dirga. Seorang pelajar SMA kelas 3 yang sebentar lagi akan lulus. Meski belum tahu persis mau jadi apa, Dirga memang bukan pemuda biasa. Ia ingin berhasil dan sukses dalam hidupnya. Tidak ada hari terlewat tanpa ia memikirkan rencana lanjutan studinya. Ia menulis besar- besar sederet nama kampus beken di negeri ini yang akan jadi incarannya. Tidak tanggung- tanggung, sebuah jurusan yang konon biayanya selangit pun berani ia cantumkan di urutan nomor 1.

"Ga, gak kerasa nih, dua bulan lagi kita ujian akhir. Mudah- mudahan kita lulus dan bisa lanjut sekolah di kampus idaman masing- masing!" Julian berujar santai ke Dirga usai lonceng tanda jam pelajaran berbunyi.

"Aamiin, iya Jul. Gue kepengen banget jadi advocat atau kalo enggak ya psikolog, gua mau ambil studi hukum atau psikologi aja rencananya di Universitas Gajah Mungkur" Sembari mengambil tas gendongnya, Dirga menimpali ucapan Julian.

"Yakin Ga? Gue gak minat kesitu. Rencananya gue mau ambil Manajemen di Arilangga, Surabaya aja". Mereka lanjut berbagi cerita sampai berpisah di depan gerbang sekolah. Julian sudah dijemput oleh sopir keluarga, sementara Dirga berjalan kaki pulang kerumahnya yang berjarak sekitar 1,5 Km.

Dirga dan Julian berteman akrab sejak kelas 1. Mereka menyukai bidang yang sama, Sosial. Olahraga mereka pun sama yakni Sepak Bola. Seperti kebetulan, mereka menggandrungi satu klub yang sama, Sridijaya FC. Mungkin banyaknya kesamaan ini yang membuat mereka dekat. Tapi ada satu hal yang membedakan Dirga dan Julian. Status ekonomi keluarga. Hal yang tidak pernah mereka anggap jadi penghalang pertemanan. Dirga berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang montir handal tempaan pengalaman sedangkan Julian dibesarkan di lingkungan mewah, terlahir sebagai anak dari seorang eksportir meubel yang kaya raya.

Juli 2000

"Ayah, Ibu, Dirga mohon doanya semoga bisa mengerjakan ujian hari ini" Ujar Dirga sembari mencium punggung tangan kanan kedua orangtuanya. Ayah Dirga mengangguk sambil terbaring lemas di ranjang rumah sakit tempat sebulan belakangan ini ia dirawat. Ibu Dirga tersenyum melepas anaknya. Ibunya sejak sebulan ini pula menghabiskan waktu menjaga ayah Dirga. Ayahnya menderita Diabetes dan pekan depan akan dilakukan amputasi pada kaki kirinya yang sudah membusuk.

Sementara ini bengkel mata pencaharian ayah Dirga terpaksa tutup. Dirga fokus pada ujian akhir sekolah dan segala persiapan mencapai mimpinya sehingga tidak ada yang bisa menjaga bengkel sejak ayahnya sakit.

"Ga, wish us luck!" ujar Julian yang dijawab dengan anggukan tenang oleh Dirga. Sesaat sebelum ujian dimulai, keduanya berbincang singkat tentang rencana merantau keluar kota begitu ujian usai untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas.

Hari demi hari lewat, ujian pun selesai. Masa menunggu pengumuman Dirga gunakan untuk merawat dan menemani ayahnya di Rumah Sakit. Kondisi kesehatan ayah Dirga semakin menurun, padahal lusa Amputasi akan dilakukan. Dirga mulai cemas, ia bahkan belum menjawab tawaran Julian untuk ke luar kota. Dirga teringat pesan ayahnya beberapa bulan silam: "Ga, selagi ayah mampu membiayai sekolah kamu, teruskanlah!". Tapi yang kini ia lihat adalah ayahnya yang terbaring lemah dan kurus. Dada Dirga sesak oleh bimbang. Semangatnya yang menyala berubah menjadi tanda tanya.

"Dirga, Ibu gak tahu mesti ngomong apa. Tapi rasanya Ibu harus jujur kalau tabungan Ayah dan Ibu sudah menipis untuk biaya berobat Ayah mu ini. Apalagi untuk persiapan operasi besok. Ibu kira sebaiknya rencana kuliahmu nanti saja kita bahas kalau Ayahmu sudah sembuh, ya nak". Sambil memijit tangan ayahnya, Dirga termenung mendengar penuturan ibu nya. Ibu Dirga tampak merasa sedih dan terpaksa bertutur demikian.

Dirga tak menjawab perkataan ibunya, ia diam. Benaknya masih dipenuhi asa untuk sekolah di Univ. Gajah Mungkur dan menjadi psikolog atau advocat. Tapi hatinya sudah mulai disusupi tanya dan ragu terlebih jika ia menatap ke ayahnya yang seharian ini cuma menerawang kosong ke langit- langit kamar rumah sakit ini. Sepi, tidak ada percakapan atau suara lagi antara mereka selain bunyi berisik gemericik gelembung udara dari tabung oksigen di sebelah ranjang ayah Dirga. Untuk persiapan operasi besok, tabung itu memang disambungkan lewat selang ke hidung ayahnya. Entah mengapa sejak semalam Ayah Dirga kesulitan bernafas.

Agustus 2000

"Bu, Dirga kesekolah dulu ya. Hari ini pengumuman kelulusan. Nanti Dirga langsung nyusul ke ruang tunggu operasi saja kalau sudah pulang. Mohon doanya Bu". Dirga pamit dan mencium tangan ibunya lalu memeluk ayahnya yang seperti hanya membalas dengan kerlingan mata. Pengumuman kelulusan memang pas dihari yang sama dengan operasi amputasi kaki ayah Dirga.

Sepanjang jalan tidak henti- hentinya Dirga berdoa semoga ayahnya sembuh. Ia belum siap bila harus menunda sekolahnya. Sementara ini ia menolak halus ajakan Julian merantau keluar kota.

"Aku belum bisa kemana- mana sementara ini, ayahku sakit. Mungkin nanti kalau situasinya pas aku kabari Jul" Dirga menjelaskan ke Julian. Keduanya sudah sejak 15 menit yang lalu berdiri paling depan menanti pengumuman kelulusan dari kepala sekolah. Tibalah saat pengumuman, di podium sambil berdiri, kepala sekolah membacakan hasilnya. Ketika diumumkan Dirga bahagia bukan main, tak cuma lulus, Dirga bahkan meraih nilai tertinggi untuk kelompok ilmu sosial, bahkan jauh diatas Julian teman dekatnya.

"Selamat Ga, gue bangga punya sohib kayak loe!" Julian mengucapkan selamat ke Dirga. Mereka berdua berjabat tangan. "Ga, semoga ayah loe cepat sembuh ya, kalo mau nyusul gue ke luar kota kabari aja ya!" Dirga membalas dengan mengucapkan terima kasih ke Julian. Kegembiraan ini cukup pikir Dirga, ia harus segera kembali ke rumah sakit menemani ibunya yang tengah menunggu ayahnya dioperasi.

Bersambung...

Ebas.
Pangkal Pinang. 29092014.00:06.

Read more »

9.27.2014

Nasib Sanib

Sanib gusar. Sudah dua bulan belakangan hujan tak juga turun di kampungnya. Kegusaranya sangat beralasan sebab sehari- hari Sanib bekerja sebagai petani jagung. Musim kering membuat panen jagungnya kali ini terancam gagal.

"Ya tidak apa- apa Mas, kan kita masih punya tabungan dari hasil panen bulan- bulan kemarin. InsyaALLAH cukup untuk beli beras dan bahan sehari- hari" Ujar Minah sambil meletakkan kopi hangat disebelah suaminya itu.

Sanib dan Minah sudah sepuluh tahun berumah tangga, meski tidak mewah, mereka berdua beserta enam orang putra putri mereka hidup tenteram. Sanib memang rajin bercerita ke Minah tentang apapun, termasuk soal kekeringan yang melanda kampung mereka.

"Kalau sampai tabungan kita habis tapi hujan belum juga turun. Aku perlu cari pekerjaan lain supaya bisa dapat uang, mungkin aku mau ikut kayak si Darma kerja nebang kayu dihutan!" Sanib bertutur sambil berusaha menyembunyikan kegusarannya, ia menyeruput halus kopi buatan istrinya itu.

Satu bulan kemudian

Hujan masih juga belum turun, tanah di kampung Sanib makin keras mengering dan terbelah. Kebun Jagung Sanib sudah tinggal cerita. Pekan lalu, api dari kebakaran ladang tetangganya telah menyambar dan melumat habis tanaman jagung Sanib yang memang sudah mengering layu. Sanib cuma bisa pasrah.

"Dek, aku berangkat ya. Mungkin 2-3 hari lagi pulang. Hutannya agak jauh, jadi mending nginap daripada bolak- balik, biar hasilnya lebih banyak" ujar Sanib pada Minah saat hendak pamit berangkat ke hutan. Sudah dua minggu ini ia ikut si Darma jadi penebang kayu hutan. Hasilnya lumayan, sekali pergi ia bisa pulang bawa uang untuk makan dan kebutuhan selama 2 minggu.

"Iya Mas, hati- hati ya. Ini pakaian didalam tas sudah kusiapkan sama minyak tawon kalau Mas pegal-pegal dimalam hari" Minah memberikan tas yang lebih mirip karung itu ke Sanib. Minah memang sayang benar pada Sanib, lelaki sederhana yang tahu betul arti tanggung jawab pada keluarga.

"Iya Dek, doain ya" Sanib mengecup lembut kening Minah dan disambut kecupan Minah di punggung tangan kanan Sanib. Ia pun berangkat setelah memeluk Minah dan satu persatu putra- putri nya itu. Darma telah cukup lama menunggu didepan rumah mereka dengan menggunakan truk reot keluaran tahun 1992 itu mereka berangkat.

Minah dan keenam anaknya tidak sekejap pun melepas pandangan yang ditumpangi Sanib, sampai akhirnya Sanib mengecil dan menghilang di kelokan jalan. Minah menghela nafas panjang sembari berdoa agar hujan lekas turun sehingga Sanib bisa kembali menggarap ladang dan tidak perlu jauh- jauh mencari nafkah.

Tiga hari kemudian

Minah bahagia, ia dandan tak biasa hari ini. Sanib, sang suami akan pulang. Ia telah menyiapkan sepiring pisang goreng sedari pagi tadi, tak lupa pula secangkir kopi hangat di gelas bermotif lurik khas hijau putih. Enam orang anaknya sedang bermain di belakang bersama ayam dan itik peliharaan mereka. Sumringah betul Minah hari itu menanti Sanib.

Saat Minah tengah membersihkan ruang depan, tiba- tiba truk reot tumpangan Sanib dan Darma tiba di depan rumah mereka. Minah bergegas keluar menyambut di depan pintu. Tetapi hanya Darma yang terlihat. Kemana Sanib? Pikir Minah. Darma pun mendekati Minah, takut dan bingung ia melangkah.

"Nah, Sanib titip pesan katanya ia sayang banget sama kamu dan anak- anak. Ia minta maaf gak bisa pulang menuhin janji" Ujar Darma ke Minah. Minah masih bingung dan bertanya- tanya.

"Memangnya ada apa Dar? Kok Mas Sanib gak pulang sekalian?" Minah penasaran

Akhirnya meluncurlah penuturan Darma yang membuat Minah terhuyung pingsan.

"Maaf Minah, Sanib sudah meninggal. Dua hari yang lalu ia tidak sengaja ketiban pohon besar yang ditebang. Kami sudah berusaha membawanya ke rumah sakit untuk diselamatkan tapi ditengah jalan ia meninggal. Ia cuma titip pesan itu tadi aja ke kamu. Sekarang jenazahnya ada di rumah sakit"

Beberapa jam kemudian

Minah baru saja siuman dikelilingi enam anaknya dan saudara- saudaranya dari kampung sebelah. Dirumahnya sudah ramai pelayat berdatangan dan membacakan pengajian untuk arwah Sanib. Jasad Sanib tiba dari rumah sakit dijemput mobil kepala desa dua jam yang lalu saat Minah tengah pingsan. Minah kemudian mendekati jenazah Sanib, menatapnya dalam- dalam. Seperti dulu saat mereka masih pengantin baru. Minah telah ikhlas menerima kepergian Sanib. Entah apa yang dialaminya semasa pingsan tadi sehingga ia jadi begitu tegar.

"Mas, doaku selalu untukmu. Sebisanya, insyaALLAH akan kurawat dan kubesarkan anak- anak kita" ujar Minah dalam hati sembari terus berdoa agar hujan segera lekas turun.

Ebas
Pangkal Pinang. 27092014. 23:42.

Read more »

9.08.2014

Tulisan Untuk Tuhan

Tuhan, bila ini caraMu untuk bilang
Bahwa aku cuma hambaMu yang lemah
Maka aku pasrah

Tuhan, bila ini kuasaMu untuk tunjukkan
Betapa agung dan sempurnanya Engkau
Maka aku terima

Tuhan, bila lewat semua ini kau ajariku
Tentang kepatutan sebagai hambaMu
Maka jangan sisakan pongah dikalbuku

Tuhan, siapa aku yang berani tanya putusanMu?
Kau beri jalan lurus dan mulus bukan untukku
Dan cuma tersisa terjal dan liku

Tuhan, getar hebat didadaku
Saat kubaca kuatnya firmanMu
Kau bilang "Sesungguhnya janjiKu amat teguh"

Tuhan, jangan Kau tolak doaku karena dosaku
Pun pula bagi para orang tua, istri dan saudaraku
Bila bukan Engkau, tak ada lagi tempat bagiku

Tuhan, ada setan berbisik hebat bilang Kau lupakan aku
Tuhan, ada malaikat berujar lembut bilang Kau tengah mengujiku
Tuhan, Engkau paham betul gemuruh bimbang menerpa imanku

Tuhan, Engkau ada, Engkau nyata
Darimu aku bermula, Engkau maha mencipta
Apa mungkin aku telah lupa?

Tuhan, Selamatkanlah aku dari gila.
Ingatkan aku bahwa aku lemah.
Sadarkan bahwa kuasaku terbatas, Kuasamu tanpa batas.

Tuhan, ajariku agar sabar tunggu janjiMu
Tuhan, ajariku untuk ingat kuasaMu
Tuhan, ajariku untuk terima mauMu
Tuhan, ingatkanku bahwa aku cuma hambaMu

Semua kini terserah kehendakMu, Tuhan.

Ebas
Pangkal Pinang. 09092014.

Read more »

9.01.2014

Kalkulasi BBM di Lorong Politik

Menjadi presiden dan wakil presiden terpilih pasca Pilpres 2014, Jokowi-JK langsung dihadapkan pada polemik menahun BBM yang sejak dulu timbul tenggelam mengemuka. BBM, yang kerap dipelintir sebagai akronim dari Benar- Benar Masalah, merupakan batu sandungan yang mempersingkat masa bulan madu Jokowi-JK dengan 70 juta lebih pemilihnya. Dikatakan menjadi batu sandungan bukanlah tanpa sebab, karena sejelas apapun nalar  ekonomi Jokowi-JK dan Tim Transisi untuk menaikkan harga BBM, implementasinya akan masuk ke jalur politik yang panjang lagi penuh intrik.

Kita sudah sejak lama tahu bahwa isu kenaikan harga BBM telah menjadi komoditi yang paling empuk untuk menggiring opini publik bahwa sang penguasa tidak memihak wong cilik. Akhirnya kebijakan ini dianggap sebagai kebijakan tidak populer yang sebisa mungkin harus dijauhi. Tetapi Jokowi-JK sepertinya tidak punya opsi lain, rencana untuk meminta SBY-Boediono menaikkan harga BBM di akhir masa jabatannya telah gagal setelah hasil pertemuan di Bali tanggal 30 Agustus 2014 beakhir nihil. Alasan apapun yang ada di benak SBY patut dimaklumi. Konklusi sederhananya adalah: Setiap pemerintahan memiliki ujiannya masing- masing. Itu benar, meski kita juga mungkin sepakat bahwa ujian BBM yang menimpa Jokowi-JK ini hadir terlalu dini.

Saat membuat tulisan ini, saya tidak memposisikan diri sebagai fans die hard Jokowi-JK, bahkan saya tidak memilih mereka Pilpres kemarin, meski saya akui saya adalah penggemar Jusuf Kalla (untuk sikap gesit dan beraninya). Murni saya letakkan diri saya sebagai bagian masyarakat yang hendak memberi sudut pandang yang lebih realistis disaat sebagian yang lainnya mungkin masih terseret sisa drama dan sentimen gelaran pilpres kemarin. Mari kita bicara realita, data dan fakta.

Apa yang kini dihadapi Jokowi-JK sebetulnya adalah persoalan yang telah berlarut-larut dan menimbulkan komplikasi dalam tata kelola arah pembangunan bangsa. Bertahun- tahun lamanya, masyarakat telah dimanja oleh subsidi BBM yang sebenarnya telah menciptakan ruang gerak pembangunan yang sempit. APBN tertekan, bahkan diambang defisit dibuatnya. Sayangnya, praktik politik pragmatis yang selama ini berjalan diparlemen dan eksekutif justru mendorong bertahannya pola ini selama 1 dekade teakhir. Mereka mengatasnamakan rakyat. Padahal sejatinya hanya menanam bom waktu yang justru semakin menyengsarakan rakyat.

Percaya atau tidak, faktanya adalah Indonesia telah menghabiskan hampir Rp1.650 Triliun untuk mendanai subsidi BBM dalam lima tahun terakhir. Di tahun 2014 yang hanya tersisa 4 bulan lagi, anggaran subsidi BBM telah menyentuh level hampir Rp400 Triliun atau setara lebih dari 30% APBN 2014.  Dan program ini dijalankan ditengah keadaan produksi minyak bumi yang terus menurun selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2004 produksi minyak bumi Indonesia mencapai 1,1 juta barrel/hari menjadi hanya 0,82 juta barrel/hari saja di tahun 2014. Sementara itu, cadangan minyak kita pun terus menurun dari 4,7 Miliar barrel pada tahun 2004 menjadi 3,7 Milliar barrel pada tahun 2014. Keterangan ini bersumber dari mantan pejabat tinggi PERTAMINA, Ari Soemarno.

Pergerakan konsumsi BBM bersubdisi yang eksponensial itu menjadi duka tersendiri karena subsidi yang semula ditujukan kepada masyarakat miskin, nyatanya lebih banyak dinikmati oleh mereka dari kalangan yang sebetulnya mampu. Berdasarkan hasil penelitian Kompas, pada sektor transportasi darat, terpapar data bahwa 53% penikmat subsidi BBM adalah mobil pribadi, 40% sepeda motor, 3% mobil angkutan umum dan 4% untuk mobil pengangkut barang. Konsumsi sektor transportasi darat ini meliputi 97,3% dari total pemakaian BBM bersubsidi di semua sektor, sektor lainnya adalah rumah tangga, usaha kecil, transportasi air dan perikanan dengan konsumsi masing- masing tidak sampai 1%. Sampai disini, seharusnya kita bertanya: Mengapa kita masih berani memanjakan diri lewat subsidi ditengah cadangan dan produksi yang semakin menipis? Mengapa kita berteriak bahwa BBM telah telah membantu rakyat miskin bila nyatanya mereka yang kita suarakan itu mengkonsumsi tak sampai 1% dari kuota yang ada?

Mungkin kita sepakat untuk mengamini pernyataan Jokowi disaat sesi debat Pilpres kemarin bahwa ada solusi Revolusi Energi yang dapat ditempuh untuk menghindarkan Indonesia dari kelangkaan energi. Tetapi eksplorasi dan pengembangan itu butuh uang dan waktu. Dari mana uang itu bila APBN sudah tersedot habis ke belanja tak produktif? Semua fakta yang ada (bila kita mau menerima) telah menyajikan keadaan yang menggambarkan betapa terjepitnya Indonesia saat ini. Pemerintahan SBY- Boediono bukannya tidak menyadari situasi, skema pembatasan kuota yang kemarin dijalankan telah menunjukkan pemahaman dan sikap disiplin mereka untuk tegas pada kuota, tetapi keadaan berakhir lain, masyarakat tampak kaget mendapati kelangkaan, antrian mengular di banyak SPBU di tanah air. Terlalu lama dimanja dengan ketersediaan BBM bersubsidi rupanya telah membentuk mentalitas kita menjadi pribadi yang mudah terkejut untuk kemudian lupa kembali.

PERTAMINA memberi gambaran bahwa bila pemerintah tak tegas pada kuota maka anggaran subsidi BBM akan jebol dan berakhir menjadi defisit APBN. Kuota yang seharusnya cukup sampai akhir tahun 2014 ternyata bablas hanya sampai Juli 2014 saja. SBY-Boediono kebingungan, Jokowi-JK kelabakan. Kita akhirnya kembali menonton drama BBM, Benar- Benar Masalah. Mari kita akui bahwa untuk saat ini, maka menaikkan harga BBM adalah keniscayaan. Meski untuk menjalankannya pemerintah akan dihadapkan pada bayang- bayang inflasi, meningkatnya kemiskinan dan gejolak sosial lainnya. Itu pun kalau berjalan mulus di parlemen. Harusnya kita berhenti menganggap kebijakan menaikkan harga BBM sebagai kebijakan yang tidak popular. Praktik dekonstruksi anggapan ini akan sangat membantu Indonesia lepas dari jeratan candu subsidi BBM.

Tidak bisa dipungkiri bahwa menaikkan harga BBM, praktis akan menimbulkan inflasi. Skema penyesuaian harga BBM menurut Kementerian Keuangan apabila dinaikkan sebesar Rp500/liter akan mendorong inflasi 0,6% dan menyelamatkan anggaran negara Rp24 Triliun, bila dinaikkan sebesar Rp1.000/liter akan mendorong inflasi 1,2% dan menyelamatkan anggaran Rp48Triliun dan bila dinaikkan sebesar Rp2.000/liter akan mendorong inflasi 2,4% dan menyelamatkan anggaran Rp96Triliun. Benar bahwa rakyat miskin lah yang akan paling merasakan dampak inflasi ini, tetapi disinilah titik kritis dimana Jokowi-JK bersama Bank Indonesia dapat bekerja keras mengendalikan inflasi agar tidak bertambah liar.

Lebih dari itu, tambahan kemampuan fiskal Negara yang diperoleh dari menaikkan harga BBM akan dapat dialihkan ke belanja sektor lain yang benar- benar menyentuh jantung kehidupan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Secara bertahap, dengan mengamankan tiga sektor ini, tentu akan memberi efek yang dapat menekan biaya sosial pemicu inflasi. Bukankah inilah yang justru kita inginkan? Sebuah kebijakan yang benar- benar memihak wong cilik sekaligus memperjelas arah pembangunan bangsa.

Membangun puskesmas, membangun sekolah, menguatkan konektivitas antar wilayah, pembangunan simpul- simpul infrastruktur dan menciptakan diversifikasi sumber energi hanya akan dapat diwujudkan bila ruang gerak fiskal di APBN lebih leluasa, tidak lagi tersandera beban subsidi BBM. Terpilihnya Jokowi- JK bukanlah fakta ajaib yang akan mengusir habis semua masalah negeri, tetapi arah kebijakan mereka lah yang membuat kita berani berharap lebih. Tetapi berharap saja tidak cukup, kita harus mengawal dan mengawasi, bukan mencibir dan memaki. Ada perbedaan yang jelas antara mengawal dengan kritis berdasarkan logika dan nalar yang empiris dengan mengawal secara sinis berdasarkan sentimen pribadi dan kelompok.

Jokowi-JK memang tidak menang secara mayoritas mutlak, hanya 53,15%. Tetapi bila kini mereka yang telah sah dinyatakan menang. Maka tidak ada jalan lain, selain duduk bersama, bergerak bersama untuk kepentingan bersama. Karena berkontribusi tak harus duduk menjadi penguasa, karena sesungguhnya Jokowi-JK tidaklah istimewa tanpa dukungan kita. Bila bukan kita yang memberikan dukungan maka bisa dipastikan kebijakan Jokowi-JK akan terganjal di lorong politik yang sarat intrik kepentingan. Di parlemen, koalisi Jokowi-JK memang tak unggul, tetapi apalah arti keunggulan hitungan matematika politik bila para eksekutif telah mendapat simpati dan berkoalisi dengan pihak yang dukungannya sesungguhnya sangat istimewa dan menentukan, yaitu rakyat.

Pangkal Pinang, 01 September 2014.

Read more »