10.29.2011

Move On


Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini aku suka dengan kata "Move On" ini. Pertama dengar waktu kawan satu kelas ada yang lagi down karena satu hal, kemudian kawan yang lain memberi masukan dengan kata-kata ini. Terus waktu di kampus dua hari lalu dapat sms undangan datang ke Conversation Club dengan tema bahasannya Move On. Sebuah kebetulan? Only God knows.

Setiap scene perjalanan hidup ini pasti pernah bertemu dengan suatu peristiwa, momen yang memberi pengalaman emosi yang baru, mungkin sama saja sebetulnya karena berkutat dengan emosi buruk atau baik, tapi ada pembaruan yang mematangkan jiwa dan pola pikir, tapi dengan catatan jika ada keberanian untuk lanjut melangkah, sebab terlalu lama melambung dengan kegembiraan akan membuat lupa dengan tanggung jawab yang sebenarnya, dan terlalu lama tenggelam dalam duka akan mengikis rasa syukur.

Momen atau peristiwa itu memang tidak bisa dihindari tapi bukan berarti tidak bisa ditinggalkan. Move on adalah kuncinya. Move on saja jangan terlalu peduli, perkara nanti lihat saja bagaimana nanti, yang penting hari kemarin harus berani untuk ditinggalkan. Karena tanggung jawab di hari esok sudah menanti. Ah, aku bagai sudah dewasa dan matang saja menulis demikian ini. Tapi memang nyatanya setiap kita pernah menjalani pengalaman, dan punya cara sendiri-sendiri untuk mengambil pelajaran dan membuatnya sebagai peringatan yang keras lagi kuat.

Seperti Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari Mekkah ke Madinah, disana beliau dan kaum Muhajirin melanjutkan hidup (Move On) dan meninggalkan semua kenangan semasa hidup sejak dahulu demi hidup yang lebih tenang dan lebih baik di Madinah sana. Hanya dengan Move On, maka Nabi Muhammad SAW dapat melanjutkan dakwah yang merupakan tugas yang lebih utama yang menanti untuk ditunaikan. Aku kira begitu juga setiap kita, mungkin dengan Move On apa yang menjadi tugas utama akan dapat terlaksana dengan lebih baik, lebih tepat sasaran dan tidak sia-sia. Die for something is better than life for nothing.

Ebas,
Bintaro, siang ini.

Read more »

10.28.2011

Gracias a Dios.


Jujur saja aku sepertinya belum terlalu baik dalam membedakan berani dengan nekad, sebab bagi ku keduanya sama berarti melangkah maju tanpa tahu apa yang akan terjadi didepan, dengan menjawab pertanyaan 'bagaimana nanti?' dengan kalimat 'kita lihat nanti!'. Terdengar naif namun memang itu yang terjadi, mungkin seperti tidak paham antara beda keinginan dengan emosi sesaat, yang akhirnya membuat sesuatu menjadi tidak tuntas, bahaya sekali ini aku kira. Sampai kapan aku terus seperti ini? Tidak boleh berlama- lama lagi!

Melalui chat room, seorang teman pernah memberi jawaban ketika aku pernah suatu kali mengeluh tentang amanah yang dulu dengan yakinnya aku ambil. Ia hanya berkata bahwa karena aku telah mengambilnya maka aku harus menyelesaikannya dan bertanggung jawab atasnya, bukankah sebelumnya sudah aku sudah beri tahu diriku sendiri mengenai resiko pribadi dan psikologis yang akan aku hadapi nantinya? Akhirnya, tidak ada pilihan lain selain menyelesaikannya. Dan kini sudah 10 bulan aku menjalankan amanah ini, seperti ada rasa lega bahwa tanggung jawab ini akan berakhir 1 bulan lagi dan rasa syukur bahwa ternyata akhirnya bisa aku selesaikan.

Amanah yang aku maksud adalah memegang tanggung jawab sebagai Ketua Angkatan, tidak mudah, sama sekali tidak mudah, bagian yang terberat adalah bagaimana mengenali dan mengendalikan diri sendiri supaya dapat tampil lebih baik dalam melayani orang lain, yang notabene selalu aku persepsikan sebagai tugas pokok sebuah kepemimpinan yaitu melayani kepentingan orang lain, mendahulukannya diatas kepentingan pribadi, walau harus menjadi yang terakhir yang penting tugas dapat terlaksana. Dan dapat mempertanggung jawabkannya di pengadilan Tuhan yang maha adil, di akhirat kelak.

Pernah aku sekali waktu terpikir untuk mundur namun motivasi ku sejak awal untuk dapat melakukan kebaikan lebih banyak membuat aku bertahan walau berat tapi selalu aku coba sanggupkan diri. Semua ini tidak akan pernah dapat terjadi tanpa pertolongan Tuhan yang memberi kekuatan dan kemudahan melalui kehadiran banyak rekan dan berbagai pihak hingga pertolongan demi pertolongaNYA datang disaat yang tepat. Aku kira semua ini telah menjadi pembelajaran buat ku dalam mengambil langkah ke depan untuk berani maju mengambil tanggung jawab walau hanya didasari dengan niat baik lalu aku coba putuskan dengan bijak dan aku jalankan dengan berani, selebihnya aku serahkan pada Tuhan yang maha menentukan hasil dan maha tahu apapun yang terbaik.

Read more »

10.25.2011

Vamos Pronto!


Aku buka twitter sore tadi, begitu lihat timeline, seorang teman SMA dulu me retweet sebuah tweet dari akun yang aku kenal, dan isi tweetnya membuat aku merasa sensasi sore ini beda, bukan sekedar sore dengan hujan yang biasa dingin namun pikiran serta sudut pandang yang baru, walau tidak baru sekali karena seringkali terlupa.

RT@xxxxx: Jngn pernah meremehkan dirimu. Tuhan memberikanmu hidup bkn krena kamu membutuhkannya, tapi karena seseorang membutuhkanmu.

Begitulah isi tweet yang aku maksud, aku tersenyum dalam hati membacanya, senyum senang karena aku mulai merasa tidak sia-sia hidup ini, aku tahu bahwa tweet itu bukan kutipan ayat suci sehingga kebenarannya masih perlu dipertanyakan, namun buatku, dari mana kebenaran itu datang, tidaklah jadi soal, karena kebenaran itu selalu insyaALLAH baik.

Mungkin benar ada orang yang membutuhkanku sehingga aku diciptakan,dan mereka setidaknya membuat hidupku tidak sia-sia karena mungkin kini garis takdir tengah mempertemukan kami atau justru sudah lewat masa-masa itu tanpa disadari dan mungkin saja belum terjadi. Begitupun mungkin mengapa mereka diciptakan adalah karena aku membutuhkan mereka di suatu dimensi waktu yang mungkin tidak aku sadari telah terlewat atau mungkin tengah kulewati kini atau belum hingga nanti terjadi.

Dan aku kira patutlah aku ucapkan Terima Kasih, lalu dari sini sebagusnya aku harus bergerak atau move on menjalani hidup untuk mana tahu akan menjumpai orang-orang yang membutuhkan ku dan saat itu mana tahu aku pun pasti membutuhkan orang lain walau hanya sesaat atau berkelanjutan. Doakan aku harus pergi kalau begitu.

Read more »

10.24.2011

Merapi, Kali Ini.


Akhirnya tercapai juga keinginan mendaki gunung di Jawa Tengah. Merapi, kali ini. Alhamdulillah walau agak gentar kalau aku ingat erupsi nya yang masih baru dalam hitungan tahun, sampai juga ke puncaknya yang pekat belerangnya dan panas uapnya, 2911 mdpl lewat jalur Selo, Semarang.

Akhir pekan ini, 21-23 Oktober aku ikut serta dengan 23 orang yang dikoordinir oleh Lisna (temen sependakian Semeru dan Ciremai beberapa waktu lalu) merapat ke Merapi, beberapa orang dari kami berangkat dari Stasiun Senen menumpang Kereta Tawang Jaya tujuan Stasiun Semarang Poncol, selebihnya naik dari Stasiun Bekasi dan 1 orang di Terminal Terboyo, Semarang. Kereta Ekonomi yang kami tumpangi lebih tertib, tidak berjejalan dan tidak ada yang berdiri.

Berangkat dari Jakarta pukul 21.30 malam kami sampai di Semarang pukul 06.00 pagi waktu setempat, istirahat sejenak dan sarapan pagi di warung makan keluar stasiun (tapi menurutku kurang recommended karena harganya mahal untuk ukuran wilayah Jawa yang sering aku dengar murah biaya makan). Sekilas aku perhatikan Semarang memang khas, dibeberapa titik banyak bangunan yang masing sangat khas era Belanda-nya, wajar kalau sempat dijadikan salah satu lokasi syuting SHG 6 tahun lalu.

Perjalanan lanjut menuju Terminal Terboyo, untuk transit menuju Boyolali sekaligus menjemput Bang Jainer Hasudungan (anggota tim berangkat dari stasiun kereta Api Cirebon). Kemudian dengan menumpang Bis Ekonomi non-AC kami total 23 orang menuju Boyolali, perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam, melintasi beberapa daerah yang sering aku dengar salah satunya : Salatiga. Sekitar siang pukul 10 pagi kami sudah tiba di Terminal Boyolali, setelah berbenah diri sejenak perjalanan lanjut kembali dengan menumpang angkutan 3/4 tipe ELF jurusan Selo yang langsung akan mengantarkan kami ke Base Camp pendakian Merapi.

Wilayah Selo itu ibarat kawasan Puncak, Selo Pass begitu warga sekitar menamainya, di akhir pekan menjadi ramai kunjungan wisatawan untuk menikmati pemandangan dari ketinggian yang langsung mengadap ke Gunung Merbabu. Kurang lebih 1 jam kemudian kami tiba di Pos Pendaftaran pendakian, dan setelah hampir 2 jam istirahat dan persiapan kamipun mulai mendaki.


Pendakian dimulai dengan melintasi jalur aspal sebagai pembuka, namun terbilang tinggi juga tanjakannya. Sampai kemudian mulai memasuki area perkebunan warga. Aku agak terkejut secara fisik dengan medan kali ini, walau sudah masuk ke area perkebunan sekalipun, tidak banyak ditemui kawasan hutan pepohonan menahun yang biasanya membuat trekking tidak terlalu panas, yang ada hanya pepohonan perdu begitu terus sampai ke perbatasan vegetasi.

Ini membuat aklimatisasi tubuhku agak lambat, jantung berdegup kencang dan cepat namun beberapa kali aku paksakan untuk terus berjalan. Jalur yang ada memang cukup jelas namun banyak percabangan, semacam jalur yang baru dibuka. Menjelang magrib kami istirahat di tanah yang cukup datar, agak luas untuk Sholat dan bersantai. Dari sini, kami kembali mendaki dan masing-masing mulai menyalakan senter. Baru beberapa menit trekking tiba-tiba hujan cukup deras, mentalku agak gentar disini, mungkin karena sudah agak lama tidak mendaki bersamaan dengan hujan, terakhir tahun lalu, aku ingat betul itu, waktu ke Cikuray.

Tujuan kami adalah mendirikan tenda di pos terakhir, Pasar Bubrah. Hujan masih turun sementara angin justru bertiup makin kencang, ujian yang berat aku pikir, sudah mental sempat agak down kini fisik juga diserang, namun beginilah alam. Ketika sudah tiba di batas vegetasi kawasan batuan cadas, angin yang berhembus kian kencang,belum lagi kata seorang kawan berkata bahwa jalurnya sudah banyak berubah pasca erupsi, hopeless. Baru kali ini aku mendaki gunung yang untuk menuju ke pos terakhirnya saja seperti beratnya medan untuk menuju puncak, hanya bebetauan kering yang cukup curam. Aku pikir dalam hati: Bagaimana menuju puncaknya nanti??

Akhirnya setelah bersusah payah, kami tiba di Pos Pasar Bubrah, pos ini berupa dataran luas yang banyak bebatuan. Malam itu pukul 22.00 dan kami langsung mendirikan tenda, dibawah intimidasi angin malam Merapi yang dingin yang kencang, adalah sebuah pengalaman baru atau ujian baru, entahlah aku bingung juga, begitulah memang selalu ada kapok kalau sedang susahnya begitu, tapi kembali rindu kalau sudah usai begini, inilah katanya yang dinamakan candu.


Pagi kami sudah bangun, sudah agak terang suasana dari luar tenda. Aku mau keluar cuman rasanya malas, bagus di dalam tenda saja. Kalau ingat angin tadi malam rasanya sungkan untuk summit attack, terbayang kencang dan dinginnya pasti, namun setelah Sholat Subuh aku pakai baju empat lapis, celana dua lapis, kupluk dan kaos kaki dua lapis lalu keluar bergabung dengan tim yang akan menuju puncak. Setelah lengkap membawa logistik dan air minum kami bergerak, tapi tidak lupa berdoa, itu jangan lupa.

Kami mulai menapaki punggungan Merapi dari jalur yang murni bebatuan kerikil sebesar kepala bayi hingga medan dengan batuan karang sebesar bola kaki. Harus ekstra hati- hati agar pijakan yang salah tidak melongsorkan batuan tadi ke tim yang ada dibawah. Batuan yang keras bisa dijadikan pegangan namun hati-hati dengan batuan kapur yang rapuh, jangan salah ambil pegangan. Aku terus menapak satu dua hingga tiga langkah lalu istirahat menghela nafas sambil memperhatikan jalur didepan yang baik diambil.

Bersyukur medan berat yang dilewati tadi malam ternyata memberikan aku keyakinan dan kekuatan untuk bisa menuju puncak. Medan ke puncak memang lebih berat, lebih terjal dan lebih berbatu dibanding track terakhir menuju Pasar Bubrah hanya bedanya angin tidak sekencang tadi pagi, cuma kabut saja yang sering mengganggu pandangan. Tidak perlu pakai tali atau SRT untuk melewati medannya, namun harus pandai melihat mana jalur yang pas untuk dilewati dan minimum resikonya. Sekitar 2 jam mendaki puncak, akhir nya aku tiba juga, seperti biasa, aku sujud syukur dan menyadari aroma pekat belerang di Puncak ini sangat kuat dan memang sebaiknya harus segera turun, pemandangan di kawah sangat pekat kabutnya seperti mendidih saja mungkin. Sementara disisi lain, hamparan kota Semarang tampak kecil seujung kuku tidak berarti. Sungguh suatu anugrah bisa melihat dan menikmati ini semua.


Tidak ada pilihan lain jika sudah tiba dipuncak, kecuali turun. Begitu juga kalau sudah digunung. Kami mulai berangsur-angsur turun, namun hanya aku yang salah ambil jalur, maksud hati mau by pass tapi malah hampir terhempas di jalur berpasir kerikil yang rentan dilewati bebatuan yang jatuh dari atas. Nyawa taruhannya, untung dasar nasib umur masih panjang akhirnya sampai juga dibawah sambil berlari atau sandboarding
di jalur yang landai dan aku baru sadar bawah Pos Pasar Bubrah ini luas sekali, dan ada banyak tenda pendaki di sisi sisi yang lain. Dari Pasar Bubrah, Sindor- Sumbing dapat terlihat jelas (CMIIW) dan Merbabu juga tampak.

Begitu tiba di Pasar Bubrah, kami semua langsung repacking dan menyiapkan untuk segera turun kembali ke peradaban. Tentunya setelah makan siang dan merekam kebersamaan dalam gambar kenangan (singkatnya: berfoto), akhirnya 23 orang ini turun kembali karena dikejar jadwal kereta pukul 19.00. Meninggalkan Puncak Merapi dan Pasar Bubrah dengan kebisingan angin yang tenggelam dimakan hening bebatuan. Meninggalkan hembusan angin dingin yang tadi malam bergerak hebat mengarak awan mencerahkan sang mega menjadi biru terang kontras berlatar kepulan kawah sang Merapi.

Untuk 23 orang tim pendakian Merapi via Selo: (Mbak Wiwik, Arief, Uwi, Bang Jainer, Oblok, Lisna, Yuda, Bang Lukman, Oji, Ichank, Aconk, Kofle, Pak Lurah, Bange, Iyenk, Mbak Efi, Kang Erry, Dani, Harun, Kentung, Eddy. Terima kasih banyak untuk kebersamaannya dan aku tunggu kalau ada kabar mau mendaki lagi. :D

Ebas
Sudut Kamar.

Read more »

10.19.2011

Dinamika Sebuah DINAMIKA


PENGANTAR

DINAMIKA (Studi Perdana Memasuki Kampus) STAN dari tahun ke tahun terus mencari bentuk yang ideal dengan tema yang khas, memorable, dan aplikatif. Menurut saya ini wajar karena sebagai sebuah prosesi singkat tentu ada banyak usaha dan dinamika pemikiran untuk memaksimalkan waktu yang tersedia dalam menuju hasil yang diinginkan, sehingga apapun tema yang diangkat dan bagaimana pengejawantahannya harus lah berimbas pada pembentukan pribadi baru yang mencintai almamater dan berkepribadian paripurna (sosial, akademis, inisiatif) sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman yang makin kompetitif tanpa meninggalkan budaya ketimuran yang identik.

KONDISI KINI

Menanggapi tuntutan tersebut, maka akan muncul pertanyaan besar yaitu apakah dalam waktu singkat itu akan memicu munculnya pribadi paripurna yang diharapkan? Memang proses pembentukan sebuah kepribadian adalah proses panjang dan melibatkan banyak aspek. DINAMIKA adalah salah satu dari sekian banyak aspek itu, dan ekspektasi riil yang menjadi target utama adalah bagaimana DINAMIKA itu sendiri dapat menjadi kawah candradimuka para mahasiswa baru dalam memasuki arena yang lebih panjang lagi. Sehingga manakala mereka terjun ke lingkungan perkuliahan dan dunia kerja, setidaknya DINAMIKA sudah berhasil menanamkan gambaran nyata tentang dua aspek tersebut dan membuat mereka tahu bagaimana bersikap positif demi menjaga nama baik almamater dan tidak menciderai nilai nilai akademisi serta kemanusiaan. Sehingga ada dua tujuan yang hendak dicapai disini yaitu tujuan Akademis dan tujuan Sosial.

SEBUAH KONSEP

Para Mahasiswa/i Baru wajarnya dipandang sebagai sebuah investasi yang harus dirawat untuk jangka panjang, bukan hanya sebagai aset yang hanya difokuskan untuk habis dipakai tanpa diberdayakan, pemikiran seperti ini harus berlaku dua arah. DINAMIKA adalah salah satu jalan untuk menanamkan mindset ini kepada diri para mahasiswa/i baru melalui penugasan-penugasan yang bermuatan edukatif dan berlandaskan alasan yang logis mengenai tugas yang diberikan, supaya ada transfer nilai yang kooperatif dan meminimalisir kesan ‘perploncoan’. Artinya sudah saatnya jika para mahasiswa/i baru dilibatkan secara langsung dalam menentukan tugas yang hendak dikerjakan, yang bermula dari usulan panitia kemudian bisa ditanggapi oleh mahasiswa/i tersebut sepanjang menyertakan penjelasan yang rasional dan logis, karena panitia bukan Malaikat yang selalu benar dan mereka Mahasiswa/i baru juga bukan (maaf) Kerbau yang hanya menurut saja, pengkondisian semacam ini juga melatih keberanian mereka dalam mengemukakan pendapat dan bersikap kritis serta mengajarkan pada diri kita sendiri untuk terbuka menyikapi perbedaan pendapat.

Kampus sarat dengan pencarian dan kajian ilmiah sebagai tanda adanya geliat kehidupan akademis didalamnya, disini muncul sebuah tantangan yang kita tengah hadapi bersama yaitu dimana STAN sebagai kampus ‘birokrat’ juga harus mampu hadir sebagai ‘research center’ yang juga concern dengan pembahasan kritis mengenai suatu keilmuan, khususnya dibidang Ekonomi. DINAMIKA merupakan salah satu media untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menyajikan sebuah konsep yang mampu menanamkan nilai kepedulian akan ilmu pengetahuan kepada para mahasiswa/i baru. Bersyukur sebuah konsep dasar yang ditetapkan Badan Eksekutif Mahasiswa telah mengakomodir kebutuhan ini dengan menghadirkan sesi seminar wajib dan pilihan sesuai dengan preferensi. Poin yang perlu diperhatikan kembali adalah tolak ukur yang tepat untuk melihat sebuah potensi yang ada dari para mahasiswa baru, yaitu bagaimana respon mereka terhadap pembahasan dalam seminar tersebut mampu dituangkan dengan baik secara lisan ataupun tulisan untuk kemudian dibukukan menjadi sebuah dokumentasi atas nama angkatan mereka, hal ini tentunya akan memunculkan kebanggaan satu angkatan dan mendorong sebuah penghargaan yang menyadarkan potensi yang mereka miliki dan patut untuk dikembangkan.

Penugasan-penugasan serupa hal ini sangat penting untuk menanamkan sikap kritis dan berani berpendapat yang sangat berguna dalam dinamika dunia kampus atau dunia kerja. Tetapi ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan bahwa seorang manusia yang paripurna adalah ia yang tahu bagaimana bersikap dalam perannya sebagai anggota sosial masyarakat sehingga DINAMIKA harus menjadi sebuah kesempatan untuk menyadarkan para mahasiswa/i baru akan hal mendasar ini. DINAMIKA seyogyanya tidak hanya antara Panitia-Kampus-Mahasiwa/i, karena untuk mencapai tujuan sosialnya alangkah baiknya jika sejak dini dihadirkan sebuah pengkondisian bagi mahasiswa/i baru untuk turun ke lapangan kehidupan bermasyarakat yang membuat keberadaan mereka lebih bernilai ditengah lingkungan. Hal ini juga merupakan upaya kita untuk menjawab selentingan miring dari masyarakat akan apatisme mahasiswa/i STAN dengan lingkungan sekitarnya.

Konsep Ideal merupakan sebuah bentuk yang dianggap paling pas mengenai suatu atau beberapa hal yang muncul dari opini seseorang, setelah tadi saya coba memaparkan konsep dari sisi mahasiswa/i selaku pelaku aktif atau peserta. Kini, sisi lain yang ingin saya soroti adalah dari sisi panitia. Kepanitiaan dalam hal ini merupakan kerja sama yang sehat antara Lembaga dan Mahasiswa penyelenggara, keduanya harus saling mengawasi dan berkomunikasi dengan baik. Sekretariat bukan atasan dan Mahasiswa juga bukan anak emas yang dalam posisi harus dilayani. Keduanya harus berjalan dalam posisi saling mengawasi dan mengingatkan, sehebat apapun kreasi dan imajinasi mahasiswa penyelenggara dalam mengkonsep acara DINAMIKA ini, tentu perlu diperhatikan lewat monitoring yang baik dari pihak sekretariat, jadi ada semacam pengawalan langsung dari lembaga yang tentu saja berguna untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti campur tangan pihak lain yang tidak berkepentingan atau kendala lain yang bersifat birokrasi yang mengganggu kelancaran pelaksanaan acara.

Panitia dan lembaga dapat bekerja sama dengan membuat semacam ‘kontrak’ yang berisi kejelasan tugas, pokok dan fungsi masing-masing keduanya dan kejelasan secara langsung petugas yang saling in-charge didalamnya.

TANTANGAN DAN KESEMPATAN

Perlu ditegaskan bahwa tantangan utama dalam sebuah DINAMIKA adalah bagaimana merubah pola pikir dan sikap para mahasiswa/i baru dari dunia SMA ke dunia Kampus, namun untuk DINAMIKA kali ini justru lebih kompleks lagi yaitu bagaimana menanamkan nilai-nilai positif yang berguna di dunia kerja yang dalam waktu tidak lama akan mereka geluti. Dan yang perlu digaris bawahi disini adalah sebuah tugas pokok dari DINAMIKA itu sendiri yaitu membuka cakrawala, memberi arahan dan gambaran lalu menanamkan nilai positif yang berguna bagi mereka dalam jangka panjang, karena DINAMIKA ibarat sebuah kawah candradimuka. Keberadaan panitia penyelenggara yang semuanya berasal dari para mahasiswa/i tugas belajar adalah potensi untuk mendukung pencapaian tujuan itu melalui pembahasan yang matang mengenai pola koordinasi dan komunikasi antar panitia. Belum lagi mereka tentu akan menjadi tokoh-tokoh yang secara lebih matang memberikan informasi dan arahan kepada para mahasiswa/i baru yang membutuhkan asupan informasi awal yang jelas dan tepat mengenai dunia kerja dan dunia kampus.

Pelaksanaan DINAMIKA yang sukses tentu menjadi keinginan semua elemen kampus ini, dan tujuan yang ingin dicapai adalah hadirnya para generasi paripurna yang berjiwa sosial, berhasrat tinggi untuk mengembangkan diri dalam ranah keilmuan dan berinisiatif dalam berkontribusi di dunianya. Dan semua nilai-nilai tadi akan kita coba bersama tanamkan kepada mereka melalui sebuah studi perdana sebelum mereka menjalani aktivitas perkuliahan, sebuah prosesi yang kita sebut DINAMIKA dan tentu saja dengan segala dinamikanya.

DISCLAIMER

Konsep yang saya buat ini tentu membutuhkan masukan dan saran untuk menjadi lebih baik lagi untuk meminimalisir unsur subjektifitas yang tidak diperlukan. Karena saya sendiri sadar bahwa saya memiliki keterbatasan dan hanya mencoba memberikan yang terbaik yang saya bisa tanpa bermaksud menggurui atau merasa lebih baik.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

10.18.2011

La Indonesia Es No Pequeno


Hari ini aku mendengar tiga kabar yang sama diputar oleh 3 acara berita yang tidak sama. Tentang kisruh perbatasan RI-Malaysia, ini cerita lama yang timbul tenggelam pembahasannya, kadang panas namun mereda diam dan tiba-tiba meledak lagi. Indonesia ini memang tidak kecil. La Indonesia Es No Pequeno kalo kata orang Spanyol. Dan setiap pagarnya menjadi rentan konflik atau setidaknya menjadi leverage oleh bangsa tetangga dalam pertaruhan keutuhan dan kedaulatan negeri tercinta ini ketika kita lengah oleh caruk maruk urusan mereka yang kita titipi amanah untuk mengurus negeri.

Disebutkan juga tadi bahwa DPR mengadakan Sidang membahas konflik perbatasan ini, para pejabat seperti Menlu dan Menhan, sekilas ditampakkan ketika mereka berpoto bersama sesaat sebelum atau sesudah rapat dalam pakaian rapi khas pejabat. Aku penasaran tentang apa yang mereka bicarakan dalam rapat itu, atau lebih jauh lagi aku pengen tahu apakah mereka yang hadir dalam rapat itu sudah pernah melihat langsung turun ke lapangan lokasi perbatasan di tanah Kalimantan.

Banyak faktor yang memicu masalah perbatasan ini mengemuka, selain keadaan internal negara kita yang sedang sibuk dalam stabilisasi kehidupan politik sehingga ranah kesejahteraan publik kurang diperhatikan para petinggi negeri dan faktor eksternal dari negeri tetangga yang sudah lebih makmur sehingga terus berpikir bagaimana menjaga kemakmuran dan menambah sumber daya salah satunya dengan mempersengketakan batas yang mungkin sudah lama mereka incar melalui perawatan secara ilegal ketika kita lengah.

Masalah perbatasan ini muncul saat reshuffle sedang ramai dibahas, sepatutnya Presiden mempertimbangkan pejabat yang membawahi prihal ini untuk diganti dengan pejabat yang lebih concern, berani dan total tanpa kompromi dalam mengurusi urusan perbatasan negara karena menyangkut wibawa negeri di mata tetangga. Selain masalah kinerja ada hal lain yang memicu konflik perbatasan yaitu masalah tingkat kesejahteraan penduduk yang bermukim diwilayah pagar negara tersebut. Jangan bicara soal nasionalisme atau berharap mereka untuk tetap mencintai negeri ini jika mereka diabaikan sementara buaian kemakmuran dari negeri tetangga terus kencang merayu.

Ada ancaman yang terdengar naive dari seorang penduduk wilayah perbatasan Kalimantan- Serawak, Malaysia, bahwa ia mengancam untuk menggeser wilayah perbatasan jika pemerintah tidak memperhatikan keadaan mereka. Wajar memang, infrastruktur seperti yang diberitakan terlihat sangat minim bahkan untuk memasok logistik sehari-hari sekalipun sementara akses ke Malaysia justru lebih mudah sehingga penduduk setempat lebih cenderung ke Malaysia untuk belanja kebutuhan sehari-hari, bahkan isi dapur mereka banyak diisi produk Malaysia seperti minyak goreng atau beras. Mereka telah mulai berpikir realistis. Ancaman yang lebih bernada harap atas perbaikan nasib mereka.

Sementara di banyak titik pagar negeri ini, negeri tetangga mungkin telah banyak menanamkan jejak perawatan ilegal yang nanti bisa menjadi senjata ketika mempersengketakan prihal batas ini hingga terbawa ke Mahkamah Internasional. Didukung pula oleh dokumentasi arsip kepemilikan batas dan bukti keberadaan serta perawatan atas penguasaan wilayah tersebut maka wajar jika Mahkamah Internasional akan cenderung melepas wilayah tersebut dari RI ke negara lain. Sementara kita harusnya telah belajar dari kasus Sipadan dan Ligitan hampir 10 tahun silam.

Sudah harusnya memang para pejabat yang rapat membahas konflik wilayah perbatasan ini untuk turun (jika memang belum) dan merasai kehidupan di teras negeri ini bersama penduduk yang bahkan mungkin tidak pernah tahu apa itu arti reshuffle, Galaxy Tab, iPad, Blackberry, dll, yang belum kenal siapa itu Nazaruddin dan Gayus Tambunan atau yang lebih paham dengan mata uang Ringgit ketimbang Rupiah. Namun jika sudah mungkin perlu dirasa sesekali menginap dan mendengarkan cerita mereka yang hidup di perbatasan mengenai sulitnya akses untuk memperbaiki kesejahteraan hidup mereka.

Le Indonesia es Grandes, Yo Estoy Seguro en Indonesia es Mis Nasionalidad. Vosostros sois estupendo, Realmente!

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.16.2011

Perdagangan Organ Tubuh


Coba perhatikan lagi!

Mau tidak mau, sadar tidak sadar kondisi pasar sudah bergerak sendiri menurut tuntunan tangan tak tampak mungkin sudah masuk ke segala aspek, namun jangan sampai menyentuh sisi sosial yang sangat mendasari kehidupan yang harusnya bisa dinikmati semua kita umat manusia, lebih lagi yang mengaku sebagai manusia yang bertuhan. Disini pemerintah harus berani tegas mengambil sikap karena jika hanya diam maka sama dengan sebuah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan.


Berbicara mengenai perihal ini, setiap kita, manusia, tentu ingin hidup dalam kehidupan secara fisik yang baik dan tentunya dengan dukungan organ tubuh yang sehat. Dan bagi masyarakat kebanyakan, sehat saja bahkan mungkin sudah cukup dan melampaui keinginan material dan prestis lainnya yang sepertinya masih didamba sebagian golongan yang lain.

Sering kita dengar kabar berita mengenai kegiatan donor dan implantasi organ tubuh dari tubuh pendonor ke tubuh resipien. Hal ini sah dan dibenarkan karena bukan dalam rangka jual beli namun untuk tujuan sosial atas nama kemanusiaan, sama halnya ketika kita mendonorkan sekantong darah kita dalam kegiatan Donor Darah yang biasa digelar Palang Merah Indonesia. Tapi kalau ditujukan untuk tujuan mencari keuntungan materi maka hal tersebut tidak dibenarkan.

Aku sendiri tergerak melakukan donor karena tahu sulitnya mencari sekantong darah waktu orangtua ku dirawat dirumah sakit dan secara intensif membutuhkan darah, belum lagi kalau susah lantaran golongan darahnya tidak cocok.

Dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU 36/2009”). Hal ini ditegaskan dalam Pasal 64 ayat (3) UU 36/2009, yang menyebutkan bahwa organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun. Tetapi sebuah pandangan baru datang dari seorang ekonom Harvard, dalam bukunya ia mengatakan bahwa mungkin kini sudah saatnya era bebas perdagangan organ tubuh, sebuah pandangan yang menuai pro dan kontra. Pro karena menjanjikan kesejahteraan dan penyelamatan hidup bagi dua pihak. Namun kontra karena membuat banyak kaum marginal akan 'kaya mendadak' dengan mempertaruhkan hidup mereka sendiri dan perlahan menggeser nilai sosial kehidupan.

Yang paling jelas diketahui bahwa ada organ dalam tubuh kita yang belum diketahui secara pasti hubungan antara jumlah dan optimalisasi fungsinya, seperti ginjal kita, Terdiri dari dua, namun masih menjadi pertanyaan apakah kedua nya harus ada dalam tubuh untuk menopang sistem organ menjadi organisme yang bernama manusia. Jika organ yang masih rancu seperti ini saja tidak memberi rasa tenang untuk dilepaskan, maka tidak mungkin aku kira untuk organ yang penangkatannya menyebabkan kematian. Lagi pula banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk melegalkan perdagangan organ tubuh.

Ginjal atau darah jika dilegalkan untuk diperdagangkan tentu tidak akan lagi menjadi barang langka dan makin lama nilainya makin turun karena akan makin banyak orang yang rela melepas darah dan atau ginjalnya demi uang. Pada awalnya mungkin penjual organ akan mengalami surplus konsumen yang signifikan namun kelangkaan lama- lama akan lenyap dan menggeser nilai surplus ke arah si pembeli. Lebih jauh lagi untuk organ selain Darah dan Ginjal akan memicu munculnya sindikat yang membunuhi anak jalanan untuk diambil organnya lalu dijual, seperti yang banyak difilmkan. Memicu kriminilitas.

Mungkin jalan tengah yang bisa diambil untuk menjembatani keadaan ini adalah dengan tetap menempatkan sisi mulia keberadaan organ tubuh sebagai karunia Tuhan yang jika diinginkan dapat dijadikan alat untuk saling berbagi setelah meyakini pertimbangan medis yang teruji atau pilihan hidup yang diikhlasi. Tanpa kompensasi dalam bentuk lembaran rupiah. Demi menghindari pergeseran nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi makna kehidupan tentang bersyukur serta kerja keras.

Jadi...Coba perhatikan lagi!

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.13.2011

Menilik Ongkos Demokrasi


Sudah 10 tahun lebih berlalu sejak rezim orde baru, otoritarianisme, hengkang dari tatanan kehidupan politik negeri ini, dan kala itu demokrasi lahir menjadi sistem baru yang dianggap paling tepat sebagai lokomotif menuju kemajuan dan perbaikan. Pertanyaanya sudah sampai mana kemajuan tersebut serta perbaikan yang dilakukannya? Laiknya lokomotif yang memerlukan bahan bakar, begitu pula demokrasi membutuhkan biaya. Berapa besar?

Demokrasi memakan biaya dalam penerapannya, baik secara ekonomi atau atau non-ekonomi, dalam sistem demokrasi sudah pasti biaya yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memfasilitasi aspirasi banyak pihak melalui pemilihan umum (Pemilu). Indonesia yang terdiri dari 33 provinsi dan 349 kabupaten (data dari sini) tentu saja setiap periode tertentu harus menyelenggarakan pemilu dari berbagai level ini, sebut saja pemilihan anggota DPR/DPRD/DPD, pemilihan Kepala Daerah level Gubernur atau Bupati (Pilkada) serta Pemilihan Kepala Negara.
Semakin berat jadinya beban APBN/D, apalagi dengan wacana penambahan pejabat Wakil Menteri bersamaan dengan reshuffle Kabinet Indonesia bersatu Jilid II, semakin pening kepala Menteri Keuangan mencari uang.

Tapi setidaknya sistem ini lebih baik jika dibandingkan dengan sistem diktator yang mengekang kebebasan bersuara atau sistem korporatokrasi yang menguntungkan para pemodal yang memiliki agenda pribadi. Karena hanya dengan Demokrasi setiap orang berhak untuk menjadi presiden, berhak untuk memilih secara langsung serta berhak untuk beraspirasi atas jaminan kehidupan yang aman dan adil. Tapi bukan berarti bahwa Demokrasi adalah sistem yang terbaik didunia. Karena sejarah telah mencatat sistem Khalifah di jaman kala itu telah membuat kehidupan jazirah Arab lebih bersinar.

Sejauh mana negara kita bergerak dari titik start 10 tahun silam? Miris mendengar pendapat seorang anggota DPR-RI (lupa namanya) bahwa wajar negara kita sekarang dilanda carut marut yang kompleks sekarang ini, karena kita sedang berada dalam masa transisi. 10 Tahun masih belum bergerak juga dari masa transisi? Lalu kira-kira berapa lama normalnya sebuah masa transisi itu? Kemajuan secara peradaban mungkin hanya dirasa olah kaum ekonomi menengah keatas, namun kemajuan dalam konteks perbaikan tingkat kesejahteraan bagi kaum marginal masih patut dipertanyakan.

Mungkin yang jadi stressing point disini bukan sistemnya tapi siapa yang ada didalam sistem itu dan bagaimana mereka menjalankannya, bisa jadi sebagian mereka yang kini duduk di pemerintahan adalah mereka yang terpilih dengan sokongan dana kampanye dari pihak yang memiliki kepentingan pribadi, sehingga ada semacam politik balas budi dalam konteks negatif yang terjadi kemudian serta berbuntut panjang, dan fakta yang harus kita terima adalah bahwa Demokrasi di negara kita telah melahirkan pembuat keputusan yang poltical will nya masih abu-abu antara membela kepentingan rakyat dengan kepentingan golongan.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

Dua Tahun Tak Lama


Dua tahun bukan waktu yang lama, cukup tundukkan kepala sejenak lalu bayangan tentang hari 2 tahun lalu itu sudah muncul seperti masih kemarin saja, jelas dan hidup. Aku sukuri semua yang terjadi dua tahun ini pada hidupku, walau godaan dengan kata 'jika saja', 'seandainya', 'apabila' selalu datang meminta untuk kuturuti, tapi untungnya tidak. Karena aku diberi akal yang harus aku gunakan untuk berpikir bukan untuk merasa, karena rasa tempatnya di hati.

Dua tahun ini 2010-2011 seperti menjadi kesempatan ku untuk mengenali diri sendiri dengan lebih baik. Dan tanpa sadar hal ini membentuk aku yang sekarang. Terima kasih ya ALLAH sudah menuntun ku menjalani jalur ini. Aku senang karena keputusan ku untuk menjadi ketua angkatan dan dua tahun menjadi ketua kelas di bangku kuliah mengantarkan pada pengalaman dan pemahaman yang sangat berguna. Tentang sabar, berbuat baik, bergaul dan bersikap positif.

Beberapa kali aku jatuh karena emosi dan artinya aku gagal, namun belajar dari kegagalan lebih baik daripada aku gagal menyikapi keberhasilan. Semoga di masa depan nanti, semua pengalaman ini membantu ku untuk menjadi pemenang dalam hidup, dan aku tahu bahwa masih banyak yang harus dipelajari untuk menjadi pemenang yang dapat mengatasi kesulitan, rintangan dalam kehidupan.

Dan aku harus jujur pada hal apa saja yang harusnya tidak aku lewatkan, aku kira masih ada waktu sebelum tahun ini ditutup, seperti biji kurma yang masih dapat ditanam walau esok mungkin sudah kiamat.

P.S:
-----
I am sorry for being a little bit dramatic but I'm so incredibly heartened by what have been happening in my life on this last two years.

Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.09.2011

J E D A & H E L A


Kalimat, seindah apapun itu, tidak akan indah jika ditulis tanpa jeda, dibaca tanpa hela. Iya jeda, bukan titik atau koma, tapi jeda. Sekali lagi, jeda. Jeda memberi kesempatan otak untuk mencerna informasi, memungkinkan hati merasai makna dan menuntun pada pemahaman utuh yang bermanfaat. Bukan sekedar sebaris kalimat tanpa nilai yang menguap bersama angin, lepas hilang tanpa bekas sepersekian detik setelah ia dilemparkan. Semua karena tidak ada jeda.

Lalu hela, sama halnya seperti jeda, namun hela beda karena tidak ada tanda tertulis dan semuanya masih tersimpan di memori kepala, berontak keras ingin keluar beradu tangguh dengan alam sadar bahwa semua ada giliranya, tanpa hela, semua informasi akan menghambur keluar tak berkesan, percuma. Penting untuk mengontrol ucapan agar tidak keluar terlalu lancar dan yang keluar kemudian tidak menjadi ucapan kosong yang dikangkangi emosi, tanpa bekas yang bisa disimpan di memori.

Hidup bagai membaca, harus ada jeda supaya maksudnya dapat dipahami. Aku sesekali menantang maut demi menikmati jeda, bukan untuk beristirahat lama lalu menjadi mati, namun hanya jeda sesaat untuk momen refleksi diri sebelum rutinitas merampas kompas hidup, karena aku tidak mau hidup tanpa jeda, tanpa hati bagai gila lantaran ditelikung masa. Hidup kemudian adalah sumber bacaan yang tidak pernah habis dan bicara adalah produk dari berpikir, harus ada hela nafas yang menyempatkan pikiran mencerna tiap kata yang mau diucapkan, bagai sabda yang tanpa dosa begitu mungkin kiranya. Tidak apa bila kemudian menjadi lambat tapi setidaknya tidak akan ada yang menggores kecewa disetiap katanya.

Puncak dari setiap jeda dan hela adalah seuntai kalimat sarat makna, sepenggal ucapan sarat damai. Keduanya tidak nihil dalam manfaat, bila tidak dalam waktu dekat, mungkin nanti atau mungkin kini di babak kehidupan orang lain, tanpa kita tahu waktu karena tidak mungkin menunggu selalu untuk tahu hidup orang lain. Aku belajar bertanggung jawab atas hidup ku melalui jeda dan hela, agar kalimat dan ucapan menjadi terjaga. Supaya ada kesan baik ditiap perkenalan, bertambah kabar berguna dan menuntun hati menjadi lebih menghormati.

Bukan sekali dua aku naik pitam dengan mereka yang berhasil membuatku menunggu sesuai janji. Tapi aku kesulitan mencari cara agar darah yang sudah terlanjur naik ini dapat keluar dengan hela berjeda sehingga cukup mulut saja yang berbicara tanpa mata yang mendelik, tangan yang mengancam atau rona yang memasam. Mungkin dengan mengambil jeda hidup tadi aku bisa memaklumi, lalu belajar pula memaklumi diri sendiri berlaku bagai mereka, dan aku coba ungkap melalui sektsa dan untaian kalimat berjeda yang dibaca dengan hela.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini, via google.

Read more »

10.07.2011

Who Pays Tax - The Buyer or the Seller?


Pajak memang merusak pergerakan pasar, itu kenapa banyak orang enggan membayar pajak, sementara nasionalisme tanpa imbalan langsung belum cukup menggugah jutaan penduduk negeri ini untuk gotong royong membangun negeri melalui pajak. Banyak faktor, bisa karena belum percaya dengan pemerintah atau memang alasan pribadi lain.

Sebut saja Udin si pemilik baju di negeri Entah Dimana, biasanya Udin menjual per potong kaos oblong dari lapaknya dengan harga Rp 20.000,- dan rata- rata setiap hari terjual 6 potong, itu jadinya si Udin membawa uang Rp 120.000,- tiap hari dari hasil jualan bajunya, sampai suatu hari Udin menggerutu karena ada kebijakan dari pemerintah yang lagi kekurangan uang untuk mengenakan pajak sebesar Rp 5.000,- pada setiap potong bajunya, itu berarti Udin harus menjual bajunya seharga Rp 25.000,- kecuali Udin mau menanggung sendiri beban pajak ini.

Namun dengan memasang harga baru sebesar Rp 25.000,- Udin sedang mengalihkan semua beban pajak ke calon pembeli dan resikonya Udin harus rela kehilangan pelanggan, seperti hari ini hanya ada 3 pembeli, turun 50% dari biasanya, Udin berpikir keras bagaimana supaya ia tidak kehilangan pelanggan, lebih jauh lagi tidak kehilangan penghasilannya.

Udin menghubungi sahabat dekatnya, Nadzar. Udin lalu menceritakan keluhannya dan beruntung Nadzar yang juga membuka lapak di Negeri Abulbul pernah mengalami problem yang sama, lalu ia menceritakan pengalamannya pada Udin sekaligus jalan keluar yang ia ambil kala itu, berikut penjelasan Nadzar:

Nadzar: "I once had the same problem you are dealing with now, and i felt stupid and afraid to loose buyers because i had no option but increasing the price to include tax within it, and unfortunately it was just a matter of time until finally most my buyers went way"

Udin: "That is why i am here, telling my story to person who turned his calamity into a challenge, did a breakthrough to got rid of it soon and ended it up in a success. So, please tell me your best secret helping me surmount this hard time."

Nadzar: "O, man... i put my bussiness in a risk while trying this method but thanks God i am good at risk management so i can measure, if it failed i wouldn't fall my self to a big adversity and it is ok because i am not gonna loose my everything. All i have been doing so far is just dividing the tax burden in a proportional way between me and the costumers, do you feel me?"

Udin: "No i do not, what do you mean by "Dividing the tax burden"? i am not sure i understand what you are getting at."

Nadzar: "Well, here is the thing, every single step we take is all about risk, but it contains some trade-off too, you only have too choose step that gonna make you loose less. So applying my step doesn't mean you will have nothing gone. But at least you keep your costumers stay with you because you make them throw some cash in a same amount they did before the tax burdening your price or just smaller than the current price you are having now."

Udin: "O Really??? But i have no idea how to work it out?? I have no right to eliminate or even reduce the tax indeed, i am nobody, i am not government guys like those taxmen!"

Nadzar: "Really!! and sure you are not, because you have nothing to do with that tax but determining the price is absolutely is still in your area! You have to start to lower the price in a level where you remain safe, not too low but it is enough to make you not losing more your costumers because by doing so you are sharing tax burdening not only by yourself but embracing them too in a way they never got angry too much."

Udin: "I don't what you are talking about, can you come up with a real example? as far i can tell, i now sell my chlote Rp 25.000/piece including Tax for Rp 5000,-. And it makes me loose 50% my costumers per day not like when the price was Rp 20.000,- with no tax to include."

Nadzar: "I am just curious, Why do you persist on loosing 50% of them if you can keep 70% by lowering the selling price? Here is the thing, you just need to put a Rp 18.000,- for cost of good sold and after including tax it will be Rp 23.000,- which is cheaper than the previous one without lowering the cost of good sold, you may have your gross income reduced but at least you are not gonna loose more costumers because the price is still in their range."

Udin: "Ok, I see... but in what part that the illustration show me so-called tax burdening you keep on saying? it is not clear to me, but i try to catch up with your understanding."

Nadzar: "You said that the Tax costs you for Rp 5.000,-. When a costumer pay you Rp 23.000,- remember that the price apparently still Rp 20.000,- so the costumer contribute to pay tax for Rp 3.000 and the rest, Rp 2.000 is taken from your income which now is smaller than before because of that new allocation (Rp 20.000,- - Rp. 18.000,-). How does that sound?"

Udin: "I understand, meaning that i just reduce the risk of loosing my income by doing this tax incidence rather than loosing them at all so i don't have too pay the tax all by myself then. Thank you very much, man! i owe you a treat! i will be waiting for you to stop by my house and see what you will get! :D "

Kemudian Udin pulang ke Negeri Entah Dimana dan keesokan harinya ia mulai menurunkan harga pokoknya sebesar Rp 18.000,- saja sehingga ia harus menjual pakaian termasuk nilai pajak Rp 23.000,- yang jelas lebih murah daripada ia harus menjual Rp 25.000,- namun ini berhasil membuatnya membagi beban pajaknya antara ia dengan pembeli dengan proporsi 2 banding 3. Sehingga ia tetap bisa menjalankan usahanya dengan kerugian.

Intinya adalah pajak memang merusak aktivitas pasar namun pajak sendiri adalah keharusan yang menjadi kewajiban, dan pasar cenderung akan mencari cara untuk melakukan penyesuaian atas perubahan harga yang terjadi baik disisi penjual maupun disisi pembeli, salah satunya adalah pembagian beban pajak, Tax Incidence.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.06.2011

UMR: Buah si Malakama


UMR, Upah Minimum Regional di negara kita Indonesia konon kabarnya adalah termasuk yang terendah, itu mengapa banyak perusahaan luar negeri yang mendirikan pabriknya disini karena tersedia tenaga kerja yang banyak dengan biaya murah, terlepas apapun niatnya. Namun setidaknya ini telah membantu negeri ini memberikan lapangan pekerjaan, investasi dan pembelajaran ihwal teknologi dari negara maju. Mengenai UMR, menjadi negara dengan UMR yang rendah telah mendatangkan konsekuensi sebagaimana sudah disebutkan diatas, tetapi yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, seberapa besar dampak positif itu dapat kita nikmati kebermanfaatannya? Bagaimana dengan trade-off yang bisa jadi muncul sebagai dampak jangka panjang penerapan UMR rendah itu.

Lapangan pekerjaan dan tenaga kerja ibarat dua hal dalam mekanisme pasar membentuk kedudukan masing-masing sebagai penawaran dan permintaan, lebih detilnya: Lapangan pekerjaan menawarkan pekerjaan dan tenaga kerja melakukan permintaan lapangan pekerjaan tersebut. Bayangkan, sebuah keadaan ini tanpa adanya UMR, maka kedua unsur ini akan dengan sendirinya menemukan harga yang tepat untuk harga upah dan jumlah tenaga kerja. Namun demikian hal ini dinilai tidak dapat mengangkat derajat hidup jumlah penduduk miskin lebih banyak, sebabnya adalah karena pasar dengan sendirinya menentukan harga dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Kemudian muncul pertanyaan, apa dengan penetapan UMR justru betul betul akan membantu penduduk miskin?

Pemerintah menetapkan UMR dengan harapan mengangkat derajat tenaga kerja yang tergolong miskin dan menyediakan lapangan kerja lebih luas bagi pengangguran. Itu cita-cita yang diinginkan. Sehingga UMR harus sedemikian rupa ditentukan agar tidak terlalu rendah sehingga tidak berdampak, namun jangan terlalu tinggi sehingga merugikan, bagaimana kedua hal itu dapat terjadi? Sebuah ilustrasi sederhana adalah sebagai berikut: Ketika UMR ditetapkan dibawah harga upah pasar maka UMR itu tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang dapat diserap, dan jika pasar terus menggerakkan harganya makin tinggi maka ini membuat peran UMR menjadi tambah tidak berguna.

Ilustrasi berikutnya ketika UMR lebih tinggi dari harga upah pasar, maka akan menimbulkan situasi jumlah lahan pekerjaan lebih banyak daripada jumlah tenaga kerja yang dapat diserap akibatnya akan terjadi penggangguran yang tidak seharusnya, sebuah ironi karena masih ada lapangan pekerjaan. UMR yang meningkat akan menarik jumlah pendatang yang berharap pada lapangan pekerjaan atau menggugah hati pelajar nekad untuk berhenti sekolah dan memilih bekerja. Semua tenaga kerja yang tidak terserap ini akan menjadi masalah sosial kesejahteraan baru yang harus ditangani sebelum menjadi masalah kriminalitas dan kepadatan penduduk yang tidak diinginkan.

Bagi sebagian orang, khususnya tenaga kerja yang terampil dan pengalaman maka makin tinggi UMR adalah anugerah, sebab meningkatnya UMR akan membuat penyerapan tenaga kerja menjadi lebih sedikit dan selektif kemudian menjadikan tingkat pengangguran makin membesar karena jarak antara jumlah tenaga kerja yang tersedia dengan jumlah lahan pekerjaan yang ada makin besar. Akibatnya tujuan dan niat baik dari UMR itu sendiri tidak tercapai. Dari sini terlihat bahwa masalah penetapan UMR bukan hal mudah.

Bagi mereka yang tidak setuju mengenai UMR, benar ketika mereka mengatakan bahwa UMR tidak selalu dapat membantu kaum miskin karena kadang mereka yang menikmati penghasilan diatas UMR adalah tenaga kerja pengalaman dan terampil yang sudah mapan didunia kerja mereka. Sementara bagi para pendukung UMR, juga benar saat dinyatakan bahwa tanpa UMR bukan tidak mungkin akan menciptakan perbudakan oleh perusahaan asing di Indonesia yang membutuhkan tenaga kerja banyak. Aku berpendapat lain perihal UMR, ada cara lain yang bisa dijadikan alternatif dalam membantu mengangkat kesejahteraan hidup penduduk, tidak selalu dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang memiliki standar UMR, tapi memberi modal kepada mereka untuk menciptakan lapangan pekerjaan berupa unit usaha mandiri kreatif yang bergerak disektor riil.

UMR dibutuhkan ketika berkaitan dengan upaya menjagakan harkat para tenaga kerja yang merupakan manusia bermartabat, bukan budak yang dimanfaatkan negara asing. Tapi UMR bukan satu satunya jalan yang dapat diambil untuk mengangkat derajat hidup mereka yang perlu dibantu, mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan. Melalui kerja sama yang baik antara Unit pemerintah untuk memberdayakan para penduduk maka tidak perlu lagi ada kekhawatiran akan pengangguran dan kriminalitas.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.04.2011

Touring ke Puncak.


Bulan lalu aku touring ke Puncak, 17 September tepatnya. Tidak ada alasan yang pasti, hanya sekedar dorongan saja, rasa ingin semata. Tujuannya sederhana, menggunakan waktu yang ada sebelum nanti menjadi keinginan yang tertunda, apa lagi dendam tak sudah, jangan sampai. Bahaya, karena katanya terus menerus menyimpan dendam itu tidak baik. Aku dan tiga kawanku: Yoga, Arif NR, dan Furqan menyusuri jalur Ciputat- Bogor- Ciawi- Tajur- Puncak, meninggalkan Bintaro sejak pagi pukul 09.00 WIB.

Sejak pagi aku sudah bersiap dengan jaket kulit hitam (pemberian Bapak waktu mudik kemarin), sepatu, sarung tangan, kaca mata hitam dan memanaskan Kalajengking Kesayangan Kita untuk dibawa melaju jauh. Setelah saling menunggu, kami berangkat dan kawasan Bintaro seperti sudah sibuk dengan aktivitasnya, namun belum ramai. Berbelok menuju arah Ciputat, perjalanan lancar melewati kampus UIN, fly over terus hingga sampai kedaerah Pondok Cabe lalu tiba diujung perbatasan Kabupaten Bogor- Ciputat. Disini mulai ramai karena ada terminal angkot, bahkan sesaat terjebak macet.

Jalur ini merupakan jalur yang lebih pendek daripada jalur yang aku tempuh 2 tahun lalu dari Kampung Melayu- Keramat Jati- Jalan Raya Bogor. Dari gerbang kawasan Kab Bogor masih lumayan jauh untuk sampai ke Bogor Kota, sekitar 1 jam. Melewati under pass dan tiba di ujung perempatan lampu merah melewati Univ Ibnu Khaldun aku langsung mengambil jalur kanan ke arah Bogor Kota, sementara Furqan dan Arif dibelakang menyusul. Bisa dibilang jalur dari Ciputat menuju Puncak ini sederhana hanya lurus saja terus dan baru berbelok sesuai arah penunjuk jalan menuju Bogor atau Puncak. Memasuki kawasan Bogor Kota melewati Terminal Baranangsiang, ciri khas rimbun Kota Bogor mulai terlihat, dengan keramaian disana sini, terutama di seputaran Kampus Univ Pakuan Bogor, yang tepat ditengah Kota.

Terus meninggalkan kawasan Bogor Kota, kami mengambil jalur belok berputar melipir tepi jalur tol menuju Ciawi terus saja lurus dan hari belum terlalu panas, bahkan ketika memasuki kawasan Tajur yang ramai, namun untungnya jalurnya tidak terlalu macet, meninggalkan kawasan Tajur, rute yang kami lewati mulai variatif, naik turun namun cukup landai. Tak lama kemudian udara dingin khas kawasan Puncak mulai terasa.

Taman Safari, Perkebunan Teh kami lewati dan kemudian kami memasuki kawasan padat lalu lintas dengan bis besar tujuan Bandung via Puncak mulai merayap pelan melintas, tidak terasa kemudian sekitar 2,5 jam menempuh perjalanan kami sampai di tepi area puncak, dengan kedai khas menghadap pemandangan hijau mulai terlihat sepanjang jalan.

Kami beristirahat disalah satu warung, menikmati kopi susu dan Ubi Cilembu manis yang masih hangat. Begitu nikmat, sambil melempar pandangan ke area kebun teh ada sekelompok orang bermain terjun payung diatasnya. Hendak mencoba, namun tidak jadi karena pasti tidak puas jika bermain tanpa persiapan matang, selain pemborosan saja.

Perjalanan kami teruskan untuk sholat Zuhur di Masjid At-Tawun di Puncak, dilanjut makan siang dan santai sejenak. Masjid At-Tawun, ada ramai orang disana, masjid khas kawasan Puncak ini memang terkenal dan beruntung aku bisa juga sampai disini. Disini banyak orang timur tengah juga yang aku lihat sejak memasuki kawasan puncak. Makan siang dengan Indomie rebus pakai nasi cukuplah lalu kembali meneruskan perjalanan ke puncak yang lebih puncak, yaitu rest area restoran Rindu Alam yang berada tak jauh dari kawasan Telaga Warna, sekitar 1 jam waktu kami habiskan disana menatap pemandangan puncak dengan bis besar yang nampak kecil dari atas diantara pelukan kebuh teh yang hijau berkabut tipis, dingin.


Kami menyempatkan berkunjung ke kawasan Agrowisata Gunung Mas untuk sejenak beristirahat dan sekedar berkeliling kebun teh lebih dekat, sesuai rekomendasi seorang kawan, namun sialnya pabrik Teh yang biasa dibuka, saat itu sedang tutup dan baru buka pada malam hari,padahal ingin melihat bagaimana proses pembuatan teh, jadinya percuma bayar dan tidak dapat apa-apa.


Tidak terasa hari sudah mulai petang, setelah itu kami meneruskan perjalanan pulang, dan dari situ aku baru ingat bahwa si Kalajengking Kesayangan Kita ini sudah lama tidak diservis, sempat ada aksi mogok ketika beristirahat di Masjid Agung Bogor dan Parung. Untunglah masih sempat juga sampai ke Bintaro pada malam hari pukul 19.00 WIB. Dan aku kira sudah waktunya untuk diservis dan mengganti spare part yang sudah habis masa pakainya. Harusnya ini jadi persiapan sebelum memulai perjalanan panjang. Penyesalan selalu datang terlambat tapi ketidak beranian mengambil resiko bisa membuat penyesalan makin dalam, terdengar seperti pembelaan diri :)

Read more »

10.02.2011

Sensus Pajak Nasional, Bukan Sensus Biasa


Kini sebuah langkah tengah diambil Ditjen Pajak dalam bentuk Sensus Pajak Nasional, SPN sering disingkatnya. Dimulai dari Oktober hingga 31 Desember 2011. Ada yang menarik untuk dibahas ihwal Sensus Pajak Nasional ini. Apa maksudnya? Untuk apa dan siapa? Tujuannya apa? dan apa-mengapa yang lainnya lagi. Aku browsing internet dengan keyword Sensus Pajak Nasional, ada begitu banyak halaman yang memuat kabar ini. Kemudian aku coba simpulkan dan menulisnya dalam postingan ini.

Apa itu Sensus Pajak Nasional?

Sejak dulu aku yakin kita sudah cukup familiar dengan istilah sensus atau cacah jiwa, sensus penduduk begitu istilahnya yang ditujukan untuk menghitung jumlah dan memberi gambaran demografi penduduk secara lebih akurat dan aktual dalam skala nasional. Kemudian kalau sekarang Pajak pun melakukan sensus, tentu saja tujuannya terkait dengan dunia perpajakan negeri ini. Jemput bola begitu istilahnya, mungkin metode melalui sosialisasi dan advertensi sudah dianggap cukup sehingga tidak salah kalau kali ini dicoba metode yang lebih pro-aktif. Petugas yang turun ke lapangan adalah petugas PNS dari Ditjen Pajak dan petugas honorer yang diterima untuk memperlancar program yang berlangsung mulai Oktober hingga Desember 2011, serentak secara nasional.

Apa tujuan Sensus Pajak Nasional?

SPN, dimaksudkan untuk mendata potensi pajak yang belum optimal tergali di masyarakat dengan cara turun langsung ke lapangan (door-to-door) khususnya di kawasan yang menjadi sentra bisnis atau area hunian yang dianggap potensial. Dalam SPN, digali informasi lebih mendalam mengenai besaran tagihan listrik, telepon, PDAM serta informasi seputar aset yang kemudian akan ditindak lanjuti oleh pihak DJP dengan membandingkannya terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilakukan Wajib Pajak yang bersangkutan. Disaat yang bersamaan sosialisasi secara personal mengenai perpajakan juga akan dilakukan oleh petugas.

Mengapa baru sekarang dijalankan?

Ada banyak sudut pandang untuk menjawab pertanyaan ini, namun aku kira ini ada kaitannya dengan maksud ekstensifikasi Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP )yang kini masih terlampau sedikit. Proyek ekstensifikasi NPWP 10 juta yang tidak berjalan lancar karena akurasi data sumber (data sekunder) yang minim membuat jumlah WPOP masih belum signifikan dibanding potensi yang ada hingga kini, belum lagi mungkin dalam rangka tujuan intensifikasi ini ada hubungannya dengan tujuan untuk mengejar target penerimaan tahun 2011. Semacam extra effort yang dikemas melalui teknik sosialisasi dan edukasi langsung di lapangan.

Apa tindak lanjut dari pelaksanaan SPN?

Semua data yang terhimpun akan menjadi data masukan yang akan diproses lebih lanjut, untuk dibandingkan antara potensi dan realisasi dalam perpajakan, sehingga setiap ada data yang belum dikenakan pajak atasnya atau dilaporkan pajaknya dalam jumlah yang tidak seharusnya, maka pemilik data tersebut akan dihimbau oleh Ditjen Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya atau diminta untuk memiliki NPWP terlebih dahulu jika belum menjadi wajib pajak. Diharapkan penduduk untuk bersikap kooperatif selama SPN berlangsung karena petugas SPN yang datang ke lokasi bukan untuk menghakimi atau memberi sanksi namun untuk menghimbau, memberi sosialisasi dan edukasi sambil menggali data potensial yang dimiliki WP. Sikap kooperatif dari penduduk sangat membantu kelancaran program ini termasuk ketika menanggapi himbauan sebagai tindak lanjut SPN.

Selama SPN berlangsung, apa hak penduduk (WP)?

Penduduk sebagai pihak yang disensus berhak untuk menanyakan keabsahan petugas yang datang meliputi identitas resmi petugas sensus, surat tugas (pengantar dari kantor pajak) dan kerahasiaan data yang disensus. Penduduk juga berhak atas pelayanan dengan sikap yang ramah dan sopan serta berhak atas penjelasan mengenai tujuan, maksud dan edukasi dibidang perpajakan terutama mengenai arti penting pajak, bagaimana memenuhi kewajiban perpajakan dan berhak atas partisipasi aktif mengawasi penggunaan uang pajak, melaporkan ketidakberesan yang mungkin dilakukan pihak Ditjen Pajak sendiri atau pihak lain melalui call center 500 200.

Apa penduduk harus selalu setuju mengisi Formulir Isian Sensus (FIS)?

Jika penduduk tidak mau memberi keterangan atas potensi yang dimilikinya, maka petugas SPN akan meminta ybs untuk mengisi Surat Pernyataan Tidak Bersedia Mengisi FIS namun jika masih juga enggan mengisinya maka petugas SPN akan membuat Berita Acara Tidak Bersedia Menandatangani Surat Pernyataan, yang perlu diperhatikan penduduk adalah jika Ditjen Pajak memilii data akurat mengenai potensi yang dimiliki penduduk tersebut, maka bukan tidak mungkin akan dilakukan pemberian NPWP secara jabatan tanpa persetujuan penduduk ybs.

Penutup


Mungkin program ini terkesan seperti ad-hoc, tapi aku kira kalau dijalankan dengan baik akan berbuah jangka panjang terutama jika potensi yang diperoleh dapat dipertahankan dengan baik, namun sebagaimana suatu kebijakan lazimnya, selalu saja ada pertentangan dan prasangka. Ditjen pajak kini sedang melakukan langkah visioner untuk meningkatkan kesejahteraan negara ini, karena tuntutan zaman membuat peran pajak dalam menopang roda kehidupan negara menjadi kian besar. Semoga apapun target yang ditetapkan para pembuat kebijakan di Ditjen Pajak dapat tercapai melalui program ini dan secara jangka panjang dapat membangun negeri ini.

P.S:
------
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »

10.01.2011

Elastisitas Warteg Kampus


Bagi sebagian kalangan mahasiswa, keberadaan warung makan sangat penting, ini menjawab mengapa warteg/warnas begitu menjamur dilingkungan kampus, termasuk dikampus ku kini, STAN. Dari gerbang masuk sampai gerbang keluar mungkin ada puluhan warteg dan aku senang sebagian besar dari mereka sudah pernah aku sambangi, semacam wisata kuliner. Bagi para pengusaha warteg sendiri tentu saja ini adalah prospek cerah dan menjanjikan atau setidaknya memberikan return of investment yang cukup tinggi bila dikelola dengan baik dalam banyak aspek.

Aku tidak sedang menawarkan proposal bisnis atau tawaran kerja sama, melainkan untuk mengutarakan sebuah pandangan pribadi tentang bagaimana pengusaha harus dapat berhati- hati dalam mendirikan usaha ini mulai dari awal sampai kontinuitasnya kedepan. Modal yang ditanamkan dalam pendirian tentu saja harus dikembalikan dalam sebuah target tertanggal dengan besaran yang mampu menutup operasionalnya dan selebihnya menjadi laba pribadi dan sebagian lagi di reinvestasi, tapi sebaiknya target tersebut harus ditetapkan dengan wajar yang ditentukan melalui harga jual dalam satuan piring dengan lauk pauknya.

Makanan, bagi kalangan mahasiswa adalah suatu kebutuhan utama yang sifatnya sangat sensitif dengan perubahan harga, itu menjelaskan mengapa suatu warteg begitu ramai di masa promosi karena menawarkan harga promo yang menyenangkan. Sensitifitas ini menjadi tanda sifat elastis makanan yang kalau kita lihat dalam kurva elastisitas harga permintaan akan menggambarkan kondisi yang landai (seperti lengkungan dalam huruf 'e'), bukan tidak mungkin kenaikan seribu rupiah dalam tiap lauk pauk dengan sepiring nasi dan secangkir es teh manis dapat menurunkan 50% dari jumlah porsi yang terjual dan para mahasiswa berpaling ke warteg yang lebih murah. Sebab kondisi pasaran warteg bukan pasar monopolistis, tapi pasar sempurna dengan banyak penjual dan pembeli.

Dari sini jelas bahwa jika suatu warteg hendak mengukur pencapaian target, maka itu adalah hasil perkalian jumlah porsi dan harga satuannya, dalam proses menuju kesana konsep yang harus ditanamkan adalah peningkatan harga dapat mengurangi pendapatan karena akan terjadi penurunan jumlah pembeli (Q) secara signifikan dan dalam ukuran proporsional akan lebih besar daripada kenaikan harga (P). Dimana (P/Q;2) kondisi setelah kenaikan dan (P/Q;1) adalah kondisi semula sebelum kenaikan. Akibatnya:
P2 x Q2 < P1 X Q1

Pilihan untuk menaikkan harga diatas harga rata-rata harga pasar (warteg lain) bukan pilihan yang tepat sebaiknya diambil, bahkan jika memang terdapat modal lebih dan berani berinovasi, lebih baik dicoba menurunkan harga diatas harga pasar, karena dapat menarik pembeli dan peningkatan jumlahnya secara proporsional akan lebih besar daripada penurunan harga yang dilakukan. Sehingga:
P2 x Q2 > P1 X Q1


Mungkin ini adalah sebuah pertimbangan sederhana namun ekonomis dalam mengambil langkah awal bagi para pengusaha warteg untuk memulai usaha dilingkungan kampus manapun, tapi kalau ada peraturan baru dalam perpajakan mengenai warteg mungkin ceritanya akan agak sedikit lain (terakhir jika berpenghasilan di atas Rp60 juta saja itupun harus dikaji dulu kebenaran omzetnya), tapi semoga saja pemerintah punya kebijaksanaan tersendiri dalam mengenai pajak atas warteg, sebab warteg adalah sektor riil yang menggeliat pelan tapi pasti. Sepasti mahasiswa yang membutuhkan kehadiran warteg di lingkungan kampus.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, melalui google.

Read more »