7.31.2012

Pondasi Maksimalisasi Modernisasi DJP

Gempuran demi gempuran terus berlanjut dalam perjalanan modernisasi DJP, bagai tamparan keras dari arah- arah yang tidak terduga, bahkan belakangan mencuat dari dalam tubuh DJP sendiri yang dilakukan oleh mereka yang menikmati status quo atau sebut saja kaum mapan anti perubahan, yang diistilahkan oleh Renald Kasali, Ph. D, dalam karyanya berjudul Change, sebagai the establishment. Kaum ini secara diam- diam menjadi musuh dalam selimut. Mereka belum mampu melihat visi yang diusung perubahan dalam kerangka modernisasi, keberadaan mereka menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan untuk dapat memuluskan tahap demi tahap perjalanan mulia ditubuh instansi pencari uang bagi kedaulatan republik ini. Andaikan DJP, dari Merauke sampai Sabang adalah satu kesatuan tubuh, maka mereka, the establishment, adalah bagian tubuh yang pincang yang harus segera diambil tindakan.

Sejumlah besar agenda perubahan dalam milestone jangka panjang Ditjen Pajak sudah digulirkan sejak 2002 silam dan ini menandakan bahwa reformasi perpajakan tidak lagi sekedar wacana dalam tataran diskusi atau sekedar citra diri institusi, melainkan akan terus dijalankan demi menyangga kemandirian bangsa hingga di waktu mendatang secara berkesinambungan. Poin kritis dari agenda ini begitu jelas, yaitu Perubahan (change) dan sejumlah 30.000 lebih pegawai Ditjen Pajak adalah pelaku utama disitu. Sehingga korelasi yang saling berbanding lurus sangat jelas terlihat, bahwa pencapaian atas change atau perubahan dalam kerangka modernisasi yang diinginkan DJP akan sangat dipengaruhi oleh komitmen atau jiwa korps dari pelaku perubahan di lingkungan internal dalam mengawal perubahan tersebut.

Menariknya, tidak semua pegawai Ditjen Pajak suci bagai Nabi, khususnya mereka (generasi lama yang tidak mampu mengikuti perubahan) yang sudah terbiasa berada di pola lama (comfort zone) untuk kemudian secara tiba- tiba harus beranjak mengikuti arus modernisasi. Ketidaknyamanan terbesar dialami oleh mereka ini (the establishment). Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih banyak yang bisa dikatakan ‘bersih’ terutama mereka yang berasal dari golongan generasi baru (new blood) yaitu mereka yang bergabung dengan Ditjen Pajak ketika perubahan tengah atau menjelang dijalankan. Sementara itu ditengah gempuran dan cobaan dalam mengawal dan meneruskan modernisasi, maka menjadi the establishment adalah soal pilihan dilematis yang kerap muncul ketika kita dihadapkan pada gencarnya cobaan dan gempuran tersebut.

Polemik ini tidak bisa lagi dengan sederhana direduksi menjadi sebatas dikotomi generasi lama dan generasi baru karena saya, anda dan kita semua bisa saja menjadi the establishment di dalam tubuh Ditjen Pajak yakni ketika dimanapun dan kapanpun kita bertugas (anywhere dan anytime) lalu disaat yang sama kita mulai mencoba menolak agenda perubahan dengan berbagai cara (anyhow). Tanpa kenal usia, pengalaman atau masa kerja, karena demikian kuatnya serangan multiarah yang menggerogoti tekad bulat perjalanan modernisasi Ditjen Pajak dan kita (para pegawai Ditjen Pajak) adalah pelaku utama penentu keberhasilannya.

Perubahan, dalam konsep ilmu Manajemen, memungkinkan suatu entitas usaha untuk dapat tampil lebih fit didalam lingkungannya sehingga keberadaanya bukan merupakan suatu hal yang asing atau aneh karena mampu menyesuaikan dengan kondisi bisnis di saat yang ada (current). Bila konsep ini diadopsi sebagai ide landasan untuk membantu kita memahami perubahan yang ada didalam tubuh Ditjen Pajak, maka kita akan dapat menarik benang merah yang selama ini tampak kusut, yaitu tuntutan kehidupan nasional secara multiaspek makin demikian kompleks dan semuanya menuntun pada satu hal yaitu kemandirian bangsa. Maka dalam hal inilah, fungsi pajak sebagai penyangga kemandirian bangsa harus dioptimalkan dan perubahan melalui modernisasi Ditjen Pajak adalah upaya nyata optimalisasi fungsi tersebut. Inilah yang harus kita lihat dan pahami bersama agar dapat tercapai satu pemahaman dan semangat juang (corps de spirit) yang kuat.

Ketidaknyamanan, kegusaran adalah konsekuensi logis dari sebuah perubahan, sebagaimana ia juga membawa harapan. Perubahan memberi kita kesempatan untuk memilih antara ikut serta menjadi agen perubahan itu sendiri atau justru sebaliknya, menjadi kaum the establishment yang merasa gerah lantaran harus menghadapi perubahan. Perubahan dalam hidup adalah soal kepastian, sebab tidak ada hal yang pasti di dunia ini selain perubahan itu sendiri, karena ia adalah pertanda kehidupan. Kita hanya harus memilih antara harus bertahan atau terlempar.

Namun faktanya, memilih untuk bertahan ataupun bila akhirnya kita terlempar, semua tentu akan diawali rasa tidak nyaman sekaligus gusar, hanya saja bedanya, mereka yang hendak bertahan akan mampu menyesuaikan diri dan mampu melihat visi perubahan itu sendiri sembari selalu memegang harapan tentang hari depan yang lebih baik. Sementara para kaum mapan anti perubahan hanya terus berkutat dalam kegusaran menghabiskan energi melawan perubahan dan akhirnya terlempar dengan dramatis dari jalan perubahan.

Beruntung bila kita mampu memilih untuk bertahan, karena disaat yang sama kita sedang menjadi agen perubahan. Sebuah pilihan yang harus terus dijaga agar tidak tergerus gempuran godaan yang akan selalu hadir di sepanjang perjalanan modernisasi Ditjen Pajak. Perubahan tidak mengenal waktu, ia ada didalam waktu itu sendiri sebagai unsur mutlak yang menjadi inti didalamnya. Apapun, dimanapun, dan bagaimanapun, pilihan untuk bertahan dalam perubahan harus terus kita pegang agar tidak menjadi korban perubahan itu sendiri dan agar tidak menjadi bagian pincang dalam agenda perubahan modernisasi DJP.

Read more »

7.16.2012

5 Hal Kecil yang Patut Diketahui Sebelum Kita (Mungkin) Bersikap Malas Membayar Pajak

Siapa sih yang ikhlas bayar pajak di dunia ini? none! termasuk juga teman- teman sekalian tentunya but i hope i am wrong :). Bayangkan saja, setelah teman- teman banting tulang, kebahagiaan langsung pupus dalam hitungan detik begitu melihat telah tertulis di slip gaji dengan rapi dan cantik bahwa terdapat potongan untuk pajak. Kebahagiaan langsung berganti duka diiringi ucapan getir: "yahh.. gede amat ya pajaknya :( " Dalam kasus tertentu kegetiran ini biasanya akan tersimpan cukup lama lalu larut dan mengkristal jadi sikap sentimen dan antipati terhadap apapun yang berhubungan dengan pajak. Berangkat dari situ, tulisan ini penulis buat untuk mengajak teman- teman melihat dengan lebih dekat mengenai dunia pajak. Supaya jangan sampai termakan provokasi barisan sakit hati yang dengan alasan kebebasan berpendapat memilih langkah untuk melakukan aksi tolak bayar pajak.

Well, without any further delay, ini nih beberapa poin mengapa kita harus belajar legowo ketika membayar pajak dan mengapa kita harus menjadi lebih proaktif dalam berurusan dengan pajak.

1. PDB Agregat Luar Biasa, PDB Per Capita Nelangsa

Per April 2012. IMF dalam sebuah World Economic Outlook Database menyampaikan bahwa PDB Indonesia adalah tertinggi di ASEAN mencapai angka 928,3 Milliar Dollar AS. Namun dengan kurang lebih jumlah penduduk 240 Juta maka didapatlah angka PDB per Capita pada angka 3.797 Dollar AS. Masih jauh dibawah Singapura, Brunai, Malaysia dan angka tersebut hanya berkisar sebesar -0,42% dari neraca berjalan (perdagangan dan pembayaran). Lalu apa hubungannya dengan pajak? Mari kita kembali ke rumus dasar pendapatan pemerintah:

Y = C + G + I + (Exp - Imp)

G, Government Spending, adalah belanja pemerintah yang secara ringkas bisa teman- teman lihat di ikhtisar APBN. Sambil ngopi kalau bergadang supaya tidak mengantuk, bolehlah disempatkan ngulik- ngulik angka di akun belanja pemerintah. :) Secara detil, proporsi belanja sudah disusun sesuai dengan jatah masing- masing unit pemakai anggaran. Di tiap unit ini nanti bakal dibuat kebijakan untuk menyerap anggaran (that is whay we call it Government Spending). Kebijakan ini yang harus berorientasi produktif (prinsipnya sama seperti Investment) supaya Return of Investment bisa bermanfaat jangka panjang.

Nilai G ini sangat bergantung pada besaran setoran pajak dari kita semua, jadi jangan harap pemerintah mampu melaksanakan program pembangunan yang optimal bila setoran pajak yang masuk sebagai modal pembangunan belum maksimal. Hasil akhir dari kegiatan tiap unit ini berdampak dalam penciptaan iklim investasi (I) dan dinamisnya perdagangan para pelaku usaha dalam negeri (T= Exp- Imp). Singkatnya nilai PDB Agregat (Y) kita artinya harus bisa jauh lebih tinggi lagi agar PDB Per Capita bisa menembus angka wajar. Jadi sebagai negara berkembang yang penerimaan negara 80% bergantung pada pajak, maka aspek G yang mampu memberi butterfly effect harus dioptimalkan.

2. APBN Masih Dibebani dengan Hutang dan Bunga

Tidak ada yang salah dengan hutang, ia adalah alternatif sumber pendanaan, namun keputusan untuk berhutang harus diambil melalui pembahasan panjang dan komprehensif seputar hal pemanfaatan, output, schedule pembayaran dan pengawasan penggunaan dana hutang. Jika hutang hanya digunakan untuk tujuan konsumtif atau untuk sekedar menutup defisit APBN maka taruhannya adalah kedaulatan bangsa di mata dunia.

Hingga tahun ini, total hutang negara kita adalah Rp. 1.937 T. Dengan rencana penerimaan dari pajak sebesar Rp. 1.017 T tahun 2012, maka bisa dipastikan bahwa sebagian dari uang pajak yang masuk diserap untuk pembayaran hutang di schedule tahun ini, ditambah bunga. Jadi, berbicara dalam konteks 'Pajak untuk Pembangunan Bangsa', hal itu merupakan cita- cita mulia yang bisa diwujudkan dengan optimal tercapai kalau semua total uang pajak digunakan untuk pembangunan. Masalahnya kondisi utang negara yang ada tidak bisa dibiarkan, dan kita tidak bisa dilenakan dengan manisnya angka pertumbuhan yang mencapai 6,3% karena kondisi di masa depan penuh fluktuasi.

Percepatan pembangunan secara riil dan mandiri bisa kita kejar dengan mengusahakan pembayaran hutang agar above schedule. Untuk itu dibutuhkan kesadaran dari semua pihak supaya mau membayar pajak dengan harapan kian tinggi pendapatan negara dari pajak, kian cepat kita mampu melunasi hutang dan kian cepat pula kita menjadi bangsa yang mandiri. Seperti yang penulis sampaikan bahwa berhutang secara tidak efektif hanya membuat this nation's sovereignity is at the stake.

Terlebih lagi, bila terjebak dalam Hutang maka itu adalah bentuk imperialisme modern dalam sudut pandang ilmu Hubungan Internasional, Merah Putih terpaksa akan turun dalam pergaulan bangsa di dunia. Karena malu terus hidup dari hutang. Jadi jangan biarkan Merah putih kita turun, tapi mari sebaiknya kita turunkan hal-hal yang membuat Merah Putih terancam turun, yaitu hutang. Seribu Trilyun belum cukup menjadikan Indonesia mandiri, karena sebetulnya kita mampu mencapai angka kontribusi pajak yang jauh lebih tinggi, Penasaran? that is what i want to tell you guys!

3. Kesadaran Bangsa akan Pajak masih minim

Tidak percaya?? Statistically speaking, ada 240 Juta penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan ada berapa jumlah penduduk yang sudah memiliki NPWP? Tidak lebih dari 22 Juta saja (Per April 2012). Padahal kalau kita ambil ambang batas Penghasilan Tidak Kena Pajak sebesar Rp 2 Juta/bulan atau Rp 24 Jt/ tahun maka seharusnya jumlah penduduk ber NPWP bisa lebih dari itu. Mengapa? Karena dengan asumsi untuk tidak digolongkan sebagai orang miskin adalah berpenghasilan dibawah atau sama dengan Rp 6,12 Jt/tahun (standar Bank Dunia), disandingkan dengan pendapatan per kapita penduduk Indonesia sekitar Rp 30,72 Juta/tahun (data tahun 2011). Maka ada begitu banyak penduduk yang layak ber-NPWP namun belum terjaring. Another phatetic fact about this individual taxpayer adalah bahwa mereka menanggung kontribusi sekitar Rp 200 Trilyun (data tahun 2011) bagi seluruh pembangunan yang dinikmati 240 Juta penduduk negeri ini.

Sedangkan untuk pajak perusahaan (badan) yang disinyalir oleh Dirjen Pajak Fuad Rahmani bahwa ada 12 Juta perusahaan di Indonesia namun hanya 500 Ribu perusahaan yang memiliki NPWP dan patuh membayar pajak, jadi 12 Juta perusahaan ini menggantungkan diri (tepatnya menjadi benalu atau free rider) dari sarana pembangunan yang didanai pajak oleh 500 Ribu perusahaan tersebut. Dimana dari jumlah 500 Ribu tadi hanya 20% yang secara proporsi telah menyumbang 400 Trilyun penerimaan pajak. Padahal potensi penerimaan bisa diharapkan muncul dari 12 Juta perusahaan tersebut namun ternyata kepatuhan dan kesadaran tidak berbanding lurus dengan harapan.

What's the point? Yap, kesadaran adalah permasalahan kita bersama, bermula dari ketidaksenangan karena potongan pajak dan kurangnya pemahaman tentang pajak itu sendiri sampai fakta huru hara panggung politik, tindak korupsi hingga kacau balau pembangunan yang kita lihat makin membuat sisi egoisme kita makin trengginas dengan dalih: 'ngapain gw bayar pajak, negeri ini masih gini- gini juga! Kemana uang pajak yang gw bayar???!'

4. Uang Pajak Kita Kemana? Masuk Kas Negara Lalu Dibagikan ke Instansi Pemerintah!

Sounds too trivial to tell! Tapi, banyak dari kita yang masih menyimpan gambaran bahwa setiap kali datang ke kantor pajak adalah untuk membayar pajak, yang benar sebetulnya adalah mengurus kelengkapan administrasi seputar perpajakan, adapun urusan membayar pajak, itu bukan di kantor pajak tempatnya, namun di Bank atau Kantor Pos. Dan bukan juga di petugas pajak! Dari keduanya, uang pembayaran pajak kita akan disetor ke rekening umum negara di Bank Indonesia yang dipegang oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). Uang yang sudah masuk inilah yang nantinya akan dibagi- bagikan sesuai kebutuhan negara yang terinci kedalam APBN setiap tahun kepada masing- masing unit atau instansi pemerintah yang membutuhkan. Jadi salah alamat bila bertanya ke kantor pajak, pertanyaan ini: 'kemana saja uang pajak kami?’.

Nah, kepada unit/instansi pengguna anggaran inilah amanah untuk membangun negeri ini sesuai dengan bidang masing- masing ditumpukan. Kita sebagai warga negara, berhak untuk mengawasi penggunaan uang negara ini, sesuai dengan prinsip bahwa pajak itu kita lunasi kewajiban kita dan kita awasi penggunaanya. Peran proaktif kita yang akan turut menentukan efektivitas penggunaan uang pajak ini. Jadi sederhananya kini sikap menyerahkan semua urusan pembangunan kepada pemerintah sudah kurang relevan dipakai, karena tuntutan era transparansi memungkinkan kita berperan sebagai pengawas sekaligus penikmat pembangunan. Kemudian teman- teman mungkin bertanya- bertanya, secara konkretnya bagaimana kita bisa berperan menjadi pengawas itu? Apa saluran pelaksanaannya?? Tenang.. let us take a deep breath! Dan mari kita menyesap wangi kopi di malam ini...

5. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Whistle Blowing System (WBS) Direktorat Jenderal Pajak

‘Whistle Blowing System? UFO raksasa dari galaksi mana itu?! Dan lantas apa hubungannya dengan KPK?’ Rekan sekalian, Direktorat Jenderal Pajak yang diberi amanah mengumpulkan penerimaan negara dari pajak adalah gerbang terdepan dimana korupsi rentan terjadi. Mulai dari perilaku oknum petugas yang tidak berintegritas sampai godaan yang paling menggoda berujung ‘kongkalikong’ dari wajib pajak nakal merupakan celah paling lazim yang membidani lahirnya tindakan yang merugikan negara. Mengapa penulis katakan merugikan negara? Karena jelas kedua tindakan ini menyebabkan negara kehilangan sejumlah potensi atau sama sekali seluruhnya penerimaan pajak. Dalam upaya untuk menimalisir kenistaan ini maka ‘Ditjen Pajak featuring KPK’ atau ‘KPK featuring Ditjen Pajak’ membuka saluran pengaduan dari siapapun untuk tanpa segan melaporkan tindakan korupsi yang diketahui.

Ditjen Pajak sendiri bisa dikatakan mengambil sikap ‘berani mati’ dengan menerapkan WBS, karena secara tidak langsung akan membuka perilaku buruk dari para oknum nya sendiri yang menggerogoti dari dalam upaya membersihkan diri dari korupsi. Efeknya jelas, berkali- kali beberapa oknum tertangkap, maka berjuta kali Ditjen Pajak akan menerima cercaan dari masyarakat yang belum mampu melihat sisi positif kebijakan ini. Apalagi memang yang tampil sebagai sherif dalam setiap drama penangkapan adalah KPK bukan Ditjen Pajak. Ditjen Pajak berperan menerima laporan melalui mekanisme WBS lalu menindaklanjuti, mengawasi, memata- matai oknum yang dilaporkan lalu mencari celah untuk menangkap lewat kerja sama dengan KPK yang diberi kewenangan untuk menyadap saluran telekomunikasi untuk memudahkan pengintaian.

Well, kadang hal ini makin membuat Ditjen Pajak makin seperti tidak bisa dipercaya, bahkan seperti diambang kehancuran, namun penulis meyakini bahwa sometimes, ruin is a compulsory part to do a great transformation. Maka dari itu, tidak heran bila sudah beberapa oknum petugas pajak yang tertangkap tangan oleh KPK tengah bertransaksi dengan oknum wajib pajak nakal, apapun modus dan latar belakangnya. Sehingga penulis berharap agar teman- teman tidak bersikap skeptis melihat maraknya penangkapan oknum petugas pajak yang berprilaku ‘nakal’ sehingga patut disekolahkan di hotel prodeo. Lebih lanjut penulis harap agar teman- teman semua tidak terprovokasi masuk barisan sakit hati.

Hmmhhh... kadang kalau dipikirkan kembali urusan pajak ini demikian kompleks, lebih kompleks dari motif batik pekalongan atau labirin sarang semut sekalipun, tapi mau tidak mau kompleksitas yang ada ini harus dihadapi dan diuraikan supaya menjadi lurus dan berjalan sebagai sistem dan iklim yang kondusif untuk kemajuan jangka panjang... dan yakin saja bahwa kelak nanti suatu saat kita akan berdiri sejajar dengan negara maju yang sejahtera, dan memang tampaknya kini kita memang kian dekat ke kondisi tersebut terlihat dari keberanian dan kestabilan makro negara kita ketika kini menyertakan modal lewat pembelian obligasi 1 Milyar Dollar AS kepada IMF, walau mungkin kelak ketika negeri ini bertumbuh besar saat itu sudah berganti generasi baru... this is all about hope as the best thing which will never die...

Salam
Ebas

Read more »

7.15.2012

Sekilas Antroposentrisme Lingkungan

Antroposentrisme. Istilah ini merujuk pada sebuah paham/keyakinan dimana manusia adalah pelaku utama kegiatan di semesta alam sekaligus pemiliknya, sehingga manusia adalah pusat dari semesta alam itu sendiri. Aku kira dinamisasi kehidupan di dunia ini dalam beberapa aspek telah lahir dari rahim paham ini. Liberalisme Kapitalisme tampak seperti turunan antroposentrisme dalam aspek ekonomi, ada banyak kesamaan persamaan sifat keduanya. Dalam Liberalisme Kapitalisme, manusia (pasar) diberi kebebasan sepenuhnya dalam mengatur mekanismenya sendiri, kebebasan yang penuh dan mutlak ini menuntun pada eksploitasi habis- habisan faktor- faktor ekonomi agar siklus tetap bisa berjalan.

Pemenuhan kebutuhan tersebut tidak diiringi secara baik dengan prinsip pelestarian alam dan toleransi lingkungan, eksploitasi total ini adalah cerminan sikap bahwa kebebasan yang dimiliki telah disalah artikan lebih jauh dalam arti kepemilikan. Bahwa manusia memiliki bumi ini beserta isinya untuk dieksploitasi demi memenuhi tuntutan sistem. Sampai akhirnya ketika sinyalemen negatif kehadiran bencana alam mulai tampak, maka dunia mulai disibukkan dengan berbagai konferensi tingkat tinggi membahas penyelamatan lingkungan, sebut saja Konferensi Rio De Janeiro yang menghasilkan konsep Ecogreen. Konferensi Perubahan Iklim di Bali (tindak lanjut dari Protokol Tokyo) yang membidani lahirnya Bali Plan Action dan Bali Roadmap serta konferensi di Durban Afrika Selatan yang membahas perihal pengurangan emisi karbon.

Bumi menyediakan banyak hal yang membuat kita masih bisa hidup. Biosfer nya yang terdiri dari Hidrosfer, Litosfer dan Atmosfer menjadi tempat banyak unsur kehidupan yang kita butuhkan. Namun permasalahannya adalah ketika semua unsur itu dikeruk sampai habis maka semua akan menjadi seperti kata pepatah lama dari suku Indian kuno yakni saat pohon terakhir ditebang, saat sungai terakhir mengering maka saat itu kita baru akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Kebebasan mutlak cenderung akan disetir kerakusan tak berkesudahan dari pihak yang berkepentingan, mereka adalah kaum korporatokrat yang masuk ke tiap belahan bumi yang kaya akan faktor- faktor ekonomi untuk kemudian dijamah dan dikeruk demi kepentingan pribadi tanpa menimbang soal pemeliharaan atau kontinuitas ketersediaannya.

Manusia bukanlah pemilik bumi namun hanya sebagai penerima titipan saja dari Tuhan sebagai bekal untuk bertahan hidup, singkatnya kita diberi hak untuk mengelola dan memanfaatkan agar kita bisa memenuhi kebutuhan dengan cukup bukan berlebih. Kenapa? karena kita perlu memikirkan nasib generasi mendatang, dan anggaplah bahwa bumi yang kita tempati ini kita peroleh dengan cara meminjam dari mereka untuk kita kelola dan bila tiba saatnya kita kembalikan, mereka akan menerima dalam kondisi yang sarat potensi dan manfaat, juga akan mengingat kita sebagai generasi yang bijak dalam mengelola titipan Tuhan. Bukan kaum antroposentris yang mengeskploitasi sampai habis.

Karena kita memang hanya dititipi, bukan diberi. Dan selain itu karena kita tidak memiliki tapi hanya dipinjami.

Read more »

7.13.2012

Menjelang Ramadhan

Tentang sholat Jumat tadi siang, khatibnya adalah seorang jemaah yang diminta secara impromptu menjadi khatib pengganti karena khatib utama tidak hadir, namun begitu isi khotbahnya masih bisa kuingat cukup jelas sampai sekarang. Beliau menceritakan sebuah Sirah ketika Nabi Muhammad SAW mendatangi Muaz Bin Jabal dan mengajarkan sebuah doa yang redaksi lengkapnya sebagai berikut:

“Hai Mu’az, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu hai Mu’az, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir solat hendaknya kamu berdoa, ‘Allahumma a’in ni ‘ala zikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu).” (HR Abu Daud)

Mengingat, mensyukuri dan beribadah. Tiga poin ini sering kali lupa oleh kita lantaran kesibukan dunia. Padahal, hanya karena dalam penjagaanNYA maka hidup bisa selamat, cukup dan lengkap. Menjadi ingat, bersyukur dan beribadah itu begitu penting. Dalam hidup sehari- hari kalau sudah menyangkut urusan lisan dan hati. Kadang- kadang ringan sekali untuk mengumpat, mencela atau berpikiran buruk. Belum lagi mata ini. Melihat hal yang kita inginkan ada pada orang lain, maka mudah memicu iri yang keras merasuk lalu membatu dalam hati. Bila tidak ada ketiga hal tadi maka rusak semua sudah. Kacau setiap langkah. Semua terasa gerah dan jengah!

Lalu tanpa terasa kurang lebih seminggu lagi bulan suci Ramadhan tiba. 2012 M atau 1433 H, puasa bertemu puasa dari tahun ke tahun. Alhamdulillah masih diberi umur. Mungkin juga peringatan bahwa dosa ini sudah terlalu banyak sehingga ALLAH.SWT masih memberi kesempatan lewat Ramadhan. Kalau begitu aku masih termasuk kelompok yang beruntung, karena banyak yang sudah terlanjut dijemput kematian sebelum sempat putar haluan kepada NYA.

Dan sebetulnya yang aku ingin cuma menjadi sepeti kata khatib dalam khotbah Jumat tadi siang. Selalu menjadi ingat, bersyukur dan beribadah. Semoga momen Ramadhan kali ini makin menguatkan. Amin..

Read more »

7.12.2012

Perjalanan Liberalisme Kapitalisme Ekonomi di Indonesia.

Liberalisme kapitalisme ekonomi sudah lama masuk dan eksis di dalam negeri ini. Mungkin sebagian dari kita mengira bahwa mereka mulai menyusup masuk dengan rapi ketika kita sudah berdaulat secara dejure sebagai satu negara di tahun 1945. Tetapi memang seperti ungkapan bahwa sejarah bisa saja berulang, karena sebetulnya sistem ini sudah mulai hadir dalam negeri kita jauh sebelum kita merdeka, yaitu ketika VOC baru saja hengkang dari Nusantara dan wilayah yang dikuasai VOC (yang entah bagaimana caranya menjadi legal) diserahkan kepada pemerintah Belanda.

Belanda kala itu sedang kolaps secara ekonomi dan politik di kancah Eropa, sehingga pengawasan wilayah yang semula dikontrol VOC ditangani langsung oleh pegawai Belanda bernama Van den Bosch yang kala itu ditunjuk langsung sebagai Gubernur Jenderal untuk wilayah nusantara. Di masa keberadaan Bosch, kebijakan kejam kepada penduduk pribumi diterapkan dan sangat jelas berasas eksploitatif untuk kepentingan menyelamatkan ekonomi Belanda. Yaitu menerapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang diiringi dengan pemajakan tinggi atas hasil bumi dan pemanfaatan lahan.

Kebijakan ini sukses mendulang Gulden yang diisikan ke kantong kas Belanda, namun menyisakan pemandangan tentang penindasan, penjajahan atas kemanusiaan di Indonesia. Cukup lama kebijakan dan sistem penindasan dan eksploitasi ini berlangsung, pemerintah Belanda turun langsung dengan campur tangan penuh. Kondisi ini menyebabkan kejengahan di kalangan nusantara terhadap ekonomi yang total ditangani pemerintah kolonial. Perlawanan pun muncul tidak hanya dari dalam tapi juga dari luar nusantara yang menyaksikan penindasan oleh pemerintah terutama setelah tulisan Douwes Dekker (Multatuli) terbit yang berjudul Max Havelaar.

Hingga kemudian, era sistem Tanam Paksa usai berganti dengan sistem ekonomi tanpa campur tangan pemerintah, murni dibiarkan berjalan dengan mekanisme pasar (inilah kali pertama liberalisme kapitalisme ekonomi masuk menelusup sebagai bagian sistem perekonomian dalam negeri). Namun, paham liberal- kapitalis yang masuk adalah bercorak barat karena kala itu banyak investor dari barat yang sudah mengenal Indonesia (kala itu bernama Hindia Belanda) sebagai lahan potensial tujuan investasi. Di masa dekade awal sistem ini berjalan pertumbuhan ekonomi terbilang pesat, kemakmuran rakyat membaik. Tidak ada lagi penindasan secara fisik dan motif murni eksploitasi dalam setiap investasi menjadi lebih minimal.

Sistem ekonomi liberalisme kapitalisme cukup lama bercokol. Termasuk hingga ketika resesi ekonomi melanda dunia di tahun 1930an dan Indonesia terkena dampaknya, sebabnya adalah asas laissez-faire telah memungkinkan siapapun untuk berusaha dengan bebas untuk mencari keuntungan sebanyak- banyaknya termasuk salah satunya kegiatan ekspor impor dan optimalisasi lahan penanaman produk komoditi utama. Saat itu negara tujuan ekspor seperti Eropa dan terutama Amerika merupakan pusat resesi sementara banyak negara lainnya juga merasakan dampaknya, termasuk Indonesia. Karena ekspor menurun drastis, produksi pertanian merosot bahkan merugi. Sebab bagaimana pun pasar mengalami kelesuan.

Bila kemudian kini akhirnya kita menganut sistem perekonomian yang diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 33 (yang menurut pendapat saya cenderung sosialis walau dengan corak khas Nusantara). Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bukti lain bahwa indahnya sistem yang terkonsep dalam pasal tersebut tidak sepenuhnya teraplikasi dengan total sebagai pegangan sistem ekonomi kita karena justru hingga kini pun negara kita belum bisa lepas dari sistem liberalisme kapitalisme yang masih bertahan melalui agenda politik dan tekanan pihak korporatokrasi asing. Lemahnya kepemimpinan dalam menasionalisasikan semua aset atau sumber daya alam menjadi penghambat utama tidak terwujudnya sistem ekonomi yang diletakkan oleh Bung Hatta ini. Sehingga sejarah pun berulang, ketika kini krisis ekonomi melanda Eropa atau di tahun 2008 krisis Mortgage melanda Amerika, maka di Indonesia turut merasakan dampaknya.

Mau sampai kapan? Sudah cukup lama kita menjadi bangsa terjajah... Bila dulu penjajahan begitu terlihat sangat menindas, kini penindasan itu makin rapi dan terstruktur dan disaat yang sama ia tidak terlihat!

Read more »

7.09.2012

Kelamnya Perdagangan di Masa Lampau Nusantara

Sejarah Indonesia berdiri dengan salah satu pondasi dari aspek perdagangan, sebuah aspek yang sudah sejak lama menjadi ciri khas nusantara sejak sebelum abad ke 16, saat itu perairan nusantara menjadi jalur perdagangan pelaut- pelaut ulung dari Makassar, Sumatera bahkan dunia luar mulai dari Asia hingga Eropa.

Namun, dari aspek perdagangan inilah sejarah panjang yang penuh penindasan dan penjajahan mendapatkan jalannya. Kala itu, ketika perdagangan hanya melibatkan sebagian besar peran pedagang- pedagang lokal, tidak dikenal adanya monopoli atau dominasi tunggal kaum atau golongan tertentu. Tetapi ketika bangsa Eropa mulai bersaing yang dimotori (Inggris, Belanda dan Portugis) untuk memainkan peran sebagai pelaku usaha di nusantara, saat itu warna perdagangan pelan- pelan berubah menjadi praktik monopoli yang kian mereduksi diri menjadi upaya eksploitasi.

Dalam hal perebutan dominasi peran, Belanda mampu menancapkan eksistensi dengan membentuk kongsi dagang bernama VOC sebagai pelaku usaha yang memainkan peran sebagai pemasok rempah- rempah ke negara induk dengan memonopoli perdagangan di nusantara, bahkan ketika itu pedagang- pedagang lokal bisa dikatakan kalah bersaing sehingga berubah peran dari sebagai pelaku usaha perdagangan menjadi hanya sebagai pemasok kebutuhan VOC dengan kata lain, komoditi dagang yang disediakan oleh pedagang lokal dijual kepada VOC dengan harga tertentu yang sudah dimonopoli VOC untuk kemudian oleh Belanda diperdagangkan kembali di Eropa dengan harga yang lebih tinggi, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui; memenuhi kebutuhan rempah- rempah negara induk dan menjadi pedagang di Eropa.

VOC dikepalai oleh Gubernur Jenderal, sebuah jabatan yang dibuat Pemerintah Belanda untuk mengkoordinir perdagangan di nusantara. Sampai akhirnya menjelang tahun 1800, instabilitas kondisi dalam negeri Belanda dan persaingan di kancah Eropa yang membuat Belanda makin tersisih menjadikan VOC terpinggirkan sehingga akhirnya pada Desember 1799 VOC dibubarkan dan kendali langsung berada dibawah Pemerintah Negeri Belanda, termasuk penyerahan wilayah kekuasaan perdagangan yang dikuasai VOC. Disinilah sejarah kelam penjajahan bermotif eksploitasi oleh Belanda di Indonesia dimulai secara nyata.

Sampai disini, saya hendak mengajak rekan- rekan bertukar pikiran dengan poin- poin bahasan sebagai berikut:

1. Bagaimana latar belakang pedagang- pedagang nasional pada akhirnya kalah bersaing dengan pedagang Belanda (melalui VOC) dan kemudian hanya menjadi sebagai pedagang pemasok, bukan pemain utama? Sebuah keadaan yang akhirnya membuat eksistensi Belanda makin kuat dan berkepanjangan.

2. Ketika akhir tahun 1799 dan VOC bubar, dan praktik perdagangan VOC dialihkan langsung ke Pemerintah Negeri Belanda, mengapa saat itu kondisi internal nusantara membiarkan penyerahan kekuasaan tersebut sehingga terkesan membiarkan penguasaan oleh Belanda kian berkelanjutan? Apa karena belum adanya persatuan nusantara?

3. Jika memang ada yang kurang tepat dalam artikel yang saya buat diatas, silahkan disampaikan agar tidak terjadi kekeliruan sejarah.

P.S:
-----
1. Disarikan dari Buku: Bung Hatta dan Ekonomi Islam karya Anwar Abbas.
2. Untuk cerita lengkap sejarah asal muasal motif kedatangan bangsa barat dalam blantika perdagangan nusantara bisa dibaca disini dan disini.

Read more »

7.08.2012

VR 1433 HJ

NAMA KEGIATAN:
VR 1433 HJ
Visit Raung 1433 Hijriah

RUTE JALUR:
Naek (in) : Jalur Kalibaru
Turun (out) : Jalur Kalibaru
Kalibaru adalah sebuah kecamatan di Banyuwangi yang menjadi salah satu lokasi pintu masuk pendakian

Raung, disini ada Posko REGASSPALA, KPA yang dua orang personilnya akan menemani pendakian kita, mereka yang sudah begitu paham mengenai medan jalur utara sampai menghantarkan ke Puncak Sejati

Transport: Kereta Ekonomi Gayabaru Malam Selatan (GBMS)
Tujuan: Stasiun Pasar Turi Subaraya

WAKTU KEGIATAN:
20- 26 Agustus 2012

Note:
Ditanggal keberangkatan, tim berangkat dari satu tempat yaitu: Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.

PESERTA KEGIATAN:
....
....
....
....
....
....
....

PERIZINAN:
Perizinan Gunung Raung menurut informasi bisa dibilang sederhana, siapkan fotokopi KTP dan dari tim kita akan disiapkan surat perizinan oleh Bange yang akan ditujukan Desa, Polsek dan Koramil yang berada di Kalibaru, penyampaiannya akan dibantu oleh REGASSPALA, sudah dikoordinasikan. Kemungkinan (sangat kecil) ada biaya administrasi, namun tidak terlalu material dan ditanggung kelompok.

PERLENGKAPAN DAN PERALATAN PRIBADI:
Headlamp dan baterai cadangan minimal dua
Sleeping Bag
Peralatan Makan (sendok, gelas dan piring)
Geter
Peralatan Mandi (sikat gigi, sabun)
Matras
Drigen ukuran 5Lt
Sepatu Gunung/Sendal
Kaos Kaki (Bawa secukupnya)
Pakaian ganti secukupnya
Sarung Tangan
Kupluk/Topi
Jas Hujan (boleh model Ponco atau setelan)
Korek Api

PERLENGKAPAN DAN PERALATAN KELOMPOK
Carrier
Daypack
Tenda
Kompor dan nesting
Golok
Webing
Karabiner

LOGISTIK KELOMPOK:
Gas 5 tabung
Kopi + Susu
Roti Tawar
Telor
Ikan Teri+ Kacang
Sayur Bumbu
Sambal Masak
Bumbu Masak
Kornet
Buah-buahan Kaleng
Minuman Kemenangan
Snack
Coklat
P3K Kelompok

note:
Logistik kelompok dibeli di Kalibaru dengan sumber dana dari iuran tim, termasuk unsur dari total dana yang dibutuhkan

LOGISTIK PRIBADI:
Beras setiap orang bawa, diisikan ke 1 botol aqua 600mL.
Obat-obatan Pribadi

RUNDOWN KEGIATAN
Hari I
Senin, 20 Agustus 2012
12.00- 13.00: Kumpul di stasiun Senen, dekat ATM Center.
13.30- 14.00: masuk ke peron, siap berangkat menuju Malang Kotabaru.

Hari II
Selasa, 21 Agustus 2012
06.00- 06.30: Tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya, istirahat, Sholat, mandi, repacking.
06.30- 08.00: Santai- santai, sarapan pagi, Recharging hp.
08.00- 08.30: Perjalanan ke Stasiun Semut untuk Transit ke Stasiun Kalibaru, Banyuwangi.
09.00- 14.30: Perjalanan ke Kalibaru
14.30- 15.00: Tiba di Kalibaru, ke Basecamp REGASSPALA, mengurus perijinan, makan siang.
15.00- 16.00: Belanja Logistik di Kalibaru
17.00- 19.00: bermalam di Posko REGASSPALA*)

Hari III
Rabu, 22 Agustus 2012
05.30- 06.00: Bangun pagi,Sholat, sarapan
06.00- 07.30: Packing dan Check alat, bersiap berangkat
07.30- 09.00: Persiapan Berangkat ke Desa Terakhir. Naek Ojek.
09.00- 09.30: Tiba di Pos I, mempersiapkan air, sumber mata air terakhir.
10.00- 14.30: Tiba di Pos II (Semar), istirahat, sholat, makan snack ringan
15.00- 19.00: Tiba di Pos III (Petro), istirahat, makan malam, nge-camp disini.

Hari IV
Kamis, 23 Agustus 2012
05.30- 07.00: Sholat, bangun pagi, sarapan dan meneruskan perjalanan
07.00- 09.00: Perjalanan ke Pos IV (Pos Petro).
09.00- 13.00: Tiba di Pos IV, istirahat, sholat.
13.30- 15.30: Tiba di Puncak Sejati, Raung. Enjoying View.
16.00- 19.30: Tiba di Pos III, istirahat, Sholat, Makan malam, Nge-camp disini.

Hari V
Jumat, 24 Agustus 2012
05.30- 07.00: Sholat, bangun pagi, sarapan dan meneruskan perjalanan
07.00- 13.00: Perjalanan Turun ke Posko REGASSPALA.
14.00- 14.30: Tiba di Posko REGASSPALA
14.30- 16.00: Makan, Mandi, Sholat, Repacking.

Hari VI:
Sabtu, 25 Agustus 2012
03.00- 04.00: Persiapan hunting Tiket Kereta di St. Kalibaru.
06.30- 07.00: Ke Stasiun Kalibaru naek Kereta ke Subaraya.
09.00- 13.00: Tiba di Stasiun Gubeng Surabaya.
13.00- 13.30: Istirahat, Makan siang, sholat.
13.30- 14.00: Masuk kereta tujuan Jakarta, Stasiun Pasar Senen.

Hari VI:
Minggu, 26 Agustus 2012
08.00- 08.30: Tiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.

BIAYA-BIAYA:
1. Kontribusi Buat REGASSPALA:
Rp 50.000/orang

2. Transportasi:
Kereta GBMS: Jakarta- Subaraya: Rp 75.000
Kereta GBMS: Surabaya- Jakarta: Rp.80.000
Ongkos St. Ps Turi- St. Semut: Rp 7.000
Ongkos St. Semut- St. Kalibaru: Rp 15.000 x 2
Ongkos Ojek Basecamp- Pos I: Rp 30.000 x 2
REGASSPALA: Rp50.000 (sebagai tanda terima kasih kita, mereka tidak pernah minta)
Konsumsi Kelompok: Rp.60.000
Estimasi Biaya/orang: Rp 350.000 (estimasi mark-up)

RENUNGAN:
Dalam pendakian ini, kita adalah tim, dan kita harus saling menjaga dan membantu bila diperlukan dan jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan. Harus sigap dan siap setiap saat karena alam/gunung bisa berubah dalam hitungan detik, ia tak selamanya bersahabat dan tidak bisa memahami kekurangan kita. Lagipula kata banyak orang bijak: Bukan gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri.

Read more »

7.07.2012

Something Countless

Zaman ini ganasnya luar biasa. Semua yang terlihat seolah- olah membuat hidup di dunia ini seperti abadi dan membuat manusia melupakan Tuhan. Itu mengapa kubilang ganas. Coba lihat apa yang dipaparkan televisi tidak jauh- jauh dari seputar korupsi, sensasi selebriti atau basa basi politisi. Semua terlihat dinamis tapi kacau sebab kebaikan, keburukan, kepalsuan dan ketulusan sudah menjadi bias. Atau mungkin aku lah yang kacau? Jika ia, maka aku kira aku patut bersyukur karena masih mampu menuliskan perihal ini, mengakuinya dan juga bersyukur untuk sederetan hal kecil berikut:

1. Untuk kesehatan yang sempurna: Nafas, Mata, Telinga, Tangan, Kaki, Lidah. Etc.
2. Untuk nikmat mengenyam pendidikan SD, SMP, SMA, D1, D3.
3. Untuk kebebasan dalam beribadah, I can't imagine if i were in either Suriah or Palestine.
4. Untuk tidak termasuk dalam kategori penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan.
5. Untuk setiap pengalaman mendaki gunung: Gede, Pangrango, Papandayan, Cikuray, Ciremai, Salak, Raung, Rinjani, Semeru, Merapi, Merbabu, Kerinci, Dempo.
6. Untuk memiliki hobi membaca, menulis dan kemampuan berbahasa Inggris.
7. Untuk terlahir dari keluarga yang unik yang memahamkan tentang hidup, kesabaran dan keikhlasan dalam berusaha lewat setiap pengalaman dari dulu hingga kini.
8. Untuk bekerja dan berperan sebagai pegawai di Ditjen Pajak.
9. Untuk peran sebagai anak, kakak, adik, paman, dan teman.
10. Untuk sudah punya tabungan pernikahan, motor Scorpio, Mobile Phone, Laptop, dll.
11. Untuk sudah mampu makan tiga kali sehari, mandi dengan peralatan yang lengkap.
12. Untuk tidur tanpa hujan atau panas atau kedinginan karena bisa bayar sewa kos.
13. Untuk tidak merokok, jauh dari narkoba, miras, sex bebas dan pergaulan yang salah.
14. Untuk sudah mengenal orang- orang yang sudah banyak membantu dalam hidup.
15. Untuk mampu berpakaian, sepatu, sandal yang layak dan baik.
16. Untuk keberanian bermimpi dan bercita- cita.
17. Untuk mempunyai Ibu (Almh) yang begitu senang melihat anaknya berhasil.
18. Untuk mempunyai Bapak yang memberi contoh lewat tindakan (not in words) tentang hidup sebagai laki- laki dan sebagai orang tua.
19. Untuk mempunyai Ibu yang mengajari kesederhanaan dan bersyukur dalam hidup.
20. Untuk setiap kebodohan dan kesalahan tindakan yang membuat diri lebih baik.
21. Untuk setiap usaha menjadi sabar dan berpikir positif.
22. Untuk semangat yang terjaga dalam berolahraga.
23. Untuk keberanian dalam berpetualang selagi muda.
24. Untuk cita- cita dan usaha agar segera menikah.
25. Untuk kebaikan ALLAH.SWT yang masih berkenan menutupi segala dosa sehingga masih mendapat tempat dalam pergaulan sesama manusia.
26. Untuk masih bisa merasa bahwa diri ini masih bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
27. Untuk nikmat materi yg cukup dari dulu sampai kini.
28. Untuk kesehatan dan perlindungan keselamatan dalam hidup.
29. Untuk masih bisa merasa tidur nyenyak dan bangun tanpa rasa takut.
30. Untuk setiap usaha menjaga lidah dan pikiran dari membicarakan keburukan orang lain.
31. Untuk masih bisa merasa tidak nyaman melihat dan mendengar hal dan ucapan yang tidak berguna.
32. Untuk masih bisa tertawa, merasa bahagia itu sederhana.
33. Untuk hati yang masih bisa berempati dan masih ada kesediaan berbagi.
34. Untuk jiwa yang masih ingin berpetualangan dan mengunjungi tempat- tempat yang jauh.
35. Untuk masih mampu mengisi pulsa handphone dan pulsa internet sehingga bisa tetap blogging dan surfing.
36. Untuk masih mampu mencintai dan dicintai.
37. Apa lagi yaaa????

Tiba- tiba aku berpikir atau lebih tepatnya sadar bahwa masih banyak yang bisa disyukuri bahkan tidak mampu lagi dihitung, it turns out to be something countless, benar seperti dalam Alqur'an Surat Ibrahim 14:34 bahwa "...Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya...". Sehingga cuma mampu disyukuri semoga nikmat itu makin bertambah seperti janji ALLAH.SWT dalam Surat Ibrahim 14:7 bahwa jika kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, niscaya nikmat yang kita terima akan bertambah.

Dan sebetulnya tidak ada bedanya mau kutuliskan atau tidak postingan ini, dunia mungkin akan tetap berjalan seganas yang aku sebutkan diparagraf awal, keganasan yang menutup kemungkinan untuk berbahagia, namun setidaknya, dengan menuliskan ini, ada semacam pengingat yang abadi (verba volent scripta manent) bahwa bahagia itu sederhana, cukup dengan bersyukur saja maka sudah bisa bahagia sebagai modal untuk tetap melanjutkan hidup, mengejar cita- cita, lewat doa dan usaha. Untuk hari esok yang lebih baik. Amin..

Read more »

7.04.2012

Inspirasi dari Cleaning Service: Catatan Sore Ini...

Juni kemarin aku lembur hampir sekitar dua minggu. Motivasiku sederhana, selain membunuh waktu ya sekalian hitung- hitung dapat uang tambahan yang cukup lumayan untuk menyervis motor ke bengkel di bilangan Bukit Besar Palembang. Well, saat menulis kalimat yang kedua ini, agar berat juga karena tidak sejalan dengan pemikiran Robert T Kiyosaki dimana prinsip dalam bekerja adalah jangan bekerja karena uang. Sorry Om Robert, mungkin kelak bila saya memiliki atau melakoni pekerjaan yang cocok dengan hati saya maka pemikiran anda bisa saya aminkan. But now, you really get me on the opposite side!

Bekerja dari senja hari hingga menjelang waktu Isya, diiringi Iwan Fals, Dewa dan Padi sambil berkutat dengan pekerjaan yang sebagian diriku bilang sebagai pekerjaan tengik ini cukup ampuh untuk melewatkan masa dua jam dengan menjadi diri sendiri tanpa basa basi ala birokrasi. Dan, disaat- saat seperti ini akhirnya aku baru tahu juga bahwa berjibaku dengan pekerjaan, apapun itu, ketika semua orang bergegas pulang akan mampu membuat sebagian kita setidaknya merasa miris dengan bertanya: 'orang- orang dah pada pulang, gw masih aja ngurusin kerjaann..!'

Tapi rupanya aku tidak sendirian saja, disaat jam lima sore ketika lembur baru dimulai petugas cleaning service di kantor ternyata baru mulai beraksi (kembali) dengan pekerjaan yang sama dari pagi hari tadi, mengambil sampah dari tiap ruangan, menyapu, mengepel lantai dan membersihkan toilet kantor. Jika aku dalam posisi mereka mungkin sebagian diriku yang tadi itu akan mengutuknya dengan kata- kata yang lebih tengik dari kata tengik. Dan jujur saja, ketika melihat mereka, aku merasa malu karena tahu bahwa aku mudah merasa tidak puas, dengan dalih that i deserve something better. Mereka seharian dari pagi menunggu hingga petang untuk bisa melakukan hal yang sama, it means they must spend almost 8 hours to do one more main job.Dan mengisi sela- sela waktu itu dengan memastikan bahwa lantai kantor tetap terlihat bersih mengkilap.

Dan yang aku lihat dari mereka adalah pengerjaan yang fokus with no chit-chat dan pulang ketika sudah selesai. Nyaris tidak pernah aku dengar ada suara berisik, atau roman muka tak ramah atau sikap yang kurang hangat. Begitu tenang. Tidak ada obrolan seputar promosi, demosi, atau ulasan prilaku pribadi lewat gosip miring. Mungkin tempaan hidup mereka sudah menutup rapat- rapat mindset tentang hal- hal negatif, yang tersisa cuma kerja, kerja dan kerja. Kerja karena sudah dibayar, kerja karena memang begini caranya kalau mau hidup dan kerja kalau masih mau dibilang punya harga diri. Terdengar seperi rat race dan aku kembali tidak mengindahkan pemikiran Robert T Kiyosaki. Peace om Robert! :D

Kadang aku berpikir makin mapan pekerjaan dan penghasilan maka ambisi seperti makin berbanding lurus, selalu saja kurang. Makanya aku kurang yakin dengan pandangan orang- orang yang selalu ingin mengedepankan menjadi kaya baru kemudian bisa membantu dan bersedekah, khawatir godaan duniawi keburu melenakan mereka sebelum sempat menjadi dermawan. Yaahhh.. tapi apa mau dikata, setiap manusia hidup dengan kepala dan hati masing- masing, persis seperti aku yang berpikir lembur itu menarik walau hati sebenarnya kurang cocok juga.

Kini sudah masuk awal Juli. Sudah tidak ada lembur lagi, mungkin kalau pun nanti ada bisa jadi aku ikut lagi, bisa juga tidak. Namun demikian tetap ada sisi menariknya dari lembur ini yaitu ditengah kebosanan mengerjakan pekerjaan yang (untuk kesekian kali disebutkan oleh sebagian diriku bilang) sebagai pekerjaan tengik but at least while doing so, i got a sight that money can't buy.. Hmmhh.. untuk hari ini, dan hari lain nanti kuusahakan untuk kuhadapi saja dengan besar hati. Semoga ada satu hari nanti dimana semua berubah, dan dalam hati nanti bisa kubilang: 'Alhamdulillah, finally i get my turn'

P.S:
-----
Postingan ini didedikasikan untuk para Cleaning Service kantor.

Read more »

7.03.2012

Mengurai Benang Kusut Utang Indonesia

Negara kita sudah sejak lama 'hidup dari' hutang, di awal Juli 2012 ini jumlah hutang kita (jumlah antara pokok hutang dan bunga) mencapai Rp 1.937 T adapun dengan target penerimaan pajak sebesar Rp 1.017 T, maka dengan asumsi 100% rencana penerimaan itu tercapai, maka jumlah ini belum mampu menjadikan negara kita sebagai negara mandiri secara finansial ekonomi. Riil nya setiap 230 juta jiwa penduduk Indonesia dibebani hutang sekitar Rp 8Jt/orang, bahkan seorang bayi yang baru lahir sekalipun.

Dengan posisi hutang sebesar itu setara dengan porsi hampir 25% lebih total PDB atau dengan total rencana pendapatan negara sebesar Rp 1.292.052 M sebagaimana ditetapkan dalam APBN P 2012 maka jumlah total hutang sudah mencapai 150%, jauh diatas ambang batas kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu perihal hutang perlu mendapat prioritas dalam penanganan dan pengelolaannya, di negara kita kedua hal ini menjadi tugas pokok Kementerian Keuangan Ditjen Pengelolaan Utang.

Pengelolaan Hutang ini tercermin dalam perumusan schedule pembayaran hutang yang di susun sesuai dengan perhitungan menurut jangka waktu sehingga pembayaran hutang dapat di ukur statusnya dalam tiga kelompok yaitu: above schedule, under schedule dan on schedule. Baik untuk pelunasan pokok ataupun bunga nya. Dengan mekanisme seperti ini maka hutang dalam jumlah besar akan dilunasi dalam jangka waktu puluhan tahun lamanya sesuai kesepakatan antara kita sebagai debitur dengan pihak kreditur.

Tidak ada yang salah dengan mekanisme penanganan seperti ini, tetapi yang muncul sebagai polemik kemudian adalah mengenai kemunculan hutang tersebut dan jumlahnya yang cenderung bertambah dari waktu ke waktu.

Ada semacam pameo bahwa kita berhutang untuk menutupi defisit anggaran dan didalam APBN unsur pinjaman dicatat sebagai poin pembiayaan. Ada dua kesalahan disitu, pertama yaitu alasan munculnya pinjaman yang dilatar belakangi defisit anggaran, ini tidak sesuai dengan tujuan pembangunan dan makin membuat negara kita tidak mandiri. Pinjaman sebaiknya hanya diterima jika digunakan untuk kepentingan pembangunan, atau pinjaman proyek yang dapat memberikan nilai tambah dikemudian hari sehingga dapat membantu melunasi hutang itu kelak, atau multiplier effect namanya.

Pola penerimaan pinjaman seperti ini bisa dilihat didalam data pokok RAPBN 2012 dimana defisit anggaran dari pendapatan dan belanja mencapai Rp. 125.620 M dan ini langsung ditutup dengan unsur pembiayaan baik dalam dan luar negeri sebesar jumlah yang sama. Sehingga jelas posisi hutang digunakan sebagai alat untuk menutup defisit, bukan suatu hal yang terencana dalam konteks rencana pembangunan nasional. Kesalahan berikutnya adalah mencatat hutang untuk sebagai pembiayaan didalam APBN, walau ini lebih baik dibanding dulu di era Orde Baru dimana hutang dicatat sebagai penerimaan negara. Ya, 32 tahun kita telah dibohongi.

Menggolongkan hutang sebagai pembiayaan tidak membuat APBN terbebani secara numerik dan riil bahkan ini tidak jauh berbeda dengan menganggap pembiayaan ini sebagai aspek lain dari pendapatan negara bukan pajak. APBN terlihat seperti seimbang atau pas karena adanya pos pembiayaan ini yang sejatinya adalah hutang. Mungkin lebih baik jika dibiarkan nilai defisit dipaparkan apa adanya. Dan setelah pertimbangan yang matang dan terencana maka diterangkan pos pinjaman dari pihak ketiga, tanpa harus 'ngotot' membuat APBN seimbang. Sebab pinjaman sedikit yang matang pengelolaan dan pemanfaatanya lebih baik daripada pinjaman banyak untuk tujuan menutup defisit tapi dengan pemanfaatan yang tidak terkendali dan tidak terawasi dengan baik.

Kemelut hutang sangat berpotensi mengganggu kedaulatan bangsa, seperti apa yang terjadi di krisis Eropa khususnya Greek, Poland, Ireland dan Spain. Jika kita hendak selamat dari bahaya hutang yang tidak terkendali maka ada beberapa alternatif solusi yang dapat dipertimbangkan, yaitu: 1) Penataan ulang alasan dan tujuan peminjaman hutang, dengan alasan kemandirian maka tidak semua tawaran kreditur harus diterima, semua dikembalikan kepada kepentingan dan urgensi serta manfaat pinjaman itu untuk kedaulatan bangsa. 2) Pengajuan moratorium sepenuhnya utang pada pihak kreditur, jika memang sudah tidak mampu lagi melunasi dan 3) Menata ulang jadwal pembayaran hutang disesuaikan dengan kemampuan membayar yang dimiliki secara riil.

Hutang bukanlah aib bagi sebuah pembangunan bangsa, jika memang diperlukan maka hutang bisa menjadi salah satu alternatif sumber dana dan ini tentunya setelah melewati proses pembahasan yang komprehensif mengenai pemanfaatan, kemampuan membayar dan tujuan penggunaan dana dari hutang itu nantinya, terutama sekali diperuntukkan untuk proyek yang memberi multiplier effect secara jangka panjang. Sehingga ketika tingkat penyerapan dana dari hutang tinggi itu pertanda bahwa pembangunan berjalan sesuai rencana dan hasil yang didapat bisa diharapkan untuk membantu membayar pokok dan bunga hutang itu nantinya tanpa harus menjadikan kita terjebak dalam siklus gali lobang tutup lobang.

Erikson Wijaya
Awal Juli 2012
Life must go on...

Read more »

7.01.2012

Quo Vadis Standar Kemiskinan Indonesia.

Ada sebuah negara yang miskin secara sumber daya alam namun unggul dalam perekonomian, sebut saja Jepang. Ada pula negara yang ukurannya begitu kecil dan tidak bisa mengandalkan kekayaan alam namun menjadi negara maju yang diperhitungkan, yaitu Temasek atau Singapura. Berbeda dengan Brunei Darussalam yang walau luasnya kecil namun kuat secara ekonomi karena didukung oleh sumber daya alam. Tapi bila sebuah negara yang ukurannya besar dan kaya akan sumber daya alam, justru tidak tampil sebagai sebuah negara unggul, then there the problem lies...

Dan, inilah kondisi yang terjadi di negara kita. Indonesia. PDB tertinggi ke 16 di dunia dan pertumbuhan ekonomi 6,5% tahun lalu masih membuat kita belum lepas dari isu sosial kesejahteraan dan kemiskinan. Singkatnya, pertumbuhan kuantitatif ini belum berdampak secara kualitatif ke seluruh lapisan rakyat, khususnya rakyat miskin. pasca medio 2011, standar garis kemiskinan di Indonesia adalah Rp. 243.729,-/kapita/bulan atau dengan kurs dollar kala itu (1 US$ = Rp. 8771.95) sekitar 27,79 US$/kapita/bulan setara dengan 0,93 US$/kapita/hari. Maka setiap orang di Indonesia yang memiliki pendapatan dibawah Rp. 8.124,32/hari (0,93 US$ x Rp. 8771.95/US$) dikatakan hidup dibawah garis kemiskinan.

Ukuran 0,93 US$/kapita/hari atau Rp. 8.124,32/kapita/hari menurut saya masih termasuk sangat rendah sehingga cenderung menutupi keadaan yang terjadi dilapangan, kalau pun kita belum mampu mengikuti standar Bank Dunia di Rp 17.000/hari mungkin kita bisa melihat pada negara tetangga seperti Thailand yang menetapkan batas Rp 13.017 /hari (atau 44 THB/hari dengan ukuran 1 IDR setara dengan 0,00338 THB) walau resikonya berarti jumlah penduduk miskin di Indonesia tembus pada kisaran 20%- 25%. Dua kali lebih tinggi ketika standar Rp. 8.124,32/hari diterapkan. Namun ini akan membuat keadaan lebih riil dan membuat rakyat hidup dalam standar yang lebih 'manusiawi'.

Hal menaikkan standar kemiskinan ini berimplikasi positif kepada peningkatan ukuran kesejahteraan penduduk yang merupakan pondasi dasar dalam membangun manusia seutuhnya. Pembangunan manusia menurut Dr Mohammad Hatta merupakan tujuan utama pembangunan, dan tertulis dalam dasar negara UUD 1945 lewat redaksi:'mencerdaskan kehidupan bangsa..' adalah fokus dan sasaran utama pembangunan yang diukur lewat angka pertumbuhan tetapi semua tidak bermakna apa- apa bila setiap jiwa tidak bisa menikmatinya. Menyadarkan setiap manusia Indonesia terhadap keadaan ini adalah tugas kita semua sebagai generasi muda yang ingin hidup lebih baik di masa depan agar bisa kelak mewariskannya kepada generasi sesudah kita di masa yang lebih panjang lagi.

P.S:
----
Palembang. 00:42 01 Juli 2012
Menunggu Final Piala Eropa

Read more »