11.24.2012

Amazing Sumbing (IV)

Sabtu 04 November 2012

Masih pagi sekitar pukul 04.30, tapi diluar sana udara sudah tenang. Angin dan hujan sedari tadi malam ternyata sudah reda. Pelan, kami terbangun dan mulai bersiap untuk mendaki puncak Sumbing. Usai sholat maka yang terpenting adalah sarapan agar kondisi tubuh fit. Daypack sudah disiapkan. Dan menjelang lewat pukul 05.30 pagi kami sudah siap dan berdoa bersama. Remang lampu Kab. Wonosobo masih malu- malu menjelang pagi. Sumbing, here we come...

Puncak pertama yang kami sasar adalah Buntu, dari situ saya belum tahu bahwa dua puncak lainnya menunggu pula. Medan berupa bebatuan cadas dan minim pepohonan untuk berpegang, karakter gunung gundul. Sisa hujan tadi malam terlihat dari trek yang becek dan menjadi licin. Namun semua bagiku merupakan kesenangan tanpa terkecuali. Setapak demi setapak, makin lama makin tinggi dan bila menoleh ke belakang jelas terlihat bentangan pagi Wonosobo yang dipagar Sindoro. Udara dan cuaca kondusif standar ketinggian, kami terus melangkah melewati gundukan curam kerikil rapuh yang rentan dijadikan pegangan.

Sekitar 1 jam kemudian kami tiba di Puncak Buntu. Rupanya berupa lahan dengan area sempit yang beralas bebatuan besar. Dari sini dua puncak lainnya terlihat jelas, cekungan terjal adalah keharusan bila hendak mencapainya. Tak lama di Buntu, menikmati bentangan hutan dibawah sana dan Sindoro di seberang, kami turun menuju puncak kawah yang tak jauh dari Buntu. Turunan ke Kawah ini mulai terjal dan mengandalkan ketepatan dalam memilih pijakan dan pegangan di batu karang, bila ragu dan salah pilih akibatnya bisa jatuh menggelinding ke lahan tebing. Setelah itu, dilanjutkan dengan melipir/ traverse, di dinding batu sekitar 50 meter sampai kemudian naik lagi mendaki tebing dan tiba di Puncak Kawah. Bila ragu, bisa ambil jalur memutar dibawah tapi lebih panjang dan lama walau aman.

Puncak Kawah adalah puncak kedua dari jalur Garung, dari puncak ini, bentangan kawah Sumbing langsung terlihat jelas. Kepulan asap belerang yang naik terbawa angin menimbulkan aroma khas asam sulfat yang berbahaya. Sehingga saat tiba disana kami praktis tidak berlama- lama. Saat itu sekitar pukul 08.00 dan ketika melihat puncak sejati yang menjulang tinggi sendiri dengan jalur berupa dinding batu yang keras, siapapun wajar bila berpikir dua kali untuk menuju kesana. Dari cekungan turunan puncak kawah kami memandang kondisi medan itu cukup lama, sampai Joneh membaca jalur yang paling aman tidak terlalu beresiko. Kami mulai menusuri.

Joneh didepan, Posky menyusul sambil mengambil foto, Bange seperti biasa berjalan dengan diam, Gustin menyusul di belakangnya, dan aku di posisi terakhir. Tiba di kebuntuan jalur, cuma ada beberapa bongkahan batu karang tinggi menghadang. Bange, Posky dan Joneh sudah dulu keatas dengan melompat di antara pijakan batu. Tiba di Gustin, kendala muncul karena kakinya tidak cukup panjang untuk mencari pijakan, ditambah pula dengan sikapnya yang tidak terlalu yakin bisa walau aku sudah coba tawarkan punggungku sebagai pijakan peninggi. Alternatifnya, aku dan Gustin memilih jalur memutar yang berujung di dinding bukit yang tidak terlalu tinggi. Kemudian, Gustin mencoba naik keatas dengan sambutan tangan Posky dan berpijak di pundakku untuk peninggi. Berhasil, dan akupun menyusul.

Akhirnya, setelah melewati medan berliku sejak kemarin, udara dingin, angin kencang, hujan es dan medan puncak yang beresiko, kami tiba di Puncak Sumbing (3371mdpl), Alhamdulillah. Puncak sejati Sumbing ini berupa lahan kecil dengan dominasi vegetasi Cantigi dan Edelweiss. Hari itu Sabtu 04 November 2012, +/- pukul 09.00 WIB. Keteguhan, keyakinan, kebersamaan dan doa kami membuahkan pengalaman yang tak akan terlupakan.

Bange, Posky, Joneh dan Gustin, terima kasih banyak ya! I was excited that you guys responded my sudden invitation with no question! Tanpa Ba.. Bi.. Bu.. Basa Basi Bisu, kita berlalu menuju balik ke rutinitas sehari-hari! And i've been learning that a never-ending friendship will come this way, what way? easy come and easy go while the mount will go nowhere...

Ebas
Palembang baru reda hujan.

Read more »

11.17.2012

Amazing Sumbing (III)

Sabtu 03 November 2012

Area hutan Sumbing terbilang cukup terang, alasnya jelas dan berjejak pertanda sering disambangi, mungkin oleh penduduk setempat untuk sekadar mencari kayu bakar atau para pendaki yang datang sepanjang tahun. Sumbing memang terbilang cukup ramai didaki, bahkan di musim hujan seperti sekarang ini. Kami berlima sempat istirahat sholat di jalur sebelum pos I lalu lanjut kembali mendaki menelusuri medan menanjak yang didominasi Pinus dan semak perdu.

Gn. Sumbing yang merupakan gunung tertinggi ketiga di Jawa, memiliki medan yang bersahabat setidaknya sampai di pos terakhir di Watu Kotak, jalur ke puncak itu sudah lain cerita. Puncaknya sendiri ada tiga. Buntu, kawah dan Sejati yang tertinggi sekaligus yang tersulit didaki.

Sekitar 1,5 jam mendaki dari titik area hutan, kami tiba di Pos I, istirahat sebentar lalu lanjut menuju pos II, medan yang kami lewati makin menanjak dan rerumputan perdu makin mendominasi, serta pohon menahun di jalur semakin sedikit. Hampir sekitar 1jam lebih kemudian kami tiba di Pos II ini berupa area cukup luas untuk mendirikan tenda, dari sini pemandangan kota Wonosobo jelas terlihat. Sayangnya, kabut mulai turun menghalau penglihatan, dan kami terus mendaki menuju titik selanjutnya. Pos Pestan.

Medan yang kami lewati makin menanjak tapi tidak membahayakan karena berupa lahan lapang yang ditumbuhi ilalang. Namun, di beberapa titik, area ini tandus dan kering sisa kebakaran yang disebabkan musim kemarau berbulan- bulan lamanya beberapa waktu lalu. Saat itu sekitar pukul 14.00 WIB, angin berhembus kencang diiring gemuruh petir, dan benar saja bahwa tidak lama kemudian turun hujan. Poncon/jas hujan kami kenakan, ssekali aku bahkan berjalan miring untuk menghindari tiupan angin kencang dari sisi kanan kiri. Hampir setengah jam kemudian kami tiba di Pestan. Lahan luas yang terbuka lapang. Kami beristirahat dengan meringkuk dan memasang jas hujan sebagai atap seadanya.

Hujan makin kencang, angin dingin masih berhemus dan tiba- tiba seperti ada sesuatu yang berjatuhan dan bunyinya bukan bunyi rintikan air hujan terdengar di atap dadakan kami, ternyata butiran es jatuh dari langit, hujan es tengah berlangsung didepan mata kami hingga beberapa menit lamanya. Aku nyaris tidak percaya tapi itu yang terjadi. Hujan butiran es. Setelah agak mereda kami meneruskan perjalanan. Target paling lambat kami harus sudah tiba di Watu Kotak untuk mendirikan tenda agar bisa istirahat memulihkan energi untuk besok pagi.

Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di Pasar Watu, area lapang dengan paparan view yang indah, tapi itu tak berlangsung lama, hari kian petang dan kami hanya menghabiskan kurang dari 15 menit lalu terus lanjut, dan sekitar 1 jam kemudian, kami sudah tiba di Watu Kotak. Aku, Posky dan Joneh langsung mendirikan tenda, kemudian tidak lama disusul Bange dan Gustin yang menyiapkan makan malam. Disaat yang sama ternyata hujan deras turun cukup lama, kami berkumpul di tenda sambil bersiap makan bersama dan minum untuk menghangatkan tubuh.

Lalu, kamipun tertidur dan sepakat bangun pukul 04.30 WIB untuk persiapan menuju puncak. Kami tidur sambil meringkuk berbagi ruang supaya cukup. Sepi, cuma kami, angin, dingin dan hujan di malam hari...

Read more »

11.16.2012

Amazing Sumbing (II)




Sabtu 03 November 2012...

Tak banyak yang bisa kuingat lantaran tidur sejak dari Bandung, kecuali terbangun saat Bus istirahat makan di Ciamis. Lanjut tidur lagi dan terbangun oleh teguran kondektur yang mengingatkan bahwa bus sudah masuk Terminal Wonosobo pukul 04.30 WIB. Aku dan Gustin bergegas turun dan menuju musholla untuk sholat dan istirahat. Posky sudah menunggu sedari tadi malam. Usai sholat subuh kami merapat di warung pojok didalam terminal untuk sekedar santai menunggu pagi dengan sarapan nasi bungkus lauk ikan tongkol sembari menunggu Joneh dan Bange yang sebentar lagi tiba.

Tidak lama Bange tiba, selanjutnya kami recheck peralatan dan masih kurang logistik dan gas. Aku lalu belanja sayuran, snack dan mencari gas yang ternyata sulit didapat kecuali di pusat kota. Tak ada pilihan lain, dengan menyewa jasa ojek aku ke pusat kota Wonosobo untuk membeli gss hi-cook. Lumayan, sekalian jadi sempat keliling. Wonosobo merupakan kota kecil yang rapi dan terbilang asri. Ruas jalan yang sempit dan medannya yang berliku membuat kota ini terlihat unik. Usai mendapatkan gas di toko dekat alun-alun, aku segera kembali. Joneh sudah tiba, tim lengkap.

Tak lama kami berangkat menuju Desa Garung dengan angkot Bus ELF yang mangkal di terminal. Saat itu pukul 08.30 WIB. Perjalanan menuju Desa tempat Basecamp pendakian Sumbing itu berada memakan waktu sekitar 30 menit dengan ongkos Rp. 5.000,-. Angkot yang kami tumpangi menuju wilayah yang menjauh dari kota, desa tujuan kami memang berada di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Temanggung. Tak lama kami tiba dan berjalan kaki sekitar 500 meter lalu tiba di Basecamp Sumbing. Disana sudah ada pos dadakan yang sengaja disiapkan untuk para pendaki untuk bersiap atau beristirahat. Kami pun langsung mengurus perijinan dan berbagi beban barang bawaan sebelum memulai pendakian.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami berlima sudah siap, dimulai dengan berdoa bersama lalu mulai melangkah menuju Gunung Sumbing. Sekitar 800 meter pertama kami masih melewati jalanan aspal daerah pedesaan dengan medan menanjak. Di penghujung jalan kami memasuki area lahan pertanian penduduk yang masih begitu panjang hingga kira- kira 2 jam pertama pendakian. Pemandangan lahan pertanian membentang diantara jalur setapak karang. Dari sini, tepat diseberang terlihat jelas Gunung Sindoro. Angin bertiup lembut, sangat nikmat dibawa tidur! Tapi perjalanan harus dilanjutkan, tepat didepan batas memasuki area hutan sudah terlihat!

Read more »

11.15.2012

Amazing Sumbing (I)

Aku bersyukur sekali masih berkesempatan mendaki kembali setelah 6 bulan lalu. Kali ini gunung yang kudaki adalah Sindoro (3153mdpl) dan Sumbing (3373mdpl) di Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung yang bersebelahan persis. Pendakian ini bertepatan dengan momen tugas kedinasan yang aku dapatkan mengenai Workshop penulisan counter comment/article melalui media online di Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, Bandung. Jawa Barat.

Jumat. 02 November 2012 Workshop usai, sekitar pukul 17.00 WIB. Aku langsung meninggalkan hotel dan dengan menumpang mobil teman langsung menuju pertigaan jalan tol menuju Terminal Leuwipanjang, disana sudah janji berangkat dengan Gustin, kawan lama sejak SMA yang kini menetap di Bandung menjadi pebisnis. Dengan ongkos Rp. 5.000,- aku menumpang bus ekonomi patas dan sekitar 45 menit aku tiba di Terminal Leuwipanjang, langsung bertemu Gustin. Kami segera bergegas ke pangkalan Bus Damri untuk menuju terminal Cicaheum. Beruntung, masih ada Bis Damri terakhir! Sudah pas magrib saat itu. We got into the bus heading to Cicaheum then...

Bus Damri membelah senja di jalanan Kota Bandung yang sempit lagi padat, carriel sengaja aku posisikan tertelungkup di bawah supaya tidak makan tempat dan tidak menutup jalan. Atmosfer kota ini aku rasakan lewat aksen obrolan sesama penumpang dibangku depan yang Sunda sekali, juga lewat bangunan tua gaya Belanda di sekitaran jalan Asia Afrika. Aku dan Gustin sesekali bincang ringan soal masa SMA, teman- teman lama dan tentang keberanian hidup. Sekitar 1 jam akhirnya kami tiba di terminal Cicaheum yang ramai terisi Bus Antar Kota. Kami segera cari musholla untuk sholat.

Musholla disini berada dibelakang area luar terminal, secara bergantian kami sholat karena harus menjaga barang bawaan, setelahnya kami berencana makam malam dulu sebelum pesan tiket, namun untuk aman, kami berniat pesan tiket terlebih dahulu. Saat itu baru ketahuan bahwa Bus Wonosobo baru saja berangkat dan itulah bus yang terakhir! Reflek, Gustin langsung mengajak keluar terminal untuk mencegat dari seberang. Kejar- berkejaran terjadi antara kami, bus dan waktu. Tak lama berselang, dari ujung jalan terlihat kepala bus jurusan Bandung- Wonosobo menyembul antara kerumunan mobil angkot yang beradu sibuk.

Saat bus merapat, kami segera sigap menyelinap ke tengah jalanan yang macet dan menggedor pintu bus yang akhirnya menepi. Dramatis, bus terakhir ini pun akhirnya kami dapati, bus Sinar Jaya tujuan Wonosobo melaju membelah malam jalanan kota Bandung! Aku sempatkan kontak 3 rekan lainnya. Bange masih di Cikarang dan belum berangkat. Posky sudah tiba di terminal Wonosobo dan Joneh sudah naik bis berangkat dari Jakarta. Besok pagi kami berjanji bertemu di terminal Wonosobo untuk menuju Desa Garung Butuh Kec. Kalijajar. Lalu aku pun terlelap bersama Sinar Jaya yang terus melaju...

Read more »

11.08.2012

Koperasi dan Tameng Globalisasi

Sederet data makro yang di paparkan badan internasional untuk negara kita patut membuat kita berbangga. Rate & Investment sebuah badan yang memeringkatkan tingkat kesehatan investasi sebuah negara, berkedudukan di Jepang, memberi peringkat BBB- yang artinya cukup bagus dan menjanjikan buat para calon investor, peringkat ini menjadi rujukan dari kacamata domestik maupun luar negeri. Standard Chartered Bank juga ikut memaparkan optimisme perusahaan yang berkedudukan di Indonesia lewat survey tentang kestabilan order produksi dan ekspektasi laba terakumulasi. Dan kini, Indonesia digolongkan sebagai 16 negara ekonomi besar oleh World Bank.


Kepada apa lalu kita patut menisbatkan semua keberhasilan itu? Pada sistem Ekonomi Pancasila yang sudah lama menjadi bagian dari diri kita? Atau pada infiltrasi agenda globalisasi dunia yang sudah merasuk pelan ke dalam perekonomian kita? Atau bahkan memang inilah konsekuensi yang dibawa arus perubahan zaman? Sejarah mencatat perjalanan sistem ekonomi suatu bangsa tidak pernah benar- benar selamanya keras dan ideal, ada deviasi inkonsistensi yang harus diakui, tidak ada yang salah disini, cuma soal seberapa ekstrim demi menjaga identitas muasal kebangsaan. Korea Utara tidak benar- benar sosialis ekslusif yang menutup diri, ada hubungan kerja sama dengan Rusia. Amerika Serikat tidak benar- benar liberalis kapitalis, ada pengaruh etatisme dan regulasi otoritas.

Bertahan dalam sebuah sistem adalah baik hanya dalam konteks menjaga identitas kita sebagai bangsa, namun dalam konteks ekonomi bukan tidak mungkin justru menjadi bumerang yang membuat kita tertinggal, sebab aktifitas ekonomi dunia itu dinamis tanpa menjamin kelanggengan suatu nilai.

Terkait identitas, Ekonomi Pancasila adalah identitas perekonomian kita yang diwujudkan lewat sistem koperasi yang mengusung kebersamaan, transparansi dan kerja sama anggota. Tapi dari sudut pandang pergaulan ekonomi dunia, ada tuntutan untuk menjadi fleksibel dalam bersikap agar dapat bertahan dalam turbulensi krisis yang bisa saja berdampak hingga ke dalam negeri. Ekonomi Pancasila merupakan identitas khas Indonesia yang langsung bermanfaat untuk rakyat, sedangkan sederet data indikator diatas yang dibuat oleh badan luar negeri adalah apresiasi internasional atas status Indonesia yang besar dan makin diperhitungkan di mata dunia. Keduanya harus berjalan seiring dan harmonis demi menjaga kestabilan makro dan mikro.

Tidak ada yang pasti dalam sebuah sistem, agenda globalisasi yang menelusup lewat kebijakan pemerintah bukanlah sebuah arah perubahan tanpa cela. Globalisasi rentan akan segregasi kaya dan miskin yang makin tampak. Jika kita tidak piawai dalam pergaulan ekonomi dunia maka bukan tidak mungkin kita turut terseret dalam kesenjangan itu. Disinilah penguatan identitas muasal sangat berguna karena menjagakan kita dari pengaruh buruk luar. Ekonomi Pancasila bukan sistem lama yang termarginalkan, melainkan menjadi tameng pencegah dari krisis identitas yang rentan melanda bila kita lupa bagaimana dan darimana kuta bermula.

Read more »