1.22.2011

Let's get started.


The party and Award Ceremonies just don't get old.. itulah kata-kata Dominic Purcell waktu aktor pemeran Lincoln Burrows ini menjawab mengenai apa hal yang ia sukai.. Padahal umurnya sudah hampir 40 tahun tapi tetap saja masih menyukai dunia yang biasanya menjadi bagian hidup kaum muda.

have we ever felt old to do many things crazy? yang akhir nya membuat orang akan berpikir:'wahh sudah tua juga masih suka acara-acara gituan???'. Saya pernah. dan akhirnya saya merasa hidup ini sangat serius dan begitu begitu saja. Saat banyak orang bisa menikmati hidup mereka, saya justru merasa dikurung oleh diri dan pikiran saya sendiri, berdiri diam begitu saja diantara rasa malu, segan, dan semacam perasaan tidak pantas seperti itulah. Parah. :D

Sebetulnya saya belum tua-tua amat kok, baru 23 tahun, walau banyak orang tidak pernah percaya, maklum saja, i am just looked older than i should. Tapi memang saya kini sedang ada didunia kampus yang diisi oleh mahasiswa-mahasiswa dibawah usia 20 tahun. Ditambah lagi kampus ini adalah kampus dengan aroma birokrat yang kuat, membuat segala hal yang heboh-heboh dan fantastik seperti kurang mendapat tempat. Paling ada beberapa, namun tak banyak, dan cukup jarang diadakan. Jadi bayangkan saja kalau mahasiswa kebanyakannya saja kurang menikmati acara seperti itu apalagi saya yang jatuhnya sudah seperti mahasiswa kantoran ini.. :)

Seingat saya, saat terakhir saya berteriak-teriak bebas itu adalah kalau saatnya saya mandi di sungai, terjun-terjunan dari pohon bersama teman-teman masa kecil saya. Sekarang hal seperti itu cuma bisa saya lakukan kalau saya mandi kekolam renang di kampus, itu pun bayar :D. Crazy things yang saya geluti dari dulu juga adalah menjelajah hutan dikampung yang sekarang saya lampiaskan dengan naik turun gunung di tanah Jawa ini, tapi sudah cukup lama tidak mendaki,terakhir bulan Oktober, terpikir ke gunung Salak awal Februari ini, tapi belum ada partners.

Saya sebetulnya cukup suka dengan keramaian, crazy things or whatsoever apa lagi saya termasuk orang ekstrovert diatas rata-rata.
Rencananya sore ini, mau ada acara kelas, maklumlah kelas di tahun ajaran baru, untuk membentuk kekompakkan dan agar tidak terkotak-kotak. Simpel saja acaranya, games dan makan malam bersama, tapi cukuplah untuk tertawa bersama sejenak diantara tugas dan kewajiban kuliah sebagai mahasiswa :). Banyak yang sebetulnya kaget kalau mahasiswa kantoran seperti saya dan kawan saya ini masih terpikir untuk mengadakan acara semacam ini. Mereka agak terkejut kalau saya ceritakan bahwa kami masih suka acara poto bersama, atau sekedar ada acara kelas semacam sore ini.

Well, sebetulnya tidak ada istilah terlalu tua untuk menikmati hidup, yaahh bukan berarti juga menjadi tua-tua keladi tapi paling tidak semua orang, siapapun dan dimanapun boleh-boleh saja menjadi lepas untuk menikmati suatu masa dan seperti sama-sama kita tau, tidak ada pula pesta yang tidak usai. Maka setelah semuanya usai, maka kita kembali lagi menjalankan kewajiban sehari-hari. Kewajiban sebagai anak, istri, suami, mahasiswa, pegawai, dan seorang manusia yang mengaku sebagai mahluk yang bertuhan :).

So??!!! The party and Award Ceremonies just don't get old.. haha :)

Read more »

1.07.2011

Bukan Ayam Biasa


Pernah melihara ayam? pernah memperhatikan perilaku induk ayam terhadap anak-anak nya? Dulu saat masih SMP saya memelihara banyak ayam, setiap sore digiring masuk kandang, kalo siang saya sering diam-diam mengambil segelas dua beras dari dapur untuk ditaburkan ke halaman belakang lalu memanggil ayam-ayam peliharaan:'kurr... kurrr...'

Hal yang paling saya senangi adalah kalau ayam saya bertelur, senangnya bukan main, apalagi kalau telurnya banyak, saking senangnya bahkan menjurus ke pelit, sangat tidak rela kalau kakak saya mengambil telurnya untuk digoreng atau buat bikin kue lebaran.

Ketika telur-telur itu menetas dan menjadi segerombolan anak ayam yang lucu dan mungil maka mata saya selalu awas setiap harinya memperhatikan jumlah dan tumbuh kembang mereka, saya hapal betul corak warna dan perubahan pertumbuhannya, kalau saat sore mau masuk kekandang jumlah nya kurang, maka saya akan cari dan biasanya ketahuan bahwa sudah dimangsa tikus di kebun belakang, dimakan kucing liar atau terperangkap diantara sampah belakang rumah.

Yang menarik saat saya mengikuti pertumbuhan anak-anak ayam tersebut adalah ketika bulu-bulu mereka mulai tumbuh berubah menjadi bulu ayam yang dewasa pada umumnya, untuk yang jantan bulu di punggung dan sayapnya biasanya lebih mencolok daripada yang betina, yang betina ukuran tubuhnya biasanya lebih kecil dan pendek ukurannya daripada yang jantan. Saat anak-anak ayam tadi mulai berubah secara tampilan fisik dan ukuran, maka sang induk biasanya akan berubah menjadi tidak sehangat, sepeduli saat mereka masih anak-anak. Dulu sang induk akan melebarkan sayap dan menaungi anak-anaknya dari panas dan hujan atau serangan hewan lain, kini untuk sekedar didekati anak-anaknya pun sang induk tidak mau lagi. Bahkan akan dipatuk dan dikejarnya anaknya sendiri yang sudah mulai tumbuh dewasa namun masih saja ingin ada selalu bersama induknya.

Kemudian anak-anak ayam ini tadi mulai mencari kehidupan sendiri,mereka tidak layak lagi disebut anak ayam, sebut saja ayam muda, mengais makanan sendiri, bahkan dikandang pun ia mulai cari tempat bertengger sendiri. Yang jantan dikala pagi sudah mulai belajar berkokok dan yang betina biasanya sudah mulai tampak siap menjadi induk ayam. Pada awalnya ayam-ayam muda ini seperti kebingungan dan kesepian saat induk mereka tidak lagi mempedulikan mereka, mungkin berat untuk mulai menggunakan insting mereka agar bisa bertahan hidup, tapi keadaan yang memaksa, jadilah mereka survive karena keadaan, terpaksa pada awalnya namun menjadi terbiasa pada akhirnya sampai kemudian jadilah mereka ayam-ayam dewasa yang sudah bisa mandiri mencari makan, berkokok kencang dan tampilan yang sempurna.

Bagi saya dulu dijaman putih abu-abu, melihat apa yang saya ceritakan diatas seperti hal yang biasa saja. Namun kini saya begitu bersyukur dengan hidup saya yang pernah menjadi pemelihara ayam, karena kini saat saya sudah mulai tumbuh dewasa saya melihat diri saya pernah dulu mengalami kebingungan dan kesepian layaknya ayam-ayam muda tadi, dan kini bagaikan ayam jantan, saya tengah belajar berkokok kencang, mandiri, memiliki tampilan yang sempurna dan secara biologis siap kawin tentunya. :)
Kadang saya yang suka bahkan selalu merasa lebih bermartabat dari binatang ternyata
disadarkan dengan analogi sederhana dari kehidupan binatang yang begitu dekat dengan masa kecil saya, ayam.

Read more »

1.01.2011

SABUMI, We Call It Us.


Pada masanya dulu, ada 101 orang yang memiliki pilihan yang sama, kemudian secara perlahan menjadi semakin berkurang menjadi 64, menyusut lagi menjadi 54 hingga akhirnya tercapai satu komitmen berakhir dengan jumlah 44 yang menyatakan siap meneruskan pilihan...

Pilihan yang di nyatakan dalam suatu sore tepatnya pada 6 Desember 2010, dengan taman CD Kampus STAN Jurangmangu menjadi saksi bisu yang mendengar gema lantang pengikraran komitmen yang diucapkan. 44 orang itu tadi dengan penuh semangat menjalani hari-hari penuh tempaan yang menjadikan mereka makin kian akrab satu sama lain. Dan dari situ banyak pula bermunculan cerita yang akan menjadi kenangan, walau dalam perjalanan di hari-hari yang mereka tempuh ada yang berbelok arah, bukan karena kehilangan kompas namun karena merasa ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk akhirnya saling berjumpa kembali dibawah langit yang sama diatas bumi yang satu.

Pengantar diatas merupakan satu titik dalam kehidupan ku yang bisa aku kenang. Ada banyak kenangan di kepala ini, namun yang membekas dan menyisakan hal yang tidak bisa diukur dengan rupiah sekalipun, salah satunya adalah kenangan tersebut. Karena hal tersebutlah yang membuat masa-masa dikampus ku ini menjadi lebih terasa. Bukan hanya kuliah, kuliah dan kuliah, tapi juga ada momen-momen untuk mengenal dan melihat setiap sudut kampus ini lebih dalam dari sudut pandang seorang yang baru sadar untuk selalu berusaha menjadi lebih kuat dari hari kemarin. Lagi pula ini semua sedikit banyak telah membuat aku merasa menjadi mahasiswa pada umumnya, bukan mahasiswa kantoran yang selama ini menjadi identitas yang melekat padaku. Disebut mahasiswa kantoran karena aku adalah pegawai yang disekolahkan lagi, jadi kadang banyak yang seperti ku ini sudah merasa malas atau enggan mengikuti kegiataan kemahasiswaan, entah karena sudah merasa tidak pantas atau merasa sudah tidak membutuhkan.

Menjadi bagian dari kenangan itu mengantarkanku menjumpai banyak karakter yang dari mereka aku telah belajar. Mereka secara umur lebih muda dariku, namun aku tidak pernah merasa malu untuk mengakui bahwa aku dipahamkan tentang banyak hal yang mereka lebih baik dariku. Aku melihat soal ketenangan yang mampu meredakan emosi lalu membalikkan suasana menjadi lebih terarah, soal kerendahan hati dari mereka yang aku tahu memiliki kesempatan untuk menjadi jumawa, atau mengenai dukungan penuh yang mampu mengubah seorang gadis biasa menjadi gadis yang selalu 'on fire'. Semuanya melebur menjadi satu dalam beragam bentuk dukungan dan semangat satu sama lain yang tertuju tanpa ada paksaan atau niat untuk menyamakan cara pandang, karena memang perbedaan begitu dihargai disini.

Dalam bayangan kenangan itu aku melihat bagaimana tawa, canda dan kebersamaan telah menghapus bentangan perbedaan usia, budaya dan agama, dan akhirnya semuanya sama, tidak ada yang merasa lebih tua, lebih hebat atau lebih unggul dari yang lain. 'Aku hanya butuh tempat untuk menjadi diriku sendiri' begitu kira-kira yang selalu aku inginkan, dan tidak banyak tempat yang menjadikan aku seperti itu, dan bersama kalian, aku bisa menjadi diriku sendiri, tanpa harus berperan menjadi seorang alim, seorang pintar atau seorang yang gaul. aku memerankan diriku sendiri, dengan caraku, tanpa dibuat-buat dan semuanya natural membaur bersama kalian. Bagusnya kalian telah membuat aku merasa diterima. I owe you all more than thanks.

Hidup kita masih sangat panjang, walau kita memang tidak pernah tahu kapan malaikat maut menjemput, setitik kenangan yang aku jalani bersama kalian membuat aku menyadari banyak hal, dan yang penting bagiku adalah kalian telah mengingatkan aku agar berusaha membangkitkan motivasi dan semangat setiap kita dalam ikatan persaudaraan dan membiarkan semangat itu tumbuh didalam diri kita untuk kemudian membuat setiap kita sadar untuk memilih jalan dan mengambil sikap tanpa melupakan persaudaaan itu, karena bukanlah persamaan dalam satu bendera dan afiliasi yang membuat orang-orang itu bersaudara, namun lebih jauh dari itu semua adalah apa yang telah kita perbuat bagi orang-orang yang kita sebut saudara. Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta, begitu Soe Hok Gie pernah menulis dalam catatan hariannya.

Pernah ada dan akan tetap terus ada SABUMI di dalam ingatan kita, lalu untuk 28 perwakilan SABUMI yang telah menjejak ke Gunung Kencana, ada rasa bangga, haru dan bahagia yang tidak bisa aku ucapkan melihat perjuangan kalian, kalian hebat dan kuat.

SEMANGAT SATU BUMI... SABUMI!!!

Read more »