6.27.2012

5 Hal Tentang Pajak Yang Kita Banyak Masih Belum Tahu


Pepatah asing menyebutkan bahwa Pajak adalah perampokan yang dilegalkan. Bingung? Coba tanyakan kepada Vanya Cohen saja! dan jangan khawatir karena anda tidak sendirian, suka atau tidak suka kita tetap harus membayar pajak, salah satunya adalah Pajak Penghasilan (Income Tax), seorang Albert Einsten suatu kali pernah berkata "The hardest thing in the world to understand is the income tax" (sumber disini). Well, bisa jadi ucapan itu Einsten sebutkan sebelum ia sadar bahwa memahami wanita jauh lebih sulit.

Tapi faktanya adalah 85% APBN kita ditopang oleh pajak, dan ini bukan era 80an dimana sektor migas merajai ekonomi dalam negeri. Saat itu, masyarakat bisa sedikit santai tanpa berpikir soal besaran potongan pajak yang bisa cukup untuk beli kebutuhan dapur. Dan, every period has its own taste! Sehingga pajak kini menjadi andalan sumber uang negara untuk membiayai kebutuhan republik ini. Bisa dihitung dengan jari mereka yang dengan ikhlas membayar pajak dari hasil kerja keras sendiri, selebihnya? mungkin menggerutu seperti habis dirampok.

Tulisan ini sengaja dibuat untuk mencegah anda menggerutu atau sakit hati karena pajak juga agar anda terhindar dari stroke dan hipertensi karenanya. Mengapa? karena suka atau tidak suka anda, saya dan kita semua memang harus membayar pajak. Apapun yang kita dengar dari media tentang republik ini, atau tentang bagaimana kondisi fisik infrastruktur dalam negeri, sama sekali tidak akan membuat kewajiban pajak kita didiskon 30% seperti grosiran baju di Pasar Tanah Abang. Kecuali bila kita adalah bagian dari konglomerasi mafia yang rela menggadaikan republik ini demi rupiah. Mark my words!

Berikut adalah beberapa fakta mendasar yang begitu mudah dipahami mengenai Pajak, dan sebaiknya kita tahu agar resistensi yang mungkin ada tidak membuat kita membabi buta bila berurusan dengan pajak. I just arrived at one point. If only everyone knows, this may prevent them from what i call as taxphobia. :D. Demi bocah- bocah di pedalaman Papua yang rindu fasilitas sekolah, demi para ayah yang kebingungan mencari biaya persalinan istrinya dirumah sakit dan demi para TNI yang cemas saat kehabisan peluru di medan pertempuran. Inilah hal- hal yang saya maksud:

1. Uang Pajak Masuk ke Kas Negara bukan ke Kantor/Pegawai Pajak
Sounds too trivial to tell! Tapi, banyak dari kita yang masih menyimpan gambaran bahwa setiap kali datang ke kantor pajak adalah untuk membayar pajak, yang benar sebetulnya adalah mengurus kelengkapan administrasi dokumen perpajakan serta hal- hal teknis seputar perpajakan, adapun urusan membayar pajak, itu bukan di kantor pajak tempatnya, namun di Bank atau Kantor Pos. Dari keduanya, uang pembayaran pajak kita akan disetor ke rekening umum negara di Bank Indonesia yang dipegang oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). Uang yang sudah masuk inilah yang nantinya akan dibagi- bagikan sesuai kebutuhan negara yang terinci kedalam APBN setiap tahun. Jadi salah alamat bila bertanya ke kantor pajak, pertanyaan ini: 'kemana saja uang pajak kami?'

Berbicara mengenai uang.. hmmhh.. mungkin ada dari kita yang tetap berpendapat, lalu mengapa di kantor pajak juga ada bank untuk membayar pajak???? Here is the thing..

2. Membayar Pajak di Bank bukan di Kantor/Pegawai Pajak
Memang ada bank di beberapa kantor pajak, loketnya sengaja diadakan lewat kerja sama antara kantor pajak dengan Bank yang bersangkutan. Tujuannya sederhana yaitu untuk membantu para Wajib Pajak untuk membayarkan pajak mereka agar tidak harus bolak- balik, which will cost us another rupiahs, sehingga urusan pembayaran dan pelaporan bisa dilakukan di dua entitas yang berbeda dalam satu lokasi yang sama. That is all. Praktik seperti ini lazim disediakan khususnya untuk memudahkan membayar PBB dari Wajib Pajak, namun seiring dengan penyerahan PBB dari Ditjen Pajak ke Dinas Pendapatan Daerah, maka perlahan mulai dihapuskan.

3. Kita Menghitung Sendiri Pajak Kita Bukan Ditentukan Kantor Pajak
Inilah yang dinamakan Self Assesment System, berlaku mulai tahun 1983 waktu Reformasi Perpajakan pertama kali dilakukan dengan merombak UU Perpajakan yang kala itu masih warisan kolonial Belanda. Dengan sistem ini kita menghitung, memperhitungkan, membayar (bila ternyata terutang) dan melaporkan sendiri kewajiban perpajakan. Adapun Kantor Pajak hanya membantu untuk memastikan apakah kita sudah benar- benar menunaikan kewajiban perpajakan dengan tuntas, baik dan benar. Dan kita patut berduka, karena dengan sistem yang demikian terbuka ini pun ternyata tingkat kepatuhan pelaporan Pajak Tahunan 2012 Wajib Pajak Orang Pribadi belum mencapai angka 60% dan 40% untuk perusahaan (sumber disini). Decir que si para progreso?

4. Kantor Pajak itu Melayani, bukan Memeriksa, Mengintimidasi Apalagi Menghantui
Tahukah anda KPP adalah kepanjangan dari Kantor Pelayanan Pajak??. Jadi anda jangan takut apalagi antipati bila kedatangan petugas pajak bila mereka datang untuk sekedar melakukan sensus atau bila anda datang ke kantor pajak untuk suatu keperluan. Karena para petugas kantor pajak adalah sekelompok manusia yang digaji negara untuk melayani hak dan kewajiban perpajakan para wajib pajak sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku. Mereka bukan dibayar negara untuk melakukan mengintimidasi kekayaan anda atau menghantui dalam mimpi di tidur nyenyak para wajib pajak. Percayalah! at least for one thing that i am one of them :D.

5. Tahun Ini, Kantor Pajak Secara Nasional Mengejar Target Rp. 1000 T Lebih.
Itu adalah angka yang mengejutkan namun realistis! Angka normal yang harus dipenuhi bila tahun ini pembiayaan APBN kita ingin sepenuhnya bebas dari Hutang Luar Negeri! Ya, setidaknya hutang itu tidak kian menumpuk ditambah beban bunga yang underschedule!, untuk itu kontribusi dari anda, saya dan kita semua adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Resistensi yang tinggi untuk membayar pajak, sikap tidak mempercayai institusi DJP, serta pilihan untuk memboykot pembayaran pajak hanya akan membuat kita masuk dalam catatan sejarah sebagai orang yang mempercepat bubarnya negeri ini. Tanpa prestasi, tanpa kebanggan. Minimial dalam mematuhi tapi maksimal dalam melawan. Well, let your mind wide open and see that no matter how small we contribute, it is all about solidarity!

Oke, Vanya Cohen mungkin adalah manusia super kaya sekaligus telah bekerja super keras sehingga begitu tidak rela merelakan sebagian kekayaannya kepada pajak, dan akhirnya mencetuskan "When there's a single thief, it's robbery. When there are a thousand thieves, it's taxation." Namun saya harap ia tidak meninggal karena stroke atau hipertensi karena dibuat begitu kesal oleh pencurian yang dilegalkan bernama Pajak. Dan sayang sekali Albert Einsten sudah terlanjut meninggal sebelum sadar bahwa memahami wanita jauh lebih sulit daripada memahami pajak. Serta yang terakhir, semoga kita selamat dari penyakit stroke dan hipertensi dengan rajin berolah raga, mengatur pola makan (something i am difficult at) serta tidak lupa membayar pajak! :)

Read more »

6.23.2012

Tor- Tor, Gondang 9 dan Ironi Dalam Negeri.


Lagi, satu kebudayaan milik negeri kita hendak dipatenkan Malaysia. Tadinya kupikir bahwa hubungan kedua negara ini akan makin hangat kala mendengar beberapa Pemerintah Malaysia menyiapkan acara penyambutan para Pahlawan Devisa dari Indonesia. Pahlawan Devisa, satu istilah yang tinggi dalam kata tapi banyak miris dalam kenyataan.

Adalah Tari Tor- Tor dan Gondang Sembilan dari Suku Batak Subsuku Mandailing, Sumatera Utara yang diklaim oleh Malaysia sebagai warisan budaya asli negaranya. Namun kabar baiknya adalah pemerintah kita akan segera mengambil langkah untuk mendokumentasikan secara komperehensif atas dua seni budaya ini dan memasukkannya sebagai HAKI. Meski desas desus yang beredar kemudian adalah bahwa perihal pengklaiman ini adalah karena salah paham saja. How come?

Dari sumber ini disebutkan bahwa Malaysia hanya hendak mengangkat/mengakui Tor- Tor dan Gondang Sembilan agar resmi disetujui sebagai warisan budaya Indonesia dari Subsuku Mandailing. Tapi sampai disini mungkin banyak yang akan bingung, maksudnya disetujui itu untuk apa? oleh siapa? dan mengapa mereka mau repot membantu memperkenalkan budaya Indonesia?. There is no free lunch...

Ah, tapi ya sudahlah, karena menurut pengakuan Konsul Jenderal Malaysia untuk Medan, itu hanya supaya kedua budaya itu makin berkembang di Malaysia dan secara logis tentu kebijakan mereka secara tidak langsung menyampaikan kepada seluruh rakyat Malaysia bahwa Tor- Tor dan Gondang Sembilan adalah budaya asli Indonesia. Percaya saja dan berprasangka baik. Walaupun penjelasan resmi secara tertulis belum diterima Pemerintah Indonesia.

Sebuah Ulasan

Budaya dan seni adalah suatu kebutuhan bagi manusia- manusia yang sudah terpenuhi sandang, papan dan pangan. Singkatnya, seni itu akal dan akal itu letak nya jauh diatas perut. Maka peradaban yang sudah begitu peduli dengan seni maka kemungkinan besar urusan perutnya sudah terpenuhi. Saat negara kita Indonesia masih berkutat dengan banyak isu tentang kemiskinan, pengangguran, korupsi dan penyalahgunaan jabatan. Maka negara lain sudah mulai berpikir mengenai kemungkinan adanya kehidupan di planet lain, menembus langit dengan kekuatan (shultan) ilmu pengetahuan, seperti yang tertulis didalam Al-qur'an.

Negara kita masih didominasi oleh perkara perut, nafsu dan jabatan. Sebuah "The Fund For Peace" organisasi nirlaba menempatkan negara kita di peringkat 63 dari 178 daftar Negara Gagal. Dalam survei, mereka menggunakan indikator hukum, politik, ekonomi, sosial, dan HAM. Artinya ada 115 negara yang lebih baik dari negara kita, dan di Asia Tenggara kita kalah dari Thailand (84), Vietnam (96), Malaysia (110), Brunei Darussalam (123), dan Singapura (157).

Fakta Di Negeri ini

Semua dimulai dari bagaimana para pengambil kebijakan harus menunjukkan kepedulian terhadap aspek non-politis atau kekuasaan beralih ke hal- hal kecil pendongkrak kesejahteraan dan keamanan rakyat secara sistemik dan berkelanjutan dibawah konsistensi dan supervisi yang ketat. Selama necessary conditional (yang dilengkapi dengan sufficient condition) ini belum dipenuhi maka masih terlalu jauh bagi kita untuk membahas mengenai seni, budaya apalagi pelestariannya.

Banyak dari kita yang ada di level grassroot adalah pecinta dan pelaku budaya, namun bila mencintai budaya dalam kondisi perut lapar, ketidaknyamanan dan ketakutan. Maka apapun bisa tergadai tanpa peduli, dan saat itulah pihak lain yang sudah sejak lama dengan bermotif kerakusan dan eksistensi akan membuat negeri ini makin dalam tenggelam. Miris. Kita bagai ditinggal dalam keadaan terluka dalam suatu medan pertempuran oleh rekan yang kita kira akan sedikit berempati dan perduli. Yah, memang kestabilan hakiki lebih bisa dinikmati bilamana kita mandiri.

Erikson Wijaya
Merah Darahku
Putih Tulangku
Indonesia Negeriku

Juni 2012

P.S:
----
Tiba- tiba terpikir tentang teman- teman semasa kuliah dulu yang berasal dari Tanah Batak.

Read more »

6.15.2012

30 Hari Ini...


Sudah sekitar sebulan lewat tapi pendakian Gunung Kerinci- Dempo bagai masih seperti kemarin, tantangan medan dan cekaman suasananya masih terbayang kuat. Kadang sesekali diri ini seperti diserang candu untuk kembali turun ke rimba dengan mereka, sekelompok orang gila yang berpetualang dengan hati yang senang! Namun, hidup ini bukan aku yang punya, jadi tidak bisa semauku ku buat! Well then, i just simply move on! Singkatnya aku keluar dari kurungan pikiran agar lepas dari pandangan yang sempit. Let us call it, a self- healing where i set out in the world to help myself.

Donor Darah...
Ini kali kedua aku donor, dua tahun lalu di kampus, dan kali ini di kantor sekitar awal bulan lalu pas ada PMI Cab Lahat datang untuk program serupa dan aku ikut mendaftar. Pagi sekali sudah di lokasi dan dapat no urut pendonor nomor 2! Motivasiku ikut sederhana, kuniatkan untuk membantu, semoga darah yang aku donorkan bisa berguna bagi siapapun yang membutuhkan dengan segera. This brought me back to the moment when my mother was hospitalized 12 years ago, saat itu almarhumah membutuhkan darah yang cukup banyak. Namun bantuan dari PMI rupanya terbatas.

Tapi pada donor kali ini, darah ku gagal dihisap sempurna oleh jarum suntik tajam, tiga kali ditusuk dan tiga kali pula gagal, cuma rasa nyeri dan 3 buah lubang saja yang tersisa itupun membiru 3 hari kemudian. Mungkin ini karma, karena saat memilih susternya sengaja kupilih yang masih muda daripada yang sudah berumur. It hurt at the beginnning but now i just laugh it off! Begitupun hari ini, ketika pagi kudengar kabar ada anak seorang pegawai kantor sebelah yang butuh bantuan darah maka aku sempat hendak donor namun ditolak oleh pihak rumah sakit dengan alasan aku bukan keluarga resipien. Mungkin memang belum saatnya. I wonder why. But i just leave it unspoken.

Mengajar...
Aku suka berbagi ilmu, salah satunya dengan mengajar dan Bahasa Inggris adalah satu dari sedikit ilmu yang kupunya. Aku sempat bingung mau kepada siapa kubagikan ini? kepada rekan- rekan sekantor? Tapi kuurungkan saja, kualihkan kepada sekelompok anak muda tenaga kontrak yang diperbantukan dikantor, mereka muda dan bersemangat. Ku tawarkan rencanaku dan mereka pun mau! Hingga kini sudah 3 kali ditiap akhir pekan kami belajar bersama. They pay me nothing but such a great moment to feel blessed and grateful.

Mereka muda dan jalan didepan masih panjang, semoga ilmu berguna yang kubagikan bisa bermanfaat sekecil apapun itu buat mereka. 2- 2,5 jam sekali pertemuan benar- benar tidak terasa, suasana belajar begitu sederhana, duduk bebas dilantai dengan papan tulis dadakan dari kumpulan kertas sisa print-out dokumen kantor yang kami tempel dengan magnet di dinding lemari berkas. Melihat mereka antusias dan fokus belajar membuat aku lebih terbuka bahwa tidak harus menjadi kaya atau berpangkat untuk merasa menjadi manusia yang berguna. Dan disaat yang sama, tiba- tiba aku merasa lebih bebas dan lapang..

Olah Raga...
Dulu olah raga hanya kulakukan untuk persiapan naik gunung saja, namun ternyata ampuh juga untuk membunuh waktu! Tubuh berkeringat dan basah panas itu nikmat sekali sekaligus bangga karena berhasil mengusir rasa malas dan malu! Oh ya, beberapa waktu lalu waktu jogging aku sempat melerai dua orang yang berkelahi, mereka sedang panas dan naik pitam berwajah tegang! Bagai reflek kutarik salah satu dari mereka dan sebisanya aku coba sadarkan dengan menyuruh istigfar, cara yang sama yang dilakukan oleh seorang teman waktu aku pernah beberapa kali berkelahi dikampus dulu. Malu! And it works! Alhamdulillah... Hingga kini aku masih heran, bagaimana aku bisa mendapat keberanian itu dengan taruhan bisa saja jadi sasaran salah gebukan atau malah... tusukan!!

Well, dari apa yang sudah kulakukan sekitar 30 hari belakangan.. Seperti nya ketika kita memilih untuk menatap dunia luar dan menolong diri dari sempitnya pandangan dan pola pikir, maka bisa saja langkah itu berhenti pada pilihan untuk membantu orang lain, atau seperti monolog dalam Eat Pray and Love: "When I was in Italy, I learned a word - It's "tutti" with double T, which in ltalian means "everybody." So that's the lesson, isn't it? When you set out in the world to help yourself, sometimes you end up helping Tutti." Pas pula kebetulan sama kesimpulannya.


Erikson Wijaya
Di Sudut Kamar
Dideru rasa rindu yang menggebu

Read more »

6.12.2012

7 Hal Yang Sebaiknya Kita Tahu Sebelum Mengatakan Kampus STAN Adalah Kampus Koruptor


Ini tulisan (daaan… sekaligus suara) pribadi saya, seorang alumni sebuah kampus yang lagi ramai dikait-kait kan oleh media dengan kasus korupsi di Ditjen Pajak. Oh ya, sebelumnya saya lupa, saya juga kebetulan bekerja di instansi tesebut. Dan seperti yang anda semua mungkin tahu, belakangan ini (sudah agak lama juga mungkin??) kampus saya ditengarai menjadi Kampus Koruptor. (Geli- geli gimana gitu dengernya..) Terlalu lama menunggu pihak kampus dan petinggi Ditjen Pajak angkat bicara secara resmi, saya kira lebih baik saya coba meracau saja semampunya…

STAN dan Ditjen Pajak.

Pemberitaan dua hal ini kini bagai membeli paket mainan anak- anak yang tidak dijual terpisah. Kasus korupsi di Ditjen Pajak oleh pegawai nya yang merupakan alumni STAN cenderung di angkat dan dikait- kaitkan, persis seperti ketika mendogma sebuah ajaran agar diterima sebagai sebuah kebenaran. It hurts, indeed. Siapapun tentu tahu, bahwa tidak mungkin sebuah institusi suci bernama kampus akan mengajarkan hal buruk kepada anak didiknya, analogi nya sederhana saja, tidak mungkin orang tua entah apapun profesinya baik seorang pemuka agama atau pemuka masyarakat akan mengajarkan hal buruk kepada anak- anaknya. Mau ditaruh kemana muka mereka?? Bahkan seorang pencopet pun tak ingin anaknya mencopet!

Pemberitaan yang kurang bijak oleh media tentu akan membentuk penggiringan opini yang lambat laun akan diterima masyarakat, di negeri ini fungsi media massa sebagai alat kontrol sosial sepertinya tidak berjalan dengan baik. Kebebasan itu kebablasan. Well, smart huh? Tell me you are still sure to any mass media in this nation? Tapi baiklah, biarlah seperti kata pepatah biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu.

Saya akan jelaskan kepada rekan- rekan sekalian 7 hal (jangan tanya saya kenapa 7, karena kalau saya bisa kasih 1000 tentu akan saya kasih :D) yang sebaiknya anda ketahui mengenai kampus STAN sebelum anda masuk perangkap opinion making media dan mengaminkan segala yang dipaparkannya. Dan tentu saja jika anda sedikit memiliki perasaan iri dan illfeel entah dengan Ditjen Pajak atau dengan STAN (dengan alasan apapun) maka saya jamin anda akan makin dengan mudahnya masuk perangkap itu! Your emotion makes your logic then.. Be aware!

Here they are in a random order…

1. Integritas dan Dedikasi Para Dosen

Apa yang anda kira bisa mengalahkan Integritas dan Dedikasi??? Even money can’t buy! Ketika dulu kampus STAN masih belum menjadi Badan Layanan Umum, dalam artian masih berdiri dengan status sebagai lembaga dibawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan alias banyak tergantung dengan APBN, honor mengajar di STAN yang diterima para beliau ini, sangat (maaf) prihatin. Tapi yang saya lihat dari beliau- beliau adalah semangat dan prinsip bahwa hidup bukan sekedar materi. Honor Minim? Go Ahead!

Ada satu pengalaman yang saya ingat dari salah seorang dosen yang justru memilih resign dari Ditjen Pajak dan memilih pindah menjadi dosen di STAN. Heaven yeah, meninggalkan pekerjaan yang take-home pay nya jauh lebih tinggi demi menjadi seorang dosen??? Apa itu namanya kalau tidak kita sebut Integritas dan Dedikasi??? Disaat sebagian banyak orang sibuk memperkaya diri dengan materi maka beliau- beliau justru putar haluan melawan arus! It is cool and great!! Karena saya pikir beliau- beliau adalah para pemegang prinsip bahwa: “No one gets rich being a lecture. The riches that you experience are the deeper values.”

Dan kini dengan berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) dimana tentu saja honor untuk para dosen meningkat karena kampus diberi kesempatan untuk mengelola dana yang masuk sebelum disetor sebagai PNBP. Penambahan honor??? Something that they deserve it! tentu saja akan meningkatkan berkali- kali lipat integritas dan dedikasi mereka mengingat ketahanan beliau- beliau ketika dalam kondisi sulit. Lagipula susah membayangkan bagaimana para dosen yang tentu berintegritas dan berdedikasi di suatu kampus akan melakukan demoralisasi kepada anak didiknya! Jadi siapapun yang masih berpikir bahwa kampus STAN adalah kampus koruptor. The only thing i can say: Screw you!

2. Fisik Kampus STAN Itu Sederhana

Sekali- kali cobalah kunjungi seperti apa Kampus STAN itu, dan silahkan bayangkan apapun tentang tampilan wajar sebuah kampus kedinasan yang menurut banyak orang terbilang lumayan terkenal. Mungkin sekelebat bayangan tentang lahan kampus yang luas dengan fasilitas yang lengkap mulai dari lapangan bola, pusat kegiatan kemahasiswaan, jalur transportasi lingkungan kampus, kantin yang ramai atau bertebaran bisa jadi muncul dalam benak pikiran anda.

Faktanya? Kampus STAN ketika saya masuk di tahun 2004 tidak lebih dari sebuah kampus sederhana, sepi daaaannn.. mahasiswanya kekurangan lahan sepak bola sehingga halaman gedung terdepan kampus pun dijadikan lapangan, atau sesekali ehmmm.. merangkap sebagai lahan parkir. Oh ya, penduduk sekitar kampus bahkan tanpa sungkan melepas hewan ternak di lingkungan kampus untuk mencari makan, i mean it was easy to see goats around this college. Sounds funny, but that was the fact!

Kini sesudah 8 tahun, kondisi nya sudah jauh lebih baik, secara fisik! Tapi tidak dengan luas lahan, it is just like as it was. Sampai disini saya mau mengajak anda semua sejenak berpikir, bagaimana mungkin para mahasiswa yang terbiasa menimba ilmu di sebuah kampus yang sederhana dapat kerasukan bisikan jahat untuk bercita- cita menjadi seorang koruptor yang cenderung hidup mewah menimbun kekayaan???? They may the ones who think of being able to study at college is enough for them, well, i mean actually, that is a lot!

3. Penampilan Perkuliahan Mahasiswa STAN

Dunia kuliah mahasiswa adalah kebebasan, penuh warna dan keceriaan. Tapi di kampus STAN cuma ada warna hitam dan putih sepanjang mata memandang seragam mahasiswa/i nya, persis seragam para karyawan toko buku Gramedia. Seragam hitam putih mendominasi! Kalaupun ada sedikit pernak- pernik tambahan wajar saja, anggap saja itu sebagai kebebasan jiwa muda yang berusaha muncul lantaran dikekang aturan! It is sucks! But rules are rules!!

Berani gondrong? Berani merokok dilingkungan kampus? Berani??? Berani??? Jika anda yang kini masih dalam usia muda atau juga pernah muda. I am pretty sure you know how cool it is to be a smoking and long-haired young guy! Tapi jika anda adalah mahasiswa STAN maka silahkan kubur dalam – dalam gejolak jiwa muda yang satu itu! Karena jika anda nekad melakukannya maka itu sama dengan anda nekad bermain- main dengan masa depan! Yaitu bersiap dengan konsekuensi Drop Out!

Pola seragam kuliah dan aturan penampilan yang dibuat demikian, bukanlah tanpa alasan, atau semata- mata karena STAN adalah kampus calon birokrat. Namun justru karena nilai sosial yang terkandung didalamnya. Sorry for acting a little bit oversmarting you, pembiasaan sikap hidup dalam kesederhanaan seragam kuliah dan sederhana pula dalam berpenampilan, secara tidak langsung mengajarkan para mahasiswa/i untuk sadar bahwa jangan jadi birokrat jika ingin kaya, birokrat harus terbiasa hidup sederhana! And now i find that it is damn true!!

4. Pergaulan Mahasiswa dan Gemblengan Kegiatan Keagamaan

Kehidupan mahasiswa STAN tidak hanya belajar dari buku dan bangku kuliah saja. Mereka sama seperti mahasiswa kebanyakan pada umunya, bergaul dalam kehidupan sehari- hari namun karena mayoritas mahasiswa STAN berasal dari daerah alias anak rantauan maka pergaulan mereka pun praktis tidak semodern pemuda- pemudi yang sebagian mungkin sudah akrab dengan kehidupan ala kaum metropolis. Some places like Bintaro Plaza or Monas or Kota Tua to name a few, is already enough to meet their need about tasting the existence of staying in Jakarta!

Kehidupan kampus pun hidup dengan kegiatan ala mahasiswa salah satunya kegiatan keagamaan, kesempatan untuk mengkaji ilmu agama difasilitasi dikampus ini. Apapun agama mahasiswa yang bersangkutan. Kecuali jika ada mahasiswa yang ateis, there will be no place officially to stay here in Indonesia let alone at college. Masjid Baitul Maal sebagai sentra Masjid Kampus hidup dengan Sholat Berjamaan atau kegiatan kajian keislaman lewat liqo dan halaqah sejak dulu hingga kini sebagai sarana pembinaan iman dan mental para mahasiswa, atau Kebaktian bagi para mahasiswa kristiani di GKI Bintaro di dekat gerbang kampus dan bahkan semasa kuliah dulu teman saya yang beragama Kristen aktif dalam Ibadah Pagi dan Doa Sore sebagai sarana mereka membina iman dan mental mereka.

Kesederhanaan pergaulan bertemu dengan kesempatan belajar agama saya rasa sudah cukup kuat untuk menyiapkan mental mahasiswa kampus manapun agar mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Now you see that STAN has two things doubling a positive mentality! Jadi saya sudah paparkan sebuah fakta mengenai ini, selanjutnya terserah anda dan semoga anda tetap cukup pintar untuk mampu mengambil keputusan yang tidak emosional sebelum mengaminkan opini giringan media.

5. Sistem Ujian yang Ketat dan Disiplin

Ah, akhirnya sampai juga ke poin racauan yang ini! Ujian yang ketat ini sudah dimulai sejak seleksi awal dimulai. Yang saya tahu sepanjang perjalanan sejarah Ujian Saringan Masuk STAN dari tahun 2004 hingga 2010 jumlah mahasiswa yang diterima tidak pernah lebih dari 4% dari peserta. Bahkan di tahun penulis hanya mencapai 3,64%. Di tahun 2007 jumlah peserta yang mendaftar mencapai 125.000 orang dan yang diterima hanya tidak sampai 3%. It is understanable if this fact leaves us speechless!

Masuk dan kemudian menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa STAN bukan berarti perjuangan selesai dan bersantai- santai. Karena selanjutnya adalah selamat datang di kawah candradimuka punggawa keuangan negara! Ujian Tengah/Akhir Semester adalah saat dimana kampus sepi bagai kuburan, kecuali saat jam makan atau jam sholat. Karena tingginya ancaman DO dan standar IP minimal membuat para mahasiswa siap berjibaku dengan persiapan yang matang dan juga karena jika nekad berani mencontek ketika ujian maka saat itu juga silahkan angkat kaki dari kampus dan segera anda di Drop Out. Bahkan saya pernah menjalani ujian dimana pengawas keluar dari ruangan dan semua peserta ujian sibuk dalam tenang tidak terusik apalagi tergoda untuk mencontek. Jadi lupakan kata mencontek atau berbuat curang dalam list vocabulary anda jika anda hendak berkuliah di STAN atau anda harus menukarnya dengan kata DO. That is all.

Jadi tolong sekarang jelaskan kepada saya mengapa Michael Scofield bisa kabur dari penjara? upss… maksud saya bagaimana kampus yang demikian ketat dalam sistem seleksi dan pelaksanaan ujian berhak untuk menerima gelar sebagai kampus koruptor? I am gonna count untill three…

6. SPEAK, TIPIKOR dan Seminar Pemberantasan Korupsi


Don’t get me wrong with the title… SPEAK adalah sebuah Kegiatan Kemahasiswaan di Kampus STAN. SPEAK adalah Spesialisasi Anti Korupsi, yaitu sebuah organisasi kampus yang didirikan oleh sekelompok mahasiswa STAN yang memberikan kesempatan untuk belajar bersama mengenai korupsi serta memberikan pemahaman kepada mahasiswa secara umunya lewat kegiatan rutin yang diadakan. Eksistensi SPEAK bukan lah ad-hoc atau semata- mata aji mumpung ditengah isu yang tengah ramai ini, SPEAK sudah lama berdiri dan semua kegiatan atau identitas SPEAK bisa anda lihat di blog resmi mereka http://speakstan.blogspot.com

Kampus STAN sudah menjadikan tindakan pemberantasan korupsi dalam aksi nyata dengan memasukkannya sebagai mata kuliah Tindak Pidana Korupsi untuk jenjang Program Diploma III dan D I atau Seminar Pemberantasan Korupsi untuk jenjang Program Diploma IV. Upaya akademis yang diperjuangkan ini juga didukung oleh badan pemerintah seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga secara periodik diadakan seminar mengenai pemberantan korupsi dengan mengundang narasumber dari KPK. What a real and serious effort, isn’t it??

Well.. well.. well.. Mari sejenak kita menyeruput secangkir kopi hangat sambil kembali memikir ulang apa mungkin kampus STAN ini terlalu seksi?? sehingga tetap saja tidak lepas dari dikait- kaitkan dengan tema perbincangan media mengenai kasus korupsi. Andai mereka tahu perihal keberadaan SPEAK, Mata Kuliah: Tipikor dan Seminar Pemberantasan Korupsi. Lagi- lagi seharusnya mereka tahu soal ini. Hmmhh.. Berhubung kita sempat menyebut KPK maka baiklah pembahasan berikutnya akan membahas seputar KPK. How come? Just stay with us..

7. STAN dan KPK

Tidak banyak yang tahu bahwa, sebagian alumni STAN juga ada yang berkiprah di lembaga ad-hoc yang bertugas sebagai pengawal terdepan dalam memberantas penyakit kronis korupsi di negeri ini. Mantan pimpinan KPK Haryono Umar dan Amir Sunaryadi juga alumni STAN. Ini juga menjawab mengapa kampus STAN bisa dengan mudah dan aktif mengadakan kegiatan seputar seminar pemberantasan korupsi.

Ini berarti sebagai lembaga pendidikan, STAN bisa dibilang berhasil menanamkan nilai- nilai positif sehingga alumni STAN mampu berperan dalam bidang masing- masing meski tidak semua, karena memang harus diakui ada beberapa oknum yang karena perbuatan mereka justru membuat malu almamater STAN. But that is not fair to generalize and blame for STAN as a whole! Kampus adalah kawah candradimuka dan dunia kerja adalah lahan penuh tantangan yang berjalan dengan sebuah sistem dan kondisi, kalau kemudian hasil dari pertarungan atau seleksi di dunia kerja berbeda- beda, maka better you think it again, sebelum mengatakan bahwa kesalahan terletak pada stasiun TV anda, maaf… maksud saya kampus tempat sang petarung ditempa.

Karena dunia kerja itu adalah sebuah sistem yang kejam dan penuh godaan untuk menggoyah prinsip dan idealisme, kawan! And i am absolutely serious about this! Maka jangan anggap enteng semua asupan prinsip dan idealisme normatif yang diterima di kampus. Sama halnya di kampus STAN, beberapa yang lalai akan jatuh tergoda sehingga menjadi oknum yang kelak bisa jadi akan ditangani oleh rekan semasa kuliah dulu yang kini berkiprah di KPK. Mark my words! I know it sounds pathetic but college gives us things to learn and life provides bad and good things to choose. The choice is ours.

Demikian 7 racauan dari saya yang menurut saya banyak orang sebaiknya perlu tahu mengenai STAN sebelum timbangan dosa ini bertambah lantaran terlalu sibuk menuduh alumni STAN sebagai koruptor dan kampus STAN sebagai kampus pencetak koruptor. Tulisan ini dibuat ketika penulis benar- benar dalam kondisi sadar tanpa emosi apalagi dendam dengan segala pemberitaan, tujuannya hanya sederhana saja yaitu meracau dengan arah untuk mengangkat hal yang tabu menjadi patut dan layak diperbincangkan. Eh, maksudnya supaya banyak pihak menjadi lebih paham dan terbuka, itu harapan saya, namun kembali lagi. Apapun yang menjadi pilihan sikap pembaca bukanlah kuasa saya, whether they will get intimidated or get inspired is not my concern but theirs.

Salam

Erikson Wijaya

Read more »

6.03.2012

Euforia Kelulusan Sekolah

Sudah seminggu belakangan ini sekelompok anak sekolahan sering terlihat lalu lalang di jalanan kota ini. Mereka sedang bahagia dalam euforia selebrasi kelulusan sekolah. Budaya lama yang menyertai sejak dulu tetap awet melekat, yaitu aksi corat coret. Haha.. dengan malu- malu aku akui juga bahwa akupun melakukannya waktu itu kelulusan SMA tahun 2004. Itu kenapa sebabnya aku bisa memaklumi mereka. Gejolak semangat muda, yang penting bahagia hari ini, mengenai esok itu adalah urusan nanti. Every day has its own worry! Walau, agak bergidik kalau melihat aksi corat coret ini seperti tak hanya seragam, karena ada juga kulihat rambut pun tak luput dari semprotan warna warni cat semprot!

Kurang akurat kelihatannya untuk melihat kesiapan mental pemuda menghadapi dunia hanya dengan aksi corat coret yang mereka lakukan, beberapa teman lama aku lihat meluapkan (maaf) kekesalan mereka menyaksikan aksi ini melalui status facebook mereka. Who do we think we are to judge their mentality? Aksi corat coret mereka boleh jadi meninggalkan warna warni meriah sebagai kenangan yang sarat keceriaan tapi kehidupan pasca kelulusan sekolah akan menunjukkan coretan yang lebih kompleks dari itu semua. Ketika semuanya sudah terpapar, semoga saja semangat dan keceriaan mereka tetap menyala agar kuat melanjutkan hidup merajut masa depan.

Namun kalau dulu aksi corat coret hanya dilakoni pelajar SMA (at least in my point of view) kemarin aku lihat pelajar SMP pun (ikut- ikutan) melakukannya. Antara bingung dengan kasihan melihatnya. Bingung karena bagaimana caranya anak- anak ini sudah bisa menerimanya sebagai sebuah pilihan selebrasi. Dan kasihan, karena seperti nya mereka cuma ikut- ikutan, hanya menikmati sisi 'wah' dan belum memiliki pikiran panjang mengenai jalan kedepan, bila kemudian ini menjadi kebiasaan. Maka coba tanyakan cita- cita kedepan yang mereka inginkan, aku khawatir mereka tidak sempat lagi berpikir kearah sana lantaran terlalu dalam bersenang- senang. Tapi semoga saja tidak demikian. Karena ada banyak hal diluar nalar atau logika yang hanya bisa dicerna dengan hati dan iman. Hal- hal yang mampu mengubah seseorang. Aku, kau dan kita semua.

I am neither a hedonist nor Permissivist. Dan aku tidak setuju dengan aksi corat coret ini. Namun sangat tidak pantas aku kira, beteriak lantang menentang suatu hal yang dulu sempat kita lakukan. Jalan yang lebih baik adalah dengan sebisa mungkin menunjukkan kepedulian dengan memberikan pengertian. Namun atas hal yang bukan jangkauan kita maka maafkanlah dan maklumilah. Semoga para pelajar di negeri ini tidak kehilangan jiwa sosial lantaran mengorbankan seragam mereka yang mungkin masih dibutuhkan oleh yang kurang beruntung. Serta semoga para pelajar di negeri ini tetap waspada bahwa warna warni dunia segera terpapar menantang begitu mereka beranjak dari bangku sekolah merajut masa depan.

Palembang, Kambang Iwak Park
Sore hari selepas Jogging
Juni 2012

Read more »

6.02.2012

Malam Minggu Sederhana

Malam ini seperti biasa, malam minggu sederhana tanpa prosesi euforia seperti di luar sana. Disini, disebuah ruangan ini hanya berteman kegalauan (mungkin kesepian) yang semula aku kira tersembuhkan bila aku mendengar suaramu sayangku. Namun, aku lupa bahwa kau juga manusia biasa, bisa lelah dan jengah pada dunia. Tidak ada yang perlu disalahkan, bila sesekali kau pun butuh masa untuk sendiri, mungkin baiknya kumaklumkan saja. Meski rindu dan butuhku padamu kala itu begitu menyengat. Salahkan saja pria ini, yang menjadikanmu sandaran atas kegamangannya akan dunianya.

Aku tidak butuh rupa cantik wanita manapun untuk meredakan gemuruh dalam dada ini. Cukup sekilas senyum manis cerminan kelapangan hati mu yang bagai sang bidadari, itu saja. Bagiku kemasaman wajah dan tuturan kata penuh kesungkanan sudah tak ubahnya bagai neraka dunia lalu adu argumentasi dalam nada tinggi pun sudah cukup membuatku ingin enyah segera. Dan jangan kau serang aku dengan permintaan- permintaan untuk menjadi apapun yang aku minta kepadamu, bagai malam ini. Karena kini aku dalam posisi meminta pengertian mu. Jika kau merasa berat atau bahkan tak mampu, maka bagi ku masa depan disana itu terasa bagai abu- abu. Mari kita duduk tunduk saja dan pikirkan lagi tentang itu.

Cinta, aku yakin kita sudah jatuh terjun menjalaninnya bersama, namun cinta hanya kan menjadi emosi yang siap meledak bak bom waktu bila ia tiada diiringi kerelaan untuk mengalah, kedewasaan dan sikap mengerti satu sama lain. Bukan aku ataupun kau yang berhak untuk menikmati sikap mengalah dan kedewasaan satu sama lain, tidak ada keharusan bahwa aku atau kau yang harus memulainya lebih dahulu, namun semua hanya berjalan seiring waktu. Karena tidak ada untung atau rugi dalam mencinta, semua sama- sama menikmati. Bukankah kebahagiaan sebuah rumah tangga adalah Suami yang sabar dan Istri yang penurut??. Kesabaran kesediaan melawan emosi negatif. Seperti halnya sikap Menurut juga demikian adanya.

Kau bagai maha bintang, begitu terang sampai semua cahaya hilang. Itulah sebabnya aku butuh kau disisiku sayangku. Aku bagai hitam langit malam yang begitu pekat dan gelap, namun semua itulah yang membuat cahayamu kian benderang. Sampai akhirnya sang mentari esok hari kembali datang, hanya aku jua yang kan menerimamu dengan lapang, wahai sayang. Karena nyatanya aku makin dalam menyayangimu, semoga kau pun begitu. Dan.. Malam ini seperti biasa, malam minggu sederhana tanpa prosesi euforia seperti di luar sana.

Palembang
02 Juni 2012
23:19 WIB

Read more »