4.21.2010

April 2001


Pernah dengar lirik jingle iklan yang bunyinya begini :'kulihat pelangiii.. disandal Melli' dibintangi oleh Dianna Pungky yang tayang diakhir tahun 2000 kalau tidak salah. Buat saya iklan itu, bukan sekedar iklan biasa, namun iklan yang jika kini saya mendengarnya, maka saya seperti kembali ke era 9 tahun lalu, ketika Ibu saya dengan senang hati menyanyikan jingle lirik lagu itu, mengenakannya dalam kegiatan sehari-harinya.. sampai suatu hari pelangi dalam lirik lagu itu seolah berpendar menghilang meninggalkan keindahan yang tidak akan pernah jelas sampai ke suatu titik di bumi ini...

Assalamualaikum wr wb dan apa kabar kawan semua?saya percaya didalam hidup ini tak ada hal yang patut disedihkan secara mendalam didunia ini, semua memang sudah ada jalan masing-masing dan memang begitu yang terbaik, saya bukan seorang fatalist tapi saya secara pribadi saya pernah merasakan nikmatnya berpasrah, nikmatnya menjadi tenang dalam kesederhanaan, tanpa harus melupakan kenangan. Karena masa lalu hadir bukan untuk disesali tapi lebih pantas lagi jika kini ia di jadikan pelajaran dan sebagai media yang mengingatkan bahwa kita pernah memiliki seseorang dalam hidup..

Penghujung tahun 2000
Saya masih duduk dikelas 2 SMP waktu itu, kegiatan sekolah berakhir pada sore hari jam lima setiap harinya, dan biasanya begitu pulang dari sekolah (jalan kaki pulangnya soalnya dekat dari rumah) saya langsung membuka tudung nasi, dan seperti biasanya sebelum makan, saya teriakkan :'maa... makan ma...'. sebuah kebiasaan ijin dengan berteriak yang masih terbawa hingga kini. Lalu dari dalam kamar, Ibu saya akan bilang:'lajulah.. cuman sisakan buat ya kakak kau, belum makan dia soalnya'. setelah makan, lalu piringnya kadang tidak saya cuci lagi (ibu saya menerapkan standar disiplin tingkat tinggi tentang aturan kerapian dan kesopanan) karena tidak beliau lihat. Lalu, saya sempatkan melihat kedalam kamar istirahatnya, lalu saya lihat Ibu sedang istirahat nampak lelah, sama persis lelahnya mungkin saat ia rasa ketika baru saja menyapu halaman depan rumah, belakangan Ibu memang sering sakit, badannya perlahan-lahan mulai nampak kurus.

Awal tahun 2001
Ibu sedang memasang kalender terbitan tahun masehi yang baru, 2001. disana terpampang poto presiden Gusdur beserta jajaran kabinetnya, namun bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya. Ibu tertuju pada serangkaian 12 bulan yang tertera dikalender itu, lalu ia berkata yang mungkin tertuju kepada saya seperti ini: 'alangkah banyak nya hari-hari yang akan dilalui sepanjang tahun ini, coba lihatlah..' lalu beliau berjalan menuju dapur meninggalkan kalender yang sudah melekat didinding menggunakan paku payung berwarna logam yang sering iseng saya gunakan untuk melihat wajah saya sendiri melalui pantulan payungnya, disana bakal terlihat mata dan hidung saya yang menjadi lebih besar melebihi kepala saya sendiri :D.

Pernah suatu pagi saya menemani beliau periksa kesehatan ke Rumah Sakit Umum Baturaja, disana beliau berjumpa dengan teman2nya dan banyak dari teman2nya yang kaget melihat tubuh Ibu yang semakin kurus. Ibu tersenyum namun penampilan dan tatap matanya tidak bisa membohongi mata saya bahwa Ibu sedang menahan rasa lemas dan lelah ditubuhnya. Dirumah, kehidupan berjalan seperti biasa, sampai suatu hari Ibu meminta saya membelikan sandal untuk dipakai didalam rumah, dingin katanya kalau tidak dipakai, ya Ibu saya memang menderita Reumatik sejak satu tahun belakangan. saya sering lihat beliau minum obat yang ia minta titip belikan ke tetangga. Akhirnya saya belikan lah sandal Melly, karena sendal merk itu lagi booming di iklan TV masa itu. warnanya pelangi dan berbahan karet.

Seminggu beliau memakai sandal itu, namun ia merasakan semacam sakit dikakinya, rupanya tekstur bergelombang permukaan sandal itu telah membuat lecet telapak kaki ibu saya, dan lecet itu menjadi luka, yang tidak kunjung kering. setelah diperiksakan kedokter rupanya kondisi ini disebabkan oleh penyakit Diabetes Melitus yang diderita Ibu saya sejak dulu, akibatnya luka itu tidak mengering namun justru menimbulkan luka lain lagi yang makin melebar. dan semenjak saat itu, hari-hari ibu saya lebih banyak terbaring dirumah beristirahat sambil berjalan seadanya. bahkan jika mandi pun kaki itu harus tetap kering. Saat beberapa minggu kemudian kondisi Ibu semakin lemah dan diputuskan untuk dirawat inap di rumah sakit yang sama tempat dulu saya pernah menemani beliau periksa.

Awal Maret 2001
Ibu mulai tinggal di Rumah Sakit, saya kebetulan saat itu baru selesai ujian Caturwulan kenaikan kelas jadi waktu libur saya manfaatkan untuk tinggal dirumah sakit, menemani Ibu. Kabar baik yang bisa saya persembahkan bagi beliau kala itu yang sedang terbaring adalah saat saya menunjukkan buku raport yang menerangkan bahwa saya menjadi peringkat 1 dikelas kala itu dan sebuah piagam atas Juara Umum yang saya raih, lalu seperti biasa Ibu akan membubuhkan tandatangan di buku Raport saya untuk kemudian akan saya serahkan lagi ke sekolah. Jika sore hari saya dan kakak laki2 saya biasanya pulang kerumah, menemani kakak perempuan menutupi jendela dan sedikit berbenah di rumah lalu malamnya balik lagi ke Rumah Sakit, lalu Ayah saya pun biasanya akan membawakan makanan ke rumah sakit untuk kami. dan yang selalu menemani Ibu 24 Jam saat kami pulang atau tertidur adalah Nenek saya, Ibunya Ayah saya.

Selama di Rumah Sakit, kondisi luka di kaki ibu, dijaga sterilitasnya, perbannya diganti setiap hari, dan beliau mulai terbiasa dengan suntikan rutin hormon Insulin juga tambahan donor darah jika dokter meminta demikian. Kala itu, setiap tetes suntikan dan tiap tetes darah adalah perjuangan tersendiri bagi Ayah saya untuk menyediakannya, ditengah kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika pagi-pagi biasanya saya dan kakak saya pulang kerumah dengan jalan kaki, untuk sekedar berhemat juga olah raga dan siangnya berangkat lagi ke Rumah Sakit. Setiap langkah itu bagi saya tidak berarti apa-apa, karena saya tidak paham apa itu arti hidup, apa beratnya mencari uang dan saya justru menikmati keadaan tersebut saat itu, karena saat Ibu dirawat, maka banyak sanak famili, tetangga yang datang membawa makanan, buah-buahan juga kadang memberi uang saku untuk pegangan barangkali mau jajan kue dirumah sakit. Saya juga malah pergi maen ke Rental PS dekat situ kalo di Rumah Sakit sedang banyak yang menunggui Ibu. Tapi cerita masih berlanjut, tak henti sampai disitu....

Awal April 2001
Kondisi Ibu kian parah, bangkit dari tidur sendiri pun beliau sudah tidak mampu lagi, harus dipapah dan dipegangi, pispot dan selang infus harus selalu 24 jam tersedia, dan perlahan beliau pun kehilangan nafsu makan. wajahnya memerah, bukan pucat. kondisi luka dikakinya makin melebar ke betisnya. Akhirnya diputuskan bahwa dalam waktu dekat kaki Ibu akan diamputasi untuk membuang sebagian besar kakinya yang mulai dan sudah membusuk. Namun usulan Amputasi ini ditolak Ayah saya, logikannya sederhana jika luka kecil pun tak mampu disembuhkan, bagaimana dengan luka besar akibat operasi? Makin banyak orang yang datang menjenguk Ibu, sepupu dan sanak famili menghibur saya yang kala itu mulai bisa merasa sedih dan mulai takut jika kehilangan Ibu. Mereka mulai mengingatkan saya tentang doa untuk kedua orang tua dan ayat-ayat pendek lainnya.

Pertengahan April 2001
Dokter mengatakan bahwa Ibu mengalami kesulitan dalam pernafasan, seperti ada semacam dahak atau serak dikerongkongannya yang membuat beliau tidak mampu berbicara dengan jelas, sehingga untuk membantu Ibu, dokter memasangkan tabung gas Oksigen disamping beliau lalu dipasang dibawah hidung. Saya melihat Ayah saya cuma bisa diam dan memegangi tangan beliau jika duduk disamping ranjang Ibu. sementara saya dan kakak-kakak saya duduk di lantai. Beruntung, ruangan Anggrek unit Penyakit Dalam Rumah Sakit itu kosong, jadi kami bebas jika mau tidur2an di ranjang pasien yang lain. Lalu saat kondisi Ibu kian parah, pada suatu siang saat itu, Ibu dikerumuni banyak orang. sementara saya duduk diranjang pasien yang lain, saya mulai bisa merasa sedih, tiba-tiba ditengah suaranya yang serak itu terdengar dengan jelas suara Ibu yang memanggil saya:'Adeeeekkkkk...'. Ya saya biasa dirumah dipanggil Adek karena saya memang anak Bungsu sebelumnya. lalu Saya diminta dipanggil mendekati Ibu, saya mencium kening Ibu, mengelap peluh didahinya kemudian memeluknya dan tetap duduk disamping nya sambil memgangi kedua tangan beliau. Pelan-pelan saya ikuti arahan kedua nenek saya untuk membisikkan kalimat takbir, tahmid dan tahlil ke telinga Ibu, membimbing beliau mengucapkannya pelan-pelan...

Disaat yang sama, kala itu adalah saat periode ajaran baru pendidikan sekolah, kakak saya baru saya mendaftarkan diri sebagai siswa SMA, dan kami sekeluarga merasa akan menjadi kebahagiaan besar bagi Ibu jika sempat melihat kakak saya mengenakan seragam SMA, lalu kami tunjukkan kepada Ibu bahwa anaknya yang kedua, kakak saya, kini telah masuk SMA...

20 April 2001, Malam..
Ibu mulai tenang, tidak ada lagi suara berat diantara nafasnya. Ibu pun tampak mulai bisa tertidur tenang, dan saya baru sadar bahwa saat itu kami sedang berkumpul lengkap keluarga besar diruangan itu, kamipun semuanya tertidur, kecuali kedua nenek saya yang tetap membacakan ayat-ayat suci Al-qur'an menemani Ibu yang mulai tenang.

21 April 2001, Dini hari..
Saya terbangun dan mendapati kedua nenek saya masih saja belum berubah posisinya, masih membaca Al-qur'an dan Ibu saya sepertinya sedang tertidur, lelap dan tenang... tapi saat saya semakin mendekat, saya tidak lagi mendengar bunyi gelembung udara dari tabung Oksigen yang terpasang disamping ranjang Ibu, dan saat saya sentuh Ibu sama sekali tidak bergeming, terbujur kaku dan diam dalam dingin, wajahnya pucat namun cerah. dan ketika itu juga, akhirnya Nenek saya menngatakan bahwa Ibu sudah pulang ke Rahmatullah, Ibu meninggal pukul 2 pagi tadi saat kami terlelap tidur, saya terdiam. tidak tahu harus berbuat apa, terdiam sekaligus untuk menenangkan diri, dan ketika semua yang lain mulai terbangun, sesaat seperti terjadi jeda dimana kami semua diam, menunduk lalu menatap sebuah wajah yang tanpanya akan kami lewati hari-hari depan. Kemudian, saat kami semua mulai menguasai diri masing-masing, kami mulai berkemas membereskan segala sesuatunya sambil menyiapkan rumah untuk menyambut jenazah almh.Ibu dan segala sesuatunya, saya pulang terlebih dahulu kala itu kalau tidak salah.. dan sesaat kemudian mobil ambulance tiba dirumah yang sudah kami pasang bendera hijau dan papan hitam keterangan duka.

Pada tanggal 21 April 2001, 9 tahun lalu.. Ibu meninggal dan dimakamkan, lalu segala sesuatu dalam hidup saya mulai berubah, keadaan menjadi lain tanpa Ibu, dua tiga bulan setelah beliau meninggal, saya masih sering bersedih, rindu.. ingin bertemu namun tidak tahu harus menemuinya dimana, kecuali di sebuah Lokasi Pemakaman Umum didekat rumah. Dan benar adanya bahwa doa adalah satu2nya yang bisa saya persembahkan untuk beliau dulu dan sekarang ini serta untuk nanti. Semenjak saat itu, memang Raport saya bukan lagi Ibu yang menandatangani.. tapi semua cerita pengorbanan dan kasih sayang oleh Ibu akan tetap tinggal terpatri dihati ini..

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....


Wassalamualaikum...

Read more »

4.09.2010

Kenangan Pendakian Pangrango


haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu...(Soe Hok Gie)


Assalamualaikum wr wb and dear all my beloved friends.. kami baru saja turun dari Puncak Gede, sepanjang jalan kami turun hari sudah akan gelap, belum lagi hujan rintik mulai turun disertai angin badai, untungnya belum terlalu kencang..

Turunan curam berbatu, tanah licin yang ditumbuhi akar-akar pohon membuat saat-saat untuk turun tersebut menjadi lebih ekstra hati-hati untung lah banyak dahan dahan pohon untuk berpegangan, namun... saat tiba menuruni daerah Tanjakan Rantai, saya terperosok dan terguling jatuh sebabnya adalah karena lampu senter saya mati sementara saya tidak tahu didepan saya ada jurang cukup dalam untuk dilompati, jadinya kaki saya terpelintir, untungnya saya berada tidak jauh didepan Kang Erry dan Yudha, kemudian karena alasan emergency (hehehe...) kami berhenti sejenak.. kemudian melanjutkan perjalanan dengan tujuan pos peristirahatan di Camp Area kandang badak.. dan segera mendirikan tenda beradu cepat dengan hujan dan angin dingin yang menusuk-nusuk..

malam itu didalam tenda yang bergoyang bertahan tertiup angin malam di pos kandang badak tepat di kaki gunung Gede Pangrango.. udara diluar tenda dingin kencang ditambah lagi air rerintikan hujan membuat kami harus beristirahat namun tetap bersiaga berjaga kalau-kalau udara kencang merobohkan tenda kami, kalau-kalau hujan deras merembes kedalam tenda kami..

Sabtu, 4 April 2010
Kandang Badak, pagi itu...
Saya bangun paling awal, dengan langkah tertatih-tatih sisa terperosok tadi malam.. bukannya sok gagah-gagahan ya namun ini mau buang hajat g bisa ditahan-tahan.. mau ke sungai hehehhe... dan tak lama kemudian satu persatu kami ber empat belas sudah keluar dari tenda masing-masing.. dan segera menyeduh air hangat untuk membuat teh dan indomie.. (makanan khas gunung ni kayaknya. yang rasanya cuma ada dua, yaitu enak dan enak sekali.. g ada istilah gak enak :P)

ada bule dari USA.. katanya udah pernah mendaki Bromo sama Kinabalu(Malaysia), ajakin poto dulu ahh..

Pagi itu juga sebetulnya saya dalam keadaan bingung, antara akan tetap tinggal di pos kandang badak ini atau ikut rombongan melanjutkan pendakian ke Puncak Pangrango, namun, saya memutuskan untuk ikut serta, walau saya tahu banyak yang mungkin cemas karena kaki saya belum pulih betul.. *kalem*.

Tepat jam 9 pagi setelah sarapan besar.. akhirnya hanya 10 orang yang naik kepuncak selebihnya bermurah hati menyiapkan makanan sepulangnya kami nanti.. hahaha.. thanks thanks thanks.. we owe you all more than a treat :D, setelah beberapa menit mendaki, semuanya mulai hanyut dalam diam masing-masing sambil tetap menghindari akar atau duri pohon yang menghalangi jalan *kenapa ya kalo dah mulai mendaki banyakan pasti pada diem, jarang banget yang mau nyanyi nyanyi hehehhe* jalur pendakian ke Pangrango memang tak kalah hebatnya dari Gede, namun disini selama pendakian hampir seperempat perjalanan kami diiringi aliran air gunung yang dingin dan bergemericik.. membuat dingin dan sejuk, lelah menjadi hilang dan cuma rasa nikmat yang datang.. heheheh

Pendakian hingga ke puncak Pangrango memakan waktu 2-3 jam, setelah menempuh tempo waktu itu, akhirnya... akhirnya... dengan disambut hujang rintik di puncak pangrango, kedua kaki ini menginjakkan dipuncak yang lain bumi Indonesia ini, disana kami bertemu dengan sekelompok rombongan lain dari Depok, dari puncak pangrango ini, saya mengambil poto kami semua untuk diabadikan sebagai kenang-kenangan dan bukti kuat bahwa kami telah pernah ada disana pada suatu siang di hari Sabtu tanggal 4 April 2010.. 10 orang kami itu: Saya (Erikson), Erry, Yudha, Toni, Ronaldi, Hatta, Bagas, Rian, Edja dan Heni. apakah perjalanan kami usai? belum kawan.. tepat 5 menit dibalik puncak Pangrango.. terbentang keindahan lain alam Indonesia ini, yaitu..

Lembah Mandalawangi..
Lembah yang begitu sering terngiang di telinga saya, lembah ini pernah dituliskan oleh Soe-Hok Gie dalam sebuah puisinya seperti yang ditampilkan dalam filmnya GIE di tahun 2005 ketika diakhir babak film itu, sosok Gie yang diperankan Erikson eh salah maksudnya Nicholas Saputra.. duduk melamun menikmmati coklat (semoga aja bukan SQ merknya soalnya tahun itu belum ada SQ kali...) dengan pemandangan pepohonan bunga Edelwis disekitarnya, bertambah dalam maknanya ditengah kabut tipis yang pelan-pelan turun...

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin...

Puisi diatas mungkin sangat cocok untuk menggambarkan saat kami bersepuluh berdiri bersama melepaskan pandangan ke sekitaran Lembah Mandalawangi.. aku dan kita semua waktu itu..

Saat itu, saya menuliskan sebuah kenangan di Lembah Mandalawangi ini, kenangan yang saya tujukan buat seorang ia, yang telah banyak memahami saya beberapa tahun terakhir ini.. yang telah sering mendengar keluh kesah bahagia saya..

"Semoga kau bahagia menemukanku mengingatmu.."


Lalu hari semakin gelap dan kabut terus saja tetap turun, sehingga saya segera menyegerakan diri dengan sembilan orang rekan lainnya untuk turun kebawah.. karena masalah waktu yang terbatas untuk segera kembali ke Jakarta, dan ketika telah terekam jelas dalam ingatan tentang semua yang telah kita jalani semua selama masa pendakian Gede Pangrango ini.. saya sebagai Team Leader, mengucapkan terima kasih banyak untuk semuanya.. mohon maaf jika ada salah dan kekurangan... Terima kasih tim GP-14!!! Berang-Berang makan cokelatt!!!! BERANGKATTT!!!!!!!!

Wassalamualaikum

Read more »

4.08.2010

Kenangan Pendakian Gede


Melanjutkan hobi, memenuhi panggilan intuisi, kemudian saya mendaki! Ya, mendaki Gunung Gede Pangrango, dua buah gunung yang berdekatan, menancap erat sebagai salah satu paku alam di bumi Jawa Barat, masing-masing dengan kisaran ketinggian 2985 mdpl dan 3100 mdpl..

Assalamualaikum and dear all.. Semua berawal saat saya melihat jadwal tanggal merah di awal April ini, kira-kira setengah bulan yang lalu.. dan saya berpikir saja untuk menjalankan misi memenuhi salah satu cita-cita saya tahun ini yaitu mendaki lima puncak di tanah Jawa.. kapan lagii kannn??? then the story goes...

Kamis, 1 April 2010
Tepat siang hari begitu saya selesai kuliah, saya repacking semua barang yang ada di carriel untuk diisi dengan barang-barang yang belum sempat dibeli akhir bulan lalu (ya iyalahhh g ada duit!!) dan begitu semua beres, hari sudah mulai sore, saya berangkat dari Kampus didaerah Bintaro barengan dengan kawan namanya David Mondru Sihotang menuju kawasan pelaluan bus ke Terminal Kampung Rambutan (karena disana sepakat kami semua bertemu malam itu jam 8 malam dan segera akan berangkat dijam itu juga), Ciputat. Membawa carriel yang lebih tinggi daripada badan saya sendiri, membuat saya menjadi pusat perhatian penduduk yang lagi pada nongkrong di komplek daerah kos saya.. hehehhee.... Saya dan David menumpang angkot menuju daerah Kampung Utan (pertigaan sebelum kampus UIN Ciputat) dan setelah tiba disitu kami sempatkan makan dulu sebagai energi untuk berjejal padat dengan penumpang menuju Terminal Kp.Rambutan, Terminal Penuh Kenangan.. Disana kemudian kami bertemu dengan tiga orang rekan lainnya; Yudha, Eja dan Toni. dan setelah menyempatkan sholat di Masjid Agung Ciputat, kami naek bus ke tujuan meeting point naek bus metromini 510.

Ternyata bus metromini 510 ini masih tak berubah sejak dl, bus ini adalah angkot bus pertama yang saya gunakan saat saya di Jakarta 5 tahun lalu. Padat, berjejal-jejal dan panas namun mau gimana lagi, perjalanan ke Kp Rambutan masih lama, memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Kepala saya makin lama makin meninggi mendekati langi2 bus karena penumpang yang melesak masuk dipaksakan abang kondektur... namun disaat seperti itu, didalam benak saya masih terekam jelas saat saya, Ayah dan Adik saya berada dalam bus tersebut waktu hendak menghantarkan saya ke kota Jakarta ini.. :)

Kami berlima kemudian tiba di Kampung Rambutan, lalu istirahat sejenak di dalam terminal dalam kota untuk menunggu 9 orang lainnya.. semua sudah paham dan sepakat untuk bertemu jam 8 ini, well.. it is ok kalo telat barang satu atau setengah jam :) sekitar setengah jam kemudian datang rekan kami bernama Erry dan Henny lalu disusul tiga lainnya yaitu Ronaldi, Ferry dan Victor. Tinggal tiga tersisa.. ahhh siall rupanya mereka luar biasa telat, tidak tanggung-tanggung tiga jam jadinya kami menunggu, beramah tamah dengan mbak-mbak pedagang pulsa, tanding catur 3 langkah juga akhirnya untuk menunggu.. akhirnya setelah tepat jam 11.00 malam, tiga orang ini datang juga, adalah Hatta, Rian dan Bagas lah mereka itu!!! :))

setelah berdoa bersama sebelum berangkat, kami berempat belas, menuju gerbang keberangkatan bus antar kota, menanti bus jurusan Tasik via Puncak berlalu, namun lama, banyakan justru via Cipularang... dan akhirnya datang juga.. lalu diantara deru sibuk Kampung Rambutan, bus yang kami tumpangi melaju diantara bus lainnya dan tujuan kami satu yaitu turun di Pertigaan Cibodas, disana kami sudah janjian bertemu dengan calon guide yang akan membantu kami.. Dani namanya..

Jumat, 2 April, pukul 2 dini hari..
Kami tiba disambut dengan dingin malam daerah Cibodas.. sesaat berbagi beban logistik tambahan untuk kelompok, lalu pakai jaket tebal dan sarung tangan juga kupluk, tak lama dari situ Dani akhirnya datang menemui kami, saya yang dicarinya soalnya saya yang jadi liasion ke dia dalam beberapa hari terakhir sebelum pendakian..

Dari Dani kami diperkenalkan dengan Aa' Iwan, guide yang akan membantu kami selama pendakian (sekarang kebijakan dari Taman Nasional Gede Pangrango mewajibkan kegiatan pendakian didamping Guide) dan kami menyarter angkot untuk memulai pendakian yaitu dari pintu masuk Gunung Putri, padahal sudah dini hari saat itu jam 3 pagi. saat mulai pendakian, medan tanjakan langsung kami hadapi dengan carriel dan beban masing-masing dipundak. setelah sekitar setengah jam mendaki kami tiba di pos pertama sekaligus sebagai tempat untuk konfirmasi ijin pelaporan, namun sayang petugasnya tidak ada dan baru dibuka jam 6 pagi, jadinya kami istirahat dulu bersama dengan pendaki-pendaki lainnya..dan dari sana kami bisa melihat Citylight Jawa Barat dimalam hari, indah.. temaram lampu kota berkedap kedip menari ditengah gelap langit Cibodas..

Ketika sudah pagi, pendakian kami mulai.. masih disambut dengan medan tanjakan dengan bonus pemandangan lahan pertanian penduduk setempat yang tengah ditanami pohon sayur yang menyegarkan mata, langit dan angin sejuk menemani langkah awal pendakian kami yang hanya berbekal roti dan madu seadanya.. sekitar sejam mendaki, medan berat mulai terasa.. langit yang terang biru, aliran sungai yang gemericik mulai digantikan dengan rute yang berbatu, tanah berlumut licin dan beban carriel yang makin terasa berat... ahhhhh untung pagi mendakinya jadinya kalau mau istirahat tak apa ditinggal sedikit oleh rombongan didepan soalnya tidak terlalu khawatir tertinggal..

Setiap pos yang kami lalui dalam pendakian ini merupakan tempat untuk melepas penat, dan bercanda tawa, walau lapar dan lelah. sementara rasa haus tidak terlalu menjadi masalah karena alam pegunungan ini masih menyediakan aliran air yang layak minum. Saya sendiri untuk masalah nafas tidak terlalu mengalami masalah (sumpahh empet banget pasti yang baca kalimat yang ini, si Erikson songong banget oiii hahahahha) karena seminggu sebelumnya sudah rutin lari untuk melatih pernafasan. hanya saja rasa lelah dan pegal yang sulit diajak kompromi harus bertemu dengan kondisi yang tidak pasti tentang berapa jam lagi pendakian ini akan berakhir, Aa' Iwan cuma bilang: 'sebentar lagi kok a', paling satu tanjakan lagi...'

saya jadi berpikir yaaa... memang cuma ada satu tanjakan, tanjakan yang mana lagi maksudnya ini yaaa.. hahahha..



Setelah sekitar 6 jam pendakian dari pos pertama pintu Gunung Putri, akhirnya semua kelelahan kami terbayar lunas, kami disambut dengan Padang Edelwis yang luas, angin semilir yang sejuk, walau dingin dengan angin terus menderu-deru menyertai.. itulah SuryaKencana, sering disingkat SK atau Surken..

Selama di Surken, kami makan siang/makan besar kali ini, bukan cemilan pengganjal perut alakadarnya karena setelah Surken ini kami mulai mendaki puncak Gunung Gede, sebab Surya Kencana adalah lembah terdekat dari kaki Gunung Gede. Tak terbilang dengan angka betapa indahnya Surya Kencana ini, saya bersukur pada ALLAH.SWT bisa sampai tiba disini, menikmati pemandangan padang Edelwis berkabut tipis, apalagi ketika kedua kaki ini dibelai rerumputan yang bergerak-gerak tertiup angin semilir. Dari Surya Kencana ini, pepohonan hijau Gunung Gede manatap ramah menyambut dengan ramah mempersilahkan siapapun untuk mendaki sang salah satu paku bumi Jawa Barat, Gunung Gede.


Hmhhh.... tapiiii... gara-gara angin yang dinging menohok-nohok menusuk-nusuk itu pencernaan saya terganggu.. huahahha... bawaanya selama di Surya Kencana mau BAB aja.. mules terus, jadilah saya minta ditemani si Aa' ke lokasi terdekat buat buang air a.k.a berak dan sama Aa' ditunjukannyalah tempat tongkrongan yang asik ditepi aliran sungai yang berasal dari mata air. Lalu pencernaan saya kembali pulih (walau rupanya untuk sementara saja!!!) seiring dengan hajat saya yang mengalir lepas diantara bebatuan dan derasnya alirang anakan sungai itu hahahahaha.... untung pas lagi g ada orang soalnya baru sadar kalo disana itu sudah dekat dengan Camping Area, yang artinya kalo lagi banyak orang tentu dilarang BAB disitu... yah yah yah bersama dengan postingan ini saya mohon maaf kepada semua pendaki yang camping di Surken tepatnya ditepi aliran sungai itu ya..heheeehhe...

Hari sudah makin sore, sudah saat nya melanjutkan perjalanan, setelah mengisi perut juga persediaan air yang cukup, kami ber-14 berangkat!! (berang-berang makan cokat.. BERANGKAAAATTTT!!!!).. Jarak pandang kami mungkin cuma radius 2-3 meter, karena kabut yang menutupi.. belum lagi angin, namun itu tidak menghalangi kami untuk tampil bersama sebagai keluarga besar dalam satu kenangan yang bersatu paduu... halahhhhhhh lebay ahhh bilang aja poto-poto hahahaha... inilah dia.. poto itu..

(Tu yang paling pojok kanan kayaknya lagi nahan-nahan sesuatu ya ahhahaha :D)

Awal-awal langkah kami menuju puncak Gunung Gede disambut dengan suasana yang makin lamat-lamat gelap menutup pergantian hari menuju malam, kurang lebih hampir sudah jam 4 sore waktu itu, sementara pendakian menuju puncak paling tidak membutuhkan waktu 1-1,5 jam. dengan kata lain hanya akan ada sedikit waktu untuk kami menikmati alam dari puncak gunung Gede. Tapi tak apa.. langkah sudah kepalang maju, lelah untuk kembali, hanya ada satu pilihan yaitu terus berjalan..

Benar saja rupanya walau dengan tenggat waktu yang tak terlalu lama, kesulitannya justru ada pada saat menuju puncaknya, medannya cenderung vertikal, tidak ada lagi sisa lahan yang landai.. yang ada cuma bebatuan dan kita berpegangan erat pada kayu pepohonan.. sambil kedua kaki terus menapak menanjak menuju puncak sampai akhirnya triangulasi puncak Gunung Gede mulai terlihat, langit biru yang tadinya tertutupi dedahanan dan dedaunan pohon kini mulai terlihat, vegetasi mulai berubah, dan medannya semakin agak melandai.. kemudian ketika Hatta dan Edja berteriak: PUNCAAAKKK WOOOIIIIIIIIIIIIIIIII PUNCAKKKKKKK KITAAAA DAAA SAMPAIIIII!!!

Alhamdulillah.. tiba juga dipuncak.. saya awali pijakan kaki saya di puncak Gunung Gede sambil bersujud sukur, duduk santai kemudian kami melepas penat sambil menghirup segelas teh manis hangat yang kami bawa dari Surya Kencana.. disitu segala kelelahan dan kepenatan berubah menjadi kegembiraan dan kebanggan melihat alam Indonesia dari salah satu puncaknya. Momen-momen ini kami rayakan dengan menikmati coklat yang dibawa Ronaldi yang ia namai the Winning Cocholate hahahhaha...serta tak lupa juga dengan mengabadikannya lewat jepretan kamera...

Dari puncak Gunung Gede ini, pikiran saya mundur melesat jauh ke saat-saat yang telah pernah saya lewati kemudian wajah-wajah yang telah banyak membantu dan berbuat baik kepada saya muncul bergantian dalam alam bayang imajinasi ini. saya lihat mereka tersenyum, entah bangga entah bahagia,namun yang pasti yang bisa saya tangkap dari semburat senyum itu adalah pesan bagi saya untuk menjadi manusia yang bermanfaat,ikhlas dan bertanggung jawab. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi paling tidak saya berusaha menjadi seseorang semasa saya hidup.


cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati..



Wassalamualaikum

P.S:
-----
Next post will be about Mounteneering to Pangrango..

Read more »