10.08.2008

FilmLaskarPelangi

Pulau Belitung, terpisahkan oleh selat gaspar ke Pulang Bangka, tadinya secara administratif masuk di wilayah Provinsi Sumatera Selatan। otonomi daerah dibidang pemerintahan membuat kedua pulau ini berdiri sendiri sebagai Provinsi Bangka Belitung,kala itu tahun 2002. tapi bukan ini yang ingin aku sampaikan disini, bukan tentang perpolitikan, birokrasi apalagi geografi. ada sisi lain dibalik itu semua, suatu sisi yang geliatnya dimulai di tahun 1970an, dialami langsung oleh 10 orang anak-anak (kala itu), dan dirasakan hingga kini dalam bentuk film yang berjudul LASKAR PELANGI, besutan sineas muda Indonesia, Riri Riza dan Mira Lesmana. semangat, inspirasi dan babak-babak yang mengetuk nurani dalam kisah nyata yang difilmkan itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pernah ada cerita tentang perjuangan dan keikhlasan yang menggugah dari Pulau yang nyaris bukanlah apa-apa ditengah gambaran peta daratan dunia.

sejak diputar perdana pada 25 September lalu,berbagai tulisan yang mengomentari tentang film ini bermunculan,baik di dunia maya maupun media cetak. ada yang memberi komentar tentang kisahnya, alur ceritanya, penokohannya. banyak yang memuji tapi tak sedikit yang memberi kritik. tapi apapun itu, wajar dan biasa itu terjadi sebagai tanda-tanda adanya reaksi dan tanggapan, paling tidak itu menunjukkan bahwa kita bangsa Indonesia masih peduli dengan perkembangan dunia perfilman negara kita tercinta ini.



aku sendiri memiliki komentar atas kisah nyata yang dibuat film ini, komentarku ini adalah tentang pelajaran , yang aku dapatkan setelah membaca novel nya yang kemudian aku tonton pula filmnya। semua tokoh yang memerankan masa kecil semua anggota laskar pelangi benar-benar putra-putri asli pulau belitung, mereka lugu dengan gaya bicara dan sikap yang tidak dibuat-buat, cukuplah kepuasan hati bagi mereka setelah memainkan fim laskar pelangi ini, jauh sekali pikiran mereka dari keinginan untuk menjadi terkenal, karena memang bukan itu tujuan mereka. 'kami memang bukan siapa-siapa kok', ujar Verris Yamarno, pemeran tokoh Mahar, saat ditanya tentang kemungkinan untuk tidak dikenal kembali setelah bermain di laskar pelangi. bagi mereka lingkungan di kampung mereka di Pulau Belitung lebih menyenangkan ketimbang Jakarta yang penuh dengan kemacetan.




kisah ini menjadi begitu disukai dan berkesan karena isi cerita yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang dialami penduduk Indonesia kelas menengah kebawah umumnya, termasuk aku, aku tidak malu mengakuinya. kisah tentang perjuangan pemenuhan kebutuhan lahir dan batin untuk kualitas hidup yang lebih baik, ditengah keterbatasan dan tipisnya kemungkinan. Kisah tentang keikhlasan yang memberikan ketenangan batin dan kekuatan dalam berjuang melawan kesulitan dan miskinnya dukungan.


seorang teman berkata bahwa hal yang penting yang ia dapatkan dalam kisah ini adalah kenyataan bahwa 'Semangat Justru Lahir Karena Keterbatasan' , betul juga kata teman ini, ditengah keterbatasan itu terbukti ke sepuluh anak laskar pelangi justru tetap bertahan melanjutkan sekolah, namun tidak bagi salah seorang anggotanya yang bernama Lintang, seorang anak jenius didikan alam, yang karena keterpaksaan justru harus meninggalkan sekolah guna menggantikan peran ayahnya, yang meninggal saat melaut, menafkahi keluarga। bagian inilah yang paling tidak saya sukai dalam film ini, sekaligus menjadi bagian yang memiliki titik tekan yang paling kuat yang membuktikan lagi-lagi bahwa 'Semangat Justru Lahir Dalam Keterbatasan', terlihat bahwa semangat untuk terus belajar tetap tidak hilang dalam jiwa Lintang, setelah berpuluh tahun lamanya justru semangat itu telah tertularkan ke putrinya dan teman-teman sekolahnya dahulu, waktu di SD Muhammadiyah di desa Gantung, Belitung.


rasa syukur ternyata mampu mengesampingkan rasa sedih,rasa kekurangan, rasa seperti orang malang dan rasa-rasa lainnya yang amat dekat dengan kemiskinan। semuanya dibawa tertawa, ceria dan jenaka, bukan hendak melupakan, namun rupanya begitulah sebaiknya menjalani hidup, menikmati setiap langkah perjuangan, tidak terseret rasa iri melihat segala kemudahan dan keberuntungan yang didapati orang lain,dalam kisah ini, cita-cita yang begitu kuat untuk tetap bisa sekolah telah menuntun semua anggota laskar pelangi memiliki keberanian untuk terus tetap bertahan di jalan perjuangan, "kita harus berani bercita-cita, kal!! kita harus sekulah tinggi, biar bisa jadi orang pintar... dan dari sekulah inilah perjalanan itu kita mulai!" begitu salah satu dialog yang dibawakan tokoh Lintang ketika menyadarkan teman-temannya yang nyaris hilang harapan untuk terus sekolah. hebat!.


tepat sekali pilihan Riri-Mira meminta Nidji membuat lirik untuk film ini, mereka bisa jadi tidak paham betul rasa yang dialami anak2 laskar pelangi di pedalaman Pulau Belitung itu, namun umumnya bait yang Band ini buat cukup mewakili jiwa dari kisah nyata ini। ini dia sebagian liriknya:

----------------------------------------------------

Mimpi....Adalah Kunci, untuk kita menaklukan dunia...Berlarilah..Tanpa lelah, sampai engkau meraihnya.....
Menarilah dan terus tertawa....Walau dunia tak seindah surga...Bersyukurlah pada yang Kuasa..Cinta kita di dunia...Selamanya....
--------------------------------------------------------------

ataupun lirik yang dinyanyikan Ipang yang judulnya Sahabat Kecil, lagu tentang keceriaan anak-anak laskar pelangi yang mengisi liburan sekolah mereka dengan membantu orang tua, ada yang berdagang, melaut ataupun mencari timah di penambangan, namun mereka tetap ceria dan tertawa... ada rasa syukur disana...
Baru saja berakhir hujan disore ini....menyisakan keajaiban, kilauan indahnya pelangi....melawan keterbatasan walau sedikit kemungkinan..takkan menyerah untuk hadapi...hingga sedih tak mau datang lagi....
--------------------------------------------------------
menjadi manusia berpendidikan yang tinggi dan menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat, adalah gambaran tentag diriku yang aku inginkan dihari esok, sembari tetap berusaha untuk bisa bersyukur dan menikmati hidup,semoga ALLAH.SWT memberi jalan dan kekuatan dalam menempuhnya amin...



Read more »