5.31.2012

Finale: Memoar Pendakian Dempo (II)

Di gerbang Pintu Rimba Gunung Dempo, Rabu 16 Mei 2012, baru saja lewat waktu Magrib. Kami berdoa memulai pendakian, di bawah sana, Kampung Empat sepertinya terbiasa melewati malam dalam gelap lantaran listrik hanya masuk dari pagi hingga sore saja. Sehingga tidak ada view kelap kelip lampu perkampungan, yang ada cuma Bukit Barisan yang berdiri gagah mengelilingi hijau lahan dibawahnya. Kami mulai bergerak pelan, masuk ke rimba Dempo dengan headlamp siaga di kepala, sampai detik itu Dempo aku kira masih termasuk gunung yang medannya terbilang lumayan namun tidak untuk detik- detik berikutnya hingga berjam- jam kemudian sekalipun. Karena Dempo ternyata adalah Gunung yang Berat. Mengingatkan siapapun yang pernah mendaki Ciremai via Linggajati/Linggasana dengan tanjakannya ditambah paduan medan basah yang ada di Salak. Event words can't describe!


Rabu, 16 Mei 2012

Pintu Rimba - Shelter I
Perjalanan menuju Puncak Dempo memakan waktu sekitar 5 jam. Namun dengan medan yang terus- menerus menanjak (mungkin sekitar 60 - 70 derajat) nyaris dan sedikit saja dataran, maka toleransi deviasi standar menurutku cukup wajar sekitar 0,5- 1 jam. Sekitar 1 jam dari Pintu Rimba hawa dingin udara pegunungan mulai terasa menusuk sehingga sangat dianjurkan untuk terus berjalan saja hingga istirahat sejenak di Shelter I. Sekitar 1 jam trekking kami tiba di Shelter I, sebuah lahan yang cukup luas untuk beristirahat sejenak sekedar menghangatkan tubuh dengan minuman hangat dan melepas carrier di pundak. Di Shelter I ini belum terdapat sumber mata air, baru akan ada nanti di Shelter II.

Shelter I - Tanjakan Dinding Lemari
Usai refuel dan break sejenak, perjalanan kami lanjutkan, medannya belum terlalu jauh berbeda dari sebelumnya, hanya saja makin didominasi akar pohon menahun dan perdu serta lebih sedikit bonus, yang ada cuma tepian jalur yang disangga oleh reruntuhan pepohonan yang roboh. Lambat laun, kondisi tubuh sudah terbiasa dengan kondisi medan dan mungkin karena didukung juga karena kami mendaki pada malam hari sehingga terjalnya medan tidak terlihat dan secara psikologis kondisi ini memberi ketahanan lebih. Sekitar 1 jam kemudian kami tiba pada satu tanjakan cukup panjang sekitar 4-5 meter dengan kecuraman hingga 90 derajat, namanya Tanjakan Dinding Lemari. Beautifully Dangerous, i called it.
Namun kini di dekat tanjakan tersebut sudah dibuatkan jalur yang lebih aman sehingga pendaki dapat memilih jalur mana yang disukai. Tapi meski begitu, ternyata jalur yang akan dilewati setelah Tanjakan Dinding Lemari semakin terjal daripada yang sebelumnya.

Tanjakan Dinding Lemari - Shelter II
Melewati jalur menuju Shelter II, kami mulai sering istirahat, kondisi jalur yang kian berat, ditambah hari kian malam, rentan membuat siapapun jatuh terkantuk. Namun kami masih tetap berjalan sehingga setelah hampir 1 jam kemudian tiba di Shelter 2. Uwi dan Bange langsung mengambil air ke sumber mata air, sementara aku dan lainnya beristirahat duduk di Shelter 2, bahkan nyaris tertidur dengan posisi carriel masih di pundak, tak lama setelah itu, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum meneruskan perjalanan. Dari sini, citylight kota Pagar Alam sudah mulai terlihat. Begitu indah. Cukup lama istirahat makan, kami meneruskan perjalanan kembali.

Shelter II - Jalur Batuan Cadas - Puncak Dempo
Semakin menanjak keatas mendekati Puncak Dempo, medan pendakian kian terjal namun tidak lagi didominasi akar pohon menahun, hanya semak perdu dan pohon Cantigi, atau oleh penduduk setempat disebut Pohon Kayu Panjang Umur (Kapur). Kondisi fisik kami sepertinya saat itu, sudah mulai diserang kantuk yang amat sangat, ditambah lelah pula. Namun perjalanan tetap kami teruskan melewati makam seorang pendaki yang menurut informasi yang aku dengar adalah pendaki yang pertama kali membuat jalur ini, namanya aku lupa. Hampir 2 jam dan kami akhirnya tiba di jalur batuan cadas. Benar- benar cadas. Dari sini Puncak Dempo sudah tidak jauh lagi, namun kala itu aku pun berjalan seperti sudah tidak sadar menginjak bumi, kantuk ini benar- benar membuat mati rasa, tak lagi terasa lelah, semua mengambang. Sehingga besar sekali dorongan untuk mendirikan tenda sesegera mungkin.
Namun selaku Ketua Tim, Uwi meminta kesediaan kami untuk meneruskan perjalanan. It's sucks! but i realized he knew what he was doing! Dan alhamdulillah akhirnya sekitar 15 menit kemudian tiba di Puncak Dempo (3159 mdpl) kami hanya sesaat saja berdiri disana. Puncak Dempo adalah lahan kecil yang ditutupi vegetasi Cantigi. Kami pun sesuai rencana awal, segera turun ke lembah untuk mendirikan tenda, sebuah turunan yang terjal dan berliku- liku. Ketika 15 menit kemudian kami tiba di lembah, tanpa dikomando tenda langsung segera kami dirikan, dan tanpa ba bi bu, basa basi bisu, aku berlalu, tidur.

Kamis, 17 Mei 2012

Lembah - Puncak Marapi
Pagi, walau malas beringsut, akhirnya aku keluar juga dari tenda. Lembah ini ternyata cukup luas, Cantigi ada dimana- mana dan tidak ada Edelweis terlihat, Puncak Api berdiri kokoh persis didepan kami mendirikan tenda. Kami mulai bersiap untuk sarapan. Tidak jauh dari sini ada semacam aliran sumber mata air bernama Sumber Mata Air Putri, begitu indah, begitu bening dan alami. Disini kami mengambil air dan mencuci perabotan. Setelah sarapan istimewa dengan Pempek Lenjer yang dibawakan oleh Zahri, kami bergerak menuju Puncak Api. 2 Jam pendakian melewati medan kerikil dan sedikit rimba perdu Cantigi, kami tiba di Puncak Marapi Dempo. Puncaknya berupa lahan luas dengan kawah yang masih aktif. Di puncak ini terdapat makam seorang tetua kampung zaman dahulu, yang sayangnya menjadi objek penyembahan mereka yang belum paham. Tanpa bermaksud menggurui, aku jujur menjadi bingung melihat sebuah makam dipuja, disucikan, dan dijadikan tempat meminta.
Puncak Marapi Dempo
Alhamdulillah, kami dikuatkan juga hingga tiba di Puncak Marapi Dempo, lengkap dari awal. Disini, semua keletihan dan beratnya medan semalam bagai tidak terjadi saja. Lupa semua, semua lupa. memang benar bahwa finally the persistence paid off at the end. Dan seperti biasa, tidak lupa kami mengabadikan kenangan dalam gambar, tanpa bermaksud apapun, karena memang tidak ada yang bisa kami ambil selain poto dan poto lah yang kelak belasan atau mungkin puluhan datang mampu bercerita tentang perjalanan ini.
Dengan panduan dari Zahri, kami mengambil rute pendakian dengan jalur Kampung IV dan turun lewat jalur Tugu Rimau. Jalur turunan lewat Tugu Rimau ini benar- benar ekstrim, terdapat dua titik sangat terjal namun sudah terpasang tali sebagai alat bantu, selebihnya adalah jalur terjal dengan lahan perdu terbuka makin turun makin rimba dan sekitar pukul 7 malam kami tiba di Tugu Rimau disambut oleh dingin, sepi dan citylight kota Pagar Alam. Disini kami bermalam di Mushollah untuk keesokan paginya meneruskan perjalanan pulang kembali ke peradaban. Terima kasih banyak kepada Zahri atas segala bantuan sejak awal hingga akhir sehingga kami dapat melaksanakan pendakian ini, we owe you more than thanks.



Buat Uwi, Bange, Aconk, Pak Lurah, Suci, Riya, Ame dan Yuda. Terima kasih banyak. What Dempo served to us might leave us speechless, and the way we handled it was what showing us that we are just stronger than we thought.
P.S:
----
#Di lembah ini, aku heran, ada Burung Merpati putih sendirian, penasaran dari mana datang nya dan mengapa sendirian, agak janggal kalau Burung Merpati terbang setinggi ini. Burung nya jinak, seperti kata pepatah Jinak Jinak Merpati.
#Dikarenakan keletihan fisik, maka poto- poto sepanjang pendakian tidak sempat diambil.
#Courtesy Photo By: Wirawan Yuda dan Moehammad A Noeryadi.

Read more »

5.29.2012

Memoar Pendakian Dempo (I)

Gunung Dempo (3159 mdpl) adalah titik tertinggi Sumatera Selatan dan merupakan salah satu gunung di sepanjang deret Bukit Barisan yang mengelilingi sebuah kota bernama Pagar Alam. Gunung ini menjadi tujuan kami begitu selesai mendaki Gunung Kerinci. Perjalanan menuju Kota Pagar Alam kami tempuh dalam waktu hampir 14 jam dari Kota Sungai Penuh dengan menggunakan jasa Travel yang ongkosnya dipatok Rp. 200.000,-/ orang. Sebetulnya bisa saja kami pakai jalur estafet yang ongkosnya lebih murah, tapi dengan pertimbangan efisiensi waktu dan ditambah keraguan akan ketersediaan bis di malam hari, maka men- charter mobil travel ELF 3/4 bisa kami pikir akan lebih baik. Dan pada tanggal 15 Mei 2012, sekitar pukul 15.00 WIB kami berangkat dari Kota Sungai Penuh (Jambi) menuju Kota Pagar Alam (Sumatera Selatan).

Dengan posisi geografis diantara Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan, maka tentu saja rute yang ditempuh melintasi Bengkulu dengan tujuan Kab. Kepahiang yang berbatasan langsung dengan Kab. Lahat (Sumatera Selatan). Dari Lahat, maka Kota Pagar Alam sudah tidak jauh lagi. Berikut secara ringkas rute yang kami tempuh menuju Dempo ;

Desa Kersik Tuo (Jambi)- Kota Sungai Penuh (Jambi)- Kab Muko-Muko (Bengkulu)- Kab Lais (Bengkulu)- Kota Bengkulu- Kab Kepahiang (Bengkulu)- Pendopo (Sum Sel)- Kota Pagar Alam (Sum Sel).

Berhubung berangkat mulai sore hari, maka hampir total perjalanan kami lewatkan dengan beristirahat sepanjang jalan sampai tertidur, kecuali ketika istirahat makan di daerah Air Hitam, Kab. Muko- Muko, yang belakangan baru aku tahu sangat dekat dengan wilayah Pantai Barat Sumatera. Menjelang pagi hari, ketika kami sudah memasuki wilayah perbatasan antara Pendopo dan Pagar Alam, aku sudah dalam posisi siaga untuk menghubungi teman yang akan menyambut kami di Dempo nanti. Sekitar pukul 06.00 WIB tanggal 16 Mei 2012. Kami tiba di Pagar Alam menuju PTPN Pengelola Perkebunan Teh di Kaki Gunung Dempo dan setelah beberapa kali salah arah akhirnya kami istirahat sejenak di Vila Pemkab Lahat.
Disini kami sempat diskusi alot dengan supir ELF tumpangan kami agar mengantar kami hingga ke titik pendakian yang rupanya masih sangat jauh. Namanya Kampung Empat (IV). Ditengah diskusi ini, teman yang kami nantikan akhirnya datang, namanya Zahri. Walau begitu, tetap saja tidak ada titik temu, dan finally we got a blessing in disguise, sebuah truk pengangkut para petani pemetik teh berkenan memberi kami tumpangan hingga mendekati Kampung Empat. Tak disangka memang, justru dengan berada dalam tumpangan truk ini, kami berkesempatan menikmati pemandangan Gunung Dempo dan lahan perkebunan teh maha luas yang begitu indah. Alhamdulillah. Sehingga bagi siapapun yang hendak mendaki Dempo, harap diperhatikan bahwa sangat jarang ada angkutan yang bersedia mengangkut hingga ke titik gerbang pendakian, jadi jangan sungkan untuk menanti tumpangan truk.
Kampung Empat tempat kami memulai pendakian, hanya sebuah perkampungan kecil yang terdiri beberapa KK saja, namun fasilitas cukup lengkap, ada Taman Kanak- Kanak, Masjid, Air Bersih. Kelihatannya kampung ini memang disediakan oleh PTPN bagi para penduduk yang bekerja sebagai pemetik teh di sekitarnya. Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB 16 Mei 2012 kami sudah tiba di gerbang pendakian sebelum Pintu Rimba, istirahat sejenak untuk repacking dan menikmati udara pagi dan pemandangan yang menenangkan di kaki Gunung Dempo. Sejurus kemudian, perjalanan dimulai. Dipandu oleh Zahri, kami mengambil rute singkat menuju Pintu Rimba walau aku pribadi agak kebingungan. Baru ketika memasuki Magrib kami tiba di Pintu Rimba.

Kota Pagar Alam- PTPN Perkebunan Teh- Kampung I- Kampung II- Kampung IV- Shelter Kampung IV- Pintu Rimba.
To Be Continued...

Photo Courtesy By: Moehammad A Noeryadi dan Wirawan Yuda

P.S:
------
FYI, Dempo sebetulnya lebih dikenal oleh penduduk asli dengan nama Dempu, namun logat Palembang yang lazim mengakhiri suatu kata dengan huruf O maka nama Dempu berubah menjadi Dempo hingga kini.

Read more »

5.27.2012

Finale: Catatan Pendakian Kerinci (III)

Alarm berbunyi pertanda persiapan untuk Summit Attack dimulai dan sesuai rencana, pukul 04.00 kami akan mulai bergerak menuju puncak Kerinci 3805 mdpl. Aku bangun paling awal, namun terdengar suara dari tenda sebelah yang rupanya sudah bangun terlebih dahulu, setelah 'mengumpulkan nyawa' beberapa menit, aku beranikan diri keluar tenda melawan udara dingin. Di Shelter III ini rupanya ada sekitar hampir 8 tenda dari dua tim yang berbeda, tim kami dan satu lagi tim Antjur. Dibawah sana, kota Sungai Penuh dan Desa Kersik Tuo nampaknya masih terlelap dalam tidur nyeyak. Satu- satu dari kami mulai terbangun dan bersiap dengan peralatan masing- masing serta peralatan kelompok; kamera, logistik, P3K, dan air minum serta sebuah daypack.

Senin. 14 Mei 2012, sekitar pukul 04.00 WIB.
Kami semua berdiri melingkar, lalu berdoa sebelum mulai menuju puncak, headlamp dalam status menyala karena kondisi gelap, beruntung beberapa meter awal medan menuju puncak didominasi pohon Cantigi dan jalur yang cukup jelas namun cukup sempit. Dalam kondisi gelap ini, terjalnya medan dan jauh nya jarak belum terlihat jelas, hanya pancaran lampu headlamp pendaki lain di atas sana yang terlihat kecil cukuplah menunjukkan bahwa jarak tempuh keatas begitu jauh dan terjal. Semakin keatas, vegetasi makin jarang ditemui yang ada hanya medan kerikil dan bongkahan batu vulkanik yang bisa dijadikan sandaran. Aku mengambil posisi didepan tepat dibelakang guide Herru, bersama dengan Riya.

+/- 1 jam kemudian...
Perjalanan kami makin berat, nafas kian tersengal- sengal. Medan yang dilewati murni pasir kerikil dan bersandar pada batu, sehingga sangat dianjurkan mengenakan sepatu trekking supaya menghindari infeksi kuku lantaran infiltrasi pasir. Berat dan curamnya medan ini berpadu dengan hawa dingin. Sangat tidak baik berdiam diri terlalu lama karena udara dingin ditambah kantuk bisa menyebabkan hipotermia. 15-20 langkah dan berhenti 1 menit, itu formula yang aku pakai. Persiapan fisik beberapa minggu sebelumnya benar- benar bermanfaat ketika dalam kondisi seperti ini karena ketahanan nafas berperan penting. Jaket tebal yang hangat, windstopper, sarung tangan begitu berguna. Bagi yang khawatir dengan pasokan Oksigen yang kurang, sebaiknya membawa Oxycan 500 cc untuk persediaan cadangan.

+/- 1 jam kemudian...
Langit mulai cerah, gelap berganti jingga dan Matahari mulai muncul dari ufuk Timur, Danau Gunung Tujuh terlihat jelas dan begitu indah, sementara di sisi Barat sana, Samudera Hindia terlihat jelas bahkan garis putih deburan pantai di tepi pantai barat Sumatera bisa terlihat. Kami menikmati pemandangan ini dari Tugu Yuda (3605 mdpl), sebuah Tugu yang dibangun untuk memperingati seorang pendaki bernama Yuda yang hilang disekitaran koordinat ini ketika menuju Puncak Kerinci. Dari sinilah kami menikmati sunrise dan melihat langit perlahan mulai terang. Aku dan Riya memutuskan untuk mendahului rombongan, karena aku khawatir pada kondisi fisik Riya yang bila dibiarkan terlalu lama istirahat membuat nya harus aklimatisasi lagi dari awal.

Menjelang pukul 07.00
Puncak Kerinci mulai terlihat jelas, suara- suara mereka yang sudah tiba terlebih dahulu terdengar menyemangati, apalagi bila bertemu rombongan lain yang justru sudah hendak turun. Menoleh kebawah, terlihat bentangan hutan hijau Kerinci, area tempat kami bermalam terlihat begitu kecil dan warna warni oleh tenda. Sejujurnya aku katakan, aku belum pernah se-enjoy ini dalam mendaki, medan yang berat kunikmati di tiap langkahnya, tanpa beban, atau ambisi apapun, hanya semata- mata untuk menikmati. Aku berjalan sambil menyemangati Riya dengan gaya intimidasi yang terdengar kejam atau memaksa, namun aku kira memang tidak ada cara lain dalam memperkenalkan suatu kegiatan pendakian. Selain kenyataan bahwa alam tidak akan pernah membedakan jenis kelamin, alam tidak akan memberitahu dahulu bilamana ia hendak murka. dsb. dsb. Dan aku sudah siap jika ini akan membuatku terlihat tidak berperasaan. Semata- mata kulakukan untuk kebaikan.

Sekitar Pukul 07.30 WIB
Puncak Kerinci akhirnya terlihat depan mata, membuat semangatku terpacu lebih kuat. Dan akhirnya sujud syukur ku kepada ALLAH.SWT karena tiba juga aku di Atap Sumatera 3805 mdpl. Semua rasa lelah terbayar dengan kepuasan dan keterpesonaan akan keindahan ciptaan ALLAH.SWT. Hutan hijau, Pemandangan Danau Gunung Tujuh, Samudera Hindia, dan Kawah Kerinci yang mengeluarkan kepulan asap belerang pekat. Pekatnya belerang memang membahayakan, sehingga aku minta Riya untuk tidak berlama- lama di puncak dan turun kebawah dengan rombongan Tim Antjur, sementara dengan masker aku masih tetap diatas sambil menunggu mereka yang masih di bawah sana.

And... We have such a celebration..
Akhirnya semua tim tiba juga di puncak, sempurna! Alhamdulillah. Riya, Herru, Uwi, Fita, Jainer, Aconk, Fikri, Bange, Yuda, Ame dan Suci. We did it!. It is time to perpetuate these precious moments!! 14 Mei 2012, mungkin bisa saja akan terlupa dalam kehidupan kita, tapi tidak dengan momen yang terjadi didalamnya, berdiri bersama di ketinggian 3805 mdpl, Puncak Berapi Tertinggi di Indonesia, Atap Sumatera berkat ridho Tuhan yang Maha Kuasa.

Kepada semua tim Kempo, terima kasih banyak, i salut you for being brave and strong! dan dari sini perjalanan kita masih panjang, juga terima kasih banyak kepada Herru dan Bang Johan atas bantuannya selama di Kersik Tuo dan menemani pendakian ini. Juga kepada Tim Antjur, plang baru buatan dari tim ini kami jadikan model dalam beberapa poto yang kami ambil. juga khususnya kepada Ociel atas bantuannya merawat Riya yang tepar ketika tiba di Shelter III dan menemani nya ketika turun kembali kebawah. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih kepada Kak Feri dan Andreas yang membantu ketika kami di Jambi dan memberi kami bantuan transportasi serta tumpangan menginap sebelum meneruskan perjalanan ke Kerinci.

Mei 2012
Salam.
Ebas.

P.S:
----
Photo Courtesy BY: Moehammad A Noeryadi & Bhulblues Antjur

Read more »

Catatan Pendakian Kerinci (II)

Di pagi hari dari basecamp, begitu membuka pintu, gagah dan indahnya Gunung Kerinci langsung terlihat jelas, nyaris tanpa terselubung kabut! Kepulan asap putih dari puncaknya memang sempat menjadi sorotan media, namun bagi masyarakat Desa Kersik Tuo, hal itu sudah biasa dan sama sekali tidak membuat mereka gentar. Kehidupan berjalan seperti biasa tanpa distraksi yang berarti disini; bertani, berdagang, memetik teh, menarik hewan ternak dll. Setelah beberapa saat menikmati Gunung Kerinci dari kejauhan, sarapan pagi dengan sambal kentang hasil pertanian asli Desa Kersik Tuo dan repacking, kami berangkat memulai pendakian dengan dijemput angkot untuk menuju titik gerbang pendakian, Pintu Rimba didekat pondokan R10 (1580 mdpl).


Minggu, 13 Mei 2012 Basecamp- Pintu Rimba- Pos I
Kami berdua belas sudah tiba di Pintu Rimba (1600 mdpl) dan memulai pendakian, medan awal masih terbilang landai dan terbuka. Karena masih lokasi lahan pertanian penduduk, para petani sibuk bercocok tanam, kami berlalu dengan beraklimatisasi lantaran berat beban carriel di pundak. Pintu Rimba ini merupakan batas Taman Nasional Kerinci Seblat dengan areal pertanian. Memasuki wilayah rimba tropis hutan Kerinci, flora khas hutan basah begitu lebat dan rapat. Wajar bila fauna liar hutan tropis masih begitu banyak disini, bahkan hingga ketinggian 2000 mdpl, merupakan habitat asli Harimau (Phantera Tigris). Sekitar hampir 1 jam dari Pintu Rimba, kami sudah tiba di Pos I (1800 mdpl).

Minggu, 13 Mei 2012
Pos I- Pos II
Perjalanan berlanjut ke Pos 2 (1909 mdpl). Medan masih relatif sama, masih cukup landai namun kondisi flora makin lebat dan rapat, meski begitu jalurnya bisa dilihat dengan jelas. Di sisi kiri kanan begitu sering dijumpai pohon menahun yang tinggi dengan diameter batang yang lebar. Kicauan burung dan nyanyian jangkrik hutan makin kentara, harmoni alam! Hampir 1 jam perjalanan dan akhirnya kami tiba di Pos 2 ini.

Pos II- Pos III
Menuju Pos 3 (2000 mdpl), medan sudah mulai agak curam, jalan semakin sempit ditambah pula kondisi yang basah membuat jalur makin licin. Kondisi flora tropis sepanjang jalur menuju Pos 3 ini makin lebat. Pohon lebar dan tinggi makin sering dijumpai. Kami tiba di Pos 3 setelah trekking hampir 1 jam. Sangat dianjurkan untuk berpakaian senyaman mungkin selama menempuh jalur ini, mengingat beratnya medan dapat membuat keringat ekstra.

Pos III- Shelter I
Dari Pos menuju Shelter. Memang penamaanya begitu, tanpa alasan khusus mengapa. Namun waktu tempuh dari Pos ke Shelter lebih panjang dari pada antar pos sebelumnya, sekaligus lebih berat dan lebih curam. Vegetasi yang ada sepanjang jalur sudah mulai menunjukkan iklim pegunungan. Simbiosis antara pohon dengan jumputan gelantungan rumput hijau dapat dijumpai dengan mudah. 2 jam perjalanan kami tiba di Shelter 1 (2225 mdpl), sebuah area luas untuk beristirahat, sholat dan makan. Dan, rupanya kami disini mulai underschedule karena terlalu lama beristirahat.

Shelter I- Shelter II
Waktu tempuh antara dua shelter ini sekitar 2,5 jam karena memang cukup jauh dan medannya makin terasa berat. Makin dekat ke Shelter II (3071 mdpl), vegetasi sudah mulai didominasi tumbuhan perdu dan Cantigi, bahkan jika cuaca cerah, maka di sepanjang jalur, dapat terlihat Danau Gunung Tujuh. Camp Area di shelter ini berupa lahan yang cukup luas, namun terbuka sehingga tidak dianjurkan untuk bermalam disini. Namun, disarankan untuk istirahat agar tubuh kembali fit mengingat perjalanan menuju Shelter berikutnya makin berat.

Shelter II- Shelter III
Dari Shelter II sebetulnya perjalanan ke Shelter III sudah tidak terlalu jauh lagi, namun beratnya medan tempuh membuat energi dapat terkuras sehingga memperlambat perjalanan, jadi sangat disarankan agar kondisi tubuh cukup prima agar bisa melewati medan terjal dan bebatuan cadas hingga sampai di Shelter III. Normalnya, waktu tempuh dari Shelter II ke Shelter III adalah 1 jam, namun deviasi standar untuk toleransi mungkin bisa ditambahkan sekitar 0,5- 1 jam. Shelter III (3320 mdpl) adalah lahan luas yang biasa dijadikan Camp Area untuk persiapan Summit Attack besoknya. Dari sini, sudah terlihat jelas bentangan pemandangan Desa Kersik Tuo, Kota Sungai Penuh hingga Danau Gunung Tujuh, terlebih jika di malam hari maka citylight pemandangan tersebut akan sangat sayang dilewatkan.

Tiba di di Shelter III ini disaat magrib, setelah mendirikan tenda dan menyiapkan beberapa hal. Setelah semua anggota tim berkumpul, kami makan malam bersama diselingi minuman hangat yang begitu nikmat disesap antara hawa dingin Gunung Kerinci. Besok pagi, persiapan menuju puncak, maka setelah makan malam, kamipun beristirahat. Aku yang tidur paling cepat, sayup- sayup tidak terdengar suara apalagi, hanya aku,mereka, malam dan dingin.

P.S:
-----
Photo, Coutesy By: Moehammad A Noeryadi.

Read more »

Catatan Pendakian Kerinci (I)

Kerinci dengan ketinggian 3805 mdpl merupakan Gunung Berapi tertinggi di Indonesia, berada di Kabupaten Kerinci, Kec Kayu Aro, Desa Kersik Tuo. FYI, dulu nya Kabupaten Kerinci ini masuk wilayah Provinsi Sumatera Tengah, namun pada 1957 ketika Provinsi Sumatera Tengah di pecah, maka wilayah Kerinci ditambahkan dengan bekas wilayah Kesultanan Jambi menjadi Provinsi Jambi berdiri sebagai satu kesatuan wilayah bersama dengan 27 provinsi lainnya kala itu. That is just a brief view. Catatan ini menjelaskan rute, waktu tempuh dan medan pendakian Gunung Kerinci yang kira- kira sepekan lalu kami lakukan.

Rute dan Waktu Tempuh;

Kami memilih transportasi darat dari Palembang pada tanggal 11 Mei 2012. Berangkat dari Pool Bis AKAP IMI AC di KM 12 seberang Asrama Haji Palembang, dengan tiket Rp. 60K. Ketika itu pukul 10.00 WIB dengan tujuan Kota Jambi. Karena menurut informasi yang kami peroleh tidak ada Bis langsung dari Palembang ke Kerinci, melainkan hanya sampai di Kota Jambi. Sehingga rutenya adalah: Palembang- Jambi- Kerinci.

1. Palembang- Kota Jambi, 11 Mei 2012 @11.00 WIB

Bis IMI mulai berjalan pukul 11.00 WIB dari Kota Palembang, dengan waktu tempuh normal sekitar 5 jam, maka aku kira sebelum Magrib kami sudah akan sampai di Kota Jambi, dan juga masih banyak tersedia Travel ke Kerinci. Perjalanan ini melewati jalur Lintas Timur Sumatera, yaitu: Palembang- Betung- Sei Lilin- Bayung Lincir- Tempino- Kota Jambi. Adapun Betung, Sei Lilin dan Bayung Lincir masih masuk dalam Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musi Banyu Asin. Sampai di Tempino, maka sudah wilayah Provinsi Jambi. Namun, karena kendala teknis, Bis yang kami tumpangi baru masuk Kota Jambi menjelang magrib dan tiba di pool terakhir pukul 18.30 WIB. Alhasil, kami sudah ketinggalan travel tujuan Kerinci. Alhamdulillah, Berkat bantuan seorang teman di Jambi, kami menginap di Hotel Aini dan baru berangkat ke Kerinci besok pagi dengan travel Safa Marwah.

2. Kota Jambi- Kab. Kerinci, 12 Mei 2012 @11.00 WIB

Pagi hari pukul 09.00 WIB kami berempat (Aku, Yuda, Ame dan Riya) sudah dijemput oleh Travel Safa Marwah (kami pesan tiket ini di terminal pool bis IMI semalam begitu sudah tidak ada alternatif loket lain, dari agen yang ada di sana, namanya Bapak Tampubolon) dengan tiket sebesar Rp. 120K kami akan diantar sampai di Kota Sungai Penuh, dan dari sana kami berencana menumpang angkot ke Desa titik awal pendakian, Desa Kersik Tuo, Kec. Kayu Aro. Adapun rute dari Kota Jambi menuju Sungai Penuh, adalah sebagai berikut: Kota Jambi (Simp. Rimbo)- Sarolangun- Bangko- Sungai Penuh. Menurut informasi, waktu tempuh Kota Jambi- Sungai Penuh (Kab. Kerinci) adalah 12 jam, wajar saja, karena Kabupaten ini sudah hampir berbatasan dengan Sumatera Barat, bahkan 4 jam perjalanan sudah bisa sampai ke Kota Padang.

Perjalanan darat Kota Jambi- Sungai Penuh menempuh jalur yang berkelok- kelok, terlebih ketika sudah melewati Bangko menuju Sungai Penuh. Sangat dianjurkan untuk membawa obat anti mual atau masuk angin. Ketika kami istirahat makan di Sarolangun, kami memutuskan untuk langsung minta diantarkan ke Desa Kersik Tuo, karena diperkirakan kami tiba di Sungai Penuh pada malam hari dan sulit untuk mencari angkot yang masih beroperasi. Dengan menambah ongkor Rp. 37.500 per orang kami pun sepakat! Tiba di Bangko sore hari perjalanan langsung berlanjut ke Sungai Penuh dan tiba disana pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB. Sekitar 23.30 WIB kami pun sudah masuk di Desa Kersik Tuo dan turun persis di depan Tugu Macan, yang sudah menjadi ikon kenamaan desa ini.

Kamipun beristirahat di basecamp milik keluarga Heru, setelah dijemput oleh rekan kami Bang Johan, sambil menunggu rombongan anggota tim yang berangkat lewat jalur udara dari Kota Padang. Mereka pun baru tiba pada pukul 02.00 dini hari 13 Mei 2012. We're ready for Kerinci today! Bismillah...

To be continued...

P.S:
----
Photo, Courtesy By: Moehammad A Noeryadi.

Read more »

5.20.2012

Pendakian Kempo: Sebuah Catatan Pengantar

We may forget the dates but the moments happened within will remain eternal as memories and lessons as well as experience.

10 hari perjalanan panjang dalam rangkaian pendakian Gunung Kerinci dan Gunung Dempo baru saja usai. Rencana yang disiapkan berbulan- bulan silam ini berjalan lancar meninggalkan pengalaman yang sepertinya akan selalu lekat dalam ingatan setiap kami yang ikut serta didalamnya. Terima kasih atas kebesaran mu Tuhan, tanpa izin dan ridho Mu, mustahil perjalanan ini berjalan dengan hidup dan berkesan. Kau ijinkan kaki kaki kecil ini menapak diatas dua ciptaanMu, Gunung Kerinci (3805 mdpl) dan Gunung Dempo (3159 mdpl). Kusadar kebesaranMu Tuhan sekaligus betapa kecil dan lemahnya diri ini.

Pendakian Kempo (Kerinci dan Dempo) ini menyatukan kami 11 anak manusia dalam satu arah perjalanan dan tujuan yang sama. Uwi (Ketua Tim), Bange, Pak Lurah, Aconk, Suci, Fita, Riya, Yuda, Ame, Jainer dan Ebas. Well, garis suratan yang mempertemukan kita dalam sejurus persinggungan takdir kali ini atau mungkin juga kali lain nanti. Sebagaimana segala sesuatu sudah tertulis untuk ditempuhi dengan doa dan sabar. (Ah, mudahnya berkata, lidah memang tidak bertulang. Mungkin beginilah yang disebut pembelajaran). Terima kasih aku ucapkan untuk kalian! Things might never be tasted this deep if it was without you all guys! Apresiasi ku yang tinggi pun untuk kalian untuk segala pengorbanan dan perjuangan mewujudkan Pendakian Kempo ini, We just did an experience which money can't buy.

Perjalanan selama 10 hari (11- 20 Mei 2012) mengantarkan kita pada pengalaman lintas ruang (Sumatera Barat- Jambi- Bengkulu- Sumatera Selatan) dan budaya yang mungkin sama sekali baru bagi kita. Mulai dari sensasi pengalaman pertama membelah langit Ibu kota, melintasi jalur darat yang meliuk- liuk antara keindahan alam dan kengerian medan, Hijau dedaunan teh dan biru bersihnya langit, Nyanyian serangga pohon atau deru aliran sungai, logat bahasa dan aksen bicara yang terasa unik, gelap dan dinginya malam dalam dekapan hawa beku yang menusuk, hingga wisata kota dan kuliner di Palembang. Untuk sejenak kita telah mengosongkan kepala dari hiruk pikuk 'rimba' metropolitan.

Selancar apapun pendakian ini berlangsung, tidak akan lengkap aku kira tanpa bantuan Bang Johan, Heru dan Keluarganya juga Murdam yang banyak membantu selama berada di Desa Kersik Tuo dan juga pendampingannya ketika pendakian Kerinci berjalan. We owe you more than thanks, dudes/ dudettes! serta untuk Zahri, Arindi dan Keluarga Pak Anton di Pagar Alam yang telah banyak membantu selama berada di Pagar Alam dan pendakian Dempo. We owe you a treat, indeed! Tunggu saja akan kami segera tag poto- poto nya. Juga kepada Keluarga Pak Bambang (Bapak Kos) di Palembang atas tumpangan dan santapan semasa kedatangan kami di kota ini. Serta kepada Pak Sarono, atas kesediaanya memberi bantuan transportasi selama di Palembang sehingga memudahkan mobilitas.

Kini, setelah apa yang kita lewati, sudah saatnya kembali bersiap untuk 'berekspedisi' pada kehidupan yang sudah sama- sama kita tahu. Some people call it a normal life, but to me it is just a 'normal life'. And on behalf of everything, i am gonna miss those whole things! Salam penuh semangat untuk semua rekan- rekan pendakian Kempo! Let's live our life! Pelan- pelan dalam diam yang dalam kusadari, kini aku punya alasan dan motivasi lebih untuk kembali ke Jakarta, selain karena pendidikan juga agar bisa merajut cerita ekspedisi lainnya bersama kembali!!! Bismillah..

Ebas
Langit Jingga Kota Palembang
Mei 2012

Read more »

5.07.2012

The Firm Film Series

Setelah Prison Break, seperrtinya belum lagi mendapatkan film serial yang terbilang cerdas dan menarik. Namun The Firm membuat penantian itu selesai. The Firm kini masih tayang di Amerika untuk Season 1 Episode 15 dari 22 episode secara keseluruhan. Diadaptasi dari novel karya John Grisham dengan judul yang sama, menceritakan tentang Mitchelle Y Mc Deere, seorang pengacara lulusan Harvard yang hidup dalam pelarian lantaran satu kasus besar yang ditanganinya membuat ia menjadi buron komplotan mafia Keluarga Morolto.

The Firm Film Series merupakan lanjutan kisah Pengacara lulusan Harvard Law School, bernama Mitch, setelah lari dari Memphis dan memulai kehidupan baru bersama Istri dan anaknya (Abby dan Claire) di Washington dengan mendirikan sebuah Biro Hukum (The Firm) berkolaborasi dengan Saudara laki- lakinya Ray Mc Deere dan Tammy (kekasih Ray Mc Deere). Di Washington, dimana kehidupannya tidak lagi dalam program perlindungan saksi oleh FBI, ia menjalani karir sebagai pengacara independen yang piawai menangani kasus- kasus pelik dan penuh intrik. Kepercayaan publik atas kapabilitasnya mengalir deras.

Hingga suatu hari sebuah Biro Hukum kenamaan yang bermarkas di Washington mengajaknya untuk bergabung, dengan status kerja sama secara asosiasi akhirnya Mitch menerima tawaran tersebut dan memulai penanganan kasus Sarah Holtz seorang perawat yang dituduh membunuh pasiennya. Tak disangka pembunuhan tersebut adalah sebuah konspirasi yang didalangi oleh petinggi perusahaan asuransi (Noble Insurance) dengan motif uang dan menjadi makin pelik ketika terungkap bahwa Biro Hukum partner asosiasinya dalam menangani kasus ini juga terlibat. Mitch kemudian sadar bahwa dilibatkannya ia dalam kerja sama ini adalah bagian awal dari sebuah konspirasi besar.

Kehidupan Mitch dan keluarganya yang kemudian kembali tak luput dari teror menjadikan setiap episodenya kian seru ditambah kekompakan Mitch, Abby, Ray dan Tammy dalam menghadapi situasi ini membuat kisah ini menjadi menarik untuk diikuti. Akal- akalan cerdik dan penuh trik dalam melakukan investigasi dilakoni Ray dan Tammy untuk mendukung upaya Mitch yang beradu intelektual dengan pengacara lain di tiap persidangan. Hingga suatu hari Abby diculik sebagai 'leverage' lantaran Mitch memegang rahasia jahat Noble Insurance dalam sebuah Harddisk. Apa isi harddisk tersebut dan bagaimana kemudian nasib Abby? Saksikan hanya di The Firm Film Series...

Read more »