12.31.2013

Beranjak Dari Dilema

Menjadi kuat bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kemampuan untuk memilih sikap dan respon yang tepat atas segala kejadian. Bagaimanapun idealnya kehidupan yang ingin kita jalani, Kejadian didalamnya tidak akan pernah bisa kita pilih, tapi kita bisa memilih bagaimana menghadapinya. Dari pilihan ini, siapa kita ditentukan, menjadi pemenang atau pecundang. Banyak yang jatuh terpuruk makin dalam saat dilanda ujian, namun tak sedikit yang justru makin bersinar terang usai melewati tantangan.

Masalahnya, memilih sikap bukan pula hal mudah. Memilih sikap itu adalah cerita yang lain dari sekadar memilih baju didalam lemari atau memilih menu harian untuk disantap. Dalam memilih sikap, siapapun kita tentu akan dihadapkan dengan dilema. Dilema antara siapa yang harus diutamakan, diri sendiri atau bukan. Diri sendiri adalah yang paling mudah untuk dipuaskan, sebab cuma kita yang paham standar keinginan kita, namun orang lain? Kita tidak pernah tahu sejauh apa batasnya.

Namun pahitnya, kita sendiri adalah apa yang belum tentu orang lain pikirkan saat kita memikirkan mereka. Ada saatnya kita dipaksa untuk berani mengambil sikap yang terlihat seperti mengesampingkan orang lain, bukan karena kita tidak peduli atau tak berhati, tapi karena memang itu adalah jalan terbaik membangun pondasi kehidupan kita sendiri yang sudah lama mungkin kita tinggalkan. Sekaligus, memperkenalkan makna perjuangan dan kemandirian kepada orang lain. Seperti induk ayam, yang secara naluriah telah tiba kembali saatnya untuk bertelur, maka disaat yang sama ia akan mematuk sendiri anaknya yang berbilang bulan lamanya sudah ia besarkan, agar menjauh dan belajar sendiri mencari makan dan penghidupan.

Pilihan sikap yang adil walau berat, dan tentunya melatih hati menjadi kuat. Sebab ketidakmampuan mengenali dan tegas pada prioritas akan membuat kita menjadi sosok dengan kepribadian yang terbelah antara diri sendiri dan orang lain. Menjadi baik mungkin akan menyenangkan banyak orang, tapi belum tentu itu adalah sikap yang benar. Namun kebenaran insyaALLAH akan membawa kebaikan meski berat terasa diawal. Tinggal lagi bagaimana setiap pribadi mengambil pilihan sikap dalam meresponnya, menjadi kuat dan terus berjalan atau mengasihani diri sendiri dengan berlindung atas nama takdir kehidupan.

Bangka Belitung
31 Desember 2013

Read more »

12.25.2013

Koruptor, Pejabat Atau Penjahat?

Mencuri adalah perbuatan yang tidak dibenarkan, apapun alasanya. Tapi kebijaksanaan atas nama kemanusiaan patut dipertimbangkan bila pelaku adalah kaum papa yang terjepit kebutuhan hidup ditengah ketidakpedulian lingkingan sekitar, sebab pada saat yang sama disaat itu, ia sebenarnya adalah korban. Lagipula kerap didapati pada kasus level itu, yang dicuri adalah sekadar buah atau sekerat roti. Tapi bagaimana bila pelakunya adalah pejabat? Maka tidak saja perbuatannya tidak bisa dibenarkan, justru patut diberi harga mati bahwa ia telah berbuat keji!

Mencuri, dalam kapasitas pelaku sebagai pejabat, merupakan bentuk riil tindakan menciderai amanah sekaligus melukai jiwa masyarakat. Pejabat diangkat dengan dasar kepercayaan dari rakyat untuk mengatur negara dan memberi kesejahteraan bagi rakyat. Tetapi jika pejabat itu mencuri maka pada hakikatnya yang ia curi adalah hak rakyat. Hak untuk merasai keadilan. Hak untuk mencicipi sejahtera. Hak untuk hidup tenang dan damai. Semua hak itu dapat hilang dirongrong lewat aksi pencurian oleh pejabat. Aksi keji yang dikenal dengan istilah Korupsi.

Pejabat yang korupsi pantas dihukum. Gelar pejabatnya pun secara moral sudah tidak patut lagi disandang. Bila terbukti, mereka harus dibui. Gelar pejabat melayang, dibui mereka adalah Napi. Narapidana yang menjadi penghuni bui telah terganjal oleh ragam aksi amoral yang membuat mereka mendekam dibalik jeruji besi, aksi yang beragam itu bertingkah polah dalam watak yang sama. Watak Kejahatan. Jadi pejabat yang masuk bui itu kini tak lain adalah penjahat. Mereka melakukan tindak kejahatan yang merugikan rakyat banyak, demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Siapapun mereka, apapun agama mereka. Begitu pejabat itu terbukti korupsi dan sah dibui. Berganti pula gelarnya dari pejabat menjadi penjahat. Tidak peduli berapa banyak anak mereka yang terpaksa ditinggal, atau berapa dalam isak tangisnya saat diinterogasi. Tidak perlu kita kasihani. Korupsi adalah korupsi yang berarti kebusukan yang menghancurkan dari dalam dan mengorbankan rakyat yang mengamanahi mereka. Lagipula saat mereka bermain lobi atau atur strategi korupsi, mereka tidak ingat rakyat dan amanah yang mereka kangkangi.

Biarlah mereka menjalani tragedi dramatis buah watak kejahatan yang mereka lakoni. Di bui, mungkin mereka akan merenungi apakah mereka pejabat? Atau penjahat?

Ebas
Pangkal Pinang
25 Desember 2013

Read more »

12.22.2013

Panggung Rapuh Politik Indonesia

Politik adalah panggung paling kentara didalam deretan catatan perjalanan bangsa. Lewat politik, berbagai arah sejarah bangsa bermula, dijalankan dengan segenap ideologi yang menjadi nafasnya. Pelakunya adalah mereka yang kita namai politisi atau kaum elit/terpandang. Dari rahim politik Indonesia terlahir tokoh sekelas Soekarno, Hatta, Sjahrir, dll. Politik itu mulia dan praktiknya bertujuan memuliakan kehidupan rakyat, mulai dari kaum sejahtera hingga mereka yang papa. Politik menjadi bahasa pemersatu para pendiri bangsa untuk mewujudkan cita- cita merdeka, yaitu bahasa perjuangan. Sampai akhirnya, jaman berganti, tokoh pengisi panggung nan gebyar cahaya itu pun tak lagi sama. Tetapi, politik dengan tujuan mulianya (seharusnya) tetap tertanam menjadi landasan arah perjalanan.

Kini pun, ceritanya tetap sama, panggung politik tetap menjadi sorotan utama. Bedanya, politisi-politisi itu kini tidak lagi perlu repot memperjuangkan kemerdekaan. Namun disinilah sengkarut politik itu dimulai. Bahasa perjuangan tidak lagi menyatukan para politisi, mereka kehilangan pegangan. Alhasil, satu sama lain justru adu kuat dan adu kuasa, disaat yang sama rakyat jadi penonton. Rakyat tidak lagi jadi alasan mengapa politik itu ada. Rakyat ditepikan dan baru setiap lima tahun sekali saja dirangkul. Politik telah berubah menjadi rumah penghidupan para politisi yang terbiasa hidup mewah, mereka bahu membahu saling menguatkan posisi demi melanggengkan sumber penghidupan mereka. Intuisi dan naluri kemanusiaan mereka makin tumpul juga abai akan makna perjuangan yang sebenarnya dalam mensejahterakan rakyat, mengisi kemerdekaan. Dari rahim politik yang seperti inilah terlahir Angelina Sondakh, Nazarudin, Ratu Atut Choisiah, dll.

Sudah saatnya negeri ini jujur mengakui bahwa berbilang tahun lamanya, panggung politik itu makin rapuh, ada malpraktik yang membuat sistem politik kita belum mampu membuka pintu lebar bagi mereka yang berintegritas dan bertanggungjawab. Politik kita sarat dengan uang. Tidak berlebihan bila disebut Politik Berbayar. Ini dikuatkan dengan Indeks Persepsi Korupsi kita yang sejak masa reformasi 15 tahun lalu tidak juga naik kelas dengan signifikan. Dan lahan paling subur bagi pertumbuhan praktik korupsi itu adalah Politik dengan segala instrumennya. Politik yang diwariskan dari generasi Soekarno dan Hatta dengan mulia kini menjadi hina oleh laku politisi oportunis yang tidak sungkan menciderai rakyat. Inilah tragedi politik yang tidak terukur dengan paparan statistik.

Akibatnya mereka yang punya akses menuju panggung itu adalah kaum pemodal atau kerabat pemilik kuasa, mutualisme keduanya menggurita dan menutup rapat politik kecuali bagi sesama mereka. Pembiaran atas hal ini berlangsung bertahun- tahun lamanya. Dibutuhkan gebrakan kolektif dari mereka yang peduli untuh menghentikan laju praktik eksklusif ini. Mereka adalah para tokoh kharismatik partai politik, negarawan, budayawan, aktivis anti korupsi, dan segenap pemuda yang tinggi semangatnya. Mereka mewakili secara benar suara rakyat yang tak tersentuh media arus utama. Rakyat sedari lama menunggu gebrakan itu, menunggu sosok yang amanah, tegas, berani dan berintegritas. Sosok yang tidak pernah bertabur sanjung dan puja puji media. Sosok yang layak melakoni peran di panggung yang semula mulia itu.

Setiap babak sejarah pasti ada awalnya. Bagaimana politik di masa kini adalah akumulasi sikap politisi sejak dahulu hingga kini, tapi siapa sangka akhirnya kini tidak seindah awalnya. Kita bisa katakan bahwa reformasi telah melahirkan panggung politik yang partisipatif. Tapi sedalam apa partisipasi itu, sejarah telah membuktikan dengan nyata bahwa rakyat sebagai tujuan utama politik, tidak pernah dibuat berpartisipasi secara jujur dan manusiawi. Berkaca dari potret kelabu laku dan lakon politisi itu, semoga belasan atau puluhan tahun mendatang panggung politik negeri ini tidak kian identik dengan korupsi dan perilaku busuk yang menggerogoti dari dalam, agar jangan sampai kentaranya panggung itu kelak justru diwarnai oleh kutukan publik lantaran kasus korupsi tak berkesudahan. Tragis!

Ebas
Pangkal Pinang
22 Desember 2013

Read more »

12.17.2013

Pajak: Antara Realisasi dan Ekspektasi

Di negeri ini Pajak adalah sektor unggulan yang belum benar- benar diunggulkan. Pelaksanaanya tidak mendapat panggung perhatian, bahkan dibenci dan diacuhkan. Padahal 'nyawa' bangsa ini dipertaruhkan dari Pajak. Urusan pajak itu adalah urusan nasional. Curahan atensi seyogyanya juga mengalir dari pucuk tertinggi hirarki birokrasi. Presiden. Namun, berbilang dekade lamanya bangsa ini seperti dicekoki dogma bahwa urusan Pajak itu sepenuhnya ada di pundak Direktorat Jenderal Pajak semata. Akibatnya, tidak ada upaya bersama dari segenap unsur untuk sama- sama merenungi peran krusial Pajak. Upaya menuju bangsa yang sejahtera bagai jauh panggang dari api.

Mari kita melihat dengan jujur pencapaian penerimaan negara dari Pajak. Sepanjang 10 tahun terakhir hanya pada 2008 dan 2007 tembus 100% lebih. Selebihnya? Meradang di kisaran 95- 98%. Tahun 2013 ini pun tidak akan optimal, bisa diperkirakan, per 17 Desember ini baru tercapai 86,14%, padahal hari kerja efektif tinggal kurang 20 hari. Modernisasi Pajak yang rilis sejak lebih satu dekade lalu baru sekadar berhasil membalikkan posisi Pajak sebagai unit investigasi menjadi unit pelayanan, sederhananya pajak telah sedang bekerja keras muncul dalam wujud keramahan dengan orientasi pelayanan dengan harapan bisa meluluhkan wajib pajak dan masyarakat untuk sadar pajak. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Modernisasi Pajak justru mengaum tanpa gaung.

Bila sudah begini siapa salah? Tidak ada guna mencari kambing hitam, menyalahkan dan merasa paling benar. Bagaimanapun, Ditjen Pajak tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Urusan Pajak itu urusan bersama untuk membangun bangsa. Pemimpin negara yang cerdas dan berani tentu sadar benar bahwa peran pajak adalah hitung- hitungan ekonomi yang merupakan jalan keluar dari terkaman krisis dan defisit. Untuk itu, seruan ke arah perbaikan harus dimulakan dari Presiden untuk mengamanahkan kerjasama semua elemen demi mengoptimalkan pajak. Ditjen Pajak sudah terlalu lama kedodoran dibebani ratusan milyar hingga ribuan triliyun rupiah tiap tahun dengan segala keterbasan yang ada.

Keterbatasan pertama adalah data. Bukannya tanpa antisipasi, tapi regulasi yang sudah ada justru tak bertaji. Pasal 35 dan 35 A Undang Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan jelas menitipkan amanah pada tiap instansi untuk menyediakan data kepada Ditjen Pajak. Namun di tataran implementasi, pasal ini dikangkangi aturan beraroma kepentingan komersial. Dengan alasan menjaga kerahasiaan nasabah kerap kali pihak Bank enggan memberikan laporan keuangan Debitur kakap yang ditengarai bermain api dengan Pajak. Ini jadi sinyal bahwa Pajak belum dianggap superior dalam menjaga ketahanan negara. Pajak justru dilihat sebagai musuh bersama.

Sudahlah fakir data, diperparah pula jumlah SDM yang belum cukup. Bayangkan jika satu orang pengawas (Account Representative Pajak) harus pasang mata untuk lebih dari 4.000 Wajib Pajak. Jangan heran bila banyak potensi yang menguap dalam rupa- rupa modus dan trik. Idealnya memang DJP harus diberi ruang yang lebih bebas untuk menata urusan SDM termasuk dalam mekanisme reward & punishment. Dengan tugas mencari uang untuk negara, perhitungannya jelas yaitu jumlah pegawai ideal adalah angka yang berbanding wajar dengan jumlah Wajib Pajak. Kini ada hanya ada sekitar 6.000 AR dan 4.000 Pemeriksa untuk mengawasi lebih dari 20 juta Wajib Pajak.

Belum tampak upaya nyata dari lingkungan kabinet dan otoritas daerah untuk menyerukan sinergi dan arti penting pajak demi mengetuk kesadaran kolektif bangsa. Sejauh ini baru seremonial yang prosedural saja yang tiap tahun kita lihat, seperti Pejabat A lapor SPT, Pejabat B bayar pajak tapi itu semua absen substansi utama karena melulu gagal membangun pemahaman bersama semua pihak. Jangan heran bila banyak Caleg yang baru punya NPWP saat mau mendaftar di KPU. Itu pun terpaksa sekali karena diharuskan demikian. Sudah saatnya kultur ini diubah. Ganti arah dan cara pandang.

Ditjen Pajak sebagai alat negara untuk mengumpulkan pajak ke Kas Negara akan tetap berinvolusi dalam segala judul terobosanya tanpa dukungan penuh segenap sendi bangsa ini. Pajak adalah unggulan utama yang diandalkan untuk mengisi pundi- pundi negara. Jangan biarkan Ditjen Pajak berjalan tertatih- tatih mengemban beban berat sendirian, padahal soal Pajak adalah urusan nasional. Jangan anggap Ditjen Pajak tidak bekerja optimal untuk tiap amanah tahunan yang disematkan didadanya, sebab bisa jadi memang bangsa ini sedang kehabisan stok pemimpin yang berani tidak populer dan cerdas membaca situasi, sampai- sampai belum sadar jua bahwa pada Pajaklah negara ini bergantung.

Read more »

11.30.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (IV)

Baru saja lewat tengah hari saat kemudian istri saya dibawa kembali ke ruangan, sepenuhnya ia belum sadar. Tapi saya tahu lewat igauannya, alam bawah sadarnya terus bekerja sampai akhirnya perlahan demi perlahan ia membuka mata. Di saat itu pula ia meringis pedih untuk tiga luka bekas operasinya dua jam yang lalu. Bagaimanapun beratnya kejadian- kejadian yang baru saja kami lewati, kami bersyukur sekali karena operasi pengangkatan Kista dari dalam tubuh Istri telah berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal lagi masa pemulihan, menapakkan kembali langkah yang sempat terpaku erat di satu titik kehidupan bernama ujian.

Beberapa jam kemudian...

Istri saya mulai penuh kesadarannya, perawat berpesan untuk tidak terlalu banyak bergerak terlebih dahulu dan sementara cukup berikan saja air putih, baru 12 jam kemudian boleh diberi makanan. Tidak banyak detil cerita yang Istri sampaikan sesaat begitu ia tiba dimeja operasi, yang ia ingat cuma bahwa beberapa saat kemudian, ia merasa tubuhnya panas, matanya berat dan kemudian mengantuk lalu tertidur. Mungkin pengaruh obat bius, ia memang di berikan Anestesi Umum yang sudah saya tandatangani persetujuannya. Ia memang takut sebelumnya, namun saya lihat ia kuat dan berani menghadapi operasi itu.

Saya: "Bagaimana sekarang rasanya? sudah lebih baik atau masih tidak enak?"
Istri: "Sudah mendingan, cuma di perut masih terasa pedih dan perut terasa kembung seperti penuh oleh gas"
Saya: "Mungkin pengaruh operasi tadi, obat biusnya atau gas yang dialirkan ke rongga perut untuk mempermudah operasinya! InsyaALLAH tidak apa- apa, nanti juga hilang sendiri ya sayang!"


Kemudian kami pun berbicara tentang banyak hal, termasuk rencana pemulihan pasca opname, saya serahkan kepada Istri untuk memilih sementara waktu apakah langsung ikut kembali ke Pangkal Pinang, tinggal di rumah Saudara di Palembang atau kembali ke Baturaja. Namun pembahasan kami buntu, karena belum terlalu yakin nanti dengan pilihan yang akan diambil. Kami sepakat nanti saja begitu sudah keluar dari Rumah Sakit baru kami lihat lagi, karena memang dari pihak Rumah Sakit baru membolehkan pulang dua hari lagi.

Malam pun tiba, bersama keluarga kami sempat diskusikan perihal yang sama, dan saya sudahi dengan mengatakan bahwa nanti kami kabari apa yang menjadi pilihan kami. Buat saya, bagaimanapun tetaplah perlu untuk meminta pertimbangan keluarga dalam mengambil keputusan, dan akhirnya hanya kami berdua pula lah yang mengambil sikap. Setelah keluarga pulang, kembali hanya kami berdua saja di Rumah Sakit. Seperti biasa di malam- malam sebelumnya.

Rabu. 27 November 2013

Sudah berganti hari, keadaan Istri sudah semakin membaik, ia pun sudah boleh makan makanan berat, perutnya masih terasa kembung dan kini batuk yang disebabkan rasa gatal di tenggorokan. Dokter Yusuf, SpOG(K) visite kepada Istri dan melihat langsung kondisinya dan menyampaikan beberapa hal yang perlu saya ingat baik- baik.

Dokter: "Ini besok sudah boleh balik, insyaALLAH tidak apa-apa, keadaanya baik. Hanya saja, perlu diperhatikan kontrol rutin tetap dijaga"
Saya:"Kemudian, posisi kami jauh dari Palembang Dok, apa boleh kami kontrol rutin di Pangkal Pinang saja? Kebetulan beberapa Dokter disana kami sudah kenal (sambil saya menyebutkan nama beberapa Dokter Kandungan)"
Dokter:"Oh boleh, nanti saya buatkan rujukan untuk pengantar ke Dokter disana, kebetulan mereka adalah murid- murid saya juga! Terus perhatikan untuk segera programkan kembali kehamilan untuk menekan pertumbuhan Kista nya karena jenis Kista nya mudah kambuh!"
Saya:"Kira- kira kapan kami bisa mulai program lagi Dok?"
Dokter:"Secepatnya begitu kondisi sudah membaik seutuhnya sudah bisa dimulai!"


Kemudian dokter berlalu, saya menunggui Istri bersama beberapa keluarga yang tidak lama kemudian juga pamit pulang ke Baturaja. Disaat- saat seperti ini, seberapa pun kita merasa kuat, tetap saja kehadiran keluarga dan teman- teman berarti memberi semangat atau dukungan moriil yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah. Bentuknya bermacam- macam, bisa lewat sms, telepon atau membesuk langsung. Dari kemarin dan sepanjang hari ini cukup banyak rekan- rekan saya dan Istri yang menyempatkan datang. Terima kasih dengan tulus saya dan Istri ucapkan. Semoga kebaikan dan berkah ALLAH.SWT selalu menyertai kalian, aamiin.

Kamis. 28 November 2013

Pagi tiba, gelap mulai beranjak berganti cerah. Saya mulai sibuk sedikit demi sedikit mengemas perlengkapan karena rencananya hari ini kami akan pulang. Rutinitas pagi di Rumah Sakit ini saya sudah mulai paham, bila pagi, petugas kebersihan datang membangunkan keluarga pasien untuk segera mengemas alas tidur karena lantai Rumah Sakit mau disapu dan dipel. Menjelang pukul 08.00 sarapan tiba disusul kontrol rutin oleh perawat yang berganti shift. Namanya ragam petugas, ada yang ramah ada juga yang irit senyum, tapi ya itu sama sekali tidak merugikan saya, bila kurang berkenan, biasanya langsung saya tinggalkan pergi.

Ketika usai menyuapi Istri sarapan pagi, saya sempatkan untuk mengajak Istri bangun dari tempat tidurnya untuk duduk dan mencoba beranjak berjalan setapak demi setapak. Saya tahu itu berat, nyeri dan rasa tidak nyaman lainnya. Tapi saya kelabui semua rasa empati itu agar Istri tidak terjebak dalam pikirannya sendiri yang terus- menerus mengasihani dirinya. Semua seperti memulai lagi dari awal, meski tentu tidak sedramatis yang mungkin dapat saya bayangkan. Ini semua hanya soal menjadi kuat dan yakin bahwa operasi dua hari yang lalu hanya sedikit tahap yang sebentar saja berlalu sebagai pelajaran dan hikmah. Jalan masih panjang.

Menjelang pukul 10.00 WIB, saya mulai mengurusi administrasi agar Istri bisa keluar dari Rumah Sakit. Mulai dari urusan ASKES sampai klaim AXA Mandiri Asuransi a.n. Istri. Saya menemui petugas ASKES dan ia merinci biaya perawatan Istri mulai dari Rawat Inap, Operasi, Jasa Dokter- Perawat, Obat- obatan sampai akhirnya bila diperkirakan mencapai jumlah sekitar Rp 12Jt. Atas semua nilai itu 100% ditanggung ASKES dan saya hanya membayar sebesar Rp 723.000,- untuk menebus obat yang tidak ditanggung. Urusan klaim Asuransi pun tidak terlalu rumit, begitu Surat Keterangan Dokter dan Keterangan Rawat Inap saya lengkapi dengan rincian biaya dan dokumen rekam medis, kami tinggal lagi menunggu hasil verifikasinya dalam kurun waktu 14- 60 hari kedepan.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Siang itu, kami pun pulang meninggalkan Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang menuju rumah saudara untuk beristirahat pasca opname. Kami pun sudah memutuskan bahwa sekitar tiga hari pemulihan disini, untuk kembali lagi ke Pangkal Pinang menggunakan Pesawat Terbang Sriwijaya Air. Pihak keluarga semuanya sudah kami beritahu, semuanya mengamini sambil mengingatkan untuk lebih berhati- hati. Saya senang mereka mengingatkan.

Sabtu. 30 November 2013

Saat tulisan ini diketik, 1 jam kurang Desember akan menjelang. Saya merenungi bagaimana masa dua minggu ini menjadi masa yang tentu tidak akan saya dan Istri lupakan. Tidak pernah kami sangka bahwa dalam kurun waktu 6 bulan pernikahan kami akan mengalami ujian ini, ujian yang datang dari pemilik kehidupan yang kepadaNYA kami memanjatkan doa dan pinta untuk selalu sabar dan tawakkal. Mungkin ujian ini adalah jawabanNYA. Saya tidak tahu persis, tapi saya hanya ingin dengan ujian ini saya dan Istri makin banyak mengingatnya. Bersyukur dan bersabar karenaNYA.

Istri sedari tadi sudah pulas tertidur. Wajah cantiknya sama sekali tidak hilang bahkan saat ia memejamkan mata. Bagaimanapun, kami akui kami telah belajar banyak untuk tidak menyoal suatu kejadian dengan kata 'mengapa' tapi menghadapinya berdua bersama dan menjadi lebih kuat, menuju kehidupan yang lebih dalam dan merajut rasa saling terikat yang lebih erat. Ikatan yang tidak bisa dilihat tapi terasa dan terus terbawa sepanjang jalan cerita kehidupan kami dimasa mendatang.

Besok, ceritanya akan kembali lain, saya dan istri kembali hidup berdua jauh dari keluarga, tetapi semua ragam kehadiran dan dukungan yang pernah kami terima akan menjadi pengingat bahwa tidak ada hal yang kebetulan. Hidup telah diatur oleh ALLAH.SWT yang maha kuasa. Rangkaian cerita yang terajut bagai saling lepas, nyatanya tidak lebih dari sekadar jaring- jaring hubungan sebab akibat yang tidak terikat jarak.

Salam

Ebas.
Palembang. 30 November 2013. 23:23 WIB.

Read more »

11.29.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (III)

Kami berdua masih sempat menikmati akhir pekan di Kota Palembang untuk sekadar berkunjung ke Toko Buku. Bagaimanapun, kota ini memiliki makna dan ikatan historis buat kami. Lagipula saya kira penting untuk mengkondisikan Istri agar santai sebelum masuk opname dan dioperasi dua hari kedepan. Ketenangan jiwa adalah wujud sederhana dari sikap menerima yang sudah kami lakoni atas kejadian kemarin.



Senin. 25 November 2013

Sedari sebelum shubuh kami sudah bangun, Istri mengingatkan saya untuk tidak melewatkan saat- saat istimewa sholat malam dan memanjatkan doa, di situasi yang hening itu semua doa dan harap kami, saya sebut satu demi satu untuk selebihnya pasrah dan berserah (tawakkal). Bagaimanapun, dari sudut pandang saya seorang awam, saya kira ikhtiar yang optimal sudah kami lakukan selebihnya hanya doa dan tawakkal saja.

Pagi itu, seperti janji dengan pihak Rumah Sakit, kami langsung menuju Ruang Rawat Penyakit Kebidanan. Saya terlebih dahulu mengendarai motor pinjaman Saudara, turun langsung mengurus persiapanya, sementara Istri dan beberapa keluarga yang mengantar menumpang mobil. Begitu tiba, saya langsung menemui dr Linda. Beliau memberi saya secarik kertas pengantar sebagai syarat administratif pendaftaran sebelum masuk ruangan. Berbekal kertas yang memuat identitas Istri dengan cap ruangan IGD itu saya menemui petugas loket pendaftaran di Poli Kebidanan. Tetapi, terjadi kesalahpahaman karena kertas itu memintakan nomor rekam medis dari IGD. Saat itu Istri sudah tiba pula sehingga ia ikut mondar- mandir mengurusi.

Saya: "Pagi Bu, ini saya diminta dari ruang kebidanan untuk meminta nomor rekam medis supaya bisa dirawat inap, karena kemarin sudah dapat pengantar dari Dokter Yusuf!"
Petugas:"Mas, ini formulirnya dari IGD jadi bisa beri nomor ya dari IGD, kalau nomor disini khusus untuk yang ke Poli, lagipula nomor nya formatnya lain, nanti keliru!"
Saya: "Iya Bu, maksud saya juga begitu, ini sengaja memang untuk dapat nomor dari sini, cuma karena kata Dokter Linda formulirnya habis jadi pakai yang dari IGD, itu buktinya cap dari IGD nya dicoret!"
Petugas:"Ya sudahlah, kalau begitu saya buatkan formulir baru saja dari sini nanti langsung dibawa saja ke ruangan"

Begitu formulir lengkapnya sudah saya dapat, saya belum bisa ke ruangan karena masih harus mendaftarkan secara adninistratif ke ASKES. Di loket pendaftaran ASKES beruntung Istri langsung menghubungi rekan lamanya semasa ber co-ass di RSMH, namanya Muklis, ia banyak membantu mengurusi tertib administrasi ASKES sampai akhirnya kami sudah bisa masuk ruangan. Dari proses itu pula kami baru tahu bahwa 100% biaya selama perawatan dan operasi ditanggung ASKES kecuali untuk Obat- obatan yang tidak masuk kelompok, sepanjang kami tidak pindah ke kelas yang lebih tinggi. Alhamdulillah, setidaknya ini kabar baik dan secara nyata akhirnya saya bisa merasakan langsung manfaat ASKES setelah hampir 7 tahun setiap bulan gaji saya dipotong untuknya.

Kami akhirnya masuk ruangan. Kamar 11- II A. Ruangan kelas II ber- AC sekamar bertiga. Istri resmi berstatus pasien yang akan menjalani operasi besok, dan saya diberi kartu khusus keluarga pasien. Berdua bersama Istri diruangan itu buat saya tidak sama sekali mengurangi rasa kasih sayang saya untuknya, meski saya tahu dan sadar disitu bukan taman indah berbunga, melainkan Rumah Sakit, tempat yang bagi sebagian orang sangat perlu dihindari. Punggung tangan kanan Istri kembali dipasangi infus dan mulai diberikan beberapa suntikan antialergi sebagai syarat standar pra- operasi. Saya pun diminta menyiapkan satu kantong darah sebagai persiapan, bila saat operasi berlangsung dibutuhkan darah.

Beruntung, golongan darah saya dan Istri sama yaitu O Rh +. Saya mendonorkan darah saya melalui PMI terdekat dan memastikan kepada petugasnya bahwa darah saya bila diperlukan, hanya diperuntukkan untuk Istri. Lain hal, bila ternyata tidak dibutuhkan, maka saya ikhlas darah saya diberikan kepada orang lain.

Pada hari yang sama masih, hanya saja sudah gelap pertanda hari beranjak malam. Saat itu pula, pihak keluarga dari Istri sudah tiba dari Baturaja (mertua saya). Kehadiran mereka sangat berarti meski kami tidak ungkapkan dalam bentuk kata- kata namun setidaknya jiwa kami pulih lantaran aliran deras perhatian dari keluarga yang kami terima dalam beragam bentuk, apalagi ini sampai datang jauh- jauh menempuh 5 jam perjalanan. Setelah melihat langsung kondisi dan mendengar semua cerita, kedua mertua saya kembali ke rumah Saudara, saya dan Istri berdua saja di Rumah Sakit, bercerita tentang apa saja dan intinya tetap sama, kami saling menguatkan dalam berbagai bentuk dan cara.

Istri: "Bang, takut aku. Besok operasi!"
Saya: "Tidak ada yang perlu ditakuti, jalani saja, awalnya saja cemas, nanti bangun- bangun sudah lewat semua, tidak terasa sama sekali, lagipula semua ikhtiar dan doa insyaALLAH sudah dan terus kita jalani, selanjutnya yakin saja pertolongan ALLAH. SWT pasti ada, ya sayang!"
Istri: (terdiam sambil menatap saya dalam) "Maafkan aku ya Bang, kalau begini jadinya merepotkan Abang!"
Saya:"Tidak ada yang salah, sudah jalannya harus begini, kita tawakkal saja, ini ujian, sabar dan syukur saja"
Istri: "Bang, besok jangan pergi kemana-mana ya, aku pengen besok begitu sadar dari operasi Abang tetap ada disamping aku!"
Saya:"Iya sayang!"

Selasa. 26 November 2013

Kami tertidur. Niatnya jam 01.00 dini hari saya harus bangun untuk memberi sahur Istri, karena dokter meminta sebelum naik meja operasi harus puasa mulai jam 02.00, tapi apa mau dikata, saya justru ketiduran dan terbangun jam 03.00. Nasi sudah menjadi bubur, kepada Istri saya mohon maaf, wajar ia kecewa. Tapi apa mau dikata. Ya sudahlah, lupakan saja, akhirnya Istri minum sedikit air dan saya menyempatkan diri untuk tidak melewatkan waktu mustajab itu untuk Sholat Malam dan berdoa (semoga saya terhindar dari sikap Riya').

Pagi harinya dokter bergantian datang memastikan kondisi Istri, mulai dari dokter kandungan, dokter anestesi sampai perawat dan petugas antar pasien. Istri dapat giliran pertama dioperasi sekitar pukul 08.30 harus sudah masuk ruang persiapan. Pagi itu juga, mertua dan bibi dari Istri sudah datang menemani, tidak lama kemudian, Istri saya diminta keruangan menggunakan Kursi Roda dengan tangan tetap terinfus. Saya sendiri yang mendorongnya. Semua perlengkapan standar, secukupnya kami bawa seperti kain, berkas administrasi dan alat komunikasi.

Setibanya diruangan operasi, istri langsung dibaringkan diranjang persiapan, beberapa dokter dan pegawai Rumah Sakit terlihat bersiap, sekitar setengah jam kemudian, saya mulai diminta keluar ruangan bergabung bersama keluarga diruang tunggu sementara Istri sudah langsung naik meja operasi. Selanjutnya, saya tidak tahu, saya hanya berdoa dan berharap semoga semuanya berjalan lancar.

1 jam berlalu...
2 jam berlalu..


Tiba- tiba Dokter Yusuf, SpOG(K) memanggil saya, pikiran saya berspekulasi, apa ada sesuatu? apa darah kurang? untunglah beliau menceritakan bahwa operasi sudah selesai dengan lancar, semua Kista sudah diangkat dan saluran serta alat reproduksi Istri sudah dicek dan kondisinya baik.

Dokter: "Tadi alhamdulillah operasi sudah berjalan lancar, semua Kista nya sudah diangkat dan kondisi organ reproduksi Istri sudah kita cek baik"
Saya:"Terima kasih Dok, alhamdulillah. Bagaimana kondisi rahimnya? apa sudah bersih pasca keguguran?"
Dokter:"Iya sudah bersih, sudah kita cek juga, hanya saja ini jenis Kistanya dapat kambuh, jadi tetap harus rutin kontrol dan usahakan segera programkan kehamilan dalam waktu dekat begitu sudah pulih untuk menekan pertumbuhan Kistanya"
Saya:"Baik dok, terima kasih"

Dokter kemudian kembali keruangan, dan beberapa saat kemudian Istri sudah dikeluarkan dalam kondisi yang belum sepenuhnya sadar. Dalam hitungan menit kemudian, ia perlahan mulai mengigau setengah sadar dan saat dalam igauanya ia memanggil- manggil saya pelan :"Abang.. Abaang...". Saat itu juga saya bahagia dan bersyukur saemuanya berjalan lancar dan juga bahagia telah memenuhi janji saya tadi malam bahwa saya akan jadi orang pertama yang ia lihat saat ia membuka matanya setelah operasi.

Bersambung...

Read more »

11.28.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (II)

Cerita hidup berjalan penuh teka- teki, masih segar dalam ingatan, pagi tadi kami berangkat dalam kondisi sehat dan kini kami berdua sudah berada di Rumah Sakit di bilangan Jalan Demang Lebar Daun, Palembang. Saya menemani istri yang terbaring lemas bersama infus yang tertancap kuat ditanganya. Dokter yang berstatus sebagai Dokter Jaga tidak juga datang, belakangan kami tahu bahwa sang dokter kini berada di klinik pribadinya dan baru malam nanti datang. Saya sebetulnya sudah geram dan hendak menekan pihak Rumah Sakit agar istri saya segera di periksa, tapi baiklah saya diam saja, karena saya yakin reaksi istri saya seperti biasa: “Sudahlah Bang, sabar saja, kita tunggu!”. Meski sampai malam kami tunggu, dokter tersebut tidak juga datang. Perawat meminta kami menunggu besok pagi.

Kamis. 21 November 2013

Setelah lelah kemarin berburu obat yang diminta pihak Rumah Sakit (suster/ perawat), tidak terasa hari sudah pagi, masih diruangan yang sama, bunyi detak jam dinding yang sama, dan tetes demi tetes cairan dari botol infus yang sama. Di Kamar Shafa, saya dan istri bertukar tatapan dan menguatkan genggaman tangan berusaha meyakini semua akan baik- baik saja sambil berharap sang dokter segera datang dan memastikan bahwa harapan kami benar adanya dan kami segera dapat kembali menikmati hidup bahagia. Tapi, semuanya tidak seindah yang kita ingini.

Dokter baru datang pukul 11.30 siang (20 jam setelah kami masuk dirawat). Saat itu saya sedang tidak menunggui Istri, ada Bibi dari pihak Istri yang menjagai, karena saya sedang ada tugas dinas ke daerah Kambang Iwak. Jujur saja, saya sempat tidak fokus selama menjalankan tugas, semua terasa lain dan seperti ada sensasi pengalaman yang baru kali itu saya rasakan. Meninggalkan orang yang kita cintai terbaring lemas di Rumah Sakit menanti keterangan dokter adalah hal yang membuat saya sadar bahwa inilah munajat cinta yang saya simpulkan bahwa orang yang kita cintai adalah orang yang muncul dalam tiap doa- doa kita untuk kebaikan mereka.

Tapi kerinduan hati tidak bisa dibohongi, saya bergegas agar pekerjaan selesai secepat mungkin dan segera kembali ke Rumah Sakit setelah mendapat kabar Istri akan segera masuk ruangan USG untuk pemeriksaan. Begitu tiba, saya segera masuk ruangan USG dan menatap monitor USG sambil mendengar penjelasan dokter. Intinya menurut dokter tersebut rahim istri saya sudah ‘bersih’ dengan kata lain, Istri mengalami keguguran (Abortus). Selain itu, di Indung Telur sebelah kanan Istri terdapat Kista yang seukuran 10,42 cm.

Saya dan Istri sempat kaget mendengar penjelasan dokter, kehamilan Istri adalah hal yang sangat kami tunggukan sejak 6 bulan terakhir. Tapi kalau memang harus terjadi keguguran tersebut, kami berusaha tetap sabar dan bersikap wajar, tidak perlu kami perlihatkan ekspresi yang lebih dalam. Hanya saja, dokter tidak bisa memastikan apakah perlu dilakukan curage pada rahim dan menyarankan operasi pembedahan perut (laparotomi) untuk mengangkat Kista. Kami berdua ngeri mendengarnya, bukan cuma karena nyawa Istri yang dipertaruhkan di meja operasi namun juga karena dari cara dokter menanggapi deretan pertanyaan yang kami berikan atas temuan itu, membuat kami berpikir perlu untuk mencari second opinion. Alhasil, kami meminta waktu untuk berdiskusi sebelum memberi tanggapan atas saran sang dokter.

Sekembalinya ke kamar kami merenungi kenyataan bahwa impian kami untuk segera memiliki anak belum dapat terwujud. Saya menatap dalam- dalam wajah istri yang pucat, saat ia balik menatap mata saya, jujur saja saya tidak berani banyak berbicara, menatap matanya sama dengan melihat segenggam harapan kami yang pupus tanpa tahu siapa atau apa yang harus dipersalahkan. Tapi saya kira kelanjutan ceritanya tetap akan sama, hidup harus terus berjalan, saya harus menjadi benteng pertahanan yang menguatkan sekaligus pengingat bahwa masih banyak yang patut disyukuri. Ini ujian, yang insyaALLAH dibaliknya ada kemudahan dan kemudahan. Ya, saya tidak salah ketik, ada dua kemudahan yang akan muncul sebagaimana dijanjikan ALLAH.SWT didalam Al-Qur’an.

Akhirnya kami putuskan untuk segera keluar dari Rumah Sakit dan saya menandatangani Surat Pernyataan Keluar Paksa, selanjutnya kami langsung mencari dokter rujukan salah seorang teman di daerah Kenten. Hari perlahan makin petang, dengan menumpang mobil saudara, kami menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Widiyanti dan bertemu dengan Dokter Yusuf Effendi, Sp.OG (K), oleh beliau kami diberi penjelasan dengan melihat layar USG dan dengan kesimpulan yang sama bahwa Istri telah keguguran, rahimnya telah bersih dan benar bahwa terdapat Kista Ovarium di sebelah kanan Indung Telur Istri.

Oleh beliau, kami disarankan untuk menjalani operasi laparoskopik, teknologi medis terbaru yang dapat dipakai untuk mengangkat Kista tanpa harus membedah perut Istri. Iritasi dan masa pemulihan jadi lebih minimal, dari beliau pula kami mengetahui bahwa keguguran yang dialami Istri bukan karena perjalanan panjang yang dua hari lalu kami tempuh, tapi karena pertumbuhan janin yang tidak optimal karena tidak bisa melawan Kista yang sudah menekan Ovarium kemudian meluruh melalui keguguran. Kami menyanggupi operasi tersebut dan beliau segera membuat surat rujukan ke Rumah Sakit Umum Muhammad Husein Palembang (RSMH) untuk dibuatkan jadwal operasi bagi istri dan juga sekaligus menebus obat peluruh untuk membersihkan rahim yang mungkin masih terisi oleh sisa- sisa keguguran.

Jumat. 22 November 2013

Berbekal surat rujukan dari Dokter Yusuf, saya dan Istri menuju RSMH menemui dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat Kebidanan untuk memesan kamar, dari proses itu kami kemudian bertemu dengan dokter Linda (Residen) yang menjadwalkan operasi kami pada hari Selasa dan meminta agar hari Senin paling lambar sudah masuk untuk opname. Proses pencarian kamar itu ternyata tidak sesederhana pikiran saya, pemesanan baru bisa diterima paling cepat 1 hari sebelum operasi dan paling lambat 3 jam sebelumnya. Beruntung berkat bantuan seorang teman lama yang kini bertugas sebagai perawat di RSMH (Ubudiah Mahyatsani) , kami mendapat gambaran proses dan prosedurnya. Sehingga tidak terlalu khawatir tidak kebagian kamar. Akhirnya saya putuskan untuk kembali saja lagi pada hari Minggu untuk memastikan dan menguatkan komitmen.

Minggu, 24 November 2013

Pagi itu, saya kembali ke RSMH menuju ruang kamar inap Kebidanan dan Kandungan, dan menemui bagian administrasi. Saya membawa surat rujukan dan menemui perawat jaga (Suster Dwi) dan oleh beliau dijelaskan bahwa ruangan sudah tersedia, namun baru bisa dimasuki pada hari Senin, atau sehari sebelum operasi sebagaimana telah dijadwalkan. Tidak mengapa, yang penting semua jelas, tujuan dan proses tinggal dijalani sehingga dapat memberi kabar yang menenangkan hati.

Saya pun mulai berpikir, tentu akan lebih lama masa tinggal saya di Palembang, tidak mungkin Istri ditinggalkan sendiri meski ada keluarga yang menjagai. Itu berarti saya harus off dari kantor sebelum Istri bisa kembali saya bawa pulang ke Pangkal Pinang, akhirnya tiada pilihan lain, saya mengajukan Cuti Alasan Penting selama seminggu kedepan sampai tanggal 29 November 2013 dengan konsekuensi dipotong 25% tunjangan atas ketidakhadiran tersebut. Tapi nilai itu tidak sebanding terhadap beban pikiran bila saya meninggalkan istri. Urusan kecewa pada negara soal kebijakan tersebut, itu soal lain, bukan tempatnya dibahas disini, yang penting Istri segera sehat dulu. Titik.

Bersambung….

Read more »

11.24.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (I)


Tulisan ini semata saya buat untuk menjadi pengingat bahwa saya dan istri, dalam satu babak kehidupan kami, tengah menjalani cobaan yang insyaALLAH saya anggap sebagai ujian. Lewat catatan ini pula saya berusaha mengabadikan kekaguman saya kepada ALLAH.SWT sang pengatur kehidupan, tentang kepingan demi kepingan cerita yang tampak sekilas bagai biasa namun saling terkait dan nyatanya membentuk rangkaian yang tidaklah terjadi secara kebetulan.


Jumat. 15 November 2013

Pagi itu seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor saya selalu melayangkan kecupan lembut ke kening istri saya yang tengah hamil 2,5 bulan. Bagi saya memandangnya dan menantikan senyumannya adalah cara memastikan bahwa ia akan baik- baik saja selama saya dikantor. Terlebih saya paham betul bahwa dalam kondisi hamil muda begitu, ia butuh lebih dari perhatian biasa. Saya pun berangkat kekantor, memulai aktivitas seperti biasa, sampai beberapa menit kemudian.

“Rik, loe kalo dikasih tugas ke Palembang tiga hari, siap kan?” Tiba- tiba bos di kantor menugasi demikian. Di kantor saya, suasana lingkungan kerja memang tidak kaku sehingga saling sapa informal dengan sapaan “gue-elo” bukanlah hal tabu.

“Wah, bentar Pak, gw bahas sama bini dulu, maklum Pak, saya khawatir kalo ninggalin dia sendiiran, nanti siang gw kasih tau keputusannya Pak”. Begini- begini memang saya kerap membiasakan sebisanya untuk mendiskusikan tiap kali mengambil keputusan, terutama kalau sudah menyangkut urusan bersama.

Beberapa menit kemudian, saya menghubungi istri untuk memintakan pendapatnya

“Sayang, Abang mau ditugasi ke Palembang selama 3 hari, bagaimana kira2?” Ujar saya singkat.

“Ummh.. boleh juga Bang, sekalian kita periksa kandungan ke Obsgyn yang direkomendasikan teman beberapa waktu lalu” Begitu tanggapan istri saya singkat. Sehingga diputuskan saya dan istri berangkat ke Palembang sembari tugas dan karena ada urusan pribadi juga.

Tetap ditanggal yang sama, hanya saja langit cerah sudah pudar berganti gelap.

Seperti biasa, saya dan istri kerap menghabiskannya dengan bercengkrama berdua tentang apapun, ditengah kehamilan istri tentu saja kami tidak pernah lupa membahas tiap perkembangan kehamilannya. Kebetulan sekarang lagi musim Mangga, jadi cukup banyak saya membeli Mangga untuk dijadikan cemilan segar dikala ngobrol santai seperti itu.

“Bang, tadi pagi sepertinya saya nge- flek. Keluar cairan coklat dari jalan lahir, sama seperti kemarin Bang..” Istri saya menceritakan flek/spotting yang dialaminya dua hari belakangan dengan tensi santai dan berusaha tenang.

“Mungkin pengaruh hormonal, insyaALLAH aman, toh, kita sudah optimal dalam ikhtiar dan doa, yakin saja, sekalian nanti di Palembang kita cek,. Apalagi obat penguatnya rajin diminum!” Begitu saya mencoba meyakinkan istri. Sejujurnya saya juga cemas, apalagi ini kehamilan pertama istri setelah 6 bulan usia pernikahan kami, jelas kehadiran anak sangat kami nantikan.

Selama beberapa hari berikutnya, kami mempersiapkan keberangkatan, mulai dari urusan pesan tiket, akomodasi jemputan dari Saudara, sampai urusan untuk membawa oleh- oleh secukupnya. Selama beberapa hari itu pula saya kerap mengingatkan istri saya untuk tidak terlalu memaksakan diri dalam beraktivitas, khawatir mengganggu kesehatan kandunganya.

Rabu. 20 November 2013

Pagi itu sekitar pukul 07.00, kami sudah siap menunggu jemputan Travel jurusan Pangkal- Pinang — Muntok yang akan membawa kami menyeberang menuju Sumatera Selatan. Segala sesuatu sudah kami siapkan, mulai dari bekal makanan, persediaan pakaian dan lain sebagainya. Jemputan tiba, dan kami beserta seluruh penumpang langsung dibawa menuju Muntok. Sepanjang jalan, bisa dikatakan permukaan jalur cukup mulus sehingga relatif tidak memicu goncangan keras yang mengganggu rahim istri saya yang sedang hamil.

Menjelang pukul 10.00 kami tiba di Pelabuhan Muntok dan melanjutkan perjalanan dengan menumpang Kapal Cepat Ekspres Bahari menyeberangi Selat Bangka dan menyusuri Sungai Musi. Hampir tiga jam waktu kami habiskan di laut dan sungai. Kami sempat makan dengan bekal yang sudah disiapkan Istri, dan ia pun minum susu khusus ibu hamil yang sudah ia siapkan dalam tupperware. Tapi tak lama kemudian, saya dapati istri seperti diam tertegun namun terasa tidak nyaman.

“Ada apa sayang? Ada yang tidak nyaman? Saya bertanya seperti itu karena saya sudah cukup kenal bagaimana ekspresi Istri bila sedang tidak nyaman atau memendam sesuatu.

“Tidak apa- apa!” Jawab Istri sambil menggeleng dan menguatkan genggaman tangannya diantara jari jemari saya. Tapi saya merasa ada lebih dari sekadar “Tidak apa- apa” itu. Hal yang secepatnya langsung saya buang dari dalam pikiran saya. Istri saya atau mungkin rata- rata wanita di dunia ini adalah mahluk paling hebat dalam urusan menyimpan rahasia atau menyamarkan sesuatu.

Di hari yang sama menjelang pukul 14.00 Kapal kami sudah merapat di Pelabuhan Boombaru Palembang, kami segera menghubungi Saudara yang sudah siap menjemput dan ternyata sudah menunggu di parkir pelabuhan. Kami bergegas masuk kedalam mobil, istri langsung sigap ambil posisi di deret tengah, saya didepan menemani Saudara. Perjalanan dilanjutkan menuju rumah Saudara, saat itu juga saya melihat air muka Istri sudah memucat, bibirnya pasi. Tentu ada sesuatu yang tidak beres saya kira, tapi seperti biasa jawaban istri tetap sama: “Tidak apa- apa!”.

Tidak lama kemudian, kami pun tiba di rumah Saudara yang rencananya akan saya dan Istri tumpangi selama di Palembang. Namun, di saat itu Istri menggamit lengan saya dan berbisik “Bang, ada banyak darah keluar, mau cepat- cepat ganti celana dan pasang pembalut” ujarnya sambil berjalan tertatih dan lemah.

Benar saja, begitu tiba dirumah, dan dicek ada banyak kucuran darah segar yang menempel di bekas celana dalam Istri. Atas inisiatif bersama, Istri saya dibawa ke Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan. Setibanya di UGD, perawat langsung memasang infus dan mencarikan ruangan. Tak lupa pula mereka menghubungi Dokter jaga yang sayangnya tidak bisa langsung mengecek kondisi istri saat itu, pihak Rumah Sakit hanya memberikan resep obat yang harus saya tebus, resep yang saya kira dibuatkan oleh Dokter atas laporan perawat/bidan yang menerima Istri.

Tapi ya sudahlah, saya pikir tadinya ada Dokter yang akan segera menangani Istri saya, sang Dokter hanya datang dalam bentuk kertas resep yang harus saya tebus berikut rinciannya. Saya sempat berpikir apa ini karena saya pakai kartu ASKES sehingga pelayanan yang saya dapat tidak prima? Tapi lagi- lagi sudahlah, yang saya inginkan hanya supaya Istri sembuh dan itu berarti menurut Dokter itu resepnya harus segera ditebus. Selesai urusan tebus- menebus, ternyata malamnya Dokter tak juga datang. Perawat hanya menjanjikan kemungkinan baru besok Dokter bisa datang. Saya kecewa, tapi saya kelabui kekecewaan itu dengan menunggui istri saya, menghiburnya dan menguatkannya sebisa saya.

Sampai di titik ini saya berpikir. Mengapa penugasan ke Palembang bertepatan sekali waktunya dengan kejadian ini, mengapa saat itu kami mengambil keputusan untuk berangkat bersama. Ternyata memang begitu jalan cerita hidup kami. Kandungan Istri yang saya kira sehat harus mengalami pendarahan hebat justru saat kami baru saja tiba di Palembang. Bila Istri saya tinggal? Bagaimana ia akan bisa menghadapi ini sendirian tanpa sanak famili? Bila penugasan itu tidak ada mungkin kami berdua akan kewalahan juga menghadapi ujian ini untuk kali pertama berdua saja. ALLAH.SWT telah mengatur semuanya, rentetan kejadian yang tampak saling lepas rupanya saling berkait membentuk rangkaian cerita berikut alasannya.

Bersambung….

Read more »

10.22.2013

Dua Garis Itu Berwarna Merah

Dalam hitungan (kurang lebih) delapan bulan kedepan insyaALLAH saya akan menjadi Ayah dan istri saya akan menjadi Ibu. Kami akan hidup dengan tambahan tanggung jawab baru sebagai orang tua. Sebuah nikmat dan karunia yang besar ini terungkap setelah dua hari yang lalu, tiga kali hasil testpack uji kehamilan pada istri memberikan dua garis merah tanda positif. Sungguh ALLAH. SWT itu benar- benar Maha Mendengar.

Sudah lewat sekitar lima bulan sejak kami menikah. Memang baru dua bulan terakhir ini kami benar-benar hidup bersama, karena sebelumnya istri masih bertugas di daerah lain sebagai Dokter PTT. Di dua bulan terakhir inilah kami mulai secara intensif menyiapkan banyak keperluan berumahtangga. All i can say is that living under construction is not easy. Dan disamping itu saya dan istri tidak sama sekali menunda untuk memiliki anak, sedapatnya saja, lebih cepat lebih baik.

Tetapi keinginan tersebut tidak begitu saja terkabul. Ternyata soal kehamilan wanita itu mutlak kuasaNYA. Serinci apapun program kehamilan kami susun, bila belum waktunya maka tetap saja belum membuahkan hasil. Beberapa kali di empat bulan pertama pernikahan saya dan istri dapati siklus bulanan istri terlambat sampai 7 hari tapi beberapa kali testpack pun hasilnya negatif. Cuma ada satu garis merah yang muncul. Emosi saya kala itu seperti dipermainkan, asa yang kadung tinggi melambung tiba- tiba jatuh bebas menghantam tanah. Istri berusaha menenangkan.

Hal semacam itu terjadi beberapa kali. Tapi seperti biasa, sehebat apapun sebuah penolakan atas kuasaNYA tidak akan pernah membuat hidup menjadi lebih mudah. Hanya penerimaan yang dapat membuat jalan pikiran dan pandangan hati terbuka. Saya dan istri kemudian saling menguatkan dan mengingatkan bahwa kepadaNYA kembali semua urusan. Segenap doa dan ikhtiar kami genapi sembari menikmati hidup dalam kebersamaan yang hangat.

Hari demi hari berganti minggu sampai akhirnya ketika kami sadari bulan ini siklus istri sudah cukup lama terlambat (kurang lebih 10 hari) dan kami memberanikan untuk meyakinkan diri membeli dua buah alat uji kehamilan. Dan saat malam hari alat itu kami pakai, hasilnya meski agak kabur mulai menunjukkan ada sebuah garis merah. Keesokan harinya dipagi hari, test yang sama kami lakukan, hasilnya lebih terang. Tetapi kami masih belum terlalu yakin dan sepakat membeli satu lagi dengan merek berbeda dan kami pakai besoknya. Hasilnya dua garis itu muncul terang berwarna merah yang berarti Istri positif hamil. Saat itu tanggal 20 Oktober 2013 pukul 05:00 WIB

Alhamdulillah. Ternyata ALLAH. SWT mendengar doa kami. Satu hal yang membuat saya yakin bahwa kehadiran seorang anak itu murni hak prerogatifNYA. Sehingga kurang pantas bila ada sebagian dari diri kita yang cenderung bersikap (maaf) jumawa sebab telah memiliki anak, apalagi mengaitkannya dengan ihwal kejantanan, dan memandang kurang simpatik pada mereka yang belum dikaruniai putra/ putri. Tidak ada suami istri yang tidak mau memiliki permata hati. Namun, semua kembali soal kuasaNYA. Saya pribadi hanya dapat membantu doa untuk para rekan yang telah dengan sabar dalam penantian menunggu kehadiran anak. Semoga pahala atas sabar itu terus mengalir dan semua indah pada waktunya.

Pun untuk diri saya dan istri. Kami mohon doa semoga janin yang tengah dikandung istri dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat hingga saatnya lahir nanti. Serta menjadi pribadi yang sholeh/sholehah. Aamiin. Rencananya bila ia lelaki saya berpikir menamainya El Ismail Amir. Bila ia wanita pikiran saya memberinya nama El Marwah Shafiyah. Perjalanan masih panjang, dan waktu akan terus berjalan bersama ketetapan ALLAH. SWT yang maha melihat dan maha mendengar. Semoga berkah dan petunjukNya selalu kita dapatkan. Aamiin.

Ebas
Pangkal Pinang.
23102013.

Read more »

10.09.2013

Melanjutkan Cerita Hidup

Satu tahun lalu saya berdoa pada ALLAH. SWT jika ada rezeki saya jadi Account Representative semoga ditempatkan ditempat yang terbaik menurutnya. Sampai kemudian ternyata sampailah saya di Pulau Bangka. Kota Pangkal Pinang. Ternyata tanpa saya duga, garis hidup saya memuat cerita di dareah ini yang katanya kaya Timah. And here i am an Account Representative at KPP Pratama Bangka.

Hijrah ini bertepatan seminggu sebelum pernikahan saya dan istri digelar. Ibarat babak, maka ini menjadi semacam babak baru kehidupan yang sebelumnya tidak kami duga tapi harus dihadapi. Di Bangka ini kami memulai hidup berumahtangga, menjalani visi misi bersama dan saling mendukung. Saya dengan peran baru sebagai pemimpin rumah tangga dan istri sebagai partner utamanya. Belakangan saya sadar bahwa perkataan Bapak saya lima tahun lalu memang benar bahwa hidup seorang laki- laki itu baru dimulai sebenarnya kalau ia sudah menikah.

Di kantor, dengan tanggung jawab baru itu, saya senang menjalaninya. Teman- teman kerja yang baik dan lingkungan yang lumayan. Dua hal ini adalah sedikit dari banyak berkah yang tidak saya duga ternyata ada menyertai saya. Mereka berkenan membagi ilmu untuk hal- hal yang saya belum paham, untungnya saya pun tak pernah malu bertanya. Saya merasa lebih beruntung lagi mendapatkan atasan yang memadai ibadahnya sehingga bisa saya contoh. Sering dalam tiap perjalanan dinas sepanjang jalan kami berdiskusi tentang ilmu agama. Meski tidak terlalu dalam, tapi esensinya cukup membuat diri saya terbuka wawasan dan pandangan.

Lika- liku dunia kerja sebagai AR menyadarkan saya bahwa dunia tidak selalu semanis madu. Saya mulai 'terbangun' bahwa memang kesadaran masyarakat kira akan kewajiban pajak dan arti pentingnya masih sangat kurang. Tiap kali saya dapati himbauan yang saya buat tidak ditanggapi bahkan diabaikan begitu saja oleh wajib pajak. Parahnya, resistensi tinggi sering saya dapati saat melakukan kunjungan ke lapangan. Untungnya saya belum mendapati penolakan lewat bentrok fisik atau kurang menyenangkan lainnya.

Mirisnya harus saya akui bahwa, banyak oknum Konsultan Pajak 'gelap' yang turut memperburuk situasi. Mereka yang seharusnya menjadi pengingat wajib pajak soal kewajiban mereka, justru turut membantu bersekongkol menghindari pajak. Seperti kemarin saat saya dapati uang PPN milik negara tidak disetor oleh suatu perusahaan yang konsultannya sering saya ajak diskusi. Sangat disayangkan, ia tidak terbuka di tiap sesi diskusi kami malah menutupi praktik itu. Hilang sudah kepercayaan saya pada si oknum. Inginya saya maklum bahwa itulah penghidupan mereka mencari nafkah. Tapi saya tidak bisa.

Sebagai AR, dalam setahun ini, saya ditugasi target Rp 33 M. Saya coba jalankan sebisanya untuk mencapai target itu. Belum tahu apa tercapai apa tidak, tapi saya kira kalau sudah usaha dan doa optimal tinggal berserah saja. Dalam bekerja saya merasa lapang karena peran istri saya yang melayani kebutuhan saya lebih dari apa yang saya harap. Mulai dari menyiapkan pakaian untuk berangkat, sarapan, makan siang sampai menyambut saya dengan senyuman tiap kali petang pulang.

Oh ya, disini, hobi saya lari dan sedikit bodyweight trainning bisa berjalan dengan baik, setiap Selasa- Jumat dan akhir pekan saya kerap olahraga di stadion. Sesekali saya dan istri jalan ke pantai untuk piknik kecil- kecilan pelepas penat. Apa yang saya jalani kini sudah membuat saya paham apa itu arti kata 'cukup' dan membenarkan pameo bahwa 'bahagia itu sederhana'.

Hidup akan terus berjalan. Sekarang kami di Bangka, esok lusa mana tahu. Cerita dan manusia akan hilang berganti. Tapi bagaimanapun dan dimanapun itu semoga berkah ALLAH. SWT selalu menyertai kami dan kita semua.

Read more »

9.15.2013

Hidup Untuk Hidup

Hidup adalah perjalanan menuju mati.

Sayangnya fakta paradoksal ini kerap menjadi abai karena tertutupi mewahnya kehidupan dunia yang diukur dalam satuan fisik dan materi. Ada yang bilang kondisi ini adalah pergeseran alamiah yang dimotori oleh seleksi alam. Pendapat yang benar bila cuma disasar ke mahluk selain manusia yang hanya memiliki naluri dan insting. Namun tidak bisa ditujukan kepada kita (manusia) karena kita diberikan oleh ALLAH. SWT dua hal yaitu akal untuk berpikir dan hati yang memberi kendali.

Hati adalah apa yang membuat kita menjadi mulia atau hina. Hati yang lebih dari sekadar sekerat daging didalam tubuh, ia tempat rasa sesak atau hangat bersembunyi dan biasa muncul ketika momentumnya datang. Kehadiran sensasinya tidak bisa dibohongi. Namun butuh penglihatan yang jernih untuk mengenalinya dan kejujuran untuk mengakuinya sebab setiap pengakuan yang jujur adalah titik masuk menuju perubahan. Disaat yang sama, pengabaian atas peringatan yang muncul di tiap momentum sama saja dengan menunda kegelisahan.

Tidak ada manusia yang sempurna tapi tidak ada kesalahan yang bisa dibenahi. Dalam hidup, kesalahan yang muncul karena hati yang gagal ditata sudah sangat jamak memicu selisih paham sampai pertumpahan darah. Menata hati kemudian menjadi sangat penting untuk menjalani kehidupan. Namun menatanya tidak semudah menata meja kerja atau pekarangan rumah, sebab kita bukan pemiliknya. Ia cuma ada sebagai tempat agar kita bisa merasai hangatnya iman dan sesaknya ingkar. Menatanya agar selalu sesuai fitrah adalah cerita tentang betapa tergantung kita kepada ALLAH. SWT sebagai pemiliknya.

Mengakui dalam doa dengan segala kerendahan hati bahwa kita lemah dan bodoh merupakan jalan agar hati selalu lapang menghadap padaNYA. Tidak ada yang salah disitu, karena memang status hidup kita adalah sebagai hamba jadi sesuai fitrah hanya kepadaNYA kita berdoa. Faktor lingkungan dan pesona duniawi telah membuat kita lupa bahwa segala daya upaya dan logika kita tidak bisa menandingi kuasaNYA.

Hati yang tenang tanpa iri atau dengki adalah jalan menuju mulia, disusupi keduanya ia dapat menjadi hina. Kita hidup untuk "hidup", namun diantara keduanya kita harus menuju mati sebagai jalan utamanya. Semoga hati yang lapang dengan fitrah yang lurus dapat tetap kita miliki. Agar kelak bila saatnya tiba, tidak lagi ada yang perlu disesali.

Salam

P. S: ------
1. Segala syukurku padaMu ALLAH. SWT untuk telah memberikan seorang Istri yang telah banyak menjadi pengingat dan pemberi masukan ditiap gundah dan kebingungan. Semoga kami tetap dapat selalu berada di dalam jalan fitrahMu. Aamiin.

2. Catatan renungan hari lahir yang ke 26. Jakarta, 14 September 2013.

Read more »

9.08.2013

Lari Pagi ke Pasir Padi 10K

Jalan aspal yang sepi seperti tak ada habisnya. Dikiri kanan cuma ada beberapa komplek pabrik peleburan bijih timah, selebihnya hutan hijau yang sebagian lahannya bopeng akibat sisa penambangan timah yang tidak direklamasi. Itulah sekilas gambaran jalur yang aku lewati kemarin, saat jogging dari arah pelabuhan Pangkal Balam menuju Pantai Pasir Padi. Jarak tempuhnya sekitar 10 Kilometer (10K).

Semua dimulai pada saat bangun pagi dan aku terpikir untuk berolah raga dengan porsi yang lebih banyak. Sebab, selama ini olah raga rutin ku sudah membuatku masuk zona nyaman yang patut diseret keluar sesekali. Lari 10 K sudah beberapa kali aku coba dan memang menyenangkan. Jadilah pagi itu, aku pamit berolahraga pada istri (baca: mencium keningnya), mengencangkan tali sepatu dan segera berlari menyusuri jalanan Yos Sudarso menuju titik akhir, Pantai Pasir Padi.

Jogging itu menyenangkan, hanya jika tahu bagaimana cara menikmatinya. Sayangnya, ini semua soal kebiasaan dan pengalaman yang menjadi candu. Sulit menjelaskan apa dan bagaimana menikmatinya itu. Puncaknya adalah saat baju sudah basah kuyup banjir keringat tanda klimaks usai mencapai titik tujuan. Sepanjang menapaki jalanan itu, tehnik olah nafas sangat penting, bernafaslah dengan hidung setidaknya pada separuh jarak tempuh (lebih lama lebih baik) sebab itu trik untuk menghemat energi. Bila sdh tidak tahan maka tarik nafas dalam dan hembuskan pelan- pelan untuk menjaga stabilitas kerja jantung.

Begitu tiba di pantai, sungguh seperti kesenangan yang luar biasa. Menyusuri bibir pantai sambil melepas pandangan ke laut lepas, melihat kapal penambang pasir yang terlihat kecil bagai titik yang bergerak pelan. Sembari melakukan pendinginan dan mengatur nafas kembali di kedai- kedai yang belum menggelar daganganya. Tak lama kemudian aku pulang, namun bila kupaksakan dengan jogging kembali tentu itu berlebihan namun ternyata tidak ada angkutan umum yang tersedia. Akhirnya terpaksa jalan kaki kurang lebih 1 Kilometer ke batas kota di kecamatan Air Itam.

Untuk sampai kerumah, aku putuskan menumpang angkot (untung bawa uang). Begitu sampai, kurang lebih pukul 09.30 dan baru ingat pesan istri waktu aku pergi tadi "jangan lama- lama y Bang" dan baru teringat bahwa aku pun lupa bawa hp. Aku pun jadi maklum bila belahan jiwa ku itu kemudian cemberut, apalagi makanan yang susah ia siapkan sudah jadi dingin padahal itu untuk sarapan bersama. Namun demikian. I know she loves me and i love her. Aku kira aku tidak boleh lupa bahwa kesenangan masa lajang dulu kini harus disesuaikan dengan status sebagai pria beristri.

Pangkal Pinang
September 2013

Read more »

8.20.2013

15Th Reformasi: Menangkal Gagap Demokrasi

Peristiwa Mei 1998 menjadi titik balik sistem pemerintahan Indonesia. Rezim otoritarian Soeharto yang berkuasa lebih dari 30 tahun tumbang secara dramatis oleh kekuatan rakyat dan mahasiswa. Korban berjatuhan. Tragedi tersebut telah mencatatkan sejarah kelam bangsa ini menuju demokrasi. Angin segar perubahan yang dibawa demokrasi telah melambungkan harapan rakyat di seluruh penjuru negeri. Demokrasi digadang- gadang akan mampu mengembalikan kedaulatan rakyat yang terpinggirkan (marginalized) berbilang tahun lamanya.

Berbicara demokrasi maka berkaitan erat dengan kepentingan rakyat. Apapun ritual demokrasi itu, muara utamanya adalah menegakkan kedaulatan rakyat pada multiaspek. Rakyat adalah alasan demokrasi itu dilahirkan. Sebagaimana lazimnya sebuah sistem, maka kualitas pelaksanaannyalah yang menjadi penentu tingkat keberhasilannya. Tidak ada sistem yang sempurna tanpa cela, namun tidak ada cela yang tidak bisa diminimalkan. Dua unsur utama landasan pelaksanaan demokrasi adalah prosedur dan substansi.

Senyawa Demokrasi: Prosedur dan Substansi

Pemilihan Umum Presiden tahun 2004 adalah perhelatan yang menandai bahwa Indonesia sudah sukses beralih menuju sistem demokrasi. Meski tentu saja di mata pergaulan dunia internasional, bangsa ini masih dianggap baru dalam berdemokrasi. Setidaknya dibutuhkan waktu 15 tahun untuk tahap awal inisiasi demokrasi suatu bangsa menuju kematangan. Itu berarti Indonesia kini, secara teori, tengah memasuki periode lepas landas menuju demokrasi yang matang.

Menarik untuk dicermati. Seberapa layak sebetulnya kita bersiap lepas landas menuju kematangan demokrasi? Pertanyaan ini mengemuka ditengah penegakan hukum yang masih terkesan tebang pilih, keamanan masyarakat yang masih dihantui tingginya angka kriminalitas, praktik korupsi yang makin akut, pembangunan fisik/ infrastruktur yang belum merata dan inferioritas bangsa dalam pergaulan internasional. Khasiat demokrasi kemudian dipertanyakan. Alternatif pun bermunculan ditawarkan oleh pihak yang gerah dan rindu akan kesejahteraan.

Bila memutar balik pada beberapa praktik penyelenggaraan Pemilu/ Pemilukada selama 1 dekade terakhir. Dapat dilihat bahwa prosedur demokrasi telah berhasil diterapkan. Pemimpin yang dilahirkan lewat mekanisme demokrasi secara teori adalah hasil kehendak suara terbanyak. Sebatas itu prosedur demokrasi telah ditaati. Dalam tata kelola pemerintahan, demokrasi juga telah membidani lahirnya tiga unit penyelenggara negara yaitu: Eksekutif (pelaksana kebijakan), Legislatif (pembuat kebijakan) dan Yudikatif (penegak hukum).

Pelaksanaan prosedur demokrasi telah berhasil dilaksanakan dengan semua nilai kurang dan lebihnya. Secara prosedural bangsa indonesia telah mampu berdemokrasi. Namun demikian sampai sejauh mana praktik demokrasi secara substansi di negeri ini juga tidak kalah penting. Keberadaanya menjadi penentu efektifitas prosedur demokrasi yang sudah dijalankan. Salah satu prosedur demokrasi yang paling vital adalah Pemilu dan rakyat sebagai pelaku utama dalam pemilu dalam hal ini bisa dianggap telah berhasil menjalankan tugasnya.Kembali pada substansi. Secara teori, substansi demokrasi meliputi segala sesuatu hal yang mendukung terciptanya iklim kondusif bagi banyak aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Berdirinya hukum dengan tegas dan jelas, toleransi umat beragama yang baik, keadilan dalam menikmati pembangunan dan kesejahteraan serta politik yang minimal dengan huru- hara. Beberapa hal tersebut adalah sedikit dari inidikator positif substansi demokrasi itu sendiri.

Berkaca pada catatan perjalanan bangsa ini, kita masih kerap melihat sejurus galeri peristiwa intoleran, impunitas hukum dan instabilitas sosial/ pembangunan. Negara dalam hal ini masih minimal bahkan terkadang absen menengahi berbagai polemik. Penyelenggara negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan substansi demokrasi yang didamba masyarakat, sebab rakyat adalah titik akhir yang merasakan tiap kebijakan yang mereka buat, laksanakan dan awasi. Ketika substansi dan prosedut berjalan tidak selaras, maka demokrasi belum bisa dikatakan berhasil. Sebab keduanya adalah senyawa yang mewujud sebagai demokrasi itu sendiri, bilamana salah satu komposisinya terganggu maka wujudnya akan rapuh. Dan bisa jadi inilah yang sekarang terjadi di negara kita.

Butuh Ketegasan dan Konsistensi

Peran para pengambil keputusan sangat diperlukan dalam meciptakan iklim demokrasi yang sarat substansi. Rakyat boleh berharap, prosedur boleh sudah jelas. Namun tanpa konsistensi dan ketegasan kuat dari para pimpinan, semua kondisi tersebut menjadi sia- sia. Peran pemimpin sangat diperlukan terutama untuk tiga hal yakni (pertama) menjadi pengendali operasional jalannya kualitas demokrasi. Cetak biru arah kebijakan negeri ini merupakan cermin paling jernih untuk melihat berapa besar itikad para pemimpin menegakkan kedaulatan rakyat dengan cara seoptimal mungkin mengajak dan melibatkan rakyat dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan. Dalam hal ini, sudah seharusnya pemipin menjadi corong yang menelurkan kebijakan sebagai instrumen untuk menggerek sense of belonging bangsa dalam mengawal demokrasi.

Kemudian, pemipin bersama dengan rakyat adalah pengawas jalannya demokrasi. Pemipin yang tegas akan segera menghalau segala rintangan yang menghalangi tercapainya cita- cita demokrasi. Rintangan tersebut dapat datang dari banyak arah. Dari faktor internal, rintangan tersebut dapat berasal dari oknum pihak terkait yang kurang komitmen dalam menjalankan kebijakan. Korupsi adalah contoh masif yang dapat segera ditindak karena sangat jelas dampak buruknya bagi kesejahteraan dan kedaulatan. Sedangkan dari faktor eksternal, rintangan tersebut dapat berasal dari pihak asing yang secara halus menggerogoti martabat bangsa melalui praktik bisnis yang mengeruk sumber daya alam negara (eksploitasi). Sebab eksploitasi berkedok bisnis merupakan praktik white collar crime yang menggadaikan kedaulatan bangsa dan melemahkan ekonomi dalam negeri yang justru menjadi penopang pelaksanaan demokrasi.

Terakhir yang tidak kalah utama adalah konsistensi para pemimpin dalam menjalakan peran baik sebagai pengawas maupun sebagai pengendali demokrasi. Pemimpin adalah benteng terakhir pertahanan nilai demokrasi, karena ditangan para pemimpin kebijakan ditimbang dan ditetapkan. Kebijakan yang sangat vital dalam menciptakan demokrasi yang sarat substansi. Substansi demokrasi yang kuat bersama dengan prosedur demokrasi yang sesuai jalur merupakan keniscayaan dalam menuju demokrasi yang matang.

Read more »

8.17.2013

Dicari: Kejujuran!

Kejujuran. Satu hal yang makin terlihat absurd di jaman sekarang ini. Menjadi jujur sudah makin identik dengan menjadi bodoh. Pergeseran pemikiran semacam ini makin membuat kejujuran terdesak dan terasa asing, sebab memang menjadi jujur itu sulit, apalagi ditengah gempuran godaan duniawi dan kompetisi materi yang kerap ditonjolkan lingkungan sekitar.

Semua dimulai dari hal kecil. Termasuk kejujuran. Jujur pada satu hal akan membuahkan sikap jujur pada hal yang lain. Tapi menjalankanya bukanlah tanpa resiko, perlu keberanian. Sebab sikap berani itu adalah benteng terakhir pertahanan prinsip kejujuran. Saat kita menyerah dan berhenti untuk jujur, maka saat itu pula kita mulai merasakan pertentangan dari nurani yang memberontak.

Resiko menjadi jujur didunia ini adalah dicap bodoh, ketinggalan jaman dan jauh dari hidup mewah. Namun tidak ada rasa yang menandingi rasa kelegaan usai berbuat jujur. Tidak bisa ditampik, rasa itu melambungkan bahagia karena bisa mengalahkan dunia. Lebih jauh lagi, prinsip kejujuran akan selalu diiringi tempaan untuk menjadi sabar dalam banyak hal. Sabar melihat mereka yang tunaintegritas akan lebih lapang materi. Sabar mendengar opini miring yang disasar tanpa alasan. Serta sabar dalam memelihara keyakinan bahwa ALLAH tidak akan menyia- nyiakan.

Kita ada dari tiada. Lahir, tumbuh besar, menua dan kemudian wafat. Kembali pada yang telah menciptakan kita. ALLAH. KuasaNya tidak kenal zaman sebab Ia tak terikat waktu. Menjadi jujur mungkin akan membuat pelakunya seperti lugu dan terpinggirkan didunia. Karena keserakahan dunia sudah makin tidak memberi ruang bagi kejujuran. Tapi semoga keteguhan dalam kejujuran akan membantu kita menjadi layak menerima pertolonganNYA kelak di akhirat.

Pangkal Pinang. Agustus 2013
Malam Kemerdakaan RI ke 68.

Read more »

8.15.2013

Golput: Harga Mahal Sebuah Hajat Sakral

Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) sudah masuk hitungan bulan, agenda elektoral sudah mulai gencar digaungkan dan dijalankan sejumlah Partai Politik. Hajat Besar lima tahunan ini selalu menjadi gerbang pengharapan akan kondisi kehidupan multiaspek yang lebih baik dari sebelumnya. Semua kekurangan selama lima tahun berharap dapat ditebus dalam satu hari pada 09 April 2014. Akan tetapi, benarkah kita telah bertekad kuat menuju perbaikan itu? Sebuah pertanyaan yang kerap muncul ditengah kenyataan rendahnya tingkat partisipasi pada ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di beberapa daerah negeri ini.


Demokrasi Minim Partisipasi

Menilik fakta mengenai tingkat partisipasi pada beberapa Pilkada sepanjang tahun 2012- 2013 tercatat bahwa di provinsi Bali dari 26% pemilih yang terdaftar pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak menggunakan hak pilihnya menjadi Golongan Putih (Golput). DKI Jakarta pada Pilkada yang menelurkan Jokowi sebagai Gubernur terpilih ternyata mencatatkan sisi gelap dengan sekitar 36% pemilih bersikap golput. Setali tiga uang pula Provinsi Jawa Tengah, Pilkada yang usai digelar medio tahun ini diwarnai aksi golput hingga 49% dari DPT. Kondisi yang tidak lebih baik juga terjadi pada Pilkada Sulawesi Selatan baru- baru ini, angka pemilih golput sejumlah 30%. Secara sederhana, dapat kita rangkum tingkat partisipasi pada sejumlah pilkada di 10 provinsi di Indonesia:

No Provinsi Tahun Jumlah DPT Tingkat Golput

1 DKI Jakarta 2012 6.982.179 36%
2 Sulawesi Selatan 2013 6.279.350 30%
3 Bali 2013 2.918.824 26%
4 Jawa Tengah 2013 27.385.985 49%
5 Sumatera Selatan 2013 5.820.453 37%
6 Riau 2013 4.331.062 40%
7 Nusa Tenggara Barat 2013 3.478.892 37%
8 Maluku Utara 2013 1.185.661 29%
9 Sumatera Utara 2013 10.310.872 51,5%
10 Jawa Barat 2013 36.636.312 37%
Rata- Rata 37,3%

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa angka rata- rata tingkat golput di 10 provinsi menunjukkan semangat partisipasi yang rendah. Ini adalah sebuah kecenderungan yang lahir dari akumulasi kekecewaan berbilang tahun lamanya. Kenyataan ini membuat cita- cita menuju perubahan yang lebih baik makin jauh panggang dari api. Faktor pendukung yang secara kasat mata mendorong munculnya fenomena ini adalah bahwa rakyat sebagai pelaku utama tradisi pesta demokrasi ini tak jua kunjung merasakan perbaikan kualitas hidup. Justru yang terjadi adalah semua rakyat kerap dipertontonkan mengenai carut- marut panggung kehidupan negara yang makin memupuskan harapan. Sehingga melahirkan kesimpulan untuk menarik diri jauh- jauh dari sikap partisipatif, jika dengan berpartisipasipun perbaikan itu tidak juga dinikmati. Sikap Golput akhirnya mendapat justifikasi yang mendalam.

Namun demikian, ada satu hal penting yang patut kita perhatikan bersama, yaitu perihal ongkos pesta demokrasi yang akan kita laksanakan itu. Semua ongkos itu diambil dari APBN yang dibiayai oleh pajak sebagai sumber terbesar. Pajak yang semula dari kita untuk kita justru akan kehilangan makna bila kita enggan berperan dalam pesta demokrasi itu. Bahkan lebih jauh lagi, kita tengah meninggalkan hak dan membiarkan negeri ini berjalan makin jauh dari perbaikan. Ironis.

Pemilu, Pesta Mahal Sebuah Hajat Sakral

Pemilu 2014 sudah dianggarkan sebesar didalam APBN Rp 16,2 Triliun meningkat hampir 100% dari Pemilu 2009 (ditambah Rp 923,5 Miliar untuk Pemilu Legislatif). Anggaran tersebut diuraikan untuk kepentingan persiapan, pelaksanaan dan operasional bagi seluruh provinsi di Indonesia. Sekitar 50% dari total anggaran tersebut digunakan untuk pelaksanaan tahap persiapan yang untuk dikelola Komisi Pemilihan Umum (KPU) Rp 8,1 Triliun dan Badan Pengawas Pemilu (Bawasu) Rp 1 Triliun. Bila dibandingkan dengan target penerimaan negara dari pajak tahun 2013 (Rp 900 Triliun), dana sebesar Rp 16,2 Triliun memang hanya 1,78% namun bila dibandingkan dengan anggaran kesehatan maka jumlah tersebut setara dengan 46,28% dari anggaran yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan. Sungguh ternyata biaya penyelenggaraan Pemilihan Umum tidaklah murah. Jika saja tidak ada Pemilu, mungkin anggaran tersebut dapat dialokasikan untuk meningkatkan jumlah penerima Jamkesmas dan Kartu Miskin. Sehingga meminimalisir jumlah pasien yang meninggal karena perawatan tidak layak atau bayi kurang gizi yang tidak tertangani. Tetapi Pemilu adalah sebuah konsekuensi yang sudah dipilihkan dalam sejarah perjalanan bangsa. Pemilu harus tetap ada sebagaimana diamanatkan Undang Undang Dasar Negara Repubilk Indonesia Tahun 1945 sebagai mekanisme dalam memilih pemimpin.

Hindari Golput Optimalkan Pemanfaatan Uang Pajak

Berpartisipasi didalam Pemilihan Umum adalah salah satu bentuk nyata kepedulian pada negeri. Bagaimana tidak, Pemilu yang diselenggarakan dengan menggunakan uang rakyat tentu baru akan berdampak baik bila telah merangkul peran aktif rakyat karena Pemilu merupakan tradisi dari dan untuk rakyat. Pemilu menjadi kehilangan arti bila ditunaikan dengan minim partisipasi.

Bagaimanapun bentuk kekecewaan yang sudah terlanjur berkelindan dalam pandangan dan pikiran rakyat jangan sampai membuat bangsa ini kehilangan harapan. Bahkan saat Pemilu menyodorkan beberapa calon pemimpin baru dengan kualitas yang menurut kita tak mumpuni maka merujuk ke pernyataan M. Quraish Shihab pilihlah yang kekuranganya paling minimal diantara yang ada.

Sudah terlanjur mahal biaya yang siap dikucurkan untuk menggelar hajat besar ini, sehingga sangat disayangkan jika pelaksanaanya tidak didukung partisipasi aktif rakyat banyak. Selain itu, Golput adalah bentuk lain dari sikap “lari dari tanggung jawab” untuk mengawal pemanfaatan uang pajak. Lebih jauh lagi, dengan menjadi golput maka kita telah menjadi bagian kelompok yang menyebabkan pembiaran atas pemborosan uang negara. Pemilu memang belum tentu melahirkan pemimpin mumpuni bagi negeri ini, namun menjadi golput hanya akan membuat negeri ini berjalan mundur jauh dari makna dan tujuan demokrasi itu sendiri.



Read more »

8.14.2013

Kepatuhan Wajib Pajak: Antara Potensi dan Ekspektasi

Apa kesan yang didapat bila kita bertanya pada wajib pajak mengenai urusan perpajakan? Rumit! Mau tidak mau begitulah kesan yang harus diterima instansi Ditjen Pajak. Jangankan kepada Wajib Pajak yang usia NPWP nya baru seumur jagung, bahkan Wajib Pajak yang sudah terbilang bertahun lamanya kesan tersebut tetap ada. Mungkinkah ini merupakan penyebab rendahnya kepatuhan Wajib Pajak? Memang belum ada studi akademis yang fokus menggali perihal ini. Namun, setidaknya dalam berbagai kajian, kita sepakat bahwa “Kepatuhan Wajib Pajak” adalah salah satu indikasi utama keberhasilan Modernisasi Ditjen Pajak.

Modernisasi Dalam Perangkap Ironi
Sudah lewat satu dekade modernisasi bergulir, dimulai di tahun 2002 dengan dibentuknya Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar (Large Tax Office) yang khusus melayani sejumlah Wajib Pajak dengan kontribusi pembayaran pajak tertinggi (dalam skala nasional) berlanjut hingga akhirnya di tahun 2008 semua Kantor Pelayanan Pajak sah bergelar ‘modern’. Bicara keberhasilan modernisasi, tentu saja banyak daftar pencapaian yang bisa disajikan melalui tulisan ini, tetapi hal itu bukan alasan utama artikel ini penulis buat. Artikel ini memaparkan sebuah ironi yang dapat menjadi titik balik momentum modernisasi dengan maksud supaya modernisasi tidak sekadar menjadi festival yang mengaum tanpa gaung.

Indikator paling kentara untuk menilai kepatuhan wajib pajak dapat kita lihat pada rasio penyampaian SPT Tahunan, yang secara sederhana merupakan perbandingan antara wajib pajak yang melaporkan SPT Tahunan dengan jumlah wajib pajak terdaftar yang wajib lapor SPT Tahunan (tidak termasuk wajib pajak dengan status cabang, istri dan Non Efektif atau Delete). Sejak tahun 2002 hingga tahun 2012 angka rasio kepatuhan wajib pajak dalam penyampaian SPT Tahunan (Orang Pribadi dan Badan) secara berturut- turut adalah 33.45%; 35.02%; 34.18%; 33.96%; 32.04%; 30.21%; 33.08%; 54.15%; 58.16%; 52.74%; 62.50%.

Sederet angka diatas memberikan informasi bahwa walaupun terjadi fluktuasi namun tren peningkatan angka kepatuhan tersebut positif. Namun demikian, positivisme yang terjadi itu masih menyisakan informasi yang lebih dalam. Karena faktanya, pada angka tingkat kepatuhan yang bahkan sudah menyentuh lebih dari 50%, terdapat lebih dari delapan juta (> 8 Juta) wajib pajak yang belum terbangun kepatuhannya. Sebab pada sampel tahun 2011 dari 17.694.317 wajib pajak terdaftar yang wajib melaporkan SPT Tahunan, hanya 9.332.657 wajib pajak yang telah memenuhi kewajiban tersebut. Selebihnya belum bahkan mungkin tidak mengetahui ihwal keberadaan kewajiban tersebut. Mereka adalah wajib pajak yang memerlukan sentuhan tangan dingin modernisasi dalam rupa- rupa bentuk dan tehniknya.

Menikmati Tanpa Berkontribusi

Dari sekitar 110 Juta penduduk Indonesia yang produktif bekerja tercatat hanya sekitar 22 Juta yang sudah memiliki NPWP (karyawan dan non karyawan). Padahal ambang batas Penghasilan Tidak Kena Pajak sebesar Rp 2,025 Juta/bulan atau Rp 24,3 Juta/ tahun maka seharusnya jumlah penduduk ber NPWP bisa lebih dari itu. Mengapa? Karena dengan asumsi untuk tidak digolongkan sebagai orang miskin adalah berpenghasilan dibawah atau sama dengan Rp 6,12 Jt/tahun (standar Bank Dunia), disandingkan dengan pendapatan per kapita penduduk Indonesia sekitar Rp 30,72 Juta/tahun (data tahun 2011). Maka ada begitu banyak penduduk yang layak ber-NPWP namun belum terjaring. Lebih jauh lagi, mereka menikmati secara ‘gratis’ sarana dan pembangunan yang didanai dari pajak.

Sedangkan untuk pajak perusahaan (badan) yang disinyalir oleh Dirjen Pajak Fuad Rahmani bahwa ada 12 Juta perusahaan di Indonesia namun hanya 500 Ribu perusahaan yang memiliki NPWP dan patuh membayar pajak, jadi 12 Juta perusahaan ini menggantungkan diri (free rider) dari sarana pembangunan yang didanai pajak oleh 500 Ribu perusahaan tersebut. Dimana dari jumlah 500 Ribu tadi hanya 20% yang secara proporsi telah menyumbang 400 Trilyun penerimaan pajak. Padahal potensi penerimaan bisa diharapkan muncul dari 12 Juta perusahaan tersebut namun ternyata kepatuhan dan kesadaran tidak berbanding lurus dengan harapan.

PP Nomor 46 Tahun 2013: 1 Cara. 1 Tarif. 1% Omset.

Ditengah semua kondisi rendahnya kepatuhan wajib pajak, pemerintah kemudian membidani lahirnya PP No 46/ 2013 dengan latar belakang untuk menciptakan kemudahan dan penyederhanaan aturan perpajakan; mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi dan transparansi; dan memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan negara. Pada intinya, penerbitan PP 46 Tahun 2013 ditujukan terutama untuk kesederhanaan dan pemerataan dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Alat ukur pembebanan kewajiban perpajakan menurut PP No 46/ 2013 sangat sederhana, yaitu hanya jika omset (peredaran kotor) usaha/ bisnis wajib pajak tidak melebihi besaran Rp 4,8 Miliar maka dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) secara final sebesar 1% dari omset tersebut. Perhitungannya sederhana, tanpa rekonsilisasi, perhitungan beban dan nilai dasar pengenaan.

Penerapan PP No 46/ 2013 tidak ditujukan untuk omset yang didapat wajib pajak dari kegiatan usaha/ pekerjaan bebas dan penghasilan dari usaha dagang dan jasa yang dikenai PPh Final (Pasal 4 ayat (2)), seperti misalnya sewa kamar kos, sewa rumah, jasa konstruksi (perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan), PPh usaha migas, dan lain sebagainya yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah. Atas kedua jenis sumber penghasilan tersebut, maka PPh dihitung menurut mekanisme Pasal 17 Undang Undang No 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

Keberadaan PP No 46/ 2013 merupakan jalan tengah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak, terlepas dari kerumitan dan pro-kontra yang menyertai proses transisi penerapannya. Penduduk diajak berkontribusi dengan cara yang sangat sederhana: menghitung dan menyetorkan sendiri sebesar 1% dari omset. Namun demikian, untuk mewujudkan tujuan tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang secara tidak langsung memaksa (indirect-coersive) agar terlebih dahulu subjek yang disasar oleh PP No 46/ 2013 segera memiliki NPWP. Sebab PP No 46/ 2013 pada praktiknya merupakan sebuah upaya intensifikasi dan ekstensifikasi secara bersamaan. Tujuan utama dari kebijakan ini sejak awal sudah konsisten digaungkan yakni: Menciptakan Kesederhanaan Untuk Menggerek Kepatuhan Wajib Pajak.

Harmoni Modernisasi: Kepatuhan Dalam Kesederhanaan

Modernisasi adalah proses berkelanjutan menuju harmoni. Kebijakan yang datang silih berganti tentu dilatar belakangi upaya positif untuk menghadapi berbagai masalah yang ada. Rendahnya kepatuhan wajib pajak adalah benang kusut yang sudah ada sejak dulu dan cerita rumitnya mengurus pemenuhan kewajiban perpajakan sudah berbilang tahun lamanya tersimpan di benak para wajib pajak. Kehadiran PP No 46/ 2013 merupakan upaya untuk mengurai benang kusut tersebut. Jaminan keberhasilan kebijakan ini memang belum ada, namun itu bukan alasan untuk tidak mencoba menjalankannya dengan optimal demi suksesnya modernisasi sebab modernisasi itu sendiri adalah sebuah jalan terjal yang harus dilalui bangsa ini demi masa depan yang lebih baik. It’s truly a painful road to glory.

Read more »

7.28.2013

Belum Ada Judul

Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar

Apa yang bisa diingat dari rangkaian cerita dan pengalaman? Nama orang? tempat? Jalan? Buku? Gunung? atau Sesap hangat secangkir kopi? Buatku semuanya benar. Semuanya tersimpan rapat dalam ingatan. Mahal dan mustahil berulang sebab hidup terus berjalan. Kita adalah tiap jiwa yang dicipta untuk mengisi hidup dengan cerita. Cerita apapun. Manis, pahit, duka, suka, tawa, lara, pedih, bangga, gembira. Terserah bagaimana kita menyebutnya karena cuma waktu yang bisa menguji tentang ingatan yang mungkin tetap terus terbawa.

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti

Apa yang bisa dipahami dari rentetan kisah dan kejadian? Adalah bahwa kita ada di garis sarat ajaran kehidupan. Bagaimanapun, tidak ada satu manusia yang bisa membuka hati manusia lainnya. Hati seseorang baru bisa terbuka hanya bila orang itu mau membukanya. Berjalan sendiri itu lebih baik daripada bingung ditengah keramaian. Disaat itu kita mungkin cuma berteman dengan diri kita sendiri dalam sepi. Saat- saat sarat doa dan harap yang tidak bisa dijelaskan. Berujung pencerahan sebab ternyata Tuhan masih berkenan.

Sahabat, masih ingatkah kau?

Apa yang bisa diharap dari memori yang tersimpan didalam ingatan para pelupa? Aku tidak tahu. Biar seiring waktu semua kan terjawab. Apa kita masih bisa tersenyum saat ingatan membawa kita pada satu waktu saat aku merampas botol sisa air minum mu di lereng Semeru? Saat kita tersesat di lembah bebatuan Merapi dalam dingin yang menusuk? Saat hujan deras dan angin badai membuat Puncak Sejati Raung gagal kita jamah? Atau saat kita bagai melayang berjalan lelah menuju lembah tenang Dempo? Atau justru saat kita menyesap nikmat kopi hangat di banyak masa yang telah lalu?

Selamat berjuang kawan, selamat melanjutkan cerita kehidupan.

Ebas Pangkal Pinang, 28 Juli 2013

P.S.:
------
Belum Ada Judul, Iwan Fals.

Read more »

7.21.2013

Menata Hati: Titik Awal Keselarasan Perilaku

Kita adalah apa yang kita pikirkan, ucap dan lakukan. Saat pikiran kita dijajah oleh belitan prasangka buruk atau jajahan rasa malas maka ucapan yang mengalir tidak akan jauh dari cercaan, hinaan dan respon keji lainnya. Dan kemalangan yang lebih tragis lagi adalah saat kita mulai benar- benar kehilangan kontrol atas pikiran dan ucapan tersebut, karena itu akan mendorong lahirnya tindakan yang barbar dan brutal. Diatas normal dan tidak wajar.

Ini yang kerap kita saksikan di sekitar kita. Jamak terjadi peristiwa diluar batas kemanusiaan yang mengguncang logika justru dipantik hal kecil yang harusnya patut diabaikan. Nilai kehidupan memang kerap diisi hal buruk yang membudaya, maka kita memang dituntut untuk selalu waspada dan mampu menguasai diri. Saat yang menjadi fokus dunia adalah pikiran, ucapan dan perbuatan, maka satu aspek utama diatas itu semua tidak boleh ditinggalkan. Itulah hati.

Hati adalah titik awal terdalam yang tidak akan bisa dijangkau sedalam apapun logika ilmu pengetahuan. Hati yang saya maksud bukan berupa organ dalam tubuh kita tentunya. Ia adalah kemudi tempat naluri dasar kemanusiaan berada. Setiap kita punya itu, siapapun kita, mau residivis bengis atau ulama alim sekalipun. Hati itulah yang kita bicarakan. Hati itu mampu mendengar, itu sebab ada Suara Hati. Hati itu bisa melihat, itu sebab ada Mata Hati. Hatipun bisa berbisik maka ada istilah Kata Hati. Dan yang saya yakini sampai saat ini adalah suara yang terdengar oleh hati dan hal yang terlihat oleh hati semua bermuatan mulia atau kebaikan.

Karena hatilah maka seorang pelacur tidak akan sudi anak gadis kesayanganya mengikuti jejaknya. Dan oleh hati pula, seorang koruptor menangis di persidangan sebab ingat akan mendekam di penjara dan berpisah dengan anaknya. Dan hati juga yang membuat seorang pemuda bengal mau berhenti sejenak membantu seorang nemek tua menyebrang jalan raya.

Tapi sayangnya, bagi kita umat bertuhan, kita tidak berkuasa penuh atas hati. Hati adalah bagian tak terpisahkan saat ALLAH menciptakan kita. Dasar sebuah hati adalah kebaikan dan kemuliaan. Namun hanya dengan selalu menjaganya dekat dengan sang pencipta maka hati itu kan sesuai dengan kodrat mulianya. Mereka yang kita kira jahat dan keji, tidaklah benar- benar demikian, mereka hanya tengah jauh dari Sang Pemilik dan Penjaga Hati sehingga dasar kodrat mulia dan baik itu tertutup hiruk pikuk tuntutan nafsu duniawi.

Saat kita mampu menata hati agar selalu dalam penjagaan ALLAH, maka disaat yang sama pikir, tutur dan tindakan kita akan dapat memuat hal baik nan mulia. Menata hati adalah langkah awal untuk dapat menguasai diri dan membuat kita mampu membedakan hal yang patut diperhatikan dan patut diabaikan. Supaya dengan itu kita tidak termasuk pribadi dangkal yang kerap mudah terjebak dalam hal sepele nihil guna.

Ebas
Pangkal Pinang.

Read more »

7.18.2013

Asah Nyali Pada Kemudi.

Besok akan jadi satu dari sedikit sekali hari yang bisa aku ingat seumur hidup. Menghadapinya melahirkan gugup dan ensasi emosi yang muncul bergantian antara cemas dan gembira atau antara gentar dan tak sabar. Iya, besok aku akan mengemudikan sendiri mobil ke daerah Koba untuk urusan dinas. Mengemudi, satu hal yang jelas masih jadi hal hebat bagi aku dan keluargaku. Aku cuma bisa menghela nafas dalam. Bersyukur, diberi kesempatan untuk bisa.

Sebetulnya, aku tidak buta sekali soal mengemudi ini. Kalau untuk jalan lurus dengan arus lalu lintas yang lancar, aku sudah lumayan berani, sebab pekan lalu hampir 2 jam aku mengemudi dari Koba menuju kembali ke Pangkal Pinang. Namun itu juga ditemani rekan kantor dan begitu masuk wilayah kota menjelang lampu merah, kemudi kukembalikan padanya selain masih kikuk untuk turun ke jalan raya, khawatir ada razia mengingat aku belum ada SIM.

Tapi untuk besok, aku berangkat berdua dengan atasan. Beliau sendiri yang memintaku untuk coba memberanikan diri turun ke jalan raya, setelah aku mintakan agar kukemudikan nanti begitu sudah lewat kota. Padahal sudah pula kusampaikan bahwa aku khawatir kalau- kalau di tanjakan yang macet/ ramai atau di lampu merah aku masih gerogi dan belum gesit. "Iya, gak apa, pelan- pelan aja!". Begitu kata beliau. Baiklah kalau begitu. Kuberanikan diri juga.

Jangan tanya kecemasanku soal besok itu, bahkan saat aku mengetik postingan ini. Tapi aku lihat kecemasan itu tengah berduel hebat dengan niat kuatku melawan batas ketakutan semu. Dan disaat yang sama, ada harapan yang tumbuh seiring resiko yang mengajari kesiagaan dan sikap waspada. Cuma Tuhan yang tahu soal hari esok, kita cuma bisa berusaha untuk hal yang patut diupayakan. Semoga besok baik- baik dan lancar. Resiko selalu ada ditiap langkah, namun aku melihat itu bukan alasan untuk memenangkan rasa takut.

Selalu ada saat- saat kali pertama dalam hidup, karena mungkin itulah salah satu cara Tuhan mengajarkan keberanian pada kita mahluk NYA.

Read more »

7.06.2013

Tentang Menjadi AR

Waktu berlalu cepat, paruh waktu pertama tahun ini sudah lewat. Hidupku sudah dua bulan berjalan di Pulau Bangka. Sudah hampir dua bulan pula aku menjadi Account Representative (AR) di KPP Pratama Bangka. Sejauh ini, sukurlah semua berjalan dengan baik. Mungkin ini karena hidupku sekarang sudah lebih berarah sejak menikah.

Menjalani peran sebagai AR adalah letupan rasa syukur yang tumpah dalam ekspektasi senyap ku di hari kemarin. Ada kurang lebih 5000 wajib pajak (perusahaan dan individu) yang jadi tanggung jawab pengawasanku di wilayah Kecamatan Koba dan Jebus. Tapi tentu saja, aku membuat prioritas sebab tidak mungkin semua terlayani. Sebisanya semua berjalan dengan profesional dan proporsional saja.

Sampai Juni kemarin tercatat target penerimaan ku sudah tercapai 50% lebih. Pencapaian ini seperti antara berkah dan amanah. Menjadi berkah sebab ternyata di kedua wilayah itu tersimpan potensi besar yang harus lebih dalam digali, menjadi amanah sebab kenyataan itu mengharuskanku untuk mengiringinya dengan produktivitas yang sesuai. Agar berbanding lurus antara usaha dan hasil. Bagaimanapun, usaha ekstra adalah indikator produktivitas sebenarnya. Pencapaian penerimaan tanpa usaha ekstra cuma akan seperti menunggu ikan tanpa menebar jala.

Bagi sebagian orang, penerimaan adalah indikator kinerja AR, namun bagiku pribadi indikator utamanya justru ada di produktivitas yang sudah dibuat. Kurang lebih ada 50 himbauan yang sudah aku terbitkan dalam rentang waktu sejak 21 Mei sampai dengan 03 Juli. Dari himbauan itu sampai saat ini masih menunggu tanggapan dari wajib pajak. Sebab, memang sulit membuat wajib pajak menyetorkan kewajiban pajaknya dengan benar ditengah krisis kepercayaan publik kepada pemerintah akhir- akhir ini. Tapi setidaknya, tugasku selesai untuk menghimbau sudah kujalankan.

Tahun ini masih akan belum habis, tersisa 6 bulan lagi. Dan seperti yang sudah- sudah, prinsipku tetap sama. Tugas ini adalah amanah, menjalaninya dengan baik dan benar adalah hal mutlak. Urusan hasil kukira sudah diluar kuasaku. Apa yang kumampu cuma ya itu tadi, menunaikan nya sepenuh hati dan tetap tekun belajar agar semua tetap dapat terisi dengan berkah lalu akhirnya semoga kutuai anugerah. Aamiin.

Ebas
Pangkal Pinang
Juli 2013

Read more »

7.05.2013

Geliat Pajak dari Barat Pulau Bangka



Muntok, Ibu Kota kebupaten Bangka Barat adalah kota tua yang sudah berdiri sejak berabad silam, banyak bangunan gedung tua yang masih berdiri kokoh sebagai bukti sejarah perjalanan negeri ini, seperti gedung kantor pusat PN Timah yang dibangun tahun 1915 oleh Kolonial Belanda dan bangunan rumah pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta yaitu Pesanggarahan Menumbing dan Wisma Ranggam.

Di sini terdapat pula Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Pajak (KP2KP) Muntok yang merupakan perpanjangan tangan KPP Pratama Bangka untuk menjamah wajib pajak di Kabupaten Bangka Barat (membawahi enam kecamatan).
Di Muntok sendiri terdapat 5771 Wajib Pajak (42% dari total Wajib Pajak di Kabupaten Bangka Barat) dengan 323 diantaranya adalah Pengusaha Kena Pajak. Kondisi ini mendorong terjalinnya kerja sama yang diinisisasi Kepala KP2KP Muntok (Budi Budiawan) dengan Kepala KPP Pratama Bangka (Muhammad Dahlan Saleh) untuk mengadakan sosialisasi Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-11/PJ/2013 tanggal 12 April 2013 mengenai Perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-44/PJ/2010 tentang Bentuk, Isi dan Tata Cara Pengisian serta Penyampaian SPT Masa PPN. Sehingga pada hari Rabu tanggal 26 Juni 2013 diadakanlah kegiatan sosialisasi tersebut dengan mengundang kurang lebih 60 Pengusaha Kena Pajak.

Pelaksanaan acara kegiatan Sosialisasi Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-11/PJ/2013 ini adalah sebagai bentuk pengenalan aplikasi terbaru yang digunakan sehubungan dengan diterbitkannya PER-11/PJ/2013. Adapun aplikasi yang digunakan adalah e-SPT versi 1.5.0 yang merupakan penyempurnaan versi sebelumnya. Acara sosialisasi ini berlangsung dari pukul 09.00 s.d. pukul 12.00, mengambil tempat di Kantor Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi (KP2KP) dihadiri lebih dari 20 Pengusaha Kena Pajak.

Sosialisasi dibuka oleh Bapak Budi Budiawan selaku Kepala KP2KP Muntok dengan memberi gambaran perihal latar belakang perubahan yang terjadi dan poin utama perubahan dimaksud yaitu bahwa per Juni 2013 semua Pengusaha Kena Pajak Badan wajib melaporkan SPT Masa PPN dengan menggunakan aplikasi e-SPT. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Erikson Wijaya (Account Representative KPP Pratama Bangka) dibantu oleh Fitriyansyah (Pelaksana KP2KP Muntok) yang menyajikan materi dalam tiga bagian, pemaparan, instalasi aplikasi dan praktik pengisian. Saat praktik instalasi aplikasi terdapat kendala teknis karena peserta tidak mengikuti tahap instalasi sesuai arahan, dimana seharusnya instalasi dimulai dengan mengikuti tahap patch (1.4; 1.400; dan 1.4.1) yang sudah disediakan. Namun setelah dibenahi, semua peserta berhasil memasang aplikasi di laptop/ notebook masing- masing.

Acara dilanjutkan dengan praktik bersama pengisian e-SPT Masa PPN versi 1.5.0, sebagian besar para peserta tidak mengalami kesulitan karena mayoritas sudah memiliki jatah nomor seri faktur sebagai keterangan pendukung utama dalam praktikum. Satu peserta bernama Aisyah berkenan tampil kedepan memberi penjelasan kepada peserta yang lain yang belum mendapatkan Kode Aktivasi dan password untuk mendapatkan Nomor Seri Faktur Pajak. Menurut Ibu Aisyah agar para wajib pajak memastikan semua berkas sudah lengkap dan benar mengingat mereka berasal dari wilayah yang jauh dari lokasi KPP Pratama Bangka. Praktik pengisian ini dikondisikan sampai ke tahap akhir, yaitu pembuatan file csv agar Wajib Pajak paham dan siap dalam proses pelaporan.

Riuh antusiasme para peserta memberi semangat tersendiri bagi keberlangsungan acara ini, apresiasi tinggi patut kita layangkan kepada mereka, para wajib pajak yang sudah mau belajar mengenal hal baru yang merupakan bagian integral kebijakan PPN di masa depan. Menjelang pukul 12.00 WIB, semua tahap sosialisasi selesai disampaikan. Acara ditutup oleh Bapak Budi Budiawan seraya mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi para peserta. Semoga acara sosialisasi dapat diikuti oleh KP2KP lainnya di pelosok nusantara, mengingat peran KP2KP sejatinya adalah sentral dalam menjamah para wajib pajak demi mengoptimalkan potensi kepatuhan menuju Indonesia yang lebih baik.

Read more »