1.29.2012

Ketika PTK Digoyang


Pendidikan Tinggi di negara ini bukan lagi menjadi barang publik. Semua tahu itu, kini rivalitas untuk menikmatinyapun makin ketat dan (maaf) makin tidak sehat. Tidak hanya lewat jalur tes resmi melalui adu uji pengetahuan tapi juga ada pintu khusus bagi kaum berada yang mampu membeli kursi bergengsi itu. Ekses nya sudah makin jelas, tidak perlu lagi dibahas. But at least, bagi mereka yang tidak beruntung namun masih mampu bersaing sehat, Maka melalui (Perguruan Tinggi Kedinasan) PTK, harapan itu masih ada.

PTK yang berada di bawah suatu Kementrian atau Badan Pemerintah tertentu, memasok SDM untuk tiap unit nya. Kementerian Keuangan dengan STAN misalnya. Atau BPS dengan STIS, dan juga Kementrian Dalam Negeri dengan IPDN. Terlepas dari bagaimana mekanisme rekruitmennya, namun Mahasiswa/i PTK ini akan dipersiapkan sebagai PNS dengan golongan dan pangkat tertentu disesuaikan dengan jenjang pendidikan yang dijalani. Berikut potongan daftar resmi struktur kepangkatan dari BKN:

Pegawai baru lulusan SMA atau sederajat = II/a
Pegawai baru lulusan D1/D2 atau sederajat = II/b
Pegawai baru lulusan D3 atau sederajat = II/c
Pegawai baru lulusan S1 atau sederajat = III/a
Pegawai baru lulusan S2 sederajad/S1 Kedokteran/S1 Apoteker = III/b
Pegawai baru lulusan S3 atau sederajat = III/c

Lengkapnya bisa dilihat disini. Jadi bukan seperti yang disampaikan Bapak Soemandjaja (anggota komisi X DPR RI) dalam situs online disini. Semua ketentuan ini merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikahttp://www.blogger.com/img/blank.gifn Pangkat Pegawai Negeri Sipil. Bisa dibaca pada pasal 18. Jelas bahwa Bapak Soemandjaja salah mengambil pasal rujukan, mungkin beliau langsung mengambil kesimpulan berhenti pada pasal 8, tanpa melihat perubahan mendasar pada pasal 18.

Kemudian, penting untuk dipahami bahwa PTK ini selain bertujuan mensuplai SDM yang akan menjalankan roda pemerintahan juga melakukan fungsi sosialnya secara tidak langsung dengan menampung para pelajar potensial secara akademik tapi kurang beruntung secara ekonomi (data dari BPS Maret 2010 menunjukkan bahwa 31,02 Juta penduduk masih hidup dibawah garis kemiskinan). Fungsi sosial nya inilah yang sebenarnya lebih membuat PTK mendapat tempat di hati masyarakat. Didamba dan dirindukan, begitu tepatnya. Seperti rindunya seorang pelancong ekonomis untuk kebagian tiket kereta ekonomi yang sudah dinantikannya sejak jam 01.00 dini hari ditengah antrian yang mengular. Even words can't describe!!.

Siapapun menurut saya tidak perlu merasa iri dengan eksistensi PTK ini, tidak ada yang dianaktirikan dengan kemunculan PTK. Justru sebaliknya, semua hanya soal waktu. Memang mahasiswa PTK tidak perlu khawatir lagi untuk mencari pekerjaan karena sudah disiapkan untuk menjadi PNS. Tapi, saya melihat mahasiswa lulusan PTN/PTS justru memiliki kesempatan yang lebih luas karena mereka bisa berkarya di sektor swasta. Mereka yang berlatar belakang PTN/PTS, beberapa tentu sudah memiliki jiwa survival ditengah ongkos pendidikan yang kian melambung, salah satu sifat yang dibutuhkan dalam dunia wirausaha. Lagi pula, agak ganjil kalau semua generasi muda berlomba- lomba menjadi PNS dan tidak ada lagi yang mau berwirausaha.

Kini sudah banyak pelaku- pelaku usaha dan kaum birokrat yang dengan tekun berkarya serta bisa dibilang sudah matang dalam peran dan posisi masing- masing. Keduanya jelas berbeda, namun saling melengkapi dan berkaitan dalam kerangka kehidupan bernegara ini. Hal ihwal keterkaitan ini tidak akan dapat terjadi jika eksistensi PTK diberangus. PTK, sebuah institusi pendidikan yang mendidik calon birokrat, suatu pilihan yang masih ada ditengah pendidikan yang sulit dijangkau lantaran rivalitas untuk menikmatinya makin ketat dan (maaf) makin tidak sehat.

Jadi sebaiknya tidak perlu lagi ada kritik miring atas eksistensi PTK. Bahkan mungkin kini perlu dipertanyakan. Sudah sejauh mana perhatian para pemerintah terhadap pendidikan? Sudah sejauh mana tingkat penyerapan anggaran Rp266,9 Triliun dalam APBN 2011 untuk pendidikan dan juga soal transparansi serta pengawasannya?. Bukan lagi soal PTS, PTN atau PTK tapi soal hak untuk mendapatkan pendidikan yang kian mahal. Karena ketiga hal itu adalah tentang pilihan dan soal sebagian kecil saja dari kebijakan tiap kementrian untuk memperoleh SDM yang berkualitas.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini...

Read more »

1.28.2012

Touring Bintaro- Baturaja (I)


Beberapa barang tersisa aku letakkan kedalam satu kardus besar, penuh dan padat isinya kujejali pakaian dan perkakas- perkakas lainnya. Selebihnya aku masukkan ke sebuah kardus kecil berisi beberapa buku dan gear pendakian, serta ada pula satu buah carrier kecil ukuran 40L yang tadinya mau aku bawa saja, namun tidak memungkinkan daripada membahayakan kukira.

Semuanya aku keluarkan dari kamar kos lalu aku titip kan untuk dipaketkan saja Februari nanti. Via Pos. Sesaat kuedarkan pandangan sekilas ke beberapa sudut ruangan, lalu tidak kutoleh lagi. Pintu kututup saja. Aku akan menempuh perjalanan jauh dengan motor Scorpio ini. Dari Bintaro (Jakarta Selatan)- ke kampung halaman di Baturaja (Sumatera Selatan). Bismillah.

Pagi itu pukul 09.30 WIB, aku berpamitan dengan beberapa penghuni dan tetangga kos. Ibu yang biasa membantu bersih- bersih dikos tampak mata nya berkaca- kaca, aku tahu tapi aku segan bersikap emosional. Biar kutertawakan sendiri saja rasa haru ini dari balik kaca helm dan jadinya tak kan ada yang tahu, selain aku. Scorpio ini sudah 'panas' dan siap ditunggangi, perjalanan aku mulai melewati jalur Jalan Ceger Jurangmangu Timur menuju Ciledug hingga ke arah Cipondoh sampai tembus ke jalan raya Cikokol, kutempuh dalam waktu 1 jam saja. Karena memang sedang lancar.

Dari Cikokol ini tujuan ku selanjutnya adalah Serang dan targetku pukul 13.00 WIB sudah siap masuk lambung kapal untuk menyebrangi Sunda. Untuk menuju Serang ini jalur yang aku ambil adalah jalur menuju daerah Pos yang satu arah menuju Karawaci dan Perum Tangerang, dan dari situ sampai masuk wilayah Cikupa. Bila sudah masuk Cikupa ini maka sudah cukup aman, karena jalurnya sudah jelas hingga menuju Merak, namun disini justru aku terjebak hampir 1,5 jam karena ada Demo Buruh. Setelah lolos dari kepungan massa demonstrasi ini perjalanan aku teruskan hingga masuk Cikande. Dari sini sudah ada plang penunjuk arah ke Merak sejauh 85KM lagi.

Matahari sudah tinggi waktu aku masuk daerah Cikande ini. Telat pasti, tapi jalan terus saja. Perjalanan ku melewati daerah Balaraja hingga Pandeglang, ini artinya sudah masuk wilayah Serang. Tujuan selanjutnya adalah Cilegon, dan ketika sudah di Cilegon ini dan masuk ke wilayah Pabrik Krakatau Steel sudah ada penunjuk arah Merak 12KM. Aku sempat istirahat di satu pombensin untuk sholat dan ketika akhirnya masuk ke wilayah Merak, aku sempatkan barang 5 menit untuk menikmati debur ombak pantai yang melaju kencang. Dan sekitar pukul 14.00 WIB aku tiba di Merak dan membayar tiket masuk khusus kendaraan motor tipe II sebesar Rp. 32K.

Setahuku menurut PM Perhubungan No 71 Tahun 2010 Tanggal 15 Nov 2010 (belum ada revisi), tarif kendaraan motor gol II (dibawah 500cc) tarifnya adalah Rp28K. Dan di Merak ini tidak boleh ada pungli, entah kenapa waktu aku bayar petugasnya menjawab Rp32K. Dan tidak bisa menjelaskan waktu aku menolak membayar lebih dari tarif. Akhirnya dengan tidak ikhlas ku bayarkan juga. Bukan masalah nominal tapi ini tentang transparansi dan akuntabilitas.

Aku langsung menuju entrance gate khusus untuk motor setelah menunggu sebentar lalu Scorpio ini kuparkirkan di tempat khusus para motorist, aku naik ke ruangan khusus penumpang dan menyewa lapak tikar Rp5K selama 3 jam penyeberangan. Lumayan untuk istirahat, namun ketika kapal mulai berlayar ternyata kondisi ombak sedang tinggi, dan ini berarti ada kemungkinan durasi penyebrangan akan molor. Ternyata, setelah 1,5 jam beristirahat seorang penumpang yang sesama motorist memberitahukan bahwa ombak tinggi ini membuat motor berjatuhan roboh berkali- kali. Aku cemas, was- was tapi sebisa mungkin harus tetap berpikir waras. Tak lama kemudian aku segera melihat kondisi dibawah. Hasilnya; speedometer retak, spion kiri pecah, kaca lampu depan lecet dan retak. Dan buffer bodi kanan patah.

Seorang penumpang berkata bahwa ini sudah musibah sudah syukur saja bahwa kita masih selamat. Betul juga ku kira. Dan sudah untung juga penyebrangan ini tidak molor, 3 jam di kapal dan pukul 17.30 WIB aku meneruskan perjalanan. Aku sudah di Titik Gerbang Sumatera, Bakauheni Lampung. Tujuan ku selanjutnya adalah Bandar Lampung untuk menumpang menginap disana, aku sudah mengabarkan satu minggu sebelumnya. Hari sudah petang saat itu, seoptimal mungkin kumanfaatkan hari yang cukup terang itu untuk terus melaju, karena di jalur lintas ini tidak ada lampu penerang jalan jadi hanya mengandalkan lampu dari kendaraan berat didepan.

Bakauheni, Kalianda, Ketibung dan akhirnya tiba di Bandar Lampung pukul 19.30 WIB. Kawanku menjemput di kawasan Taman Makam Pahlawan Kedaton. Namanya Indra, dia bilang istrinya sudah menyiapkan menu istimewa. Alhamdulillah, Pas sekali mana sedang lapar dan pas saat uang di kantong juga minim. Sebelumnya aku banyak terima kasih untuk Indra dan keluarganya karena sudah memberi tumpangan menginap sekaligus kekeluargaan yang tidak bisa diganti dengan uang....

Bersambung...

Read more »

1.26.2012

Merbabu: Bukan Sekedar Saja (END)


Hari masih gelap, deru angin masih kencang, keluar tenda pun jadi enggan, padahal niat yang disepakati kami akan bangun pukul 04.30 untuk ke Puncak Merbabu. Oblok yang kali pertama keluar mendapati indahnya citylight Desa Kopeng dan Salatiga di bawah sana, namun kami bangun justru untuk menyeduh air hangat dan menyepakati untuk paling lambat pukul 05.30 saja keluar dari tenda nyaman ini. Voilla.. setelah semua siap, kami pun meninggalkan tenda dengan membawa bekal perjalanan 2 jam ke Puncak sana.


Setelah doa bersama, kami mulai jalan menuju Pos berikutnya yaitu Pos Batas Kabupaten, bukannya Pos Helipad (sepertinya ada pemetaan terbaru, terlihat dari plang pos yang masih baru), untuk menuju pos ini hanya 15 menit saja menuruni medan bebatuan, dan kembali menanjak dengan cukup curam sampai tiba di Pos Helipad, diantara kedua nya ada satu jalur sempit diantara dua jurang kawah yang dinamakan jembatan setan.

Hampir satu jam pertama, cuaca cerah mendukung, pemandangan hijau perbukitan dapat terlihat dengan jelas dengan perkotaan jauh di ujung sana, bahkan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing berdiri begitu gagah di sebelah timur nya, Gunung Lawu pun dapat dilihat dari sini berdiri dengan puncaknya hilang ditelan awan. Atau Gunung Selamet yang tampak begitu kecil diujung sana serta Gunung Merapi yang berdiri berdampingan disisi Barat Merbabu ini. Ketika tiba di pertigaan antara Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo, kami mencoba untuk menyambangi Puncak Syarif. Hanya 5 menit saja kami sudah ada dipuncaknya. Momen yang kami abadikan dalam poto.

Angin kencang kembali datang, kabut tipis yang pelan- pelan menjadi pekat pun turun, kami segera turun kembali meneruskan perjalanan ke Puncak Kenteng Songo, sekitar 15 menit jalan kami tiba disana, sebuah puncak yang berupa lahan cukup luas dan disana ada beberapa batu lesung/cobek yang konon katanya berjumlah 9 namun tim kami hanya melihat 5 saja. Batu lesung yang melegenda itu masih menjadi pertanyaan buatku tentang bagaimana bisa ada disitu, sudah berapa lama, dan apa maksudnya. Dari Puncak Kenteng Songo inilah Gunung Merapi dengan cekungan Pasar Bubrahnya terlihat jelas, pekat asap belerang dari kawahnya mengepul hebat.

Saat itu masih sekitar pukul 08.00 pagi dan kami masih ada satu tujuan lagi yaitu Puncak Trianggulasi, aku baru tahu kalau ini puncak nya yang tertinggi. Perjalanan ke Puncak ini cukup berat karena suhu dingin dan angin makin kencang menerpa dari sisi yang berlawanan bisa membuat doyong pendaki, untunglah jalur yang ada cukup landai. Kami tiba di Puncak Trianggulasi dalam kondisi angin kencang namun sesekali cukup cerah menyibakkan pemandangan Merapi persis didepan kami dan perbukitan hijau jalur Selo yang menawan. Subhanallah. Khawatir turun hujan dan karena dikejar waktu juga akhirnya kami segera turun ke Pemancar untuk berkemas kembali ke peradaban.

Saat menapaki jalur turun ini, terlihat banyak tugu memorial pendaki yang meninggal di Merbabu ini. Kuduga karena serangan cuaca yang sangat dingin dan angin kencang dan menurut Pak Tono, Gunung Merbabu terkenal dengan angin kencangnya, ditambah pula medannya yang sebagian besar terbuka sehingga mudah menerpa pendaki. Namun bila pas tidak ada kabut dan cuaca normal, maka angin ini akan membuat pemandangan padang bukit ilalang menjadi menarik. Suatu kondisi yang akan sangat aku rindukan. Ilalang yang bergoyang langsung menghadap perbukitan hijau didepannya. Objek yang menarik bagi mereka pecinta fotografi, atau suasana yang pas bagi mereka pencari inspirasi.

Sekitar pukul 13.30 WIB akhinya kami tiba kembali di kediaman Pak Tono, beliau menyambut kami dengan hangat dan sudah menyiapkan makan siang dan teh manis hangat. Kami beristirahat sejenak dan makan siang sambil berbincang seputar pendakian. Menjelang pukul 15.00 WIB kami bersiap pulang menuju Salatiga dengan menumpang mobil kap yang dipesankan Pak Tono untuk mengantar kami hingga pertigaan Pasar Sapi Salatiga, dari sana kami menumpang bis 3/4 tujuan Stasiun Semarang Poncol. Dan menjelang pukul 18.00 kami tiba di Stasiun, Adit meneruskan perjalanan ke Demak dan kami bertiga masuk ke dalam untuk bersiap karena ular besi ini kembali merapat ke Ibu kota satu jam kemudian.


Terima kasih banyak aku ucapkan kepada:
1. Allah. SWT atas ijin sehingga kami bisa naik turun dengan selamat
2. Tim Pendakian Merbabu (Adit, Bange, Oblok dan Bang Jainer)
3. Keluarga Pak Tono yang sudah banyak membantu
4. Bro Ronald yang memesankan tiket pulang ke Jakarta
5. Semua yang sudah membantu lancarnya pendakian ini

Read more »

1.24.2012

Merbabu: Bukan Sekedar Saja (II)


Tidak semua orang bisa menikmati setiap langkah pendakian yang ia jalani, aku pun butuh waktu dan tempaan pengalaman untuk bisa paham arti kegiatan 'mendaki gunung', ada tipe pendaki yang memaknainya sebagai keharusan untuk mencapai puncak. Puncak adalah harga mati, begitu kata mereka. Aku tahu seperti apa jadinya punya prinsip seperti itu. Namun ada juga yang beranggapan bahwa bagaimana proses panjang suatu pendakian mampu dilewati dengan tenang dan sabar, justru disitulah makna pendakian itu berada.

Kalau kata Sir Edmund Hillary. It is not the mountain we conquer, but our selves. Aku kini cenderung untuk menjadi tipe kedua saja. Lebih tenang dan menenangkan. Bukannya jadi seperti tanpa tujuan namun hanya agar lebih menikmati proses dan mematangkan emosi. Sekedar itu saja. OK, Kembali tentang Merbabu.

Pukul 13.30 WIB kami berlima mulai trekking dengan medan awalan berupa perkebunan penduduk sekitar 500 meter pertama dan masih cukup landai. Kentang dan Kol tampak tumbuh subur, mekar sangat indah. Sejurus kemudian kami sampai di Pos Bayangan I kira- kira bukul 13.50 WIB, Pos Bayangan I ini berupa lahan kosong yang sudah didirikan sebuah saung/pondok untuk istirahat. Perjalanan kami lanjutkan dengan jalur yang sudah begitu jelas namun makin menanjak, disisi kiri kanan jalur terdapat beberapa plang himbauan anti aksi Vandal.

Disini Bang Jainer (Jainer Hasudungan Silalahi) terkena kram cukup parah jadi kami istirahat sekitar 15 menit untuk melemaskan kaki beliau, saat itu sekitar hampir jam 15.00 WIB. Didepan kami tak jauh kemudian kami tiba di Pos Bayangan II, sebuah tanah lapang yang sempit namun tersedia bak penampung air yang sangat bermanfaat kalau lagi musim kemarau. Disini ada plang Larangan Merokok cukup besar, dan dari plang ini sekitar 500 meter bisa ditemukan sumber mata air. 5 menit kemudian kami lanjut.

Menjelang pukul 16.30 hujan mulai turun walau sedikit, dan kabut mulai merapat ke bumi membuat kondensasi air jatuh seperti hujan cukup deras namun berhubung angin juga makin kencang dan khawatir hujan, kami memutuskan pakai Jas Hujan, dan saat itu kami sudah tiba di Pos I. Sekitar hampir 7 menit istirahat kami kembali lanjut. Dan medan berganti menjadi makin menanjak dan lebih terbuka membuat tantangan lebih berat karena angin datang dengan kencang dari sisi berlawanan dan kabut mulai turun.

Sekitar jam 17.00 WIB lewat, angin makin kencang, udara makin dingin. Kaki Bang Jen kram lagi, jadinya kami sepakat agar Bange dan Oblok duluan saja supaya bisa cepat cari tempat dan mendirikan tenda dan menyiapkan minuman hangat dan aku serta Adit menemani Bang Jen dibelakang. Hari kian gelap, sudah hampir jam 18.00 ku kira, target kami saat itu adalah bermalam di Pos Pemancar. Yaitu Pos sesudah Pos IV, Pos Pemancar ini adalah Pusat Stasiun Pemancar di gunung ini, namun terbengkalai karena banyak alat nya yang menurut Pak Tono, dicuri sehingga gagal berfungsi.

Namun, kondisi Bang Jainer sudah jauh membaik sehingga bisa kembali kebut menanjak bahkan kembali kami bertemu Oblok dan Bange yang sudah cukup dekat dengan Pemancar. Sehingga begitu tiba di Pos tersebut kami segera masuk ke bangunan dan mendirikan tenda didalamnya, hangat karena didalam ruangan. Setelah tenda berdiri, dan kami semua sudah berkemas, semua minuman hangat pun sudah tersedia. Diluar masih angin menderu kencang dan hujan masih saja turun. Akhirnya sebelum beristirahat kami cukupi energi dengan makan Indomie goreng pakai cabe olahan Bange Az. Hahaha...

Bersambung...

Read more »

1.23.2012

Merbabu: Bukan Sekedar Saja (I)


Gunung Merbabu berada diketinggian 3150mdpl dan secara administratif masuk wilayah Kecamatan Getasan, Semarang, Jawa Tengah. Gunung yang berdiri memaku tengah pulau Jawa ini berdampingan dengan Gunung Merapi disebelah utara nya. Aku sudah sekitar 3 minggu yang lalu merencanakan pendakian ke Gunung Merbabu, dan akhirnya alhamdulillah terlaksana juga bersama empat orang tim yaitu: Bange (Cikarang), Bang Jainer (Indramayu), Adit (Demak) dan Oblok (Jakarta). Jalur yang kami pilih adalah Jalur Kopeng Cuntel.

Kami berangkat dari Pool Bis Sinar Jaya daerah Cibitung, agak beda kali ini, karena menumpang Bis Eksekutif, bukan karena mau membeli kenyamanan, namun karena sudah kehabisan tiket KA Ekonomi tujuan Semarang. Sebuah pilihan yang membuat biaya membengkak sampai 50%. Itupun dengan bis ini kami berangkat justru menuju terminal Giwangan, Yogyakarta untuk menjemput Bang Jainer dan meneruskan perjalanan ke Terminal Magelang. Perjalanan yang panjang sekitar hampir 12 jam dengan dua kali istirahat di Indramayu dan Cirebon.

Di bis ini, aku duduk di bangku paling belakang berjendela kaca luas. Pandanganku kubebaskan lepas menerawang langit jalur pantura yang kelam sedikit berbintang. Laju bis membuat semua pemandangan itu tertinggal dibelakang menyisakan semburat remang pertanda kehidupan dijalur ini masih berdenyut walau pelan. Lalu semuanya menjadi sepi, hanya ada bunyi deru mesin bis, dengkur tidur para penumpang dan aku tetap menikmati diorama dunia malam diluar jendela kaca. Gelap namun tidak pekat.

Pukul 06.00 pagi, Bis Sinar Jaya ini tiba namun bukan di Terminal Giwangan, Sopir dan kondektur merekomendasikan untuk turun di Terminal Purworejo saja. Alasan mereka karena lebih dekat untuk ke Magelang daripada harus ke Yogya dulu. Mungkin bis ini yang terlambat aku kira. Namun karena malas mendebat aku segera memberi kabar ke Bang Jainer untuk langsung bertemu saja di Terminal Magelang padahal saat itu ia baru saja akan tiba di Terminal Giwangan. Lalu aku, Bange dan Oblok meneruskan jalan ke Term. Magelang dengan mobil metromini 3/4 elf, sekitar 90 menit akhirnya tiba.

Di Terminal Magelang, kami istirahat sebentar, sambil sarapan lalu mandi dan disini Bang Jainer segera bergabung dengan kami untuk meneruskan perjalanan ke Desa Kopeng di Salatiga. Dari sini, sudah ada metromini 3/4 elf yang langsung ke Kopeng dengan lama perjalanan sekitar 60 menit melewati jalanan berbukit, pasar tradisional dan pemandangan khas desa di kawasan pegunungan, tampak dari jalur ini adalah Bukit Telomoyo, dan Gunung Merbabu pun terlihat, berdiri mengangkangi Semarang dengan puncak nya berupa bukit yang berundak- undak secara hierarkis.

Sepertinya disini, ritme kehidupan berjalan lambat, penduduknya bergerak mencari nafkah tanpa ada ketakutan akan ditelikung masa atau tergilas roda zaman. Keakraban satu sama lain begitu terasa, bahkan antara kondektur angkot dengan para penumpangnya, para ibu mengangkut barang dagangannya dibantu sang kondektur adalah hal biasa, percakapan akrab khas dalam bahasa jawa menjadi simponi alam yang begitu lepas dari beban kehidupan metropolitan sana.

Tidak lama kemudian kami turun di pertigaan Umbulsongo, melengkapi logistik dan belanja keperluan lainnya, untungnya disini ada toko waralaba yang sudah terkenal. Sehingga tidak perlu repot lagi mencari logistik untuk konsumsi. Dari situ kami berjalan memasuki jalan menuju Desa Cuntel yang berjarak 2,5km dari pertigaan Umbulsongo tadi, kami berjala sekitar 90 menit, dan aku sudah sms Pak Tono, seorang pria paru baya asli desa Cuntel yang sejak awal sering memberi informasi perihal rute atau kondisi pendakian. 30 menit pertama rute masih begitu lazim, perumahan penduduk dengan beberapa villa sederhana yang menawarkan penginapan murah. Lalu kami memasuki gerbang pendakian Cuntel, dan mulai dari sini rutenya makin menanjak dengan dikelilingi pohon pinus dikiri kana jalan.

Sekitar pukul 11.30 kami tiba di Basecamp registrasi pendakian, kami langsung disapa ramah oleh Pak Tono dan membantu kami untuk proses registrasi. Lalu kami diajak kerumah beliau untuk beristirahat sembari menunggu 1 orang lagi yaitu Adit. Pak Tono sudah menyiapkan makan siang untuk kami dan dua tabung gas yang kami minta kami kebetulan belum sempat cari waktu di bawah tadi. Pak Tono bercerita bahwa beliau sudah akrab dengan kalangan pendaki dan sudah biasa bila ada pendaki yang hendak beristirahat atau sekedar untuk numpang menginap. Di rumah beliau, kami makan siang untuk mengisi energi perjalanan nanti. Dan tak lama kemudian Adit tiba. Lalu tepat pukul 13.30 kami mulai berjalan menuju medan Merbabu dengan target hingga di pos pemancar.

Bersambung...

Read more »

1.22.2012

Rundown Merbabu


Rute Jalur:
Naek (in) : Jalur Kopeng (Cuntel); Turun (out) : Jalur Kopeng (Cuntel)
Kopeng adalah nama salah satu desa di kecamatan Getasan, Semarang Jawa Tengah

Transportasi:
Berangkat (Jakarta- Yogyakarta): Bis Eksekutif Sinar Jaya (Terminal Cibitung- Terminal Giwangan)
Pulang (Semarang- Jakarta) : Kereta Ekonomi Tawang Jaya (St. Semarang Poncol- St. Pasar Senen)

Waktu Kegiatan:
Jumat, 20- Senin, 23 Januari 2011. Semua berangkat pada tanggal 20 Januari hari Jumat, kumpul di Terminal Cibitung (Kecuali Bang Jainer dan Adit). Harus sudah stand by pukul 16.30 karena Bis berangkat pukul 17.00 WIB.

Peserta Kegiatan:
1. Jainer
2. Bange
3. Oblok
4. Adit
5. Ebas
Perizinan:
Perizinan pendakian dilakukan di basecamp Tekelan, yang berada di desa Cuntel. Siapkan fotokopi KTP dan uang administrasi Rp4.000.

Perlengkapan dan peralatan pribadi:
Headlamp dan baterai cadangan minimal dua
Sleeping Bag
Peralatan Makan (sendok, gelas dan piring)
Geter
Peralatan Mandi (sikat gigi, sabun)
Matras, Jas Hujan (boleh model Ponco atau setelan)
Sepatu Gunung/Sendal
Kaos Kaki (Bawa secukupnya)
Pakaian ganti secukupnya
Sarung Tangan, Kupluk/Topi, Korek Api
Perlengkapan dan peralatan kelompok:
Carrier,
Daypack,
Tenda, Kompor dan nesting

Logistik Kelompok:
Gas 3 tabung, Kopi + Susu, Roti Tawar, Telor, Ikan Teri+ Kacang, Sayur Bumbu, Sambal Masak, Bumbu Masak, Kornet
Buah-buahan Kaleng, Minuman Kemenangan, Snack, Coklat, P3K Kelompok
note:
Logistik kelompok dibeli di Kopeng dengan sumber dana dari iuran tim, termasuk unsur dari total dana yang dibutuhkan

Logistik Pribadi:
Beras setiap orang bawa, diisikan ke 1 botol aqua 600mL.
Obat-obatan Pribadi

Rundown Kegiatan:
Hari I
Jumat, 20 Januari 2012
16.00- 16.30 : Kumpul di Terminal Cibitung
16.30- 17.00 : Masuk ke Bis Sinar Jaya dan persiapan berangkat
Hari II
Sabtu, 21 Januari 2012
03.30- 05.00 : Tiba di Terminal Giwangan Yogyakarta, istirahat, Sholat. (Menjemput Bang Jainer).
05.00- 06.30 : Mandi, Sarapan pagi dan Persiapan ke Magelang.
06.30- 08.00 : Perjalanan ke Magelang
08.00- 10.00 : Tiba di Terminal Magelang lanjut ke Kopeng (turun di Umbulsongo)
10.00- 11.30 : Jalan kaki dari Umbulsongo- Basecamp Tekelan Chuntel (Pengurusan Administrasi)
11.30- 12.00 : Istirahat. Sholat. Belanja Logistik. Makan Siang
12.00- 13.30 : Basecamp Tekelan Chuntel- Pos I Pending
13.30- 15.30 : Pos I Pending- Pereng Putih
15.30- 17.30 : Pereng Putih- Kindung Gumuk
17.30- 18.30 : Kindung Gumuk- Lempong Sampan
18.30- 19.00 : Lempong Sampan- Watu Gubuk
19.00- 19.30 : Watu Gubuk- Helipad (ngeCamp + Istirahat + Dinner)
Hari III
Minggu, 22 Januari 2012
04.00- 04.30 : Bangun pagi, sholat shubuh dan persiapan summit attack
04.30- 05.00 : Heliped – Jembatan Setan – Puncak Ondorante
05.00- 05.30 : Puncak Ondo Rante- Puncak Kenteng Songo
05.30- 06.00 : Puncak Kenteng Songo – Puncak Syarif
06.00- 07.00 : Sesi Santai di Puncak Syarif
07.00- 08.30 : Puncak Syarif- Helipad
08.30- 09.30 : Berkemas untuk siap turun
09.30- 11.00 : Helipad- Lempong Sampan
11.00- 12.30 : Lempong Sampan- Pereng Putih (ISHOMA)
12.30- 13.30 : Pereng Putih- Pos I Pending
13.30- 14.00 : Pos I Pending- Desa Chuntel
14.00- 15.00 : Tiba di Kopeng lanjut perjalanan ke Pasar Sapi Salatiga
15.00- 15.30 : Tiba di Terminal Pasar Sapi Salatiga
15.30- 17.30 : Perjalanan Salatiga- Semarang St. Poncol
17.30- 19.00 : Persiapan berangkat kembali ke Jakarta (masuk Peron)
Hari IV
Senin, 23 Januari 2012
03.00- 04.00 : Tiba di St. Senen Jakarta Pusat.

Biaya: (Wajib)
1. Transportasi Bis JKT- JGJ : Rp 95,0K
2. Transportasi Kereta SMG- JKT : Rp 33,5K
3. Transportasi Bis JGJ- MGL: Rp15,0K
4. Transportasi Bis MGL-KPG: Rp10,0K
5. Transportasi Bis ¾ KPG-STG: Rp5,0K
6. Transportasi Bis STG-SMG: Rp10,0K
5. Iuran Logistik Bersama: Rp 20,0K
6. Iuran SIMAKSI: Rp 5,0K
Total Biaya Wajib: Rp. 200K

Tambahan:
Merbabu tergolong gunung yang kering sehingga kemungkinan beban berat akan bertambah untuk persiapan air, sehingga kondisi cuaca yang agak basah sekarang bisa menjadi menguntungkan. Dan lebih dari itu, pendakian adalah sebuah proses yang harus dinikmati bukan sebuah perlombaan menuju puncak, puncak bukanlah sebuah titik yang harus ditaklukan melainkan sebuah bonus atas pencapaian kita melawan diri kita sendiri. (sok tua banget guee hahahhaa)

Read more »

1.19.2012

Mekanisme Pajak Pigovian


Pajak, ketika ia turun serta sebagai regulasi dalam permainan mekanisme pasar akan menyebabkan terjadinya defisiensi baik bagi konsumen maupun produsen dan menimbulkan kerugian beban baku yang lebih besar daripada pendapatan yang akan diterima pemerintah. Hal ini terjadi sebab dipasar pajak diaplikasikan dengan fokus budgetair, tetapi kalau fokusnya digeser dengan maksud regulerend maka semua trade-off yang tadi disebutkan menjadi tidak relevan lagi.

Sebagai alat untuk mengatur pola atau gaya hidup maka pajak dikenakan atas aspek tertentu dengan maksud meminimalisir dampaknya negatif yang dapat muncul untuk skala pribadi maupun skala korporat, dampak buruk tersebut tentu akan membawa eksternalitas negatif bagi sekitarnya, yang lambat laun akan mengemuka dan merugikan siapapun yang berada atau pernah berada dalam radiusnya. Contoh nyatanya adalah asap rokok, kemacetan jalan raya atau pembuangan limbah industri ke lautan.

Itu sebabnya ada pajak khusus atas produk berupa cukai dan para industrialis rokok pernah dibebani kewajiban sebagai pemungut PPh Pasal 22 sebesar 0.15% dari harga bandrol dan PPN sebesar 10%. Namun terhitung sejak 1 Januari 2009, kewajiban untuk memungut PPh Ps 22 itu dicabut, sehingga praktis masa berlakunya hanya 1 tahun. Belum jelas apa motif pencabutannya, namun biaya sosial yang harus ditanggung pemerintah dimasa mendatang pasti akan meningkat, ini tidak menginternalisasikan eksternalitas negatif yang harusnya diminimalisir.

Pengenaan pajak yang dimaksudkan untuk tujuan semacam ini dikenal dengan mekanisme Pajak Pigovian, diambil dari nama ekonom Universitas Cambridge, Arthur Cecil Pigou (1877- 1959) selaku penggagasnya. Selaku pengelola negara, pemerintah ikut campur dalam kegiatan ekonomi baik dalam bentuk kebijakan berupa pengendalian langsung atau dengan mengenakan pajak, pajak dianggap sebagai pilihan yang memfasilitasi adanya jalan tengah karena menambah pendapatan pemerintah tanpa langsung menurunkan usaha industri. Tetapi, semua pilihan kebijakan ada ongkosnya.

Mengambil pajak sebagai alat internalisasi eksternalitas akan membuat pemerintah kehilangan ketegasan dihadapan masyarakat karena sebetulnya hidup tenang tanpa ada gangguan dari eksternalitas negatif adalah hak setiap orang, sementara bagi pasar hal ini adalah peluang untuk melakukan lobi dan transaksi karena terlihat sekali pemerintah membutuhkan uang dengan menetapkan pajak, karena tentu ada saja beberapa korporat yang tidak keberatan membayar pajak jika laba yang mereka peroleh lebih tinggi. Sementara pembatasan langsung tanpa toleransi akan mematikan atau menurunkan produktifitas industri yang akan membawa butterfly effect yang lebih panjang, mulai dari turunnya potensi pembayaran pajak hingga ke PHK karyawannya.

Analisis cost- benefit menjadi penting dalam hal ini. Menimbang mana yang lebih penting antara tujuan dari tiap aspek yang dibahas dengan opportunity cost yang harus dikeluarkan. Misalkan antara kesehatan/lingkungan dengan sisi perkembangan ekonomi dan kesejahteraan materi masyarakat. Mekanisme Pajak Pigovian bisa menjadi alternatif karena memang dianggap mampu menekan laju peningkatan biaya sosial dimasa depan sementara mekanisme kendalikan langsung bisa diterapkan jika memang sumber penerimaan negeri sudah tangguh dan mandiri.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

1.16.2012

Bukan PNS, Hanya Pekerja Serabutan


Aku paling benci kalau dulu ada yang bertanya apa pekerjaan Bapak ku. Kalau bisa, aku menghindar untuk menjawab. Jika terdesak, aku bilang Bapakku PNS. Nyatanya Bapak ku pernah bekerja sebagai PNS di Departemen Kehakiman, namun beliau meninggalkannya dengan alasan yang belum bisa aku pahami kala itu. Dan memilih bekerja sebagai pekerja serabutan, kadang- kadang berkebun, kadang jadi makelar, kadang jadi wartawan surat kabar lokal, dan lain- lain.

Kadang aku menyesal lahir sebagai anak seorang wiraswasta serabutan, apalagi kalau kawan- kawan sekolah ku mulai saling membanggakan profesi Bapak mereka. Apa yang bisa aku banggakan dari seorang pekerja serabutan? pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian istimewa. Tubuhnya yang gempal dan padat berbalut kaos lengan pendek seadanya berkawan motor GL Pro sederhana yang sudah lewat masa kejayaanya. Jauh dari sosok gambaran orang sukses versi manusia masa kini.

Tapi diluar profesinya, Bapak sangat humoris. Tiada hari tanpa gelegar tawa bersama teman- temannya bahkan mungkin kepahitan hidup juga ikut ditertawakan. Seperti ketika bermain gaple atau saat ada kawan beliau yang bertamu kerumah, biasanya diselingi kopi hitam dan pisang goreng buatan sendiri. Bapak suka betul bercerita, selalu saja ada bahan lelucon yang tak habis- habisnya. Bukan hanya humoris, namun beliau punya banyak teman, kemanapun kalau aku ikut ke keliling pakai motor, selalu saja ada temannya di setiap beberapa ratus meter yang berteriak menyapa dengan sapaan khas pergaulan kita kaum laki- laki, mulai dari: Bos.. Komandann..dan lain- lain.

Yang aku tahu Bapak dulu adalah seorang PNS di Departemen Kehakiman Palembang namun saat itu kami keluarga tinggal di Baturaja sehingga tiap akhir pekan Bapak harus ke Palembang untuk bekerja, padahal saat itu gaji PNS golongan II/b tidak seberapa sementara kebutuhan keluarga harus dibiayai, alhasil Bapak juga harus mencari penghasilan tambahan disana sampai akhirnya ia meninggalkan kantor karena akan dipindahkan ke Bangka Belitung yang lebih jauh. Bapak akhirnya menolak dipindahkan, sampai akhirnya malah diberhentikan. Tapi beliau tidak terlalu mempersoalkan, tetap melanjutkan dan menikmati hidup, dengan memilih bekerja sebagai wiraswasta serabutan tidak membuat martabatnya jatuh dan keceriaanya pupus.

Kini 15 tahun lebih sudah Bapak tidak lagi seorang PNS, 2 atau 3 tahun lalu aku tahu kenapa Bapak tidak mau dipindahkan ke Bangka Belitung karena ia tidak mau semakin jauh hidup terpisah dari kami keluarganya di Baturaja. Aku dan kakak ku masih kecil saat itu, Ibu ku juga hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa tanpa penghasilan. Bagiku cerita hidup Bapak adalah contoh nyata kebesaran dan kasih sayang ALLAH.SWT, karena tanpa sumber penghasilan yang pasti setiap bulannya, rejeki untuk kami sekeluarga tetap mengalir lewat kerja keras Bapak. Hampir disetiap kesusahan selalu saja ada jalan keluar berupa rejeki yang tidak disangka- sangka. "Hidup ini sudah diatur oleh ALLAH.SWT, jalani saja berusaha semampunya, selebihnya sukuri lah sudah ada rejeki masing- masing". Begitu nasihat Bapak berkali- kali.

Tanggung jawab dan sayangi keluargamu itu adalah nilai lain yang Bapak tekankan. Pengorbanan bapak sepertinya adalah bahasa lain untuk mengatakan bahwa harga diri seorang laki- laki itu adalah bekerja. Setiap hari Bapak pasti keluar dari rumah, entah kemana dan biasanya setiap pulang selalu membawa apapun yang berguna untuk keluarga, mulai dari sayur untuk dimasak, ikan untuk digoreng atau lauk pauk matang sesekali dari warung nasi kesukaannya. Lain cerita kalau baru pulang dari kebun dan sedang musim buah, maka pisang, duku atau rambutan adalah hal biasa bagi kami, bahkan durian juga sesekali.

Kini usiaku sudah 24 tahun dan aku hidup dalam kontradiksi hidup beliau. Harusnya aku hidup lebih bahagia dengan gelegar tawa yang lebih membahana dari yang beliau punya, dengan teman yang lebih banyak dimana- mana. Tapi kenyataanya aku bahkan lupa kapan terakhir aku tertawa lepas tanpa beban. Mungkin tampaknya aku belum paham nasihat beliau yang sering diucapkan kepada ku itu. Semoga ini hanya masalah waktu dan kuharap bisa lebih cepat dari biasa, karena aku hanya ingin menikmati hidup. Dan setidaknya sudah sejak lama aku tidak lagi merasa malu atas profesi beliau, karena aku sudah membuka mata untuk menghargai siapapun bukan dari pekerjaanya namun dari nilai hidup yang ada didalamnya. Aku bangga pada bapak, walau dia hanya wiraswasta serabutan.

Aku tidak lagi benci kalau ada yang bertanya apa pekerjaan Bapak ku. Aku bilang Bapakku eks PNS. Bapak ku pernah bekerja sebagai PNS di Departemen Kehakiman, namun beliau meninggalkannya dengan alasan yang sudah bisa aku pahami kini. Dan memilih bekerja sebagai pekerja serabutan, kadang- kadang berkebun, kadang jadi makelar, kadang jadi wartawan surat kabar lokal, dan lain- lain. Begitulah...

Read more »

1.14.2012

A Lecturer and All That


Satu waktu di ruang kelas Gedung J-104, masa itu adalah pekan pertama perkuliahan semester terakhir dan kami sedang menunggu dosen untuk mata kuliah Komputer Audit. Isu yang kami dengar adalah beliau tipe dosen yang on- time, sehingga sebagai ketua kelas, sudah aku jarkom via sms kepada 30 orang teman satu kelas untuk datang lebih awal, tidak biasanya. Lalu tak lama kemudian sosok pria berkacamata, dengan rambut tampak sudah memutih masuk ke dalam ruangan, sang dosen sudah tiba.

Aku duduk di baris paling depan saat itu, satu bangku dengan kawan dari Sumatera Utara Andi Ginting namanya. Biasanya kalau satu bangku dengan kawan ini, aku sering bercanda namun kali ini tidak, bicara pun harus bisik- bisik takut ketahuan sang dosen, maklum entah kenapa kesan pertama ku dengan beliau memberi semacam sensasi rasa takut, cemas atau khawatir berlipat- lipat. Pertama karena aku memang 'kikuk' jika membahas hal seputar IT, kedua karena citra sang dosen yang kugambarkan seram dalam pikiranku, bermula dari kebiasaan beliau yang on- time, sikap yang sudah langka kini.

Suasana mulai mencair waktu beliau melakukan presensi kami satu per satu, lalu soal sekilas silabus selama 16 kali pertemuan, juga unsur penilaian yang biasa beliau jalankan terhadap kami para mahasiswa/i. Dan pertemuan hari itu usai. Waktu berlalu, dan minggu demi minggu perkuliahan berlangsung, pembahasan teori lalu praktikum, aku ingat ketika praktikum pertama kali, aku adalah satu- satu nya yang tidak membawa laptop, saat itu aku bilang laptopku sedang dipinjam teman yang lagi kuliah. Padahal sebetulnya, kalau tidak salah ingat karena aku terlambat jadi buru- buru lupa bawa laptop. Bandel ya? Aku mohon maaf ya Pak.. :)

Aku memang hampir 5 tahun bekerja di bidang IT, yaitu Sistem Informasi dan SQL serta PL/SQL. Namun itu tidak membuatku 'PD' kalau harus berjibaku dengan urusan komputer, butuh waktu dan dorongan semangat lebih. Dan Alhamdulillah sang dosen berhasil membuatku tetap yakin berusaha, melalui teknik mengajar proaktif yang membuat kami para mahasiswa merasa terlibat secara langsung, sesi tanya jawab yang terbuka dengan banyak kesempatan dan rupanya sang dosen tidak se-ngeri yang aku bayangkan, semakin kesini, semakin kami terasa suasana yang cair dengan beliau. Semua karena kesan pertama.

Walau nilaiku tidak sempurna untuk mata kuliah beliau (dan memang tidak ada nilaiku yang sempurna untuk semua mata kuliah haha..). Tapi, satu semester menjadi mahasiswa beliau, aku merasa, ada bekal ilmu yang aku dapat untuk aku pakai di kantor nanti dan ada pula bekal teladan yang bisa aku bawa soal punctuality dan profesionalisme dalam berkontribusi. Sengaja aku buat tulisan ini justru setelah aku lulus dan tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa beliau demi untuk menjaga sikap. Terakhir aku dengar kabar, beliau menjadi salah satu dosen favorit di kampus. Wajar dan memang sudah sepantasnya. Selamat Pak.. :)

Dan beliau bernama Ennoch Sindang. Widyaiswara di kampus STAN, dan pengampu mata kuliah Komputer Audit. Seorang dosen yang profesional, on- time dan total dalam mengajar. Hanya bisa mendoakan yang terbaik buat Bapak dan keluarga, amin..

Read more »

1.13.2012

Inginku Tentang Kita


1 Call Ended
22:35 Thu 12 Jan
+6281958847xxx


Apa yang bisa kita kenang dari hari kemarin saat ribuan lintasan angin mengudarakan suaramu dan suaraku? Nama tempat? Nama orang? atau sekilas bayangan gelak tawa kita? Mungkin tidak ada lagi yang tersisa, tapi satu yang tidak akan tercecer setitik pun, yaitu rasa. Sebut saja rindu, kasih atau sayang. Kian lama kian dalam tanpa pandang jarak, tempat atau waktu, seperti tadi sesaat sebelum kita mengakhiri pembicaraan.

1 New Message
+6281958847xxx
22:39:33
12/01/12


Aku sudah ada pada titik untuk belajar menjadi manusia yang paham tentang mencintai dan dicintai, walau mungkin belum sesempurna kau. Lambat laun nanti akan mantap jua, agar pasti kita melangkah maju, tanpa ragu untuk menjadi diri sendiri selalu. Karena seperti lirik lagu, kau adalah salah satu anugerah terindah yang pernah aku terima. Aku butuh kau untuk disisiku. Tapi tidak semudah itu juga bagiku meninggalkan rimba belantara yang kau sebut sebut melelahkan dan penuh resiko, karena bisa jadi mereka adalah guru bagiku untuk dapat mencintaimu dengan sepenuhnya menjadi diriku sendiri.

From: one25_xxxxx@ yahoo.com
Tue, Dec 14, 2010 at 3:36 PM
Subject: Undefined
To: sonzonexx@ gmail.com


Aku ingin jika kelak kita sudah bersama dalam satu ikatan yang sah, untuk mengajak mu kesatu tempat yang selalu aku bayangkan untuk bersamamu disana, menikmatinya dan kembali mengukir rasa yang tidak akan tercecer sedikit pun, menjadikannya satu hal yang tidak akan terlupakan meski bila kelak bahkan kita tidak mampu lagi ingat apapun. Gili Nanggu, pulau kecil di Lombok ini sepertinya sangat teduh, bersih lagi jauh dari kebisingan hidup, berjalan di bibir pantai diantara debur tepi air laut sambil menantikan sunset disana. Denganmu, sayangku.

Ebas
13 Januari 2011
02:33:53 Dini hari

Read more »

1.12.2012

Sekilas Thanksgiving


Setiap hari Kamis di pekan keempat bulan November setiap tahun di Amerika Serikat, atau di Senin pekan kedua bulan Oktober di Kanada, adalah hari Thanksgiving (pengucapan syukur) dimana para keluarga akan berkumpul menikmati makan malam bersama diisi obrolan tentang hal- hal yang membuat mereka bersyukur, satu per satu oleh masing- masing anggota keluarga. Hari itu adalah hari libur nasional tahunan disana. Satu hari yang tidak ada di sistem kalender negara kita Indonesia, dan bukan hal yang penting untuk diperdebatkan cuma masalah adat/ kultur sahaja.

Tulisan ini aku buat karena rasa penasaran mengapa di daerah sana ada hari khusus untuk bersyukur, dan ternyata ini dilatar belakangi oleh suatu adat kebiasaan mereka untuk mengucapkan terima kasih dan rasa bersyukur di akhir musim panen. Hanya itu? Sesederhana itu? Tidak ternyata, ini semua berhubungan dengan era dulu ketika migrasi besar- besaran dari Eropa khususnya Inggris ke benua baru yakni Amerika beratus- ratus tahun lalu terjadi. Kala itu, Eropa dilanda kekacauan berlatar belakang agama dan banyak penghukuman terjadi atas nama agama, mereka yang menentang ajaran gereja Katolik lalu menjadi Kristen Protestan banyak lari ke benua baru ini.

Mereka yang lari ke benua Amerika harus mampu bertahan hidup, menyesuaikan diri dengan musim dingin, mereka membentuk koloni (era balu kolonisasi di benua Amerika) bernama Plymouth Bay (diambil dari nama pelabuhan ketika mereka tiba), kondisi musim dingin kala itu begitu ekstrim banyak mereka yang meninggal atau memilih kembali ke Eropa. Mereka yang tinggal memilih untuk bertahan dalam kelaparan hingga ketika musim semi tiba mereka yang disebut juga sebagai kaum Pilgrim ini melakukan pertanian secara besar- besaran, bersama- sama dalam asas kebersamaan. Mereka begitu bersemangat terutama setelah melalui masa- masa musim dingin dan kelaparan hebat.

Seiring waktu, dengan berbagai inovasi dan adaptasi yang mereka lakukan dalam hal sistem pengelolaan akhirnya kaum Pilgrim yang merupakan cikal bakal kaum kolonis benua Amerika mampu mencukupi kebutuhan mereka karena mungkin mulai mengenal sistem barter sejalan dengan penyesuaian sistem yang dilakukan. Saat- saat inilah yang oleh kaum Pilgrim dipandang sebagai sebuah mukjizat yang harus mereka syukuri setelah melewati tempaan musim dingin yang berat. Hingga kala itu mereka mengadaan jamuan/ pesta makan dengan mengundang juga suku Indian asli Amerika, Wampanoag. Tradisi ini terus berlanjut dari masa ke masa terjaga hingga menjadi tradisi nasional di Amerika Utara yang dikenal dengan Thanksgiving Day.

Usaha bertahan dari sebuah kondisi yang berat ternyata membuahkan hasil, dan itu wajar jika diapresiasi, mungkin esensinya bukan berarti hanya hari itu saja orang Amerika Utara bersyukur tp lebih ke arah bagaimana mereka mengenang upaya keras mereka kala itu dengan menjadikan hari- hari tertentu sebagai hari untuk mengenang masa itu lalu memaknai dalam sebuah syukur mendalam. Bukan hal yang aneh aku kira, justru yang aneh adalah jika adat ini diikuti oleh negara/ bangsa lain yang tidak pernah mengalami hal ekstrim sedemikian rupa untuk menikmati hasil panen. Karena intinya bahwa setiap hari adalah waktu untuk bersyukur kepada ALLAH.SWT karena telah/ masih memampukan diri untuk berusaha.

Ebas
Jadi ingin mencicipi ayam kalkun bakar, enak ya?

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, dan sumber bacaan yang menjadi referensiku adalah Bloomberg News edisi 21/11/2001.

Read more »

1.11.2012

Memoar Elpeje


Every ending is just a new beginning for another thing, begitu kata kawanku (namanya Nasikhudin) waktu semua Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) DINAMIKA selesai kami serahkan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa kampus. Sudah tiga hari ini, waktu ku tersita bersama Nash, Mima, Nunah merampungkan LPJ yang jatuh tempo 10 Januari kemarin sebetulnya. Lega? Iya. Lapang? belum terlalu sebetulnya, karena LPJ yang sudah diserahkan ini masih harus menjalani proses verifikasi dan klarifikasi dengan pihak lain, sebut saja BLM dan BAK. But at least, bersyukurlah akhirnya rampung juga.

Aku patut berterima kasih banyak kepada Nash dan Nunah sebagai Bendahara sudah menyusun Laporan Keuangan yang melihat isinya saja sudah cukup membuat kening berkrenyit. Juga pada Yemima sebagai Sekretaris untuk ketelatenannya menyusun dan memeriksa kembali semua dokumen yang masuk dari tiap eks ketua bidang sampai mengkompilasinya dan lebih dari itu karena ia yang akan menjadi satu- satunya eks Badan Pelaksana Harian (BPH) yang masih stay di kampus, karena kami bertiga (aku, Nash dan Nunah) sudah akan kembali kerja dalam waktu dekat. Juga untuk Remon, untuk kesediaannya membantu transportasi dan printing sampai larut malam.

Selain itu aku ucapkan terima kasih juga kepada rekan- rekan eks ketua bidang atas dedikasinya dalam menyusun LPJ bidang masing- masing. Aku kira tidak mudah melakukannya karena butuh komitmen untuk meng-kick diri sendiri ditengah kesibukan yang mulai rutin seperti ini apalagi mengingat DINAMIKA sendiri sudah lewat hampir 30 hari yang lalu. Voila!

Terbayang kesibukan selama 3 hari belakangan ini, dimulai dari pagi hingga malam bahkan larut. Kamar kos Nash sudah penuh dengan berkas dan kami yang berbagi tugas, carut marut yang terlihat elegan ditengah tiga buah laptop dan printer. Hahaha.. Bahkan sempat tidak enak dengan Bapak Kos nya karena harus mundar- mandir buka tutup pintu gerbang sehingga garasi beliau jadi becek. Ah, untung tanki oli motor ku sudah diperbaiki, kalau tidak mungkin jadi tambah kotor itu garasi. Sekarang semua sudah selesai, tinggal menunggu panggilan jika memang perlu kami dipanggil. Disitu, didalam LPJ yang tebal bersampul merah putih itu, semua cerita DINAMIKA kami terangkum. Harapan kami sederhana, semoga LPJ itu bermanfaat guna bagi para penggunanya di masa mendatang. Sehingga keberadaan kami didalam kepanitiaan kemarin tidak sekedar numpang lewat melainkan berbekas.

Every ending is just a new beginning for another thing, begitu kata si Nash.

Read more »

1.10.2012

When Time Heals


Dulu sepertinya aku belum siap, tapi aku nekad untuk melanjutkan cerita ini, cerita tentang kita. Dan lama- lama aku menjadi bingung. Sepertinya aku yang menjadi berlebihan. Mungkin bingung, sebab rupanya aku belum siap menjadi diriku yang baru, dengan mu. Lucu, aku seperti merasa bingung ketika diperhatikan, disayangi atau mungkin dicintai. Sepertinya paradigma ku dulu salah, aku kira dulu aku hanya hidup ditakdirkan hanya untuk mencintai bukan dicintai. Semua berubah ketika kau masuk kedalam kehidupan ku.

Kini aku mulai takut kehilanganmu, aku mulai rela meninggalkan ambisiku, menanggalkan impian tinggiku untuk bisa menjadi lebih dekat denganmu, mewujudkan impian kita. Melihatmu seperti aku menemukan jalan kehidupanku yang seharusnya aku jalani. Entah aku yang menemukan mu, atau kau yang menemukan aku, yang jelas kita dipertemukan. Singkatnya memang seperti inilah takdir kita.

Keluar dari titik kenyamanan cara hidup untuk menuju suatu perubahan, kata orang adalah sebuah kemajuan. Itu artinya aku harus sepenuhnya menjadi orang yang layak dicintai, sebab aku sudah terlalu lama nyaman dengan cara kemarin, sendiri, hanya berkawan sekedar berkawan, tanpa kawan yang benar- benar bisa dimaknai sebagai 'kawan hidup'.

Kini aku lebih bingung lagi, aku yang memulai cerita kita, namun aku juga yang bingung. Aku hanya tidak ingin kebingungan ini semakin besar menjadi ketakutan yang berlebihan. Sudah sepantasnya aku mulai menerima kehidupan ku sekarang sewajarnya dengan mu lalu seiring waktu sajalahh sayang, mari kita lanjutkan cerita hari esok.. yang jelas aku tahu sebetulnya aku begitu sayang padamu. Maafkan aku jika satu dua hal belum bisa aku tepati..

Mengenang satu malam yang kita habiskan di Monas Jakarta.

Read more »

1.01.2012

Kompleksitas Penentuan Tarif Pajak


Sekarang sudah tahun 2012, Ditjen Pajak kembali menerima tugas mencari uang untuk negara dari sektor perpajakan dengan target yang (biasanya) akan lebih tinggi dari tahun fiskal sebelumnya. Target yang ditentukan oleh Badan Kebijakan Fiskal ini merupakan angka yang harus diusahakan Ditjen Pajak selama setahun kedepan melalui berbagai upaya. Di tahun 2011 kemarin, dari sumber tak resmi yang penulis dengar lewat seorang teman mengatakan bahwa sekitar 95% yang sudah mampu dicapai dari target yang ditetapkan, dan untuk itu apresiasi layak diberikan kepada Ditjen Pajak atas pencapaian ini.

Upaya pencapaian target yang dilakukan oleh Ditjen Pajak dilakukan dengan langkah yang sifatnya pendekatan berupa pengawasan atau penetapan kebijakan terkait dengan tarif. Yang ingin penulis angkat dalam postingan blog ini adalah terkait dengan tarif. Sering kita dengar bahwa DJP menerapkan kebijakan baru atas tarif suatu objek, baik itu menaikkan atau menurunkan yang semata- mata tujuannya hanya satu yaitu menjaga stabilitas prospek potensi penerimaan dari objek tersebut, penerapan kebijakan ini dapat berdampak secara langsung (budgetair) atau tidak (regulerend).

Ternyata perihal ini sudah dibahas melalui pemikiran seorang ekonom di abad ke 14 yaitu Ibnu Khaldun yang berabad- abad kemudian menjadi cerminan Arthur Laffer, ekonom asal USA, yang menggambarkan hasil pemikiran Ibnu Khaldun dalam bentuk kurva sederhana (secara sekilas) yang sarat makna, dikenal dengan Laffer Curve. Inti dari pemikiran Ibnu Khaldun adalah bahwa:

"In the early stages of the state, taxes are light in their incidence, but fetch in a large revenue...As time passes and kings succeed each other, they lose their tribal habits in favor of more civilized ones. Their needs and exigencies grow...owing to the luxury in which they have been brought up. Hence they impose fresh taxes on their subjects... and sharply raise the rate of old taxes to increase their yield...But the effects on business of this rise in taxation make themselves felt. For business men are soon discouraged by the comparison of their profits with the burden of their taxes... Consequently production falls off, and with it the yield of taxation." (http://en.wikipedia.org/wiki/Muqaddimah).

Dari ikhtisar pemikiran beliau penulis menyimpulkan ketika tarif pajak rendah sebut saja misal 0% maka tidak ada penerimaan yang bisa didapat negara dari pajak, dan masyarakat akan memiliki penghasilan tinggi namun tanpa pelayanan publik yang memadai, keadaan ini mungkin terjadi dijaman dahulu ketika manusia hidup dalam pola yang bisa dibilang tidak memiliki peradaban. Seiring waktu ketika tingkat peradaban mulai berkembang yang diikuti peningkatan kebutuhan akan tata negara yang baik maka disaat itu dibutuhkan iuran berupa pajak dengan tarif yang hingga kini belum bisa ditentukan berapa tingkat wajarnya, andai disebutkan 100% (kondisi ekstrim) maka hal ini akan membuat efek domino berupa penurunan produktivitas (sengaja memilih tidak bekerja).

Penjelasan ini sejalan dengan Kurva Laffer yang dibuat tahun 1974 dan dipopulerkan oleh Jude Wanniski:
Menjadi tugas Kementrian Keuangan (melalui DJP) untuk menentukan tarif pajak yang dianggap wajar dalam menjaga penerimaan negara, dan ternyata penentuan ini tidak semudah yang dibayangkan, ada lebih dari sekedar kalkulasi matematis namun juga semacam pertimbangan respon perilaku pasar (wajib pajak yang bertransaksi) yang kadang sulit ditebak, kecuali jika memang objek/barang transaksi sifatnya memang primer/pokok maka efeknya tidak akan terlalu berpengaruh (sifatnya inelastis).

Jika dikembalikan pada kondisi ekstrim tadi (kesimpulan penulis atas pemikiran Ibnu Khaldun) bisa jadi adalah dengan menurunkan tarif pajak pada tingkat tertentu yang akan mendorong perilaku pasar menunjukkan respon maksimal atas insentif ini. Karena secara teori justru peningkatan tarif akan membuat pasar jadi lesu, dan ini menimbulkan deadweight loss (kerugian beban baku) yang lebih besar bagi produktivitas pasar (Mankiw 2009).

Namun demikian, kesimpulan teoritis penulis ini masih dibayangi oleh keraguan akan stabilitas politik pemerintahan dalam negeri yang belum optimal memberikan perhatian pada respon pasar atas kebijakan perpajakan yang dibuat Ditjen Pajak. Terlebih pada penduduk negeri ini yang berhak akan kehidupan yang layak dan pelayanan publik yang baik. Apa mungkin pemikiran Ibnu Khaldun dan Kurva Laffer akan menjadi anomali di negeri ini? Semoga tidak. Karena tuntutan kebutuhan penyelenggaraan kehidupan negeri ini makin meningkat dan membutuhkan dana besar yang menjadi tugas berat Ditjen Pajak.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini dan sinih!!.

Read more »