6.27.2011

Sebuah Ucapan Terima Kasih


Sebuah ucapan terima kasih, gratitude, menjadi begitu dalam maknanya jika direnungkan sejenak, karena didalamnya menunjukkan bahwa kita telah menerima kasih dari seseorang, dan yang sebetulnya berasal dari Tuhan.

Dalam pendakian menuju Rinjani kemarin, ada begitu banyak orang yang telah membantu kami sehingga kami dipermudah, memungkinkan kami menjalankan semua agenda yang kami rencanakan sebelumnya. Semua bantuan mereka begitu berarti dan jika harus ku urai dalam cerita mungkin akan menjadi begitu panjang, oleh karena itu hanya 1 (satu) saja yang aku tulis ceritanya sementara yang lainnya, tanpa mengecilkan arti bantuan dari mereka akan dibuat dalam paragraf khusus masih dalam postingan ini.

Sore itu adzan magrib sudah berkumandang, dan semua urusan sudah kami selesaikan sehingga menurut rencana harusnya kami sudah bergerak meninggalkan kawasan menuju ke Gili Trawangan, sebetulnya agenda ini ingin tetap kami jalankan namun kelihatannya tidak mungkin karena kami mulai kehabisan uang sementara jasa ojek yang tersedia memanfaatkan keadaan kami yang membutuhkan dengan menaikkan harga diluar kemampuan kami.

Disaat itulah, kami berusaha mencari solusi. Aku, Tamsin dan Yoga berusaha untuk menguasai diri agar tidak terjebak dengan keadaan. Sebetulnya Bang Roni sudah berbaik hati dengan hendak mengembalikan kembali uang yang kami bayar atas jasanya namun tidak tega kami menerimanya. Sehingga pilihan yang sangat mungkin dan rasional malam itu adalah terpaksa bermalam dulu di kawasan Senaru ini, dan alternatif nya adalah di pos Rinjani Trekking Center namun rupanya RTC tidak menyediakan kamar atau ruangan 'mendadak' untuk pendaki dengan kondisi seperti kami, dan ini sepertinya berbeda dengan Rinjani Information Center di Sembalun yang menyediakan ruang untuk sekedar bermalam untuk para pendaki. Bahkan RTC ini tutup ketika hari sudah beranjak gelap tanpa ada yang berjaga.

Aku sudah mencoba minta tolong ke petugas RTC namun ybs hanya mampu membantu sebatas memberikan ijin bermalam di lounge depan yang terbuka. Mengingat isu tidak sedap yang berhembus mengenai tingkat kriminalitas di kawasan Senaru, belum lagi dingin malam tentunya membuat istirahat malam ini menjadi terganggu, sehingga aku berupaya mencari alternatif, dan akhirnya pikiran ku tertuju ke tempat sebuah warung sederhana dimana sore tadi aku numpang sholat Ashar dan aku tawarkan ke Yoga dan Tamsin, mereka mengiyakan sehingga aku coba menemui Ibu pedagang di warung tadi.

Nama beliau rupanya adalah Ibu Deni, sementara suaminya belum pulang berolahraga. Aku coba menjelaskan kepada Ibu Deni mengenai kondisi kami, dan tanpa berpikir dua kali, raut wajah Ibu Deni langsung sumringah mempersilahkan kami bermalam di rumah beliau. Akhirnya kami bertiga langsung membawa serta carrier kami kedalam tempat yang disediakan Ibu Deni untuk kami. Belakangan aku baru tahu bahwa Deni adalah nama anak sulung beliau, sementara suami nya bernama Pak Rasiana. Kami begitu berterima kasih karena malam ini kami bisa 'aman' untuk beristirahat. Bu Deni menceritakan bahwa minggu sebelumnya ada juga beberapa orang pendaki dari Jakarta yang kondisi nya sama seperti kami dan bermalam dirumah warung beliau ini.

Kami bingung bagaimana membalas kebaikan jasa Ibu Deni ini, Tamsin memberikan usul agar kita coba memberikan semacam ungkapan terima kasih dalam bentuk kiriman pulsa, dengan meminta bantuan seorang kawan kuliah di Jakarta, namanya Relevan Butar- Butar yang punya pekerjaan sampingan berdagang pulsa. Namun saat aku coba sampaikan ke Ibu Deni, beliau menolak, bahkan beliau menawari kami untuk makan malam karena ketika kami tadi ditanya sudah makan atau belum, saya menjawab belum. Tidak lama kemudian, kami bertiga makan malam yang sudah disiapkan oleh Ibu Deni bahkan adik iparnya membuatkan kami bertiga kopi hitam hangat.

Sambil makan malam dibilik samping warung, kami melihat Ibu Deni sedang mengasuh anak bungsunya, usianya mungkin baru 1 atau 2 tahun, lucu dan pintar, matanya bulat dan bulu matanya panjang, namanya Lutfia, Dena Lutfia lengkapnya. Kemudian setelah makan kami pun bercengkrama dengan Ibu Deni dan keluarganya, ada adik iparnya yang sehari-hari mengajar ngaji anak-anak setempat dan adik kandungnya yang duduk di bangku SMA. Tak lama kemudian suami Bu Deni muncul dengan sarung dan peci baru selesai Isya, rupanya tadi selepas magrib tadi, beliau baru saja latihan Sepak Bola untuk menyemangati pemuda di kampungnya dalam turnamen rutin tahunan di Kecamatan Senaru, beliau senang sekali berolahraga nampaknya. Kamipun ngobrol-ngobrol di bale keluarga Pak Rasiana persis didepan warung nya.


Malam itu begitu dingin, namun Pak Rasiana dan keluarganya memang sudah terbiasa, sehingga sama sekali tidak perlu pakaian penghangat. Kami ngobrol banyak hal mengenai bagaimana kami sampai kehabisan uang dan rencana perjalanan kami besok, sekaligus mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan keluarga beliau. Tak lama, kemudian kami masuk kedalam untuk beristirahat mengambil sleeping bag kami masing-masing lalu menyempatkan memberi kabar keluarga dan rekan-rekan terdekat. Selanjutnya kami semua terlelap. Gelap dan hening.

Kira-kira menjelang pukul 6 pagi, aku mulai terbangun dan segera mengambil wudhu untuk sholat dan mendapati Pak Rasiana baru pulang dari jogging pagi. Setelah itu, Tamsin dan Yoga bangun dan aku mengingatkan mereka bahwa pagi ini harus lanjut perjalanan lagi, sehingga kami mulai bersiap-siap repack untunglah akhirnya semua barang-barang ku muat dimasukkan dalam 1 carrier ini. Ketika selesai mandi dan bersiap-siap tiba-tiba Bu Deni memberikan untuk kami tiga gelas kopi hangat dan tak lama muncul Pak Rasiana memberikan kami tiga buah nasi bungkus sebagai sarapan. Sambil dinaungi rasa syukur bertemu dengan orang-orang yang begitu baik ini, akupun sarapan bersama Yoga dan Tamsin.

Semua kami sudah siap, carrier dan fisik kami sudah OK. Lalu Pak Rasiana muncul melihat kondisi kami dan tiba-tiba menawarkan kami bantuan uang sebagai tambahan setidak nya bekal perjalanan sampai ke lokasi yang ada mesin ATM, lalu kami jelaskan bahwa uang kami alhamdulillah masih cukup jika hanya untuk sampai di lokasi mesin ATM. Dalam hati aku bingung mau berkata apa mendapati kebaikan Pak Rasiana ini.

Ketika kami sudah bersiap meneruskan perjalanan, Pak Rasiana memberi gambaran rute menuju lokasi yang ingin kami tuju, yaitu Pelabuhan Bangsal. Dari Senaru menuju terminal terdekat didaerah Bayan yaitu terminal Ancak, dari Ancak perjalanan dilanjutkan ke Bangsal, di Pasar daerah Bangsal inilah ada mesin ATM, karena dari Ancak kami meneruskan perjalanan dengan ijin dulu ke sopir bahwa mohon turun sebentar di mesin ATM.


Pagi itu, 15 Juni 2011. Kami berangkat meninggalkan Senaru, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Rasiana dan Ibu Deni serta segenap keluarganya, aku hanya bisa berdoa semoga ALLAH.SWT membalas kebaikan beliau-beliau dengan lebih baik lagi, amin. Tamsin memberikan kupluk/balaclava nya sebagai kenang-kenangan untuk Lutfia. Tak lupa kami berpoto sebagai kenang-kenangan, rencananya kami bertiga hendak membelikan semacam sepatu/seragam olah raga di Jakarta lalu dikirim kepada Pak Rasiana di Senaru. Begitulah, satu malam di Senaru ini rasanya akan menjadi malam yang tidak akan bisa aku lupakan seumur hidup, diantara hiruk pikuk kehidupan jaman modern ini ternyata masih ada orang-orang yang membantu tanpa pamrih, memberi tanpa menghitung.

-------------------------------------------------------------------------------------

Selain Pak Rasiana dan Ibu Deni yang kuceritakan diatas, terdapat juga beberapa rekan yang membantu perjalanan ini diantaranya adalah dibawah ini:

Bang Fian, Bang Ashwan dan semua rekan di Khyber Pass dan Oasistala Lombok Timur Nusa Tenggara Barat atas bantuan, tumpangan menginap dan keramah tamahan yang membuat kami seperti berada di rumah sendiri. Mengenal mereka maka aku harus berterima kasih juga kepada Yudha yang sudah mengenalkan aku kepada Bang Fian.


Codet, si kawan ini sudah banyak membantu, sudah tidak usah disebutkanlah apa saja, tapi rasanya durhaka juga aku kalau tidak kubuat ucapan terima kasih untuk dia. Ni dia orangnya ni.. Thanks Det!



Bewok
, sorry Wok waktu lu dateng ke kos nganterin SB ma Sepatu, gw lagi g ada dikos. Bewok ini sodara gw di SABUMI, komunitas pecinta alam yang terbentuk dari diklat STAPALA 2011. Danke Wok!


Ajir dan Rian, ni adek kos, satu kampung juga, yang udah minjemin kamera dan carrier mini 40 L, Mokase Dek!


Agusta Del Labane, kawan satu kelas, asli Dolok Sanggul, Sumatera Utara, sudah berapa kali kameranya aku pinjam, Mauliate Lae!


Tapsel, ni sodara di SABUMI juga, yang sering nemenin kalo jogging pagi mutar-mutar kampus. Trims pinjaman tramontina nya! :D


Adit dan Mido, dua pendaki yang ketemu di Sembalun yang sudah banyak membantu di awal pendakian dengan membawakan carrier Yoga sampai akhirnya ketemu lagi di Danau Segara Anak, makan ikan goreng bareng. I owe you two more than thanks!


Tamsin Ezer Siagian dan Yoga Prianggara. Terima kasih untuk sudah menjadi partnerku dalam pendakian ini, hanya masalah waktu saja sampai masing-masing dari kita kembali akan merindukan keindahan alam dari puncak-puncak yang lain, and when it comes, it is the time to call me back :)

Bang Roni dan Amak Erna selaku porter yang banyak membantu dan melayani kami dalam pendakian ini mulai dari Sembalun sampai di pintu gerbang Senaru. Khususnya untuk Bang Roni, terima kasih banyak atas kebaikannya, canda tawa didalam tenda dan lain sebagainya. Semoga bahagia dan selalu buat Bang Roni dan keluarga. Foto mereka udah banyak dimuat di postingan sebelumnya jadi sengaja tidak aku muat lagi.

Kedua orang tua, saudara-saudara kandung dan keluarga ku di Baturaja dan Palembang serta buat seorang wanita yang kelak mendampingi hidupku (insyaALLAH).

Impian.Cita.Cinta.Pelajaran.Pengalaman.Perjalanan.Keindahan.Syukur.Sabar.Amarah.Tawa
Kereta.Kapal.Selat.Bule.Gurun.Savanna.Hutan.Pasir.Curam.Awan.Kabut.Angin.Carrier.
Catper.Duit.Tawa.Senyum.Lelah.Haru.Bangga.Ebiet.Kamera.Sunset.Sunrise.Madu.Cokelat.
Daya.Tapak.Semangat.Batu.Air.Danau.Pemandangan.Kebaikan.Syair.Hati.Napas.Irama.Doa.
Berat.Bapak.Ibu.Adik.Kakak.Keponakan.Pacar.Kuliah.Kerja.Nikah.Sekolah.Langkah.Niat.
Puncak.Sembalun.Senaru.Pelawangan.Matahari.Bulan.Persahabatan.Kalian.Aku.Kita.


Juni 2011, Penuh Kenangan.
TERIMA.KASIH. :)
Erikson Bin Asli Aziz a.k.a Ebaz


Read more »

6.24.2011

Danau Segara Anak dan Jalur Senaru


Salah satu pemandangan yang begitu indah dari Puncak Rinjani adalah Danau Segara Anak, bahkan keindahannyapun sudah bisa dilihat dari Pelawangan Sembalun, menjelang senja warna hijaunya makin membuat Danau ini tidak hanya indah tapi juga sangat tenang bahkan menenangkan, well, i can say, it is beautifully interesting but tough to reach, how come? then just keep reading.. :)

Begitu kami sudah kembali dari puncak, maka kami beristirahat sebentar di Pelawangan Sembalun untuk makan siang, mandi di sumber mata air lalu segera repack untuk melanjutkan perjalanan ke bawah menuju Danau Segara Anak. Medan yang harus ditempuh adalah medan yang kami lihat dari atas berupa tebing dan jurang yang berliku, sesekali curam bahkan harus berpegangan erat dengan bebatuan, kemudian sedikit lembah dan bukit yang naik turun, total perjalanan memakan waktu 5 jam untuk ukuran kami, sementara bagi para porter mungkin bisa ditempuh dalam 2-3 jam saja.

Pas dalam perjalanan menuju ke Danau ini kami beberapa kali beristirahat untuk sekedar minum atau meringankan beban sejanak. Sambil melihat kesekeliling banyak sekali bebatuan yang menjadi korban vandalisme mereka yang tinggi sekali jiwa seninya, karang yang berwarna abu-abu alami berubah warnanya menjadi putih karena cat dari type-x bertuliskan macam-macam ungkapan cinta, prasasti semacam '.... was here' dan sebagainya. Percuma juga sebetulnya, because there will be none who is gonna look for those writing so, just kind of temporary temptation needed to express. Itulah kenapa kalau dalam perjalanan aku suka bawa buku Catatan Perjalanan biar ada tempat kalo ada yang perlu ditulis.


Tepat pukul 16.00 kami bertiga tiba juga di Danau Segara Anak, tenda sudah berdiri oleh Bang Roni, sesuai janji dengan Adit dan Mido maka kami segera menemui mereka yang sudah satu malam lebih dulu di Danau Segara Anak, disana rupanya mereka berdua mendirikan tenda persis ditepi Danau, sementara Adit sedang memancing dan Mido lagi didalam tenda, selain Mido banyak juga rupanya penduduk lokal yang dalam tim sengaja datang untuk memancing, bahkan mereka sengaja membawa bekal untuk beberapa hari, peralatan mereka lengkap, pancing, umpan, logistik, kompor, dan pastinya rokok.



Senang bisa bertemu kembali dengan mereka berdua, mereka membantu sekali dalam pendakian kami kemarin, lalu daypack Adit kami serahkan kembali sambil ia membawa carrier Yoga untuk diserahkan kekami. Tak lama berselang, Adit menawarkan kami sejumlah ikan untuk digoreng hasil pancingan mereka, ada banyak lumayanlah untuk dimakan berlima, seukuran 3-4 jari orang dewasa. Sambil menunggu Bang Roni menggorengkan ikan, kami duduk santai, tak lama lalu kami lanjut makan bersama didalam tenda kami. Sesudah makan aku mengajak mereka berdua ke sumber pemandian air panas dan melihat air terjun tak jauh dari camp ground, tapi mereka menolak.


Akhirnya hanya kami bertiga saja ditemani Bang Roni yang hendak mengambil air, pemandian air panas ini menurut masyarakat setempat dapat menyehatkan badan, ada tiga kolam, ukuran kepanasanya ada yang panas, cukup dan biasa saja. Aku kurang tahan di dua kolam pertama jadinya di yang ketiga saja, kecuali Tamsin dan Yoga yang betah berlama-lama di kolam pertama dan kedua, bahkan mereka langsung dari air pancurnya. Di jalan menuju pemandian air panas ini kami melewati dua air terjun yang berhadapan dengan pemandangan perbukitan yang sangat indah. Air terjun kedua jatuh persis di dekat air panas itu tadi, sehingga begitu sudah dari air panas, aku menceburkan diri ke air terjun saja, tidak terlalu dingin dan kupikir aku memang suka air, berenang dan bergelantungan di bebatuan dekat air terjunnya. Asikk woii!


Hari mulai malam, dan akhirnya kami beristirahat didalam tenda, semua logistik kami masukkan juga kedalam tenda karena kabarya banyak Babi hutan dan Anjing berkeliaran disekitaran area ini. Dan memang betul, sebelum tidur, aku memang mendengar lolongan panjang anjing hutan, seperti film horor di TV, wolves. Keesokan paginya disekitar tenda sudah banyak jejak kaki, sepertinya Babi hutan, jejaknya tidak seperti jejak Anjing. Hari kedua di Danau kemudian kami isi dengan memancing dan kembali menikmati air terjun, air panas dan pemandangannya, namun kali ini lebih eksploratif lagi.




Para pendaki dari luar negeri yang naik dari jalur Senaru, akan beristirahat di Danau Segara Anak untuk menikmati ketiga resort tersebut, menurutku tentang mereka, pada dasarnya mereka walaupun secara budaya bertolak belakang dengan kita, mereka adalah orang-orang yang ramah dan tidak suka bila diganggu, sama seperti kita, jadi kalau mereka bersikap ramah, maka aku membalas alakadarnya saja walau sekedar senyum. Mereka kurang nyaman dengan sikap terlalu ramah, lebih baik biasa-biasa saja dalam bersikap dengan mereka. Kecuali kalau kita lihat mereka membutuhkan bantuan, maka sebagai sesama manusia sudah kewajiban untuk sebisanya membantu, seperti pas aku lihat turis dari Jerman yang lemas karena kelelahan (terlalu semangat jadinya mendakinya dengan berlari, begitu kata guidenya), aku coba kasih dia Antangin untuk diminum dan sekaligus beberapa lagi sebagai bekal.


Ini rombongan turis dari Swiss yang kami ajak poto bareng, nama mereka: Lurina, Nicole dan Nadya.



Di hari kedua ini, pukul 08.30 Adit dan Mido meneruskan perjalanan untuk pulang melalui jalur Senaru. Setelah itu, sore harinya kami isi dengan menikmati senja di Danau Segara Anak, dan malam harinya beristirahat total untuk mengisi energi mengingat keesokan harinya kami juga akan pulang melalui gerbang Senaru yang katanya adalah jalur berupa hutan lebat, sebetulnya bagian ketika menuruni puncak adalah bagian yang tentu tidak seberat ketika mendaki, hanya saja kali ini yang berbeda adalah untuk memulai turunan itu, harus kembali mendaki 3 jam agar bisa keluar dari kawasan Danau Segara Anak.


Keesokan harinya, pagi itu setelah sarapan pagi dan semua sudah di repack, kami kembali melanjutkan perjalanan, there is always an ending in every beginning. Dimulai dengan melipir Danau sampai ketemu jalur keatas, dan mulai mendaki, jalur awal pendakian meninggalkan Danau adalah medan yang cukup berat, bebatuan dan agak terjal, untunglah medan ini hanya mendominasi sekitar 1 jam pertama saja, berikutnya sudah agak landai, disini mulai banyak kami berpapasan dengan pendaki yang hendak ke Danau, dan ada juga sekelompok pemeluk agama Hindu yang membawa lengkap peralatan Ibadah, sengaja datang jauh dari Bali ke Rinjani untuk menjalankan ibadah mereka.


Tamsin dan Yoga mneikmati sore di tepi Danau.


Pas akhirnya tiba di Puncak Pelawangan Senaru, ada rasa berat melanjutkan perjalanan karena dari titik inilah untuk terakhir kalinya dalam pendakian ini kami bisa melihat keindahan Danau Segara Anak. Tapi bagiku, perjalanan harus tetap berlanjut, karena bukan di Danau ini kehidupan ku yang sebenarnya, yang sebenarnya adalah menikah, punya keluarga, punya anak, punya istri, pendakian ini hanya sekedar hobi dan sesekali menjadi kebutuhan bila lama tak dilakoni, paling tidak begitulah untuk masa-masa kini. Kami mulai memasuki kawasan hutan diawali dengan menuruni bukit pasir berdebu yang terik dan membosankan. Ketika tiba di kawasan hutan sepertinya aku merasakan sensasi baru dalam pendakian ini, karena akhirnya lengkap sudah trek yang kami lalui: Savana, Hutan Cemara, Bukit Pasir dan Hutan Lebat.

Perjalanan menuruni Rinjani dengan melintasi kawasan hutan ini kami tempuh dalam 3-4 jam, ada banyak beberapa pos istirahat, kami beristirahat agak lama di Pos 3 untuk makan siang, disini kami bertemu dengan 3 pendaki dari Depok, namun sayangnya lost contact. Setelah mengisi energi perjalanan kami lanjutkan, di setengah jam pertama kami bahkan berlari untuk mempercepat waktu, karena ingin segera mendapatkan sinyal agar bisa menghubungi keluarga. Ditiap pos peristirahatan kami beristirahat walau untuk sedikit minum, harus hemat karena rupanya persediaan air mulai menipis, untunglah sudah tidak jauh lagi perjalanan kami.


Dalam lintasan hutan ini, sangat sulit rasanya untuk tersesat, karena medannya sudah dibuat rapi dan jelas, kalau pun sampai ada yang tersesat rasanya aku belum temu alasan mengapa sampai bisa terjadi. Menjelang sore akhirnya sampai juga kami diluar kawasan, pintu gerbang Senaru, namun masih ada kira-kira 1 jam lagi untuk sampai di pos keluar untuk konfirmasi perjalanan, dan kira-kira pukul 16.30 tiba juga kami dan melapor untuk memberitahukan bahwa kami sudah sampai di gerbang Senaru kepada petugas pos (porter yang membantu menyerahkan suratnya). Setelah itu, karena masih ada sedikit waktu kami berjalan-jalan ke Air Terjun Sendang Gile, diantar naik motor pinjaman temennya Porter, dan kembali lagi sambil menyelesaikan segala urusan kepada Bang Roni dan temannya sebagai ungkapan terima kasih, Tamsin memberikan kenang-kenangan berupa headlamp dan sarung tangan. Mulia sekali kau Tamsin.. hehehehe


Lalu, cerita pun berlanjut lagi, kami bertiga baru menyadari bahwa kami sudah kehabisan uang.. bersambung...

Read more »

6.20.2011

Menuju Rinjani (IV): THE END


Life is somthing big and it shouldn't be limited within things incarcerating us in a comfort zone. Go out and see many things new then we will be very, very glad that we did.

Pukul 00.30 dini hari, dingin diatas dua ribu enam ratus meter, Pelawangan Sembalun (Hari keenam, 11 Juni 2011).

Bunyi alarm dari dua handphone yang tadi malam aku set langsung membuat aku terbangun, dan segera membangunkan Tamsin dan Yoga untuk segera bersiap memulai summit attack. Segala persiapan mulai dari pakaian, obat-obatan, headlamp, kamera, kami cek ulang agar tidak ada yang tertinggal, dan untuk menambah energi kami makan sepiring bubur nasi terlebih dahulu dan tak lupa menyiapkan dua botol air untuk bekal perjalanan menuju puncak Rinjani, 3726 mdpl.

Setelah semua disiapkan, maka kami bertiga berdoa bersama dan mulai jalan, rupanya kami lah yang pertama kali keluar tenda sementara yang lain masih mungkin lagi tidur didalam tenda, karena memang kami menyadari keterbatasan fisik kami ditambah keinginan kami untuk melihat sunrise maka harus berangkat lebih awal dari yang lain. Jujur saja, baru kali ini aku summit attack hanya bertiga dan semua belum paham medan menuju puncaknya. Rasa takut, cemas dan khawatir kalau salah jalur, sering kali singgah dikepala, apalagi kami hanya bawa dua headlamp dan baru beberapa meter jalan saja sudah begitu banyak percabangan yang membingungkan.

Kesan Tamsin untuk Pendakian ini:
"Ada kemenangan dan keindahan di balik Bukit Penyesalan dan Penyiksaan. Tidak menyesal mendaki Rinjani ini"

Namun, aku harus yakin bahwa ada jalan yang benar bisa dipilih menuju ke puncaknya, sukurnya aku merasa seperti diberi kemudahan pas malam itu, karena melihat semacam tetesan embun yang jatuh kepasir di salah satu jalur yang mungkin benar untuk dilewati, akhirnya sambil membangun keyakinan, aku ikuti jalur itu sambil tetap menjaga kontak dengan dua kawan dibelakang. Sesekali jika sedang kebingungan maka aku dan Tamsin berganti peran sebagai pembuka jalan, hal ini penting karena makin keatas jalurnya makin curam dan jurang menganga disampingnya makin melebar. Jika menemukan sandaran batu yang agak besar maka kami beristirahat untuk sekedar melepas dahaga. Medan yang kami tempuh untuk menuju puncak ini berupa hutan di bukit yang didominasi bebatuan dan lahan agak berpasir sebagai alasnya, sehingga agak memberatkan kaki untuk melangkah, untungnya ada banyak batu dan dahan pohon untuk berpegang.

Kesan Yoga untuk Pendakian ini:
"Liburan kali ini terasa beda, sungguh mengesankan menikmati perjalanan dan keindahan Gunung Rinjani dan Gili Trawangan. Pingin suatu saat kembali berpetualang kesana. Terima kasih atas dukungan teman2 yang saling membantu. Keluarga menjadi semangatku hingga bisa mencapai puncak Rinjani"

Namun makin keatas, medannya makin variatif, vegetasi hutan berkurang diganti dengan jalanan menanjak dari tanah vulkanik khas pegunungan. Dari tempat sandaran beristirahat cahaya senter beriringan mulai bergerak makin mendekat kearah kami, makin lama makin dekat dan akhirnya kami tersusul juga. Mereka adalah serombongan turis, dan yang pertama kali menyusul adalah dua turis dari England yang ditemani seorang porter, beliau menawarkan untuk berjalan bersama-sama saja, lalu kami mencoba, namun kami belum terlalu kuat untuk mengimbangi, salah-salah bisa kelelahan dan jatuh kejurang curam dikiri kanan jalan, jalur yang dilewati bahkan hanya berupa setapak yang tidak terlalu lebar dan kian menanjak.

Hari masih gelap, dan angin kencang nan dingin makin terasa kuat menampar-nampar tubuhku, kami berjalan beriring, aku, Yoga dan Tamsin, sesekali di jalur yang medannya ekstrim, aku tarik tangan Yoga berpegangan berjalan beriringan karena ia tidak pegang senter dan juga sekaligus untuk menularkan semangatku untuknya. Sementara itu, dari jalur tersebut, Puncak yang menjadi tujuan kami tidak terlihat jelas karena tenggelam dalam malam, hanya terlihat cahaya senter yang berjalan mengular ke arahnya, cahaya dari beberapa pendaki yang telah mendahului kami, makin lama makin banyak pendaki yang mendahului kami, mereka para turis memang dianugerahi fisik yang kuat, dan tubuh mereka tahan dingin selain itu, pemandu dan porter yang menemani mereka memberikan fasilitas dan kemudahan yang membantu mereka.

Dari mereka aku belajar bahwa ada baiknya untuk membantu menuju puncak, menggunakan tongkat sebagai pencengkram lahan pasir dan penyangga tubuh juga supaya berbagi bebannya antara tangan dan kaki. Sering kami bertiga ditengah dini hari yang makin terasa dingin itu, duduk untuk minum menambah energi dan menstabilkan nafas. Perjalanan ke puncak Rinjani memang menguras nafas, hidung bisa meler dibuatnya dan belum lagi medannya yang berganti dengan bebatuan vulkanik yang pecah menjadi lahan berdebu (ini menjadikan jalur ini menjadi medan yang bahkan lebih berat dari Bukit Penyesalan), membuat aku harus menjaga udara yang aku hirup supaya debu tersebut tidak masuk kedalam paru-paru.

Dipertengahan jalur terberat ini, keyakinan dan semangat menjadi amunisi terakhir untuk menuju puncak, fisik yang makin tersita sangat tidak memungkinkan jika terus dipaksakan, aku bahkan mencicil langkah demi langkah untuk meneruskan perjalanan disetiap 10-15 langkah. Berat dan sangat membosankan, melihat ke puncaknya seperti tidak akan pernah sampai. Sementara angin dingin berhembus tanpa toleransi, Yoga bahkan berkata hendak berhenti menuju puncak dan cukup sampai di titik itu saja menunggu sunrise, tapi itu tidak mungkin, bisa mati beku nanti malahan. Sebisanya kami memberi semangat satu sama lain disela-sela sambil beristirahat.

Gelap mulai beranjak pergi, diganti cahaya kuning pertanda Matahari segera lagi naik dan sunrise dapat segera terlihat, sementara dari titik ini kami melihat Cahaya lampu dari kota lombok masih menunjukkan bahwa penduduknya masih terlena dalam tidur nyenyak dan Gunung Agung di Bali pelan-pelan mulai terlihat bentuknya, kontras dalam siluet hitam berlatar jingga pagi. Lebih dari itu semua, puncak Rinjani mulai terlihat jelas dan terasa bagiku bahwa masih agak cukup jauh menuju sampai kesana, karena jalur ini masih cukup panjang untuk diselesaikan. Kami mulai menapak kembali, dan dengan kondisi yang demikian ini rasanya sudah tidak mungkin untuk melihat sunrise dari 3726 mdpl, namun walau begitu, kami tetap harus menapak menuju puncak.

Dan setelah aku memastikan bahwa setiap kami sudah memiliki semangat yang cukup untuk menuju puncak yang mulai terasa dekat, maka aku mohon ijin untuk duluan ke mereka berdua. Langit mulai terang, Sunrise sudah mulai datang, perlahan-lahan mulai menyembul cahayanya dari ufuk timur. Walau tidak menikmati sunrise dari puncak, cukuplah dari sini saja pikirku, dalam hati aku begitu bersyukur diberi kemampuan melihat langsung fenomena alam yang sejak kecil kudengar ini. Beberapa saat sebelum puncak, dua turis asing dari England yang tadi pertama kali menyusul kami sudah turun kembali, dengan ramah mereka menyapa kami.


Detik-detik sebelum tiba puncak...

langkah demi lagkah kuusahakan, sambil menghela nafas dan memastikan bahwa dua kawanku tidak terlalu jauh dibawah sana. Walau deru angin makin kencang, namun intensitas dinginnya suhu tidak seperti waktu masih gelap tadi, karena Matahari sudah meninggi dan panasnya mulai terasa, ini sangat membantu meringankan upaya menuju puncak yang sudah didepan mata. Sambil melangkah aku bisa melihat dan merasakan euforia mereka yang sudah terlebih dahulu tiba disana, yang terekspresikan lewat bahasa tubuh mereka. Langkah ku makin kupercepat, dan akhirnya.. saat kedua kaki ini akhirnya menapak di 3726mdpl, pagi itu kira-kira pukul 06.30 WITA. Aku langsung bersujud bersyukur akhirnya tiba juga di puncak Rinjani ini.

Dibelakang Yoga dan Tamsin sudah akan tiba pula menyusul, dan akhirnya ketika mereka menjejakkan kaki di puncak Rinjani ini, satu persatu aku memeluk mereka mengucapkan selamat. Yapp... We Did It!. Apa yang terjadi dengan kami bertiga adalah sebuah bentuk nyata adanya Perseverance atas ijin Tuhan. Ada keharuan, dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata tentunya. Kemudian ketika kami bertiga sudah mencapai Puncak 3726 mdpl. tentu kami tidak mau kehilangan momentum berpoto bersama sebagai bukti yang kelak bertahun-tahun kemudian akan bercerita lebih kuat dari sekedar kata-kata.


Pemandangan dari Puncak ke Danau Segara Anak dan Gunung Baru Jari


Kawah Gunung Rinjani yang kayaknya lagi tidak aktif


Dipuncak ini juga terjadi bermacam ungkapan diri untuk suka dan cita bahkan cinta, ada dua ungkapan I LOVE YOU dari susunan batu, buatan saya dan Tamsin, untuk pacar masing-masing. Sementara Yoga, karena masih jomblo hanya bisa menyusun batu ini hehehhe:


Kemenangan atas diri kami sendiri sudah kami dapatkan setelah mengalahkan rasa bosan dan kekhawatiran sampai akhirnya kami tiba dipuncak. Sekitar satu jam kami berada dipuncak, maka sudah waktunya kembali turun, kemudian kami menempuh 2 jam perjalanan lebih cepat untuk kembali turun ke Pelawangan Sembalun, dan pukul 10.00 WITA kami sudah tiba kembali di tenda, dan langsung makan siang untuk seterusnya melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak. Demikian pendakian ini telah berhasil kami lakoni, berikutnya yang masih tersisa adalah cerita baru dalam kerangka yang sama di perjalanan kami, mengenai Danau Segara Anak, Mereka yang Membantu dan Gili Trawangan.

Read more »

6.19.2011

Menuju Rinjani (III)


Sore itu, Sebuah setapak kecil yang menjadi jalan masuk ke jalur pendakian di Desa Sembalun menjadi saksi bisu langkah langkah kecil kaki kami menuju Rinjani, Bismillah. We start to live off the land.

Tapi suasana dramatis sebelum mulai trekking ini agak rusak karena ada adegan sikat gigi ku yang jatuh ke got untunglah ada penduduk setempat yang baik hati mau turun ke bawah mengambilkan, kalau tidak ahhh.. tebal juga jadi nya gigi ku nanti. (Poto diatas adalah poto Bang Fian, Bang Ashwan dan Wan, diambil sesaat sebelum kami meninggalkan Pancor) Hehehe...

Sebagai pembuka, jalur awal masih didominasi perumahan penduduk setempat yang nampaknya bekerja sebagai peternak dan petani, ada banyak lahan padi dan kotoran Sapi disepanjang jalur makin kedalam. Kemudian lepas dari kawasan lahan padi dan perumahan penduduk, kami mulai masuk ke hutan kecil pembatas vegetasi menuju Savana, dan di Savana dekat inilah rupanya penduduk setempat biasa melepas ternak mereka untuk merumput. Sambil terus berjalan tidak terasa sudah terdengar azan Magrib berkumandang, kami terus berjalan menusuri Savana yang makin lama makin terlihat luas, aku dibuat seperti ada di lautan hijau kekuningan lantaran senja yang baru saja menghilang.

Walau sadar hari sudah mulai gelap, namun terang cahaya bulan yang beradu seimbang dengan sisa matahari membuat ku enggan menyalakan headlamp dan tampaknya begitu juga dengan yang lain. Jalan datar yang kami tempuh memberikan pemandangan yang tidak biasa terjamah sekaligus luar biasa indah. Saya berada di belakang Yoga sementara Mido dan Adit berada didepan, tampak sekali mereka begitu menikmati perjalanan ini, sebuah pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang. Sementara Bang Roni dengan tenang berjalan dengan beban di pundaknya yang tampak seperti ringan ia bawa. Dibelakangnya Tamsin berjalan mengikuti.

Kemudian waktu Matahari betul-betul sudah tenggelam, headlamp kami nyalakan dan tepat saat itu sekitar hampir 40 menit pertama perjalanan, dihadapan kami sudah berdiri satu bukit yang harus dilewati agar bisa meneruskan perjalanan. Saat itu aroma trekking yang kian menanjak mulai tercium, dan ujian ketahanan fisik dimulai perlahan. Buat siapapun bahkan pendaki yang sudah tinggi jam terbangnya pun menurutku akan merasakan penyesuaian tubuh ketika pendakian mulai memasuki medan yang berat, bentuk nya bermacam-macam, ada yang di nafas, di pinggang, di kaki atau di betis. Kelelahan yang membutuhkan pembiasaan agar rasa lelah itu menjadi lelah menyertai, tapi itu bukan berarti kemudian kami memaksakan diri, sebisanya kami beristirahat barang beberapa menit untuk merenggangkan tubuh.

Tapi sejujurnya aku mulai khawatir dengan Yoga dan Tamsin, khususnya Yoga, (karena kalau aku dan Tamsin sudah lumayan sering latihan fisik sejak sebulan sebelumnya) ada semacam rasa menyesal, akibat terlalu bersemangat aku lupa memperhitungkan resiko bagi kedua kawan ku yang baru pertama kali naik gunung ini, dan sebisanya sambil jalan aku menyemangati mereka. Tapi takdir berkata lain, jalan cerita pendakian kami mulai naik turun disini, Yoga sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan, sementara sudah tidak mungkin lagi untuk mundur, lagipula aku yakin dengan semangatnya, hanya saja bagaimanapun juga aku harus memaklumi kondisi fisiknya yang mungkin belum terbiasa dengan keadaan pendakian ini.

Sembari beristirahat setelah melewati satu bukit yang tadi, kami berpikir bagaimana meneruskan perjalanan dengan semua personel lengkap ikut serta, ada opsi untuk menambah porter untuk membawakan carriel Yoga, ketika dicoba ternyata tidak bisa karena sudah malam dan mungkin kami sudah agak cukup jauh berjalan. Akhirnya aku berinisiatif, aku mencoba mendekati Adit dan Mido menyampaikan satu usulan, dan alhamdulillah mereka menyetujui, alhasil Adit membawakan carriel Yoga dan aku membawa dua yaitu carriel kusendiri yang kugendong di belakang dan daypack Adit yang kugendong di belakang. Inilah rupanya hikmah perjumpaan kami dengan mereka berdua di Rinjani Information Centre Sembalun tadi sore. Tidak ada yang terjadi dengan kebetulan bukan?

Perjalanan kemudian kami teruskan, saat itu mungkin sekitar jam 19.00 WITA, dan medan Savana yang luas kian menenggelamkan kami dalam trekking melewati lembah yang naik turun menuju Pos I, namun saat itu kaki ku terasa sakit seperti ada sesuatu ditumit ku jadinya istirahat sejenak untuk memeriksa, ketika aku buka sepatu, ternyata, kulit sepatu telah membuat kulit tumit kakiku mengelupas, mungkin kaos kaki ku kurang tebal, nanti saja kupasang plaster kupikir. Setelah itu kami lanjut jalan, dan pukul 20.22 WITA kami benar saja sudah tiba di Pos I, kami istirahat sekitar 30 menit, udara dingin mulai terasa, walau aku malas bongkas carriel untuk ambil jaket, cukup pasang sarung tangan saja.


Dari Pos I ini, apa lagi dimalam hari bisa terlihat dengan jelas api yang menyala, karena ada kebakaran didekat situ, mungkin karena puntung rokok yang menjalar di rerumpuran Savana kering lalu tertiup angin, akibatnya api nya kian menjadi dan menjalar. Kurang dari 1 jam berjalan, kami kemudian sampai di Pos II, pukul 21.00 WITA, dan sesuai kesepakatan akhirnya kami bermalam di Pos II ini, suatu Pos yang dekat dengan jembatan, tempatnya memang tidak luas, hanya cukup untuk dua tenda muatan medium. Setelah mendirikan tenda, Bang Roni membuatkan kami minuman hangat dan kami mulai beristirahat, akan tetapi Adit dan Mido memilih meneruskan perjalanan, dan dengan baik hati pula mereka meninggalkan daypack mereka dan tetap membawakan carriel Yoga, kami sepakat untuk bertemu dengan mereka Minggu pagi di Danau Segara Anak, karena mereka memang mentargetkan untuk langsung nge-camp malam ini di Camp Area terakhir sebelum summit attack




Setelah Mido dan Adit meneruskan perjalanan (sempat balik lagi karena rokoknya ketinggalan) kami mulai beristirahat, waktu itu pukul 22.30 WITA untuk menyiapkan energi besok hari yang akan kami jalani dengan medan yang lebih berat dan ketahanan fisik yang sebenarnya yaitu Bukit Penyesalan. Bukit yang katanya membuat banyak pendaki menyesal mendaki Rinjani karena harus melewati bukit ini. Lalu tidak ada apa-apa lagi didalam tenda itu, selain mata kami yang mulai terlelap dan keheningan malam Pos II Jalur Sembalun. Senyap.

Day 5- Jumat, 10 Juni 2011
Pagi kami mulai bangun dan mulai bergerak keluar tenda, untuk menikmati udara luar dan berjalan agak menjauh untuk melihat padang Savana yang luas. Sementara itu Bang Roni sibuk berbenah dan memasak sarapan pagi. Keluar menikmari pemandangan Savana ini membuat ku seperti sedang menikmati lagu Pelangi dan Hujan-nya BIP, pas mantap sama liriknya. Only God knows how deep it is and how happy i am. Dari Savana Pos II ini, Rinjani dan lengkungan medan pasirnya terlihat cukup jelas, apa lagi sisa erupsinya yang membentuk jurang curam di tepiannya. Aku membayangkan jika Rinjani masih utuh kurasa ia akan membentuk kerucut sempurna dengan ketinggian yang lebih mencuat lagi.


Begitu juga dengan yang ini.. :D




Setelah itu, kami lanjutkan pagi itu dengan sarapan pagi tak lupa sikat gigi dan repack lagi sehingga pas pukul 08.30 kami kembali trekking menuju pos III, Yoga alhamdulillah sudah kembali fisiknya, akhirnya ia bisa membawa daypack milik Adit yang sengaja ia tukar untuk membantu meringankan beban kami. Perjalanan menuju Pos III adalah batas terakhir medan Savana karena menjelang tiba di Pos III kami sudah masuk ke vegetasi hutan Cemara, dan aroma medan perbukitan yang terus menanjak kian kental dan benar saja walau kemudian tepat pukul 09.30 kami sudah tiba di Pos III, itu sama dengan kami tiba di awal pendakian yang sebenarnya, Bukit Penyesalan.




Setelah beristirahat sejenak di Pos III, kami meneruskan perjalanan, tadi nya kukira kami sudah mulai menanjaki Bukit Penyesalan, karena medan perbukitan makin terasa berat, tapi rupanya belum, masih 1 jam lagi, hingga pas pukul 11.45 WITA kami siap menapak Bukit Penyesalan. Dari sini saya terus berpikir positif, karena nama medan ini benar-benar mematahkan semangat, Bukit Penyesalan terdiri dari banyak bukit semuanya menanjak namun ada mungkin empat yang ibaratnya sama seperti mendongak kelangit karena curamnya. Untuk para porter seperti Bang Roni mungkin hanya butuh waktu 2 jam untuk menyelesaikan Bukit Penyesalan ini, namun untuk seperti kami-kami ini, ah berikanlah deviasi 2 jam hehehehehe..


Bukit penyesalan benar-benar menguji ketahanan dengkul dan betis sekaligus menguji kesabaran, karena dalam keadaan seperti ini alam bisa menjadi lebih ganas dari manusia, tanpa toleransi sedikitpun untuk menurunkan kecuramannya, hanya sedikit area bonus, itupun tak luas. Bahkan cerita seorang Porter bernama Habibi, yang kebetulan bareng seperjalanan dengan kami, minggu lalu serombongan pendaki dari Jakarta yang kebanyakan cewek menangis di Bukit ini, menyesal sementara tidak mungkin untuk turun kembali, sudah terlalu jauh. Pukul 13.50 WIB, kami tiba di pertengahan Bukit Penyesalan, sedikit minum air untuk menambah energi sangatlah perlu sambil beristirahat menghela nafas dan meluruskan kaki. Sembari itu banyak sekali para pendaki yang mayoritas dari Turis Asing melintas naik turun bukit itu, tampaknya mereka kuat sekali, gagah seperti kuda. Iri betul melihatnya.




Ketika pukul 15.30 WITA, akhirnya selesai juga Bukit Penyesalan kami lewati, semua medan bukit ini memang berat, dan karena itu setiap langkah yang aku ambil selalu aku tekadkan untuk tidak aku toleh kembali, baru aku lihat nanti ketika setelah selesai, dan benar saja ketika aku menoleh ke belakang, yang ada hanya tebing curam yang bawahnya tertutup kabut putih tebal dan sesekali menipis tertiup angin, senang rasanya bisa melewati Bukit ini, apalagi ketika dua kawan ku berhasil melewati nya juga, aku kelelahan, segera kulepas carriel ku untuk beristirahat, lalu tidur sejenak sekitar 15 menit dibawah pohon cemara. Namun demikian ini belum jadi akhir untuk menuju Pelawangan Sembalun (tempat terakhir camp sebelum summit attack) rupanya dari ujung Bukit ini masih harus naik turun 2 tanjakan dan 2 turunan. Sempat hopeless juga aku sebetulnya namun kupaksakan langkah kaki ini kembali menapak. Tapi semua lelah ini mulai terbayar waktu aku toleh ke sebelah kanan dimana pemandangan Danau Segara Anak mulai terlihat. Begitu indah, Maha suci ALLAH yang telah menciptakannya.


Setelah berjalan hampir 1 jam, tepat pukul 16.20 WITA (plus istirahat 10 menit) tiba juga akhirnya kami di Pelawangan Sembalun, segera kami mendirikan tenda dan Bang Roni bersiap-siap memasak untuk kami. Setelah tenda didirikan, sayang kalau melewatkan sore ini hanya dengan tiduran didalam tenda, jadi aku duduk di batu karang tepi jurang untuk menanti sunset sambil menatap kebawah menikmati indahnya Danau Segara Anak, diseberang sana ada Gunung Sangkuriang yang semua medannya adalah bebatuan karang. Sambil duduk santai itu aku makan indomie kering yang hanyaku taburi bumbu langsung dibungkusnya yang rupanya menarik perhatian sekelompok pendaki dari turis asing yang juga sedang menanti sunset, mereka serempak menoleh ke saya melihat indomie yang aku makan kering langsung, mungkin di negara mereka tak ada kurasa. Kudengar dari aksenya, sebagian dari mereka mungkin berasal dari England dan selebihnya Amerika, kecuali satu yang dari Amerika Latin yaitU Brazil.

Kemudian tak lama, Yoga dan Tamsin pun keluar dan menikmati Sunset, pelan-pelan dengan khidmat kami menikmati turunnya Mentari sambil memanfaatkan tiap detiknya dengan berpoto mengabadikan momen tersebut.






Setelah hari mulai gelap, kami semua masuk ke tenda beristirahat, karena diluar pun dingin sekali sudah. Aku memakai tiga lapis baju dan satu celana panjang lalu setelah itu tak lama kemudian, kami menyantap makan malam yang disiapkan Bang Roni, barulah kami bisa lega beristirahat, kami beruntung juga rupanya karena Bang Roni ini pandai dan mau memijit (tarif bebas kayak operator HP asal nego nya pakai hati), jadilah didalam tenda terjadi adegan pijat memijat dengan alasan memulihkan tenaga untuk menuju puncak dini hari nanti, setelah itu kami mulai tertidur setelah sebelumnya menyalakan alarm pukul 00.30 WITA untuk mulai siap2 summit attack dan agar Bang Roni bisa menyiapkan Bubur Nasi penambah energi kami.

Bersambung ke Bagian IV.

Read more »