9.15.2013

Hidup Untuk Hidup

Hidup adalah perjalanan menuju mati.

Sayangnya fakta paradoksal ini kerap menjadi abai karena tertutupi mewahnya kehidupan dunia yang diukur dalam satuan fisik dan materi. Ada yang bilang kondisi ini adalah pergeseran alamiah yang dimotori oleh seleksi alam. Pendapat yang benar bila cuma disasar ke mahluk selain manusia yang hanya memiliki naluri dan insting. Namun tidak bisa ditujukan kepada kita (manusia) karena kita diberikan oleh ALLAH. SWT dua hal yaitu akal untuk berpikir dan hati yang memberi kendali.

Hati adalah apa yang membuat kita menjadi mulia atau hina. Hati yang lebih dari sekadar sekerat daging didalam tubuh, ia tempat rasa sesak atau hangat bersembunyi dan biasa muncul ketika momentumnya datang. Kehadiran sensasinya tidak bisa dibohongi. Namun butuh penglihatan yang jernih untuk mengenalinya dan kejujuran untuk mengakuinya sebab setiap pengakuan yang jujur adalah titik masuk menuju perubahan. Disaat yang sama, pengabaian atas peringatan yang muncul di tiap momentum sama saja dengan menunda kegelisahan.

Tidak ada manusia yang sempurna tapi tidak ada kesalahan yang bisa dibenahi. Dalam hidup, kesalahan yang muncul karena hati yang gagal ditata sudah sangat jamak memicu selisih paham sampai pertumpahan darah. Menata hati kemudian menjadi sangat penting untuk menjalani kehidupan. Namun menatanya tidak semudah menata meja kerja atau pekarangan rumah, sebab kita bukan pemiliknya. Ia cuma ada sebagai tempat agar kita bisa merasai hangatnya iman dan sesaknya ingkar. Menatanya agar selalu sesuai fitrah adalah cerita tentang betapa tergantung kita kepada ALLAH. SWT sebagai pemiliknya.

Mengakui dalam doa dengan segala kerendahan hati bahwa kita lemah dan bodoh merupakan jalan agar hati selalu lapang menghadap padaNYA. Tidak ada yang salah disitu, karena memang status hidup kita adalah sebagai hamba jadi sesuai fitrah hanya kepadaNYA kita berdoa. Faktor lingkungan dan pesona duniawi telah membuat kita lupa bahwa segala daya upaya dan logika kita tidak bisa menandingi kuasaNYA.

Hati yang tenang tanpa iri atau dengki adalah jalan menuju mulia, disusupi keduanya ia dapat menjadi hina. Kita hidup untuk "hidup", namun diantara keduanya kita harus menuju mati sebagai jalan utamanya. Semoga hati yang lapang dengan fitrah yang lurus dapat tetap kita miliki. Agar kelak bila saatnya tiba, tidak lagi ada yang perlu disesali.

Salam

P. S: ------
1. Segala syukurku padaMu ALLAH. SWT untuk telah memberikan seorang Istri yang telah banyak menjadi pengingat dan pemberi masukan ditiap gundah dan kebingungan. Semoga kami tetap dapat selalu berada di dalam jalan fitrahMu. Aamiin.

2. Catatan renungan hari lahir yang ke 26. Jakarta, 14 September 2013.

Read more »

9.08.2013

Lari Pagi ke Pasir Padi 10K

Jalan aspal yang sepi seperti tak ada habisnya. Dikiri kanan cuma ada beberapa komplek pabrik peleburan bijih timah, selebihnya hutan hijau yang sebagian lahannya bopeng akibat sisa penambangan timah yang tidak direklamasi. Itulah sekilas gambaran jalur yang aku lewati kemarin, saat jogging dari arah pelabuhan Pangkal Balam menuju Pantai Pasir Padi. Jarak tempuhnya sekitar 10 Kilometer (10K).

Semua dimulai pada saat bangun pagi dan aku terpikir untuk berolah raga dengan porsi yang lebih banyak. Sebab, selama ini olah raga rutin ku sudah membuatku masuk zona nyaman yang patut diseret keluar sesekali. Lari 10 K sudah beberapa kali aku coba dan memang menyenangkan. Jadilah pagi itu, aku pamit berolahraga pada istri (baca: mencium keningnya), mengencangkan tali sepatu dan segera berlari menyusuri jalanan Yos Sudarso menuju titik akhir, Pantai Pasir Padi.

Jogging itu menyenangkan, hanya jika tahu bagaimana cara menikmatinya. Sayangnya, ini semua soal kebiasaan dan pengalaman yang menjadi candu. Sulit menjelaskan apa dan bagaimana menikmatinya itu. Puncaknya adalah saat baju sudah basah kuyup banjir keringat tanda klimaks usai mencapai titik tujuan. Sepanjang menapaki jalanan itu, tehnik olah nafas sangat penting, bernafaslah dengan hidung setidaknya pada separuh jarak tempuh (lebih lama lebih baik) sebab itu trik untuk menghemat energi. Bila sdh tidak tahan maka tarik nafas dalam dan hembuskan pelan- pelan untuk menjaga stabilitas kerja jantung.

Begitu tiba di pantai, sungguh seperti kesenangan yang luar biasa. Menyusuri bibir pantai sambil melepas pandangan ke laut lepas, melihat kapal penambang pasir yang terlihat kecil bagai titik yang bergerak pelan. Sembari melakukan pendinginan dan mengatur nafas kembali di kedai- kedai yang belum menggelar daganganya. Tak lama kemudian aku pulang, namun bila kupaksakan dengan jogging kembali tentu itu berlebihan namun ternyata tidak ada angkutan umum yang tersedia. Akhirnya terpaksa jalan kaki kurang lebih 1 Kilometer ke batas kota di kecamatan Air Itam.

Untuk sampai kerumah, aku putuskan menumpang angkot (untung bawa uang). Begitu sampai, kurang lebih pukul 09.30 dan baru ingat pesan istri waktu aku pergi tadi "jangan lama- lama y Bang" dan baru teringat bahwa aku pun lupa bawa hp. Aku pun jadi maklum bila belahan jiwa ku itu kemudian cemberut, apalagi makanan yang susah ia siapkan sudah jadi dingin padahal itu untuk sarapan bersama. Namun demikian. I know she loves me and i love her. Aku kira aku tidak boleh lupa bahwa kesenangan masa lajang dulu kini harus disesuaikan dengan status sebagai pria beristri.

Pangkal Pinang
September 2013

Read more »