12.31.2012

Bait Cinta Untukmu

Malam masih terlalu muda untuk beranjak.
Pagi masih kan lama menjelang.
Sayang, tak juga mata ini terpejam.
Belum pula hati ini berselimut tenang.
Aku didera rindu padamu berkepanjangan.

Ku tunggu, kau diujung syahdu.
Bantu aku tuntaskan rindu yang kian kelu.
Sayang, jatuhku pada ikatan gaib kita.
Atau bila kau sudah tungguku di sana.
Sudah kita sebut saja inilah cinta.

Rinduku padamu abadi.
Cintaku padamu tak bertepi.
Sayang, semoga Tuhan merestui.
Kudamba cinta kita kan menyejarah.
Kulihat bersamamulau hidup kan sakinah.

Malam makin enggan beringsut.
Kian menjadi selimutnya nan pekat.
Sayang, tapi tenanglah, semua bukanlah duka.
Karena rona liuk liku itu cuma pengingat.
Bahwa pagi sudah kian dekat.

Ebas
Palembang 2012.

Read more »

12.30.2012

Perjalanan

Ada naluri yang tak bisa kubantah, ia muncul dari dalam dan memberi dorongan. Dari dulu hingga kini, dan mungkin entah sampai kapan. Mula- mula ia muncul sebagai keberanian saat aku masih ingusan untuk sekadar menembus rimba hutan bukit di seberang rumah bersama teman, lalu berlanjut menyeberangi sungai dengan rakit dadakan. Urusan resiko saat itu tak pula terpikirkan. Adalah ia, sebuah keberanian untuk berperjalanan yang melekat erat sampai sekarang. Hanya saja kini, seiring usia, arah perjalanan itu kian jauh, kian penuh resiko, tapi di sisi lain, kian kugilai.

Melakukan perjalanan telah memberikanku kesempatan melihat dunia yang ternyata luas, manusia yang ternyata begitu banyak dan peristiwa yang sama sekali dulu tak singgah dalam alam pikiran ku yang paling liar sekalipun. Pengalaman berharga. Bernilai mahal.

Menapak ditanah yang jauh dari tempat asal kelahiran memberiku ekstase keberkahan yang menjangkau biru langit, bahwa Tuhan telah begitu baik memberiku kesempatan mengunjungi sebagian kecil dari mahabesarnya semesta yang Ia cipta. Melihat manusia dengan ragam polah dan cerita, sedikit banyak memberi ilham yang mengendap membentuk kearifan nilai dan kelapangan jiwa. Senarai peristiwa yang kusaksikan dalam perjalanan tersebut juga makin membuatku bertanya. Masih patutkah keakuan, keangkuhan dan kesombongan tersemat didalam hati? Karena rupanya aku cuma bagian kecil dari semesta yang kulihat tak berbatas.

Kepingan fragmen pelajaran itu membentuk satu cara pandangku dalam melihat kehidupan dan melahirkan antitesis atas prinsip pragmatis yang sejak lama hidup berkembang secara komunal disekelilingku. Dan sementara itu, hidup terus berjalan, maju melaju seiring waktu. Manusia,lokus dan peristiwa yang lalu pun boleh lindap tertinggal waktu. Tetapi semua cerita, kenangan dan pelajaran yang lecat darinya akan ikut terbawa seiring garis kehidupan yang diberikan Tuhan untukku. Esok lusa siapa tahu, akan lebih jauh lagi langkah kaki kecil ini menjejak. Kian jauh, kian penuh resiko, tapi di sisi lain, kian kugilai. Semoga nanti bersama mereka yang kusayangi. Keluarga.

Ebas
Petang yang beranjak hilang
Desember 2012

Read more »

12.28.2012

Mengapresiasi Kinerja Ditjen Pajak: Kiprah, Tantangan dan Arah Kebijakan

Tahun 2012 tersisa kurang dari dua minggu. Kegaduhan selebrasi budaya pergantian tahun masehi sudah mulai terasa, sebagian mungkin ingin sisa hari di tahun ini berlalu cepat, sebagian bisa jadi tidak, termasuk Direktorat Jenderal Pajak (DJP), sebab masa dua minggu tersebut adalah masa- masa yang menentukan tercapai tidaknya target pemenuhan setoran penerimaan negara demi menggerakkan pembangunan. Tahun 2012 ini target total dari PPh Migas dan Non Migas menembus angka Rp. 1032,57 T. Ditengah resesi global yang melanda kawasan Amerika dan Eropa yang ditengarai menuju fiscal cliff (Jurang Fiskal, yang terjadi akibat defisit anggaran) sudah tentu Direktorat Jenderal Pajak harus bekerja ekstra keras untuk memperjuangkan pencapaian target yang ditetapkan. Sebab kuantitas ekspor yang tertuju ke pasar kedua kawasan tersebut mengalami penurunan, belum lagi ditambah gempuran permissif produk impor mengakibatkan industri dalam negeri sedikit gagap dan goncang.

Meski dilanda kondisi eksternal global dan internal lokal yang demikian lesu, tetapi lewat program intensifikasi dan ekstensifikasi berkelanjutan serta penegakan hukum di tubuh internal Direktorat Jenderal Pajak bisa dipastikan bahwa hingga akhir tahun 95% dari target tersebut dapat tercapai sebagaimana diucapkan oleh Direktur Jenderal Pajak Bapak Fuad Rahmani, adapun jumlah pencapaian tersebut setara dengan 13,80% pertumbuhan dari penerimaan pajak tahun 2011. Intensifikasi intensif dilakukan Ditjen Pajak lewat pembersihan secara fundamental atas sektor Pajak Pertambahan Nilai dengan mendata kembali Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang masih layak memegang status tersebut, program ini kemudian ditindaklanjuti dengan mekanisme penerbitan faktur pajak secara digital bagi Pengusaha yang memenuhi persyaratan. Serangkaian program sistematis ini akan dapat menjaring semua transaksi secara menyeluruh sehingga meminimalisir kebocoran potensi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai. Dari sisi ekstensifikasi, DJP memperluas basis pajak dengan turun langsung ke lapangan melalui Sensus Pajak Nasional Tahap II. Melalui Sensus, potensi di lapangan yang selama ini belum terjaring kelayakannya untuk memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dapat terdeteksi dan ditindaklanjuti serta disaat yang sama juga menjalankan intensifikasi atas potensi yang selama ini mungkin belum tergali.

Yang cukup menarik untuk dicermati adalah dari segi penegakan hukum (law enforcement), DJP sejauh ini merupakan satu- satunya instansi yang berani melakukan ‘bersih- bersih’ secara inovatif dan total. Sebagai instansi yang memegang peranan vital penyokong pembangunan, perihal ini memang sangat ditunggu- tunggu khalayak. Langkah nyata yang dilakukan DJP adalah meluncurkan program WBS atau Whistle Blowing System yakni sebuah program yang membuka saluran kepada seluruh jajaran DJP atas pengaduan penyimpangan yang dilakukan oknum internal DJP sendiri. WBS terbukti optimal menjaring dan memberantas tindakan disintegritas yang menciderai amanah mulia instansi ini. Implementasi diskursus komitmen kuat DJP dalam penegakan hukum juga tergambar dalam Nota Kesepahaman yang dijalin bersama POLRI dan Kejaksaan. Perjanjian Tripartit ini merupakan landasan kerja sama yang menjadi modal utama DJP untuk terus melakukan terobosan. Dan yang paling mutakhir adalah kebijakan DJP menempatkan pejabat dari Komisi Pemberantasan Korupsi di Direktorat Intelijen dan Penyidikan Ditjen Pajak sebagai Direktur sebuah unit yang merupakan jantung pertahanan penegakan hukum yang didambakan. Sebuah keberanian dan komitmen yang layak ditiru instansi lain dalam kerangka melanjutkan Reformasi Birokrasi menuju Indonesia yang lebih baik.

Kilas Balik Kiprah Satu Dekade

Sejak satu dekade terakhir DJP telah dibebani tugas untuk menyokong porsi pembiayaan pembangunan dalam jumlah yang kian besar. Dibanding tahun 2002, target penerimaan pajak di tahun 2012 telah melonjak hingga 473,33%, ini menandakan dinamisasi kehidupan bangsa kian menuntut kemandirian fiskal yang harus dipenuhi demi kesuksesan pembangunan. Beragam tuntutan multiaspek dari tahun ke tahun terus meningkat, ini tercermin dalam APBN tahunan yang mencantumkan target penerimaan negara dari pajak yang juga terus meningkat dengan rata- rata pertumbuhan target (2002- 2012) mencapai 19,86%. Sejarah mencatat bahwa dalam satu dekade terakhir DJP telah menjalankan tugas tersebut dengan pencapaian realisasi dari target berkisar di persentase terendah 94,31% (2009) dan mencapai surplus 100,02% (2004) serta 106,84% (2008). Dalam tabel berikut dipaparkan komparasi pencapaian (realisasi) terhadap target penerimaan. (Silahkan cek di file terlampir)

Memenuhi target yang telah ditetapkan merupakan tugas yang sulit untuk dipenuhi sehubungan dengan keterbatasan dana operasional yang dianggarkan untuk DJP. Dari catatan, besaran biaya operasional DJP dalam menjalankan tugas sepanjang satu dekade tidak pernah lebih besar dari 0,50% (setara dengan Rp. 2.358, 31 T) dari realisasi yang telah dicapai. Apresiasi tertuju kepada DJP karena dengan fakta tersebut tercatat bahwa efisiensi dan efektifitas pelaksanaan tugas telah dilakukan dengan cermat. Tanpa membawa tendensi apapun, besaran biaya operasional tersebut masih jauh dibawah Jepang, Australia atau Singapura yang berada di kisaran 0,9- 1,0%.

Prestasi yang dicapai DJP dalam satu dekade belakangan juga mencakup perbaikan pelayanan dan nilai integritas. Kepuasan Wajib Pajak tercatat membaik seiring program modernisasi berkelanjutan yang dicanangkan. Ini tercermin dari meningkatnya pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) yang terakhir berada rasio kepatuhan sebesar 62,50% di tahun 2012, ini hampir dua kali lipat dari tingkat kepatuhan 10 tahun silam (33,45%). Secara tidak langsung ini menunjukkan kepercayaan masyarakat kepada DJP perlahan mulai pulih dan ini menumbuhkan kesadaran untuk berkontribusi bagi pembangunan. Aspek Integritas DJP pun dinilai baik oleh Komite Pemberantasan Korupsi dengan memperoleh poin 7,65 di tahun 2011, angka ini lebih tinggi dari standar minimal yang ditetapkan sebesar 6,00 dan lebih tinggi dari rata- rata 15 unit yang disurvei yaitu 6,40 (skala 0,00 – 10,00).

Situasi perkembangan terkini makin menunjukkan bahwa kiprah DJP dalam pembangunan negara kian sentral dan vital. Peran penerimaan negara dari pajak dalam mengisi APBN makin dominan diatas angka 74% lebih. Kiprah DJP juga makin memainkan peranan penting bila mengingat bahwa negara ini tidak mungkin terus menerus menggantungkan diri kepada pembiayaan dari Utang. Kemandirian adalah keniscayaan. Selama satu dekade perjalanan DJP, persentase Utang didalam APBN mengalami penurunan seiring peningkatan peran kontribusi penerimaan negara dari pajak dan memang nilai Utang Luar Negeri perlahan harus dikeluarkan dalam unsur APBN. Dengan kondisi bahwa di tahun 2012, nilai Utang Republik Indonesia mencapai Rp 1.816 T atau setara 30% dari PDB, ini merupakan sebuah sinyal bahwa DJP harus siap dihadapkan pada amanah sekaligus kiprah yang lebih besar. Dibawah ini tersaji data komparasi Utang Republik Indonesia terhadap PDB dalam rentang tahun 2004- 2009. (Silahkan cek di file terlampir)

Peningkatan penerimaan negara dari pajak selama satu dekade terakhir ini telah memampukan negara menyelenggarakan program untuk mensejahterakan masyarakat dalam beberapa aspek mendasar seperti kesehatan, pendidikan, penyediaan modal usaha kecil dan menengah, subsidi energi (PLN dan BBM). Dalam skala makro, alokasi penerimaan negara dari pajak yang terus meningkat telah secara perlahan membuka kemungkinan untuk memperbaiki dan membangun infrastruktur secara fundamental berkelanjutan. Ini menjadi sangat penting karena Infrastruktur adalah syarat utama agar Republik Indonesia dapat beranjak dari negara berkembang menjadi negara maju, sebagaimana dikatakan oleh Robert Zoellick bahwa banyak negara berkembang sulit beranjak menjadi negara maju dikarenakan faktor Infrastruktur yang belum mendukung.

Tantangan dan Rekomendasi Kebijakan Strategis

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

Peran vital DJP sebagai instansi yang diamahi tugas penghimpun penerimaan negara harus berhadapan dengan realita masih rendahnya kesadaran partisipasi masyarakat mengenai perpajakan, sebagai perbandingan bahwa dengan jumlah penduduk mencapai 240 Juta jiwa, jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi per April 2012 hanya sebesar 22 Juta, padahal dengan asumsi Penghasilan Tidak Kena Pajak sebesar Rp. 24,3 Juta/ Tahun, maka jumlah yang bisa terjaring akan lebih dari itu, ini selaras dengan standar Bank Dunia mengenai garis kemiskinan yang ditetapkan di angka Rp 6,12 Juta/ Tahun dan disandingkan dengan Pendapatan Per Kapita tahun 2012 Republik Indonesia sebesar Rp 31,80 Juta/ Tahun. Adapun jumlah Wajib Pajak Terdaftar sebanyak 22 Juta orang tersebut, di tahun 2011 menanggung kontribusi penerimaan sebesar Rp 200 T yang dialokasi untuk fasilitas umum yang dinikmati kurang lebih 218 Juta jiwa lainnya.

Terkadang, masyarakat banyak yang belum memiliki NPWP bukan karena mereka enggan berurusan dengan pajak, tapi justru karena mereka belum paham dan kebingungan ihwal apa yang harus mereka lakukan terkait kewajiban perpajakan. Dan ada banyak sekali masyarakat yang berpenghasilan diatas PTKP Rp. 24,3 Juta/ Tahun yang dapat menjadi target sosialisasi. Menilik kepada situasi ini, sosialiasi dari DJP harus kian gencar dijalankan hingga ke jajaran yang terdekat dengan masyarakat serta dengan melibatkan unsur pemerintahan lokal sebagai pendukung. Sosialisasi secara umum dapat dibedakan menjadi sosialisasi langsung kepada sasaran dan ada juga dengan cara yang koersif positif. Cara yang kedua ini adalah dengan menjadikan NPWP sebagai unsur pokok setiap pemenuhan kewajiban administratif publik yang dilakukan masyarakat. Sehingga masyarakat akan tergerak untuk mendaftarkan diri mendapatkan NPWP. Khususnya mereka yang berpenghasilan bersih di atas PTKP.

Potensi Kerugian dari Meningkatnya PTKP

Kebijakan menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak menjadi Rp. 24,3 Juta/ Tahun dari semula Rp 15,84 Juta/ Tahun secara tidak langsung tentu mempengaruhi jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi Terdaftar di kemudian hari karena ini akan membuat penambahan jumlah Wajib Pajak menjadi lebih berat. Potensi penerimaan Pajak Penghasilan yang hilang juga tidak bisa dikesampingkan. Walau memang potensi lain muncul dari sektor Pajak atas Konsumsi seiring meningkatnya daya beli karena kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

Namun bukankah masyarakat yang berasal dari golongan menengah ke atas tidak akan terpengaruh pola konsumsinya? Jadi dengan kata lain, tidak akan ada jaminan bahwa pengalihan potensi dari PPh ke PPN akan berujung pada perolehan kompensasi yang sama besar atau lebih. Justru ini menjadi potential loss yang baru sebab masyarakat kelas menengah tidak akan berubah volume konsumsinya lantaran kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Sebaliknya dampak penambahan potensi akan dapat diperoleh bila selain menaikkan PTKP juga diiringi dengan kebijakan untuk menyesuaikan tarif bagi Wajib Pajak Orang Pribadi di lapisan tertinggi. Sehingga potensi kehilangan yang ada di saat PTKP dinaikkan dapat tertutupi dengan kenaikan pola konsumsi dan daya beli masyarakat menengah ke bawah ditambah dengan kenaikan potensi penerimaan dari PPh masyarakat kelas menengah ke atas yang disesuaikan.

Goyahnya Kepercayaan Publik

Belakangan ini penangkapan oknum pelaku perbuatan disintegritas di tubuh DJP kembali marak, sebagian menilai ini adalah wujud nyata keberhasilan komitmen penegakan hukum di tubuh Ditjen Pajak. Tapi sayangnya, sebagian lagi menilai lain dengan berpendapat bahwa ini adalah cerminan modernisasi yang gagal. Itu soal hak dan perspektif, DJP berhak untuk tidak terpengaruh opini miring tersebut dan terus berkarya. Namun demikian, dipandang perlu untuk meluruskan persepsi publik perihal penangkapan tersebut. Demi menjamin pemahaman publik agar sejalan dengan komitmen modernisasi berkelanjutan di tubuh DJP.

Penangkapan-penangkapan tersebut adalah buah nyata dari program WBS bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tapi yang diangkat media secara gencar adalah bahwa hal tersebut adalah aksi solo KPK, dan DJP hanya mendapat luapan hujatan emosi publik yang sejak dulu memang dilanda mad of anger. Sudah saatnya bagi DJP tampil mengemuka lebih terdepan di segala lini kehidupan bermasyarakat demi menumbuhkan pemahaman masyarakat bahwa komitmen ‘bersih- bersih’ di tubuh DJP bukan lagi sekedar berputar di tataran wacana semata. Caranya? Dengan mengoptimalkan media informasi lebih gencar lagi agar DJP lebih dapat mempromosikan diri perihal peran dan urgensi keberadaannya demi pembangunan, sebab media adalah sarana edukasi masyarakat yang efektif.

Penutup

Sederetan fakta kondisi terkini yang dihadapi DJP merupakan tantangan tersendiri yang harus selalu diatasi demi terhimpunya penerimaan negara untuk membiayai pembangunan. Kiprah DJP selama satu dekade belakangan ini adalah bukti nyata kontribusi DJP dalam membangun negeri kian sentral dan vital dan kedepan, DJP pun tak lepas dari tantangan yang harus dihadapi demi terwujudnya Republik Indonesia yang mandiri dan bermartabat sehingga diperlukan kebijakan- kebijakan dan terobosan untuk menghadapi tantangan tersebut.

P.S:
------
#Gambar diambil dari sini

#Data Disarikan dari berbagai sumber:
-APBN dan Nota Keuangan 2002- 2012
-Slide Kuliah Pengantar Keuangan Publik Milik Sampurna Budi Utama
-Badan Pusat Statistik
-Internet (www.pajak.go.id)

#Artikel ini dimuat juga disini

Read more »

12.24.2012

Review HP Samsung XCover 2

Buat pecinta aktivitas Outdoor memang hp ini terbilang cukup recommended, karena fitur standarnya dan bentuknya mengakomodasi kebutuhan spesifikasi berbagai kegiatan Outdoor, berikut fitur dan bentuk yang saya maksud:

#1. Batere awet tahan lama Saya menggunakan hp ini dengan aktivitas standar seperti sms, telepon, pemutar musik dan radio. Bisa tahan sampai satu minggu, terutama bila diiringi dengan perawatan yang baik pula, belakangan saya sering selesai paksa recharge padahal belum penuh atau recharge dalam kondisi nyala sehingga daya tahanya agak berkurang jadi sekitar 4- 5 hari saja.

#2. Kuat walau terus mencari sinyal Dalam mendaki gunung hp ini saya biarkan terus menyala mencari sinyal, dan ini tidak mengurangi performa batere nya. Sehingga saya tidak khawatir kalau mode ini akan membuat batere terkuras cepat sehingga mendaki tidak menjadikan saya hilang kontak dengan rekan dan keluarga dirumah.

#3. Tahan dalam suhu dingin dan lembap Hp yang tidak didesain khusus untuk outdoor akan mudah sekali menyerap hawa dingin yang berpengaruh pada komponen elektronika bahkan layarnya. Xcover 2 tidak demikian, suhu dingin tidak menimbulkan gangguan pada instrumen di dalamnya sehingga uap air yang muncul dari hawa dingin dan merusak komponen didalamnya dapat dicegah.

#4. Bisa sms dalam air Saya pernah mencoba mengirim sms dari dalam bak mandi dan berhasil terkirim. Cangkang luar hp ini kuat sehingga kedap air. Bahkan untuk membukanya menggunakan koin uang logam 1000 rupiah.

#5. Senter yang seterang LED Terdengar berlebihan?? Saya kira tidak, saya mencoba nya sewaktu mendaki gunung dan ketinggalan senter. Dan pemakaian senter ini saya lanjutkan sebagai penerangan didalam tenda semalaman dan tidak terlalu signifikan menguras kapasitas batere.

#6. Konektivitas Baik Jangan khawatir soal konektivitas. Hp ini dilengkapi fitur bluetooth dan koneksi internet dengan setting simcard yang benar tentunya. Saya ketika menggunakan kartu XL yang sudah disetting akses GPRS nya bisa terhubung dengan internet untuk sekadar membuka sosial media misalnya.

#7. Harga Miring Ketika saya membeli hp ini sekitar kurang lebih 8 bulan lalu, harganya Rp. 850.000,-. Dan beberapa bulan lalu harganya naik karena permintaan tinggi namun sayangnya persediaan terbatas.

#8. Desain Futuristik Walau dengan akomodasi fitur sedemikian, desain hp ini tetap mengikuti perkembangan terkini. Sehingga ketika dipakai sehari- hari kita tidak seperti tengah di hutan atau goa dengan perangkat komunikasi yang biasanya besar ukuranya.

Meski begitu, hp ini juga tidaklah sempurna tanpa cela. Terdapat beberapa bug yang cukup mengganggu bila terjadi. Juga, ada beberapa kekurangan fitur yang cukup mempersulit bila tengah hendak digunakan. Adapun beberapa hal yang saya maksudkan:

#1. Operating System yang Off mendadak. Ini sangat mengganggu. Semua kontak bisa terhapus! Belum tahu persis saya penyebab muasalnya. Mungkin OS bawaannya atau ini kebetulan Spoiled Product yang saya beli. Sepanjang 8 bulan ini sudah ada 4 kali OS nya mati dan 4 kali pula saya kelimpungan kehilangan kontak.

#2. Plugging Kabel Headset yang tidak fleksibel Plugging Kabel headset hp ini pipih persegi yang bila rusak susah dicari penggantinya. Kecuali beli khusus di gerai Samsung yang harganya tentu harga original.

#3. Memory Card kadang Tidak Terbaca Saya simpan bbrapa playlist di MMC supaya tidak boros space di phone memory. Tapi belakangan data di MMC tidak terbaca, akibatnya percuma data tersimpan dan playlist didalamnya karena tidak bisa dibuka dan dibaca tapi kini sudah beres. Kumat- kumatan mungkin.

Demikian kira- kira sekilas review hp Samsung XCover 2. Semoga kedepan akan ada lagi gadget serupa dengan fitur yang lebih oke dan bug eror yang lebih minimal serta harga yang tetap terjangkau. Demi mendukung majunya dunia outdoor Indonesia.

Ebas
Desember 2012
Palembang

Read more »

12.20.2012

Pajak & Kestabilan Sosial

Ironi Konflik Tak Berkesudahan

Pusaran polemik nasional yang belakangan marak mengemuka sejatinya adalah akumulasi dari konflik multidimensi di banyak wilayah yang dalam jangka panjang dibiarkan mencari solusi nya sendiri. Konflik tersebut sebagian menguap, sebagian lagi mengendap menjadi sedimentasi rapuh yang dengan mudah menyulut emosi massa secara massif. Ambil contoh konflik yang terjadi di Way Panji (Lampung), Mesuji (Sumatera Selatan) dan Abepura (Papua) atau beberapa konflik yang terjadi di sepanjang tahun 2012 ini. Wilayah- wilayah tersebut tercatat pernah dilanda konflik sosial sebab pasal sepele yang tidak sepatutnya membuat kestabilan sosial sebagai harga mahal. Ini juga termasuk konflik sosial sarat ironi yang melanda Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) beberapa pekan silam terkait kelangkaan dan ketidakadilan distribusi persediaan minyak. Semua polemik tersebut mau tidak mau, suka tidak suka telah menyadarkan kita bahwa efek berantai terujung sebuah konflik pada akhirnya akan menimpa masyarakat dan berpengaruh kepada kestabilan sosial dalam negeri.

Konflik memang sulit untuk dihindari, sesempurna apapun kita mencoba menata hidup dan kehidupan. Namun memetakan konflik dan mengelolanya adalah sebuah seni tersendiri yang mutlak diperlukan untuk meminimalisir dampak yang bisa lebih destruktif serta untuk mencegah kemungkinan munculnya gesekan baru pemicu konflik yang bisa jadi datang di kemudian hari. Dalam diskursus kehidupan nasional, konflik yang kadung terjadi sudah tidak bisa lagi direduksi menjadi dikotomi konflik sosial dan non-sosial. Mengapa? Karena pemicunya adalah konflik multidimensi di banyak wilayah sehingga skala penanganannya pun sebaiknya mengalir dalam mekanisme top- down. Ya, keadilan dan angin segar itu harus datang dari atas dan dialirkan kebawah hingga ke tingkat akar rumput yang menyentuh lapisan masyarakat terbawah sebagai mata rantai terakhir suatu hirarki kenegaraan. Di tataran realita kenegaraan, analogi keadilan dan angin segar tersebut dapat merujuk pada kekuatan ekonomi yang lebih besar untuk menangkal instabilitas sosial, kekuatan ekonomi tersebut tersedia untuk dibagikan secara adil menurut porsi kebutuhan. Dari konteks kekinian, maka kekuatan ekonomi itu adalah hasil penerimaan dari Pajak.

Korelasi linier Pajak dan Kestabilan Sosial

Ilustrasi sederhana mengenai keterkaitan antar keduanya bisa diwakilkan dalam satu urgensi kekuatan negara membiayai pembangunan dalam kehidupan bisnis yang makin kompleks. Tugas pokok sebuah negara untuk menyediakan kehidupan yang berkeadilan, makmur dan sejahtera bagi rakyatnya akan lebih optimal dijalankan dengan dukungan kekuatan dana yang mandiri, dalam hal ini penerimaan negara dari pajak. Sebuah goncangan dapat terjadi di satu sendi pembangunan bila upaya pengamanan penerimaan negara dari pajak tidak tercapai, sebab sudah jelas ini akan menyebabkan pembangunan melambat. Perihal ini merupakan kesadaran yang harus dijaga secara kolektif oleh seluruh elemen bangsa ditengah binar pencantuman Indonesia dalam senarai negara yang tangguh disaat ekonomi Amerika dan Eropa dilanda kelesuan menuju fiscal cliff (penurunan tajam oleh deficit anggaran). Peran pajak sebagai penopang ketangguhan ekonomi bangsa menjadi sangat penting terutama untuk mewujudkan percepatan pembangunan infrastruktur ke penjuru negeri. Penguatan infrastruktur sebagai aspek belanja modal adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk ketahanan jangka panjang.

Ironisme yang sudah kita sama- sama tahu, bahwa belanja modal di RAPBN 2013 (disahkan Agustus 2012) tidak lebih tinggi dari belanja pegawai dan belanja subsidi (subsidi BBM Rp 193,8 T dan subsidi PLN Rp 80,1 T). Kondisi ini semestinya tidak perlu dihadapi atau kelak mungkin dapat teratasi jika penerimaan negara dari pajak bertambah signifikan. India memberi contoh abainya pemerintah terhadap aspek infrastruktur justru membuat negara ini tidak mampu mengimbangi dinamika ekonomi dunia yang justru pada akhirnya menenggelamkan angka pertumbuhan ekonominya secara tajam di angka 3-4%. Pada akhirnya ketimpangan pembangunan di satu sendi dapat memicu kekecewaan secara pelan dalam jangka waktu yang panjang, terakumulasi mengendap menjadi bom waktu yang meledak menjadi konflik sehingga mengganggu kestabilan sosial. Kondisi yang tidak patut terjadi jika ekonomi dalam negeri bisa berdiri tangguh mandiri lewat penerimaan pajak. Karena ketangguhan dan kemandirian ekonomi adalah salah satu jalan untuk menciptakan keadilan di tiap penjuru negeri, membuka peluang untuk mensejahterakan masyarakat, meredam gesekan penyulut konflik yang sekali lagi dapat membuat keutuhan bangsa gagap sekaligus ringkih.

Read more »

12.15.2012

Tax Ratio. Dilemma lies between GNI & GDP


Mengutip tulisan Andi Candra dalam artikel 'Membentuk Bangsa Yang Mandiri Melalui Pajak'  yang dimuat didalam Situs Pajak pada hari Kamis, 22 Nopember, 2012-13:32, dikatakan bahwa "Tax Ratio menunjukkan berapa besar rupiah kenaikan penerimaan pajak akibat meningkatnya Produk domestik Bruto (PDB) sebesar satu rupiah. Dengan bahasa yang lebih sederhana Tax Ratio (TR) didefenisikan sebagai perbandingan antara "penerimaan perpajakan (X) dengan PDB (Y)". Definisi Tax Ratio yang demikian merupakan definisi yang dipakai setiap negara anggota OECD (Organization of Economic Cooperation and Development).


Menarik untuk dicermati dalam formulasi Tax Ratio versi OECD ini adalah penggunaan PDB Produk Domestik Bruto) atau GDP (Gross Domestic Product) sebagai angka dasar pembagi Penerimaan Pajak (TX). PDB dapat dimaknai sebagai angka kumulatif bruto atas kegiatan perekonomian yang terjadi didalam sebuah negara dalam konteks batas geografis. Definisi ini mengandung pengertian bahwa perhitungan PDB tidak memperhatikan siapa pelaku kegiatan ekonomi tersebut. Bisa dimaklumi perihal ini sebagai konsekuensi logis era globalisasi yang mulai memasuki ekonomi dalam negeri, sebut saja CAFTA dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Ini menyebabkan pelaku ekonomi yang dimaknai dalam PDB juga meliputi warga negara asing yang melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Secara tren, PDB Indonesia cenderung meningkat setiap tahun bahkan muncul proyeksi optimistis bahwa dengan parameter PDB, Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 di tahun 2040. Indikator makro yang menggembirakan.

Tren menanjak ini bisa dilihat dari salah satu unsur PDB yakni Foreign Direct Investment Inflows & Outflow atau FDI I/O yakni yang didefinisikan Krugman (1994) sebagai arus modal internasional dimana perusahaan di suatu negara mendirikan atau memperluas perusahaanya di negara lain. Berikut sederet Indikator Foreign Direct Investment Inflows & Outflow Indonesia, yang menunjukkan kecenderungan proporsi investasi asing yang meningkat dari tahun ke tahun, dari Bank Dunia, silahkan dibuka di file yang penulis sertakan dalam tulisan ini.

Terlihat dari data tabel tersebut bahwa persentase arus modal masuk dari negara luar cenderung lebih tinggi dari pada arus modal dalam negeri yang dibawa ke luar. Sehingga ini merupakan indikator bahwa PDB mengandung nilai yang bukan benar- benar milik atau dapat dimiliki bangsa Indonesia.

Masalah kemudian muncul, bila demikian kondisinya dan PDB tetap digunakan sebagai dasar perhitungan maka sesungguhnya kita tengah menghitung Tax Ratio dengan dasar pendapatan yang tidak benar-benar kita nikmati. Mengapa demikian? Karena sebagian pendapatan tersebut justru dinikmati oleh investor asing seiring tingginya gairah investasi di Indonesia, dan tidak ada jaminan kuat bahwa kemajuan investasi kita bisa diiringi secara linier oleh kemampuan sektor perpajakan dalam negeri menjalankan peranannya. Artinya banyak potensi penerimaan dan kepatuhan dari kemajuan investasi dan proyek infrastruktur yang belum sepenuhnya tergali demi  kepentingan penerimaan dalam negeri dari perpajakan.

Pertanyaannya. Kemudian apa adil menjadikan PDB sebagai dasar perhitungan?

Selama ini ada unsur pendapatan nasional selain PDB yang meski kalah populer tetapi lebih mengena bila diimplementasikan dalam konteks menghitung Rasio Pajak, karena ini lebih mencerminkan kemampuan kemandirian bangsa dalam menghimpun penerimaan pajak dan menunjukkan kemampuan murni dalam negeri oleh masyarakat nya sendiri. Itulah PNB atau Gross National Income (GNI), atau Pendapatan Nasional Bruto. Sehingga perhitungan Rasio Pajak dengan membagi TX dan GNI bisa menjadi alternatif dalam memaknai kemampuan kemandirian bangsa dari pajak, bukan sekedar ketahanan atau pertumbuhan semu. Sebab, makna kemandirian bangsa berbeda dengan ketahanan bangsa. Ketahanan bangsa belum tentu menunjukkan bahwa bangsa tersebut mandiri sementara kemandirian bangsa bisa mendorong terbitnya daya tahan suatu bangsa. Berikut disertakan beberapa perbandingan Rasio Pajak dengan dasar PDB dan PNB dengan data sumber dari Bank Dunia, silahkan dibuka di file yang penulis sertakan dalam tulisan ini.

Dari perbandingan yang ditunjukkan tabel diatas terlihat nilai Rasio Pajak dari dua dasar perhitungan yang berbeda. Dari sisi keadilan (fairness), dalam konteks pergaulan ekonomi internasional tentu penggunaan PDB sebagai dasar perhitungan adalah sebuah keniscayaan, sehingga menjadi sebuah keharusan yang wajib diikuti untuk mengukur diri dengan parameter global. Tetapi dalam memandang secara introspektif maka ini bisa menjadi semacam renungan bahwa kita masih berkesempatan untuk terus memperbaiki diri agar bisa mengikuti tuntutan ekonomi global yang menerapkan standar yang saat ini masih terasa berat untuk sepenuhnya diikuti. Melihat kedalam dengan parameter GNI atau PNB ini bisa menumbuhkan kesadaran bahwa secara fluktuatif kita telah terus bertumbuh dan membangun. Melihat keluar, PDB sebagai standar dapat menjadi double-knife blade (pisau bermata dua), sebagai pendorong atau justru demotivator. Tapi setidaknya, ketika banyak opini memandang belum optimalnya kinerja Rasio Pajak dari TR/PDB ada pijakan yang melandasi pandangan dari sisi lain (bukan sekedar justifikasi) yakni TX/PNB.

Read more »

12.01.2012

Pendakian Sindoro


Senja sore itu, 04 November 2012. Kami semua sudah kembali mencapai Basecamp Sumbing. Joneh sudah langsung pulang karena besok sudah harus maduk kerja. Aku sendiri masih menyempatkan mengantar Bange dan Gustin ke jalan depan, mereka mengejar Bis ke terminal Wonosobo. Tersisa cuma aku dan Posky. Kami berdua memang sepakat masih akan meneruskan pendakian ke Gunung Sindoro. Setelah berdiskusi, besok kami pagi sekali sudah akan mulai mendaki dan target petang sudah turun kembali. Terbilang nekad untuk pendakian dengan mengandalkan sisa- sisa tenaga.

Malam itu juga aku dan Posky pamit ke penjaga Basecamp Sumbing dan mulai berjalan kaki ke Basecamp Sindoro di Desa Kledung Kab. Temanggung. Sekitar 1 kilo jaraknya, kamipun tiba di sana, basecamp yang sangat seadanya, cukup untuk istirahat malam ini mengumpulkan tenaga esok hari. Beruntung, penjaganya ramah dan tanggap membantu kami membelikan makan dan sekedar ransum besok. Pak Ahmad nama penjaganya. Beliau mengantarku membeli makanan dan minuman dan dengan enggan menolak waktu aku memberi uang sekadar untuk isi bensin.

Senin, 05 November 2012

Usai Subuh, kami berdua sudah siap berangkat. Ojek yang akan mengantar kami ke titik awal sudah menunggu dan kurang lebih pukul 05.30 kami memulai pendakian. Dingin dan masih remang kala itu, medan awalan berupa dataran landai yang terbilang nyaman didominasi pohon pinus dan rerumputan perdu. Saat kami mulai memasuki area hutan, medan pun masih belum terlalu terjal, hanya saja pepohonannya kini menjadi lebih rapat dan banyak hewan penyengat semacam lebah yang mengganggu bila terlalu lama kita berdiam. Di jalur ini kami bertemu dengan Ibu yang hendak pulang dari mencari kayu bakar yang beliau gendong dipunggung. Beliau menunjukki kami jalur alternatif yang lebih baik untuk meminimalisir resiko dan hambatan medan.

Sekitar pukul 07.00 WIB, kami beristirahat di area cukup lapang dan makan pagi dari ransum yang sudah kami siapkan sedari tadi malam. Area ini tak jauh dari dua bongkahan batu besar yang mungkin bukan batuan vulkanik sebab teksturnya seperti batuan tanah. Usai sarapan kami meneruskan perjalanan dan perubahan medan mulai terasa, tanjakan makin banyak dan ternyata kami sudah mendekati pos I. Pos I adalah lahan sempit dengan pemandangan yang luas, terlihat jelas dari sini medan gundul Sindoro diselingi Pinus secara sporadis. Jarak antar pos di Sindoro memang berjauhan, total ada 4 pos dan tidak ada sumber air sama sekali.

Menjelang pukul 08.30 WIB, perjalanan kami lanjutkan melewati punggungan terjal yang ditumbuhi rerumputan ilalang. Beruntung sekali kami karena sejauh ini hujan atau angin kencang tidak ada. Ini memudahkan perjalanan walau disisi lain membuat sengatan matahari kian terik. Kami berdua berjalan beriringan secara bergantian, kadang berjarak cukup jauh. Pos 2 masih belum terlihat, puncak Sindoro belum juga tampak, sesekali kami istirahat dan menikmati suguhan pemandangan dalam desiran angin sejuk Sindoro. Pula, kami makan buah murbey hutan yang asam manis radanya, lumayan untuk menghilangkan haus.

Sambil menapaki medan, aku perhatikan jalur tipikal seperti ini makin lebih membahayakan di musim kering, sebab menjelang pos 2, kami melewati jalur terjal dengan butiran kerikil yang membahayakan karena menjadi rentan tergelincir bila tidak hati- hati. Sekitar pukul 09.00 WIB lewat kami tiba di Pos 2, sebuah lahan sempit berilalang dengan dikelilingi bebatuan karang. Terlihat sisa pendirian tenda seperti baru saja ditinggalkan pendaki kemarin. Disini kami terus saja, sebab target jam 12.00 WIB harus sudah tiba di puncak agar petang sudah turun kembali. Medan setelah pos 2 makin banyak dengan butir kerikil licin namun sekitar satu jam lebih kami tiba di area rerumputan hijau luas yg curam. Pemandangan dari sini lebih indah, namun jalan kian terlihat tidak berujung.

Di pos 3 kami istirahat sekitar 10 menit untuk makan roti dan minum seadanya sembari menikmati hembusan sejuk angin. Buat ku waktu itu, energen yang aku minum saat itu adalah energen yang ternikmat. Melepas pandangan mata ke langit tanah Jawa sambil bersandar di bebatuan. Terlihat dari sini sebuah puncak kecil yang berupa tebing karang terjal yang seperti puncak Sindoro. Tapi itu bukan. Puncaknya sendiri ternyata baru terlihat setelah kami menuju Pos 4, terlihat berupa area vegetasi yang luas. Berdua kami bergegas menuju pos 4 dengan medan lebih aman dan lebih banyak karang. Sekitar pukul 11.00 WIB kami tiba di Pos 4. Area yang cukup luas dan terlindung dengan dinding karang. Cuma sebentar kami rehat karena enggan tertawan kantuk.

Perjalanan berlanjut. Puncak yang dari tadi tak jua terlihat, akhirnya muncul. Jauh masih, tapi dengan medan yang lebih aman, jarak menjadi tidak terasa. Unik, karena puncak Sindoro murni berupa vegetasi rerumputan, perdu Cantigi, Edelweiss dan pepohonan kecil secara sporadis. Langkah kian kami pacu. Dan makin dekat terlihat seiring mentari yang kian naik tinggi. Bila menoleh ke belakang terlihat posisi kami yang sudah hampir menyejajariuncak Sumbing. Saat itu aroma khas Belerang makin tajam, dan alhamdulillah sekitar pukul 12.00 WIB kami berdua tiba di puncak Sindoro yang luas. Kawah lebar ternyata ada disini, kepulan asap belerang terbang terbawa angin menebar bau khas pekat tajam.

Di puncak Sindoro, 3153 mdpl. Kami berdua istirahat sejenak yang direncanakan setengah jam saja justru sampai hampir dua jam karena lelah ketiduran dibuai angin segar puncak Sindoro. Usai itu, kami berdua bergegas kembali turun ke Desa Kledung dan tiba di base camp pukul 17.30 WIB. Ini adalah kali pertama aku naik gunung tanpa nge-camp. Capek memang, butuh lebih dari fisik kuat atau pengalaman, tapi juga keyakinan dan kawan yang pas agar pendakian pulang pergi ini jadi lebih meminimal resiko. Thanks to my partner, Posky! What an unforgettable experience!

Ebas Temanggung 2012

Read more »

11.24.2012

Amazing Sumbing (IV)

Sabtu 04 November 2012

Masih pagi sekitar pukul 04.30, tapi diluar sana udara sudah tenang. Angin dan hujan sedari tadi malam ternyata sudah reda. Pelan, kami terbangun dan mulai bersiap untuk mendaki puncak Sumbing. Usai sholat maka yang terpenting adalah sarapan agar kondisi tubuh fit. Daypack sudah disiapkan. Dan menjelang lewat pukul 05.30 pagi kami sudah siap dan berdoa bersama. Remang lampu Kab. Wonosobo masih malu- malu menjelang pagi. Sumbing, here we come...

Puncak pertama yang kami sasar adalah Buntu, dari situ saya belum tahu bahwa dua puncak lainnya menunggu pula. Medan berupa bebatuan cadas dan minim pepohonan untuk berpegang, karakter gunung gundul. Sisa hujan tadi malam terlihat dari trek yang becek dan menjadi licin. Namun semua bagiku merupakan kesenangan tanpa terkecuali. Setapak demi setapak, makin lama makin tinggi dan bila menoleh ke belakang jelas terlihat bentangan pagi Wonosobo yang dipagar Sindoro. Udara dan cuaca kondusif standar ketinggian, kami terus melangkah melewati gundukan curam kerikil rapuh yang rentan dijadikan pegangan.

Sekitar 1 jam kemudian kami tiba di Puncak Buntu. Rupanya berupa lahan dengan area sempit yang beralas bebatuan besar. Dari sini dua puncak lainnya terlihat jelas, cekungan terjal adalah keharusan bila hendak mencapainya. Tak lama di Buntu, menikmati bentangan hutan dibawah sana dan Sindoro di seberang, kami turun menuju puncak kawah yang tak jauh dari Buntu. Turunan ke Kawah ini mulai terjal dan mengandalkan ketepatan dalam memilih pijakan dan pegangan di batu karang, bila ragu dan salah pilih akibatnya bisa jatuh menggelinding ke lahan tebing. Setelah itu, dilanjutkan dengan melipir/ traverse, di dinding batu sekitar 50 meter sampai kemudian naik lagi mendaki tebing dan tiba di Puncak Kawah. Bila ragu, bisa ambil jalur memutar dibawah tapi lebih panjang dan lama walau aman.

Puncak Kawah adalah puncak kedua dari jalur Garung, dari puncak ini, bentangan kawah Sumbing langsung terlihat jelas. Kepulan asap belerang yang naik terbawa angin menimbulkan aroma khas asam sulfat yang berbahaya. Sehingga saat tiba disana kami praktis tidak berlama- lama. Saat itu sekitar pukul 08.00 dan ketika melihat puncak sejati yang menjulang tinggi sendiri dengan jalur berupa dinding batu yang keras, siapapun wajar bila berpikir dua kali untuk menuju kesana. Dari cekungan turunan puncak kawah kami memandang kondisi medan itu cukup lama, sampai Joneh membaca jalur yang paling aman tidak terlalu beresiko. Kami mulai menusuri.

Joneh didepan, Posky menyusul sambil mengambil foto, Bange seperti biasa berjalan dengan diam, Gustin menyusul di belakangnya, dan aku di posisi terakhir. Tiba di kebuntuan jalur, cuma ada beberapa bongkahan batu karang tinggi menghadang. Bange, Posky dan Joneh sudah dulu keatas dengan melompat di antara pijakan batu. Tiba di Gustin, kendala muncul karena kakinya tidak cukup panjang untuk mencari pijakan, ditambah pula dengan sikapnya yang tidak terlalu yakin bisa walau aku sudah coba tawarkan punggungku sebagai pijakan peninggi. Alternatifnya, aku dan Gustin memilih jalur memutar yang berujung di dinding bukit yang tidak terlalu tinggi. Kemudian, Gustin mencoba naik keatas dengan sambutan tangan Posky dan berpijak di pundakku untuk peninggi. Berhasil, dan akupun menyusul.

Akhirnya, setelah melewati medan berliku sejak kemarin, udara dingin, angin kencang, hujan es dan medan puncak yang beresiko, kami tiba di Puncak Sumbing (3371mdpl), Alhamdulillah. Puncak sejati Sumbing ini berupa lahan kecil dengan dominasi vegetasi Cantigi dan Edelweiss. Hari itu Sabtu 04 November 2012, +/- pukul 09.00 WIB. Keteguhan, keyakinan, kebersamaan dan doa kami membuahkan pengalaman yang tak akan terlupakan.

Bange, Posky, Joneh dan Gustin, terima kasih banyak ya! I was excited that you guys responded my sudden invitation with no question! Tanpa Ba.. Bi.. Bu.. Basa Basi Bisu, kita berlalu menuju balik ke rutinitas sehari-hari! And i've been learning that a never-ending friendship will come this way, what way? easy come and easy go while the mount will go nowhere...

Ebas
Palembang baru reda hujan.

Read more »

11.17.2012

Amazing Sumbing (III)

Sabtu 03 November 2012

Area hutan Sumbing terbilang cukup terang, alasnya jelas dan berjejak pertanda sering disambangi, mungkin oleh penduduk setempat untuk sekadar mencari kayu bakar atau para pendaki yang datang sepanjang tahun. Sumbing memang terbilang cukup ramai didaki, bahkan di musim hujan seperti sekarang ini. Kami berlima sempat istirahat sholat di jalur sebelum pos I lalu lanjut kembali mendaki menelusuri medan menanjak yang didominasi Pinus dan semak perdu.

Gn. Sumbing yang merupakan gunung tertinggi ketiga di Jawa, memiliki medan yang bersahabat setidaknya sampai di pos terakhir di Watu Kotak, jalur ke puncak itu sudah lain cerita. Puncaknya sendiri ada tiga. Buntu, kawah dan Sejati yang tertinggi sekaligus yang tersulit didaki.

Sekitar 1,5 jam mendaki dari titik area hutan, kami tiba di Pos I, istirahat sebentar lalu lanjut menuju pos II, medan yang kami lewati makin menanjak dan rerumputan perdu makin mendominasi, serta pohon menahun di jalur semakin sedikit. Hampir sekitar 1jam lebih kemudian kami tiba di Pos II ini berupa area cukup luas untuk mendirikan tenda, dari sini pemandangan kota Wonosobo jelas terlihat. Sayangnya, kabut mulai turun menghalau penglihatan, dan kami terus mendaki menuju titik selanjutnya. Pos Pestan.

Medan yang kami lewati makin menanjak tapi tidak membahayakan karena berupa lahan lapang yang ditumbuhi ilalang. Namun, di beberapa titik, area ini tandus dan kering sisa kebakaran yang disebabkan musim kemarau berbulan- bulan lamanya beberapa waktu lalu. Saat itu sekitar pukul 14.00 WIB, angin berhembus kencang diiring gemuruh petir, dan benar saja bahwa tidak lama kemudian turun hujan. Poncon/jas hujan kami kenakan, ssekali aku bahkan berjalan miring untuk menghindari tiupan angin kencang dari sisi kanan kiri. Hampir setengah jam kemudian kami tiba di Pestan. Lahan luas yang terbuka lapang. Kami beristirahat dengan meringkuk dan memasang jas hujan sebagai atap seadanya.

Hujan makin kencang, angin dingin masih berhemus dan tiba- tiba seperti ada sesuatu yang berjatuhan dan bunyinya bukan bunyi rintikan air hujan terdengar di atap dadakan kami, ternyata butiran es jatuh dari langit, hujan es tengah berlangsung didepan mata kami hingga beberapa menit lamanya. Aku nyaris tidak percaya tapi itu yang terjadi. Hujan butiran es. Setelah agak mereda kami meneruskan perjalanan. Target paling lambat kami harus sudah tiba di Watu Kotak untuk mendirikan tenda agar bisa istirahat memulihkan energi untuk besok pagi.

Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di Pasar Watu, area lapang dengan paparan view yang indah, tapi itu tak berlangsung lama, hari kian petang dan kami hanya menghabiskan kurang dari 15 menit lalu terus lanjut, dan sekitar 1 jam kemudian, kami sudah tiba di Watu Kotak. Aku, Posky dan Joneh langsung mendirikan tenda, kemudian tidak lama disusul Bange dan Gustin yang menyiapkan makan malam. Disaat yang sama ternyata hujan deras turun cukup lama, kami berkumpul di tenda sambil bersiap makan bersama dan minum untuk menghangatkan tubuh.

Lalu, kamipun tertidur dan sepakat bangun pukul 04.30 WIB untuk persiapan menuju puncak. Kami tidur sambil meringkuk berbagi ruang supaya cukup. Sepi, cuma kami, angin, dingin dan hujan di malam hari...

Read more »

11.16.2012

Amazing Sumbing (II)




Sabtu 03 November 2012...

Tak banyak yang bisa kuingat lantaran tidur sejak dari Bandung, kecuali terbangun saat Bus istirahat makan di Ciamis. Lanjut tidur lagi dan terbangun oleh teguran kondektur yang mengingatkan bahwa bus sudah masuk Terminal Wonosobo pukul 04.30 WIB. Aku dan Gustin bergegas turun dan menuju musholla untuk sholat dan istirahat. Posky sudah menunggu sedari tadi malam. Usai sholat subuh kami merapat di warung pojok didalam terminal untuk sekedar santai menunggu pagi dengan sarapan nasi bungkus lauk ikan tongkol sembari menunggu Joneh dan Bange yang sebentar lagi tiba.

Tidak lama Bange tiba, selanjutnya kami recheck peralatan dan masih kurang logistik dan gas. Aku lalu belanja sayuran, snack dan mencari gas yang ternyata sulit didapat kecuali di pusat kota. Tak ada pilihan lain, dengan menyewa jasa ojek aku ke pusat kota Wonosobo untuk membeli gss hi-cook. Lumayan, sekalian jadi sempat keliling. Wonosobo merupakan kota kecil yang rapi dan terbilang asri. Ruas jalan yang sempit dan medannya yang berliku membuat kota ini terlihat unik. Usai mendapatkan gas di toko dekat alun-alun, aku segera kembali. Joneh sudah tiba, tim lengkap.

Tak lama kami berangkat menuju Desa Garung dengan angkot Bus ELF yang mangkal di terminal. Saat itu pukul 08.30 WIB. Perjalanan menuju Desa tempat Basecamp pendakian Sumbing itu berada memakan waktu sekitar 30 menit dengan ongkos Rp. 5.000,-. Angkot yang kami tumpangi menuju wilayah yang menjauh dari kota, desa tujuan kami memang berada di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Temanggung. Tak lama kami tiba dan berjalan kaki sekitar 500 meter lalu tiba di Basecamp Sumbing. Disana sudah ada pos dadakan yang sengaja disiapkan untuk para pendaki untuk bersiap atau beristirahat. Kami pun langsung mengurus perijinan dan berbagi beban barang bawaan sebelum memulai pendakian.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami berlima sudah siap, dimulai dengan berdoa bersama lalu mulai melangkah menuju Gunung Sumbing. Sekitar 800 meter pertama kami masih melewati jalanan aspal daerah pedesaan dengan medan menanjak. Di penghujung jalan kami memasuki area lahan pertanian penduduk yang masih begitu panjang hingga kira- kira 2 jam pertama pendakian. Pemandangan lahan pertanian membentang diantara jalur setapak karang. Dari sini, tepat diseberang terlihat jelas Gunung Sindoro. Angin bertiup lembut, sangat nikmat dibawa tidur! Tapi perjalanan harus dilanjutkan, tepat didepan batas memasuki area hutan sudah terlihat!

Read more »

11.15.2012

Amazing Sumbing (I)

Aku bersyukur sekali masih berkesempatan mendaki kembali setelah 6 bulan lalu. Kali ini gunung yang kudaki adalah Sindoro (3153mdpl) dan Sumbing (3373mdpl) di Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung yang bersebelahan persis. Pendakian ini bertepatan dengan momen tugas kedinasan yang aku dapatkan mengenai Workshop penulisan counter comment/article melalui media online di Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, Bandung. Jawa Barat.

Jumat. 02 November 2012 Workshop usai, sekitar pukul 17.00 WIB. Aku langsung meninggalkan hotel dan dengan menumpang mobil teman langsung menuju pertigaan jalan tol menuju Terminal Leuwipanjang, disana sudah janji berangkat dengan Gustin, kawan lama sejak SMA yang kini menetap di Bandung menjadi pebisnis. Dengan ongkos Rp. 5.000,- aku menumpang bus ekonomi patas dan sekitar 45 menit aku tiba di Terminal Leuwipanjang, langsung bertemu Gustin. Kami segera bergegas ke pangkalan Bus Damri untuk menuju terminal Cicaheum. Beruntung, masih ada Bis Damri terakhir! Sudah pas magrib saat itu. We got into the bus heading to Cicaheum then...

Bus Damri membelah senja di jalanan Kota Bandung yang sempit lagi padat, carriel sengaja aku posisikan tertelungkup di bawah supaya tidak makan tempat dan tidak menutup jalan. Atmosfer kota ini aku rasakan lewat aksen obrolan sesama penumpang dibangku depan yang Sunda sekali, juga lewat bangunan tua gaya Belanda di sekitaran jalan Asia Afrika. Aku dan Gustin sesekali bincang ringan soal masa SMA, teman- teman lama dan tentang keberanian hidup. Sekitar 1 jam akhirnya kami tiba di terminal Cicaheum yang ramai terisi Bus Antar Kota. Kami segera cari musholla untuk sholat.

Musholla disini berada dibelakang area luar terminal, secara bergantian kami sholat karena harus menjaga barang bawaan, setelahnya kami berencana makam malam dulu sebelum pesan tiket, namun untuk aman, kami berniat pesan tiket terlebih dahulu. Saat itu baru ketahuan bahwa Bus Wonosobo baru saja berangkat dan itulah bus yang terakhir! Reflek, Gustin langsung mengajak keluar terminal untuk mencegat dari seberang. Kejar- berkejaran terjadi antara kami, bus dan waktu. Tak lama berselang, dari ujung jalan terlihat kepala bus jurusan Bandung- Wonosobo menyembul antara kerumunan mobil angkot yang beradu sibuk.

Saat bus merapat, kami segera sigap menyelinap ke tengah jalanan yang macet dan menggedor pintu bus yang akhirnya menepi. Dramatis, bus terakhir ini pun akhirnya kami dapati, bus Sinar Jaya tujuan Wonosobo melaju membelah malam jalanan kota Bandung! Aku sempatkan kontak 3 rekan lainnya. Bange masih di Cikarang dan belum berangkat. Posky sudah tiba di terminal Wonosobo dan Joneh sudah naik bis berangkat dari Jakarta. Besok pagi kami berjanji bertemu di terminal Wonosobo untuk menuju Desa Garung Butuh Kec. Kalijajar. Lalu aku pun terlelap bersama Sinar Jaya yang terus melaju...

Read more »

11.08.2012

Koperasi dan Tameng Globalisasi

Sederet data makro yang di paparkan badan internasional untuk negara kita patut membuat kita berbangga. Rate & Investment sebuah badan yang memeringkatkan tingkat kesehatan investasi sebuah negara, berkedudukan di Jepang, memberi peringkat BBB- yang artinya cukup bagus dan menjanjikan buat para calon investor, peringkat ini menjadi rujukan dari kacamata domestik maupun luar negeri. Standard Chartered Bank juga ikut memaparkan optimisme perusahaan yang berkedudukan di Indonesia lewat survey tentang kestabilan order produksi dan ekspektasi laba terakumulasi. Dan kini, Indonesia digolongkan sebagai 16 negara ekonomi besar oleh World Bank.


Kepada apa lalu kita patut menisbatkan semua keberhasilan itu? Pada sistem Ekonomi Pancasila yang sudah lama menjadi bagian dari diri kita? Atau pada infiltrasi agenda globalisasi dunia yang sudah merasuk pelan ke dalam perekonomian kita? Atau bahkan memang inilah konsekuensi yang dibawa arus perubahan zaman? Sejarah mencatat perjalanan sistem ekonomi suatu bangsa tidak pernah benar- benar selamanya keras dan ideal, ada deviasi inkonsistensi yang harus diakui, tidak ada yang salah disini, cuma soal seberapa ekstrim demi menjaga identitas muasal kebangsaan. Korea Utara tidak benar- benar sosialis ekslusif yang menutup diri, ada hubungan kerja sama dengan Rusia. Amerika Serikat tidak benar- benar liberalis kapitalis, ada pengaruh etatisme dan regulasi otoritas.

Bertahan dalam sebuah sistem adalah baik hanya dalam konteks menjaga identitas kita sebagai bangsa, namun dalam konteks ekonomi bukan tidak mungkin justru menjadi bumerang yang membuat kita tertinggal, sebab aktifitas ekonomi dunia itu dinamis tanpa menjamin kelanggengan suatu nilai.

Terkait identitas, Ekonomi Pancasila adalah identitas perekonomian kita yang diwujudkan lewat sistem koperasi yang mengusung kebersamaan, transparansi dan kerja sama anggota. Tapi dari sudut pandang pergaulan ekonomi dunia, ada tuntutan untuk menjadi fleksibel dalam bersikap agar dapat bertahan dalam turbulensi krisis yang bisa saja berdampak hingga ke dalam negeri. Ekonomi Pancasila merupakan identitas khas Indonesia yang langsung bermanfaat untuk rakyat, sedangkan sederet data indikator diatas yang dibuat oleh badan luar negeri adalah apresiasi internasional atas status Indonesia yang besar dan makin diperhitungkan di mata dunia. Keduanya harus berjalan seiring dan harmonis demi menjaga kestabilan makro dan mikro.

Tidak ada yang pasti dalam sebuah sistem, agenda globalisasi yang menelusup lewat kebijakan pemerintah bukanlah sebuah arah perubahan tanpa cela. Globalisasi rentan akan segregasi kaya dan miskin yang makin tampak. Jika kita tidak piawai dalam pergaulan ekonomi dunia maka bukan tidak mungkin kita turut terseret dalam kesenjangan itu. Disinilah penguatan identitas muasal sangat berguna karena menjagakan kita dari pengaruh buruk luar. Ekonomi Pancasila bukan sistem lama yang termarginalkan, melainkan menjadi tameng pencegah dari krisis identitas yang rentan melanda bila kita lupa bagaimana dan darimana kuta bermula.

Read more »

10.27.2012

Beyond Blogging

Saya kurang terlalu peduli dengan status blogger yang biasa disematkan pada orang yang rajin menulis di blog. Bisa jadi itu saya. Namun hingga kini, gelar itu masih terasa berat untuk disandang. Sebabnya adalah setiap kali saya menulis di blog pribadi saya ini, saya nyaris tidak pernah untuk meniatkannya untuk memberi pencerahan, menawarkan sudut pandang apalagi menghujat atau menghakimi, ini karena saya sadar kapasitas saya masih banyak perlu ditambah. Sebutan sebagai blogger itu lebih cocok ditujukan kepada tokoh kenamaan dengan jam terbang tinggi dibidang masing- masing sehingga tiap artikel yang mereka buat selalu bernas dan mencerahkan.

Saya sendiri menganggap blogging sebagai terapi, saya merasa seperti tengah berdialog, berdebat dengan diri saya sendiri ketika menuliskan kalimat demi kalimat didalam blog saya. Dunia yang saya gilai sejak saya sadar bahwa dalam hidup saya tidak selalu mampu bertemu dengan kawan yang bisa selalu diajak dialog. Kalaupun bisa, tidak bisa untuk setiap saat dan tidak juga untuk semua hal. Ada batas, ada kemakluman ruang pribadi yang harus dijaga. Hingga detik ini saya hanya bisa berbagi soal naik turun hidup selain dengan pacar saya ya dengan blog, tapi tidak semua hal pribadi bisa saya tulis di blog. Because once it's published, it will be public thing!

Blogging memungkinkan saya merangkum pengalaman hidup sebagai pengingat atau sekadar tempat menumpahkan pemikiran soal apapun yang menarik minat saya yang kebetulan sangat beragam, itu soalnya blog saya bertema campuran; Pengalaman hidup dan pelajaran, ekonomi, sejarah, politik, pendakian gunung, kuliah, kantor, keluarga atau tentang seorang tokoh top. Mungkin sekarang masih sangat divergen begini, tapi saya kira nati akan mengerucut juga. Walau tidak bisa terlalu ekstrim tentunya. Tapi yang jelas saya akui kebiasaan blogging ini turut serta membantu proses pendewasaan saya, seperti catatan hidup yang merekam banyak kejadian.

People change so does blog. Manusia itu berubah, tercermin dari tutur dan sikap nya. Di dunia blogging, ini dilihat dari caranya berbahasa dan menyampaikan pesan atau berkomentar. Change!! Pelajaran hidup yang saya simpan di blog sedikit banyak mereduksi pandangan hidup yang kalut menjadi tenang. Kusut menjadi rapi dan pesimis menjadi optimis. Tapi itu bukan karena saya sendiri, banyak manusia- manusia yang memberi contoh keberanian hidup, syukur, yakin dan tulus. Seperti banyak juga yang memaparkan sikap main aman, iresponsible dan berakal bulus. Semuanya memberi saya dorongan untuk mencatat dan menyarikannya sebagai terapi melalui blogging.

Read more »

10.25.2012

Menikmati Kopi


Saya lumayan suka minum kopi (ngopi), saya yakin bukan karena waktu kecil saya suka curi sesap kopi ayah di meja dapur. Tapi lebih karena memang rasanya yang beda, tidak sempurna dan tidak biasa, seperti ada pahit pekat yang bertabrakan hebat dengan manisnya gula lalu menghasilkan sensasi tanggung yang menagih sesap demi sesap. Kenikmatan dalam ketidaksempurnaan.Berikutnya juga karena aroma khas nya yang tegas, seperti berkarakter. Aduk kopi disebuah cangkir kecil didalam ruangan berukuran 4x2,5m! saya cukup yakin semua mahluk bernyawa didalam ruangan itu akan bereaksi secara reflek menyadari aroma kopi mengudara lalu mungkin akan berkata lirih berbisik 'hmm.. wangi kopi nih!'. Begitulah, dari aromanya saja beda dan memikat.

Saya tidak paham persis bagaimana para pecinta kopi menikmati sensasi minuman ini. tapi sepertinya mulai dari para petani bertopi caping di sebuah saung lahan sawah hingga para eksekutif kota metropolitan di sebuah gerai "food and beverage" berlogo gurita wanita (atau wanita gurita?), saya kira sama saja! Mereka menikmatinya dengan disesapi sedikit demi sedikit.. Keduanya nikmat walau berbeda tempat. Tapi apa betul memang nikmat? Diperlukan renungan kritis kelihatannya.

Kopi memang nikmat, tapi hanya bagi pribadi yang paham bagaimana menikmatinya. Menikmati kopi itu buat saya sama seperti menikmati hidup. Bebas lepas dan apa adanya. Itu mengapa para petani sederhana nun jauh di pelosok sana tetap bisa menikmati kopi hasil tanaman sendiri walau gempuran iklan seputar kopi di TV makin bombastis dengan embel- embel impor atau nama hewan ini hewan itu. Sementara bagi yang belum paham betul bagaimana menikmati kopi, mungkin semua masih seputar dimana, merek apa dan dengan gelas apa kopi itu diminum. Lain levelnya bisa jadi lain rasanya bagi mereka. Para orang tua kita dahulu sudah terbiasa minum kopi di gelas plastik biasa dan tampak sekali itu tidak mengurangi sensasi nikmat kopi bagi mereka. Masih jelas dalam bayangan saya saat nenek dulu menyesapi kopi dari gelas ransum waktu rehat sejenak dari menebas rumput liar di kebun. Ini bukan berarti saya menolak perubahan gaya minum kopi yang dibawa arus zaman, tapi sebagai pengingat saja bagi saya agar tetap ingat cara menikmati kopi.

Pahit pekat biji kopi yang bertabrakan dengan manis gula ditambah dengan aroma tegas yang kuat tetap akan ada sebagai sebuah ciri khas, tidak soal dimanapun kopi dinikmati. Entah di rumah, di kantor, di pinggir jalan, di 'food court' atau di gerai yang kini marak menjamur di mall- mall, semua kembali lagi ke tujuan awalnya, untuk benar- benar dinikmati atau semata- mata demi gengsi. Karena mungkin tanpa sadar buat sebagian kita, minum kopi itu seperti teman pribadi yang menemani kala kita tengah bermonolog dengan diri sendiri apalagi disaat jiwa saya sedang seperti ini, meronta- ronta minta naik gunung lagi.

Read more »

10.16.2012

Menerima Kehidupan

Sesak kalau ingat semua laku bodoh yang sempat saya buat di hari kemarin, kemarinya lagi atau kemarin- kemarinya lagi. Sesak sekali, seperti berada di ruang pengap yang gerah dan ingin segera lari. Kemana tapi? Bila saya lari antar dua kutub bumi pun tetap akan terasa gerah, ya sudah! Mungkin saatnya duduk diam menikmati genit debur ombak atau cumbuan angin gunung.

Semua orang mungkin punya saat- saat seperti ini. Duduk diam, sendiri atau ditengah keramaian tanpa berbuat apa, cuma duduk saja, sekilas seperti menikmati hidup. Tapi, mata memandang ke depan, menantang langit sambil menatap tajam membangun semangat hidup. Adakah semua laku bodoh itu tadi terjadi begitu saja tanpa maksud, tapi murni kesalahan hidup? Bila iya, malang nian saya sempat salah langkah bahkan berkawan dengan pribadi- pribadi yang tak bisa kasih arah.

Mungkin memang skenario hidup saya begini? Skenario yang disusun dengan apik sarat polemik dan liku intrik oleh sang pemilik kehidupan. Hingga kini, apa mungkin itu semua berhubungan erat dengan pengalaman yang kadung saya buat? Bagaimana kedepannya nanti? Semua akhirnya mengambang dalam ekspresi: 'Ya, jalani saja hidup ini!'. Saya tak paham takdir, sungguh! Pun bila memang ini sudah takdir, saya sudah sedang belajar menikmati hidup yang begini ini. Apa adanya!

Apa yang bisa saya simpulkan selama 25 tahun ini? Dalam hidup, tidak usah lagi terlalu menyoal bagaimana semua bermula dan berjalan, tapi bagaimana saya menjalani dan menutupnya nanti. Setiap kita punya cerita yang tidak akan pernah sama, jadi tidak ada yang perlu dibandingkan. Kelihatanya ini bisa menjadi titik sandar saya untuk berdamai dengan hidup, menerima dan lalu memaafkan siapapun yang sempat memberi kecewa. Terutama untuk hal bodoh yang buat sesak jiwa.

Read more »

10.13.2012

Pajak, Dependensi Negeri dan Luapan Emosi


Bukan sebuah curhatan, bukan pula keluhan. Mungkin anggap saja sebuah gurauan. Gurauan kecil tentang hal yang keberadaanya bagai nyawa tp disaat yang sama ia jadi sasaran beraroma caci maki dan sedikit hina dina.

What a paradox! Dunia memang sudah dipenuhi fakta paradoksal yang dapat mendemotivasi siapapun. Sebagai pribadi mari perkuat motivasi dari dalam. None helps!!


Kembali ke soal gurauan tadi. Tahukah anda dengan pajak? Kata ini mungkin sudah sejak lama memiliki image tak lepas dari uang, materi dan kesejahteraan. Sejak dulu.. tapi mungkin dulu semua membatu karena negeri kita belum melewati momen untuk mengusung transparansi dan akuntabilitas. Akhirnya, semua dugaan atau sangkaan mengendap menunggu terungkap. Dan like business as usual, pajak tetap menjalankan fungsi mencari uang dengan membiarkan endapan potensi yang bisa hilang.

Tapi era bisu itu sudah berlalu... Kita sudah mengambil momentum reformasi sebagai lokomotif menuju perbaikan. Tak boleh lagi ada kebisuan, semua informasi kini bagai terpapar bersedia untuk ditelanjangi. Institusi Ditjen Pajak sudah memulainya sekitar sejak satu dekade lalu. Semua sangkaan bisa diperjelas dan dimintakan pertanggungjawaban. Tapi ini semua bukannya sempurna tanpa cela. Bagaikan didalam setandan pisang, tentu ada 1 atau 2 yang lambat matangnya. Begitu juga di Ditjen Pajak, bedanya mereka yang lambat matang ini kini tengah tiarap menunggu untuk dipereteli.

Percuma bila budaya caci mencaci, hina menghina atau hujat menghujat tetap dipelihara karena ini tidak membuat kita menjadi katalis perubahan menuju perbaikan. Kita sebagai bagian dari masyarakat patut untuk sadar diri dan melek informasi bahwa saluran informasi pengaduan dan pengawasan sudah terbuka dari multiarah. Mulai dari call center 500200 atau front desk milik KPK. Sesuai mottonya: Lunasi pajaknya dan awasi penggunaanya. Ikut berpartisipasi berarti kita tahu diri untuk mengoptimalkan nyawa penerimaan negara dari pajak.

Tidak perlu lagi membuang energi lewat serentetan cacian kepada institusi pajak, coba introspeksi diri lagi. Apa dasar luapan emosi itu? Sentimen pribadi atau rasa prihatin pada negeri. Bila karena yang pertama ada baiknya kita coba berhenti jadi katak dalam tempurung. Bila yang kedua, mari kita bersama gunakan keterbukaan segala akses sebagai alat pengawasan kinerja perpajakan.

Karena apapun bentuk kepedulian yang kita sampaikan, baik itu hujatan, kritik, hinaan atau keprihatinan akan dicatat oleh sejarah dengan tinta dan nada yang berbeda tergantung dari bagaimana cara kita menyampaikannya dan motif apa dibaliknya. Nuranilah yang bicara!!

Read more »

10.06.2012

Menggugat Jaringan Kepentingan


Jaringan atau networking, dalam konteks hubungan sosial sudah bukan barang baru, ia sudah lama ada sebagai cerita dari masa ke masa. Patah tumbuh dan hilang berganti, begitulah. Dibentuk dan dibina sekelompok manusia dengan kesamaan latar belakang dan tujuan, jaringan kepentingan ini di satu titik telah dapat menggeser persamaan hak berdasarkan kemanusiaan menjadi persamaan hak menurut ego demi hegemoni dan eksistensi suatu entitas.

Rantai jaringan kepentingan secara institusional bisa memutus nilai profesionalisme dan menyuburkan bibit nepotisme. Ketika rezim orde baru berkuasa, sangat jelas terlihat bagaimana penetrasi militer menyentuh sendi kehidupan saat itu bahkan hingga ke tingkat akar rumput. Lalu lambat laun rezim ini dinisbahkan sebagai rezim otoritarianisme yang akhirnya tumbang oleh people power 1998. Dari aspek kehidupan sipil kita dipertontonkan pada pola pengambilan kebijakan oleh petinggi sebuah lembaga yang mendasari pada kesamaan almamater, asal daerah, atau hubungan darah kekeluargaan. Pola ini membentuk sebuah dinasti yang menegasikan budaya kerja profesional. Dan pada akhirnya semua tinggal soal waktu, menunggu kehancuran.

Sebetulnya dari kacamata saya yang masih awam ini, tidak ada yang salah dengan jaringan kepentingan, sepanjang ia tidak dibawa ke dalam lingkungan yang membutuhkan keahlian suatu bidang tertentu dimana setiap orang, siapapun, berhak mengupayakanya secara fair memenuhi standar baku yang ditetapkan. Karena apa yang disebut sebagai fairness seharusnya hanya ada saat kita memiliki kemampuan yang dibutuhkan, bukan karena siapa kita dan soal latar belakang.

Tulisan ini terdengar utopis di tengah suasana yang tidak bisa menjamin apapun. Negeri kita memang seperti tanpa 'Recht' justru di saat kita ingin membangun negeri lewat karya sebagai anak bangsa. Profesionalisme jangan dibiarkan terpasung oleh jaringan kepentingan kaum Vocal Minority yang menyabotase persamaan hak. Lewat karya intelektual kita bisa menggulingkan mereka yang dengan itu juga mereka bisa meniti posisi mereka kini. Upaya perlawanan ini bisa dibilang seperti yang disebutkan Bung Karno sebagai perjuangan melawan bangsa sendiri yang lebih sulit dari melawan bangsa penjajah.

Read more »

9.29.2012

Memoar Diklat AR

Hidup penuh kejutan. Seperti baru kemarin aku menyoal pekerjaan tengik yang aku geluti, tapi semua sensasi emosi itu raib dalam hitungan hari, yakni saat aku diikutsertakan dalam pendidikan dan pelatihan calon Account Representative di lingkungan Kantor Wilayah Ditjen Pajak Sumatera Selatan dan Kep. Bangka Belitung. AR! Walau belum tahu kapan diangkat, tapi setidaknya ada harapan.

Aku masuk dalam angkatan III beserta 30 orang lainnya. Lumayan sekalian bisa menambah teman baru dari banyak daerah, termasuk dari Tanjung Pandan, kota terjauh dilingkungan kanwil ini. Banyak persiapan awal yang aku susun mulai dari mengunduh materi, mempelajari dan membaca supaya lebih ada gambaran waktu menjalaninya. Diklatnya berlangsung dari 24 s.d 28 Sept kemarin di daerah Sukabangun Kec. Sukarami. Palembang. Kejutan kembali hadir!

Selama diklat berjalan, aku berusaha untuk fokus menimba ilmu bukan nilai, prinsip yang sudah kupegang sejak kuliah kemarin. Fokus perhatian aku satukan selama diklat pada penjelasan tutor dan membaca modul. Sebisanya aku memberanikan diri melawan negative selftalk waktu tidak mengerti dan mengajukan pertanyaan. Agak berat pada awalnya, namun akan nyaman dengan sendirinya. Diklat ini memberi cukup gambaran utuh tentang langkah awal, modal dan persiapan kalau nanti jadi AR.

Selain karena AR, yang membuatku excited adalah karena ini kali pertama aku diklat kembali sejak 6 tahun lalu diklat prajabatan di Depok. Dengan persiapan, sikap optimal dalam menjalani proses dan excitement semasa diklat ternyata kejutan kembali hadir lagi. Aku dinyatakan sebagai peserta terbaik dengan rerata nilai pre-test dan post-test tertinggi sebesar 76,67. Alhamdulillah.

Mungkin sesudah ini kejutan yang benar- benar mengejutkan bisa jadi muncul, kita tidak pernah tahu. Bisa jadi bila nanti diangkat akan ditempatkan di lokasi terjauh yang tidak semua orang mau. Apapun kalau begitu, hidup memang tidak selalu seindah yang kita tata, namun belajar dari pengalaman menyoal pekerjaan tengik hingga diganjar diklat AR dan dihadiahi predikat peserta terbaik, singkatnya, hidup memang penuh kejutan.

Read more »

9.26.2012

Siapa AR?


Siapapun yang bernama dengan inisial AR percayalah ini bukan tentang anda. AR yang saya tuliskan ini adalah singkatan dari Account Representative, sebuah jabatan baru dalam struktur Ditjen Pajak yang lahir sebagai anak kandung modernisasi sistem perpajakan yang bergulir sejak satu dekade silam. AR, dalam perjalanannya telah menjadi satu posisi jabatan dengan variasi dan rentang pekerjaan yang terbanyak dibanding yang lain di internal tubuh Ditjen Pajak atau mungkin di institusi lain.

Peran AR menjadi sangat sentral terkait visi utama Ditjen Pajak sebagai institusi yang diamanahi untuk mengumpulkan uang demi kepentingan penyelenggaraan negara. Secara umum ada tiga peran AR, yaitu; Ujung tombak pelaksanaan tugas Ditjen Pajak, Penghubung Ditjen Pajak dengan Wajib Pajak dan Personel yang diandalkan Republik untuk mengumpulkan uang bagi negara.

Tugas AR menuntut keterampilan teknis perpajakan yang paripurna, stewardship yang memadai serta kemampuan menyusun prioritas yang baik dan aplikatif. Seorang AR akan selalu dibutuhkan dalam operasional kantor pelayanan pajak mengingat pelaksanaan administrasi pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan wajib pajak akan berjalan dalam satu siklus yang akan selalu merujuk ke AR sebagai terminal semua klarifikasi dan konfirmasi. Selain itu, adanya tugas ad hoc yang kadang menuntut peran AR juga tidak bisa diabaikan. Sebut saja misalnya Sensus Pajak Nasional, Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak atau Penyuluhan dan Sosialisasi.

Menariknya adalah fakta bahwa jabatan AR memungkinkan seseorang mengasah jiwa melayani atau stewardship lewat kemampuan interpersonal sehubungan dengan banyaknya wajib pajak yang datang berkonsultasi atau datang sekadar untuk mengekspresikan kegusaran dan keengganan membayar pajak. Dalam konteks inilah AR menjalankan peran sebagai penghubung antara negara dengan wajib pajak yang ia kelola, yaitu bagaimana agar wajib pajak tersebut bersedia menyetor pajak ke kas negara tanpa tergiring opini miring terkait kepercayaan pengelolaan uang pajak oleh negara.

Tugas AR jelas tidak mudah dan tentu berat, khususnya dengan beban target penerimaan yang cenderung naik setiap tahun dan variasi pekerjaan yang beragam. Tapi bagaimanapun, posisi AR adalah satu bentuk langkah pembenahan berorientasi pelayanan yang diusung Dirjen Pajak. Pembenahan ini tentu akan berdampak optimal bila berjalan linier antara Ditjen Pajak dan Wajib Pajak. Ditjen Pajak melalui keberadaan AR sudah memulai itu. Bagaimana dengan wajib pajak?

Read more »

9.23.2012

Komoditi Provokasi: Agama


Kita kini seperti tergagap dalam huru hara isu keberagaman beragama, padahal sejarah mencatat bahwa hal ini bukan barang baru bagi negeri ini sejak dahulu ketika para bapak bangsa duduk bersama merumuskan dasar negara. Dibanding dulu, sajian berita soal kekerasan terhadap pemeluk suatu ajaran agama atau penistaan sebuah agama tidaklah semarak satu dekade belakangan.

Situasi ini bagai masa sulit atau predicament dalam sejarah kemajemukan bangsa Indonesia. Dan dari sejarah dunia kita belajar bahwa isu agama adalah isu turunan dari manajemen yang salah urus dan kepemimpinan yang tidak becus. Isu derivatif ini bila dibiarkan akan makin mengemuka seperti masalah yang mengaburkan muasal utamanya.

Pada dasarnya, setiap warga negara berhak untuk hidup aman dan tenang dalam menjalankan ibadah. Rasa aman ini bukan hanya bagi mayoritas Islam atau mayoritas Jawa, melainkan untuk semua, apapun agama dan etnisnya. Dan pemerintah berkewajiban dalam menciptakan rasa aman tersebut. Contoh yang bisa diambil adalah ketika Nabi Muhammad  SAW memimpin Madinah semua hak minoritas Yahudi dan Nasrani terjaga. Tiga agama samawi ini hidup berdampingan. Melihat fenomena yang ada kini jelas bahwa hak dan kewajiban mendasar tersebut gagal dipenuhi.

Namun apa pantas bila serta merta kekacauan ini kita tumbalkan pada pemerintah? Atau kepada rakyat yang mudah terprovokasi? Bangsa kita seperti terjangkit tunanurani bila terus saling menyalahkan antar pihak, sehingga menjadi sasaran empuk provokator yang memang menyimpan benci pada satu ajaran agama tertentu. Dan inilah sebab kerusuhan agama bisa tumbuh subur.

Bila mengharapkan pihak pemerintah tak kunjung membuahkan hasil. Maka setidaknya kita tidak boleh menjadi korban keadaan yang rentan terprovokasi. Kebesaran hati menerima keberagaman hidup beragama menjadi penting, sama pentingnya untuk menjalankan ajaran agama yang kita yakini masing- masing. Agar tercipta kesan dalam tindakan bahwa sebagai mahluk yang mengaku bertuhan, kita menginginkan perdamaian yang selama ini mungkin baru sebatas slogan.

Read more »

9.22.2012

The Shifted of Apology


Tampaknya kata maaf kini sudah bergeser maknanya dari soal kelapangan hati menjadi sebuah basa basi diksi. Sudah saatnya Maaf ditempatkan kembali di derajatnya yang tinggi sejajar dengan ketulusan dan keikhlasan.

Ketika dua politisi berdebat sengit saling nyinyir memojokkan sampai mengangkat isu panas yang menohok nurani, pada akhirnya selesai dengan kata maaf.

Ketika seorang anggota forum online dengan gencar memfitnah atau menggiring opini tanpa dasar dan kemudian terbukti salah, pada akhirnya selesai dengan kata maaf.

Ketika seorang pejabat negara melakukan korupsi yang menciderai amanah dari rakyat, ia ditangkap dan dimuka pengadilan ia selesaikan dengan kata maaf.

Ketika seorang atasan menggebrak meja didalam rapat. Braaakk!!! Suasana hening seketika dan berlanjut dengan ucapan maaf sang atasan karena kelepasan.

Ketika dua bocah kecil bertengkar hebat hingga adu jotos, tak lama kemudian mereka sudah saling bermain kembali seperti tidak terjadi apa- apa. Polos!

Maaf. Kata ini begitu mulia dan tidak semua orang dapat mengucapkannya dengan tulus. Tapi kini semua bisa dengan mudah melafalkannya sebagai penutup masalah, cuma sebatas melafalkan tanpa isi saja tanpa meresapi bahwa tindakan dan atau lisan telah mungkin begitu dalam menyakiti orang lain. Sementara orang tersebut mungkin tetap akan memaafkan, namun siapa yang jamin ia akan melupakan? Karena kita bukan seperti dua bocah yang sedang berebut mainan.

Read more »

9.20.2012

Office Is Not A Homelike


Insincerity, fakeness, individualism. Saya menulis tentang dunia kerja. Dan tiga kata diatas adalah kebenaran absolut yang selalu ada di lingkungan kerja. Bekerja bisa jadi bagian yang kurang menyenangkan dari tahapan menjadi tua dan mau tidak mau setiap kita harus masuk kedalamnya dengan alasan yang sudah sama kita pahami. Dunia kerja adalah dunia yang hanya akan melihat apa yang mampu kita hasilkan tanpa mau mengerti bagaimana dan apa yang terjadi didalam hidup. Ini pun makin diperberat dengan realita bahwa kompetisi demi status dan materi selalu akan menegasikan nilai kemanusiaan dan empati demi kepentingan diri sendiri.

Jangan tanya atau harap tentang ketulusan karena setiap pelaku dunia kerja sudah terlalu sibuk dengan orientasi pribadi sebagai tuntutan hidup yang harus dipenuhi. Berharap ketulusan hanya akan berakhir kecewa, karena dunia kerja bukan bangku sekolah dimana dulu kita berteman tanpa tendensi atau udang di balik batu. Singkatnya, dunia kerja akan terus membuat kita terkotak dalam label yang akan diingat orang, dan ketika label itu hilang, maka sudah tidak ada lagi alasan orang untuk menjalin jaringan kepentingan dengan kita.

Proses pembelajaran dlm dunia kerja berlangsung dengan cara yang pedas dan keras. Jangan terlalu berharap untuk mendapat arahan atau didikan dengan cara yang kekeluargaan, tapi berharaplah bahwa kita bisa berbesar hati untuk mau belajar dengan cara dan lingkungan yang ada. Ini pun bukan tanpa resiko, sebab bisa jadi upaya kita untuk menjadi tekun dan bertanggung jawab dianggap sebagai ancaman bagi orang lain, yang seperti diluar batas logika. Disini, batas antara ketulusan dan kebulusan nyaris tipis. Senyum, lisan dan tindakan sudah tidak saling sejalan. Terimalah kenyataan, belajarlah dari kenyataan. Nyata sekali bahwa dunia kerja tidak akan bisa sehangat rumah kita.

Prinsipnya, bagi saya, adalah tidak akan mampu pelaku insincerity, fakeness & individualism mengganggu rezeki kita, karena rezeki yang atur adalah ALLAH. SWT. Bersabar adalah pilihan terbaik sepanjang harga diri tidak diganggu. Tekanan, diremehkan atau dipandang rendah. bila dijalani dengan sabar, tenang dan pengharapan akan dapat menjadi wahana untuk belajar tentang empati, tanggung jawab dan keteguhan memegang prinsip. Pribadi yang bisa bertahan di dunia kerja bukanlah mereka yang terpintar atau terkaya namun yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan.

Read more »

9.16.2012

15 Tahun...


Ada banyak hal yang bisa diceritakan bersama seharusnya setelah 15 tahun tak berjumpa. Namun semua memang soal hati. Tanpa ada itikad baik dan kesediann memperluas sudut pandang, semua akan sia- sia, walau dalam satu abad sekalipun tak bertemu, semua masih akan tetap sama, dendam kesumat yang membatu? prasangka tak berkesudahan? What is it lying inside?? Baiklah, yang penting niat baik telah tertunaikan. Bukan kuasa manusia untuk membolak balikkan hati.



Hidup akan tetap terus berjalan seiring laju waktu. Terlalu lama terkungkung masa lalu akan membuat gelap jalan di depan. Mereka hanya korban dari hati yang terkunci dan prasangka yang terbelenggu. Dan saya adalah manusia yang tidak akan pernah takut bermimpi, terus bertindak dan berdoa demi hari depan yang lebih baik. Sama seperti siapapun yang sejalan dengan pikiran saya. Karena inilah hakikat hidup, and.. It is great to be alive! Thanks...

Palembang
September 2012

Read more »

Pulau Kemaro

Ada sebuah pulau di tengah Sungai Musi, sekitar 6 km dari Jembatan Ampera ke arah timur. Pulau Kemaro namanya,dengan ukuran seluas 24 Ha, pulau ini adalah pusat ibadah umat Budha Sumatera Selatan, terutama bila tiba perayaan Imlek. Pagoda 6 tingkat, klenteng serta patung tokoh seputar kepercayaan Budha dibangun di pulau ini.

Saya menunjungi Pulau Kemaro ini bersama dengan 4 orang teman yang kebetulan lagi tugas ke Palembang. Kami menyewa kapal ketek seharga Rp 130.000 untuk perjalanan pulang pergi. Semula harga yang ditaruh adalah Rp 250.000 harus negosiasi alot baru bisa turun.

Waktu tempuh sekitar 30 menit melintasi Sungai Musi, pemandangan tepian kiri kanan cukup beragam, mulai dari sentra pasar 16 Ilir, rumah panggung, kios terapung, anak kecil yang mandi di tepi sungai hingga BUMD PD Pusri Sriwijaya. Arus gelombang lumayan kencang dan hari belum terlalu terik, Wonderful!!

Begitu tiba kami langsung memasuki gerbang klenteng dengan patung naga khas China. Berkeliling di beberapa titik sambil berpoto lalu duduk santai menikmati kelapa muda. Sayangnya, sarana toilet disini tidak bagus, tanpa air dan kurang terawat. Tak lama kami pun pulang.

Karena melawan arus maka jarak tempuh jadi lebih lama. Whatever.. It was nice to be there.. :-) Kemaro Island, Palembang. Semoga bisa jadi lebih unik dan terawat lagi. Because this island is too good too pass up if you visit Palembang anyway.. Enjoy!!

Read more »

9.14.2012

Hari Ini.

@05.00. Seting: Kamar Bujangan.
'Alarm rutin' dari yang terkasih mendentumkan bass intro lagu dari Rob Thomas. Tak lama, Pagiku pun bermula. 14 September hari ini. Beranjak bangun, bergegas sholat, sejenak wajib lapor pagi, lalu pergi mandi. Bersiap dan kemudian meluncur bersama Kalajengking Biru yang setia menemani.

@08.00. Seting: Kantor Bujangan.
Rutinitas sosial dimulai. Fleksibilitas karakter mulai dipakai. Harus adaptif dan tahan banting. Setumpuk surat harus saya catat, amplopi lalu kirim, sejumlah konsep harus diantar ke pejabat penandatangan. Dan isian administrasi Sensus saya lengkapi dan laporkan. Hasilnya, menjelang Jumatan semua usai namun yang lain menjelang. Great!!

@15.00. Seting: Ruang Rapat.
Evaluasi pekerjaan. Secara kuantitas msh jauh dr yg lain, hanya 621 yang berhasil di sensus hingga 'sudden cut-off'. Tapi saya puas sudah menikmati ragam sensasi di lapangan. Itu sudah alhamdulillah. Walau total target penerimaan dari sini mungkin bisa lbh tinggi. InsyaALLAH ada jalan rejeki lain. Amin.

@22.00. Seting: Kamar Bujangan.
Usai makan Bebek Pedas, sesekali menikmati hidup. Sambil menunggu jawaban wajib lapor yang ku tunggu. Sambil menatap dalam gelap kurenungi sudah pas 25 umur ku. Masih jauh dari bijak, tapi cukup banyak pelajaran dari hari kemarin sebagai panduan bersikap, bertindak dan berpikir.

'What done is done', masa lalu sudah mati, hari depan juga tak bisa berjanji, cuma ada hari ini untuk disyukuri. Bismillah saja, sebagai mahluk yang bertuhan.

Read more »

9.12.2012

Tukang Surat

Ini bukan tentang petugas pos, lalu apa ya? Mungkin sekadar cara saya menertawakan nasib. Tentang bagaimana bahwa dalam usia 25 tahun ternyata saya terdampar di kota ini dengan status sbg tukang surat di kantor pajak yang mentereng. Ya, tukang surat, saya tidak sedang mengigau dan anda sepenuhnya dalam kondisi sadar.

Sudah 8 bulan saya di kota ini, setelah 8 tahun yg saya habiskan di Jakarta. Tadinya saya kira dengan bekal pendidikan yg lbh baik, saya akan berjibaku dengan pekerjaan teknis tempat segala kesempatan menerapkan ilmu masa kuliah kemarin berada. Tapi nyatanya hingga kini, saya hanya dipercaya sebagai tukang pengantar surat antar lantai antar ruangan, penatausaha dokumen dan laporan. Kalau sedang beruntung bisa naik kelas untuk ikut kunjungan ke lapangan. Atau seperti saat ini, jadi petugas sensus pajak ke lapangan, dari pintu ke pintu.

Tapi yaa.. Sudahlah, saya coba melihat ini sebagai latihan berbesar hati. Bahwa sebagai pegawai baru saya adalah yang dianggap pantas menerima bagian pekerjaan tengik yang harus ada dalam satu hirarki. Tengik, menyebalkan dan sekaligus sedikit membuat saya bertanya "sampai kapan??". Sekuat apapun saya berontak kecewa, saya harus bertahan karena saya butuh uang. Selamat datang di kehidupan nyata! Nyata bahwa tanggung jawab ini rentan membuat saya tidak makin pintar. Pembodohan terselubung. Konsekuensi dunia birokrasi. Atau apapun istilahnya. Saya cuma mau jujur saja dan menerima fakta agar tetap sabar dan bersyukur.

Read more »

9.02.2012

Intuisi Sepi

Sayangku...
Bersamamu adalah menikmati setiap waktu berdua denganmu walau dalam diam sekalipun. Karena aku tahu di saat yang sama hati kita sedang berbicara.

Bersamamu adalah mendengarkan renyah tawamu, karena bahagiamu adalah bahagiaku walau dengan sadar aku katakan bahwa aku belum berani menyentuhmu hingga kau halal bagiku.

Bersamamu adalah meresapi suasana sederhana di tepi jalan sembari menghabiskan kudapan yang seadanya. Karena kita tahu bahwa bahagia itu kita yang buat, bukan apa yang orang katakan.

Bersamamu adalah membicarakan tentang hidup dan cita- cita hari esok, yang mungkin masih jauh di ujung sana namun bagiku hadirmu kian memberi alasan untuk terus maju.

Bersamamu adalah menghadapi hidup dengan berani, dari kalimat- kalimat sederhana yg biasa kita bahas soal tantangan dan beratnya rintangan barubah menjadi optimisme kehidupan.

Bersamamu adalah mensyukuri hidup dan kehidupan aku, kau lalu kemudian KITA, sayangku...

Read more »

9.01.2012

Insensitif

Makin kesini, otak ku makin selektif memilah kejadian, suara, omongan atau isu mana yang baik untuk dicerna. Bila dulu hasil ujian untuk mata kuliah Pajak Pertambahan Nilai pernah hanya 56 sudah membuat uring- uringan, insecure dan cemas. Kini, hasil pekerjaan di kantor yang tidak seberapa sempurna pun masih bisa kubawa dengan santai.

Mungkin karena sudah menjelang seperempat abad ini. Kalau menoleh ke belakang sejenak sudah cukup panjang jalan yg sudah terlewati. Tapi, jalan didepan juga terlihat masih panjang mungkin seperti tidak berujung. Kemarin adalah pelajaran, dan hari depan masih misteri. Bagus lah ini ku kira, karena enteng rasanya bisa terbebas dari beban pikiran yang tidak seharusnya jadi beban.

Atau mungkin karena ini terarah dengan sendirinya karena dorongan doa juga logika yang melihat apa apa yang lebih penting, serta patut diupayakan dengan berpijak pada pengalaman serta pelajaran hari kemarin. We are not who we are now without the past we experienced. Atau bisa jadi dengan ini semua, aku menunjukkan kepedulian ku dengan cara yang lain
sebagaimana hidup telah mengajariku.

Read more »

8.13.2012

I Go Mobile

Sebetulnya sudah sejak lama aku berpikir untuk membeli gadget yang sesuai dengan hobi, dan alhamdulillah hari Jumat kemarin bisa terwujud. Aku membeli tablet PC Samsung Galaxy Tab 7.7; dari seorang teman yang memberi harga khusus lebih miring dari harga toko. Tentunya setelah pertimbangan matang dan sedikit keberanian untuk mencoba lebih mobile, maka resmi sejak kemarin aku berkutat memahami gadget ini dan postingan ini pun dibuat sambil santai duduk... things seem to be different since then...

Setelah cukup memahami fitur dan penggunaan, setidaknya aku makin mantap dan yakin bahwa this gadget meets my need, dimulai dari fitur built-in yang memudahkan banyak keperluan seperi membaca artikel, browsing, latihan TOEFL, hingga blogging. Jangan bahas lg soal aksesibilitas karena hal itu sudah fitur mutlak gadget manapun, yang menjadi unggulan disini adalah yang berkait dengan gaya hidup, bayangkan kita bisa blogging on the spot, upload photo dan mempostingnya dalam satu waktu tanpa harus menunggu kesiapan materi.

Gadget tablet ini juga memungkingkan tipikal pribadi yang gemar membaca atau mengasah pengetahuan, karena dengan fasilitas Android Market dari developernya, kita bisa mengakses ragam aplikasi sesuai keinginan, seputar apapun tersedia, fitur religius, ekonomi, hiburan hingga game. Atau bagi yang sibuk maka aplikasi semacam personal assistant dapat dicoba untuk memudahkan pengturan kegiatan harian. Sebetulnya, gadget tablet PC serupa ini sudah lama ada, dipelopori Apple Steve Jobs, namun harganya termasuk mahal, baru setelah Samsung turun sebagai pemain pasar maka muncullah gadget typo dengan harga yang lebih murah.

Satu hal lain yang menjadikan Galaxy Tab istimewa adalah screen yang jernih dan terang, sehingga sangat dianjurkan untuk memasang anti scratch pada layarnya, dan ditambah leathet case maka akan menambah proteksi fisik gadget ini. Sementara piranti internal yang terasa masih belum optimal adalah baterai yang cepat panas dan (mungkin) bisa dibilang boros. Recharging sampai penuh dengan pemakaian standar bisa bertahan hingga sekitar 1 hari. Tapi setidaknya dibandingkan dengan notebook atau laptop maka ini sudah memuaskan. Sejauh ini itu saja yang aku lihat belum optimal, selebihnya Galaxy Tab 7.7 ini akan sangat membantuku menyalurkan hobi dan kebutuhan.

Dan ini adalah postingan pertama yang dibuat secara online dengan gadget ini, oh ya, poto diatas diambil di saat setelah sholat Zuhur di Masjid Agung Palembang..

Read more »

8.06.2012

Jalan Panjang Hidup Kakek

Ia meninggalkan kampung halamannya, di negara India tepatnya Desa Matul,Distrik Nanded. Di wilayah yang sekarang bernama Maharashtra menuju Madras atau yang kini bernama Chennai. Perjalananya tidak berhenti sampai disitu, naluri perantauannya membawanya berlayar bersama seorang teman menuju Temasek hingga ke Hindia Belanda (Indonesia kini yang dulu masih menjadi jajahan Belanda) bermodal seadanya dengan menggantungkan hidup sebagai kuli angkut dan penjaga kedai di daerah tujuan hingga kemandirian membuatnya menjalani hidup sebagai pedagang. Saat itu mungkin sekitar tahun 1930an.

Hidup berpindah- pindah mencoba peruntungan dan mengadu nasib dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Madras (India), Temasek (Singapura), Sumatera (Palembang) lalu akhirnya menetap sebagai pedagang disebuah toko sederhana di Baturaja. Dan disini pula ia bertemu wanita bersahaja asal Jawa Tengah yang kelak menjadi istrinya. Di kota Baturaja ini usaha dagangnya berkembang penuh menjadi sandaran ekonomi keluarga. Setelah menikah ia sudah tidak pernah lagi pulang mengunjungi keluarga nya di India, terakhir adalah ketika ia masih berstatus bujangan, kala itu pulang ke India dengan modal uang pas- pasan dan sebagai pegangan ia membawa koin emas yang disisipkan dibawah tapak sepatu sehingga aman dari perampokan atau perampasan.

Kemudian ia kembali merantau sejalur dengan jalan yang sudah ia tempuh dan akhirnya kembali ke kota yang sama, Baturaja dan menetap sepenuhnya meninggalkan semua cerita masa kecil nya di India. Keluarganya, saudaranya, teman sepermainan atau musholla yang biasa ia jadikan sarang persembunyian untuk beristirahat sudah tidak akan pernah ia lihat lagi, hanya bisa dikenang. Baturaja menjadi tempat tinggalnya meneruskan hidup, membangun kehidupan bersama istri dan anak- anaknya. Hingga ia tutup usia pada 1994, meninggalkan seorang istri, 8 orang anak perempuan, 1 orang anak lelaki dan 10 orang cucu. Selanjutnya, hidup terus berlanjut dan menyimpan kenyataan bahwa cerita hidup generasi sesudah dirinya telah sejak jauh diawali dari keputusannya untuk merantau ke tempat yang jauh dari asal nya.

Pria itu bernama Ahmad, dengan nama kecilnya Amo. Nama kecil yang justru terbawa melekat hingga ke papan nisan peristirahat terakhirnya. Di tulang sulbi nya telah dituliskan oleh ALLAH.SWT, generasi yang akan ia bawa dalam cerita hidupnya, generasi yang akan berpindah dari sulbi ke rahim sang istri hingga akhirnya muncul kedunia sebagai anak- anaknya. Pria itu adalah kakekku, ayah dari almarhumah Ibuku. Aku masih kelas 3 SD ketika terakhir dapat mengingatnya dengan jelas duduk di kursi roda dengan mata lebar bundar, hidung mancung melengkung dan kulit berwarna khas India Dravida, dan saat itu justru adalah ketika ia sudah dekat dengan masa- masa penutup usianya.

Kini, kadang sering terbesit dalam hati, jika saja aku diberi kesempatan untuk berbincang dengannya sebagai laki- laki dewasa untuk sekedar mendengar pengalaman hidup beliau soal keberanian menjalani hidup di tanah perantauan, perjuangan melawan rasa rindu pada mereka yang terkasih di tanah kelahiran atau soal sedikit cerita bagaimana ia bisa meminang nenek, wanita asal Jawa Tengah (Kebumen) yang bersahaja. Tapi, semua tidak mungkin bisa terwujud. Rindu tinggalah rindu, angan tinggalah angan, nyatanya bahkan kami hidup didua era berbeda dengan sedikit sekali irisan masa. Adapun cerita singkat perjalanan hidup beliau ini aku tuliskan dari hasil obrolan dengan Nenek dalam beberapa kali kunjungan kalau aku sedang pulang ke Baturaja.

Jujur saja, aku ingin menjalin kontak dengan keluarga nya yang mungkin masih ada di Negeri India sana, bukan tidak mungkin suatu saat aku datang berkunjung kesana menemui saudara- saudara kakek atau keluarganya yang masih hidup. Bagiku, perjalanan panjang almarhum kakek hingga akhirnya menetap di Baturaja adalah bagian unik dalam sejarah hidup asal muasal keluargaku yang memberi pertanyaan besar, apakah mungkin di India sana keluarga almarhum kakek juga merasa hendak bertemu muka dengan anak keturunan saudara mereka?? yang pindah menetap di Indonesia sejak berpuluh- puluh tahun silam, Amo namanya...

Read more »