3.28.2015

Melanjutkan Studi di UNSOED

Purwokerto menyambut kedatangan kami dengan hangat pada tanggal 25 Februari 2015 sekitar pukul 21:00 malam. Kereta Api Bima yang membawa kami dari Stasiun Gambir Jakarta menjadi saksi bagaimana saya dan istri menempuh perjalanan yang nyaris tidak pernah terlintas dalam pikiran kami kala itu. Ya, berpindah dari Pangkal Pinang (Kepulauan Bangka Belitung) menuju Purwokerto (Jawa Tengah) jelas tidak pernah ada didalam rencana hidup kami. Tapi, ternyata ALLAH.SWT berkehendak lain, disanalah akhirnya cerita hidup berlanjut.

Pekan ini genap sebulan kami tinggal di Purwokerto…

Kamis, 12 Februari 2015 di Koba, Bangka Tengah.

Saya sedang melakukan advisory visit ke sejumlah Wajib Pajak di daerah Koba, Bangka Tengah (sekitar 45 menit perjalanan dari Pangkal Pinang) bersama atasan dan sejumlah rekan kerja lainnya. Ini merupakan tugas rutin saya sebagai Account Representative di KPP Pratama Bangka. Tetapi sejak semalam sebelumnya, pikiran saya sudah dipenuhi dengan rasa penasaran soal pengumuman hasil seleksi beasiswa S1 di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Purwokerto, seleksi itu saya ikuti dengan pertimbangan yang sederhana: because being back to school is my true calling. Mengapa UNSOED? Karena saat mendaftar, cuma kampus ini yang paling jelas jadwal seleksinya. Saya hanya tidak suka berada didalam ketidakpastian sehingga saya memilih mendaftar disitu. Ini sudah saya diskusikan dengan istri dan ia bersedia mendukung. Rencana awalnya, saya ingin kembali ikut D-IV STAN yang mungkin dibuka April ini, tapi saya kira- kira yang terbaik adalah yang paling cepat datang didepan mata.

Hari itu tanggal hasil akhirnya diumumkan. Sejak awal saya bersiap untuk berserah diri karena peminatnya ternyata 260an orang memperebutkan 70 kursi. Saya tidak mau habis dimakan rasa percaya diri berlebih yang tidak lagi menyisakan ruang untuk berpasrah. Menjelang pukul 13.30 hasil diumumkan, dan dengan meminta bantuan istri yang mengakses internet dari rumah saya merasa begitu lapang bahwa nama saya ada disitu di nomor urut ke-9. Ini mimpi yang menjadi nyata. Saya bergembira, bahkan sangat bergembira. Ekspresi kegembiraan saya yang paling gila adalah reflek bersujud syukur diruangan Wajib Pajak yang saat itu tengah kami kunjungi. Untuk beberapa menit lamanya, saya berbulan madu dengan kabar itu. Pikiran saya jauh melesat mundur ke masa- masa penuh penantian dahulu. Sepuluh (10) tahun lamanya saya menanti untuk bisa merasakan kuliah Sarjana yang diakui oleh kantor. Saya harus terima itu karena di DJP urusan melanjutkan sekolah plus pengakuannya tidak semudah di kantor lain.

Beberapa menit kemudian saya sudah ambil alih diri saya lagi sepenuhnya. Sejumlah pekerjaan saya selesaikan dengan baik dan akhirnya kembali pulang ke Pangkal Pinang, saya cukup terkejut menyadari bahwa ini adalah perjalanan visit saya yang terakhir. Dalam perjalanan pulang itu atasan saya sedikit bercerita tentang bagaimana Kota Purwokerto itu, sebuah kota yang dekat dengan Gunung Slamet. Saya pun mulai menyusun rencana perjalanan dan persiapan kepindahan kami dari Pangkal Pinang. Perlu persiapan matang soal ini karena banyak yang perlu diurus, mulai dari mencari perusahaan Jasa Ekspedisi, mengurus perijinan surat- surat, pesan tiket pesawat dan kereta api, serta yang paling rumit: packing barang pindahan rumah beserta perabotannya. Tersisa waktu 2 (dua) minggu lagi sebelum perkuliahan dimulai. But to me the next two weeks were just so close away.

Selasa, 24 Februari 2015 di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung

Kasak- kusuk jadwal penerbangan Lion Air membuat saya dan istri merasa was- was. Kami memesan tiket sekitar seminggu silam sebelum kejadian massive delay menimpa maskapai ini. Keberangkatan kami pesan untuk besok hari pukul 08.00. Tiga hari terakhir saya rajin menelepon Call Center Lion Air untuk memastikan perkembangan positif kondisi penerbangannya tepatnya untuk besok pagi.

Dikantor, hari ini menjadi hari terakhir saya masuk kantor, meja kerja telah saya rapikan dan komputer kantor sudah saya rapikan file- file nya sehingga memudahkan siapapun yang menggunakannya nanti. Meja kerja itu adalah meja kerja yang paling minimalis diruangan, sengaja saya buat begitu karena memang saya suka begitu. Sekilas seperti tidak ada aktivitas kerja disana. Tapi siapa yang kira bahwa di meja itulah alhamdulillah sebagai Account Representative saya berhasil memberikan fresh money sebesar Rp1,4 Miliar bagi negara melalu Extra Effort dalam kurun waktu 19 bulan terakhir (20 Mei 2013- 24 Februari 2015).

Saya mengadakan syukuran kecil- kecilan dikantor dengan sajian lontong sayur untuk disantap bersama semua rekan kerja di KPP Pratama Bangka saat sarapan pagi hari itu. Didalam kesempatan itu, saya diberi waktu untuk menyampaikan pesan dan kesan plus ucapan pamit kepada semua rekan yang disambut dengan pemberian souvenir dari mereka yang sangat bermanfaat bagi saya (belakangan saya terharu saat membuka souvenir itu, sebuah sepatu lari warna hijau merek Fila, mereka ternyata ingat bahwa saya sangat gemar jogging). Sambil menikmati lontong sayur, saya mengingat- ingat kembali saat saya memasuki kantor ini. Perpindahan saya ke kantor ini hampir berbarengan dengan pernikahan saya, sehingga saya langsung mengajak istri saya pindah serta ke Pulau Bangka ini.

Sore harinya, saat menjelang jam pulang kantor untuk kali terakhir saya menemui satu per satu rekan kerja dan berpamitan. Dua pegawai senior (Ibu Kasminah dan Ibu Nuraidah) memeluk saya dan menitikkan air mata saat saya berpamitan. Demikian berkesan saya bagi beliau berdua, saya pun memang merasa mereka memperlakukan saya bak anak sendiri selama dikantor. Dan saya pun mohon pamit kepada atasan saya (Bapak Donny Cahyo Nugroho), beliau memberi wejangan untuk menjaga semangat dan agar memelihara mindset yang besar untuk kehidupan yang lebih baik. Saya dan beliau memang kerap mengisi perjalanan dinas dengan obrolan yang bersifat softskill. Semoga ALLAH.SWT membalas kebaikan orang-orang yang telah baik kepada saya dengan kebaikan yang lebih baik lagi.

Rabu, 25 Februari 2015 di Bandara Internasional Soekarno- Hatta Cengkareng

Kami baru saja landing sekitar pukul 09.30 tadi. Alhamdulillah perjalanan lancar, maskapai tidak terlambat dan cuaca cerah. Tujuan kami berikutnya adalah Stasiun Gambir Jakarta Pusat, namun karena jadwal kereta kami masih 7 jam lagi. Kami begitu santainya menikmati suasana bandara. Barang- barang yang kami bawa cukup banyak, tapi tidak terlalu menyulitkan. Semua perabot telah dikirim menggunakan truk yang kami sewa. Di perjalanan kami selalu menyempatkan makan buah- buahan yang kami siapkan sejak tadi malam. Khususnya istri, dengan kondisi kehamilannya maka membawa makanan adalah sebuah keharusan agar tidak kesulitan didalam perjalanan. Dengan menggunakan troli bandara kami membawa barang dan menuju KFC Bandara untuk bersantai sekaligus brunch.

Tiket menuju Stasiun Gambir sudah kami pesan sejak dari dalam bandara tadi, kami menumpang DAMRI yang membawa kami meninggalkan Bandara Soekarno- Hatta sekitar pukul 11.30. Waktu tempuh diperkirakan 1 jam itu artinya kami masih punya banyak waktu di Stasiun Gambir nanti. Lama tak melintasi jalan di Jakarta ternyata Jakarta masih sama seperti sejak dulu, macet dimana- mana. Sekitar tengah hari kami tiba di Stasiun Gambir Jakarta Pusat dan setelah bersantai sejenak kami mampir ke kedai warung nasi padang di lorong dalam stasiun untuk makan siang lalu sholat zuhur bergantian di Musholla stasiun. Kemudian, kami menunggu dilobi sebelum masuk kedalam peron stasiun setelah sebelumnya mencetak tiket di mesin cetak otomatis yang disediakan PT KAI.

Seperti biasa, saya menyempatkan diri membeli koran KOMPAS membaca berita sambil menunggu pukul 16.00. Saat itu headline harian itu membahas tentang Presiden Joko Widodo yang teguh pada keputusannya mengeksekusi WNA Australia terpidana mati narkoba yang meski dikecam oleh Bishop (Menlu) dan Abbots (Perdana Menteri Australia).

Rabu, 25 Februari 2015 di Kereta Api Bima menuju Purwokerto

Kami baru saja check-in masuk ke ruang tunggu di peron, ruang tunggu ini mengingatkan saya pada medio 2007 saat saya beberapa kali berangkat ke Surabaya dan Jogjakarta karena ditugasi oleh kantor kesana. Di peron ini pula saya pernah diabaikan seorang turis yang saya coba ajak berbahasa inggris. Saya memang suka memancing obrolan dengan turis semata- mata untuk menguji diri saya sendiri apa saya mampu berbicara aktif dengan native speaker. Kereta Api Bima baru saja tiba, kami langsung masuk kedalam kelas eksekutif dengan nomor urut bangku 1A- 1B. Kereta ini yang akan membawa kami menuju Purwokerto. Diperkirakan kami tiba pukul 20.58 WIB sesuai jadwal yang tertera di tiket. Perjalanan kami nikmati sambil melepas pandangan ke apapun yang kami lihat di sepanjang jalur kereta. Ada pemukiman padat, areal sawah penduduk, pabrik, dll.

Suasana senja pelan- pelan berganti malam. Di Purwokerto nanti kami berencana menginap terlebih dahulu di Hotel Darajati yang ada diseberang Rektorat UNSOED sambil saya mencari kontrakan untuk kami tinggali dua tahun kedepan. Akhirnya lewat sedikit pukul 21.00 WIB kami tiba di Stasiun Purwokerto, kami pun turun dan memperhatikan sekitar. Ini stasiun yang besar ternyata. Dari Stasiun kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang Taxi KOBATA menuju Hotel Darajati. Jalanan Purwokerto di malam itu lancar dan suasana aksen khas Banyumas langsung mendarat ditelinga saya, inilah aksen yang harus saya akrabi setidaknya selama saya melanjutkan studi di UNSOED ini. Berselang 15 menit kemudian, kami pun tiba dan langsung check- in di hotel. Hari sudah malam saat itu, kami beristirahat. Sebab besok saya harus Daftar Ulang ke kampus dan mencari kontrakan.

Sebelum tidur saya merenungi sejenak perjalanan ini. Ada satu titik dimana saya mempertanyakan mengapa saya belum juga mendapatkan apa yang saya inginkan. Saat itu sekitar setahun silam, bayangan tentang cita- cita kami masih kabur dan buram untuk dilukiskan, saya dan istri akhirnya pasrah, dalam kepasrahan itu kami memelihara doa dan harapan kami bahwa pada saatnya doa kami akan terkabul.

Ternyata benar saja, ALLAH.SWT maha mengabulkan doa, setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan. ALLAH.SWT menitipkan mahlukNYA kedalam rahim istri saya, dan saat ini kandungannya sudah masuk usia 5 bulan dan disaat yang sama ALLAH.SWT memperkenankan doa saya untuk melanjutkan pendidikan di Jurusan Akuntansi (S1) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) dengan beasiswa STAR- BPKP.

Dan pekan ini genap sebulan kami tinggal di Purwokerto…

Saya hanya berusaha sebaik- baiknya menjadi hambaNYA yang mampu memelihara rasa syukur ini. Tidak lalai dan ingkar akan semua nikmat dan pertolongan yang diberikanNYA bagi saya.

5 komentar:

  • Nina / Ummu Iffah says:
    30 March 2015 at 13:08

    Barakallah mas Erikson
    Semoga ilmunya berkah
    Semoga bunda dan dede bayinya sehat dan selamat ya...
    Ikut senang :)

  • Erikson says:
    30 March 2015 at 15:04

    Aamiin, terima kasih banyak doanya Mbak Nina, semoga sukses dan barokah juga studinya Mbak Nina dan keluarga sehat semua, aamiin.

  • de'Ardi says:
    31 March 2015 at 15:03

    Semoga diberi kemudahan dan kelancaran sobat.

  • Putri Baiti Hamzah says:
    2 April 2015 at 15:57

    Barakallah,kak! Semoga semakin berkah mencari ilmunya :)
    Kalo mampir ke bandung bolehlah main ke rumah kami,kak,,,Plus ayuknyo

    Salam kenal dari Rinjani, oom Erik!

  • hendra says:
    21 May 2015 at 08:24

    wah jd penasaran nih,saya juga sedang mengikuti seleksi ini soalnya mas erikson..H2C lah..oiya gmn suasana perkuliahan disana dibanding di STAN??

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.