9.29.2011

Sisi Lain Konflik Film.


Aku suka menonton film, namun tidak terlalu up-to-date. Hanya kalau waktu senggang saja kecuali khusus untuk film serial, biasanya menyempatkan menonton 2-3 episode dalam satu hari, maklum penasaran. Selain melatih kemampuan Bahasa Inggris, mungkin karena aku sudah jadi salah satu generasi get philosophy from the movies, seperti kebanyakan kawan sekalian kini mungkin. Kedengarannya seperti malas membaca ya? Mungkin benar, tapi mungkin karena kita lagi butuh hiburan, jadi sekalian saja.

Pikiranku melayang, jauh dan bertanya-tanya. Mengapa sampai ada film? Aku dapati jawabannya sederhana karena memang ada cerita yang pantas untuk dibagi dan dipertontonkan, entah dengan maksud menghibur, menginspirasi atau mengajarkan tentang apapun. Lalu bagaimana kemudian sampai muncul nuansa hiburan, inspirasional dan edukatif itu? Aku kira karena ada pengalaman dari sang tokoh yang memuat konflik dalam hidup nya entah sebagian atau seluruh.

Ya, konflik yang secara kejiwaan dan pikiran mempengaruhi sikap dan jalan pikiran sang tokoh mulai dari cara bergaul dan kehidupan sehari-harinya. Sampai akhirnya sang tokoh menemukan maksud dari kehidupannya yang penuh konflik atau semacam logika berpikir yang menjelaskan mengapa akhirnya ia memilik hidup yang berkonflik. Dan akhirnya disuatu titik pada babak kehidupannya, kesadaran dan pengalaman itu menjadi pelajaran yang bagi para sineas kini menjadi modal dasar untuk dibesut menjadi sebuah karya yang kita sebut: Film.

Kalau pernah menonton Film serial Prison Break mungkin Michael Scofield yang jenius bertanya-tanya mengapa sejak kecil ia hidup berdua saja dengan saudara nya Lincoln Burrows, rupanya setelah 30 tahun kemudian terungkap bahwa kejeniusannya membawanya pada usaha untuk mengeluarkan Lincoln dari hukuman mati, empati yang muncul dari sifat dasar sang tokoh yang sejak kecil hidup dalam kemandirian bangkit menjadi pedoman setelah mengetahui bahwa Lincoln kakaknya berhutang $90.000 untuk menopang hidup dan menyelamatkan masa depannya.
Ah memang selalu ada rahasia ALLAH. SWT untuk setiap alasan, entah kita yang menemui takdir atau takdir yang menemui kita. Pasti bertemu juga.

Menonton film dengan bumbu konflik yang kadang rumit dan menekan jiwa para tokoh didalamnya memberi pelajaran tersendiri bahwa setiap orang pasti memiliki ujian masing-masing yang tidak sama, jika kadang aku mulai merasa segala sesuatunya menjadi sulit, maka pengalaman dari film tadi dan keyakinan akan kekuatan doa bisa mengembalikan spirit dan menjalani lagi hari hari sebagaimana biasa apa adanya, tanpa banyak apa atau mengapa. Karena pada akhirnya pasti bertemu juga dengan hari yang dijanjikanNYA. Entah kematian yang indah (semoga) atau hidup dengan rencana terindahNYA. Sebab aku hanya bisa berusaha dan berdoa lalu hanya ALLAH.SWT yang maha tahu, apapun.

*) Tulisan ini terinspirasi dari hasil melamun dikelas pas perkuliahan Pajak Penghasilan Pemotongan dan Pemungutan siang hari tadi. Maaf pak Dosen, kali ini pikiranku tidak sejalan dengan tubuh ini.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini,melalui google.

Read more »

9.27.2011

Orkestra Ekonomi Pasar Rokok


Invisible Hand, begitu Adam Smith menyebut pemandu tak tampak yang mengatur ekonomi pasar. Skala lokal saja kita sebut. Kita ambil contoh pasar Rokok, karena merupakan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan pengaturan yang dijalankan sang pemandu ada dua instrumen sederhana yang memberi informasi lengkap dalam menentukan harga, yaitu: Permintaan dan Penawaran (demand & supply).

Rokok, terlepas dari segala kontroversi secara sosial dan agama, dalam postingan ini hanya aku maksudkan sebagai contoh sederhana untuk membantu memahami bagaimana suatu sistem perekonomian berjalan dengan membahas dari sisi penawaran dan permintaannya. Penawaran sendiri dalam konteks ini adalah semua jumlah yang mampu dijual produsen rokok dan Permintaan adalah semua rokok yang dibutuhkan konsumen, keduanya bertemu di pasar secara transaksional menghasilkan suatu titik yang memuaskan kemampuan kedua pihak.

Permintaan atas rokok diawali akan adanya kebutuhan konsumen atas rokok, yang bisa kita buat menjadi dua segmentasi: Remaja dan Dewasa. Dengan menggambarkan situasinya secara sederhana hanya terdiri dari dua unsur saja (prinsip cateris paribus) maka tingkat permintaan atas rokok sangat dipengaruhi oleh tingkat harga, dan kaum Remaja menjadi konsumen yang sangat peka jika harga meningkat.

Akan tetapi cerita belum berakhir sampai disitu, ada faktor lain yang dalam dunia nyata tidak bisa dianggap nihil; yaitu: Pendapatan, Barang Substitusi dan Selera. Pendapatan yang meningkat tetap tidak akan membuat konsumen mengurangi konsumsi rokoknya, atau jika pendapatan tetap sekalipun sementara ada barang substitusi lain seperti rokok tembakau sederhana, maka konsumsi produk lain serupa rokok pun tetap tinggi, apalagi kalau sudah menyangkut urusan selera.

Di negara kita, usaha untuk menangkal regresifitas konsumsi rokok adalah dengan menambah himbauan tertulis/peringatan bahaya merokok dan produk tembakau lainnya di kotak rokok dan menayangkan sejumlah iklan layanan masyarakat mengenai larangan merokok, sementara menerapkan tarif baru atas pajak untuk rokok belum menjadi pilihan yang populer yang bisa diambil. Karena perlu dipikirkan dampak buruk yang muncul jika harga rokok meningkat, seperti meningkatnya kriminalitas.


Sementara disisi lain, para produsen yang menghasilkan rokok akan terus bergerak memproduksi sejumlah rokok menyesuaikan dengan kondisi permintaan dipasar, meskipun ada kondisi yang membuat permintaan rokok menurun karena harga meningkat, lazimnya para produsen berinovasi dengan menekan biaya produksi melalui pemanfaatan tekonologi dan mencari sumber input lain yang harganya lebih murah. Namun jika hal ini gagal diupayakan produsen maka penawaran akan mengalami kelesuan bahkan bisa dibawah jumlah yang diminta (shortage) akibatnya pilihannya ada dua: membatasi jumlah produksi atau menaikkan harga untuk membiayai ongkos produksi namun dengan menyertakan inovasi yang meningkatkan nilai rokoknya.

Dua kondisi dari Penawaran dan Permintaan ini tidak bisa berjalan masing-masing, sebab saling bergantung satu sama lain. Jika digambarkan dalam sebuah kurva maka keduanya akan bertemu pada satu koordinat, yaitu kuantum dan harga. Sehingga harga yang menentukan tingkat permintaan rokok dan berapa jumlah rokok yang diproduksi pada jumlah yang memenuhi kebutuhan kedua pihak. Secara tidak langsung hal ini sudah terdesentralisasi dan memberikan pasar peran yang cukup besar dalam membuat keputusan melalui tarik ulur kepentingan dalam kegiatan Penawaran dan Permintaan. Dan Gregory Mankiw berpendapat bahwa sistem harga adalah sebuah tongkat dirigen yang dipakai untuk seluruh orkestra ekonomi. Itu berarti begitu juga untuk orkestra ekonomi rokok.

P.S:
----
Gambar diambil dari ini, melalui google.

Read more »

9.26.2011

Catatan Reuni Sekolah


Minggu lalu, di Taman Mini Indonesia Indah Rumah Anjungan Sumatera Selatan untuk yang kali kedua aku menghadiri acara halal bihalal sekaligus temu kangen Alumni SMA N 1 Baturaja (Ogan Komering Ulu) yang berdomisili di Jabodetabek, berada di sana sampai pukul 14.00 WIB, demi apapun telah melemparkan memori dan pikiran ini ke masa lalu dan benar adanya bahwa life is an art of drawing without an eraser and i just found out that it is damn true.

Acara ini dihadiri semua angkatan, seingatku yang tertua hadir adalah angkatan 1976, 4 tahun lebih muda dari angkatan Almh. Ibu yang juga merupakan alumni sekolah yang sama, bahkan kami sempat diajar dua guru yang sama dan sang guru juga mengenal Almh. Dan yang termuda adalah aku, angkatan 2004. Harusnya banyak, namun yang hadir cuma aku.

Rumah adat Sumatera Selatan, sebuah rumah panggung yang sudah mulai jarang ditemui di banyak wilayah Bumi Sriwijaya ini bahkan bisa dibilang di jalan tempat tinggalku, rumah kami menjadi 4 dari sekian puluh rumah yang masih bisa dibilang bernafas adat. Selebihnya sudah berkonsep minimalis, berdinding semen kokoh, modern. Namun rumah tempat tinggalku bukan sekedar rumah, dan lebih manis dari sekedar home sweet home. Pernah ada sejarah, cerita dan kenangan dua generasi keluarga. Dulu rumah itu terasa begitu besar waktu aku masih kecil, namun rumah itu aku lihat mulai seperti mengecil disaat aku tumbuh besar. Entah kenapa.

Semua barang kuno khas rumah dulu itu, membuat semua gambaran cerita lampau menjadi sangat nyata, bahkan bergerak hidup dalam banyangan ku. Menyajikan kaleidoskop soal kenakalan atau kebodohan kami para cucu yang tidak akan bisa aku hapus atau perbaiki lagi. Di saat yang sama, seperti waktu yang terus melaju meninggalkan hari kemarin dengan kenangan, ada pula kilasan potret saat saat bahagia bersama dengan orang terkasih yang sudah pergi mendahului. Ikhlas saja dan sebaiknya lanjutkan hidup kini.
Bukan tak sayang, tapi doa aku kira lebih bermanfaat dari air mata.

Aku tidak akan banyak bercerita sudah jadi apa saja para alumni SMA ku. Karena aku termasuk salah satu yang menghindari esensi reuni sebagai ajang unjuk keberhasilan, menggali relasi untuk mengukuhkan nepotisme dan kesempatan membuktikan siapa kita sekarang dan hal lain yang bertendensi menciptakan jurang sosial. Yang ada dalam benakku sederhana saja, kenapa kemudian tiba-tiba saat itu, aku merasa kepemilikan kartu nama menjadi penting sebagai nilai jual dalam sebuah perkenalan? Karena memang sampai sejauh ini aku belum punya alasan kuat untuk memilikinya. Bukan tidak mungkin aku punya, tapi nanti, time will tell, as it passes us by.

Tentang reuni, seorang alim pernah berkata bahwa salah satu esensinya adalah mendekatkan yang jauh, sehingga kemudian menjalin silaturahim. Dan tentu saja bagi aku yang masih terbilang muda ini, melihat mereka yang sudah jauh diatas, adalah kesempatan untuk belajar dari pengalaman mereka, karena aku tidak punya penghapus kalau dalam hidup aku melakukan kesalahan, jadi sebelum berbuat salah sebaiknya aku pastikan aku memang belum pernah belajar atau terpikirkan mengenai hal itu, supaya kesalahan tadi berbuah pelajaran dan tidak memperpanjang daftar penyesalan. Sehingga kalau nanti umurku panjang, dimasa depan aku akan melihat kaleidoskop perbuatan baik dan pengorbanan yang tepat yang sudah aku lakukan.

Read more »

9.23.2011

Teka Teki Silang (TTS)


Adalah Arthur Wyne yang dianggap sebagai penemu Teka Teki Silang pada 21 Desember 1913 dan saat itu bentuknya sederhana dan mudah dimainkan. Sudah beberapa minggu ini aku mulai mencoba mengisi waktu luang dengan bermain TTS. Lumayan menghibur dan berguna, mengalihkan perhatianku ke hal yang lebih bermanfaat dari sekedar memikirkan hal lalu yang tidak enak diingat. Atau kalau sedang suntuk dari membaca dan kegiatan kuliah.

Seperti Scrabble, sudah lama juga aku menggemari TTS ini sebetulnya, mulai dari iseng menjawab rubrik Asah Otak di koran KOMPAS (tapi TTS disini sulit sehingga ada yang mempelesetkannya menjadi Teka Teki Sulit) atau kalau sedang iseng waktu pulang les SMP dulu membeli kacang rebus yang biasanya dibungkus lembaran TTS bekas. Banyak kosa kata yang biasa aku dengar namun baru aku pahami maknanya melalui TTS ini, seperti demosi, erata, kolaborasi, krida dan maulana.

TTS juga menyelamatkanku dari kejenuhan macet 15 jam di Merak mudik kemarin, seperti ada semacam penyaluran emosi dan kepenatan dengan lepas habis, tanpa sisa, plong. it makes me feel relieved. Dan tanpa sadar aku menambahi koleksi kosa kata yang berguna sebagai bekal blogging atau kegiatan lainnya. Bahkan ada rumor, kegiatan mengisi TTS dapat mencegah dari kepikunan karena faktor usia karena membuat otak tetap dibuat dalam keadaan "bekerja".

Henry Brodaty, Profesor Psikogeriatik dari Universitas New South Wales mengatakan bahwa di fase usia lanjut, otak dihadakan pada pilihan untuk digunakan atau dinonaktifkan. TTS adalah salah satu jalan untuk tetap membuat otak digunakan.


Latihan dan Ujian tanpa beban, begitu kata Heru Triatmono dalam sebuah tulisan yang mengulas mengenai salah satu manfaat TTS ketika menyebutkan pendapatnya. Dan memang begitu kurang lebih yang aku rasakan. Enjoy tanpa ada tekanan untuk bersaing memperebutkan apapun, selain untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri dihari yang lalu. sebuah keadaan yang betul betul saya inginkan. Stres menjadi lebih dapat diminimalisir karena dikelola dan disalurkan dengan cara yang membuat diri menjadi lebih positif. Mungkin kalau ada kesempatan harusnya aku ucapkan terima kasih kepada Arthur Wyne, tokoh yang dianggap sebagai penemu TTS.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini melalui google

Read more »

9.22.2011

Menjadi Berilmu dan Terpelajar?


Dalam catatan harian Gie, begitu lulus SMA: 'Sekolah SMA baru saja selesai, semua kenangan manis terbayang kembali, dan aku sadar bahwa semuanya akan dan harus berlalu, ada perasaan sayang akan kenangan kenangan tadi, aku seolah-oleh takut menghadap ke muka dan berhadapan dengan masa kini dan masa lampau terasa nikmatnya, tetapi aku mempunyai kesadaran yang teguh banwa let the dead be dead...'

Bukan kebetulan jika malam ini aku ingat sepenggal isi diari Gie mengenai kelulusan sekolah, saat postingan ini ditulis mungkin gegap gempita perhelatan yang digelar para mahasiswa di gerbang utama dekat lapangan depan kampus belum usai. Mereka bersukacita karena akhirnya menamatkan 3 tahun masa kuliah. Tamat dan menjadi Alumni. Lebih jauh lagi, besok pagi mereka sudah bangun dengan tanggung jawab baru menjadi sebagai akademisi, terpelajar dan terdidik. Lalu janji Tuhan pun terkabul untuk mereka, derajat mereka ditinggikan karena ilmu yang mereka miliki.

Tapi lulus saja bukan akhir cerita, justru baru saja dimulai dengan peran yang lebih berat, sebagai kaum berilmu, seperti layaknya Sarjana dengan segala gelar keilmuan. Aku sendiri masih harus bersabar untuk menapaki jalan cita menjadi Sarjana, masih panjang dan berliku. Maklum, konsekuensi hidup sebagai Birokrat. Aku usahakan agar mensukuri dan menikmati saja.

Namun belakangan aku mulai berpikir mengenai Karya. Karya dari para kaum terpelajar yang sudah dinyatakan lulus dari institusi pendidikan, entah Karya Tulis, Skripsi, Tesis atau Disertasi. Karya tersebut ibarat sebuah master piece dari seorang terpelajar yang menunjukkan bahwa hidupnya yang berilmu itu bermanfaat, namun kebermanfaatan yang diharapkan disini adalah sebuah kesinambungan yang bukan sekedar mencari status atau mencapai kata LULUS. Karena ilmu yang telah lampau akan usang dan berganti, mau tidak mau, suka tidak suka.

Kelulusan seperti langkah awal untuk terus berkarya, sekecil apapun manfaatnya bahkan walau untuk diri sendiri terlebih dahulu sekalipun, karena setidaknya dengan membuat suatu karya maka seseorang telah memenuhi panggilan prinsip sejati mengenai pendidikan yaitu belajar walau sudah lepas dari lingkungan akademisnya dan menuangkan hasil pembelajarannya dalam bentuk karya yang bermanfaat. Sehingga pola ini membebaskan diri dari semacam pragmatisme pendidikan yang hanya semata untuk mencari ijazah dan pekerjaan. Sikap enggan menjadi never-ending learning lambat laun dapat menciderai citra pendidikan dimata awam, yang bisa membuat banyak orang berpikir untuk apa berpendidikan tinggi jika nanti dimasyarakat tidak ada bedanya dengan mereka yang kurang beruntung tidak bisa merasainya.

Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru, mereka harus bisa bebas disegala arus arus masyarakat yang kacau, tetapi mereka tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya, yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya apabila keadaan telah mendesak, kaum intelejensia yang terus berdiam ketika keadaan mendesak telah melunturkan semua kemanusiaa, ketika Hitler mulai membuas maka kelompok xxxxx berkata tidak, mereka punya keberanian untuk berkata tidak, mereka walaupun masih muda berani menentang geng-geng pemimpin bajingan, rezim NAZI, bahwa mereka mati itu bukan soal, mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir, tiada indahnya penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran....


Lagi-lagi itu adalah sepenggal perkataan Gie di filem Gie yang menggambarkan peran ideal kaum terdidik dalam fungsi sosialnya di masyarakat. Sebuah keadaan didalamnya memang sudah tidak relevan namun hikmahnya bisa dapat diadopsi tanpa batasan zaman dan waktu, tergantung telinga hati, mampukah memenuhi panggilan seorang pemikir? agar berkarya dan memastikan bahwa hidupnya bermanfaat bagi umat, meski tahu pragmatisme mengiming-imingi insentif yang sebetulnya ditentang kata hati bagi mereka yang bernurani. Mari berkarya. Mari bermanfaat seperti pesan sang Nabi.

Read more »

9.21.2011

Cerita Ratu Aathena


Aku lupa kapan dan bagaimana ceritanya bisa kenal dan akrab dengan bloggerwati satu ini, yang aku ingat, dia adalah teman satu SMA dari kawan satu kantor dulu, yang kebetulan juga adalah seorang blogger musiman yang nama blognya Berkejaran. Namun tidak untuk kini. Ada semangat baru. Tetap semangat kawan!. Namun bukan si Berkejaran yang sedang aku bahas, tapi bloggerwati tadi. Ada kutipan kalimat yang aku ingat, bahkan selalu ingat dari postinganya, padahal sudah 2 tahun lalu postingan ini ia buat.
"Jangan merasa bersalah atas hati-hati yang lain, karena kau bahkan hanya punya satu hati. Serahkan pada yang menciptakan hati itu, karena hanya Dia-lah yang berhak atasnya. Penguasa hatimu yang sejati.. Allah…"


Blog nya punya maskot flypuCino,jangan tanya, apa artinya, karena aku tidak tahu. Mungkin ada hubungannya dengan Secangkir Capuccino yang diminum sambil terbang sehingga namanya flypuCino. Hanya mungkin tapi. Blognya biasa dan sederhana, tapi tidak dengan isi nya. Baca saja, seperti aku juga sering membacanya dan mendapatkan pemikiran-pemikirannya yang bernas dan penuh kedalaman makna.

Nama aslinya sampai sekarang pun aku tidak tahu, walau aku merasa berkawan seperti sudah lama kenal denganya. Nama facebooknya Asyifa Dasyuki. Cari saja. Aku kira cuma ada satu nama itu di dunia. Saat sering blogwalking ke blog flypuCino, aku sering bertanya apa maksud nama Aathena dalam url address nya. Ah, lupakan saja. Karena kadang nama tidak lebih penting dari pribadinya, mirip seperti pilihan jalan yang kadang tidak lebih penting dari tujuan kita. Sederhananya, anggap saja sekarang sedang ke dunia negara maya flypuCino dengan ratunya bernama Aathena, Begitu pikirku.

Waktu itu, aku belum tahu banyak soal karya salah satu novelis kenamaan negeri ini, Dee. Tapi, waktu aku mulai menandaskan Perahu Kertas dan Filosofi Kopi. Dari situ aku mulai mengira, bahwa sang ratu Aathena memiliki bakat yang diberikan Tuhan kepada Dee, menulis dengan jiwa dan daya imajinasi yang tinggi. Tertata, klimaks dan menyentuh. Pernah suatu hari di bulan Desember 2009 aku akhirnya bertemu dengan sang ratu, di kota Malang dekat stasiun sewaktu turun dari pendakian Gunung Semeru lalu. Orangnya baik, ramah dan sederhana, dalam artian tidak berlebihan dalam bersikap dan berpenampilan. Ini bukan pujian, hanya kesan sekilas sebagaimana wajarnya dua orang yang baru pertama kali berjumpa.

Dari nama Asyifa Dasuki (AD), akhirnya aku terbiasa menyapanya dengan nama AD, entah di komen blog, di obrolan via sms atau telpon, bahkan namanya di phonebook pun aku buat AD. Dan diapun begitu, menyapaku dengan inisial EW. Selalu saja ada kejutan setiap aku membaca karya postingannya, entah sebuah pencerahan, guratan senyum yang mengembang atau sesekali berupa tamparan yang mengenai tepat di pikiranku. Seperti waktu itu dalam hidup, ketika aku kira aku banyak kecewa dalam beberapa hal, tepat di postingannya aku menemukan ini:

"'Aku tak tahu bos.. saat bos mengajariku bermimpi.. aku hanya menurut saja. Aku mimpi setinggi yang aku inginkan. Lalu setiap pagi saat aku bangun tidur.. Aku ucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim…dengan Nama Mu Ya Rahim.. ijinkan aku mewujudkan mimpi-mimpiku hari ini..’”

Begitulah, aku menyukai karyanya yang semoga menjadi jalan Tuhan untuk mengangkat hakikat hidup sang ratu, karena melalui karyalah seorang manusia itu dikenang dan berumur panjang bahkan saat ia sudah harus pulang kampung ke Akhirat. Kau hebat, aku tahu itu. Dan kau bahkan lebih hebat dari yang kau tahu. Betulkan AD? Selamat berkarya kawan!

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini
melalui google.

Read more »

9.18.2011

Dua Kali Kecewa


Hari ini panas, mungkin sore nanti baru turun hujan, tapi setidaknya sudah dua kali aku dibuat kecewa yang pertama sama BRI Bank Rakyat Indonesia. Aku heran kenapa Kantor ku masih menjalin kerja sama dalam hal transfer gaji bulanan dengan Bank ini, setiap awal bulan atau disaat kapan pun yang hanya BRI dan Tuhan yang tahu, selalu saja ATM Bank ini rusak, mulai dari dengan ucapan 'Maaf, sementara sedang dalam temporarily service' sampai tanpa ucapan maaf.

Bukan soal kalau aku lagi ada uang kas didompet, tapi itu jarang sekali terjadi, nasib baik aku tidak bernasib nahas seperti si kawan yang kartu ATM nya ditelan bulat-bulat sama ATM ini, atau being debited without throwing some cash as withdrawaled. Tapi sudahlah, pun aku yakin sudah banyak yang kecewa dan menyampaikan keluhan ini ke pihak terkait walau sampai sekarang belum ada tindakan preventif yang signifikan, atau mungkin masih banyak orang yang sabar di kantorku, atau mungkin keluhan itu tidak sampai ke BRI, masuk ke kuping siluman.

Terpaksa, akhirnya aku ambil uang dengan ATM lain untuk bayar uang servis motor, sambil menunggu servis selesai, aku pergi ke warnet, disini kekecawaan kedua dimulai, panas kuping dan hati ku lama-lama di warnet ini. Anak-anak di warnet ini seperti santai saja mengucapkan kata-kata kotor sebagai bagian dari pergaulan mereka, ya aku juga punya pergaulan dan bukan termasuk yang suci-suci sekali, tapi paling tidak aku sadar dan ingat mana kata yang pantas dan mana yang tidak sesuai dengan norma seperti memanggil seorang dengan nama binatang atau kotoran. Pun, waktu muda aku tidak seliar itu.

Cuma bisa menahan sabar dalam hati saja mendengarnya. Dan mungkin siapapun tidak mau disapa dengan sapaan seperti itu, termasuk BRI. Namun aku khawatir kalau anak anak warnet ini menjadi nasabah BRI, dan kesal dengan layanan BRI yang maaf, agak mengecewakan ini, bukan tidak mungkin sapaan khas anak-anak ini tertuju ke BRI ini. Dan mungkin kata nenekku benar, bahwa mencegah lebih baik untuk mengobati. BRI harus mencegah hal ini terjadi dan aku harus mencegah diri dari lama-lama mendengar ucapan anak ini dengan segera cabut balik ke bengkel motor.

Read more »

9.16.2011

Personality Profile of Erikson


Setelah berkunjung ke Blog Ninneta, aku tertarik mencoba semacam personality test yang ada disebuah situs bernama mypersonality, tesnya gratisan namun ulasan hasilnya cukup informatif dan kalau mau yang lebih lengkap ada, tapi ambil yang pro/premium alias berbayar. Di web tersebut disebutkan bahwa akurasi hasil tes ini tidak 100%, sehingga sifatnya hanya sebagai informasi sahaja. Bukan patokan apalagi pegangan. Jadi jangan sampai terbatasi atau terlalu bangga karena hasil tes ini.

Memang sejak lama aku selalu ingin mengenal diriku lebih jauh, jadi aku tidak heran kalau aku tertarik dengan hal-hal semacam ini, yang sifatnya psikologis. Dari tes yang disediakan situs itu, ada dua macam tes yaitu tes tipe kepribadian dasar dan tes mutilple intelligence (kira-kira maksudnya apa ya?)

Dari tes yang pertama yaitu tes Tipe Kepribadian Dasar, aku diminta mengisi 50an lebih pertanyaan yang jawabannya adalah insting naluriah pertama yang muncul jadi tanpa rekayasa, durasi pengerjaannya 20 menit namun tidak diberi pengingat waktu. Hasilnya:

INTJ - The "Strategist"

INTJs are introspective, analytical, determined persons with natural leadership ability. Being reserved, they prefer to stay in the background while leading. Strategic, knowledgable and adaptable, INTJs are talented in bringing ideas from conception to reality. They expect perfection from themselves as well as others and are comfortable with the leadership of another so long as they are competent. INTJs can also be described as decisive, open-minded, self-confident, attentive, theoretical and pragmatic.


Dan ini diagram lengkapnya:


Kemudian tes yang kedua, aku diminta mengisi 80an soal tanpa batasan waktu dengan prinsip menjawab sama seperti tes yang pertama tadi. Hasilnya:

People with Linguistic intelligence love and are talented with words. They enjoy reading, writing and learning languages. They have an ability to teach and explain things to others. They learn best by reading, taking notes and going to lectures.

Common Characteristics :Notices grammatical mistakes, Often speaks of what they have read, Likes to use "fancy" words, Loves word games, Cherishes their book collection
Easily remembers quotes and famous sayings, Likes puns and rhymes, Enjoys writing, Enjoys foreign language, Always enjoyed English class.

Career Matches: Writer (any type), Editor, Public Speaker, Politician, Preacher, Teacher, Journalist, Broadcaster, English / Writing Tutor, Actor / Actress.

Ini diagram lengkapnya:


Ya begitulah, kadang kegiatan blogwalking mengantarkan kita pada hal yang tidak disangka, bukan hanya merawat hubungan sesama blogger tapi juga membuka kesempatan untuk mengetahui banyak hal baru, termasuk kesempatan untuk mengetahui lebih dalam mengenai personality kita sendiri.

Read more »

9.15.2011

Musim Kemarau Panjang


Sudah 3 bulan ini aku tidak melihat hujan yang cukup deras, memang lagi musim kemarau. Di TV disiarkan bahwa diperkirakan hujan baru akan turun di awal bulan Oktober. Masih agak lama. Sementara kabar kelangkaan air dan gagal panen sudah cukup marak disiarkan. Agak mengkhawatirkan memang kalau terlalu lama musim kemarau. Apalagi bagi kita yang notabene terlahir sebagai orang tropis.

Beberapa minggu lalu, aku ikut Bapak ke kebun (baca disini) dan musim kemarau kali ini memang memberi dampak yang terasa. Daun pepohonan banyak yang jatuh meranggas tanah lahan menjadi kering, kolam buatan menjadi retak membelah seperti menganga meminta hujan. Sungai di ujung kebun kami pun menyurut sampai jarak antara dua seberang menjadi lebih dekat. Hal yang lebih buruk terlihat di beberapa titik di jalan lintas perbatasan provinsi Sumatera Selatan dan Lampung, ada kebakaran yang cukup luas di daerah tersebut, kemungkinan karena lahan tersebut ditumbuhi ilalang yang mati mengering dan menjadi sumber api lebih cepat menyebar.

Namun yang jauh lebih memprihatinkan adalah kelangkaan air. Air yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat menjadi sulit didapat di beberapa daerah di Jawa misalnya Pacitan dan Gunung Kidul, menurut berita yang aku lihat dua hari lalu di TV. Walau dengan kondisi ini ada beberapa daerah yang mencoba berinovasi merekayasa hujan hanya saja belum semua daerah mampu melakukannya dan masih menunggu waktu supaya dampaknya terasa lebih luas. It takes months or even years. Kekecewaan tentu saja dirasakan para petani karena musim kemarau ini membuat panen menurun.

Jika sepanjang tahun 2009 dan 2010 petani Bawang Merah dan Kentang di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mampu menghasilkan 133.945 ton dan 104.324 ton untuk Bawang Merah serta menghasilkan 5.030 ton dan 5.130 ton untuk Kentang (data dari sini dan sini). Maka ada kemungkinan kemarau menjadikan hasil panen tahun 2011 turun cukup drastis. Dan dampak ini sifatnya nasional jadi tidak heran kalau produktivitas sektor ini menurun karena faktor iklim yang masih diluar kendali dari faktor produksi yang bisa diusahakan.

Keadaan semacam ini jika digambarkan dalam sebuah kurva batas kemungkinan produksi, atau production possibilities frontier curve membuat titik kemungkinan produksi sektor pertanian berada di bawah garis maksimum batas kemungkinan lantaran musim kemarau yang tidak bisa ditanggulangi dampaknya, kecuali kemajuan disektor pertanian dengan penerapan yang global mampu menciptakan kondisi yang menihilkan dampak buruk kemarau panjang ini maka bukan tidak mungkin titik tersebut tetap stabil di garis batas maksimum kemungkinannya. Untuk Hasil yang melampaui kemungkinan maksimum hanya mungkin terjadi jika faktor produksi yang sudah ada ditambah dan sepanjang tahun musim kemarau yang terjadi tidak membawa dampak merugikan seperti sekarang ini.

Sikap waspada sangat diperlukan dalam keadaan seperti ini, baik dari masyarakat juga dari pemerintah supaya dampak buruk musim kemarau ini tidak meningkat, bencana kebakaran misalnya dapat saja menyebabkan tidak hanya gagal panen tapi juga menimbulkan kerugian material yang mempersulit hidup petani. Dan dilain sisi, kemajuan teknologi dalam bidang pertanian dan pemerataan pemanfaatanya seperti hujan buatan tadi, sangat diharapkan untuk segera terwujud supaya kesejahteraan hidup masyarakat tetap terjaga dan tidak menimbulkan efek domino lainnya. Because living in a drought leads us into a big worry.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini dan sini.

Read more »

9.14.2011

Keunggulan Komparatif Individual


Dalam dunia kerja, kita berbeda dalam banyak hal. Itu jelas. Namun, penekanan disini adalah sebuah kesadaran mengenai kenyataan (agar selalu ingat) bahwa dalam dunia kerja setiap orang tidak dapat dinilai dari satu sudut saja, ada banyak sudut yang menentukan keberhasilan suatu pekerjaan terutama pekerjaan yang mengatasnamakan Team Work, ada diantara kita yang handal secara konsep, atau mumpuni di lapangan, atau pandai berkomunikasi, atau menguasai bidang Information & Technology.

Seseorang yang handal secara konsep bukan berarti ia sama sekali tidak paham mengenai IT, hanya saja pengetahuannya atas hal tersebut mungkin sebatas interface saja yang tidak cukup mampu membuat kemampuan konseptualnya menjadi lebih berarti. Sedangkan orang lain yang menguasai IT paham betul bagaimana mewujudkan sebuah konsep menjadi lebih aplikatif dalam jika dibangun secara nyata dilapangan melalui dukungan sistem IT yang baik. Tapi sayang orang tersebut tidak memiliki gambaran yang inovatif mengenai konsep yang mutakhir.

Ilustrasi sederhana diatas menunjukkan bahwa dari sisi IT, sang master IT memiliki keunggulan komparatif dibanding sang konseptor, sedang kan secara konseptual maka yang terjadi adalah vice versa. Mungkin atas dasar inilah kerja sama menjadi sebuah kebutuhan mendasar dalam menjalankan perusahaan, atau dalam kontek apapun terkait kehidupan ini.

Misalnya negara tropis memiliki hasil pertanian dan peternakan melimpah namun kurang dapat memenuhi kebutuhan akan minyak yang sangat berlimpah di negara timur tengah. Sebetulnya, hidup masih tetap dapat berjalan bahkan ketika pihak dengan keunggulan masing-masing pun hendak berjalan tanpa menginisiasi rencana kerja sama. Namun apa yang terjadi?

Tentu saja kemudian yang terjadi adalah tidak maksimalnya manfaat yang harusnya bisa didapat seandainya kedua pihak mau berkolaborasi. Sang konseptor disebuah kantor dapat melihat konsepnya menjadi kenyataan jika mau meminta sang komunikator menyampaikan idenya dengan baik kepada pihak pelaksana lapangan dan pendukung IT. Namun hal ini tidak akan terwujud jika Sang konseptor enggan dan hanya mau berusaha sendiri saja. Manfaat keunggulan komparatif yang unik dari setiap individu tidak bisa maksimal memberi manfaat bagi kelangsungan kantor/perusahaan.

Jelas bahwa pergaulan dalam dunia kerja disini membawa manfaat dalam memuluskan pencapaian tujuan, sehingga harus ada satu waktu dimana pikiran/pandangan tertentu mengenai motif individual harus dikesampingkan, demi profesionalisme dan kebermanfaatan. Mungkin Filsuf Schopenhaur ada benarnya bahwa kita ibarat landak yang saling membutuhkan dalam suatu musim dingin untuk saling mendekat demi kehangatan namun tidak terlalu dekat supaya tidak tertusuk duri masing-masing kita.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

9.13.2011

Sarung Bantal PERURI


Ibuku (almh) rajin memanfaatkan bahan apa saja yang sekiranya masih layak pakai untuk dijahit menjadi lebih bermanfaat, sebut saja sarung bantal dan lainnya. Dan satu kali aku pernah melihat bahan dasar bertulisan PERURI sudah jadi sarung bantal dirumah. Aku kecil sudah berpikir nakal waktu itu, mungkin karena baru tahu bahwa uang bisa dicetak jadi aku kira mungkin harusnya cetak saja uang sebanyak-banyak nya supaya bisa hidup enak dan tidak miskin melarat. Kala itu suatu siang di tahun 1990an. Aku masih SD.

Sekarang aku tahu kenapa rupanya cara itu tidak bisa digunakan. Sebetulnya sudah sejak beberapa tahun ini aku mulai mengenali konsep dan hukum sebab akibat perihal ini. Tapi baru sekarang ini gambaran jelasnya muncul. Akibat nyata jika pemerintah mencetak uang terlalu banyak adalah kenaikan harga, makin banyak jumlah yang dicetak maka makin naik pula nilai suatu barang. Istilah lain untuk menggambarkan keadaan ini adalah inflasi. Yaitu peningkatan/kenaikan harga secara keseluruhan dalam suatu perekonomian negara.

Inflasi besar-besaran yang terjadi di Jerman tahun 1920an dan di Zimbabwe beberapa waktu lalu adalah contoh nyatanya. Dimana harga barang kecil saja harus dibayar dengan membawa uang yang didorong dengan menggunakan grobak berisi uang semua. Atau seperti harga koran di Jerman yang di tahun 1922 (November) senilai 70 Juta Mark. Repot ya jadi belanjanya..! Hahaha... kasian dengan bank yang tentu saja akan kebingunan menyiapkan ATM atau brankas ukuran ekstra besar untuk menyimpan uang kas.

Sekilas memang Inflasi membawa dampak positif seperti perputaran barang/jasa menjadi lebih cepat dan mengurangi angka pengangguran karena kegiatan investasi tentu akan meningkat serta tentu saja bagi sebagian orang khususnya pengusaha ini akan membuat pendapatan (secara nominal) bertambah. Namun demikian akibat buruk nya juga tidak kalah banyak. Misalnya bagi mereka yang berpenghasilan tetap tentu kenaikan pendapatan yang diperoleh tidak akan setinggi mereka yang spekulatif sehingga secara tidak langsung makin memperlebar kesenjangan sosial.

Hal lain yang dapat terjadi adalah kerugian yang bisa muncul bagi para nasabah bank yang nilai uang mereka akan turun karena tidak sebanding dengan kenaikan harga barang/jasa diluar. Ini menyebabkan kesadaran untuk menabung akan menurun (padahal tabungan masyarakat adalah salah satu unsur penunjang dalam perekonomian agregat suatu negara) dan makin berkurangnya nilai uang di mata masyarakat. Dan seandainya saja di tahun 1990an kala itu Indonesia tengah dilanda inflasi hebat, bukan tidak mungkin Ibuku (almh) akan menjadi pengusaha sarung bantal dengan omzet nominal yang tinggi. :))

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

9.12.2011

Balada PNS Tugas Belajar


Aku sudah mau lulus kuliah. Mungkin kalau aku hitung-hitung sekitar kurang lebih 1,5 bulan lagi masa tersisa untuk duduk di bangku kuliah, karena awal November sudah Ujian Akhir Semester terakhir dan Desember awal sudah Yudisium. Namun itu bukan akhir dari cerita.

Sejak lulus DI tahun 2005, meneruskan kuliah ke DIII Khusus, sudah jadi cita-cita, ya seperti Gunung yang akan selalu ada, ditempatnya (kecuali kalau meletus ya!) cita-cita ini tidak bergeser barang sedikit pun. Walau harus 1x gagal dan baru lulus setelah 2x mencoba (bisa dibaca di ini,ini, dan ini!.)

Sepenuhnya aku sadar betul, akibat wajar kalau seorang PNS berubah status jadi Tugas Belajar, yaitu take home pay (THP) bulanan bakal dipotong dan walau waktu itu aku belum paham sekali soal konsep opportunity cost atau Biaya Kesempatan dan Insentif. Aku tak peduli, yang aku tahu akhirnya bisa dapat kesempatan buat sekolah lagi. Belajar lagi. Cukup, itu saja.

kemudian ada tradeoff atau pertukaran yang terjadi. Selisih nilai THP yang (lebih dari) cukup itu aku lepas, dan berganti jadi kesempatan untuk duduk di bangku kuliah, serta menjadi mahasiswa dengan waktu luang yang berlimpah, sebuah keadaan yang memang sejak awal sudah aku kira akan aku dapat, belakangan aku tahu bahwa itulah yang disebut dengan keuntungan marginal. Dan sepertinya total keseluruhan selisih THP tadi yang menjadi Biaya Kesempatannya tidak sebanding, bahkan jika dirupiahkan sekalipun.

Menyadari bahwa setiap keputusan akan selalu menghadapi tradeoff, hal ini membuat aku sadar mana keputusan yang harus aku ambil, tentu nya dengan mempertimbangkan opportunity cost yang lebih minimal dan diselaraskan dengan visi jangka panjang.

Walau sekali-kali seperti manusia kebanyakan. Aku menyesal :) Penyesalan yang muncul lebih karena enggan kehilangan kesempatan menikmati THP tadi, padahal bagaimanapun, itu adalah biaya yang aku bayarkan untuk D3 Khusus ini. Hahaha..Dasar rakus! Mungkin benar kata kawanku, Randy Suqih Lambok Sitompul hidup itu adalah tradeoff tidak semua bs kita miliki sekaligus.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

9.09.2011

Memaknai Undangan via Facebook


Aku sering menerima undangan acara via facebook, entah acara pernikahan, launching bisnis atau sekedar meeting rutin komunitas tertentu. Tapi kadang ragu untuk menghadirinya. Jangan-jangan kawan yang mengundang ini tidak sengaja meng-klik nama ku di fb makanya aku diundang apalagi kalau si pengundang ini adalah kawan yang cuman kenal didunia maya saja. Kalau kawan yang sudah lama kenal aku kira aku berani tanya langsung niatnya untuk mengundang. Kecuali kalau undangan itu datang dalam bentuk fisik mungkin siapapun yang mengundang ada juga tergerak pikiranku untuk menghadirinya.

Begitulah sekarang ini, kemajuan teknologi disatu sisi memudahkan karena kita tidak perlu lagi repot membuat undangan dan menyebarkannya satu per satu kalau mau menyelenggarakan acara. Tinggal buka facebook, klik menu event, filling the detail lalu tentukan tamu nya (bisa di pilih atau send to all). Sesederhana itu.

Tapi disisi lain, ini mulai menggeser nilai-nilai silaturahim dari yang tadinya tatap muka dirasa begitu perlu, menjadi terwakilkan dengan kehadiran notifications on facebook saja. Aku kira kita sebaiknya tetap selalu memandang fasilitas ini hanya sebagai sarana pelengkap yang menjadi tidak berarti tanpa adanya undangan resmi yang datang secara fisik atau kalaupun tidak memungkinkan, komunikasi langsung bisa dijadikan alternatif entah telepon/sms atau email pribadi yang sifat pengirimannya lebih terasa personal supaya niat mengundangnya lebih terasa. Atau kalaupun hendak membuat undangan khususnya acara pernikahan via facebook ada baiknya lebih selektif dalam mengundang, pastikan bahwa yang diundang adalah orang yang kita kenal. Sehingga ada respon secara naluriah bagi yang menerima. Tapi inipun tetap dengan memandangnya sebagai fasilitas pelengkap.

Karena mungkin saja banyak orang diluar sana sering menganggap angin lalu saja undangan yang dikirim secara kolektif dan umum, apalagi kalau yang mengundang adalah pihak yang namanya hanya sering muncul di news feed saja, kecuali kalau undangan event yang memang sifatnya umum, maka wajar jika sifat pengirimannya pun kolektif dan umum. Seperti misalnya undangan pameran beasiswa, lukisan seni, atau undangan pasar kaget yang sering diumumkan lewat pengeras suara dengan keliling kampung yang semua orang boleh datang.

P.S:
-----
Picture was taken from here.

Read more »

9.08.2011

[Exemplary] Action Needed


Kalau sedang mudik seperti ini, aku sering menjadi petugas penegak disiplin bagi para adik dan ponakan dirumah. Jangan dikira enak ya. Karena peran seperti ini tidak cukup pasang wajah sangar, marah-marah dan kadang memberi hukuman fisik, tapi lebih dari itu ada yang lebih penting yaitu, can i practice what i preach? Sebabnya adalah suatu pepatah lama yang bunyinya kurang lebih seperti ini: "Satu tindakan lebih memberikan keteladanan dari 10 nasihat kata-kata".

Pas mudik kali ini, aku sekalian membawa semua koleksi buku bacaan untuk aku taruh dirumah supaya bisa dibaca keluarga lagipula tidak repot untuk nanti kalau aku mau pindah kos setamatnya kuliah Desember 2011 ini insyaALLAH. Buku-buku ini ada banyak mungkin sekitar 100 lebih. Aku memberi tugas kepada keponakan ku untuk membaca buku yang sesuai minat mereka dan menuliskan pemahaman yang mereka dapat disebuah buku yang aku minta mereka namai "Ringkasan Membaca". Isinya bukan sekedar ringkasan, tapi apa saja pemahaman yang mereka dapat setelah membaca buku tersebut, tidak perlu panjang-panjang asal mereka benar-benar memahami. Sekaligus melatih mereka untuk menulis.

Saat mereka membaca aku menemani sambil membaca juga, karena kurang etis rasanya meminta seseorang menjadi begitu disiplin sementara kita begitu toleran terhadap diri sendiri. Bahkan ketika meminta mereka mengatur jadwal mereka agar hidup lebih teratur dengan melakoni kegiatan yang bermanfaat, aku juga ikut menemani, seperti mencuci piring atau sholat yang kami lakukan secara berjamaah. Ini membuat aku jadi berpikir untuk terus memperbaiki dan konsisten terhadap diri sendiri agar tetap bisa menjadi teladan bagi mereka. Walau aku sendiri sadar aku begitu banyak cela, tapi setidaknya aku sudah mengingatkan dan mengarahkan mereka akan banyak hal yang bermanfaat bagi hidup mereka nanti.

Setiap habis sholat kami berdoa, dan aku juga memberitahukan kepada mereka untuk tidak lupa berdoa khususnya supaya diberi kemudahan dalam mengejar ilmu yang bermanfaat dan menjadi anak yang sholeh/sholehah serta berguna dalam hidup kami.

Semoga ALLAH.SWT menerima doa kami. Amin.

Read more »

9.05.2011

Tinjauan Singkat Pajak dan Zakat


Pajak dan Zakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pemenuhan kewajiban baik dalam kehidupan bernegara maupun beragama. Apapun entitasnya baik individu maupun korporat. Terutama individu karena untuk korporat atau perusahaan belum ada kesepakatan kesatuan pemikiran (unity of tought ) dari para ulama Indonesia. Walau demikian, sudah banyak perusahaan yang membayar zakat atas dasar kesadaran berkontribusi.

Pada praktik pelaksanaanya tidak sedikit masyarakat yang masih bingung mengenai dua hal ini, ada yang beranggapan bahwa keduanya saling menegasikan dan ada juga yang berpendapat bahwa keduanya saling berdiri sendiri, serta kombinasi pelakuan lainnya.

Pada prinsipnya, baik pajak maupun zakat memiliki persamaan yaitu tujuan yang sama untuk menyelesaikan masalah ekonomi dan keduanya telah diatur agar dapat dikelola menurut cara yang dianggap tepat untuk mencapai tujuan tadi, yaitu dengan menyetorkan pembayarannya ke lembaga resmi yang sudah disahkan pemerintah. Selain itu tidak semua orang dikenakan kewajiban dua pungutan ini, semuanya dikembalikan kepada batas minimum untuk dapat dikenakan kewajiban menjadi wajib bayar pajak dan zakat. Di Pajak batas ini dikenal dengan istilah (Penghasilan Tidak Kena Pajak) dan Nishab jika pada Zakat.

Secara mendasar Pajak sendiri berumur lebih muda daripada Zakat, Zakat sudah dikenal jauh sebelum sistem perpajakan masuk ke Indonesia, pada masa kerajaan Islam berkuasa di Nusantara, sudah berdiri Baitul Maal yang menjadi pusat pengelolaan keuangan kerajaan, namun sistem ini secara perlahan mulai digantikan seiring dengan kedatangan kaum imperialis Eropa yang mengadopsi sistem perpajakan dinegara mereka.

Sebuah sistem yang merupakan konsekuensi logis dari Du Contract Sosial atau Perjanjian Sosial hasil pemikiran JJ. Rousseau. Artinya kondisi ini membuktikan bahwa walaupun sifatnya lokal, Zakat dapat diandalkan sebagai penopang keuangan negara. Dan dengan demikian tidak heran jika eksistensi Zakat tidak bisa dihilangkan ketika membahas perekonomian negara.

Perbedaan yang paling pokok antara Pajak dan Zakat adalah sumber perintah pelaksanaanya, Zakat bersumber dari Al-qur'an sementara Pajak bersumber dari Undang-Undang dan regulasi lain yang merupakan buatan para penyelenggara negara. Sehingga hal ini berdampak pada niat saat membayar. Tanpa bermaksud mengukur kadar keikhlasan, mungkin para Muzakki (pembayar Zakat) lebih ikhlas melakukannya daripada pada Wajib Pajak walaupun kedua pungutan ini sama-sama tidak memberikan imbalan langsung kepada pembayarnya.

Di Indonesia, praktik perpajakan yang berlaku telah menempatkan Zakat sebagai unsur yang tidak dipisahkan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan para wajib pajak. Zakat, bersama dengan sumbangan keagamaan lainnya yang bersifat wajib, menjadi pengurang penghasilan neto wajib pajak (bisa dilihat di formulir induk SPT Tahunan PPh OP), perlakuan ini berdampak berkurangnya nilai beban Pajak yang masih harus dibayar.
Tapi penerapan mekanisme ini berdampak kurang signifikan kecuali jika Zakat diperhitungkan langsung sebagai pengurang beban/hutang Pajak. Ini menunjukkan bahwa posisi Zakat dan Pajak adalah saling menggantikan namun tidak sepenuhnya.

Menurut Undang Undang Nomor 38 Tahun 1999, dikenal dua jenis Zakat yaitu Zakat maal dan Zakat fitrah. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah atas kedua jenis Zakat yang sudah dibayarkan ini boleh dibebankan dalam perhitungan Pajak? Didalam pasal 11 ayat 2 huruf b UU tersebut disebutkan bahwa termasuk dalam harta yang dikenai zakat contohnya adalah perdagangan dan perusahaan. Sebuah ruang lingkup yang sejalan dengan penjelasannya mengenai definisi Zakat maal. Namun kondisi ini belum memungkinkan zakat fitrah untuk dapat dijadikan sebagai unsur pengurang.

Adapun syarat Zakat agar dapat dibiayakan (diperhitungkan sebagai pengurang) menurut Pasal 9 UU Nomor 36 Tahun 2008 adalah dibayarkan kepada Badan Amil Zakat (BAZ)atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. Di Indonesia ada BAZ Nasional. Itu kenapa zakat fitrah tidak dapat memenuhi kriteria ini, lain hal dengan Zakat maal yang oleh perusahaan atau orang pribadi sering diserahkan ke BAZ atau LAZ. Sementara zakat fitrah diserahkan hanya atas nama individu dan kepada lembaga amil zakat yang sifatnya lokal atau langsung ke Mustahiq (orang yang berhak menerima zakat).

Kompleksitas penyelenggaraan kegiatan negara kian membutuhkan dana yang tinggi maka kembali lagi bahwa keberadaan Pajak sebagai penopang utama tidak bisa dihilangkan. Namun demikian ini bukan berarti Zakat tidak memberi peran, hingga Agustus 2011 BAZ Nasional sudah menerima 1,3 T Rupiah (sumber nya disini) suatu pencapaian yang bisa digunakan untuk membantu kelancaran kegiatan ekonomi bangsa sebagai penunjang dari aspek kehidupan sosial.

Dengan demikian dari tinjauan singkat ini dapat disimpulkan bahwa negara Indonesia sudah mengakomodasi kerancuan sistem Pajak dan Zakat dengan menempatkan Zakat sebagai unsur pengurang penghasilan netto yang akan diproses lebih lanjut untuk menjadi dasar pengenaan pajak. Sistem ini dianggap belum sepenuhnya membuat Pajak dan Zakat saling menggantikan karena dampak pengurangan ini tidak signifikan dan lagi hanya Zakat yang diserahkan ke LAZ atau BAZ yang didirikan atau disahkan oleh pemerintah yang boleh dibiayakan. Hanya jika pemenuhan kewajiban Zakat sudah optimal dan perananya bagi ekonomi negara makin besar maka ada kemungkinan posisinya makin sejajar dengan Pajak sehingga dapat betul betul saling menggantikan.

Read more »

9.03.2011

Berkebun di New York


New York, awal Tahun 1990an.


Bapak ku, Nenek ku dan Mamakku sangat suka berkebun dan semua aktifitas yang berkaitan dengan tanam menanam, mulai dari menanam, menyiangi, merawat, sampai memanen, dan semua aktifitas ini sudah dimulai sejak dulu jauh sebelum aku lahir, itu sebabnya aku sudah biasa makan pisang, rambutan, duku, cempedak langsung dari pokok/pohonnya. Sekitar tahun 1990an, aku sudah berusia belum dewasa namun sudah cukup liar untuk terus dikungkung didalam rumah, sehingga mulai biasa ikut berkebun bersama Bapak. Kami punya kebun yang berada di New York. Tapi jangan bayangkan aku akan terbang ke negeri Paman Sam. Karena New York disini adalah Tanjung Baru, betulkan? New itu Baru, York itu Tanjung. Silahkan kalau mau lempar pakai komen di BSE :)

Tahun 1990an itu pergi kekebun seperti bertamasya ke Taman Buah Mekar Sari kini. Karena kebun kami terawat dengan bersih, tertata disetiap blok lahan dengan jenis tanaman tertentu yang mengisinya, sehingga jelas mau kemana kalau ingin memanjat pohon Duku atau Rambutan atau sekedar memetik sayuran untuk lalapan. Belum lagi penjagaan dari Nenek yang ekstra ketat, tidak akan beliau (almh) membiarkan kulit rambutan berserakan dibawah pokoknya. Begitu aku masuk kandang kebun, langsung diwanti-wanti jangan buang kulit buah sembarangan.

Tapi aku nakal, masih saja aku panjat dan kulitnya ku biarkan jatuh kebawah lalu aku bersembunyi di balik rimbun dedaunan sambil memperhatikan Nenek kebingungan menatap ke atas pohon dan menggerutui kulit buah yang berserak dibawah. Bingung beliau aku buat. Ah, biasa aku waktu itu masih anak-anak.

New York, Kini...

Kemarin aku menemani Bapak ke kebun kami yang rasanya cuma setahun sekali aku kunjungi, ya pas mudik saja. Semuanya sudah banyak berubah dan tidak serapi dan seasri dulu, pohon Rambutan banyak yang sudah mati dan rerumputan sudah lebat namun mati dengan daun kering tertunduk karena semprotan anti gulma. Aku maklum, Bapak ku sibuk dengan urusan yang lain, ke kebun masih tetap rutin setiap sore minimal 1 jam, tidak seperti dulu yang bisa full-time yang karena itu aku katakan bahwa aku dan saudara-saudaraku ini hidup dari hasil kebun apalagi kalau sedang panen tahunan.

Tapi walau begitu tetap saja kami bisa menikmati hasil kebun kami dengan mudah, seperti makan Pisang, Tebu, Kopi, Pinang, Rambutan, Duku atau Sayur-sayuran. Kata sepupu ku ganti saja lirik lagu : "disini senang disana senang dimana-mana hatiku senang" dengan lirik "disini pisang disana pisang dimana-mana ada pisang".Kalau ada keluarga yang sedang hajatan biasanya Bapak menyumbang hasil kebun ini, dan kalau ada rejeki lebih barulah ditambah amplop. Itulah kurasa Bapak ku tidak cocok jadi orang kota, karena tak mungkin kalau ada resepsi menikah kami harus membawa hasil kebun kami. :).

Keadaan kebun memang tidak seperti waktu Nenek masih ada, namun kenangannya hingga kini masih tetap hidup. Membekas.Yang kini sangat banyak di tanam Bapak adalah Duku, sudah sejak 10 tahun lalu Bapak rajin mulai menanam Duku. Bapakku cukup visioner dan optimis melihat masa depan kebun kami ini, dan melihat potensi hasilnya. Aku hanya mengangguk setuju dan berharap kami semua diberi kesehatan dan kemampuan untuk mewujudkannya dan merasakan nikmatnya, hasil jerih payah Bapak, Nenek dan Mamakku. Mungkin 10 atau 15 tahun lagi cita-cita ayahku untuk menjadikan keturunannya juragan Duku, Pinang dan Kopi akan terwujud. Amin.

*): Mamak disini adalah Ibu Tiriku.
*): Tanjung Baru adalah nama sebuah Desa di Kecamatan Baturaja Timur, tempat aku lahir dan dibesarkan.

Read more »