11.30.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (IV)

Baru saja lewat tengah hari saat kemudian istri saya dibawa kembali ke ruangan, sepenuhnya ia belum sadar. Tapi saya tahu lewat igauannya, alam bawah sadarnya terus bekerja sampai akhirnya perlahan demi perlahan ia membuka mata. Di saat itu pula ia meringis pedih untuk tiga luka bekas operasinya dua jam yang lalu. Bagaimanapun beratnya kejadian- kejadian yang baru saja kami lewati, kami bersyukur sekali karena operasi pengangkatan Kista dari dalam tubuh Istri telah berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal lagi masa pemulihan, menapakkan kembali langkah yang sempat terpaku erat di satu titik kehidupan bernama ujian.

Beberapa jam kemudian...

Istri saya mulai penuh kesadarannya, perawat berpesan untuk tidak terlalu banyak bergerak terlebih dahulu dan sementara cukup berikan saja air putih, baru 12 jam kemudian boleh diberi makanan. Tidak banyak detil cerita yang Istri sampaikan sesaat begitu ia tiba dimeja operasi, yang ia ingat cuma bahwa beberapa saat kemudian, ia merasa tubuhnya panas, matanya berat dan kemudian mengantuk lalu tertidur. Mungkin pengaruh obat bius, ia memang di berikan Anestesi Umum yang sudah saya tandatangani persetujuannya. Ia memang takut sebelumnya, namun saya lihat ia kuat dan berani menghadapi operasi itu.

Saya: "Bagaimana sekarang rasanya? sudah lebih baik atau masih tidak enak?"
Istri: "Sudah mendingan, cuma di perut masih terasa pedih dan perut terasa kembung seperti penuh oleh gas"
Saya: "Mungkin pengaruh operasi tadi, obat biusnya atau gas yang dialirkan ke rongga perut untuk mempermudah operasinya! InsyaALLAH tidak apa- apa, nanti juga hilang sendiri ya sayang!"


Kemudian kami pun berbicara tentang banyak hal, termasuk rencana pemulihan pasca opname, saya serahkan kepada Istri untuk memilih sementara waktu apakah langsung ikut kembali ke Pangkal Pinang, tinggal di rumah Saudara di Palembang atau kembali ke Baturaja. Namun pembahasan kami buntu, karena belum terlalu yakin nanti dengan pilihan yang akan diambil. Kami sepakat nanti saja begitu sudah keluar dari Rumah Sakit baru kami lihat lagi, karena memang dari pihak Rumah Sakit baru membolehkan pulang dua hari lagi.

Malam pun tiba, bersama keluarga kami sempat diskusikan perihal yang sama, dan saya sudahi dengan mengatakan bahwa nanti kami kabari apa yang menjadi pilihan kami. Buat saya, bagaimanapun tetaplah perlu untuk meminta pertimbangan keluarga dalam mengambil keputusan, dan akhirnya hanya kami berdua pula lah yang mengambil sikap. Setelah keluarga pulang, kembali hanya kami berdua saja di Rumah Sakit. Seperti biasa di malam- malam sebelumnya.

Rabu. 27 November 2013

Sudah berganti hari, keadaan Istri sudah semakin membaik, ia pun sudah boleh makan makanan berat, perutnya masih terasa kembung dan kini batuk yang disebabkan rasa gatal di tenggorokan. Dokter Yusuf, SpOG(K) visite kepada Istri dan melihat langsung kondisinya dan menyampaikan beberapa hal yang perlu saya ingat baik- baik.

Dokter: "Ini besok sudah boleh balik, insyaALLAH tidak apa-apa, keadaanya baik. Hanya saja, perlu diperhatikan kontrol rutin tetap dijaga"
Saya:"Kemudian, posisi kami jauh dari Palembang Dok, apa boleh kami kontrol rutin di Pangkal Pinang saja? Kebetulan beberapa Dokter disana kami sudah kenal (sambil saya menyebutkan nama beberapa Dokter Kandungan)"
Dokter:"Oh boleh, nanti saya buatkan rujukan untuk pengantar ke Dokter disana, kebetulan mereka adalah murid- murid saya juga! Terus perhatikan untuk segera programkan kembali kehamilan untuk menekan pertumbuhan Kista nya karena jenis Kista nya mudah kambuh!"
Saya:"Kira- kira kapan kami bisa mulai program lagi Dok?"
Dokter:"Secepatnya begitu kondisi sudah membaik seutuhnya sudah bisa dimulai!"


Kemudian dokter berlalu, saya menunggui Istri bersama beberapa keluarga yang tidak lama kemudian juga pamit pulang ke Baturaja. Disaat- saat seperti ini, seberapa pun kita merasa kuat, tetap saja kehadiran keluarga dan teman- teman berarti memberi semangat atau dukungan moriil yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah. Bentuknya bermacam- macam, bisa lewat sms, telepon atau membesuk langsung. Dari kemarin dan sepanjang hari ini cukup banyak rekan- rekan saya dan Istri yang menyempatkan datang. Terima kasih dengan tulus saya dan Istri ucapkan. Semoga kebaikan dan berkah ALLAH.SWT selalu menyertai kalian, aamiin.

Kamis. 28 November 2013

Pagi tiba, gelap mulai beranjak berganti cerah. Saya mulai sibuk sedikit demi sedikit mengemas perlengkapan karena rencananya hari ini kami akan pulang. Rutinitas pagi di Rumah Sakit ini saya sudah mulai paham, bila pagi, petugas kebersihan datang membangunkan keluarga pasien untuk segera mengemas alas tidur karena lantai Rumah Sakit mau disapu dan dipel. Menjelang pukul 08.00 sarapan tiba disusul kontrol rutin oleh perawat yang berganti shift. Namanya ragam petugas, ada yang ramah ada juga yang irit senyum, tapi ya itu sama sekali tidak merugikan saya, bila kurang berkenan, biasanya langsung saya tinggalkan pergi.

Ketika usai menyuapi Istri sarapan pagi, saya sempatkan untuk mengajak Istri bangun dari tempat tidurnya untuk duduk dan mencoba beranjak berjalan setapak demi setapak. Saya tahu itu berat, nyeri dan rasa tidak nyaman lainnya. Tapi saya kelabui semua rasa empati itu agar Istri tidak terjebak dalam pikirannya sendiri yang terus- menerus mengasihani dirinya. Semua seperti memulai lagi dari awal, meski tentu tidak sedramatis yang mungkin dapat saya bayangkan. Ini semua hanya soal menjadi kuat dan yakin bahwa operasi dua hari yang lalu hanya sedikit tahap yang sebentar saja berlalu sebagai pelajaran dan hikmah. Jalan masih panjang.

Menjelang pukul 10.00 WIB, saya mulai mengurusi administrasi agar Istri bisa keluar dari Rumah Sakit. Mulai dari urusan ASKES sampai klaim AXA Mandiri Asuransi a.n. Istri. Saya menemui petugas ASKES dan ia merinci biaya perawatan Istri mulai dari Rawat Inap, Operasi, Jasa Dokter- Perawat, Obat- obatan sampai akhirnya bila diperkirakan mencapai jumlah sekitar Rp 12Jt. Atas semua nilai itu 100% ditanggung ASKES dan saya hanya membayar sebesar Rp 723.000,- untuk menebus obat yang tidak ditanggung. Urusan klaim Asuransi pun tidak terlalu rumit, begitu Surat Keterangan Dokter dan Keterangan Rawat Inap saya lengkapi dengan rincian biaya dan dokumen rekam medis, kami tinggal lagi menunggu hasil verifikasinya dalam kurun waktu 14- 60 hari kedepan.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Siang itu, kami pun pulang meninggalkan Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang menuju rumah saudara untuk beristirahat pasca opname. Kami pun sudah memutuskan bahwa sekitar tiga hari pemulihan disini, untuk kembali lagi ke Pangkal Pinang menggunakan Pesawat Terbang Sriwijaya Air. Pihak keluarga semuanya sudah kami beritahu, semuanya mengamini sambil mengingatkan untuk lebih berhati- hati. Saya senang mereka mengingatkan.

Sabtu. 30 November 2013

Saat tulisan ini diketik, 1 jam kurang Desember akan menjelang. Saya merenungi bagaimana masa dua minggu ini menjadi masa yang tentu tidak akan saya dan Istri lupakan. Tidak pernah kami sangka bahwa dalam kurun waktu 6 bulan pernikahan kami akan mengalami ujian ini, ujian yang datang dari pemilik kehidupan yang kepadaNYA kami memanjatkan doa dan pinta untuk selalu sabar dan tawakkal. Mungkin ujian ini adalah jawabanNYA. Saya tidak tahu persis, tapi saya hanya ingin dengan ujian ini saya dan Istri makin banyak mengingatnya. Bersyukur dan bersabar karenaNYA.

Istri sedari tadi sudah pulas tertidur. Wajah cantiknya sama sekali tidak hilang bahkan saat ia memejamkan mata. Bagaimanapun, kami akui kami telah belajar banyak untuk tidak menyoal suatu kejadian dengan kata 'mengapa' tapi menghadapinya berdua bersama dan menjadi lebih kuat, menuju kehidupan yang lebih dalam dan merajut rasa saling terikat yang lebih erat. Ikatan yang tidak bisa dilihat tapi terasa dan terus terbawa sepanjang jalan cerita kehidupan kami dimasa mendatang.

Besok, ceritanya akan kembali lain, saya dan istri kembali hidup berdua jauh dari keluarga, tetapi semua ragam kehadiran dan dukungan yang pernah kami terima akan menjadi pengingat bahwa tidak ada hal yang kebetulan. Hidup telah diatur oleh ALLAH.SWT yang maha kuasa. Rangkaian cerita yang terajut bagai saling lepas, nyatanya tidak lebih dari sekadar jaring- jaring hubungan sebab akibat yang tidak terikat jarak.

Salam

Ebas.
Palembang. 30 November 2013. 23:23 WIB.

Read more »

11.29.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (III)

Kami berdua masih sempat menikmati akhir pekan di Kota Palembang untuk sekadar berkunjung ke Toko Buku. Bagaimanapun, kota ini memiliki makna dan ikatan historis buat kami. Lagipula saya kira penting untuk mengkondisikan Istri agar santai sebelum masuk opname dan dioperasi dua hari kedepan. Ketenangan jiwa adalah wujud sederhana dari sikap menerima yang sudah kami lakoni atas kejadian kemarin.



Senin. 25 November 2013

Sedari sebelum shubuh kami sudah bangun, Istri mengingatkan saya untuk tidak melewatkan saat- saat istimewa sholat malam dan memanjatkan doa, di situasi yang hening itu semua doa dan harap kami, saya sebut satu demi satu untuk selebihnya pasrah dan berserah (tawakkal). Bagaimanapun, dari sudut pandang saya seorang awam, saya kira ikhtiar yang optimal sudah kami lakukan selebihnya hanya doa dan tawakkal saja.

Pagi itu, seperti janji dengan pihak Rumah Sakit, kami langsung menuju Ruang Rawat Penyakit Kebidanan. Saya terlebih dahulu mengendarai motor pinjaman Saudara, turun langsung mengurus persiapanya, sementara Istri dan beberapa keluarga yang mengantar menumpang mobil. Begitu tiba, saya langsung menemui dr Linda. Beliau memberi saya secarik kertas pengantar sebagai syarat administratif pendaftaran sebelum masuk ruangan. Berbekal kertas yang memuat identitas Istri dengan cap ruangan IGD itu saya menemui petugas loket pendaftaran di Poli Kebidanan. Tetapi, terjadi kesalahpahaman karena kertas itu memintakan nomor rekam medis dari IGD. Saat itu Istri sudah tiba pula sehingga ia ikut mondar- mandir mengurusi.

Saya: "Pagi Bu, ini saya diminta dari ruang kebidanan untuk meminta nomor rekam medis supaya bisa dirawat inap, karena kemarin sudah dapat pengantar dari Dokter Yusuf!"
Petugas:"Mas, ini formulirnya dari IGD jadi bisa beri nomor ya dari IGD, kalau nomor disini khusus untuk yang ke Poli, lagipula nomor nya formatnya lain, nanti keliru!"
Saya: "Iya Bu, maksud saya juga begitu, ini sengaja memang untuk dapat nomor dari sini, cuma karena kata Dokter Linda formulirnya habis jadi pakai yang dari IGD, itu buktinya cap dari IGD nya dicoret!"
Petugas:"Ya sudahlah, kalau begitu saya buatkan formulir baru saja dari sini nanti langsung dibawa saja ke ruangan"

Begitu formulir lengkapnya sudah saya dapat, saya belum bisa ke ruangan karena masih harus mendaftarkan secara adninistratif ke ASKES. Di loket pendaftaran ASKES beruntung Istri langsung menghubungi rekan lamanya semasa ber co-ass di RSMH, namanya Muklis, ia banyak membantu mengurusi tertib administrasi ASKES sampai akhirnya kami sudah bisa masuk ruangan. Dari proses itu pula kami baru tahu bahwa 100% biaya selama perawatan dan operasi ditanggung ASKES kecuali untuk Obat- obatan yang tidak masuk kelompok, sepanjang kami tidak pindah ke kelas yang lebih tinggi. Alhamdulillah, setidaknya ini kabar baik dan secara nyata akhirnya saya bisa merasakan langsung manfaat ASKES setelah hampir 7 tahun setiap bulan gaji saya dipotong untuknya.

Kami akhirnya masuk ruangan. Kamar 11- II A. Ruangan kelas II ber- AC sekamar bertiga. Istri resmi berstatus pasien yang akan menjalani operasi besok, dan saya diberi kartu khusus keluarga pasien. Berdua bersama Istri diruangan itu buat saya tidak sama sekali mengurangi rasa kasih sayang saya untuknya, meski saya tahu dan sadar disitu bukan taman indah berbunga, melainkan Rumah Sakit, tempat yang bagi sebagian orang sangat perlu dihindari. Punggung tangan kanan Istri kembali dipasangi infus dan mulai diberikan beberapa suntikan antialergi sebagai syarat standar pra- operasi. Saya pun diminta menyiapkan satu kantong darah sebagai persiapan, bila saat operasi berlangsung dibutuhkan darah.

Beruntung, golongan darah saya dan Istri sama yaitu O Rh +. Saya mendonorkan darah saya melalui PMI terdekat dan memastikan kepada petugasnya bahwa darah saya bila diperlukan, hanya diperuntukkan untuk Istri. Lain hal, bila ternyata tidak dibutuhkan, maka saya ikhlas darah saya diberikan kepada orang lain.

Pada hari yang sama masih, hanya saja sudah gelap pertanda hari beranjak malam. Saat itu pula, pihak keluarga dari Istri sudah tiba dari Baturaja (mertua saya). Kehadiran mereka sangat berarti meski kami tidak ungkapkan dalam bentuk kata- kata namun setidaknya jiwa kami pulih lantaran aliran deras perhatian dari keluarga yang kami terima dalam beragam bentuk, apalagi ini sampai datang jauh- jauh menempuh 5 jam perjalanan. Setelah melihat langsung kondisi dan mendengar semua cerita, kedua mertua saya kembali ke rumah Saudara, saya dan Istri berdua saja di Rumah Sakit, bercerita tentang apa saja dan intinya tetap sama, kami saling menguatkan dalam berbagai bentuk dan cara.

Istri: "Bang, takut aku. Besok operasi!"
Saya: "Tidak ada yang perlu ditakuti, jalani saja, awalnya saja cemas, nanti bangun- bangun sudah lewat semua, tidak terasa sama sekali, lagipula semua ikhtiar dan doa insyaALLAH sudah dan terus kita jalani, selanjutnya yakin saja pertolongan ALLAH. SWT pasti ada, ya sayang!"
Istri: (terdiam sambil menatap saya dalam) "Maafkan aku ya Bang, kalau begini jadinya merepotkan Abang!"
Saya:"Tidak ada yang salah, sudah jalannya harus begini, kita tawakkal saja, ini ujian, sabar dan syukur saja"
Istri: "Bang, besok jangan pergi kemana-mana ya, aku pengen besok begitu sadar dari operasi Abang tetap ada disamping aku!"
Saya:"Iya sayang!"

Selasa. 26 November 2013

Kami tertidur. Niatnya jam 01.00 dini hari saya harus bangun untuk memberi sahur Istri, karena dokter meminta sebelum naik meja operasi harus puasa mulai jam 02.00, tapi apa mau dikata, saya justru ketiduran dan terbangun jam 03.00. Nasi sudah menjadi bubur, kepada Istri saya mohon maaf, wajar ia kecewa. Tapi apa mau dikata. Ya sudahlah, lupakan saja, akhirnya Istri minum sedikit air dan saya menyempatkan diri untuk tidak melewatkan waktu mustajab itu untuk Sholat Malam dan berdoa (semoga saya terhindar dari sikap Riya').

Pagi harinya dokter bergantian datang memastikan kondisi Istri, mulai dari dokter kandungan, dokter anestesi sampai perawat dan petugas antar pasien. Istri dapat giliran pertama dioperasi sekitar pukul 08.30 harus sudah masuk ruang persiapan. Pagi itu juga, mertua dan bibi dari Istri sudah datang menemani, tidak lama kemudian, Istri saya diminta keruangan menggunakan Kursi Roda dengan tangan tetap terinfus. Saya sendiri yang mendorongnya. Semua perlengkapan standar, secukupnya kami bawa seperti kain, berkas administrasi dan alat komunikasi.

Setibanya diruangan operasi, istri langsung dibaringkan diranjang persiapan, beberapa dokter dan pegawai Rumah Sakit terlihat bersiap, sekitar setengah jam kemudian, saya mulai diminta keluar ruangan bergabung bersama keluarga diruang tunggu sementara Istri sudah langsung naik meja operasi. Selanjutnya, saya tidak tahu, saya hanya berdoa dan berharap semoga semuanya berjalan lancar.

1 jam berlalu...
2 jam berlalu..


Tiba- tiba Dokter Yusuf, SpOG(K) memanggil saya, pikiran saya berspekulasi, apa ada sesuatu? apa darah kurang? untunglah beliau menceritakan bahwa operasi sudah selesai dengan lancar, semua Kista sudah diangkat dan saluran serta alat reproduksi Istri sudah dicek dan kondisinya baik.

Dokter: "Tadi alhamdulillah operasi sudah berjalan lancar, semua Kista nya sudah diangkat dan kondisi organ reproduksi Istri sudah kita cek baik"
Saya:"Terima kasih Dok, alhamdulillah. Bagaimana kondisi rahimnya? apa sudah bersih pasca keguguran?"
Dokter:"Iya sudah bersih, sudah kita cek juga, hanya saja ini jenis Kistanya dapat kambuh, jadi tetap harus rutin kontrol dan usahakan segera programkan kehamilan dalam waktu dekat begitu sudah pulih untuk menekan pertumbuhan Kistanya"
Saya:"Baik dok, terima kasih"

Dokter kemudian kembali keruangan, dan beberapa saat kemudian Istri sudah dikeluarkan dalam kondisi yang belum sepenuhnya sadar. Dalam hitungan menit kemudian, ia perlahan mulai mengigau setengah sadar dan saat dalam igauanya ia memanggil- manggil saya pelan :"Abang.. Abaang...". Saat itu juga saya bahagia dan bersyukur saemuanya berjalan lancar dan juga bahagia telah memenuhi janji saya tadi malam bahwa saya akan jadi orang pertama yang ia lihat saat ia membuka matanya setelah operasi.

Bersambung...

Read more »

11.28.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (II)

Cerita hidup berjalan penuh teka- teki, masih segar dalam ingatan, pagi tadi kami berangkat dalam kondisi sehat dan kini kami berdua sudah berada di Rumah Sakit di bilangan Jalan Demang Lebar Daun, Palembang. Saya menemani istri yang terbaring lemas bersama infus yang tertancap kuat ditanganya. Dokter yang berstatus sebagai Dokter Jaga tidak juga datang, belakangan kami tahu bahwa sang dokter kini berada di klinik pribadinya dan baru malam nanti datang. Saya sebetulnya sudah geram dan hendak menekan pihak Rumah Sakit agar istri saya segera di periksa, tapi baiklah saya diam saja, karena saya yakin reaksi istri saya seperti biasa: “Sudahlah Bang, sabar saja, kita tunggu!”. Meski sampai malam kami tunggu, dokter tersebut tidak juga datang. Perawat meminta kami menunggu besok pagi.

Kamis. 21 November 2013

Setelah lelah kemarin berburu obat yang diminta pihak Rumah Sakit (suster/ perawat), tidak terasa hari sudah pagi, masih diruangan yang sama, bunyi detak jam dinding yang sama, dan tetes demi tetes cairan dari botol infus yang sama. Di Kamar Shafa, saya dan istri bertukar tatapan dan menguatkan genggaman tangan berusaha meyakini semua akan baik- baik saja sambil berharap sang dokter segera datang dan memastikan bahwa harapan kami benar adanya dan kami segera dapat kembali menikmati hidup bahagia. Tapi, semuanya tidak seindah yang kita ingini.

Dokter baru datang pukul 11.30 siang (20 jam setelah kami masuk dirawat). Saat itu saya sedang tidak menunggui Istri, ada Bibi dari pihak Istri yang menjagai, karena saya sedang ada tugas dinas ke daerah Kambang Iwak. Jujur saja, saya sempat tidak fokus selama menjalankan tugas, semua terasa lain dan seperti ada sensasi pengalaman yang baru kali itu saya rasakan. Meninggalkan orang yang kita cintai terbaring lemas di Rumah Sakit menanti keterangan dokter adalah hal yang membuat saya sadar bahwa inilah munajat cinta yang saya simpulkan bahwa orang yang kita cintai adalah orang yang muncul dalam tiap doa- doa kita untuk kebaikan mereka.

Tapi kerinduan hati tidak bisa dibohongi, saya bergegas agar pekerjaan selesai secepat mungkin dan segera kembali ke Rumah Sakit setelah mendapat kabar Istri akan segera masuk ruangan USG untuk pemeriksaan. Begitu tiba, saya segera masuk ruangan USG dan menatap monitor USG sambil mendengar penjelasan dokter. Intinya menurut dokter tersebut rahim istri saya sudah ‘bersih’ dengan kata lain, Istri mengalami keguguran (Abortus). Selain itu, di Indung Telur sebelah kanan Istri terdapat Kista yang seukuran 10,42 cm.

Saya dan Istri sempat kaget mendengar penjelasan dokter, kehamilan Istri adalah hal yang sangat kami tunggukan sejak 6 bulan terakhir. Tapi kalau memang harus terjadi keguguran tersebut, kami berusaha tetap sabar dan bersikap wajar, tidak perlu kami perlihatkan ekspresi yang lebih dalam. Hanya saja, dokter tidak bisa memastikan apakah perlu dilakukan curage pada rahim dan menyarankan operasi pembedahan perut (laparotomi) untuk mengangkat Kista. Kami berdua ngeri mendengarnya, bukan cuma karena nyawa Istri yang dipertaruhkan di meja operasi namun juga karena dari cara dokter menanggapi deretan pertanyaan yang kami berikan atas temuan itu, membuat kami berpikir perlu untuk mencari second opinion. Alhasil, kami meminta waktu untuk berdiskusi sebelum memberi tanggapan atas saran sang dokter.

Sekembalinya ke kamar kami merenungi kenyataan bahwa impian kami untuk segera memiliki anak belum dapat terwujud. Saya menatap dalam- dalam wajah istri yang pucat, saat ia balik menatap mata saya, jujur saja saya tidak berani banyak berbicara, menatap matanya sama dengan melihat segenggam harapan kami yang pupus tanpa tahu siapa atau apa yang harus dipersalahkan. Tapi saya kira kelanjutan ceritanya tetap akan sama, hidup harus terus berjalan, saya harus menjadi benteng pertahanan yang menguatkan sekaligus pengingat bahwa masih banyak yang patut disyukuri. Ini ujian, yang insyaALLAH dibaliknya ada kemudahan dan kemudahan. Ya, saya tidak salah ketik, ada dua kemudahan yang akan muncul sebagaimana dijanjikan ALLAH.SWT didalam Al-Qur’an.

Akhirnya kami putuskan untuk segera keluar dari Rumah Sakit dan saya menandatangani Surat Pernyataan Keluar Paksa, selanjutnya kami langsung mencari dokter rujukan salah seorang teman di daerah Kenten. Hari perlahan makin petang, dengan menumpang mobil saudara, kami menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Widiyanti dan bertemu dengan Dokter Yusuf Effendi, Sp.OG (K), oleh beliau kami diberi penjelasan dengan melihat layar USG dan dengan kesimpulan yang sama bahwa Istri telah keguguran, rahimnya telah bersih dan benar bahwa terdapat Kista Ovarium di sebelah kanan Indung Telur Istri.

Oleh beliau, kami disarankan untuk menjalani operasi laparoskopik, teknologi medis terbaru yang dapat dipakai untuk mengangkat Kista tanpa harus membedah perut Istri. Iritasi dan masa pemulihan jadi lebih minimal, dari beliau pula kami mengetahui bahwa keguguran yang dialami Istri bukan karena perjalanan panjang yang dua hari lalu kami tempuh, tapi karena pertumbuhan janin yang tidak optimal karena tidak bisa melawan Kista yang sudah menekan Ovarium kemudian meluruh melalui keguguran. Kami menyanggupi operasi tersebut dan beliau segera membuat surat rujukan ke Rumah Sakit Umum Muhammad Husein Palembang (RSMH) untuk dibuatkan jadwal operasi bagi istri dan juga sekaligus menebus obat peluruh untuk membersihkan rahim yang mungkin masih terisi oleh sisa- sisa keguguran.

Jumat. 22 November 2013

Berbekal surat rujukan dari Dokter Yusuf, saya dan Istri menuju RSMH menemui dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat Kebidanan untuk memesan kamar, dari proses itu kami kemudian bertemu dengan dokter Linda (Residen) yang menjadwalkan operasi kami pada hari Selasa dan meminta agar hari Senin paling lambar sudah masuk untuk opname. Proses pencarian kamar itu ternyata tidak sesederhana pikiran saya, pemesanan baru bisa diterima paling cepat 1 hari sebelum operasi dan paling lambat 3 jam sebelumnya. Beruntung berkat bantuan seorang teman lama yang kini bertugas sebagai perawat di RSMH (Ubudiah Mahyatsani) , kami mendapat gambaran proses dan prosedurnya. Sehingga tidak terlalu khawatir tidak kebagian kamar. Akhirnya saya putuskan untuk kembali saja lagi pada hari Minggu untuk memastikan dan menguatkan komitmen.

Minggu, 24 November 2013

Pagi itu, saya kembali ke RSMH menuju ruang kamar inap Kebidanan dan Kandungan, dan menemui bagian administrasi. Saya membawa surat rujukan dan menemui perawat jaga (Suster Dwi) dan oleh beliau dijelaskan bahwa ruangan sudah tersedia, namun baru bisa dimasuki pada hari Senin, atau sehari sebelum operasi sebagaimana telah dijadwalkan. Tidak mengapa, yang penting semua jelas, tujuan dan proses tinggal dijalani sehingga dapat memberi kabar yang menenangkan hati.

Saya pun mulai berpikir, tentu akan lebih lama masa tinggal saya di Palembang, tidak mungkin Istri ditinggalkan sendiri meski ada keluarga yang menjagai. Itu berarti saya harus off dari kantor sebelum Istri bisa kembali saya bawa pulang ke Pangkal Pinang, akhirnya tiada pilihan lain, saya mengajukan Cuti Alasan Penting selama seminggu kedepan sampai tanggal 29 November 2013 dengan konsekuensi dipotong 25% tunjangan atas ketidakhadiran tersebut. Tapi nilai itu tidak sebanding terhadap beban pikiran bila saya meninggalkan istri. Urusan kecewa pada negara soal kebijakan tersebut, itu soal lain, bukan tempatnya dibahas disini, yang penting Istri segera sehat dulu. Titik.

Bersambung….

Read more »

11.24.2013

Bukan Hidup Yang Kebetulan (I)


Tulisan ini semata saya buat untuk menjadi pengingat bahwa saya dan istri, dalam satu babak kehidupan kami, tengah menjalani cobaan yang insyaALLAH saya anggap sebagai ujian. Lewat catatan ini pula saya berusaha mengabadikan kekaguman saya kepada ALLAH.SWT sang pengatur kehidupan, tentang kepingan demi kepingan cerita yang tampak sekilas bagai biasa namun saling terkait dan nyatanya membentuk rangkaian yang tidaklah terjadi secara kebetulan.


Jumat. 15 November 2013

Pagi itu seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor saya selalu melayangkan kecupan lembut ke kening istri saya yang tengah hamil 2,5 bulan. Bagi saya memandangnya dan menantikan senyumannya adalah cara memastikan bahwa ia akan baik- baik saja selama saya dikantor. Terlebih saya paham betul bahwa dalam kondisi hamil muda begitu, ia butuh lebih dari perhatian biasa. Saya pun berangkat kekantor, memulai aktivitas seperti biasa, sampai beberapa menit kemudian.

“Rik, loe kalo dikasih tugas ke Palembang tiga hari, siap kan?” Tiba- tiba bos di kantor menugasi demikian. Di kantor saya, suasana lingkungan kerja memang tidak kaku sehingga saling sapa informal dengan sapaan “gue-elo” bukanlah hal tabu.

“Wah, bentar Pak, gw bahas sama bini dulu, maklum Pak, saya khawatir kalo ninggalin dia sendiiran, nanti siang gw kasih tau keputusannya Pak”. Begini- begini memang saya kerap membiasakan sebisanya untuk mendiskusikan tiap kali mengambil keputusan, terutama kalau sudah menyangkut urusan bersama.

Beberapa menit kemudian, saya menghubungi istri untuk memintakan pendapatnya

“Sayang, Abang mau ditugasi ke Palembang selama 3 hari, bagaimana kira2?” Ujar saya singkat.

“Ummh.. boleh juga Bang, sekalian kita periksa kandungan ke Obsgyn yang direkomendasikan teman beberapa waktu lalu” Begitu tanggapan istri saya singkat. Sehingga diputuskan saya dan istri berangkat ke Palembang sembari tugas dan karena ada urusan pribadi juga.

Tetap ditanggal yang sama, hanya saja langit cerah sudah pudar berganti gelap.

Seperti biasa, saya dan istri kerap menghabiskannya dengan bercengkrama berdua tentang apapun, ditengah kehamilan istri tentu saja kami tidak pernah lupa membahas tiap perkembangan kehamilannya. Kebetulan sekarang lagi musim Mangga, jadi cukup banyak saya membeli Mangga untuk dijadikan cemilan segar dikala ngobrol santai seperti itu.

“Bang, tadi pagi sepertinya saya nge- flek. Keluar cairan coklat dari jalan lahir, sama seperti kemarin Bang..” Istri saya menceritakan flek/spotting yang dialaminya dua hari belakangan dengan tensi santai dan berusaha tenang.

“Mungkin pengaruh hormonal, insyaALLAH aman, toh, kita sudah optimal dalam ikhtiar dan doa, yakin saja, sekalian nanti di Palembang kita cek,. Apalagi obat penguatnya rajin diminum!” Begitu saya mencoba meyakinkan istri. Sejujurnya saya juga cemas, apalagi ini kehamilan pertama istri setelah 6 bulan usia pernikahan kami, jelas kehadiran anak sangat kami nantikan.

Selama beberapa hari berikutnya, kami mempersiapkan keberangkatan, mulai dari urusan pesan tiket, akomodasi jemputan dari Saudara, sampai urusan untuk membawa oleh- oleh secukupnya. Selama beberapa hari itu pula saya kerap mengingatkan istri saya untuk tidak terlalu memaksakan diri dalam beraktivitas, khawatir mengganggu kesehatan kandunganya.

Rabu. 20 November 2013

Pagi itu sekitar pukul 07.00, kami sudah siap menunggu jemputan Travel jurusan Pangkal- Pinang — Muntok yang akan membawa kami menyeberang menuju Sumatera Selatan. Segala sesuatu sudah kami siapkan, mulai dari bekal makanan, persediaan pakaian dan lain sebagainya. Jemputan tiba, dan kami beserta seluruh penumpang langsung dibawa menuju Muntok. Sepanjang jalan, bisa dikatakan permukaan jalur cukup mulus sehingga relatif tidak memicu goncangan keras yang mengganggu rahim istri saya yang sedang hamil.

Menjelang pukul 10.00 kami tiba di Pelabuhan Muntok dan melanjutkan perjalanan dengan menumpang Kapal Cepat Ekspres Bahari menyeberangi Selat Bangka dan menyusuri Sungai Musi. Hampir tiga jam waktu kami habiskan di laut dan sungai. Kami sempat makan dengan bekal yang sudah disiapkan Istri, dan ia pun minum susu khusus ibu hamil yang sudah ia siapkan dalam tupperware. Tapi tak lama kemudian, saya dapati istri seperti diam tertegun namun terasa tidak nyaman.

“Ada apa sayang? Ada yang tidak nyaman? Saya bertanya seperti itu karena saya sudah cukup kenal bagaimana ekspresi Istri bila sedang tidak nyaman atau memendam sesuatu.

“Tidak apa- apa!” Jawab Istri sambil menggeleng dan menguatkan genggaman tangannya diantara jari jemari saya. Tapi saya merasa ada lebih dari sekadar “Tidak apa- apa” itu. Hal yang secepatnya langsung saya buang dari dalam pikiran saya. Istri saya atau mungkin rata- rata wanita di dunia ini adalah mahluk paling hebat dalam urusan menyimpan rahasia atau menyamarkan sesuatu.

Di hari yang sama menjelang pukul 14.00 Kapal kami sudah merapat di Pelabuhan Boombaru Palembang, kami segera menghubungi Saudara yang sudah siap menjemput dan ternyata sudah menunggu di parkir pelabuhan. Kami bergegas masuk kedalam mobil, istri langsung sigap ambil posisi di deret tengah, saya didepan menemani Saudara. Perjalanan dilanjutkan menuju rumah Saudara, saat itu juga saya melihat air muka Istri sudah memucat, bibirnya pasi. Tentu ada sesuatu yang tidak beres saya kira, tapi seperti biasa jawaban istri tetap sama: “Tidak apa- apa!”.

Tidak lama kemudian, kami pun tiba di rumah Saudara yang rencananya akan saya dan Istri tumpangi selama di Palembang. Namun, di saat itu Istri menggamit lengan saya dan berbisik “Bang, ada banyak darah keluar, mau cepat- cepat ganti celana dan pasang pembalut” ujarnya sambil berjalan tertatih dan lemah.

Benar saja, begitu tiba dirumah, dan dicek ada banyak kucuran darah segar yang menempel di bekas celana dalam Istri. Atas inisiatif bersama, Istri saya dibawa ke Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan. Setibanya di UGD, perawat langsung memasang infus dan mencarikan ruangan. Tak lupa pula mereka menghubungi Dokter jaga yang sayangnya tidak bisa langsung mengecek kondisi istri saat itu, pihak Rumah Sakit hanya memberikan resep obat yang harus saya tebus, resep yang saya kira dibuatkan oleh Dokter atas laporan perawat/bidan yang menerima Istri.

Tapi ya sudahlah, saya pikir tadinya ada Dokter yang akan segera menangani Istri saya, sang Dokter hanya datang dalam bentuk kertas resep yang harus saya tebus berikut rinciannya. Saya sempat berpikir apa ini karena saya pakai kartu ASKES sehingga pelayanan yang saya dapat tidak prima? Tapi lagi- lagi sudahlah, yang saya inginkan hanya supaya Istri sembuh dan itu berarti menurut Dokter itu resepnya harus segera ditebus. Selesai urusan tebus- menebus, ternyata malamnya Dokter tak juga datang. Perawat hanya menjanjikan kemungkinan baru besok Dokter bisa datang. Saya kecewa, tapi saya kelabui kekecewaan itu dengan menunggui istri saya, menghiburnya dan menguatkannya sebisa saya.

Sampai di titik ini saya berpikir. Mengapa penugasan ke Palembang bertepatan sekali waktunya dengan kejadian ini, mengapa saat itu kami mengambil keputusan untuk berangkat bersama. Ternyata memang begitu jalan cerita hidup kami. Kandungan Istri yang saya kira sehat harus mengalami pendarahan hebat justru saat kami baru saja tiba di Palembang. Bila Istri saya tinggal? Bagaimana ia akan bisa menghadapi ini sendirian tanpa sanak famili? Bila penugasan itu tidak ada mungkin kami berdua akan kewalahan juga menghadapi ujian ini untuk kali pertama berdua saja. ALLAH.SWT telah mengatur semuanya, rentetan kejadian yang tampak saling lepas rupanya saling berkait membentuk rangkaian cerita berikut alasannya.

Bersambung….

Read more »