2.20.2010

Untuk Satu Alasan


Dan aku bukan malaikat yang bisa dicintai semua orang, aku harus mengambil sikap, meski sikapku justru tampak sepertu hujan yang membawa berkah bagi petani di pedalaman Jawa, namun justru berujung rengut warga Jakarta yang terjebak kemacetan dipadu hujan itu..

Oh bukankah ku pernah melihat bintang..
Senyum menghiasi sang malam..
Yang berkilau bagai permata..
Menghibur yg lelah jiwanya..

*Soundtrack By PADI*

Assalamualaikum wr wb.. pa kabar kawan2? sering kan kita dengar hidup ini adalah pilihan dan bersikap adalah juga tentang pilihan, namanya memilih pasti ada saja yang dikorbankan, *kayak BSE agak jarang update ni karena milih ngutamain tugas kuliah dl hehehehe* atau mungkin juga sebenarnya bukan dikorbankan tetapi sebagai biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu yang lainnya...*Sotoyy MODE ON :P*

Memilih bersikap itu adalah dalam kaitannya dengan kehidupan dan prilaku kita sehari-hari dalam pergaulan, saya pernah jatuh dan alhamdulillah saya masih bisa berdiri, bertahan dan sadar mengapa saya jatuh, pelajaran apa yang bisa saya ambil dari sana..sehingga jika besok-besok jika saya kembali jatuh saya tahu bahwa saya akan bisa kuat dan makin kuat.. *asal jangan dilubang yang sama ya :D*

Kembali lagi tentang pilihan, pilihan untuk menjadi tegas dan mengatakan sejujurnya jika memang tidak menyukai suatu hal mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang sulit, apalagi yang terbiasa dengan prinsip 'ah g enak, kasian nanti si anu..bla..bla..' namun coba lihat bagaimana ending keseharian seseorang yang menyimpan api didalam sekam.. kadang malah menjadi marah tanpa jelas tujuannya kesiapa, karena memang takut atau tidak berani menujukannya ke yang dimaksud..

Hal ini mungkin kembali lagi ke prinsip kesabaran, ya benar.. kesabaran, namun membiarkan diri merasa seperti dirugikan, juga tidak sejalan dengan prinsip adil terhadap diri sendiri, terlalu banyak berkorban seharusnya diimbangi dengan kesadaran sebarapa tahan diri ini mampu terus2 dirugikan secara nyata.. ya ini secara riil rasa2nya memang begitu.. karena saya sering melihat seseorang mengutuk dunia karena rupanya dunia tidak juga membalas kebaikan yang ia lakukan terhadap dunia itu.. salut sama orang-orang yang bisa berikhlas..

meski disatu sisi saya lihat bahwa ALLAH lah yang sebenarnya membalas dengan cara lain yang tidak bisa diukur dengan perbandingan yang sama..

Untuk itu, yang lebih baik mungkin adalah dengan menjadi terbuka dan mengatakan dengan baik bahwa 'aku tidak suka atas hal.... bla...bla... tolong kita saling menghormati satu sama lain.' mungkin tidak semua orang bisa menerimanya beberapa mungkin malah memilih menjauhi diri kita, tapi apa boleh buat jika memang itu konsekuensinya, bukannya kita sudah mengatakannya dengan baik-baik bahkan jika hujan setahun harus terhapus karena kemarau sehari, maaf yang saya minta agar kau menghormati sikapku sepanjang itu tidak merugikan mu, dan akupun akan berusaha menghormati sikapmu sepanjang itu tidak merugikan ku.

Bersikap seperti ini juga adalah ukuran supaya saya tetap sadar bahwa saya punya alasan untuk apa yang aku lakukan, dan supaya aku tetap ingat untuk apa dan karena siapa hari ini saya ada disini lalu... saya bukan malaikat yang bisa dicintai semua orang, saya harus mengambil sikap, meski sikapku justru tampak seperti hujan yang membawa berkah bagi petani di pedalaman Jawa, namun justru berujung rengut warga Jakarta yang terjebak kemacetan dipadu hujan itu..

*seriussssssssssss banget tulisannya mentang2 mau ujian tengah semester niiii!!!
*gambar diambil dari http://inspirationforliving.files.wordpress.com/2008/07/attitude-is-a-decision.jpg

Wassalamualaikum

Read more »

2.12.2010

Menelanjangi Intelektualitas


Seorang Amerika pernah saya dengar mengomentari tentang mahasiswa Indonesia, ia berkata begini:'orang indonesia itu pemalu dan sering malu-malu mengemukakan pendapat atau untuk maju kedepan'

dilain waktu saya pernah juga mendengar seorang dosen mengatakan :'mahasiswa di Amerika itu kalo diberi kesempatan buat bertanya, semua nya angkat tangan, sampai dosennya kewalahan menjawab'

Kemudian apa benar begitu???


Assalamualaikum wr wb, kawan2 apa kabar? lama nian tak jumpa :) maaf belum sempat BW soalnya inipun update2nya sesempatnya nyempil2 diantara ngerjain tugas dsb.. maksud kalimat2 pembuka diatas bukan sama sekali untuk mengatakan bahwa kita, orang Indonesia ini tidak seberkualitas orang Amerika, tidak sama sekali, sama sekali bukan itu!

Tapi paling tidak kawan2 sendiri mungkin sudah sering mengalami keadaan dimana saat kalian akan mengajukan pertanyaan, sering dilanda rasa malu, tidak percaya diri atau perasaan takut dibilang ini itu dan bla bla bla...

Saya pernah, sering, setiap saat malah.. mungkin itu normal, wajar dan menjadi semacam budaya yang tertanam dalam jiwa kita semenjak kecil karena atmosfir dan sistem pendidikan kita mungkin yang kurang mendukung atau terlalu represif, dimana beberapa guru akan berperan seperti tukang pembagi sembako yang berhak menentukan sampai sebanyak apa porsi yang akan diberikan tanpa mempedulikan kebutuhan nyata sang penerima bantuan.. atau mungkin beberapa dosen akan berperan seperti pilot yang tidak akan khawatir jika pesawat delay sementara mahasiswa adalah penumpang yang dengan 'tunduk' menuruti jadwal yang delay itu..

Menjadi aktif dalam menggali ilmu itu bagi saya adalah kewajiban, keharusan dan seperti syarat pokok agar perolehan ilmu yang digali bisa makin banyak, meski memang ada etika yang harus diperhatikan didalamnya, misalnya jangan sampai keaktifan kita membuat kita menghilangkan kesempatan bagi orang lain yang mungkin ingin juga berperan. sehingga sampai sejauh mana kita harus menjadi aktif itu ya.. hanya kita yang tahu.. paing tidak kita harus peka dan bijak saat pelan2 keaktifan itu telah bergeser niatnya dari yang tadinya murni untuk belajar perlahan menjadi semacam amunisi untuk mengedepankan ambisi.. jangan begitu.. jangan begitu.. sekali lagi jangan begitu!!!

Ada saat dimana kita harus maju dan ada saatnya pula kita harus kembali membawa hasil kemajuan itu untuk kita bagikan.. ini sejatinya adalah wahana untuk menanamkan lebih dalam pemahaman yang telah kita dapatkan, tapi dengan dengan cara yang mendidik , bukan dengan semakin membodohi anak kecil dengan memberikannya ikan tangkapan tanpa ia tahu bahwa ia bisa melakukannya sendiri bila diberi kail, karena tak tepat menjadi pahlawan kesiangan yang selalu digelayuti rengekan sang anak..

*lanjut makan siang ahh :)

Wassalamualaikum

Read more »

2.05.2010

Wajah Wajah Mereka


Poto bareng ponakan...

Pada suatu hari di Jakarta,ditengah riuh rendah keramaian kota metropolis ini,saya sedang berada di dalam ruangan berdiri mematung dihadapan kaca, memandangi sosok yang berada dihadapan saya, menatap saya dengan tajam, matanya nanar tapi juga kaku, rautnya serius seolah selalu berpikir tentang sesuatu, dalam hati saya bertanya kepada dirinya:'Apa yang kau pikirkan Erikson??'

Assalamualaikum wr wb apa kabar Mbak Elsa?, Om Suwung?, FlyPucino?, joel? dll... *siap2 berkunjung bawa upeti berupa komen :)*, oh ya tentang hari di prolog diatas, pada hari itu saya berpikir tentang mereka yang pernah saya kagumi, ya misalnya Ayah saya yang bernama Asli Aziz, Dosen saya yang bernama Untung Sukardji, Pemuda bernama Soe-Hok Gie dan masih banyak lagi yang lain...

*son kok g ada Nabi Muhammad SAW son?*

kalo Beliau SAW kan emang sudah jadi kewajiban kita sebagai muslim untuk menjadikannya panutan dan teladan dalam perilaku dan sikap jadi g mesti disebutkan lagi.. nanti kalo disebutin takuuuuttt.. takut dibilang:'wew Erikson sudah ganteng, alim lagi!'

Dalam perjalanan saya mengangumi sosok2 tersebut, wajah-wajah mereka selalu berkelebat menggantung bebas dan jelas dialam imajinasi saya, membuat saya ingin menjadi seperti mereka, ya seperti mereka. Tapi bagaimana caranya?

Jawaban yang saya temui seiring berjalannya waktu adalah saya bukan mereka yang saya kagumi, dan tidak bisa menjadi mereka dan tidak seorang pun didunia ini..(sebuah paraphrase dr pernyataan Nicholas Saputra tentang perannya sebagai SHG di film GIE..). Apa yang menggerakkan tangan saya, kaki saya saat berbicara adalah identitas yang saya rasa dapat mewakili mereka. hanya sebatas keterwakilan yang tidak bisa diartikan penjelmaan atau usaha untuk menjadi seperti mereka.

Ketika saya berusaha untuk menjalani hari-hari dengan gerak dan langkah seperti mereka, saya seolah merasa keluar dari dunia saya dan menjadi orang lain. orang lain yang sama sekali belum kenal, seperti ada sesuatu didalam kesadaran saya yang bukan saya pengendalinya.

Ok, saya memang memiliki keinginan untuk menjadi seperti mereka, paling tidak dalam satu sisi tertentu yang saya kagumi dari mereka; semisal, komitmen pengorbanan, kecintaan akan negeri, dan kegemaran mendaki gunung. Tapi saya bukan mereka yang saya kagumi, dan tidak bisa menjadi mereka dan tidak seorang pun didunia ini..

saya adalah saya, pria muda berusia 20an tahun yang sekarang berusaha memegang dan menanamkan kesadaran dengan sesadar-sadar dan seteguh-teguhnya, agar tidak terjerat dalam lemahnya rasionalitas yang membuat ketergantungan dan ketidak yakinan akan diri sendiri, agar tidak melupakan bahwa ada ALLAH.SWT yang menjadi penolong dan pembimbing..

Dan akhirnya dari tempat itu, dari ruangan yang beberapa waktu lalu itu saya menatapi wajah yang menatap nanar tapi kaku itu, saya keluar berjalan kembali kekehidupan saya sehari-hari, meninggalkan suara berat khas ayah saya, atau lawakan tingkat tinggi khas dosen saya, atau kegemaran memegang dahi ala Soe Hok-Gie, kembali menjadi seorang Erikson Wijaya dengan kacamata hitam minus tiga, rambut cepak dengan jambang brewok kasar, celana pendek sedengkul sepanjang hari, tumpukan buku dan tugas yang dengan penuh cinta akan ia kerjakan serta BSE yang selalu rajin diupdate... *yaaa... Ujung ujungnya promosiiiii.. hehehhee*

Wassalamualaikum

Read more »