3.15.2017

Matang



Pernahkah saya memperhatikan buah yang muncul dari putik dan tergantung di ujung ranting pohon? Seharusnya sudah, sering malah. Buah itu kecil ukurannya, keras, dan sama sekali tidak enak. Namun seiring waktu buah itu bertumbuh besar, berwarna kian mencolok dan rasanya menjadi manis. Saya terbenam dan berdiam diri merenungkan fakta ini.

Saya menemukan suatu hikmah penting melalui kata kunci seiring waktu, dan pertanyaan yang muncul kemudian dibalik kata kunci itu adalah apa yang sesungguhnya terjadi dalam rentang seiring waktu tersebut. Buah yang kecil itu dijemur di bawah terik matahari yang panas dan tentunya menggerahkan. Belum lagi, gangguan orang iseng yang sewaktu-waktu dapat melemparinya dengan apapun atau memetiknya terlalu cepat lalu mati sia-sia. Perihnya semua itu berlangsung selama berhari-berhari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan lamanya tanpa mampu ia persingkat barang satu detik pun.

Itu pula yang sebetulnya terjadi dalam kehidupan kita bukan? Kita berharap kelak di masa mendatang kita tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan tangguh menghadapi tantangan hidup. Harapan yang kerap kita ujarkan melalui doa demi doa setiap waktu. Kita mendamba menjadi pribadi bak buah manis yang besar dan berwarna mencolok itu tadi. Dengan penuh kesadaran maka seharusnya harapan itu diikuti dengan kesiapan melalui kejadian demi kejadian yang tidak mengenakkan seperti merasa tidak dihargai, dianggap rendah, atau diabaikan. Karena itu adalah jalan panjang untuk menuju kematangan pribadi. Semua harus dilalui tanpa jalan pintas barang satu inci saja. Karena kesimpulan dari itu semua adalah rententan premis berikut: Untuk menjadi dewasa, saya harus kuat, untuk menjadi kuat saya harus sanggup menghadapi rasa sakit yang tidak mengenakkan. Tanpa itu, tidak mungkin saya menjadi dewasa.

Rasa tidak enak dalam hidup kita bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja. Seperti buah itu tadi, ia tidak akan pernah tahu tangan usil mana yang sewaktu-waktu bisa menganggunya, dan akan sepanas apa terik matahari esok memanggangnya.

Read more »

8.12.2015

Harapan Hari Tua

Semenjak lulus SMA tahun 2004 hidup saya tidak pernah menetap lama disuatu kota. Jika dihitung sudah lima kota saya tinggali dalam kurun waktu 10 tahun terakhir antara lain Tangerang, DKI Jakarta, Palembang, Pangkal Pinang, dan Purwokerto. Itu artinya jika dibagi merata setidaknya setiap 2 tahun sekali saya mesti hidup berpindah. Inilah tantangan dari hidup yang saya jalani dan juga jawaban atas doa- doa yang saya sampaikan pada ALLAH. SWT. Tidak boleh ada drama didalamnya, hidup harus terus berjalan. Toh banyak juga orang dengan pola hidup serupa tetapi masih bisa menikmatinya.  

Namun demikian, saya tidak menampik masukan yang disampaikan sanak famili. Diantaranya agar tidak lupa menyiapkan hal yang paling fundamental dalam kehidupan, yaitu rumah. Saya sangat mengerti kekhawatiran mereka, maklum saja terlalu lama hidup jauh dari tanah kelahiran dengan ketiadaan kejelasan perpindahan rentan membuat siapapun lalai membangun kehidupan penopang hari tuanya. Apalagi kini saya sudah beristri dan akan segera memiliki anak. Beberapa dari teman saya yang menetap di kota asalnya banyak yang sudah memiliki rumah di kampung halaman masing- masing.  

Saya sendiri belum memiliki kemantapan pilihan tempat dimana saya akan menghabiskan hari tua nanti bersama istri. Pikiran saya masih terpaku untuk meningkatkan pendidikan. Itu artinya, fokus saya masih berkutat dengan upaya melanjutkan studi ke tingkat Magister, Doktoral, dan Post- Doktoral. Langkah ini memang terasa lebih lambat karena memang saya memulai karir  dari level Diploma I (setara SMA) dan saat ini masih menjalani studi Sarjana. Saya dan istri memiliki mimpi untuk beberapa tahun lamanya mencicipi tinggal di luar negeri (Amerika Serikat) sembari menjalani studi saya nanti.  

Saya terpikir untuk banting setir dari fiskus menjadi apapun yang memungkinkan saya hidup menetap saja nantinya. Mungkin menjadi dosen, konsultan, atau penulis. Dengan begitu sepertinya akan lebih mudah bagi saya dan istri untuk menata kehidupan dengan lebih santai dan teratur. Membangun rumah bertingkat dengan desain seperti yang kerap kami idamkan, dengan ruang tamu yang nyaman, dapur yang luas dan bersih, ada balkon dihalaman belakang, ada lahan untuk berkebun, ada kolam ikan, ada rak buku dan ruang kerja, dan desain interior manis lainnya yang sangat fungsional serta tak lupa ruang praktik permanen bagi istri saya tercinta.  

Tapi ah biar saja saya jalani hidup saya yang sekarang. Pusing kalau harus dilahap semua. Sedikit demi sedikit, saat ini pun, saya dan istri tengah membangun pondasi hari tua kami dengan cara kami sendiri. Cara ini kami pilih agar kelak tiba waktunya, kami dapat segera membangun rumah idaman kami. Tempat dimana kami akan menjalani hari tua kami, membagikan cerita perjalanan hidup kepada anak dan cucu cucu kami dan sekaligus menjadi jawaban atas kekhawatiran banyak sanak famili atas kehidupan kami kini. ALLAH.SWT itu maha mendengar doa, baik doa yang terucap dalam lisan maupun doa yang terucap lirih dalam batin.

Purwokerto
12 Agustus 2015 22:00 WIB

Read more »

6.10.2015

Selamat Jalan, Teman!

Kami seusia walaupun tidak saling mengenal sebelumnya.  

Pagi tadi saya mengunjunginya setelah terdengar kabar ia pulang ke kampung halamannya di Purwokerto. Tak jauh dari lokasi kampus tempat saya melanjutkan kuliah. Tidak ada alasan khusus yang membuat saya hadir kerumahnya, selain keterikatan sebagai sesama Alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan sesama anggota Korps Chakti Budhi Bhakti. Dirumahnya tampak tak ada keramaian yang terlalu begitu berarti, selain sejumlah orang yang duduk termenung sambil berbincang sekadarnya saja. Kehadirannya disambut biasa saja tanpa gegap gempita atau momen seremonial yang kini digandrungi banyak orang. Saya tidak heran, sebab saya dengar ia memang tidak terlalu menyukai keriuhan.  

Saya masuk kerumahnya dan menyapanya dengan tulus. Ia menyambut dengan tenang dan kami pun berbincang dalam diam. Tidak ada dialog, tidak ada ekspresi, semua mengalir begitu saja. Saya bediri dihadapannya dan mengucap takbir dengan lirih dan mendoakan kebaikan baginya. Tak jauh dari kami, sedari tadi duduk sekelompok wanita. Mungkin salah satu dari mereka adalah istrinya, sosok wanita yang kudengar sering ia telepon begitu tiba dikantor atau sesaat menjelang pulang untuk sekadar bertanya: Sayang, aku sudah mau pulang ini, mau minta dibawakan apa?”. Betapa ini menginspirasi dan membuat saya semakin mencitai istri saya. Sebuah hikmah yang semoga menjadi amal kebaikan baginya.  

Sejumlah orang didalam rumahnya tampak semakin sibuk. Saya memilih untuk menunggu diluar sebab tidak lama lagi tersiar kabar bahwa ia akan diantar ketempat peristirahatannya. Ya, ia tidak akan kembali lagi kerumah itu, tidak pula kekantornya. Ia akan dikebumikan untuk kembali ke sang Maha Pencipta. Pagi kemarin sebuah kecelakaan merenggut nyawanya dengan cepat tanpa disangka- sangka. Saya membayangkan dimalam sebelumnya ia masih bersama istri dan dua anaknya menjalani hari dengan rutinitas seperti biasa. Sampai akhirnya ajal menjemputnya pada keesokan paginya disebuah jalanan di Jakarta.

Pukul 09.30 saya bersama sejumlah orang yang turut hadir mengantarnya ke peristirahatannya yang terakhir. TPU Sumampir.  Ia dimakamkan bersebelahan dengan makam ayah dan kakaknya yang sudah meninggal lebih dahulu. Pohon Kamboja menaungi peraduan ketiganya. Saya termenung sesaat. Pandangan saya tertuju ke sebuah liang galian tanah. Disanalah jasadnya yang sedari kemarin terbujur kaku akan dimakamkan. Sebuah liang yang sangat sempit, gelap, panas, dan pengap. Jauh dari peradaban manapun. Tapi saya yakin bahwa hanya jasadnya saja yang akan bersemayam disana, sementara nyawanya akan diselamatkan oleh amal baiknya serta doa- doa orang yang menyayanginya. Jasadnya bisa jadi akan hancur tak bersisa dalam hitungan bulan, tapi lantunan doa yang tertuju baginya dan amal jariahnya akan abadi.

Perlahan demi perlahan, ia diturunkan dari tandu, diantar menuju liang yang telah menantinya. Sejumlah kepingan papan menjadi pemisah antara jasadnya dan dunia kita kini.

Selamat Jalan, Saudara Yuda Adi Guna

Alumni STAN Tahun 2007. AR KPP Pratama Banda Aceh. Agent Call Center KLIP KPDJP.  
Semoga ALLAH.SWT melapangkan kuburmu dan melimpahkan nikmat kubur bagi mu
Semoga ALLAH.SWT memberi kekuatan dan keikhlasan kepada Ibu, Saudara, Istri, dan anak- anakmu.

Read more »

3.28.2015

Melanjutkan Studi di UNSOED

Purwokerto menyambut kedatangan kami dengan hangat pada tanggal 25 Februari 2015 sekitar pukul 21:00 malam. Kereta Api Bima yang membawa kami dari Stasiun Gambir Jakarta menjadi saksi bagaimana saya dan istri menempuh perjalanan yang nyaris tidak pernah terlintas dalam pikiran kami kala itu. Ya, berpindah dari Pangkal Pinang (Kepulauan Bangka Belitung) menuju Purwokerto (Jawa Tengah) jelas tidak pernah ada didalam rencana hidup kami. Tapi, ternyata ALLAH.SWT berkehendak lain, disanalah akhirnya cerita hidup berlanjut.

Pekan ini genap sebulan kami tinggal di Purwokerto…

Kamis, 12 Februari 2015 di Koba, Bangka Tengah.

Saya sedang melakukan advisory visit ke sejumlah Wajib Pajak di daerah Koba, Bangka Tengah (sekitar 45 menit perjalanan dari Pangkal Pinang) bersama atasan dan sejumlah rekan kerja lainnya. Ini merupakan tugas rutin saya sebagai Account Representative di KPP Pratama Bangka. Tetapi sejak semalam sebelumnya, pikiran saya sudah dipenuhi dengan rasa penasaran soal pengumuman hasil seleksi beasiswa S1 di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Purwokerto, seleksi itu saya ikuti dengan pertimbangan yang sederhana: because being back to school is my true calling. Mengapa UNSOED? Karena saat mendaftar, cuma kampus ini yang paling jelas jadwal seleksinya. Saya hanya tidak suka berada didalam ketidakpastian sehingga saya memilih mendaftar disitu. Ini sudah saya diskusikan dengan istri dan ia bersedia mendukung. Rencana awalnya, saya ingin kembali ikut D-IV STAN yang mungkin dibuka April ini, tapi saya kira- kira yang terbaik adalah yang paling cepat datang didepan mata.

Hari itu tanggal hasil akhirnya diumumkan. Sejak awal saya bersiap untuk berserah diri karena peminatnya ternyata 260an orang memperebutkan 70 kursi. Saya tidak mau habis dimakan rasa percaya diri berlebih yang tidak lagi menyisakan ruang untuk berpasrah. Menjelang pukul 13.30 hasil diumumkan, dan dengan meminta bantuan istri yang mengakses internet dari rumah saya merasa begitu lapang bahwa nama saya ada disitu di nomor urut ke-9. Ini mimpi yang menjadi nyata. Saya bergembira, bahkan sangat bergembira. Ekspresi kegembiraan saya yang paling gila adalah reflek bersujud syukur diruangan Wajib Pajak yang saat itu tengah kami kunjungi. Untuk beberapa menit lamanya, saya berbulan madu dengan kabar itu. Pikiran saya jauh melesat mundur ke masa- masa penuh penantian dahulu. Sepuluh (10) tahun lamanya saya menanti untuk bisa merasakan kuliah Sarjana yang diakui oleh kantor. Saya harus terima itu karena di DJP urusan melanjutkan sekolah plus pengakuannya tidak semudah di kantor lain.

Beberapa menit kemudian saya sudah ambil alih diri saya lagi sepenuhnya. Sejumlah pekerjaan saya selesaikan dengan baik dan akhirnya kembali pulang ke Pangkal Pinang, saya cukup terkejut menyadari bahwa ini adalah perjalanan visit saya yang terakhir. Dalam perjalanan pulang itu atasan saya sedikit bercerita tentang bagaimana Kota Purwokerto itu, sebuah kota yang dekat dengan Gunung Slamet. Saya pun mulai menyusun rencana perjalanan dan persiapan kepindahan kami dari Pangkal Pinang. Perlu persiapan matang soal ini karena banyak yang perlu diurus, mulai dari mencari perusahaan Jasa Ekspedisi, mengurus perijinan surat- surat, pesan tiket pesawat dan kereta api, serta yang paling rumit: packing barang pindahan rumah beserta perabotannya. Tersisa waktu 2 (dua) minggu lagi sebelum perkuliahan dimulai. But to me the next two weeks were just so close away.

Selasa, 24 Februari 2015 di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung

Kasak- kusuk jadwal penerbangan Lion Air membuat saya dan istri merasa was- was. Kami memesan tiket sekitar seminggu silam sebelum kejadian massive delay menimpa maskapai ini. Keberangkatan kami pesan untuk besok hari pukul 08.00. Tiga hari terakhir saya rajin menelepon Call Center Lion Air untuk memastikan perkembangan positif kondisi penerbangannya tepatnya untuk besok pagi.

Dikantor, hari ini menjadi hari terakhir saya masuk kantor, meja kerja telah saya rapikan dan komputer kantor sudah saya rapikan file- file nya sehingga memudahkan siapapun yang menggunakannya nanti. Meja kerja itu adalah meja kerja yang paling minimalis diruangan, sengaja saya buat begitu karena memang saya suka begitu. Sekilas seperti tidak ada aktivitas kerja disana. Tapi siapa yang kira bahwa di meja itulah alhamdulillah sebagai Account Representative saya berhasil memberikan fresh money sebesar Rp1,4 Miliar bagi negara melalu Extra Effort dalam kurun waktu 19 bulan terakhir (20 Mei 2013- 24 Februari 2015).

Saya mengadakan syukuran kecil- kecilan dikantor dengan sajian lontong sayur untuk disantap bersama semua rekan kerja di KPP Pratama Bangka saat sarapan pagi hari itu. Didalam kesempatan itu, saya diberi waktu untuk menyampaikan pesan dan kesan plus ucapan pamit kepada semua rekan yang disambut dengan pemberian souvenir dari mereka yang sangat bermanfaat bagi saya (belakangan saya terharu saat membuka souvenir itu, sebuah sepatu lari warna hijau merek Fila, mereka ternyata ingat bahwa saya sangat gemar jogging). Sambil menikmati lontong sayur, saya mengingat- ingat kembali saat saya memasuki kantor ini. Perpindahan saya ke kantor ini hampir berbarengan dengan pernikahan saya, sehingga saya langsung mengajak istri saya pindah serta ke Pulau Bangka ini.

Sore harinya, saat menjelang jam pulang kantor untuk kali terakhir saya menemui satu per satu rekan kerja dan berpamitan. Dua pegawai senior (Ibu Kasminah dan Ibu Nuraidah) memeluk saya dan menitikkan air mata saat saya berpamitan. Demikian berkesan saya bagi beliau berdua, saya pun memang merasa mereka memperlakukan saya bak anak sendiri selama dikantor. Dan saya pun mohon pamit kepada atasan saya (Bapak Donny Cahyo Nugroho), beliau memberi wejangan untuk menjaga semangat dan agar memelihara mindset yang besar untuk kehidupan yang lebih baik. Saya dan beliau memang kerap mengisi perjalanan dinas dengan obrolan yang bersifat softskill. Semoga ALLAH.SWT membalas kebaikan orang-orang yang telah baik kepada saya dengan kebaikan yang lebih baik lagi.

Rabu, 25 Februari 2015 di Bandara Internasional Soekarno- Hatta Cengkareng

Kami baru saja landing sekitar pukul 09.30 tadi. Alhamdulillah perjalanan lancar, maskapai tidak terlambat dan cuaca cerah. Tujuan kami berikutnya adalah Stasiun Gambir Jakarta Pusat, namun karena jadwal kereta kami masih 7 jam lagi. Kami begitu santainya menikmati suasana bandara. Barang- barang yang kami bawa cukup banyak, tapi tidak terlalu menyulitkan. Semua perabot telah dikirim menggunakan truk yang kami sewa. Di perjalanan kami selalu menyempatkan makan buah- buahan yang kami siapkan sejak tadi malam. Khususnya istri, dengan kondisi kehamilannya maka membawa makanan adalah sebuah keharusan agar tidak kesulitan didalam perjalanan. Dengan menggunakan troli bandara kami membawa barang dan menuju KFC Bandara untuk bersantai sekaligus brunch.

Tiket menuju Stasiun Gambir sudah kami pesan sejak dari dalam bandara tadi, kami menumpang DAMRI yang membawa kami meninggalkan Bandara Soekarno- Hatta sekitar pukul 11.30. Waktu tempuh diperkirakan 1 jam itu artinya kami masih punya banyak waktu di Stasiun Gambir nanti. Lama tak melintasi jalan di Jakarta ternyata Jakarta masih sama seperti sejak dulu, macet dimana- mana. Sekitar tengah hari kami tiba di Stasiun Gambir Jakarta Pusat dan setelah bersantai sejenak kami mampir ke kedai warung nasi padang di lorong dalam stasiun untuk makan siang lalu sholat zuhur bergantian di Musholla stasiun. Kemudian, kami menunggu dilobi sebelum masuk kedalam peron stasiun setelah sebelumnya mencetak tiket di mesin cetak otomatis yang disediakan PT KAI.

Seperti biasa, saya menyempatkan diri membeli koran KOMPAS membaca berita sambil menunggu pukul 16.00. Saat itu headline harian itu membahas tentang Presiden Joko Widodo yang teguh pada keputusannya mengeksekusi WNA Australia terpidana mati narkoba yang meski dikecam oleh Bishop (Menlu) dan Abbots (Perdana Menteri Australia).

Rabu, 25 Februari 2015 di Kereta Api Bima menuju Purwokerto

Kami baru saja check-in masuk ke ruang tunggu di peron, ruang tunggu ini mengingatkan saya pada medio 2007 saat saya beberapa kali berangkat ke Surabaya dan Jogjakarta karena ditugasi oleh kantor kesana. Di peron ini pula saya pernah diabaikan seorang turis yang saya coba ajak berbahasa inggris. Saya memang suka memancing obrolan dengan turis semata- mata untuk menguji diri saya sendiri apa saya mampu berbicara aktif dengan native speaker. Kereta Api Bima baru saja tiba, kami langsung masuk kedalam kelas eksekutif dengan nomor urut bangku 1A- 1B. Kereta ini yang akan membawa kami menuju Purwokerto. Diperkirakan kami tiba pukul 20.58 WIB sesuai jadwal yang tertera di tiket. Perjalanan kami nikmati sambil melepas pandangan ke apapun yang kami lihat di sepanjang jalur kereta. Ada pemukiman padat, areal sawah penduduk, pabrik, dll.

Suasana senja pelan- pelan berganti malam. Di Purwokerto nanti kami berencana menginap terlebih dahulu di Hotel Darajati yang ada diseberang Rektorat UNSOED sambil saya mencari kontrakan untuk kami tinggali dua tahun kedepan. Akhirnya lewat sedikit pukul 21.00 WIB kami tiba di Stasiun Purwokerto, kami pun turun dan memperhatikan sekitar. Ini stasiun yang besar ternyata. Dari Stasiun kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang Taxi KOBATA menuju Hotel Darajati. Jalanan Purwokerto di malam itu lancar dan suasana aksen khas Banyumas langsung mendarat ditelinga saya, inilah aksen yang harus saya akrabi setidaknya selama saya melanjutkan studi di UNSOED ini. Berselang 15 menit kemudian, kami pun tiba dan langsung check- in di hotel. Hari sudah malam saat itu, kami beristirahat. Sebab besok saya harus Daftar Ulang ke kampus dan mencari kontrakan.

Sebelum tidur saya merenungi sejenak perjalanan ini. Ada satu titik dimana saya mempertanyakan mengapa saya belum juga mendapatkan apa yang saya inginkan. Saat itu sekitar setahun silam, bayangan tentang cita- cita kami masih kabur dan buram untuk dilukiskan, saya dan istri akhirnya pasrah, dalam kepasrahan itu kami memelihara doa dan harapan kami bahwa pada saatnya doa kami akan terkabul.

Ternyata benar saja, ALLAH.SWT maha mengabulkan doa, setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan. ALLAH.SWT menitipkan mahlukNYA kedalam rahim istri saya, dan saat ini kandungannya sudah masuk usia 5 bulan dan disaat yang sama ALLAH.SWT memperkenankan doa saya untuk melanjutkan pendidikan di Jurusan Akuntansi (S1) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) dengan beasiswa STAR- BPKP.

Dan pekan ini genap sebulan kami tinggal di Purwokerto…

Saya hanya berusaha sebaik- baiknya menjadi hambaNYA yang mampu memelihara rasa syukur ini. Tidak lalai dan ingkar akan semua nikmat dan pertolongan yang diberikanNYA bagi saya.

Read more »

3.27.2015

DJP & Jokowi Adalah Kita

DJP kini menjadi sasaran opini miring. Banyak pihak mengerenyitkan kening dan meragukan kemampuannya terkait mission impossible untuk mencapai target Rp1.296 Triliun, sebab disaat yang sama beragam tentangan mengemuka atas wacana- wacana agresif instansi yang dikomandani oleh Sigit Priadi Pramudito ini. DJP Akhirnya seperti dihadapkan pada kondisi paradoksal, ditantang tetapi sekaligus ditentang. Menyikapi beberapa aksi agresif DJP belakangan ini, beberapa kalangan menyesalkan mengapa baru dilakukan sekarang setelah target penerimaan melambung tinggi. Banyak yang belum paham, bahwa sebetulnya inovasi agresif DJP sudah lama dijalankan bahkan jauh sebelum isu monetary incentives diangkat. Ini dapat dibuktikan dari tren positif rata- rata pertumbuhan capaian penerimaan sebesar 15,61% dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Sulit membayangkan bagaimana mungkin DJP bisa dibebani tambahan target hampir sebesar Rp300 Triliun oleh Jokowi setelah shortfall tahunan rutin yang kerap kali mewarnai kinerja Korps Chakti Budhi Bhakti ini. Angka tambahan target sebesar itu hampir setara dengan kenaikan 39,69% dari realisasi tahun sebelumnya. Akibatnya oleh World Bank angka ini dinilai terlalu ambisius jika dibandingkan dengan pola kerja DJP dan daya dukung negara terhadapnya. Mari kita melihat lebih dalam, ada benang merah yang dapat kita tarik disini, artinya banyak pihak sebetulnya setuju bahwa Indonesia bisa memperoleh penerimaan dari pajak dengan jumlah yang ditargetkan. Sebab ada banyak potensi yang bisa digali baik yang sifatnya menyebar, nyata, dan samar- samar. Selain itu juga karena dari internal DJP sendiri telah melakukan pembenahan proses dan cara kerja yang belum banyak diketahui.

Berikut 5 (lima) alasan yang menurut penulis dapat menjelaskan mengapa angka target Rp1.300 Triliun itu cukup realistis untuk dicapai DJP:

1. Ironi Pertumbuhan Kelas Menengah

Setiap tahun majalah Forbes merilis daftar orang- orang paling kaya didunia dengan kepemilikan kekayaan sekurang- kurangnya 1 Miliar USD. Indonesia selalu masuk didalamnya, tidak kurang dari 19 orang sejak tahun 2012 bercokol didaftar tersebut. Ini merupakan indikator positif pertumbuhan jumlah kelas menengah di Indonesia seiring dengan stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia (5,8%) jika dibandingkan dengan ASEAN (5,6%) dan ekonomi global (4,0%). Namun jumlah ini tidak berbanding lurus dengan kontribusi PPh Orang Pribadi dalam postur penerimaan pajak. Pada tahun 2012 jumlah PPh OP menyumbang 1,30% dari total penerimaan dan hanya meningkat 0,01% di tahun 2013. Ada kemungkinan bahwa penambahan jumlah kekayaan Wajib Pajak Orang Pribadi (Non Karyawan) yang potensial tidak sebanding dengan kontribusi pembayaran pajak yang mereka lakukan. Ini jelas menjadi tantangan dalam memenuhi target pajak dari ekstensifikasi dan intensifikasi Wajib Pajak Orang Pribadi (Non Karyawan) yang telah ditetapkan sebesar Rp40 Triliun.

DJP perlu kita dukung sepenuhnya untuk menggali lebih dalam potensi tersebut. Dukungan penuh itu harus dimaknai sebagai implementasi tekad Presiden Joko Widodo menjalankan visi misinya semasa kampanye kemarin yang nota bene membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kebijakan DJP menerbitkan PER-01/PJ/2015 tentang pelaporan bukti potong bunga deposito sebetulnya merupakan langkah awal berada dalam satu jalan untuk menyentuh potensi itu. Beleid itu menuntun pada transparansi dan akuntabilitas pelaporan kekayaan Wajib Pajak potensial. Namun sayang, belum berumur seumur jagung, Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini menuai kontroversi dan akhirnya ditunda pelaksanaanya dengan alasan kekhawatiran adanya rush (penarikan dana dalam jumlah besar dalam waktu singkat) dan tidak sesuai dengan Prinsip Kerahaasiaan Bank. Inilah yang semula disebutkan didalam artikel ini bahwa DJP Akhirnya seperti dihadapkan pada kondisi paradoksal, ditantang tetapi sekaligus ditentang.

2. Mengapresiasi Korporasi

Di dekade kedua Rezim Orde Baru berkuasa (1988- 1998) Pemerintah memiliki tradisi positif yang kini sudah lama tidak dijalankan. Tradisi itu adalah pemberian apresiasi kepada sejumlah tertentu Wajib Pajak Korporasi pembayar pajak terbesar. Ini ironis, mengingat justru seharusnya Rezim Reformasi lebih baik dalam hal transparansi. Tanggal 14 Februari 1998 adalah terakhir kalinya event pengumuman pembayar pajak digelar. Hal semacam ini menjadi penting untuk membuat para korporasi pembayar pajak memiliki perasaan setara risih dan malu jika peringkatnya berada dibawah sang kolega. Karena itu semua dirangsang untuk berlomba naik kelas ke peringkat atas atau minimal bertahan di klasemen tertentu. Ketiadaan praktik semacam ini membuat perasaan bangga dan berkompetisi perlahan luntur dan akhirnya lenyap.

DJP dapat menghidupkan kembali gelaran tradisi semacam ini sebagai bentuk penerapan nilai transparansi dan pemberian apresiasi kepada korporasi (diluar unsur negara) yang telah melunasi kewajiban perpajakannya. Ini sekaligus sebagai kompensasi yang bisa diberikan pemerintah atas ketiadaan penerimaan manfaat secara langsung yang diterima oleh para korporat pembayar pajak. Realisasi penerimaan pajak sampai pertengahan Maret 2015 ini mencapai 12,36% atau sekitar Rp160 Triliun dan jumlah ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2014. Capaian ini akan terus mengkhawatirkan jika DJP tidak peka dalam memelihara kesadaran dan kontribusi Wajib Pajak Korporasi. Porsi kontribusi PPh Badan selalu diatas 75% sejak 6 (enam) tahun terakhir (2008- 2013). Peran Wajib Pajak Badan menjadi penentu pencapaian target penerimaan. Saat ini menjadi momen yang tepat, setelah dua bulan belakangan DJP gencar melakukan gijzeling terhadap para pengemplang pajak, akan lebih baik juga untuk menunjukkan bahwa DJP juga memberikan perhatian terhadap para korporasi patriot negeri. Ada keseimbangan antara law enforcement dan reward.

3. Booming Sektor Properti

Para analis properti dari Colliers International Indonesia, Jones Lang LaSalle Indonesia dan pakar properti Indonesia Dr.Ir. Panangian Simanungkalit memprediksi kondisi pasar properti Indonesia akan mulai bangkit setelah krisis ekonomi global tahun 2008. Prediksi tersebut terbukti cocok, beberapa tahun terakhir booming sektor properti sudah menjadi fenomena tersendiri, penetrasi sektor ini menjangkau banyak daerah terpencil. Keberadaanya tidak lagi semata menjadi monopoli daerah perkotaan. Indikator lain yang menunjang prediksi booming properti di Indonesia adalah tingkat suku bunga KPR yang cukup rendah, tingkat inflasi yang terjaga dan stabil, ledakan jumlah penduduk kelas menengah Indonesia yang luar biasa, peningkatan jumlah wisatawan ke Indonesia dan derasnya dana masuk dari negara-negara yang terkena krisis ke Indonesia untuk mengamankan dananya dengan berinvestasi yang salah satunya investasi properti.

Pada tahun 2012, jumlah kredit properti baik residensial maupun komersial mencapai Rp241,72 Triliun atau meningkat sebesar 44,67% dari tahun 2011. Nilai tersebut hanya berasal dari transaksi yang difasilitasi oleh kredit perbankan, jumlahnya tentu masih lebih besar jika diakumulasikan dengan transaksi non kredit. Namun demikian jumlah ini masih tidak sebanding dengan porsi kontribusi sektor ini terhadap penerimaan pajak. Tahun 2012, sektor ini hanya menyumbang sekitar 1,56% atau hanya bergerak 0,14% dari tahun sebelumnya. Fenomena ini menunjukkan adanya potensi pajak yang mengendap dan butuh diungkap dengan kebijakan agresif DJP yang harus kita dukung bersama. Jika diambil angka moderat dengan asumsi total penjualan produk real estate (kredit & cash) mencapai Rp475 Triliun setahun maka secara agregat setidaknya tersedia potensi fresh money bagi negara sekitar Rp21,85 Triliun dari PPh Pasal 4 Ayat 2 Final dan Rp42,75 Trilun dari PPN. Jumlah ini jika dibandingkan dengan riil setoran yang sudah diterima oleh negara maka hasilnya akan dapat menunjukkan besaran potensi pajak yang dapat ditindaklanjuti. Mereka seolah berkata: find me guilty!

Tapi menindaklanjuti potensi ini tidak semudah membalik telapak tangan. DJP telah banyak melakukan kajian, strategi, dan gebrakan untuk mengejar potensi yang ada didalam fenomena tersebut. Tapi agresivitas DJP hanya sampai dilevel administratif tanpa diiringi penindakan optimal yang memberi deterrent effect bagi pelaku sektor properti. Ini berarti tanpa kebijakan yang lebih agresif dan berani, serta tanpa daya dukung perangkat negara yang optimal maka pola yang sama akan berulang. Shortfall ditengah potensi. Untuk kepentingan bersama, sudah waktunya semua lini mendengar pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa beliau mendukung langsung langkah DJP untuk merealisasikan potensi tersebut. Ragam modus yang sering dipakai para oknum pengusaha sektor ini dapat dideteksi jika semua pihak bahu membahu menyokong tugas DJP. Biasanya pihak lain yang terkait dengan sektor ini adalah Notaris/PPAT, PEMDA, dan masyarakat konsumen.

4. Reorganisasi DJP Menuju Badan Otonom

Maret 2015 tercatat sebagai tonggak penting dalam perjalanan DJP. Tonggak tersebut menandai reorganisasi yang dilakukan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman. Reorganisasi yang dilandasi oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-206.02/PMK.01/2014 tersebut meliputi perubahan struktur menjadi lebih adaptif dan diiringi dengan penguatan internal berupa penambahan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Teknologi Informasi (TI). Ada harapan disini, meski belum bisa dkatakan sempurna 100% namun setiap perubahan tentu membawa wind of change dalam mencapai tujuan pengamanan target penerimaan pajak Rp1.300 Triliun. Hal paling kentara yang bisa dilihat dari reorganisasi ini adalah adanya penambahan/ penggabungan fungsi yang mendukung pelaksanaan tugas menjadi lebih agresif dan sinergis. Terdapat fungsi baru di level Kantor Wilayah untuk memudahkan pengawasan dan implementasi, yaitu fungsi Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan, serta fungsi Intelijen. Selain itu, pembedaan fungsi Account Representative (AR) di tingkat Kantor Pelayanan telah memberi kesempatan bagi DJP untuk lebih fokus dalam menjalankan fungsi pelayanan/ konsultasi dan pengawasan/ penggalian potensi.

Dua contoh yang diberikan tersebut hanya sekadar contoh mikro perubahan DJP yang diusung didalam PMK-206.02/PMK.01/2014, ada banyak penguatan lainnya yang mengiringi tuntutan berat instansi ini, penguatan yang dilakukan ini merupakan langkah- langkah awal yang disiapkan DJP untuk menyambut saat lepas landas berpisah dari Kementerian Keuangan yang digadang- gadang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Otonomi DJP adalah jawaban atas tantangan dan kesulitan yang dihadapi korps yang bermarkas di Gatot Soebroto (Jakarta Selatan). Pemangkasan jenjang birokrasi yang kerap mempersulit pengambilan keputusan dapat dilakukan, sebab Otonomi menjanjikan kemandirian bagi DJP untuk mencukupkan kebutuhannya sendiri tanpa terkendala koordinasi rumit dengan instansi lain. Termasuk untuk mengamankan target penerimaan pajak, karena jalur koordinasi yang dibangun langsung berada di bawah Presiden.

Selaku kepala negara, Presiden Joko Widodo memang belum memberikan sikap resmi terkait wacana ini, namun demikian, ini adalah aksi positif yang patut didukung dan dikawal agar DJP menjadi instansi penghimpun pajak yang kuat di negeri ini. DJP menjadi pertaruhan Presiden Joko Widodo dalam mensukseskan implementasi visi misinya. Terlalu riskan bagi Presiden Joko Widodo menepikan peran DJP tetapi disaat yang sama menginginkan semua visi misinya berjalan. Jauh diatas itu, yang paling menanggung resiko jika wacana penguatan DJP tidak didorong adalah rakyat indonesia. Visi DJP untuk membuat Indonesia Mandiri dari Pajak tahun 2019 harus memperoleh dukungan masyarakat dan unsur pemerintah demi kebaikan bersama dan kesejahteraan jangka panjang.

5. Vitamin itu Bernama Perpres 37 Tahun 2015

Kisruh kontroversi pembebanan target penerimaan tahun 2015 dijawab oleh Presiden Joko Widodo dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2015. Melalui beleid ini insan DJP diberi jalan untuk hidup yang lebih sejahtera tetapi disaat yang sama dibayangi ancaman fluktuasi tahunan take home pay karena klausul besarannya yang tergantung capaian realisasi penerimaan. Vitamin itu ternyata tidak gratis, there is no such free lunch. Terlepas dari kontroversinya, setidaknya memang ini adalah sebuah monetary incentives yang tentu akan menstimulasi kinerja 32.000 lebih pegawai DJP. Kita bisa memaklumi itu, DJP adalah institusi publik yang paling sarat godaan integritas dalam banyak wujud. Adanya distingsi penghasilan yang diperoleh pegawai negeri di DJP dibandingkan dengan pegawai negeri ditempat lain kemudian menjadi suatu hal yang sejalan dengan tujuan mengamankan penerimaan negara.

Namun demikian, memaklumi saja tidak cukup, kita harus membantu DJP dengan mengawalnya dalam bekerja. DJP membutuhkan bantuan agar on the track, dan terjaga akan tanggung jawab yang diembannya, terutama jika disandingkan dengan perolehan take home pay yang biasa disebut dengan vitamin itu, pengawasan dan pengawalan masyarakat terhadap DJP dapat membantu institusi ini membangun kerja keras yang lebih keras dan kerja cerdas yang lebih cerdas. Kinerja DJP selalu menjadi sorotan khususnya menjelang akhir tahun. Seberapa besar realisasi penerimaan pajak yang berhasil dikumpulkan akan menjadi wajah DJP di masa yang akan datang dan disaat yang sama juga akan menjadi bahan evaluasi bersama untuk kita tentang seberapa kuat dan konsisten dukungan penuh yang diberikan segenap elemen kepadanya.

Penutup

Meski diserang nada sumbang, mencapai target Rp1.300 Triliun bukan suatu hal yang mustahil bagi DJP. Ada sejumlah alasan yang melandasi keyakinan itu, alasan tersebut bersifat eksternal maupun internal. Namun demikian, DJP tidak bisa berdiri sendiri dalam berpijak pada alasan tersebut. Dukungan banyak pihak menjadi prasyarat yang mutlak sebelum DJP menelurkan kebijakan agresif agar bisa berjalan efektif. Dukungan tersebut harus diyakini semua pihak sebagai bentuk implementasi langsung arahan Presiden Joko Widodo yang paham betul peran DJP dalam menjalankan visi dan misinya.

Dari internal DJP, proses pembenahan selalu berlangsung, meliputi pembenahan struktur berupa reorganisasi menurut PMK-206.02/PMK.01/2014 maupun perubahan gaya kerja yang lebih agresif seperti penindakan berupa gijzeling terhadap pengemplang pajak yang tidak kooperatif dengan nilai nominal tertentu. Diluar itu, memang masih tersedia lahan potensial (booming sektor properti dan Wajib Pajak Korporasi) untuk menggali penerimaan pajak namun dalam pelaksananya DJP praktis tidak bisa berbuat banyak selain berharap pada dukungan penuh semua pihak dalam menjalankan tugas menghimpun penerimaan negara dari pajak.

World Bank boleh memandang Presiden Joko Widodo terlalu ambisius. Namun, sikap beliau ini merupakan cerminan dari tekad keras untuk mewujudkan janji- janji kampanye beberapa bulan silam, dan untuk itu penguatan dan dukungan yang penuh untuk DJP adalah harga mahal yang harus dibayar. DJP dan Jokowi menanti dukungan kita karena secara sederhana DJP dan Jokowi adalah kita.

Read more »

3.26.2015

Dan Akhirnya Kita Bicara Tentang...

Jauh sebelum ini.
Saat kita kira hidup akan menjadi lebih sempurna.
Hari- hari yang kita jalani seakan menjadi penghibur.
Dan memberi harapan tentang esok yang lebih indah.
Kita terus bercerita tentang apapun.
Tentang banyak hal yang selalu kita utarakan dalam bahasa yang sama.
Bahasa cinta kita berdua.

Kita seperti menggengam dunia.
Sempurna dipayungi cita dalam cinta. Akhirnya kita mengerti.
Atas nama harapan, cita dan cinta kan selalu seiring.
Dan kita terus saja bicara tentang hari depan yang masih jauh.
Hari depan yang akan kita habiskan bersama.
Lengkap dengan bumbu cerita ideal yang kita pendam dalam doa dan asa.

Tapi harapan yang indah tidak selalu murah.
Selalu ada harga yang harus dibayar, dunia kita seakan buyar.
Hidup tidak selalu seindah rencana. Tak selalu semudah yang kita tata.
Kita akhirnya dipahamkan tentang kelemahan dan keterbatasan.
Dan dalam diam kita bicara dan mulai bertanya.
Ditengah ketidaksempurnaan ini. Masih mampukah kita menjaga cita?

Dulu, saat itu. Kita terbiasa dengan hal indah.
Bila kini kita tersentak realita, mungkin kita tengah diuji.
Yakini saja, bahwa ini caraNYA menguatkan jiwa, mengokohkan cinta.
Kita terpana oleh kejutan tentang hidup yang tidak terbayangkan.
Bahwa ada hak mutlakNYA dalam rencana kehidupan kita.
Yang dengan segala kerendahan diri harus kita terima.
Dengan tertatih, lalu kita bicara tentang menjadi saling menguatkan.

Kita teringat tentang nyawa yang tak sempat menyapa dunia.
Atau tentang manusia yang tertahan dititik yang sama.
Dan kita pun menemukan cinta yang memang tidak pernah hilang.
Ia hanya bersembunyi meminta untuk dicari.
Kutemukan cinta di wajah mungilmu yang kerap kupandangai saat pulas terlelap.
Seperti halnya kau yang tidak pernah kuragu walau barang sekedip mata.
Dan akhirnya kita bicara tentang cinta, kesabaran, dan kepasrahan.

Read more »

10.04.2014

Realita Untuk Dirga (II)

Dirga bergegas pulang membawa serta rasa bangga. Tetapi disaat yang sama, batinnya dirundung cemas membayangkan ayahnya yang sejak dua jam lalu terbujur kaku dimeja operasi. Gemetar kaki Dirga saat melangkah memasuki pintu rumah sakit, ia terus berjalan menyusuri labirin lorong yang menuju ruang operasi. Derap langkahnya senada dengan batinnya yang tiada berputus asa dalam doa. "Semoga ayah sembuh!" Dirga masih belum siap bila semuanya harus berubah. Ia terbiasa hidup lurus menuju cita- cita. Ayahnya adalah suntikan utama semangatnya.

Dirga sudah berada 10 meter dari ruang tunggu kamar operasi. Ia tahu ibu dan beberapa saudara ayahnya telah sedari tadi menunggu disana. Langkah Dirga makin berat, ia seperti tak sanggup mengangkat kepala dan menatap lurus ruangan itu. Semua yang terlintas dalam benaknya adalah kilasan memori masa kecilnya. Saat ia dan ayahnya berplesir sore mengitari kota dengan motor vespa sederhana sambil ayahnya memberi cerita cita yang hebat baginya, tentang menjadi seseorang, tentang hidup dalam kehormatan. Nyatanya memang cuma harapanlah yang mampu membuat Dirga bertahan. Harapan yang baru ia sadari bahwa sedari dulu telah dibangun oleh ayahnya lewat cerita.

"Semoga ayah sembuh! Ya Allah". Dirga kemudian mempercepat langkahnya. Tas gendongnya berayun mengikuti derap langkahnya yang maju terpacu. Begitu tiba tepat di pintu ruang operasi itu, Dirga melihat ibunya tengah berbicara dengan pria berjas putih dan berkacamata yang tampak lelah. Dirga menghentikan langkahnya, menatap sambil berharap. Dirga tahu pria itulah dokter yang mengoperasi ayahnya. Tetapi dada Dirga berguncang hebat saat tak lama kemudian ibunya duduk sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Mata sang ibu terlihat berkaca- kaca. Ia segera mendekati ibunya yang langsung dirangkul saudara- saudara ayahnya. Sang dokter masih juga belum beranjak.

"Bu. Maaf Dirga baru datang. Ada apa Bu?". Dirga bertanya pada ibunya. Ibunya diam. Keheningan kemudian mendaulat suasana. Dirga lalu bertanya pada sang dokter. "Dok, bagaimana operasi ayah saya?" Ujar Dirga dengan suara yang bergetar. "Maaf, ayahmu meninggal. Ada riwayat asma yang tidak teridentifikasi sebelumnya. Sehingga saat operasi berlangsung pasokan oksigen yang ada tidak cukup dengan kebutuhan. Kami sudah berusaha tapi ditambah faktor usia ayahmu yang sudah cukup tua membuat segala upaya kami tak cukup membantu". Dirga diam. Mematung dan membisu. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya yang tadi menitikkan air mata lalu mendekat dan merangkulnya. Kini cuma ibunya yang ia punya, selain cita- cita yang sepertinya akan menjadi tanda tanya. Dirga sadar satu hal. Cerita hidupnya tidak akan pernah lagi sama.

September 2000

Hampir empat puluh hari lewat sejak ayah Dirga dimakamkan. Bengkel sumber penghidupan keluarga masih belum juga dibuka. Kini dirumah, Dirga tinggal berdua saja dengan ibunya yang tidak nemiliki apa- apa selain rumah yang mereka tempati ini. Rumah inilah hasil kerja ayahnya 20 tahun terakhir membuka bengkel ini. Bengkel yang telah menjadi sumber dana pendidikan Dirga. Bengkel ini pula yang mampu membuat ibu Dirga mampu menabung yang sayangnya sudah habis terkuras untuk biaya berobat ayah Dirga.

Dirga melamun. Sudah sebulan sejak ia lulus SMA tapi ia belum bergerak kemana- mana. Dua pekan lalu Julian datang menemuinya untuk sekadar berbagi cerita. Julian kinj tengah mengambil bimbingan belajar di liar kota dan tetap fokus pada cita- cita nya menjadi Sarjana Tehnik Elektro. Tawaran Julian untuk ikut gabung di bimbingan belajar yang sama ditanggapi pesimis oleh Dirga. "Aku belum tahu mau bagaimana Jul" Kalimat itu dihargai Julian sebagai tanda bahwa Dirga masih dalam suasana duka. Julian kemudian menarik diri dari Dirga, memberi waktu pada temannya itu untuk mengatur langkah.

November 2000

"Bu aku ini mau bagaimana?" Dirga bertanya pada ibunya yang tengah menghidangkan sarapan pada suatu pagi yang basah oleh hujan semalam. "Bagaimana apa maksudmu, Nak?" Ibunya pura- pura tak paham maksud Dirga semata hanya untuk memancing agar Dirga bercerita lebih banyak. Sudah dua bulan ini Dirga lebih banyak diam. Ibunya tak mau mengganggu kecuali bila ia yang memulai dan itu artinya ia sudah siap dengan kenyataan hidup yang ada. "Bu, apa aku masih bisa lanjut sekolah?" Dirga akhirnya menyuarakan hatinya. Itulah yang telah lama ia pendam dalam pergumulannya bersama diam. Bahwa hidup ternyata menjadi lebih berat seperti ini adalah hal yang menghentakkan jiwa Dirga.

Sering Dirga bertanya pada dirinya sendiri. Apa aku bisa tanpa ayah? Uang darimana? Aku mau jadi apa? Bila aku tak kuliah, apa aku sanggup mengubur cita- cita menjadi advocad/psikolog? Rentetan pertanyaan itu berkecamuk memukuli batinnya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya dan meminta pendapat ibunya. "Nak, ibu paham maksudmu. Ibu sangat ingin melihatmu kuliah menjadi Sarjana dan ibu tahu itulah kebahagiaanmu. Tapi itu semua butuh biaya setidaknya 4-5 tahun kedepan. Apa kita sanggup? Ibu tentu akan berusaha, tapi apa itu cukup?" Ibunya menjawab dengan bertanya tentang dua hal: kesanggupan dan kecukupan.

Dirga diam lalu masuk ke kamarnya. Ia duduk termenung, matanya tertuju ke jendela yang langsung menghadap ke petak bengkel ayahnya dihalaman sebelah. Bengkel yang telah ada jauh sebelum ia lahir. Menurut cerita ibunya, sebelum menikah, Ayahnya sudah mendirikan bengkel itu, ia menjadi pemilik sekaligus montir tetap disana. Penghasilan dari bengkel itu menjadi modal ayahnya menikahi ibunya. Tetapi ada cerita lain yang tertutup rapat tentang bengkel itu. Sebuah cerita yang tidak pernah ia tahu, yang kemudian pada akhirnya membuka mata hati Dirga tentang kehidupan. Sejauh ini yang Dirga lihat tentang bengkel itu cuma sepetak lahan yang tak terlalu luas dengan beberapa alat berat pendukungnya beserta satu pertanyaan: Mengapa bengkel ini tidak bisa berkembang lebih besar?

Awal Tahun 2001

Dirga makin seperti orang bingung. Ia tak pernah keluar rumah. Hatinya malu mendapati dirinya tak mampu kuliah selepas SMA. Dua pertanyaan ibunya tentang kesanggupan dan kecukupan dua bulan silam memang tak bisa ia jawab. Ia mulai membenci hidup dan dirinya sendiri. Batinnya berontak. Ia bertanya dalam hati. Mengapa Tuhan memampukan ia bercita- cita setinggi itu? Mengapa Tuhan membiarkan ia menjaga harapannya. Lebih dari itu, ia bertanya. Mengapa ia terlahir dari seorang ayah yang hanya seorang pemilik bengkel? Ibunya hanya bisa menatap dan membatin bila melihat Dirga.

Tetapi ibunya tidak pernah benar- benar pasrah. Ia tetap seorang ibu yang menginginkan kebaikan bagi anaknya. Mendapati Dirga seperti larut dalam kecewa, ibunya menghubungi paman Dirga yang tinggal di luar kota. Pamannya bernama Roni, ia adik bungsu almarhum ayahnya yang kini hidup mapan dengan membuka restoran. Ibunya menceritakan banyak hal tentang perubahan sikap Dirga pada paman Roni. Tak cuma itu, di setiap dua pertiga akhir malam, ibunya kerap menyebutkan nama Dirga dalam setiap untaian doanya. Sebuah harapan agar pikiran Dirga dibukakan dan diberi jalan lain.

Atas permintaan ibu Dirga, paman Roni berkunjung kerumah Dirga sekitar tiga hari lamanya dengan alasan berlibur mengunjungi sanak saudara, padahal maksud utamanya adalah memberi pandangan agar Dirga tidak larut dalam suasana yang menenggelamkan hidupnya. Paman Roni datang sendirian kerumah Dirga pada suatu hari yang telah ia sampaikan ke Ibu Dirga. Ia berbincang akrab dengan ibu Dirga dan Dirga sendiri ada disitu, tetapi ia tidak benar- benar hadir. Senyum Dirga hampa, matanya kosong, paman Roni merasakan itu. Tetapi ia tidak menunjukkan perasaanya. Ia ingin menyentuh hati Dirga di saat yang tepat dengan lebih personal dan lebih dalam untuk mencongkel kesadarannya yang terbenam.

Pada malam harinya, saat itu mungkin sudah hampir enam bulan sejak Dirga lulus SMA. Paman Roni datang masuk ke kamar Dirga dengan membawa sebuah album tua yang sudah kusam tetapi bersih. "Ga, kamu lagi ngapain?" Paman Roni menyapa Dirga sambil matanya berkeliling memandangi dinding kamar Dirga yang seperti beku oleh jiwa Dirga. "Lagi baru mau tidur paman, ada apa?" Ujar Dirga dengan nada seperti tidak ingin diganggu. Tatapan paman Roni jatuh pada gulungan kertas di sudut kamar Dirga, gulungan yang ada sisa perekat kertas di keempat ujungnya. Ia membuka gulungan itu dan melihat tulisan tangan Dirga tentang sederet nama kampus beken target tujuannya yang ia tulis enam bulan silam.

Bersambung....

Read more »

9.29.2014

Realita Untuk Dirga (I)

Maret 2000

Ada semangat menyala di dada Dirga. Seorang pelajar SMA kelas 3 yang sebentar lagi akan lulus. Meski belum tahu persis mau jadi apa, Dirga memang bukan pemuda biasa. Ia ingin berhasil dan sukses dalam hidupnya. Tidak ada hari terlewat tanpa ia memikirkan rencana lanjutan studinya. Ia menulis besar- besar sederet nama kampus beken di negeri ini yang akan jadi incarannya. Tidak tanggung- tanggung, sebuah jurusan yang konon biayanya selangit pun berani ia cantumkan di urutan nomor 1.

"Ga, gak kerasa nih, dua bulan lagi kita ujian akhir. Mudah- mudahan kita lulus dan bisa lanjut sekolah di kampus idaman masing- masing!" Julian berujar santai ke Dirga usai lonceng tanda jam pelajaran berbunyi.

"Aamiin, iya Jul. Gue kepengen banget jadi advocat atau kalo enggak ya psikolog, gua mau ambil studi hukum atau psikologi aja rencananya di Universitas Gajah Mungkur" Sembari mengambil tas gendongnya, Dirga menimpali ucapan Julian.

"Yakin Ga? Gue gak minat kesitu. Rencananya gue mau ambil Manajemen di Arilangga, Surabaya aja". Mereka lanjut berbagi cerita sampai berpisah di depan gerbang sekolah. Julian sudah dijemput oleh sopir keluarga, sementara Dirga berjalan kaki pulang kerumahnya yang berjarak sekitar 1,5 Km.

Dirga dan Julian berteman akrab sejak kelas 1. Mereka menyukai bidang yang sama, Sosial. Olahraga mereka pun sama yakni Sepak Bola. Seperti kebetulan, mereka menggandrungi satu klub yang sama, Sridijaya FC. Mungkin banyaknya kesamaan ini yang membuat mereka dekat. Tapi ada satu hal yang membedakan Dirga dan Julian. Status ekonomi keluarga. Hal yang tidak pernah mereka anggap jadi penghalang pertemanan. Dirga berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang montir handal tempaan pengalaman sedangkan Julian dibesarkan di lingkungan mewah, terlahir sebagai anak dari seorang eksportir meubel yang kaya raya.

Juli 2000

"Ayah, Ibu, Dirga mohon doanya semoga bisa mengerjakan ujian hari ini" Ujar Dirga sembari mencium punggung tangan kanan kedua orangtuanya. Ayah Dirga mengangguk sambil terbaring lemas di ranjang rumah sakit tempat sebulan belakangan ini ia dirawat. Ibu Dirga tersenyum melepas anaknya. Ibunya sejak sebulan ini pula menghabiskan waktu menjaga ayah Dirga. Ayahnya menderita Diabetes dan pekan depan akan dilakukan amputasi pada kaki kirinya yang sudah membusuk.

Sementara ini bengkel mata pencaharian ayah Dirga terpaksa tutup. Dirga fokus pada ujian akhir sekolah dan segala persiapan mencapai mimpinya sehingga tidak ada yang bisa menjaga bengkel sejak ayahnya sakit.

"Ga, wish us luck!" ujar Julian yang dijawab dengan anggukan tenang oleh Dirga. Sesaat sebelum ujian dimulai, keduanya berbincang singkat tentang rencana merantau keluar kota begitu ujian usai untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas.

Hari demi hari lewat, ujian pun selesai. Masa menunggu pengumuman Dirga gunakan untuk merawat dan menemani ayahnya di Rumah Sakit. Kondisi kesehatan ayah Dirga semakin menurun, padahal lusa Amputasi akan dilakukan. Dirga mulai cemas, ia bahkan belum menjawab tawaran Julian untuk ke luar kota. Dirga teringat pesan ayahnya beberapa bulan silam: "Ga, selagi ayah mampu membiayai sekolah kamu, teruskanlah!". Tapi yang kini ia lihat adalah ayahnya yang terbaring lemah dan kurus. Dada Dirga sesak oleh bimbang. Semangatnya yang menyala berubah menjadi tanda tanya.

"Dirga, Ibu gak tahu mesti ngomong apa. Tapi rasanya Ibu harus jujur kalau tabungan Ayah dan Ibu sudah menipis untuk biaya berobat Ayah mu ini. Apalagi untuk persiapan operasi besok. Ibu kira sebaiknya rencana kuliahmu nanti saja kita bahas kalau Ayahmu sudah sembuh, ya nak". Sambil memijit tangan ayahnya, Dirga termenung mendengar penuturan ibu nya. Ibu Dirga tampak merasa sedih dan terpaksa bertutur demikian.

Dirga tak menjawab perkataan ibunya, ia diam. Benaknya masih dipenuhi asa untuk sekolah di Univ. Gajah Mungkur dan menjadi psikolog atau advocat. Tapi hatinya sudah mulai disusupi tanya dan ragu terlebih jika ia menatap ke ayahnya yang seharian ini cuma menerawang kosong ke langit- langit kamar rumah sakit ini. Sepi, tidak ada percakapan atau suara lagi antara mereka selain bunyi berisik gemericik gelembung udara dari tabung oksigen di sebelah ranjang ayah Dirga. Untuk persiapan operasi besok, tabung itu memang disambungkan lewat selang ke hidung ayahnya. Entah mengapa sejak semalam Ayah Dirga kesulitan bernafas.

Agustus 2000

"Bu, Dirga kesekolah dulu ya. Hari ini pengumuman kelulusan. Nanti Dirga langsung nyusul ke ruang tunggu operasi saja kalau sudah pulang. Mohon doanya Bu". Dirga pamit dan mencium tangan ibunya lalu memeluk ayahnya yang seperti hanya membalas dengan kerlingan mata. Pengumuman kelulusan memang pas dihari yang sama dengan operasi amputasi kaki ayah Dirga.

Sepanjang jalan tidak henti- hentinya Dirga berdoa semoga ayahnya sembuh. Ia belum siap bila harus menunda sekolahnya. Sementara ini ia menolak halus ajakan Julian merantau keluar kota.

"Aku belum bisa kemana- mana sementara ini, ayahku sakit. Mungkin nanti kalau situasinya pas aku kabari Jul" Dirga menjelaskan ke Julian. Keduanya sudah sejak 15 menit yang lalu berdiri paling depan menanti pengumuman kelulusan dari kepala sekolah. Tibalah saat pengumuman, di podium sambil berdiri, kepala sekolah membacakan hasilnya. Ketika diumumkan Dirga bahagia bukan main, tak cuma lulus, Dirga bahkan meraih nilai tertinggi untuk kelompok ilmu sosial, bahkan jauh diatas Julian teman dekatnya.

"Selamat Ga, gue bangga punya sohib kayak loe!" Julian mengucapkan selamat ke Dirga. Mereka berdua berjabat tangan. "Ga, semoga ayah loe cepat sembuh ya, kalo mau nyusul gue ke luar kota kabari aja ya!" Dirga membalas dengan mengucapkan terima kasih ke Julian. Kegembiraan ini cukup pikir Dirga, ia harus segera kembali ke rumah sakit menemani ibunya yang tengah menunggu ayahnya dioperasi.

Bersambung...

Ebas.
Pangkal Pinang. 29092014.00:06.

Read more »

9.27.2014

Nasib Sanib

Sanib gusar. Sudah dua bulan belakangan hujan tak juga turun di kampungnya. Kegusaranya sangat beralasan sebab sehari- hari Sanib bekerja sebagai petani jagung. Musim kering membuat panen jagungnya kali ini terancam gagal.

"Ya tidak apa- apa Mas, kan kita masih punya tabungan dari hasil panen bulan- bulan kemarin. InsyaALLAH cukup untuk beli beras dan bahan sehari- hari" Ujar Minah sambil meletakkan kopi hangat disebelah suaminya itu.

Sanib dan Minah sudah sepuluh tahun berumah tangga, meski tidak mewah, mereka berdua beserta enam orang putra putri mereka hidup tenteram. Sanib memang rajin bercerita ke Minah tentang apapun, termasuk soal kekeringan yang melanda kampung mereka.

"Kalau sampai tabungan kita habis tapi hujan belum juga turun. Aku perlu cari pekerjaan lain supaya bisa dapat uang, mungkin aku mau ikut kayak si Darma kerja nebang kayu dihutan!" Sanib bertutur sambil berusaha menyembunyikan kegusarannya, ia menyeruput halus kopi buatan istrinya itu.

Satu bulan kemudian

Hujan masih juga belum turun, tanah di kampung Sanib makin keras mengering dan terbelah. Kebun Jagung Sanib sudah tinggal cerita. Pekan lalu, api dari kebakaran ladang tetangganya telah menyambar dan melumat habis tanaman jagung Sanib yang memang sudah mengering layu. Sanib cuma bisa pasrah.

"Dek, aku berangkat ya. Mungkin 2-3 hari lagi pulang. Hutannya agak jauh, jadi mending nginap daripada bolak- balik, biar hasilnya lebih banyak" ujar Sanib pada Minah saat hendak pamit berangkat ke hutan. Sudah dua minggu ini ia ikut si Darma jadi penebang kayu hutan. Hasilnya lumayan, sekali pergi ia bisa pulang bawa uang untuk makan dan kebutuhan selama 2 minggu.

"Iya Mas, hati- hati ya. Ini pakaian didalam tas sudah kusiapkan sama minyak tawon kalau Mas pegal-pegal dimalam hari" Minah memberikan tas yang lebih mirip karung itu ke Sanib. Minah memang sayang benar pada Sanib, lelaki sederhana yang tahu betul arti tanggung jawab pada keluarga.

"Iya Dek, doain ya" Sanib mengecup lembut kening Minah dan disambut kecupan Minah di punggung tangan kanan Sanib. Ia pun berangkat setelah memeluk Minah dan satu persatu putra- putri nya itu. Darma telah cukup lama menunggu didepan rumah mereka dengan menggunakan truk reot keluaran tahun 1992 itu mereka berangkat.

Minah dan keenam anaknya tidak sekejap pun melepas pandangan yang ditumpangi Sanib, sampai akhirnya Sanib mengecil dan menghilang di kelokan jalan. Minah menghela nafas panjang sembari berdoa agar hujan lekas turun sehingga Sanib bisa kembali menggarap ladang dan tidak perlu jauh- jauh mencari nafkah.

Tiga hari kemudian

Minah bahagia, ia dandan tak biasa hari ini. Sanib, sang suami akan pulang. Ia telah menyiapkan sepiring pisang goreng sedari pagi tadi, tak lupa pula secangkir kopi hangat di gelas bermotif lurik khas hijau putih. Enam orang anaknya sedang bermain di belakang bersama ayam dan itik peliharaan mereka. Sumringah betul Minah hari itu menanti Sanib.

Saat Minah tengah membersihkan ruang depan, tiba- tiba truk reot tumpangan Sanib dan Darma tiba di depan rumah mereka. Minah bergegas keluar menyambut di depan pintu. Tetapi hanya Darma yang terlihat. Kemana Sanib? Pikir Minah. Darma pun mendekati Minah, takut dan bingung ia melangkah.

"Nah, Sanib titip pesan katanya ia sayang banget sama kamu dan anak- anak. Ia minta maaf gak bisa pulang menuhin janji" Ujar Darma ke Minah. Minah masih bingung dan bertanya- tanya.

"Memangnya ada apa Dar? Kok Mas Sanib gak pulang sekalian?" Minah penasaran

Akhirnya meluncurlah penuturan Darma yang membuat Minah terhuyung pingsan.

"Maaf Minah, Sanib sudah meninggal. Dua hari yang lalu ia tidak sengaja ketiban pohon besar yang ditebang. Kami sudah berusaha membawanya ke rumah sakit untuk diselamatkan tapi ditengah jalan ia meninggal. Ia cuma titip pesan itu tadi aja ke kamu. Sekarang jenazahnya ada di rumah sakit"

Beberapa jam kemudian

Minah baru saja siuman dikelilingi enam anaknya dan saudara- saudaranya dari kampung sebelah. Dirumahnya sudah ramai pelayat berdatangan dan membacakan pengajian untuk arwah Sanib. Jasad Sanib tiba dari rumah sakit dijemput mobil kepala desa dua jam yang lalu saat Minah tengah pingsan. Minah kemudian mendekati jenazah Sanib, menatapnya dalam- dalam. Seperti dulu saat mereka masih pengantin baru. Minah telah ikhlas menerima kepergian Sanib. Entah apa yang dialaminya semasa pingsan tadi sehingga ia jadi begitu tegar.

"Mas, doaku selalu untukmu. Sebisanya, insyaALLAH akan kurawat dan kubesarkan anak- anak kita" ujar Minah dalam hati sembari terus berdoa agar hujan segera lekas turun.

Ebas
Pangkal Pinang. 27092014. 23:42.

Read more »

9.08.2014

Tulisan Untuk Tuhan

Tuhan, bila ini caraMu untuk bilang
Bahwa aku cuma hambaMu yang lemah
Maka aku pasrah

Tuhan, bila ini kuasaMu untuk tunjukkan
Betapa agung dan sempurnanya Engkau
Maka aku terima

Tuhan, bila lewat semua ini kau ajariku
Tentang kepatutan sebagai hambaMu
Maka jangan sisakan pongah dikalbuku

Tuhan, siapa aku yang berani tanya putusanMu?
Kau beri jalan lurus dan mulus bukan untukku
Dan cuma tersisa terjal dan liku

Tuhan, getar hebat didadaku
Saat kubaca kuatnya firmanMu
Kau bilang "Sesungguhnya janjiKu amat teguh"

Tuhan, jangan Kau tolak doaku karena dosaku
Pun pula bagi para orang tua, istri dan saudaraku
Bila bukan Engkau, tak ada lagi tempat bagiku

Tuhan, ada setan berbisik hebat bilang Kau lupakan aku
Tuhan, ada malaikat berujar lembut bilang Kau tengah mengujiku
Tuhan, Engkau paham betul gemuruh bimbang menerpa imanku

Tuhan, Engkau ada, Engkau nyata
Darimu aku bermula, Engkau maha mencipta
Apa mungkin aku telah lupa?

Tuhan, Selamatkanlah aku dari gila.
Ingatkan aku bahwa aku lemah.
Sadarkan bahwa kuasaku terbatas, Kuasamu tanpa batas.

Tuhan, ajariku agar sabar tunggu janjiMu
Tuhan, ajariku untuk ingat kuasaMu
Tuhan, ajariku untuk terima mauMu
Tuhan, ingatkanku bahwa aku cuma hambaMu

Semua kini terserah kehendakMu, Tuhan.

Ebas
Pangkal Pinang. 09092014.

Read more »

9.01.2014

Kalkulasi BBM di Lorong Politik

Menjadi presiden dan wakil presiden terpilih pasca Pilpres 2014, Jokowi-JK langsung dihadapkan pada polemik menahun BBM yang sejak dulu timbul tenggelam mengemuka. BBM, yang kerap dipelintir sebagai akronim dari Benar- Benar Masalah, merupakan batu sandungan yang mempersingkat masa bulan madu Jokowi-JK dengan 70 juta lebih pemilihnya. Dikatakan menjadi batu sandungan bukanlah tanpa sebab, karena sejelas apapun nalar  ekonomi Jokowi-JK dan Tim Transisi untuk menaikkan harga BBM, implementasinya akan masuk ke jalur politik yang panjang lagi penuh intrik.

Kita sudah sejak lama tahu bahwa isu kenaikan harga BBM telah menjadi komoditi yang paling empuk untuk menggiring opini publik bahwa sang penguasa tidak memihak wong cilik. Akhirnya kebijakan ini dianggap sebagai kebijakan tidak populer yang sebisa mungkin harus dijauhi. Tetapi Jokowi-JK sepertinya tidak punya opsi lain, rencana untuk meminta SBY-Boediono menaikkan harga BBM di akhir masa jabatannya telah gagal setelah hasil pertemuan di Bali tanggal 30 Agustus 2014 beakhir nihil. Alasan apapun yang ada di benak SBY patut dimaklumi. Konklusi sederhananya adalah: Setiap pemerintahan memiliki ujiannya masing- masing. Itu benar, meski kita juga mungkin sepakat bahwa ujian BBM yang menimpa Jokowi-JK ini hadir terlalu dini.

Saat membuat tulisan ini, saya tidak memposisikan diri sebagai fans die hard Jokowi-JK, bahkan saya tidak memilih mereka Pilpres kemarin, meski saya akui saya adalah penggemar Jusuf Kalla (untuk sikap gesit dan beraninya). Murni saya letakkan diri saya sebagai bagian masyarakat yang hendak memberi sudut pandang yang lebih realistis disaat sebagian yang lainnya mungkin masih terseret sisa drama dan sentimen gelaran pilpres kemarin. Mari kita bicara realita, data dan fakta.

Apa yang kini dihadapi Jokowi-JK sebetulnya adalah persoalan yang telah berlarut-larut dan menimbulkan komplikasi dalam tata kelola arah pembangunan bangsa. Bertahun- tahun lamanya, masyarakat telah dimanja oleh subsidi BBM yang sebenarnya telah menciptakan ruang gerak pembangunan yang sempit. APBN tertekan, bahkan diambang defisit dibuatnya. Sayangnya, praktik politik pragmatis yang selama ini berjalan diparlemen dan eksekutif justru mendorong bertahannya pola ini selama 1 dekade teakhir. Mereka mengatasnamakan rakyat. Padahal sejatinya hanya menanam bom waktu yang justru semakin menyengsarakan rakyat.

Percaya atau tidak, faktanya adalah Indonesia telah menghabiskan hampir Rp1.650 Triliun untuk mendanai subsidi BBM dalam lima tahun terakhir. Di tahun 2014 yang hanya tersisa 4 bulan lagi, anggaran subsidi BBM telah menyentuh level hampir Rp400 Triliun atau setara lebih dari 30% APBN 2014.  Dan program ini dijalankan ditengah keadaan produksi minyak bumi yang terus menurun selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2004 produksi minyak bumi Indonesia mencapai 1,1 juta barrel/hari menjadi hanya 0,82 juta barrel/hari saja di tahun 2014. Sementara itu, cadangan minyak kita pun terus menurun dari 4,7 Miliar barrel pada tahun 2004 menjadi 3,7 Milliar barrel pada tahun 2014. Keterangan ini bersumber dari mantan pejabat tinggi PERTAMINA, Ari Soemarno.

Pergerakan konsumsi BBM bersubdisi yang eksponensial itu menjadi duka tersendiri karena subsidi yang semula ditujukan kepada masyarakat miskin, nyatanya lebih banyak dinikmati oleh mereka dari kalangan yang sebetulnya mampu. Berdasarkan hasil penelitian Kompas, pada sektor transportasi darat, terpapar data bahwa 53% penikmat subsidi BBM adalah mobil pribadi, 40% sepeda motor, 3% mobil angkutan umum dan 4% untuk mobil pengangkut barang. Konsumsi sektor transportasi darat ini meliputi 97,3% dari total pemakaian BBM bersubsidi di semua sektor, sektor lainnya adalah rumah tangga, usaha kecil, transportasi air dan perikanan dengan konsumsi masing- masing tidak sampai 1%. Sampai disini, seharusnya kita bertanya: Mengapa kita masih berani memanjakan diri lewat subsidi ditengah cadangan dan produksi yang semakin menipis? Mengapa kita berteriak bahwa BBM telah telah membantu rakyat miskin bila nyatanya mereka yang kita suarakan itu mengkonsumsi tak sampai 1% dari kuota yang ada?

Mungkin kita sepakat untuk mengamini pernyataan Jokowi disaat sesi debat Pilpres kemarin bahwa ada solusi Revolusi Energi yang dapat ditempuh untuk menghindarkan Indonesia dari kelangkaan energi. Tetapi eksplorasi dan pengembangan itu butuh uang dan waktu. Dari mana uang itu bila APBN sudah tersedot habis ke belanja tak produktif? Semua fakta yang ada (bila kita mau menerima) telah menyajikan keadaan yang menggambarkan betapa terjepitnya Indonesia saat ini. Pemerintahan SBY- Boediono bukannya tidak menyadari situasi, skema pembatasan kuota yang kemarin dijalankan telah menunjukkan pemahaman dan sikap disiplin mereka untuk tegas pada kuota, tetapi keadaan berakhir lain, masyarakat tampak kaget mendapati kelangkaan, antrian mengular di banyak SPBU di tanah air. Terlalu lama dimanja dengan ketersediaan BBM bersubsidi rupanya telah membentuk mentalitas kita menjadi pribadi yang mudah terkejut untuk kemudian lupa kembali.

PERTAMINA memberi gambaran bahwa bila pemerintah tak tegas pada kuota maka anggaran subsidi BBM akan jebol dan berakhir menjadi defisit APBN. Kuota yang seharusnya cukup sampai akhir tahun 2014 ternyata bablas hanya sampai Juli 2014 saja. SBY-Boediono kebingungan, Jokowi-JK kelabakan. Kita akhirnya kembali menonton drama BBM, Benar- Benar Masalah. Mari kita akui bahwa untuk saat ini, maka menaikkan harga BBM adalah keniscayaan. Meski untuk menjalankannya pemerintah akan dihadapkan pada bayang- bayang inflasi, meningkatnya kemiskinan dan gejolak sosial lainnya. Itu pun kalau berjalan mulus di parlemen. Harusnya kita berhenti menganggap kebijakan menaikkan harga BBM sebagai kebijakan yang tidak popular. Praktik dekonstruksi anggapan ini akan sangat membantu Indonesia lepas dari jeratan candu subsidi BBM.

Tidak bisa dipungkiri bahwa menaikkan harga BBM, praktis akan menimbulkan inflasi. Skema penyesuaian harga BBM menurut Kementerian Keuangan apabila dinaikkan sebesar Rp500/liter akan mendorong inflasi 0,6% dan menyelamatkan anggaran negara Rp24 Triliun, bila dinaikkan sebesar Rp1.000/liter akan mendorong inflasi 1,2% dan menyelamatkan anggaran Rp48Triliun dan bila dinaikkan sebesar Rp2.000/liter akan mendorong inflasi 2,4% dan menyelamatkan anggaran Rp96Triliun. Benar bahwa rakyat miskin lah yang akan paling merasakan dampak inflasi ini, tetapi disinilah titik kritis dimana Jokowi-JK bersama Bank Indonesia dapat bekerja keras mengendalikan inflasi agar tidak bertambah liar.

Lebih dari itu, tambahan kemampuan fiskal Negara yang diperoleh dari menaikkan harga BBM akan dapat dialihkan ke belanja sektor lain yang benar- benar menyentuh jantung kehidupan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Secara bertahap, dengan mengamankan tiga sektor ini, tentu akan memberi efek yang dapat menekan biaya sosial pemicu inflasi. Bukankah inilah yang justru kita inginkan? Sebuah kebijakan yang benar- benar memihak wong cilik sekaligus memperjelas arah pembangunan bangsa.

Membangun puskesmas, membangun sekolah, menguatkan konektivitas antar wilayah, pembangunan simpul- simpul infrastruktur dan menciptakan diversifikasi sumber energi hanya akan dapat diwujudkan bila ruang gerak fiskal di APBN lebih leluasa, tidak lagi tersandera beban subsidi BBM. Terpilihnya Jokowi- JK bukanlah fakta ajaib yang akan mengusir habis semua masalah negeri, tetapi arah kebijakan mereka lah yang membuat kita berani berharap lebih. Tetapi berharap saja tidak cukup, kita harus mengawal dan mengawasi, bukan mencibir dan memaki. Ada perbedaan yang jelas antara mengawal dengan kritis berdasarkan logika dan nalar yang empiris dengan mengawal secara sinis berdasarkan sentimen pribadi dan kelompok.

Jokowi-JK memang tidak menang secara mayoritas mutlak, hanya 53,15%. Tetapi bila kini mereka yang telah sah dinyatakan menang. Maka tidak ada jalan lain, selain duduk bersama, bergerak bersama untuk kepentingan bersama. Karena berkontribusi tak harus duduk menjadi penguasa, karena sesungguhnya Jokowi-JK tidaklah istimewa tanpa dukungan kita. Bila bukan kita yang memberikan dukungan maka bisa dipastikan kebijakan Jokowi-JK akan terganjal di lorong politik yang sarat intrik kepentingan. Di parlemen, koalisi Jokowi-JK memang tak unggul, tetapi apalah arti keunggulan hitungan matematika politik bila para eksekutif telah mendapat simpati dan berkoalisi dengan pihak yang dukungannya sesungguhnya sangat istimewa dan menentukan, yaitu rakyat.

Pangkal Pinang, 01 September 2014.

Read more »

8.30.2014

Sajak Pajak

Atas nama bangsa
Ada banyak tujuan mulia
Juga harapan dan cita
Demi tercapainya sejahtera

Diatas panggung semua beretorika
Diatas podium semua bisa bebas bicara
Tapi tak semua ingat satu kunci utama
Cita mulia tanpa dana kan berakhir nelangsa

Tetapi negeri ini tak pernah jalan sendiri
Ada sisi lain yang tak pernah kita sadari
Tentang jiwa militan pengabdi negeri
Tentang mereka yang patut kita apresiasi

Jauh dari sorotan dan lampu kamera
Tak tersentuh liputan media massa
Ada lebih dari tiga puluh ribu jiwa
Bersama mereka terselip banyak cerita
Tentang duka cita mengisi pundi negara

Sempat mereka habis dikebiri
Oleh laku lancung oknum tak tahu diri
Mereka dihakimi oleh sumpah sarat emosi
Tudingan pun silih berganti menghampiri
Bergeming, mereka tetap maju tak peduli

Dari hasil kerja mereka, mengalir dana untuk negara
Dari jerih dedikasi mereka, berjalanlah tujuan bangsa
Dari tekun kontribusi mereka, cerahlah harapan sejahtera
Dari tegar sabar mereka, terwujudlah cita mulia bersama
Dari geliat semangat mereka, berdirilah marwah negara

Pangkal Pinang, 30 Agustus 2014
Sabtu 23:51 WIB

Read more »