5.31.2013

Good Bye Mei


Mei segera usai, Juni akan menjelang. Mei tahun ini diwarnai dengan kejutan yang sangat berkesan. Terima kasih Tuhan untuk garis nasib yang engkau tetapkan dan ilham ikhtiar yang Engkau turunkan.

Mei 2013. Tidak akan terlupakan. Pengangkatan menjadi Account Representative, Pernikahan dan Bulan Madu ke Pulau Bangka. Bulan yang sarat dengan perjalanan, manisnya cerita dan cinta, pelajaran serta peralihan fase kehidupan.

Perubahan status dari Bujang menjadi Suami adalah sebuah nikmat besar yang tiada bisa diukur dalam satu dua puluh kalimat. Bagaimana kemudian saat terbangun dari tidur mendapati seorang wanita ada disisi atau ketika pulang selepas kerja adalah momen yang begitu membahagiakan karena wanita yang disayangi sudah menanti. Bekerja sebagai seorang Account Representative juga membawa perubahan cara pandang dan cara pikir dari yang semula keseharian dijibaku dengan pekerjaan back office dan klerikal kini diamanahi tugas yang menuntut daya analisis dan kepiawaian manajemen waktu. Buatku, dengan peran baru sebagai Account Representative ini tugasku adalah menjalaninya seoptimal mungkin, amanah ini datang dari Tuhan, tugasku hanya fokus pada optimalisasi proses, urusan hasil kukembalikan kepada Tuhan selaku pemberi amanah.

Hidup masih akan terus berjalan. Semoga kebaikan yang sudah aku coba berusaha jalani akan dapat terus terjaga nada dan iramanya dengan kian harmonis lagi, karena hidup ini indah dan harapan ku, semoga masa yang akan datang akan kian penuh berkah

Ebas
Akhir Mei 2013

Read more »

5.23.2013

Bulan Madu di Pantai Matras

Momen bahagia memang perlu dibuat, sebab ia akan jadi pengingat romantisme, kehangatan dan cerita manis disaat mungkin nanti konflik pelik atau realita getir dipaparkan dalam alur skenario kehidupan. Saya melihat pengalaman orang- orang terdahulu yang mengajarkan bahwa sehebat-hebatnya tekanan masalah kehidupan berumah tangga, bila sepasang suami istri telah menyatu dalam momen bahagia pengikat emosi dan memori, mereka akan dapat saling menguatkan untuk sabar dan melewatinya.

Seperti saat kemarin, saya dan istri berbulan madu ke Pantai Matras, Sungai Liat, Pulau Bangka. Meski begitu, ini bukan catatan untuk unjuk kebahagiaan, karena saya sadar bahwa semua itu datangnya dari Tuhan, tujuan segala puja dan muara semua puji. Ya itu tadi, murni catatan ini adalah untuk mengikat kenangan atau sekadar menawan manisnya cinta.

Berjalan menyusuri tepi Pantai Matras, kaki kami berdua sesekali disapu riak kecil ombak. Sambil menggandeng tangan istri, rasanya belum pernah saya selapang atau ssutuh itu. Menjadi lelaki beristri benar- benar telah membuat jiwa saya utuh tak lagi separuh. Sesaat saat kami duduk beristirahat dan melempar pandangan ke lautan lepas, miliaran butir pasir pantai ini diam- diam telah mengintip momen bahagia saya dan istri sedari tadi. Begitu bahagia, sampai saya kehabisan kata- kata untuk mengungkapkanya. Buat saya saat itu, kini dan nanti, menikahinya adalah salah satu anugerah terindah dan terhebat yang pernah saya dapat.

Usai itu, ternyata momen bahagia lainnya mewujud lebih banyak berupa hal sederhana dalam keseharian saya dan istri di rumah kontrakan sederhana kami. Bahwa bahagia itu sederhana ternyata memang benar adanya. Tidak terbayang bahwa sekadar makan bersama dengan lauk sederhana atau membersihkan rumah berdua saja sudah mampu mengundang sensasi bahagia yang saya dan istri rasakan. Apalagi bila saat- saat bed talk tiba. Oleh karena itu, sekali lagi, ini benar- benar salah satu anugerah terindah dan terhebat.

Saya dan istri sudah meneguhan komitmen mengarungi kehidupan berumah tangga lewat ijab qabul antara saya dan orang tuanya selaku wali nikah. Kedepan, riak kehidupan tentu saja bisa datang menyentuh kehidupan kami persis seperti halnya riak ombak di bibir Pantai Matras yang membasahi kaki- kami saat kemarin kami berjalan menyusurinya. Dan saat hal itu tiba, semoga momen bahagia yang telah dan sedang kami buat semoga bisa jadi salah satu penguat.

Ebas
Selepas Subuh

Read more »

5.18.2013

Ci(n)ta di Bulan Mei

Takdir hidup Tuhan yang tentukan. Rencana hidup kita yang susun. Kadang keduanya harmonis, namun bisa juga berbenturan. Alhamdulillah aku sudah menikah. Rencana yang sudah lama aku buat dan laksanakan, akhirnya terwujud pekan lalu pada tanggal 12 Mei 2013. Sah, aku menjadi suami wanita yang kusayangi. Lisnaini.

Hitungan bulan demi bulan masa persiapan itu bukanlah masa yang lurus tanpa gejolak. Ada benturan keadaan yang kedatanganya tak diharapkan. Sekarang mengingat masa- masa itu yang terpikir cuma kebenaran bahwa sabar dan sikap persisten selalu membawa hikmah. Menjalaninya memang berat, tapi apa mau dikata kalau memang ceritanya harus begitu.

Hidup terus berlanjut, kini aku dan istri melanjutkan cerita kehidupan kami di Kota Pangkal Pinang Provinsi Bangka Belitung seiring dengan tuntutan tugas yang mengamanahiku dengan jabatan yang baru di kota ini. Tidak kukira akan bertepatan sekali momennya. Baiklah mungkin ini bisa jadi kesempatan untuk berbulan madu di pantai pulau Bangka yang terkenal indah.

Saat tulisan ini aku buat, aku tengah duduk bersama istri di ruang tunggu Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang bersama Mertua dan dua saudara Ipar, menunggu pesawat yang akan membawa kami terbang 40 menit menuju Bandara Depati Amir Pangkal Pinang. Mei tahun ini telah penuh cerita cita dan cinta. Alhamdulillah aku sudah menikah dan satu cita sudah tersampaikan.

Hari esok cuma Tuhan tang tahu. Tapi rencana hidup tetap harus disusun bukan?

Palembang
18 Mei 2013

Read more »

5.01.2013

Sengkarut Calo(n) Legislatif

Seorang lelaki tergopoh- gopoh menuju meja pendaftaran NPWP di sebuah Kantor Pelayanan Pajak, saat tengah diproses, lelaki tersebut meminta penyelesaiannya diutamakan karena sedang sangat dibutuhkan sebagai syarat kelengkapan tambahan berkas calon legislatif. Ternyata lelaki tersebut adalah calo yang diminta seorang calon legislatif mengurus NPWP miliknya.

Ilustrasi diatas adalah satu dari (mungkin) banyak silang sengkarut praktik demokrasi negeri ini. Seorang anggota dewan seyogyanya adalah mereka yang punya kesadaran tentang makna kehidupan bernegara, bukan seorang politisi karbitan yang muncul secara musiman. Ketiadaan NPWP bagi seorang calon legislatif, di sebuah negara dengan ongkos demokrasi yang mahal, adalah sinyal yang menggambarkan kualitas sang calon, penulis kira tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa sang calon miskin pemahamanya tentang perpajakan. Padahal, wawasan yang luas sangat penting agar bisa memnyelesaikan persoalan bangsa ini, sehingga akan lucu bila seorang legislatif 'belajar' menjalankan tugas sambil bekerja. Nasib rakyat jadi taruhan.

Sulit berharap lebih pada legislatif periode mendatang jika panggung agung itu diisi oleh pribadi pragmatis yang memandang posisi itu sebagai profesi pendulang rupiah dan etalase popularitas. Apalagi banyak parpol yang nyata gagal membangun kaderisasi sehingga 'menjual' bakal calon dengan label petahana, artis, dinasti dan kaum kaya. Pemahaman soal polemik bangsa tidak bisa muncul secara instan dari kaum pesohor yang secara mendadak hadir lewat sokongan popularitas, uang dan kekerabatan. Tiga hal itu, walau menjanjikan banyak hal, tetap tidak cukup, dan bila dipaksakan tentu dapat menghancurkan banyak hal.

Mereka, calon legislatif yang kini tengah bersiap mengadu nasib, tak lebih tak kurang ibarat calo yang berebut penumpang disebuah terminal kedatangan, mereka menandai teritori, menjual janji, untuk kemudian beradu sikut dalam silang sengkarut perebutan penumpang yang kebingungan. Dan bila kita amini praktik ini, malang sudah kita hidup sebagai masyarakat yang bingung sepanjang zaman.

Read more »