1.28.2013

BBM Dan Politik Yang Menyandera

Anggaran Pendapatan Belanja Negara Republik Indonesia makin kedodoran dengan besarnya porsi subsidi energi yang tetap dipertahankan. Apapun motif untuk melanjutkan kebijakan ini, ekses utama sangat terasa pada kebebasan ruang gerak fiskal untuk tujuan pembangunan. Tuntutan pembangunan infrastruktur untuk menopang pembangunan tersandera oleh alokasi tak seimbang yang tertuju dominan untuk subsidi energi sebesar Rp 274,743 Triliun dengan porsi untuk BBM mencapai Rp 193,800 Triliun. Dengan kuota subsidi demikian, sampai titik ini kita masih akan menikmati harga BBM tanpa kenaikan. Namun begitu, pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah Akan Sampai Kapan?


Jawaban dari pertanyaan diatas ada pada peringatan yang disampaikan oleh dua ahli ternama yaitu Michael Klare dalam bukunya The New Geopolitics of Energy dan Daniel Yergin dalam The Quest. Kedua nya memperingatkan bahwa era minyak murah di dunia sudah berakhir (disadur dari Kompas Edisi 25 Januari 2013 Kolom Opini), termasuk di Indonesia. Peringatan itu bukan tanpa alasan, ada beberapa kondisi yang perlu diketahui bersama untuk membuka mata masyarakat agar tidak selalu tergantung kepada kebijakan populis melalui pemberian subsidi yang sifatnya hanya akan menyebabkan masalah yang lebih besar di masa mendatang.

Faktanya adalah Indonesia sudah menjadi Importir Netto Minyak Mentah dan BBM ini dikarenakan kebutuhan akan minyak domestik tidak diiringi oleh peningkatan volume produksi minyak itu sendiri, akibatnya untuk mencegah kerugian yang lebih besar maka impor menjadi pilihan. Hal ini didukung pula oleh minimnya eksplorasi kilang- kilang minyak baru sehingga ladang minyak mentah dalam negeri hingga kini sebagian besar adalah kilang dari ladang yang ditemukan lebih dari tiga dekade silam. Ihwal eksplorasi bukanlah hal yang mudah, tingginya biaya dan rendahnya rasio keberhasilan temuan dalam sejumlah eksplorasi menjadi tantangan sendiri yang hingga kini belum terpecahkan.

Ini berarti kita tengah dihadapkan pada realita bahwa volume produksi minyak secara alamiah akan terus menurun ditengah peningkatan kebutuhan yang melonjak. Ini akan menjadi tanda bahwa beban biaya impor bukan tidak mungkin akan terus meningkat untuk mengejar pemenuhan kebutuhan yang belum tertutupi tersebut. Ditambah dengan subsidi yang tetap dipertahankan maka jelas APBN akan makin tersedot untuk membiayai dua keadaan tersebut. Sejauh ini jalan tengah yang diambil pemerintah adalah dengan melakukan pembatasan alokasi subsidi secara bertahap dan berkelanjutan selama beberapa tahun. Kebijakan ini aman untuk jangka menengah karena menekan dampak inflasi, meredam potensi kekacauan psikologis sosial di masyarakat dan mencegah defisit APBN yang terancam meruyak.

Akan tetapi, kebijakan jalan tengah ini belum mampu menjawab untuk jangka panjang, apakah kita akan terus menerus memberikan subsidi dengan mempertaruhkan pembangunan lewat alokasi belanja modal yang kian tidak berimbang? Saya kira tidak. Ini artinya kenaikan BBM hanya soal waktu, tidak ada pilihan lain. Sekarang atau pasca 2014?

Politik yang menyandera

Ada garis perbedaan yang sangat jelas antara ekonomi dan politik dalam sebuah proses pengambilan keputusan, dalam lingkup ekonomi, keputusan harus segara diambil dan dijalankan namun dalam politik keputusan adalah objek yang dapat terus diperdebatkan sampai keputusan ini menjadi tidak lagi relevan. Efektivitas sinergi dua sudut pandang ini akan menentukan hasil akhir. Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini BBM adalah komoditi politik untuk mendapatkan simpati di tingkat akar rumput. Apalagi kini Partai Politik tengah memoles citra terkait agenda elektoral pemilu 2014.

Dominasi politik di panggung kehidupan bernegara di negeri ini begitu kental terasa. Sejarah mencatat bahwa dalam satu dekade terakhir belum pernah ada sebuah keputusan yang tegas untuk mengakhiri kebijakan karitatif terkait BBM. Padahal cengkaraman porsi subsidi BBM yang besar telah membuat bangsa ini terseok- seok menuju pemerataan kesejahteraan. Arah kebijakan yang diambil cenderung populis dan ‘cari aman’ dengan mengatasnamakannya pada tujuan untuk mencegah kekacauan/ kepanikan sosial. Harapan akan munculnya kepemimpinan yang tegas dan berani kembali dipenjara oleh kepentingan politik secara temporal kaum elitis.

Meski begitu, pencarian simpati publik oleh elit politik dengan menentang kenaikan BBM sudah tidak bisa lagi terus dibiarkan. Karena ini sama dengan memberikan keuntungan secara politis bagi elite namun menyengsarakan negara di masa mendatang kelak. Ekses utamanya adalah akan semakin menumpuknya hutang dan semakin tertinggalnya pembangunan infrastruktur. Alhasil, negeri ini akan memanen kekacauan sosial akibat terbatasnya ruang gerak fiskal yang menahun.

Kenaikan BBM, mungkin akan menjadi pil pahit yang harus kita telan untuk menyembuhkan daya tahan fiskal. Akan tetapi, agar negeri ini bisa mengejar ketertinggalan di sektor lain yang selama ini tersandera hiruk pikuk politik, hal tersebut merupakan sebuah keharusan. Kita sudah tidak punya banyak waktu untuk terus berdebat. Politik sudah tidak boleh lagi menyandera. Negeri ini harus mengambil langkah berani untuk menjadi sejahtera, sebenar- benarnya sejahtera.

P.S:
-----
Gambar diambil dari harian berdikarionline via google..

Read more »

1.24.2013

Menuju Fase Baru (1)

Bagaimana mungkin semua tiba- tiba menjadi lebih dekat?! Hitungan hari berganti bulan menjadi tahun. Perjalanan ini sudah terlalu lama melaju bersama harapan yang kami emban.  Sampai kemudian ketika di persimpangan, pilihan harus ditentukan. Hari itu, 8 Desember 2012 kesepakatan tentang kami dikukuhkan lebih kokoh lewat kesepakatan dua keluarga, menapak fase baru. Catatan ini aku buat untuk menjurnal cerita nyata kisah kami berdua yang sudah saling kenal sejak jaman SMA hingga sekarang saat kami tengah mempersiapkan rencana pernikahan kami beberapa bulan lagi.

2001- 2004: Masa SMA
Kami bersekolah di satu SMA yang sama. SMA Negeri 1 Ogan Komering Ulu (OKU), Di kelas 1 hingga kelas 2, kami belum terlalu kenal. Bertegur sapa pun tak pernah seingatku. saat itu mungkin kami cuma pelajar SMA dengan segala tingginya cita- cita, maklum sajalah.  Ia sendiri setahuku terlalu pendiam dan tidak menarik minatku untuk cari tahu. Cuma memang dulu dia sejak kelas 1 beberapa kali disebut kalau pembagian raport karena juara umum. Dan entah kenapa nama dia aku ingat terus, Lisnaini.

Selanjutnya semua berjalan biasa saja, tak ada yang terlalu istimewa. Kami tidak pernah bertemu dalam kegiatan ekskul atau aktivitas yang sama. Dia di PMR, aku di Paskibra. Kuingat dia rambutnya keriting yang kerap diikatnya kebelakang. Seragam sekolahnya selalu rapi lengkap dengan dasi dan rok yang ia kenakan selalu lebih tinggi (mirip gaya pelawak Jojon) dari siswi kebanyakan serta kacamata minusnya membuatnya terlihat 'nerd' namun dengan membawa kesan berpendirian yang teguh. Ia memang cerdas, tak pernah keluar 2 besar seingatku.

Garis nasib mempertemukan kami di kelas III IPA 1. Aku duduk di bangku persis belakang dia di deret nomor dua. Sesekali, ada satu dua kesempatan kami bercerita. Dan suatu kali dia bilang bahwa dulu saat kami kecil mungkin usia SD, kami sempat bertemu di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Tanjung Baru ketika ia tengah ziarah keluarga dan aku sedang bersama Almh Nenek juga tengah menziarahi makam entah siapa aku lupa juga. Tapi aku sama sekali tidak menyadari pertemuan itu. Dia lihat aku, namun tidak sebaliknya.

Di kelas III itulah, bersama beberapa teman lainnya, kami membuat satu kelompok belajar bersama dan rumahnya menjadi 'markas tetap' setiap minggunya. Ada kurang lebih 19 orang anggotanya. Bahasan utama kami ada Matematika dan Fisika sambil sesekali membahas rencana- rencana masa depan selepas SMA. Namun, tetap saja semua masih seputar cita tanpa cerita cinta, fokus sekali kami kalau lg belajar, tak terganggu oleh hal- hal tak perlu, sampai sebegitunya. Bahkan beberapa rekan menganggap kami eksklusif dan enggan bergaul.

Tapi suatu hari di tanggal 14 September 2003, ada momen yang selalu aku ingat, ketika satu kejutan disiapkan untukku di hari itu. Usai belajar bersama, dengan menutupi mataku pakai sapu tangan, mereka membawaku ke kebun samping di sebelah markas tetap kami. Aku pun diguyur air satu baskom, dilempar terigu dan telur! Bau amis, muka cemong, rambut gimbal menggumpal karenanya. Itu hari memang tepat hari lahirku. Usai itu, kue bolu satu loyang berwarna hijau, mereka sulap jadi kue tart seperti orang yang di tivi- tivi. Lalu kami santap bersama- sama. Aku malu juga terharu. Sampai kini potret kenangan itu masih tersimpan rapi dirumahnya.

Melakoni itu semua, kami boleh gembira. Namun itu tak lama, karena esok harinya kami dapat kabar bahwa ayahnya tak berkenan melihat selebrasi kami yang tidak biasa itu. Lalu Markas Mingguan kami terpaksa dipindah. Cuma pindah tempat saja, karena semangat belajar kami tetap berdesakan butuh disalurkan. Bagai kucing beranak, kami berpindah dari satu rumah teman ke teman yang lain untuk belajar bersama mengejar cita. Momen demi momen itulah yang menjadi kenangan. Belajar Bersama, Halal Bihalal Idul Fitri, Takziah Guru Meninggal, Class Meeting, sampai kemudian Ujian Akhir Nasional tiba. Usaha selama tiga tahun dipertaruhkan lewat tiga kata ini.

Pasca ujian, kami tidak banyak berkomunikasi. Saat itu fokus teralihkan ke persiapan ujian masuk Perguruan Tinggi. Dia, yang aku tahu, berangkat ke Palembang seperti kebanyakan teman lainnya untuk mengikuti bimbingan belajar intensif SPMB  2004 (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Sementara aku tinggal saja di Baturaja. Sebab memang pengumuman PMDK sudah aku terima yang isinya menyatakan bahwa aku diterima di Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Umum. Universitas Sriwijaya. 14 Juli 2004 daftar ulang. Ternyata ia pun sama, PMDK nya diterima untuk Program Studi Kedokteran Gigi. Mungkin bisa jadi kami akan bertemu dikampus. Garis nasib cuma Tuhan yang tahu.

Bersambung...

Read more »

1.23.2013

Pajak, Kontroversi Daming dan Sensitivitas Kemanusiaan

Rekomendasi pemberhentian dari Komisi Yudisial tertuju kepada Ketua Pengadilan Tinggi Palembang Daming Sunusi lantaran ucapannya tentang pemerkosaan dinilai masuk kategori pelanggaran etik yang pantas diganjar sanksi berat. Bagaimana tidak, dengan enteng seorang Daming berpendapat ihwal hukuman mati bagi pelaku pemerkosaan sebaiknya dipikirkan ulang karena baik pelaku maupun korban sama- sama menikmati. Dari sini, kontoversi bergulir. Dimata saya Daming bagai tuna nurani saja. Kendali akal budinya entah kemana.

Mari berkaca dari kontrovesi Daming. Benang merah kemanusiaan seorang pribadi yang semula kusut menjadi terurai lewat lisan. Ya. Lisan adalah cermin isi hati dan pikiran. Lewat lisan lah ungkapan Homo Homini Lupus dapat menjadi kebenaran. Sebuah premis sederhana yang patut dipegang siapapun yang mengaku sebagai mahluk sosial.

Terkait Pajak, dalam kehidupan sehari- hari, acap kali kita dihadapkan pada masyarakat awam yang mendiskreditkan institusi Direktorat Jendeal Pajak (DJP). Mereka bisa siapa saja, mulai dari Sopir Angkot, Karyawan Swasta, Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian/Badan, Pedagang Kaki Lima atau bahkan dari keluarga dekat kita. Mereka bicara tanpa pengetahuan, kalaupun ada mungkin sangat minim sehingga nature untuk berpikir positif justru termakan oleh opini yang tidak sepenuhnya benar. Pernyataan mereka sesekali bisa jadi menohok harga diri! Contohnya: "Kerja di Pajak ya Mas! Pasti nanti baru setahun kerja sudah bisa beli mobil bagus! Pajak emang gitu sih!"

Respon kita? Panas? Gerah? Terpancing? Geram? Itu wajar! Tapi tunggu sebentar! Sebaiknya usahakan untuk menahan respon reaktif itu dengan menyadari kapasitas mereka. Mengapa? Karena mereka hanya kaum awam yang mendamba kesejahteraan. Bisa jadi mereka adalah golongan yang meyakini konsep bahwa hidup cuma sebatas 'cari makan'. Sesaat saja melihat dari sudut pandang mereka. Melihat dengan hati. Empati. Dengan pertimbangan ini, potensi respon reaktif yang tadi mencuat dapat mengendap dan menyisakan respon sikap yang lebih tenang dan tutur lisan yang positif. Sekaligus menjadi kesempatan mengasah sensitivitas kemanusiaan. Sulit, tapi dapat dipelajari.

Mengapa ini menjadi begitu penting? Sebab menuruti respon reaktif justru akan membuat kita menjadi Daming- Daming Perpajakan yang membuat jarak antara institusi ini dengan masyarakat kian jauh. Bahkan mempertebal resistensi yang memang sudah lama mengendap di pola pikir kebanyakan masyarakat akan Pajak. Proliferasi resistensi ini kotraproduktif dengan agenda modernisasi DJP.

Kontroversi Daming memberi kita pelajaran bahwa sebagai pribadi yang diamanahi peran menjadi pelayan publik, maka setiap ucapan dalam rangka kepentingan publik juga akan membawa kapasitas diri sebagai taruhan. Sensitivitas Kemanusiaan adalah modal utama untuk berbicara dalam kapasitas tersebut. Salah sedikit, bukan tidak mungkin akan melukai batin banyak jiwa. Sebagaimana hal itu juga krusial bagi kita para pegawai sebuah institusi yang hidup ditengah ekspektasi bangsa dan determinasi negara. Itulah Ditjen Pajak. Untuk itu, Daming, sekali lagi, saya ulangi, sudah memberi kita satu pelajaran mahal.

Read more »

1.14.2013

Butuh Bukan Rindu

Terlalu dini menanti pagi
Tapi rindu tak kenal waktu
Bisa jadi ini bukan rindu
Tapi butuh
Ya, aku butuh kau

Tiap detik denganmu adalah kekal
Mengendap dalam tak terusik
Kian lama menebal menjadi rindu
Dan sekali lagi, mungkin ini bukan rindu
Tapi butuh
Ya, aku butuh kau

Tak ada yang lepas tentangmu bagiku
Tebal alis matamu
Mancung mungil hidungmu
Perhatian dan tulusmu

Disampingmu, hanya bila disampingmu
Aku menjadi jiwa yang lain
Jiwa yang berjalan berarah
Mantap melangkah

Bersamamu, kan kuat kuhadapi hari depan
Meski hidup tak selalu lapang
Cinta kita yang kan kuatkan
Dan jelas sudah
Aku butuh kau
Karena mungkin untuk ini kita diciptakan

Malam masih gelap merajai
Rinduku dan rindumu terbang
Mengukuhkan harapan
Mengekalkan kebersamaan

Read more »

1.11.2013

Sketsa Memori

Lewat, ia berlalu dgn cepat. Peristiwa ribuan hari kemarin muncul bak kilatan figura begitu saja. Tapi tetaplah mereka ada dan telah menjadi bagian dari sejarah. Tak dapat ditampik. Ini hari bukan lagi soal siapa dan bagaimana dulu itu, soalnya hidup akan terus melaju kedepan tanpa mau menunggu. Larut di masa lalu sama sekali tidak membuat dunia kan berempati padamu tidak juga pada siapapun. Akui saja bahwa hidup ini soal memberikan satu hal terbaik untuk jiwa yang terbaik. Songsong saja masa depan dengan harapan, dan hari ini tinggal di jalani dengan syukur tiada tepi. Mudahnya lisan bertutur!!

Kebodohan kemarin adalah keberuntungan yang berpangkal dari serapah, karena setelahnya ada hikmah yang mengendap sebagai nilai kearifan dalam bersikap. Tak semua orang bertakdir mendapatkan dan memahaminya. Wajar bila kusebut keberuntungan. Harganya mahal, bisa jadi tak mampu kita bayar. Kegagalan bisa jadi awal kebangkitan. Semua soal waktu dan ikhtiar serta doa. Jangan sampai emosi yang dituruti malah membuat jiwa ini jatuh berdebam di sesal mendalam. Apapun, yang sudah adalah sudah, mungkin itulah rangkaian pengorbanan yang indah setelah melewati jutaan voltase amarah.

Lihat, betapa sayang Tuhan pada kita, diberiNYA kita akal dan nurani. Bila tidak, bisa jadi kita akan terus menatap penuh murka dan durjana pada dunia.

Ebas
Di pojok Masijd

Read more »

1.09.2013

Pajak Sebagai Penangkal Teori Kutukan Sumber Daya Alam

Potret buram komoditas sumber daya alam

Realisasi penerimaan target tahun 2012 meradang di kisaran angka 96%. Menteri Keuangan mengatakan bahwa ini dipicu oleh menurunnya pembayaran pajak dari 900 wajib pajak besar yang bergerak di Sektor Dominan dari Perkebunan yakni semisal Kelapa Sawit dan Karet juga dari Pertambangan yaitu Batu Bara dan Timah. Pertanyaanya. Mengapa kelesuan setoran pajak mereka berlaku secara kolektif dan berdampak massif?

Menurunnya setoran pajak sejumlah wajib pajak yang dikemukakan pada paragrap diatas terlihat dari indikasi lesunya produksi agregat sektor tersebut yang tercermin dari defisit perdagangan, dimana nilai impor masih lebih tinggi. Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir tanggal 02 Januari 2013 menunjukkan bahwa total ekspor sepanjang Januari- November 2012 turun 6,25% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dan dari jumlah total ekspor tersebut porsi sebesar 65,2% berasal dari komoditas Sumber Daya Alam.

Ketika harga komoditas sumber daya alam yang kita miliki sedang tinggi, tentu ini akan memberikan pemasukan yang optimal bagi operasional perusahaan pengelola yang berimbas pada meningkatnya setoran pajak kepada negara, namun begitu terjadi stagnasi harga atau penurunan, maka disaat itulah kebenaran Resource Curse Theory (Teori Kutukan Sumber Daya Alam),yang pernah dibahas ekonom Jeffrey Sachs dan Andrew Warner, terlihat kebenarannya bahwa negeri yang dikaruniai sumber daya alam melimpah justru menjadi bangsa yang tidak maju bila tidak berhati- hati mengelolanya.

Penurunan harga batu bara di pasaran internasional untuk kualitas 6.322 KKal/ Kg menurun tajam menjadi 84 US$ di semester II 2012 dari yang semula 112 US$. Sementara harga karet di pasaran lokal yang sempat berada dikisaran Rp. 13.000- Rp. 22.000/Kg hingga kini anjlok sekitar hanya Rp. 7.000/Kg. Bahkan untuk Sawit, di medio tahun 2012 harganya sempat dibawah Rp. 1.500/Kg. Fakta ini bukan tidak mungkin akan berlangsung sepanjang tahun 2013. Terlebih bila disadari bahwa negeri ini belum mampu menciptakan iklim industri pengolahan yang mampu memberi nilai tambah dan daya saing produk sumber daya alam yang akan dipasarkan. Nilai tiga komoditas utama ini masih turun drastis seiring dengan lesunya permintaan dari negara tujuan ekspor terkait krisis yang melanda Eropa dan Amerika Serikat. Inilah kenyataan yang bisa dimaknai sebagai tantangan bagi jajaran Ditjen Pajak untuk mencari dan menggali potensi penerimaan selain sektor dominan yang berasal dari Sumber Daya Alam (SDA).

Pola kebijakan yang inovatif dan efisien

Potret buram kondisi sektor andalan ini merupakan sinyal bahwa DJP tidak boleh absen melahirkan kebijakan yang inovatif dan efisien. Semua bentuk kebijakan kedepan harus terukur dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki tanpa meninggalkan asas keadilan yang memihak kepada rakyat.

Mari kita lihat Sensus Pajak Nasional. Program ekstensifikasi dengan jemput bola langsung ke lapangan ini berhasil menambah jumlah wajib pajak terdaftar efektif sepanjang dua tahun belakangan. Namun demikian, pendekatan yang digunakan harus berorientasi pada kualitas perolehan data bukan hanya kuantitas angka. Sebab angka hasil objek tersensus akan menjadi tiada guna bila tidak mengandung potensi didalamnya karena tidak ada tindak lanjut yang dapat diambil guna menambah penerimaan.

Penetapan target sensus kepada Kantor Pelayanan Pajak pun harus mempertimbangkan orientasi kualitas agar dalam pelaksanaan di lapangan, para petugas sensus tidak terperangkap dalam pemikiran pragmatis untuk mencapai target angka semata. Sensus Pajak Nasional adalah jalan untuk memperkenalkan pajak lebih dekat kepada masyarakat secara langsung. Namun esensi utamanya lebih dari itu saja yakni bagaimana dengan program ini dapat menambah penerimaan dan memperluas basis pajak.

Selanjutnya adalah wacana pengenaan tarif PPh sebesar 1% atas sektor UMKM dengan omzet hingga Rp 4,8 Milyar. Jelas ini merupakan potensi besar yang selama ini mungkin masuk zona ekonomi bawah tanah (underground economy) dan belum tersentuh pajak secara optimal. Tetapi penerapan rencana yang sudah ada sejak awal tahun lalu ini harus berhadapan dengan pertentangan sejumlah pandangan yang menilai ini kontraproduktif dengan semangat kewirausahaan serta naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL) dan Upah Minimum Regional/Provinsi yang tentu akan membebani usaha para pelaku UMKM.

Namun disatu sisi, bagaimanapun harus ada mekanisme yang mengatur agar UMKM yang selama ini lolos sebagai potensi juga harus turut berkontribusi. Terlebih bila dilihat sebagai entitas usaha maka UMKM juga layak dikenai pajak sebagaimana orang pribadi juga demikian. Akan tetapi ini jelas belum mencerminkan asas keadilan secara utuh karena selama ini terkesan bahwa Ditjen Pajak intensif menggali potensi dari usaha yang berskala kecil. Tapi belum optimal terhadap wajib pajak berskala besar, baik Badan maupun Orang Pribadi.

Sudah saatnya para wajib pajak ‘besar’ dibebani tanggung jawab lebih untuk membangun kesadaran bernegara melalui kontribusi lebih dari pajak. Sederhananya, bukan tidak mungkin salah satu alternatif yang dapat diambil adalah dengan menaikkan tarif pajak khusus bagi wajib pajak di lapisan teratas. Ini adalah terobosan yang sama yang diambil Amerika Serikat untuk menghindari defisit anggaran (Jurang Fiskal). Sebuah kebijakan yang sudah selama hampir 4 dekade dihindari Amerika Serikat sejak masa Presiden Ronald Reagen.

Tantangan dan tuntutan di masa mendatang

Dengan semakin meningkatnya beban target penerimaan negara dari pajak, maka DJP dituntut untuk berkinerja lebih melalui inovasi kebijakan yang efisien dan potensial. Kondisi ini sangat sesuai dengan buramnya proyeksi kedepan atas harga komoditi utama yang dijalankan wajib pajak besar yang beberapa tahun belakangan telah menopang dan menjadi andalan penentu pencapaian penerimaan. Semua memang tampak sulit, namun sebagai sebuah keniscayaan maka kita tidak punya pilihan lain juga karena dari sini terlihat bahwa pajak adalah motor utama penggerak negeri kita yang kini terancam oleh kutukan sumber daya alam.

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini.

Read more »

1.07.2013

Indonesia Dalam Jebakan Negara Menengah (?)

Dalam angka PDB, Indonesia adalah Brazil, Afrika Selatan dan Korea Selatan di antara tahun 1975- 1980. Dengan kisaran PDB di posisi USD 3600, Indonesia diprediksi akan masuk kelompok negara dengan skala ekonomi yang besar. Ekspektasi ini bukan tanpa sebab, tren peningkatan PDB sejak tahun 1975 telah menunjukkan peningkatan Indonesia dari negara berpendapatan rendah menjadi kelompok berpendapatan menengah. Ketersediaan sumber daya alam serta berlimpahnya tenaga kerja usia produktif (surplus demografi) adalah alasan laju pertumbuhan tersebut mendapatkan sokongan. Setidaknya sokongan yang memampukan Indonesia masuk ke jajaran negara berpendapatan menengah. Euforia berlanjut dengan proyeksi optimistis. Indonesia akan tumbuh menjadi negara maju (?).

Jika diperhatikan hingga kondisi terkini. Kemajuan Indonesia bertumpu pada sektor- sektor yang mengandalkan produksi bahan baku sebagai komoditas utama. Artinya perekonomian kita masih berbasis bahan baku yang jumlahnya terbatas karena dipasok oleh sumber daya alam. Sementara fakta surplus demografi yang kini tengah kita nikmati juga bersifat temporal selama beberapa dekade saja, ini artinya ada hal yang lebih dari kedua poin tersebut yang harus dipersiapkan untuk mewujudkan ekspektasi yang digadang- gadangkan ke kita. Kedua hal tersebut harus dipahami sejak dini agar kita tidak terperangkap dalam kebanggan yang berujung disorientasi.

Mari berkaca kepada negara maju yang menjadi kiblat perkembangan ekonomi dunia saat ini. Sebut saja Republik Rakyat China. Di zaman Mao, China adalah negara tertutup yang terputus dari arus dinamika global. Pasca era Mao, China berbenah dari hal yang paling mendasar. Membangun sentra industri di beberapa wilayah sandaran utama yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal dan menarik investasi dari luar hingga Triliunan Dollar. Dari pergerakan lokal, China membangun secara nasional. Perlahan, seluruh provinsi di China menyentuh nikmat pembangunan melalui tingginya konektivitas yang diprogramkan pemerintahan Deng Xiaoping. Hasil produksi industri dalam negeri China dapat merambah setiap penduduk di wilayah negeri tersebut. Ekonomi China meroket, industri negeri ini memberi ruang bagi optimalisasi potensi sumber daya alam dan kreativitas penduduknya serta lebih jauh lagi menyediakan sarana distribusi dan pasarnya. Dan akhirnya China adalah negara dengan ekonomi terkuat nomor dua di dunia dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 13% (pertumbuhan tertinggi di dunia).

Dari China kita belajar bahwa negeri itu juga pernah berada dalam posisi kita kini. Fokus strategi yang mereka terapkan untuk memacu pembangunan adalah penguatan sektor industri pengolahan sumber daya alam agar memiliki nilai tambah yang tinggi dan membangun keterhubungan antar wilayah China yang luas melalui penyediaan infrastruktur penghubung yang memadai. Mari melihat kedalam kondisi kita kini dan saya kira kita akan menemukan fakta yang kontraproduktif atas ekspektasi optimistis yang kini melambung. Ini adalah tantangan sekaligus ancaman.

Kesadaran bahwa kita masih banyak berbenah adalah mutlak demi mewujudkan mimpi menjadi negara maju. Dari segi basis ekonomi, Indonesia memang tengah dibanjiri arus investasi lokal dan asing. Namun, industrialisasi yang ada lebih menempatkan posisi Indonesia sebagai pemasok bahan baku untuk dijual ke asing tanpa terlebih dahulu mengolahnya supaya memiliki nilai tambah. Kasarnya, industrialisasi hanya menjadikan lahan sumber daya alam negeri ini sebagai perahan kepentingan kapitalis dan kelompok korporatokrasi dunia. Ini menyebabkan negeri ini hidup dalam ironi tak berkesudahan dalam doktrin keberlimpahan. Industrialisasi penyokong pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang sejati adalah industri yang memberi kesempatan luas bagi pemain dalam negeri untuk memberi nilai tambah pada bahan baku yang ada dan tidak membuat manusia selaku pelaku industri tidak tergradasi semata menjadi buruh yang dinilai secara rupiah.

Sementara itu, dari aspek ketersediaan infrastruktur pun harus diakui bahwa kita memang masih kedodoran. Masih banyak wilayah tak tersentuh pembangunan. Dan memang perlu diingat bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, lebih khusus lagi bukan hanya Jakarta. Pemerintah juga belum berani dengan frontal mengubah pakem sistem anggaran yang memanjakan subsidi dan belanja non- modal dengan alasan kestabilan sosial. Efek yang sudah pasti dari minimnya infrastruktur ini adalah ekonomi biaya tinggi dan pembangunan yang tidak merata. Harapan Indonesia bertumpu pada MP3EI (2011-2025) (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang dicanangkan pada medio tahun 2011. Infrastruktur yang memadai adalah sebuah harga mati untuk mengangkat posisi Indonesia menjadi negara maju. Sebab, pembiaran secara sistematis atas minimnya insfrastruktur akan membuat Indonesia jatuh pada jebakan utama negara berpendapatan menengah (middle-income country’s trap).

Menurut Global Competitiveness Report 2010- 2011 Indonesia menempati peringkat 82 dari 139 negara dalam hal pilar infrastruktur. Ini masih tertinggal jauh dari negara tetangga semisal Malaysia (30) ,Thailand (35) dan Singapura (5). Kita dikejar oleh Vietnam yang skala agregat perekonomiannya masih jauh dibawah kita. Sementara dalam hal rincian kualitas infrastruktur negeri ini juga masih begitu memprihatinkan. Sebut saja kualitas pasokan listrik (82/139), infrastruktur kereta api (96/139) dan infrastruktur pelabuhan (56/139). Kondisi yang miris ini sesuai dengan kenyataan di lapangan yang kita lihat seputar soal jalan darat yang buruk, kondisi kereta api yang jauh dari nyaman dan minimnya daya angkut pelabuhan antar pulau.

Pembangunan Infrastruktur dan Reorientasi Industri adalah dua hal pendukung utama untuk menyelamatkan Indonesia dari pusaran ekonomi dalam negeri yang berputar jalan ditempat dengan segala polemiknya. Bagaimanapun, kita adalah negeri yang beruntung dikaruniai limpahan sumber daya alam dengan periode surplus demografi. Tapi kedua hal tersebut menjadi tidak relevan lagi jika dijadikan sandaran untuk bisa beranjak menjadi negara maju. Sebab tren ekonomi dunia menunjukkan bahwa penguatan infrastruktur dan Optimlaisasi Industri akan memungkinkan lahirnya inovasi dan teknologi yang menjadi basis ekonomi dunia terkini.

Tanpa adanya hal tersebut, harapan untuk membawa negeri ini pada kejayaan pembangunan hanyalah kebanggan yang sarat ilusi. Ini adalah apa yang terjadi dengan Brazil dan Afrika Selatan setelah 20 tahun yang lalu kedua negara ini pernah bersama berada di posisi yang sama dengan negeri ginseng, Korea Selatan. Belajarlah dari pengalaman, wahai Indonesia!

P.S:
#1. Gambar diambil dari sini.
#2. Data diambil dari Blog BAPPENAS.

Read more »