12.31.2010

Someday Somewhere


I don't know what happen to me, but i feel couldn't be better. Everytime one asks me or even i am asking my self about what my greatest passion in life is, the only thing coming up is: study abroad.

Mungkin ini bedanya antara cita-cita dengan sekedar keinginan, mana pernah ada kata bosan untuk mengejar cita-cita dan ia tidak akan mati walau sedetik sekalipun. Ia hidup dan menjadi pengingat ketika aku melangkah menjauh dari menggapainya. Kadang bukan sekedar pengingat saja, ia muncul menjadi bayang-bayang rasa bersalah yang membisikkan: 'kamu tidak sedang menuju menggapaiku, mengapa kamu justru menjauh?'.

Bisikan nurani itu membuat aku berputar berbalik arah tidak peduli sudah seberapa jauhpun aku melangkah. Dan akhirnya kembali lagi menekuni apa yang sudah menjadi 'true callings' hidupku. Ada dorongan yang kuat untuk semakin dalam berkutat didalamnya, lalu puas karena sudah berani memulai dan meneruskannya, bahkan saat sepertinya segala sesuatu itu masih jauh adanya.

Tentang True Calling:
Seorang teman pernah berkata bahwa aku belajar bahasa inggris dengan cepat, aku sendiri tidak menyadari hal ini, namun demikian lah yang ia katakan. Aku sendiri merasa walau masih jauh dari sempurna tapi aku tidak bisa bohong bahwa aku menikmati sekali setiap saat belajar bahasa inggris ini, mulai dari membaca, menonton, berbicara hingga bermain scrabble. Hahaha.. walau jarang menang!. Seorang teman yang lain lagi mengatakan bahwa aku sepertinya menikmati sekali belajar bahasa inggris dalam kondisi apapun, dan memang begitulah semuanya aku jalani tanpa merasa ada tekanan atau paksaan. Buatku, menjadi mampu menulis dan berbicara bahasa Inggris itu seperti memuntahkan isi perutku yang terasa mual kemudian menjadi lega dan lapang.

Kemudian aku merasakan sesuatu hal dengan lebih jauh, bahwa ini semua adalah satu anugrah dari ALLAH.SWT sebagai modal untuk mendorong menuju cita-cita yang pasti dimiliki seorang perantau, dulu aku pun begitu, saat kali pertama datang ke Jakarta, tujuannya ya cuma buat sekolah, tampak sederhana dan biasa. Sekolah dan kemudian kerja. Namun seiring waktu, tampaknya aku bukanlah hidup untuk diriku sendiri, aku hidup untuk menghidupkan dan mewujudkan harapan seorang lelaki paru baya yang aku panggil Ayah. Setiap kali aku pulang, selalu ada satu waktu untuk kami berdua untuk bercerita, pembicaraan antara lelaki dewasa dengan seorang lelaki yang mulai beranjak dewasa. Sebagai anak, aku mendengarkan lalu memahami dalam-dalam tentang kejadian yang ia hadapi dimasa lalu, soal sesalnya karena cita yang belum jua terwujud dan berujung harapannya yang ia titipkan padaku untuk bisa membuatnya bangga dan merasa hidup tidak sia-sia.

'Sekolah lah terus, belajarlah, kau kan sudah jadi PNS, jadi banyak kesempatan, dan itulah yang bisa membuat aku ni bangga...'

begitulah kata-katanya disuatu malam di tangga belakang rumah, sambil matanya menatap kedepan ke arah jalanan yang masih basah karena hujan. Dan sering kali setiap aku menelepon, disela-sela pembicaraan kami, aku merasa ucapan itu terngiang dengan jelas di telinga, lalu turun ke hati, mengendap menjadi tekad yang kuat.

Kini, kesadaran dan niatan untuk berbakti membanggakan Ayah sudah jelas arahnya mau mengantarkan aku kemana. Seperti yang aku tulis dipembukaan postingan ini yaitu Kuliah di Luar Negeri. Lalu muncul pertanyaan? Kemudian kalau sudah kuliah ke luar negeri mau bagaimana? Bagi ku sampai saat ini belum terpikirkan secara detil mau jadi apa, yang aku tahu adalah aku punya banyak kesempatan untuk dicoba, melakukan usaha terbaik yang aku bisa, semampuku. Urusan hasil dan kedepannya bukan jadi pengetahuanku, itu sudah diluar batas kemampuanku sebagai manusia yang bertuhan, tapi aku yakin apapun yang akan terjadi nanti tentulah ada manfaatnya dan itulah yang terbaik buatku dan rasanya lapang, karena kelapangan yang paling lapang itu adalah tawakkal setelah berusaha maksimal, begitulah pendapatku.

Kedepan, diwaktu dan kesempatan yang ada sudah tidak pada tempatnya lagi membuang waktu untuk hal yang tidak perlu, bukan berarti aku tidak mau menikmati hidup, hanya saja aku tidak mau terlalu berlebihan takutnya melupakan. Aku pernah jatuh, aku pernah salah langkah, dan tersesat sendiri dalam kebingungan. Tapi aku tidak mau terus menyalahkan diri sendiri, bagiku semuanya adalah uji coba dalam proses belajar agar jadi tahu seperti apa rasanya jatuh, tersesat dan hilang arah. Aku sudah 23 tahun dan perlahan dengan sendirinya dengan cara ku aku sebaiknya makin bijak dan dewasa... ahhh sudahlah aku jangan banyak bicara lagi, waktu terus berjalan dan terus berganti, yang penting aku telah menemukan apa yang aku citakan dan tinggal mengisi hari-hari dengan hal-hal yang dapat membuat aku makin siap untuk mencapainya.

Someday, when chance meets with preparation, somewhere which is nowhere never known.

Read more »

12.28.2010

Persaudaraan Tanpa Atribut


Hidup adalah rangkaian pilihan, begitu ujar salah seorang saudara saya.

Ketika dua bulan lalu saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ikut serta sebagai siswa dalam pendidikan dan pelatihan STAPALA 2011, maka disaat itu saya memilih dan saya bertanya dengan dalam ke relung jiwa saya apa benar ini jalan yang benar-benar saya inginkan? batin saya ...berucap lirih menjawab, jawaban yang tidak bisa saya pungkiri kebenarannya.

Kemudian saya menenggelamkan identitas saya sebagai mahasiswa biasa menjadi mahasiswa plus siswa diklat STAPALA, menjalani hari-hari dengan dua peran yang disimbolkan dengan warna putih-hitam dipagi hingga siang hari dan orange-hijau dipetang hingga malam hari. Dua bulan lamanya, November- Desember 2010. Dua bulan yang menjadi masa-masa yang sangat terkenang dan berkesan dalam hidup saya, dua bulan yang membuat saya menjamah lebih dalam setiap sudut kampus ini, dan dua bulan yang telah membuat saya mendapatkan lebih dari
apa yang saya niatkan saat pertama kali memilih untuk mendaftarkan diri sebagai siswa diklat STAPALA.

Masa-masa diklat yang saya jalani bertepatan dengan masa libur semester, sehingga praktis tidak menganggu kegiatan perkuliahan, seperti kekhawatiran orang kebanyakan yang enggan ikut kegiatan ekstrakurikuler. Ada semacam kepuasan saat saya belajar banyak hal baru didalam diklat STAPALA, seperti: pengetahuan tentang teknis survival, navigasi, manajemen perjalanan dan penanganan medis. Saya yang dulu begitu serampangan setiap kali berpetualang menjadi lebih tahu bagaimana sebaiknya merancang dan menyiapkan banyak hal sebelum menyambangi alam bebas. Apa cukup sampai disitu? tentu tidak. Ada perubahan yang begitu drastis jika kini sayaberkaca melihat tubuh saya sendiri, 8 Kilogram berat badan saya menyusut. Semua karena latihan fisik mulai dari lari, push-up, sit-up, back-up dan bending yang pasti jadi menu wajib setiap kali menghadiri diklat.

Diklat tahap awal menjadi masa-masa yang berat bagi saya secara fisik dan mental, karena saat itu saya harus berjuang menyesuaikan diri dengan tempaan fisik yang begitu diharuskan, namun dari situ banyak hal yang telah saya benahi, tidak terlalu sering lagi saya push-up dengan posisi huruf V terbalik, bahkan kini saya alhamdulillah sanggup lari jogging dikampus sebanyak 5-7 putaran. Secara mental saya harus melawan ego dan emosi, bukan karena saya ini raja atau malaikat, namun lebih karena saya harus menjadi biasa diperlakukan dengan cara yang tidak biasa saya dapatkan, semua demi kelangsungan keikutsertaan saya didalam diklat yang harus saya jagakan.

Perjalanan diklat yang saya temui menghantarkan saya menjumpai beragam sensasi antara perubahan diri dan peningkatan potensi, didalamnya ada banyak kejutan, hentakan, rasa takut, rasa cemas dan pengerahan segala daya upaya untuk menaklukannya, ibarat lompatan-lompatan percik hujan yang akhirnya kembali menyatu kedalam aliran yang tenang lalu hanyut ke muara sungai menuju lautan. Begitu juga mungkin saya, setiap kecil pengembangan potensi yang terjadi tanpa saya sadari, pasti telah masuk kedalam alam bawah sadar saya membentuk diri saya yang baru.

Dalam tahapan-tahapan yang terjadi selanjutnya adalah semua semakin terasa tidak mudah, perjuangan makin terasa berat. Saya semakin sadar bahwa menjadi anggota STAPALA tidaklah semudah saat sekedar menyerahkan formulir pendaftaran. Ada rasa salut kepada mereka-mereka yang telah lebih dahulu dan berhasil melewati apa yang tengah saya jalani kini.

Tahapan yang kian berat yang harus saya jalani dalam diklat ini menempatkan saya sebagai seorang yang harus berjuang lebih melawan segala keterbatasan bahkan yang belakangan mulai muncul menyertai tanpa saya duga sebelumnya. Jujur, saya menikmati setiap tantangan di setiap level yang dimunculkan, apa lagi saya tahu betul bahwa saya tidak sendirian menjalaninya, ada tiga puluh orang lebih orang yang saya anggap sudah menjadi saudara seperjuangan didalam diklat ini, apalagi posisi saya sebagai kapten membuat saya memiliki naluri untuk mengenal setiap mereka lebih kenal dan lebih akrab. Carrier berat yang berisi peralatan pendakian, menjadi elemen baru yang selalu dibawa sebagai tambahan dilevel yang baru disetiap latihan fisik yang kami jalani. Hanya mereka yang pernah mengalaminya yang tahu betul bahwa push up dengan membawa Carrier bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Saya sebisanya mengerahkan tenaga yang terbaik yang mampu saya berikan.

Perjuangan yang kami tempuh bersama, Tekanan yang kami hadapi serempak dan semangat yang kami tumbuhkan satu sama lain rupanya telah lambat laun mengukuhkan kami menjadi pribadi-pribadi yang senasib dan sepenanggungan. Mulailah tumbuh cerita tentang terbentuknya persahabatan dan rasa saling pengertian menghadapi perbedaan diantara tiga puluh lebih kepala kami ini. Pernah ada cerita saat disenja hari kami bersama disatukan di hutan jati belakang kampus, hutan yang dulu tampak begitu tak bermakna ternyata telah menjadi
saksi bisu banyak kenangan perjalanan ini. Kita tahu betul seperti apa nampaknya wajah kampus ini dimalam hari ketika dibanyak kesempatan kami belajar bersama memahami materi yang tak sempat kami cerna dalam-dalam sewaktu diklat. Semua bisa kami alami, dan akhirnya kini saya kenang karena garis takdir telah mempertemukan kami melalui diklat STAPALA 2011.

Namun jika garis takdir itu seperti jalanan yang tidak pernah terduga rutenya, maka ia ibarat jalanan penuh liku. Dan kita pernah menjalaninya, merasakan kebersamaan sambil menyatukan visi dan meyakinkan hati bahwa kita akan memperjuangkan pilihan yang telah kita ambil yang sejatinya adalah memperjuangkan apa yang menjadikan kita mau melangkah sampai sejauh ini. Dalam diam saya kembali merenungi lirih jawab yang terucap dalam hati dulu saat saya memilih mendaftarkan diri. Apa yang kini sedang saya lakukan? Untuk apa saya melakukan semua ini? Apa ini benar-benar dorongan naluri? atau hanya sekedar mencari wahana untuk eksistensi diri? Saya sering merasa bodoh karena kadang lambat menyadari apa yang sebetulnya terbaik buat saya. Tapi wajar, karena saya memang tidak bisa menerawang masa depan, yang saya bisa hanya mencoba dan ini saya anggap sebagai proses pembelajaran yang tidak pernah salah untuk dijalani.

Berulang kali saya berusaha meyakinkan diri bahwa inilah yang terbaik untuk saya, tak henti-hentinya saya menguatkan diri untuk tetap bertahan dibatas maksimal yang saya bisa, karena saya mulai menyadari satu hal yang sepertinya menggerogoti saya dari dalam, namun saya tidak mau menyerah, dan walaupun saya harus kalah, saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya kalah secara terhormat, kalah setelah berjuang semampu yang saya bisa, walau mungkin saja banyak orang akan menilai lain. Di setiap langkah gontai yang kelelahan dan didalam hati saya yang terdiam, saya mulai harus mengakui bahwa ketika saya pertama kali mendaftarkan diri untuk menjadi bagian diklat ini, itu semua murni karena saya hanya ingin menjadi bangga dengan mengenakan seragam dan slayer kebesaran dibawah naungan organisasi yang dipandang elit, kompak bahkan ekslusif ini. Ada persaudaraan yang erat didalamnya kata banyak orang, dan saya akui memang benar begitu adanya, paling tidak begitulah yang saya lihat.

Tapi rupanya, semua kebanggaan yang saya dambakan itu tak cukup kuat untuk memotivasi saya, justru dalam perjalanan cerita diklat saya, saya menemukan hal lain yang jauh lebih berharga daripada kebanggaan itu, saya telah menemukan persaudaraan yang dalam, atas nama SABUMI bersama saudara-saudara seperjuangan diklat saya. Satu hal yang telah meluluhlantakkan pandangan saya yang begitu sempit, tentang arti kebanggaan yang tersemat hanya dalam seragam, slayer dan nomor keanggotaan. Yang bahkan jika saya telah mendapatkan itu semua, saya tidak yakin bisa menjadi pribadi yang bermanfaat seutuhnya, karena niatan saya yang hanya ingin mencicipi kebanggaan semata. Dan akhirnya semuanya muncul sebagai satuan ukur yang mendasari keputusan saya untuk berbelok mengambil jalan lain, walau ada sedikit semacam rasa sesal bahwa akhirnya saya tidak bisa menjadi bagian komunitas yang mendapat tempat istimewa dikampus ini, namun saya mendapatkan persaudaraan yang menguatkan sekaligus membuat sisi kemanusiaan saya terkuatkan.

Bahwa kita pernah saling gendong, berat sekali badanmu saudaraku!!!
Bahwa kita pernah Olahraga bersama, keringat kita jatuh kebumi yang menyatukan kita saudaraku!!!
Bahwa kita pernah saling mendukung dan menguatkan, selamanya akan tetap begitu saudaraku!!!
Bahwa kita pernah berpoto, tertawa dengan begitu ceria, jangan lupakan itu saudaraku!!!

Dan saya sudah begitu mengenal cara bicara, cara berjalan dan cara tertawa kalian, semuanya tidak akan hilang,walau mungkin jalan yang kita ambil berbeda, karena hidup adalah rangkaian pilihan. namun bagi saya semuanya harus lenyap dibawah SABUMI yangmembuat saya sadar bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kekeluargaan yang tidak mengkotakkotakan serta menerima segala kekurangan dan perbedaan masing-masing dari kita. Saya ikhlas bahwa kini akhirnya saya tidak bisa menjadi anggota STAPALA, namun berat rasanya bila saya harus kehilangan semangat persaudaraan yang menyatukan kita. Untuk itu, dimanapun kita, apapun afiliasi yang mengikat kita, jangan pernah melupakan SABUMI karena kita sama-sama tahu, bukan seberapa seringnya bertemu, bukan pula seberapa banyaknya persamaan yang ada yang membuat orang-orang itu layak disebut bersaudara, namun justru pada seberapa sering ia ingat dan menyebutkan saudara-saudaranya dalam untaian doa yang ia panjatkan.

EBAZ - 033/SBM/2011

Read more »

12.05.2010

Persinggungan Masa


Banyak sudah kisah yang tertinggal
Kau buat jadi satu kenangan
Seorang sahabat pergi tanpa tangis arungi mimpi
Selamat jalankawan cepatlah berlabuh
......

(Tipe X)

Pagi yang sarat cahaya, kemudian melahirkan perkenalan kita.
Aku tidak tahu siapa kau dan kau juga tidak kenal siapa aku.
Kita merasa asing, duduk diam masih malu-malu untuk menyapa.
Satu sama lain, lalu kita menikmati dunia yang rasanya baru.
Dunia yang mengakrabkan kita diantara buku, bangku dan tawa.

Seiring waktu, kemudian kita bercerita disela-sela sesepuh yang memberi petuah.
Diiring tawa, tapi aku merasa lega karena kita saling pasang telinga, lapang.
Diantara semua mata yang awas menatap kedepan, ada kita yang bahagia berbagi.
Diantara mereka yang sibuk menolong diri sendiri, ada kita yang tetap memberi.
Kita bukan malaikat, tapi juga bukan Iblis, kita masih punya masa depan.

Tertawa kita disaat kita masih bisa tertawa, tak apa, karena kita masih muda.
Walau kita tak pernah tahu usia, tapi yakin bahwa tetap ada jalan ke surga.
Dijalan itu ada tikungan, tanjakan, belokan, bebatuan tapi ada juga panorama.
Kemudian semua yang telah kita lewati itu membuat kita menyatu dalam persahabatan.
Lalu yang aku tahu, persahabatan itu umpama rokok yang dihisap dalam-dalam lalu dikeluarkan, mengikhlaskan.

Dalam diamku, aku hanya sanggup mengingat, jelas bayang-bayangmu kemarin.
Dalam diamku, aku hanya menyesali karena aku belum bisa menjadi pelangi.
Dalam diamku, aku hanya bisa terpaku, bingung lalu lidahku kelu, membatu.
Dalam diamku, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan tersenyumlah.
Dan terbanglah ke langit yang tinggi menggapai pelangi yang lebih indah pasti.

Seorang kawan berkata, waktu adalah ibarat musuh karena ia akan memisahkan.
Tapi waktu jugalah yang mengubah acuh menjadi peduli,dan sungkan menjadi akrab.
Disuatu titik di persinggungan masa kita, ucapan sang kawan aku benarkan.
Waktulah yang memisahkan, apapun didunia ini, ada pertemuan dan perpisahan.
Dan ia menjadi saksi bisu atas segala kejadian, meninggalkan tanda dan kenangan.

Cermin di segala tempat sahabat terdekat tak pernah terlambat
Menampung setiap ungkapan, mendekap semua keluhan
Meraih suka, menangkap tawa, merebut duka
.....

(Iwan Fals)

Bila langkah terhenti, itu bukan berarti hidupmu sampai disini.
Menangislah.. Terssenyumlah.. Mawar pasti berduri, dan juga hidup ini..
Penuh kejutan yang tak pasti.. anggap ini sebagai pelajaran hati..
Yang bisa kuatkan diri. Jangan kau berhenti
...

(Andra & The Backbone)

P.S:
----
Pict taken from http://www.google.co.id/imglanding?q=struggle&hl=en&biw=1280&bih=582&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=SmHn2GiqktxWzM:&imgrefurl=http://thebeautifullstruggle.tumblr.com/&imgurl=http://static.tumblr.com/dweeekz/b5Ql5dmhg/tumblr_l53q5o45n81qajzsso1_500_large.jpg&zoom=1&w=500&h=375&iact=hc&ei=pending&oei=dhH7TKGGF8vxrQes09zbCA&esq=5&page=1&tbnh=139&tbnw=202&start=0&ndsp=19&ved=1t:429,r:3,s:0

Read more »

11.05.2010

Catatan Akhir Kuliah (Tingkat 2)


Cerita kita dimulai jauhh sebelum kita dipertemukan, semuanya berawal ketika Tuhan mengatur segala ketetapanya dalam sebuah kitab bernama Lauhil Mahfudz, disana tinta yang tertuliskan nama kita sudah mengering tak bisa diubah dan tak bisa dibantah, semua kita hanya pasrah menjalani hidup yang melemparkan kita ke segala arah. Kemudian suatu hari dalam garis Takdir kita, tepatnya pada tanggal 4 Januari 2010, nama-nama kita tertera dalam suatu Papan Pengumuman berjudulkan suatu cerita yang melingkupi kita hingga sekarang ini, "2B D3 Pajak Khusus". Dan saya menjadi salah satu bagian bersama tiga puluh lebih nama lainnya. Suatu kebahagiaan, karena perjuangan panjang akhirnya berbuah manis; Suatu Kelegaan karena akhirnya bisa melepaskan diri sejenak dari rutinitas kantor dan Suatu Keharuan bahwa akhirnya bisa menapak jalan untuk satu tahap lebih maju dalam menggapai cita-cita.

Kemudian kita menjadi saling mengenal satu sama lain; nama-nama yang tadinya hanya bisa saya lihat dalam barisan absen akhirnya bisa juga saya jumpai; dan ternyata kita begitu berbeda dalam semua, kita datang membawa cerita, budaya, karakter dan kekhasan masing-masing yang menjadikan kelas kita begitu berbeda dan kemudian menjalani masa-masa dimana semua perbedaan itu melebur dalam harapan untuk dapat maju, berkembang dan tumbuh bersama. Masa-masa awal kebersamaan kita dalam hitungan beberapa bulan pertama menjadi momen-momen layaknya bulan madu sepasang pengantin baru, bulan madu yang kita nikmati dalam acara makan bersama secara sederhana dirumah beberapa rekan kita, hegemoni yang kita rasakan saat mengangkat tropi kemenangan turnamen futsal, menikmati obrolan santai di AMIGOS serta keceriaan-keceriaan lain yang mungkin hanya bisa dirasakan kembali saat kita melihat poto-poto besutan beberapa rekan kita saat masa-masa awal kuliah.



Ada pula saat-saat yang kita jalani bagaikan kecemasan dan keterkejutan menyertai didalamnya, yaitu ujian kembali untuk kali pertama setelah sekian tahun jiwa intelektual kita membaur dalam kesibukan dunia kerja, rutinitas kantor dan hal-hal berbau birokrasi lainnya. Tapi semuanya hampir telah kita lewati dengan usaha yang hanya diri kita sendiri yang mampu mengevaluasinya dan semoga usaha terbaik yang dapat kita persembahkan akan mengantarkan kita pada hasil terbaik yang hanya Tuhan pula yang tahu apa itu yang terbaik bagi kita. Semuanya yang kita alami sekarang ini seperti perjalanan menuju ke puncak gunung, kita telah melewati banyak tahap yang kadang melelahkan namun kadang juga membuat kita tersenyum karena kita sadar bahwa semua itu akan ada ujungnya, persis seperti gunung yang mempunyai puncak dan semakin jauh kita melangkah menuju ke puncak itu maka akan makin berat medannya namun sadarkah kita bahwa pemandangan yang akan dapat kita lihat juga semakin indah?



Layaknya cerita dalam satu keluarga, begitulah kemudian kita..

Ada kenangan tentang terbentuknya persahabatan, cerita perjuangan dan upaya pengertian yang mungkin saja telah membentuk kenangan dalam diri kita masing-masing, dan akan terbawa dalam hidup kita untuk hitungan belasan atau puluhan tahun kemudian. Hanya diri kita yang tahu betapa kita telah banyak berjuang dan bertahan untuk bisa berdiri sampai sejauh ini, dan mengapa kita memilih untuk mau tetap bertahan, sekali lagi hanya diri kita yang tahu.

Dalam perjalanan itu, sadar atau tidak sadar kita sedang menjalani suatu proses yang seharusnya akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, saya sendiri menyadari betapa banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan yang saya bawa saat awal-awal pertemuan kita, dan semuanya mengemuka dalam perjalanan saya untuk menjadi lebih baik, namun itu bukan berarti bahwa kini saya adalah manusia yang baik, masih banyak yang perlu dibenahi. Agar kelak jika saya mati saya tercatat sebagai seorang yang sedang dan terus memperbaiki diri, walau entah sudah sejauh mana. Begitu juga semoga kita semua..



Kemudian ada pula saat-saat waktu di pulau tidung, buka puasa bersama, turnamen badminton, dan kini jaket dan buku kenangan proyek akhir yang sedang menunggu akan menjadi bukti bahwa kita pernah tinggal dalam satu perjuangan kuliah bersama di Ibu kota, Jakarta. Kota sejuta paradoks kata orang, yang didalamnya keangkuhan gedung bertingkat menjadi atap bagi banyak kaum papa yang kurang berada, yang didalamnya ketulusan dan kelicikan bisa sangat sulit dibedakan, maka jadilah banyak orang didalamnya memilih untuk menjadi anti-sosial. kemudian dimana saya berada? Ah tak usah lah dipikirkan... Saya juga merasa masih kotor untuk menganggap diri saya bersih.Kebenaran hanya dari Tuhan dan dunia hanya persinggahan..



Takdir kebersamaan kita dalam cerita keluarga "2B D3 Pajak Khusus" kini tinggal hitungan hari lagi, tak ada hal buruk yang ingin kita kenang, tapi kita juga bukan malaikat yang diciptakan tanpa hawa nafsu, tanpa sengaja tentu saja ada hal yang menjadikan setan tertawa menang atas kekalahan kita menaklukannya, namun demikian kita dikaruniai akal sehat yang sebaiknya kita gunakan untuk menyadari bahwa hal buruk yang telah terjadi sebaiknya jangan terulang lagi. Buat kawan-kawan sekelas saya; saya sadar bahwa sebagai seorang kawan saya bukanlah kawan yang sempurna, dan sebagai ketua kelas saya juga bukan ketua kelas yang sempurna; kadang saya lalai bahwa seorang kawan itu harus selalu mengerti dan ada untuk kawannya juga kadang saya juga lupa bahwa menjadi seorang pemimpin berarti menjadi seorang pelayan. Untuk itu saya mohon maaf, semoga kedepan kita semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang matang dan kuat dalam mengemban amanah kehidupan. Sehingga kelak jika kita bertemu lagi, kita tidak akan lupa bahwa kita telah banyak belajar tentang nilai-nilai kehidupan dalam masa kebersamaan kita.



Salam,

Erikson Wijaya

Read more »

10.24.2010

Olah Raga Jogging


Dari dulu aku memang hobi jogging, walau memang tidak pasti teratur setiap hari namun rasanya jogging sudah menjadi olah raga favorit yang aku lakukan untuk sekedar menjaga kesehatan dan menyegarkan pikiran..
Entah siapa yang pertama kali menciptakan olah raga jogging ini, yang pasti olah raga ini simpel, tidak perlu modal banyak dan pas buat kantong mahasiswa yang mau hidup sehat juga hemat, kayak aku :D

Waktu SMA, sering kalau sore hari sesudah belajar atau jika sedang tidak ada kesibukan dirumah, aku pergi jogging ke lapangan umum, yg sekarang sudah ganti nama jadi taman kota, kalau sudah dapat 4-5 keliling jogging biasanya memang kecapekan dan nafas tersengal-sengal namun karena dilepas diudara sore yang segar jadinya tidak terasa lagi, malah menikmati.. dan rupanya ini bermanfaat, karena pas ujian praktik mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, yang diujikan adalah jogging ini, di lokasi yang sama dan jam yang sama dengan yang biasa saya lakukan pula.

Pas menjelang lulus SMA pun, saat Ayahku berniat menyuruh saya masuk ke tentara atau semacamnya, aku pernah dengan beliau jogging malam-malam keliling kota Baturaja, malu iya! BT iya! soalnya bukan apa-apa, dilihatin banyak orang.. kalau sore atau pagi tak apa juga, ini malam hari pas orang lagi santai dan nikmatin hidup.
Tapi, kenangan jogging sama beliau itu menjadi kenangan yang tak akan terlupakan.
Saat aku mulai merantau pun, setiap kali aku ditelepon pasti saja yang menjadi pesan terakhir nya adalah:'nak, itu jogging jangan lupa, penting buat kesehatan soalnya..'. Makanya kadang-kadang pas pagi hari aku sering jogging keliling kampus. Kampus ku memang jauh dari pusat kota Jakarta, jadi udara paginya sangat segar dan enak.

Setahu ku olah raga mirip jogging adalah marathon, tehniknya sama, hanya saja kalau marathon itu jarak tempuhnya bisa berlipat-lipat lebih panjang, marathon itu pertama kali tercipta secara tidak sengaja saat salah seorang tentara Persia bernama Philippides yang berlari tanpa henti dari suatu daerah bernama Marathon (lokasi ini adalah sebuah teluk, dimana peperangan tempat ia berjuang terjadi) ke Athena untuk memberitahukan bahwa sisa tentara Kerajaan Persia yang lari karena kalah saat berperang di teluk Marathin akan langsung menyerang Athena di pusat Ibukota disaat daerah gerbang utama di teluk Marathon berhasil dipertahankan.

Waktu jadi anak kos di Jakarta pun kegiatan jogging ini sering aku lakukan, apalagi lokasi tempat tinggalku dekat dengan Gelora Bung Karno, disana biasanya setiap pagi diakhir pekan apalagi kalau pas ada car-free day, aku pergi jogging, biasanya kalau sudah dapat 3-4 putaran, tiba waktunya untuk duduk santai ditepian jalur joggingnya untuk sekedar melihat-lihat atau ikut senam kecil. Pulang kekospun biasanya jalan kaki, karena memang dekat dan biar bisa melihat Jakarta lebih dekat, karena kalau masih sepi, Jakarta masih enak dilihat, sepi dan belum rusuh dan panas. Ketika kini, aku balik lagi ke dunia kampus sebagai mahasiswa, kebiasaan jogging ini menjadi ritual pengisi waktu kosong, biasanya ada suatu yang kurang pas atau kurang nyaman kalau lama tidak jogging.

Jika tiba waktunya mau mendaki gunung, maka jogging yang aku lakukan itu makin tambah intensif, karena berguna untuk persiapan fisik, pertahanan napas dan kekuatan kaki. Karena mendaki gunung tanpa persiapan fisik akan membuat kaki kram saat mendaki dan biasanya nafas pendek dan gampang pusing. Jadi, jogging itu ya jogging, olah raga santai, banyak manfaat baik fisik maupun psikologis selain juga tidak mahal dan gak perlu banyak modal, cuman modal celana, sepatu sama baju aja.. bahaya soalnya kalau jogging gak pakai celana, terancam ditangkap kamtib :D

Read more »

9.10.2010

Kalau Bukan Ayahku. Kalah Bukan Aku.


Siapa lagi yang bisa aku ingat untuk terus maju disaat aku terjatuh, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang bisa aku banggakan tentang pengorbanan dan perjuangan seorang manusia, kalau bukan tentang ayahku.

Siapa lagi yang bisa aku rindukan kasih sayang dan perhatiannya saat aku jauh disana, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang mau tanpa aku meminta membuatkan segelas teh manis hangat di pagi hari, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang mau tanpa aku berucap memasakkan makanan kesukaanku, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang mau memanjatkan duku,kelapa dan rambutan untukku waktu aku kecil, kalau bukan ayahku.


Siapa lagi yang dalam diamnya selalu mengajarkan aku untuk menjadi manusia yang tekun dan rajin, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang dalam diamnya selalu menunjukkan bahwa sabar dan mengalah adalah jalan untuk menjadi ikhlas, kalau bukan ayahku.

Siapa lagi yang dalam diamnya membuatku ingat tentang kenyataan bahwa manusia itu harus berpikir kedepan, kalau bukan ayahku.


Ayahku, bukan lah seorang yang berharta banyak untuk diwariskan saat ia meninggal kelak. Ia juga tidak memiliki gelar keserjanaan dari universitas kenamaan yang membuat batu nisannya kelak agak prestisius. Tapi setidak-tidaknya ia adalah salah seorang manusia yang mengakui adanya Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, bukan harta, pangkat, jabatan dan status sosial atau pesona pesona duniawi lainnya. Tapi ia bukanlah Malaikat, ia juga manusia biasa yang bisa berbuat salah dan khilaf.. Namun demikian aku belajar banyak dari kesalahan dan kekhilafanya, karena ia memang ingin, aku menjadi lebih baik dari dirinya.


Lalu tentang mereka...

Siapapun mereka...

Mereka mungkin sedang mencela atas ketidakberpunyaan ayahku akan harta dan pangkat, tapi bagiku cemoohan mereka makin menunjukkan siapa mereka sebenarnya..

Mereka boleh saja mencela atas segala tangga nada yang tidak harmonis dalam ritme permainan musik kehidupan ayahku, tapi bagiku mereka mungkin telah terlalu jauh tinggi dilangit mereka sana untuk mendengar indahnya musik di bumi kami ini..


Dan aku ada diantara ia dan mereka...

Sehingga..

Siapa lagi yang akan berdiri paling depan menghadang cibiran, cemoohan, sindiran, ejekan mereka tetang ayahku, kalau bukan aku.

Siapa lagi yang akan berusaha memperjuangkan pendidikanku setinggi-tingginya untuk kebanggaan ayahku, kalau bukan aku.

Siapa lagi yang dimasa depan kelak akan mewujudkan cita-citanya menjadi anak yang peduli terhadap keluarga, kalau bukan aku.

Read more »

9.09.2010

Belenggu Harta


Mengapa orang yang pintar secara pendidikan dan gelar akademis pun masih saja lupa dan akhirnya menjadi sombong?? sungguh aku takut.. karena jika orang yang pintar saja bisa terkontaminasi lalu bagaimana dengan orang yang biasa-biasa saja seperti aku dan banyak orang lainnya mungkin.. Ah, kadang aku takut menjadi kaya dan berharta jika mengingat dan melihat mereka yang terlupakan olehnya.. :(

Harta.. H-A-R-T-A, menurut KBBI, harta itu sama dengan barang (uang dsb) yg menjadi kekayaan; barang milik seseorang; dan berharta sama saja dengan memiliki harta. Nah, karena semua tahu bahwa (nyaris) semua urusan dunia ini memerlukan uang, sehingga akan menjadi suatu kebanggan kalau berharta. Bangga karena semua urusan tidak akan lagi menjadi penghalang, dan dalam hitungan detik semua beres.

Mungkin itu kenapa orang jadi sombong jika berharta, belum lagi dampak-dampak lainnya, dampak seperti meningkatnya status sosial dan banyaknya pujian dan mendekatnya orang-orang yang mungkin menyimpan kepentingan. Semua kepemilikan pada akhirnya membuat bangga, ya sekali lagi bangga. Dan itulah kenyatannya. Salahkah? aku lebih memilih untuk menyalahkan karena menurutku bangga itu beda tipis sekali dengan sombong, akibatnya jika kebanggan yang muncul itu dipelihara maka bukan tidak mungkin ia akan meningkat menjadi sombong. Dan orang yang sombong cenderung tidak mau mendengar nasihat sehingga sulit untuk kembali menjadi rendah hati.

Tapi kemunculan rasa bangga itu tidak bisa ditampik, ia seperti rumput yang tumbuh saat seorang petani berkebun. Hal yang bisa dilakukan adalah menyianginya dan menyemprotkan pestisida agar rerumputan itu mati atau lambat pertumbuhannya, sedikit saja seorang petani lambat menindakinya, maka rumput itu akan tumbuh lebih tinggi dari tumbuhan itu sendiri, keadaan ini sama dengan yang kita alami, jika saja kita lambat menyadarinya, maka kebanggaan itu akan menjelma menjadi kesombongan yang membuat kita merasa lebih baik dari orang lain dan berujung pada pemikiran bahwa kita berhak untuk mendikte kehidupan orang lain, berhak untuk dilayani dan berhak untuk dimuliakan. Padahal, ahhhh..

Namun mengapa orang yang pintar dan tinggi secara akademis pun kadang lalai prihal ini, sering justru merekalah yang tanpa sadar telah hanyut oleh kepemilikan harta itu, tanpa sadar mereka merasa terus menerus tertantang untuk berlomba menambah harta kekayaan mereka, sehingga kehadiran mereka yang kekurangan dan membutuhkan dianggap hanya sebagai benalu yang tidak membawa manfaat, akhirnya muncullah cacian dan makian kepada mereka yang dinilai kurang berharta itu. Apa mungkin gelar kesarjanaan dan kecerdasan otak tidak berperan penting disini?? Mungkin benar begitu.

Read more »

9.08.2010

Jalan Pulang

Aku belum genap berusia kepala dua saat untuk pertama kalinya aku mulai memasuki dunia kerja, tahun itu adalah tepat setahun setelah aku menyelesaikan pendidikan kilatku, aku sudah tidak perlu lagi bersusah payah mencari pekerjaan, memasukkan surat lamaran ke gedung tinggi perkantoran yang kata kebanyakan orang merupakan simbol dunia modern, paradoksal metropolitan, eksotika Jakarta atau apapun lah namanya. Bahkan ada satu dua nama jalan di Jakarta ini yang pernah aku dengar dari beberapa orang temanku, jika ada seseorang yang bekerja disalah satu bangunan tinggi di jalanan itu, maka sudah jaminan hidupnya kaya dengan gaji diatas standar rata-rata, pakaian necis dan status sosial yang mengundang rasa kagum.

Aku tersenyum kecil bila mengingat kata-kata itu, bagiku, jangan kan nama jalanan itu, daerah di seputaran Jakarta pun belum banyak yang aku tahu, walau memang aku sudah lebih dari setahun ini tinggal di kota ini, kawasan Bintaro tepatnya. Didaerah itu aku berkuliah di sebuah kampus kedinasan bernama Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, STAN begitu singkatnya. Aku bersyukur karena kampus ini menyediakan fasilitas jaminan kerja begitu aku lulus. Namun aku juga tidak bisa berbohong bahwa pendidikan kilat dan kewajiban kerja ini membuatku kadang merasa ada suatu babak yang hilang dalam hidupku sebagai seorang anak muda. Terutama jika aku ingat bahwa sebagian besar teman-teman ku masih menikmati kehidupan mereka dengan menyandang status Mahasiswa.

Kala itu biasanya segera aku menendang kebodohan sisi lain seorang aku yang kadang aku dapati tidak bersukur dengan membanding-bandingkan duniaku dengan dunia orang lain. Sebuah kesalahan besar yang selalu sebisa mungkin aku buang jauh-jauh agar tidak meracuni niat tulus ku menjalani hidupku. Niat tulus yang membuatku tetap mampu berdiri tegar menjalani hari-hariku: Demi Keluarga ku di Sumatera!. Sampai Sekarang.

Dalam langkah tegapku memasuki hari-hari pertamaku dikantor seorang aku adalah pemuda sederhana yang berusaha selalu tampil sebaik mungkin walau tidak sesempurna dalam gambaran pakaian necis, sepatu pantofel hitam kilau mengkilap, dan seragam jas berdasi. Bukan karena aku tidak bekerja di salah satu dari nama dua jalanan yang itu tadi, tapi lebih karena pembawaanku memang begitu, sejak dulu tepatnya sejak aku bersekolah di Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga Kuliah.

Ketika aku duduk di bangku SMA aku bahkan cenderung menghindari obrolan dengan teman-temanku jika tema yang dibicarakan mulai berkisar tentang merk atau model HP terbaru, trend baju anak gaul masa kini atau harta, pangkat dan jabatan orang tua. Bukan karena aku percaya pada streotyping nya Dian Sastro terhadap anak muda Indonesia jaman sekarang tapi justru karena aku sadar bahwa aku berasal dari keluarga yang jika sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya dan cukup makan sehari-hari maka kata Alhamdulillah sudah sangat kuat untuk mewakili betapa kami belum membutuhkan segala gadget modern itu.

Namun aku selalu pasang telinga lebar-lebar jika topik yang dibahas adalah seputar informasi beasiswa pendidikan gratis, buku literatur keluaran terbaru dari penerbit semisal Erlangga, Tiga Serangkai dan lain sebagainya serta informasi tawaran ujian masuk ke perguruan tinggi ternama di negeri ini.

Ya, aku memang fanatik dalam dunia pendidikan, bagiku pendidikan adalah jalan untuk bisa mendapat tempat seluas-luasnya meluluskan hasrat Need of Achievement (N-Ach) ku yang kurasa begitu tinggi, begitu paling tidak kata salah satu teori motivasi dari David McClelland (CMIIW). Pendidikan juga yang menjadi landasan pikiran ku bahwa kemiskinan secara fisik itu diawali dari kemiskinan akan ilmu pengetahuan yang hanya bisa diatasi dengan bersekolah.

P.S:
-----
#Postingan ini dibuat untuk refleksi dan introspeksi diri, agar kedepan, semua aku bisa belajar menghindari hal-hal yang membuat aku menjadi semakin bukan aku, sehingga aku bisa tetap menjadi seorang aku. Halahh... lebay!! hahahahha.. :D

#gambar diambil dari: http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://people.ucsc.edu/~bkdaniel/number-water-footprint.jpg&imgrefurl=http://people.ucsc.edu/~bkdaniel/&usg=__FwDbTfdfzn6GhFKUTQBXnvt7xfk=&h=294&w=468&sz=12&hl=en&start=0&sig2=RRBmi2iU5bsP9ynN9YryOw&zoom=1&tbnid=ZfAhyNdfvCguTM:&tbnh=123&tbnw=170&ei=79SGTPTcH4OCvgPMltG-BA&prev=/images%3Fq%3Dfootprint%26hl%3Den%26client%3Dfirefox-a%26channel%3Ds%26rls%3Dorg.mozilla:id:official%26biw%3D1280%26bih%3D534%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:10%2C39&itbs=1&iact=hc&vpx=347&vpy=213&dur=12334&hovh=178&hovw=283&tx=234&ty=79&oei=wdSGTJTCN5OXcfz_mMsF&esq=2&page=1&ndsp=24&ved=1t:429,r:10,s:0&biw=1280&bih=534

Read more »

9.06.2010

My English Blog


(Film Serial Prison Break ini menjadi salah satu trigger belajar bahasa inggris ku.)

Jujur ini ya.. salah satu niatan pertama kali aku nge-blog itu adalah untuk menyalurkan hobi bahasa inggris ku yang biasanya aku keluarkan dalam bentuk tulisan, khususnya kalau lagi tidak ada kawan yang mau dan atau bisa diajak bahasa inggris. waktu itu blog nya aku tulis disinihh dan disinihh..; dan hari ini, kedua blog itu mau aku lebur jadi satu saja, supaya cukup satu blog saja yang aku isi dengan Bahasa Inggris, yaitu Erikson's English Blog a.k.a EEB :D

Kecintaan ku terhadap bahasa inggris mungkin didorong oleh hobi ku dalam menulis dan berbicara, (sampai sekarang aku masih tercatat sebagai Immediate Past President di Catalyst Toastmasters Club, suatu klub yang concern tentang pembelajaran public speaking dalam Bahasa Inggris), Kalau ditilik lagi kebelakang, sebetulnya lumayan panjang ceritanya kenapa aku bisa suka bahasa inggris.

Dulu waktu aku kelas 1 SMP, siang hari sepulang sekolah kalau tidak salah aku sedang ikutan kawan bermain layangan didekat rumah (ada tanah kosong dua blok sebelah rumah, tp sekarang sudah jadi bengkel dan warteg), kemudian seingat ku, Ubak ku memanggilku supaya ikut ke pasar, ya.. namanya anak-anak, diajak kepasar ya senang-senang aja... Tapi sesampainya di Pasar aku malah didaftarkan kursus Bahasa Inggris, ya jaman itu tahun 1998, biaya kursus masih murah.. hahahha..., aku bingung, tapi mau menolak sudah tidak bisa, jadilah namaku tercatat dan siap mengikut kursus perdana sekitar 1-2 minggu kemudian..


Berikutnya, hari-hari ku adalah adalah hari anak SMP yang setiap 3 kali seminggu ikut kursus Bahasa Inggris, awal-awal nya dulu sering malas berangkat kursusnya, sampai nangis dan dimarahin karena maksa minta diantar baru mau berangkat.. hahaha... Aku ingat kata-kata Ubak ku waktu itu:

"Orang yang mau maju dan berhasil belajar itu, berangkat dan jalan sendiri, tidak mengandalkan orang lain"

Akhirnya berangkat sendiri memang aku ke sana, tapi sambil merajuk hahaha.... Ya, mana ngerti aku soal keberhasilan dan kemajuan, yang aku tahu waktu itu aku sedang dipaksa belajar, sendirian pula. Jadilah pas awal-awal kursus, nilai ku nilai yang merajuk juga.. :D

Tapi.. seiring waktu, selama mengikut kegiatan kursus, aku merasa.. mmhhh..menangkap pelajaran yang diberikan instruktur itu rasanya mudah sekali meresap lekat, jadi enak dan aku pun mulai terbiasa. Dan saat pelajaran bahasa inggris di sekolah pun terasa manfaatnya, aku bisa mengikuti pelajaran dari Pak Guru, jaman kelas SMP dulu nama gurunya itu Pak Agus (Kls 1 SMP), Pak Andri (Kls 2 SMP), dan Pak Supeno (Kls 3 SMP). Aku mulai suka membaca cerita-cerita berbahasa inggris, walau tidak sepenuhnya paham, yang penting ada sajalah yang nyangkut barang 1-2 paragraf. Kalau tidak salah pernah juga dibelikan paman (adik bapak) buku cerita rakyat Negeri Korea dalam Bahasa Inggris, tentang 7 bersaudara dengan kelebihan masing-masing yang sedang menyelamatkan kerajaan mereka dari musuh.


Kamus English- Indonesian setebal 1736 halaman; Drs. Peter Salim, M.A. Aku beli di Gramedia Plaza Semanggi.

Hahah..segitulah,cerita singkat sampai aku bisa menyenangi Bahasa Inggris hingga sekarang, dan semakin kesini, aku semakin sadar bahwa tidak ada kata selesai dalam belajar, tinggal lagi bagaimana menjadikan yang sudah diperoleh menjadi lekat juga membawa manfaat. Alhamdulillah ya ALLAH.. atas kemudahan yang Engkau berikan ini, juga aku ucapkan terima kasih banyak pada Ubak/Bapak ku atas insiden penjemputan paksa tahun 1998 siang itu, mungkin segalanya akan berbeda jika kejadian itu tidak pernah ada. Buat guru-guru Bahasa Inggris ku, terima kasih banyak.


Balik lagi ke rencana EEB, aku akan berusaha konsisten dengan EEB (tanpa meninggalkan BSE tentunya hehehehhe..) ini seperti yang dibuat oleh kawan bloggerwati yang ini, dosen asal Indonesia yang mengajar di Universitas di USA. Tulisannya sederhana, bukan hal-hal yang berat, sesuai dengan motto di blog bahasa indonesianya ;'cerita-cerita spontan, nyata, dan tak jelas', hahaha..

Read more »

9.05.2010

AITY


AITY: Am I There Yet?

Kalau diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, itu berarti Apakah Saya Sampai?, jadinya kalau disingkat ASS, hahaha maka dari itulah penyingkatan judulnya dibuat in english, karena kalau ASS itu yang baca blogger dari english-speaking country bisa saja BSE dilaporkan ke blogger sebagai blog dengan content nudity :D

Singkatan judul diatas aku ambil dari Road Map to Success-nya John C Maxwell. Dalam suatu bab dibuku tersebut ia menyebutkan bahwa kecendrungan banyak orang dalam menyelesaikan sesuatu itu adalah selalu ingin tahu apakah sudah sampai atau belum. Termasuk aku.

Namun, ada yang lebih patut diingat lebih mendalam lagi mengenai hal ini, misalnya dalam konteks seorang pelajar yang sedang menyelesaikan studinya. Jika pertanyaan AITY itu ia terus kumandangkan dalam benaknya, maka ia sedang mengejar sesuatu untuk kemudian tidak mendapatkan apa-apa. Baginya begitu ia sudah sampai pada suatu titik, maka semua selesai. Dalam hal ini fokusnya adalah tujuan.

Tapi jika pertanyaanya diubah menjadi Am I Headed There?. Semuanya akan berbeda jauh, sang pelajar tersebut akan memahami setiap jam masa studinya sebagai saat-saat yang harus ia gunakan untuk memastikan bahwa ia sedang menjalani suatu proses, tanpa pernah memikirkan hasil akhirnya nanti. Ini terjadi karena adanya pemahaman bahwa setiap orang harus bertanggungjawab atas pilihan yang dibuat. Sehingga tidak ada ketergesa-gesaan dalam menjalani pilihan tersebut, tidak merasa berat dan terbebani.

Sering aku berpikir dan sampai sekarang juga belum menemukan jawaban yang pasti, tentang bagaimana mengubah pola pikir Am-I-There-Yet? menjadi Am-I-Headed-There?. Mudah dalam menteorikannya, namun sulit dalam praktik, itu pasti. Bukankah aku juga pun kadang labil komitmennya? Jadi tak patut rasanya memberikan suatu yang definite. Dan juga bukankah ALLAH.SWT membenci hambaNYA yang tidak melakukan apa yang telah diucapkan, apalagi tidak melakukan apa yang dinasihatkan pada orang lain.

Well..balik lagi ke perubahan pola tadi. Rasanya setiap orang punya cara masing-masing, namun yang pasti perubahan yang positif itu datang dari proses pengolahan input yang positif juga. Membaca buku-buku pengembangan diri misalnya, memang buku semacam ini tergolong berat, tapi memberikan gambaran tentang petunjuk saat seseorang merasa hidup dan apapun disekitarnya tidak berpihak kepadanya. Atau, membaca buku biografi seseorang yang telah keluar dari ancaman kegagalan, ketakutan menuju kebermanfaatan dan keselamatan. Misalnya membaca Biografi Nabi Muhammad SAW (sekalian nambah pahala dibulan puasa :D).

Input-input positif dari kegiatan membaca buku akan menjadi stimulan tindakan bertahan positif saat banyak kecendrungan negatif datang, dan ini membuat kita selamat dari captivity in negativity.


Membaca buku pengembangan diri pun, kadang menuntut kita untuk membuka pikiran lebih luas, karena banyak sumber penulisan mengenai buku ini, dan mayoritas berasal dari dunia Barat. Ya, kita tahu, dunia barat sangat mengajarkan optimisme. Dan ini lain dari apa yang telah kita tahu sejak kecil, bahwa ada Kuasa Tuhan dalam setiap usaha. Hal yang bisa saja hilang bila kita tidak memiliki benteng yang kuat saat memahami bacaan dari pengarang barat.

Tapi tidak demikian juga sebetulnya, ada juga penulis barat yang religius, sebut saja John C Maxwell, ia beragama Nasrani, dan ia pernah menjadi pastor. Aku beberapa pernah membaca buku karangan John C Maxwell tentang leadership dan principles of success, walau aku dan dia berbeda keyakinan, tapi aku memilih untuk meneruskan membaca, dan jika memang ada yang tidak sesuai dengan keyakinan agama yang ku anut, ya aku tinggalkan, aku cuma ambil kebenaran positif yang sejalan dengan prinsip agama ku. Aku tidak menutup diri dalam belajar, sumber dari buku apapun jika memang tidak menyalahi maka aku ambil.

Proses internalisasi dari kegiatan membaca secara tidak sadar membuat aku telah berpola pikir: Am I Headed There? Dan bagaimana dengan kawan-kawan?

Read more »

9.03.2010

A Story of Kingstone


Kingstone disini bukan ibu kota Jamaica di kepulauan Karibia, Kingstone disini juga bukan homofone dari nama merek flashdisk, tapi Kingstone itu artinya Baturaja, Ibu kota kabupaten OKU (Ogan Komering Ulu) Induk yang ada di provinsi Sumatera Selatan. Aku lahir disini. Baturaja, hampir 23 tahun lalu.. kemudian setelah lebih 6 tahun merantau ke Ibu Kota, Baturaja telah banyak berubah..

Baturaja sudah tambah ramai daripada era dulu, kalau dulu pusat ekonomi masyarakat cuma satu dua sentra, kini sudah banyak.Mulai dari pasar Inpres bahkan Mall juga sudah ada beberapa, diantaranya Raja Mall dan Kanio Mall, pasar tradisional mulai tergeser oleh kehadiran toko-toko swalayan waralaba semisal Indomart atau Alfamart. Praktis, penduduk tinggal masuk ke Mall yang menyuguhkan diskon, atau memilih sendiri barang belanjaan ke ruangan sejuk ber-AC. Penambahan sentra ekonomi ini juga diiringi oleh perluasan area perkotaan, Jalinsum (Jalan Lintas Sumatera) yang dulu sepi kini sudah mulai tersentuh pembangunan, setidaknya sudah ada dua trade-mark kenamaan representasi kemajuan Baturaja, yaitu Masjid Agung Islamic Center dan Kolam Renang Baturaja (Standar Internasional). Kedepan mungkin area ini bakal ramai oleh hunian semcam ruko dan perumahan penduduk, khususnya setelah pembukaan lahan secara besar-besaran mulai terasa dan terlihat sepanjang jalan lintas ini.


Raja Mall dari depan.


Dulu Baturaja belum mampu menawarkan kesempatan pendidikan yang berkelanjutan karena terbatasnya jumlah Sekolah Tinggi atau Universitas atau Lembaga Pendidikan lainnya. Namun kini, pemuda-pemudi Baturaja dan daerah sekitarnya dapat merasakan bangku Universitas, setelah kehadiran Universitas Baturaja (UNBARA), STIE, STAI, STAIN, LPPK. Bahkan untuk level SMA pun pilihannya sudah banyak, jika dulu hanya ada satu dua SMA, kini jika dihitung untuk level SMA/Sederajat sudah lebih dari sepuluh. Pembangunan intelektuali ini dengan nyata dapat dilihat telah diiringi oleh pembangunan infrastruktur yang lumayan mengangkat citra Baturaja, semisal pembangunan kantor perijinan terpadu di salah satu pusat keramaian (dulu area ini adalah terminal) juga penambahan jembatan yang menghubungkan banyak lokasi di Baturaja yang makin membuat lalu lintas makin lancar dan mobile.


Taman Kota Baturaja


Baru-baru ini Baturaja juga sudah melaksanakan pemilihan kepala daerah, dan semoga saja pembangunan yang telah ada ini tetap dijalankan dengan tetap mengedepankan prioritas utama yaitu pembangunan yang membawa manfaat baik jangka pendek dan jangka panjang pada masyarakat Baturaja. Menjadikan Baturaja sebagai kota yang tetap tangguh ditengah gempuran era modernisasi dan globalisasi tanpa kehilangan ciri khas kebanggannya, terutama dari nilai histori dan kebudayaan.

Ramainya pusat kegiatan ekonomi di Baturaja sekarang ini layak dipertahankan dengan prinsip menguatamakan kesejahteraan rakyat, bukan karena lobi-lobi politik atau kepentingan pihak yang berkekuatan uang. Majunya perekonomian bukan diukur dari banyaknya Mall atau swalayan waralaba, namun diukur dari kemampuan masyarakat mengikuti kemajuan dan perkembangan itu, jika akibat pembangunan ekonomi konsumtif semacam ini menyebabkan semakin banyak penduduk yang kehilangan pekerjaan, semakin banyak penduduk yang hidup dibawah standar normal pemenuhan kebutuhan sehari-hari, maka kemungkinan besar ada yang terlewat dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan tersebut. Bolehlah jika Pemerintah Daerah Baturaja dalam hal ini dipimpin oleh Bupati melakukan evaluasi.


Kolam Renang Baturaja


Kemajuan SDM merupakan indikator kuat akan keberhasilan suatu daerah di masa depan, institusi pendidikan di Baturaja telah banyak menelurkan lulusan-lulusan yang memegang sertifikat atau ijazah tertanda LULUS dan semoga memiliki kualifikasi yang layak. Namun sudah mampukah Pemda Baturaja menciptakan iklim yang kondusif bagi lulusan tersebut untuk mengaplikasikan keahliannya dengan berwirausaha, karena memang sulit untuk menjadi PNS di Baturaja, mulai dari tahapan seleksinya sampai berkembangnya rumor sogok-menyogok didalamnya. Pembangunan dibidang pendidikan di Baturaja memang menyenangkan, namun aku kurang tahu pada prioritas urutan keberapa sektor ini diutamakan, jika saja di tempat yang strategis di kota ini dibangun pusat kegiatan remaja (student center) semacam gelanggang, perpustakaan dan diikuti sosialisasi yang gencar dan berkelanjutan mungkin lapangan Ahmad Yani yang telah disulap menjadi taman kota, akan berubah menjadi sepi dari kegiatan santai yang kurang bermanfaat.

Pembangunan SDM selain dibidang intelektual juga sebaiknya diiringi pembangunan di bidang kerohanian, keberadaan Islamic Center menunjukka adanya niat Pemerintah Daerah Baturaja membangun penduduk Baturaja dalam hal tersebut. Namun niat yang telah direalisasikan dalam pembangunan Masjid yang megah ini akan semakin mengakar-rumput seandainya kegiatan dibidang kepemudaan-keagamaan digalakkan dengan kontinyu sehingga tumbuh rasa memiliki dan menghidupkan kehidupan didalamnya. Apalagi keberadaan sarana yang sudah tersedia didalam kompleks Masjid ini. Tinggal lagi bagaimana agar Masjid ini tidak melulu diramaikan oleh sesepuh-sesepuh Baturaja tapi juga oleh tunas-tunas yang akan memimpin dan mengelola di era mendatang.


Islamic Center Baturaja


Kadang aku merasa jika sedang berkendaraan di Baturaja, tak ubahnya aku sedang di Jakarta atau Palembang. Karena Baturaja sudah ramai bahkan cenderung pada keadaan ramai yang menyesakkan, dengan kata lain keramaian ini memunculkan kondisi yang tak teratur, dibidang lalu lintas khususnya. Bidang jalan yang sempit tampaknya belum mampu memperlancar arus lalu lintas, sehingga pada titik-titik tertentu kemacetan tak bisa dihindari. Belum lagi panas teriknya membuat tensi emosi menjadi tinggi, khawatir mendorong pada keadaan yang lebih buruk lagi. Ruas jalan di kota ini memang sudah banyak ditambah, namun terpusatnya sentra-sentra kebutuhan masyarakat membuat ketimpangan volume lalu lintas. Jalan baru yang dibangun seiring dengan jembatan tambahan belum maksimal difungsikan, karena memang kegiatan masyarakat tidak banyak disitu,sehingga sekarang fungsinya hanya sebatas sebagai jalan tembus.


Jembatan Ogan IV


Bagaimanapun, aku adalah bagian dari kota ini, lahir disini dan tumbuh besar disini selama 18 tahun. Tulisan ini cuma kontribusi dan bentuk kepedulian saja, bukan kritik atau sebuah celaan karena aku juga sadar aku belum banyak berbuat bagi kota ini. Mungkin kelak aku bisa berbuat sesuatu yang lebih nyata buat kota ini, Bismillah. untuk sekarang cukuplah melakukan yang terbaik sebisaku dibidang yang aku dalami di Jakarta, Pajak. Karena ini merupakan karunia yang diberikan ALLAH.SWT untuk ku agar bisa kukembangkan, sama seperti dulu saat aku duduk di bangku SMU N 1 Baturaja dan begitu bersemangat menggali ilmu dan memperkayak diri secara akademis.

Salam

Terima Kasih

Read more »

8.27.2010

Buang Jauh Ekslusifisme


Eksklusif, kurang tahu juga artinya menurut KBBI, mungkin -terpisah atau memisahkan-, namun aku sering mendengar kata ini tertuju pada sekelompok teman satu angkatan waktu SMA dulu, mungkin cerita ini basi? tidak perlu dibahas, namun buat ku kejadian hari ini membuat aku ingat bahwa kita tidak bisa menjadi se-eksklusif yang kita inginkan.

Pagi tadi di Stasiun Kereta Api Tanjung Karang, Bandar Lampung. Aku dalam perjalanan mudik ke Baturaja, tiba-tiba saat hendak masuk ke gerbong kereta, pundakku ditepuk seorang kawan yang tidak pernah aku sangka akan dilakukannya, jika aku ingat bagaimana ia dan kelompoknya dianggap demikian 'beda' masa itu.

Tidak perlu aku sebutkan nama aslinya, namun secara reflek aku merespon ramah namun jg ragu apakah aku bisa dengan cepat mengakrabkan diri dengannya dalam obrolan santai setelah hampir 6 tahun berkomunikasi sekedarnya saja. Setelah kuletakkan barang bawaanku ke dalam kabin kereta (emang kalo dikereta namanya kabin juga bukan ya? hehehehe..). Aku turun menjumpainya diluar, dan setelah berjabat tangan, berbagi sedikit cerita dan sapaan alakadarnya, aku mulai berpikir ulang dengan membanding-bandingkan, kenapa dulu mereka demikian terkesan beda dan eksklusif dikalangan pertemanan SMA kami ya? padahal jika kini kulihat dengan dekat dan berpikir lebih tenang, maaf mereka tak lebih baik atau lebih berhasil dari kami yang biasa-biasa saja,
dan bukan berarti kami sekarang sudah yang paling baik dan berhasil.
.

Walaupun begitu, aku sangat menghargai sikap baik kawan itu tadi yang setelah melewati masa sekian tahun dengan minim komunikasi, dia masih mau menyapa dan bersikap ramah, seolah dulu pas jaman SMA, kami cukup berteman baik. Aku juga tidak sebegitu teganya untuk membalas sikap ramahnya dengan cara yang menunjukkan kesan balas dendam atau luapan emosi kebanggaan yang tidak pada tempatnya. Semua berjalan biasa, obrolan santai tentang perjalanan kuliah, pengalaman di tanah rantau dan pencarian kerja membuat aku cepat menanggapai dan menyesuaikan diri. Melihatku bersikap dengan baik pun, mungkin dia menjadi semakin ramah.

Sampai akhirnya obrolan kami menyinggung tentang masa-masa pendidikan SMA kami tahun 2002-2004 silam...

Aku coba beranikan diri bertanya:'kenapa kalian dulu terkesan demikian beda, ekslusif sehingga membuat banyak orang enggan mendekat atau berteman dengan kalian?' dan 'memang apa bedanya kami dengan kalian? apa sih yang kalian sombongkan sebetulnya? g ada bedanya kita ini, sama aja.' Kawan itu diam sejenak (mungkin mengiyakan dan merasa dalam hati) lalu balas menimpali dengan mengatakan bahwa secara pribadi masing-masing sebetulnya ia tidak pernah merasa demikian namun karena kelakuan satu atau dua orang didalam lingkaran pertemanan mereka saja lah yang membuat julukan itu melekat kuat ke image setiap mereka. Ada rasa malu dan kesungkanan dalam nada bicaranya, dan ia tetap bersikap ramah. Aku hargai itu.

Lalu saat menuliskan postingan ini saya sambil berpikir. Siapa kita yang merasa diri berbeda, lebih unggul atau lebih hebat dari orang lain??? Siapa kita yang selalu tanpa sadar bersikap seolah berstatus sosial lebih baik??? Kita bahkan bukan siapa-siapa, belum memiliki apa-apa dan memang tidak akan pernah memiliki apa-apa selain hanya amanah dari ALLAH.SWT. Karena saat kelak kita menjumpai ajal, maka hanya amal sajalah yang akan paling setia menemani, sementara harta akan tinggal, pangkat akan dilepas dan kecerdasan akan tiada berfungsi lagi.

Terima Kasih

Read more »

8.26.2010

Road To Devotion


Hari ini, 26 Agustus 2010, what is it so special about that? Nothing! Tapi ditanggal itu, 6 tahun lalu saya diantar oleh Ubak (panggilan ayah didaerah saya) dan dua orang saudara saya untuk bersekolah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Prodip I Pajak. Waktu itu ada cuplikan obrolan antara aku dengan Ubak , seperti yang ku posting disini.

Berarti sudah 6 tahun aku di Jakarta, insyaALLAH mungkin bisa 7 tahun sampai selesai kuliah tahun depan 2011 akhir. Postingan ini adalah review dan sedikit perbandingan antara hidup di kota Jakarta sama jika kalau aku lebih memilih hidup dan kerja di tanah kelahiran ku, Baturaja. Well... Jakarta, apapun sudah tersedia, asal ada duit semuanya bisa didapat dengan mudah. Mau pintar? Tempat kursus ada, toko buku banyak, forum-forum musiman buat diskusi juga banyak, pameran juga rutin..yahh asal kuat bayar aja. Mau Hedon? Tempat hiburan tengah malam juga banyak asal kuat duit buat begadang sama kongkow-kongkow aja. Ibaratnya, kalau sudah punya duit di Jakarta ini, sama seperti berdiri didepan pintu, yang satu ke upgrading diri dan yang satu ke pseudo-happines buat diri juga.

Bagi yang punya cita-cita buat sekolah tinggi (insyaALLAH aku masuk di kelompok ini), investasi intelektual masa depan, maka Jakarta jadi tempat yang sangat cocok. Karena di kota metroploitan ini (apa sudah megalopolitan ya??) banyak akses informasi dan kesempatan. Aku sendiri sering menghadiri pameran pendidikan luar negeri yang diadakan di ballroom hotel hotel di jalan protokol atau di Jakarta Convention Center. Kesempatan menambah ilmu juga banyak, setahun lebih aku mengikuti kursus Bahasa Inggris, Conversation dan TOEFL Preparation, hasilnya lumayan buat bekal baca buku Bahasa Inggris atau nonton film bikinan negara Uwak Sam (US) atau bisalah dimanfaatkan untuk ngobrol atau ngeblog dengan Bahasa Inggris. Hehehe.. belum lagi keberadaan suatu klub bahasa inggris yang aku ikuti sampai sekarang, Toastmasters, benar-benar banyak membantu.

Jangan kita ngomongin tempat hiburan dikota ini, tidak akan selesai dengan hitungan jari. Mulai dari yang sekedar taman tempat duduk santai sampai tempat duduk gemetar (dugem) ada disini. Mall terus dibangun seperti tak pernah cukup, Gedung-gedung pencakar langit makin berdiri tegak mengangkangi terik siang dan dingin malam ibukota (anjriittt lebay banget bahasanya hahahahha). Dan saat tengah malam maka Jakarta itu seperti yang dideskripsikan dalam puisinya Gie :'lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya'. Antara eksotis, angkuh dan dingin namun tetap membuat betah penghuninya untuk tetap tinggal, karena di siang hari, keheningan itu berubah menjadi hiruk pikuk tuntutan bisnis dan urusan, kelap-kelip lampu itu berubah menjadi silau terik cahaya kendaraan yang melaju kencang.

Betahkah kamu tinggal di Jakarta? Itu pertanyaanya sekarang, jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Iya disini bukan berarti tanpa alasan, bisa jadi karena memang tidak ada pilihan lain untuk mencari makan dan memberi nafkah, maka seorang pegawai tetap bertahan di kota ini sambil menahan rindu pada keluarganya. Atau Tidak disini karena memang ada celah lain untuk keluar tanpa mempertaruhkan kelayakan hidup. Aku sendiri, setelah 6 tahun belakangan ini mulai mempertimbangkan untuk cabut dari Jakarta. Bosan. Mahal. Padat. Itulah alasanya. Selain juga karena memang rasanya Rupiah-rupiah yang bisa aku dapat, akan lebih berguna jika bukan di kota ini, ada banyak yang bisa disimpan/dihemat atau digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat daripada untuk membayar kontrakan bulanan, uang ongkos perjalanan kesana-kemari, makan tiga-kali sehari dan hal lainnya.

Namun siapkah aku meninggalkan keunggulan yang ditawarkan ibukota ini? Ya jika memang itu resikonya, sebaiknya aku harus siap. Bahkan dengan resiko yang paling buruk, yaitu kehilangan akses informasi dan kesempatan akan pendidikan. Tapi aku yakin satu hal, bahwa ALLAH.SWT melihat kerja keras dan mengetahui keinginan yang tesimpan didalam hati hambaNYA. Di Baturaja mungkin aku tidak lagi menjumpai pameran pendidikan luar negeri atau forum English Conversation yang menawarkan link/channel ke hal lain yang lebih besar, tapi semangat ini tidak akan padam, telah tertanam didalam pikiran dan tidaklah seorangpun atau kondisi yang bagaimanapun bisa menghapusnya. Seperti dulu saat jaman SMA, setiap waktu ku ku habiskan dengan belajar, begitu juga nanti, bisa aku manfaatkan waktuku untuk belajar bahasa inggris secara mandiri, dan persiapan untuk materi yg lain pula yang diperlukan. Karena recananya aku ingin melanjutkan sekolah di kampus ini lagi di jenjang Prodip IV.

Berencana memang tidak menjamin masa depan yang sama persis seperti yang kita inginkan bisa terwujud, tapi dengan berencana, hari-hari kedepan sudah siap dihadapi dan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat yang makin mendekatkan diri pada gambaran yang diinginkan. Baturaja bukanlah Jakarta, beda jauh malah. Tapi Baturaja nampaknya mulai menawarkan jalan dan kesempatan yang lebih wajar bagi ku untuk memperbaiki, menebus dan mewujudkan banyak hal. karena ini semua bukan melulu tentang ku tapi juga tentang cinta, hubungan darah dan keluarga. Di Baturaja, ritme kehidupan berlangsung lebih lambat dan ini bukan berarti aku kalah dan manja. Aku cuma sedang ingin mengambil kemungkinan dalam satu kesempatan, yaaa.. mana tahu bisa terwujud.

P.S:
-----
Poto diambil di Pulau Tidung saat liburan bersama kawan-kawan sekelas, dipoto itu saya bersama penduduk setempat yang terjun dan berenang bareng dari satu jembatan dipulau tersebut.

Read more »

8.24.2010

Bertahan Dan Berjalan


Jika aku bisa melesat masuk kedalam jiwa dan tubuh ku sendiri, rasanya aku ingin masuk mengarungi ke dalam belantara sel saraf otak dalam kepala ini, tujuannya simpel yaitu mengangkat slot yang berisi kenangan buruk yang kadang aku sesali bila teringat atau memangkas ingatan tentang suatu episode yang pernah aku jalani.

Tapi itu tidak bisa terjadi...

Mengutip dari tulisan seorang Dee, dalam karyanya Perahu Kertas, benar adanya bahwa kadang kita berputar-putar menjadi sesuatu yang bukan kita untuk akhirnya kemudian menjadi diri kita sendiri. Berputar-putar disitu bukanlah enak, dalam putaran itu kita bingung, limbung, linglung dan akhirnya diam mematung (halah bahasanya hahaha..). Banyak benturan yang dihadapi dalam masa pencarian itu, kadang aku merasa sudah menemukan namun seiring berjalan waktu, aku mulai sadar bahwa 'sesuatu itu' bukan hal yang sebetulnya aku cari, aku makin sadar bahwa aku berada ditempat yang aku tak seharusnya.

Aku memang bisa melihat bintang dengan siapapun dari segala arah, dan bintang itu adalah bintang yang sama walau aku melihat dari sudut yang bagaimanapun. Namun benarkah aku melihat bintang itu dengan orang yang tepat? Aku mulai berpikir bahwa tidak ada orang yang benar-benar jahat seperti iblis, atau sangat baik seperti malaikat. Tapi paling tidak aku mulai tahu bahwa ada orang-orang yang kepada mereka aku layak memberikan yang terbaik yang aku punya, sementara yang lain? mereka mungkin tidak jahat, namun aku tidak mau mencintai dan mendedikasikan hidupku untuk orang yang bukan haknya. Mati sia-sia, percuma. Terdengar sempit mungkin, tapi realistis. Bukan berarti ini tentang menjadi egois dalam kehidupan sosial, tapi ini tentang hal agar kapal terus berlayar dan bertahan sampai berlabuh di dermaga.

Kata seorang kawan:'tak perlu merasa bersalah atas hati-hati yang lain, bahkan kau hanya punya satu hati'. Well, aku mungkin tidak akan berubah namun bagaimana aku menempatkan orang-orang dalam prioritas di hati ini sudah seharusnya berubah karena mohon maaf aku hanya punya satu hati, tidak cukup kalau kuberikan ke semua orang. Selain karena memang aku bukan Malaikat apalagi Nabi. Menyesali yang telah lalu sudah tidak mungkin lagi, sudah tak ada gunanya lalu sebaiknya tertawakan saja.. kemudian berlari menyendiri untuk menemukan jalan pikiran yang baru.. kedepan nikmati saja hidup ini dan menjalani hal-hal yang makin mendekatkan diri pada cita-cita. Semacam Road Map yang bisa dijalani agar kedepan bisa lebih jelas apa yang sebaiknya dilakukan.

I know now what it is worth figthing, that is Family...

Read more »

8.07.2010

Deru Jalanan Waktu


Kita terus melaju dalam deru yang tertuntun waktu. Tertawa dan bercerita seperti waktu akan terus berpihak pada kita. Tapi aku harus ingat bahwa kita akan tiba pada suatu masa yang sudah kita ketahui bersama. Kalian akan ada pada jalan kalian dan begitupun aku. Kita akan menemukan kompas kita masing-masing. Everything changes, everything turns, and i will be going on my way.

Kawan, tidak banyak waktu kita untuk bisa bersama-sama dan untuk setiap masa-masa bersama kita itu, aku cuma ingin berbuat baik kepada kalian, agar setiap waktu yang sedikit itu bisa terisi dengan hal-hal baik yang tak perlu diingat-ingat. Aku dan kalian sama, sama-sama sekedar saling dipertemukan dalam ketersinggungan masa yang kini sedang kita jalani.

Terlalu banyak sifat burukku yang jika kuperturutkan hanya akan membuat masa yang sedikit itu cuma akan terisi dengan torehan emosi, timbunan amarah dan tatapan benci. karena mungkin aku hanyalah seorang labil yang berpura-pura dewasa atau seorang penakut yang berpura-pura berani. Namun dipertemukan dengan kalian membuatku belajar banyak dan harus banyak belajar.

Kalian bukanlah angin yang berhembus tanpa pernah dianggap, atau garam dilautan yang tak pernah diperhitungkan, karena ada maksud untuk setiap pertemuan, ada hikmah untuk setiap kejadian, tak ada yang kebetulan. Mungkin beberapa bulan, tahun, belasan atau puluhan tahun lagi baru kita akan melihat sesuatu yang melemparkan ingatan kita melesat ke masa-masa sekarang saat kini kita sedang dipertemukan dalam masa yang sama. Dan kalaupun ternyata tidak, bisa saja hal-hal bermanfaat yang kita dapat dari pertemuan ini akan terus terbawa tanpa sadar sampai nanti, mungkin sampai mati.

Aku tidak bisa berbuat baik dengan baik ke semua orang, tapi berbuat baik kepada kawan-kawan yang membuat aku merasa ada atas kebaikan kecil yang aku lakukan adalah tak ubahnya seperti membalas hutang budi yang tak terbilang dengan gelar Rupiah. Aku tak bisa mengingat semua wajah yang singgah dalam kehidupanku, namun aku tak akan bisa lupa dengan kawan-kawan yang telah membuatku merasa ada dan berguna. Hah, aku seperti orang yang hadir dengan self-concept yang rendah. Mungkin benarlah begitu, bukankah langkah awal memperbaiki diri itu adalah dengan mengakui?

Too often of being trapped in a not-knowing-what-to-do condition but i just have a little faith, and i keep it. I will make a choice where i may lost many things, but i can get my everything to be back, my life, my family.

Read more »

7.16.2010

Lemari dan Lorong Misteri


Waktu aku kecil, kakakku sering menakuti-nakuti ku bahwa itu didalam lemari di ujung ruangan kamar tidur kami, ada hantu wanita berambut panjang, berbaju putih dan bermata pucat, aku merinding menutup muka rapat-rapat membenamkan wajahku kedalam bantal sementara kedua kaki kutekuk tajam menempel ke sikut kedua tangan ku.

Lalu, dengan sekuat tenaga dia menyeretku, memaksa menarik bantal yang membuat mataku hanya bisa melihat gelap pekat. sampai akhirnya dengan bersemangat dia menunjuk ke lemari itu dan berkata:'lihat... tidak ada apa-apa kan!!!!!!!!!!' begitulah dan secara tidak langsung dia menjadi orang pertama yang membuatku paham bahwa rasa takut itu tidak nyata dan segera hilang saat aku berani atau dipaksa menghadapinya.

Namun sekarang, begitu aku menginjak hampir usia pertengahan kepala dua sang hantu wanita berambut panjang, berbaju putih dan bermata pucat menjelma lebih sadis, lebih nyata. Ia tidak lagi muncul sebagai bayang ketakutan semu ku yang tersimpan di dalam lemari kamar waktu aku masih kecil, namun lebih jauh itu. Kini aku dihadapkan pada puluhan bahkan ratusan lemari misteri kehidupan yang didalamnya sang hantu itu benar-benar ada, muncul dalam beragam bentuk dan rupa dan harus aku hadapi sendiri.

Lemari-lemari itu berjejer rapi sepanjang lorong perjalanan menuju apa yang aku cita-citakan. setiap satu lemari aku buka, maka dari dalamnya akan keluar suatu hal yang sama sekali baru bagiku. kadang aku menikmati hal itu, namun terlalu lama sampai akhirnya aku sadar bahwa hal itu hanyalah pelangi yang sesaat menawan lalu kemudian hilang, padahal disaat yang sama aku belum puas. Kadang aku cukup lama terbenam dan lupa bahwa sebetulnya aku sedang ada didalam lorong menuju suatu cita-cita. Butuh waktu untuk bisa sadar dan berdiri kembali serta melupakan apa yang telah pergi.

Suatu kali ada pula lemari lain yang terjajar pada suatu titik yang paling gelap diselasar lorong itu. Aku penasaran dan aku buka. bukan isinya yang keluar justru malah aku yang melesat masuk kedalamnya, ditarik entah aku sadar atau tidak saat itu. Tapi yang pasti didalamnya, aku sulit menceritakan apa yang aku alami, persis bingung. Namun bayangkan saja ketika kedua kaki kita diangkat sementara kepala kita dibawah, semua yang bisa kita lihat menjadi terbalik dan belum lagi mual dengan itu semua, tiba-tiba isi perut kita dikocok dan dikeluarkan lalu diperlihatkan dihadapan mata kita sendiri. Bingung. Malu. Terpojok. Marah. Diam. Begitulah kira-kira. Lalu dalam hitungan detik aku terpental keluar dan duduk bingung di lorong itu tadi sambil menatap lemari aneh yang satu itu.

Kali ini semuanya menjadi lebih berat, lebih berat daripada saat aku kehilangan satu hal di lemari yang lain sebelumnya. Berkacapun aku malu. Didalamnya itu tadi entah apa yang telah aku lakukan sampai isi perutku dijejerkan mentah-mentah dihadapan mataku sendiri. Kali ini, dengan linglung aku terus berjalan dan setelah beberapa waktu, aku melihat sesuatu yang lain lagi, sesuatu yang bersinar yang membuat ujung lorong ini tak nampak. Makin dekat, cahayanya makin pekat. Silau. Dan aku dapati bahwa itu adalah cahaya sebuah lemari yang lain. Lemari ini bercahaya, dan ketika aku buka, aku belum sempat sama sekali masuk kedalamnya, tiba-tiba keluar sejumlah manusia, beberapa mereka ada yang keluar sambil tertawa, bernyanyi atau hanya diam. Namun semua wajah mereka sama, satu wajah satu rupa. dan aku melihat wajahku ada pada mereka..

Aku tidak percaya dengan yang sedang aku lihat.. aku melihat aku sendiri dengan berbagai rona muka dan pembawaan, namun aku yakin itu semua bukan aku. Aku ini disini sedang melewati lorong kehidupan menuju cita-cita, melangkah penuh semampuku melupakan semua yang sudah terlewati. lalu siapa mereka???? Ah, jangan-jangan mereka hanyalah seperti pelangi yang pasti hilang bila aku berlama-lama melihat mereka. Lalu aku adalah bumi yang terus berjalan seiring nafas cita-cita yang aku bisikkan dalam hati.

Lorong kehidupan ini masih panjang.. masih banyak lemari lain yang didalamnya penuh kejutan dan tantangan. mereka nyata dan ada lalu kami berada dalam satu dimensi dunia yang sama. Dan aku tidak perlu merasa takut menghadapi itu semua. Bukan seperti sang hantu wanita berambut panjang, berbaju putih dan bermata pucat yang hanyalah ketakutan yang hilang tepat disaat kakakku menarik bantal yang membenamkan mukaku. Dan kakakku telah menjadi orang pertama yang menunjukkan padaku bahwa rasa takut itu tidak nyata dan segera hilang saat aku berani atau dipaksa menghadapinya.

P.S:
----
i just got inspired to post this, after watching Prison Break, when Michael Scofield put himself into Jail to save his Brother, Lincoln Burrows from death sentence for the mistake he didn't do.

Read more »

7.08.2010

Jelang Final WC 2010


Saya kecewa saat Argentina terseok-seok akhirnya kalah tertinggal 4 gol dari Jerman dalam partai hidup mati memperebutkan tiker ke Semi Final. Messi yang dielu-elukan hanya bisa sedih atas kekalahan pahit itu, namun apa daya.. Kau harus bisa moved on, Mess!! Don't cry Argentina!!
(hahahahha kayak ngomong sama kawan sendiri ya.. *sok akrab*)

Saya kembali kecewa saat Uruguay dilibas Belanda 3-2 dalam partai yang lebih menggigit, hidup mati menuju final! tapi paling tidak Uruguay pulang dengan kepala tegak bangga, karena bisa menampilkan permainan yang tidak membosankan, mengejar ketertinggalan bahkan menjelang menit-menit terakhir sekalipun!! Rasanya jadi pengen jalan-jalan ke Montevideo merasakan kebanggan tumpah ruah di sana..

Namun, semua kekecewaan itu terbayar saat Jerman terjungkal dari dalam pertarungan melawan Spanyol menuju Final!!! Horee.....Horee....Horee....!!!! Spanyol.. ayo sandingkan gelar WC dengan Piala Euro nya!!! dan Thanks Spain for making me sleep deeply last night!! :D

Yahhh... cerita diatas cuman sekedar pengantar bahwa intinya saya tergila-gila dengan tim dari Amerika Latin, dan kurang bersimpati pada negara-negara yang punya kuasa memegang tata kelola dunia ini, maka dari itulah saya senang saat Jerman terjungkal keluar gagal ke Final!! Apalagi saat Amerika Serikat kalah dari Ghana.. hahaha.. rasanya saat itu saya ingin sampaikan kepada negara penguasa itu bahwa benar mungkin hanya di dunia Sepak Bola, keajaiban dan kesempatan bagi negara-negara yang dianggap kelas dua bisa mengalahkan hegemoni kuasa mereka.

Namun apa mau dikata, hanya Uruguay yang mampu menjadi wakil Amerika Latin dalam putaran menuju Final, sampai akhirnya terhenti oleh Belanda yang akan bertemu dengan Spanyol di partai Final.

Di Final ini, saya menjagokan Spanyol dengan beberapa alasan, utamanya karena saya mendukung misi Spanyol untuk menyandingkan gelar juara Euro dengan juara World Cup, kemudian juga karena Spanyol memiliki pola permainan yang tidak eksplosif namun efektif (seperti yang dituturkan oleh DetikSport) dan saya setuju dengan ini, kalau dilihat sekilas ketika dilapangan tim Spanyol bermain dengan sangat sabar dan fokus. Mental lapangannya sudah terbentuk untuk menguasai medan.

Sementara Belanda? Personally, saya simpati dengan negara ini, WC 2010 ini menjadi pencapaian yang paling prestisius negara yang dulu pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Buat saya Belanda sudah menang secara pencapaian posisi, namun belum secara mental karena belum ada pengalaman merasakan partai final. Tapi tehnik permainan Sjeneider dan Robben membuat Belanda bisa saja membuka peluang mengimbangi Spanyol. Belanda bermain dengan kompak atas nama Tim, walau belum sesolid Jerman. Paling tidak menurut saya ya hahahha.. :D

Walaupun begitu, Bola itu bulat, tidak bisa diterka. Ingat saat Italy, Perancis dan Inggris tersisih lebih awal? Nama besar dan tim yang bertabur bintang ternyata tidak bisa menjadi jaminan kemenangan. Ada motto yang paling saya ingat dalam dunia sepak bola 'Football for unity', begitu katanya. Jadi sebetulnya kalau begitu tak masalah siapapun yang menang dan siapapun yang harus pulang lebih dulu. Karena kalau dicerna baik-baik maka setiap tim tampil atas nama Unity bukan atas nama negara ini atau itu.

Tapi sayangnya penerapan makna filosofis atas slogan itu sepertinya jauh panggang dari api, didunia ini, tata kelola dunia yang katanya dipegang oleh PBB sebenarnya hanya permainan negara dengan kepemilikan hak veto , terutama Amerika Serikat dengan berbagai kepentingannya. Negara yang dianggap sebagai Polisi Dunia tapi belum bisa mengambil tindakan tegas atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Hahaha.. untunglah Penentuan Kemenangan dalam pertandingan Sepak Bola ini ditentukan di lapangan, bukan dari pilihan juri seperti acara Miss Universe yang ada saban tahun, kalau iya mungkin kekuasaan negara pengusa itu akan menyetir siapa yang akan menjadi pemenangnya seperti dianalisa oleh seorang kawan yang tulisanya pernah dimuat di sini. Jadi di dunia Sepak Bola saja, nampaknya hanya bisa makna manis 'football for unity' itu bisa dilihat.

Ahhh.. sudah aahh.. malah bahas ini saya jadinya :). Mending tetap fokus mendukung Spanyol, merindukan sundulan Fayol saat menggasak Jerman kembali berulang! Melihat serangan David Villa atau Fernando Torres!!! Lalu melihat sang piala diangkat tinggi-tinggi dengan penuh kebanggan dalam atmosfer kemenangan!! Agar dunia tahu bahwa masih ada tempat bagi negara manapun didunia ini untuk berkiprah dipanggug internasional tanpa intervensi berbagai kepentingan negara adidaya, dan mungkin suatu saat Sang Garuda kan terbang gagah ke perhelatan itu, amin!!! :D

Salam,
EBAZ _Erikson Bin Asli aziZ_

Read more »

6.26.2010

Di Balik Langit BSE


Jujur saja untuk postingan kali ini aku berterima kasih banyak dengan seorang bloggerwati karena setelah berminggu-minggu dengan kepala yang mampet dan miskin ide, akhirnya inspirasinya datang setelah membaca salah satu postingan beliau, silahkan baca saja langsung ke blog ybs yang diposting kira-kira dua minggu yang lalu.

aku baru sadar, rupanya sudah hampir sebulan lebih tidak update BSE, dua minggu di awal bulan Mei sibuk dalam pergulatan Ujian Akhir Semester, dilanjutkan dengan acara pulang kampung selama hampir dua minggu dan akhirnya. Terus sisanya? iya 3M lah disingkat: Males, MiskinIde dan Malasnulis :D hehehehehe...

Walaupun begitu, bukan berarti semangatku dalam blogging hilang. Masih ada kok, kusimpan dan kujaga selalu, karena menulis itu bagiku adalah aku dalam bentuk kata-kata. Sebelumnya ada kabar baik ini, kemaren dari hasil Ujian Semester Akhir, setelah hampir sebulan menunggu, akhirnya hasilnya sudah diumumkan, Alhamdulillah aku lulus dengan IP 3,54 dan berhak melanjutkan pendidikan ke semester berikutnya. Hasil ujian yang diwakilkan dalam bentuk angka keramat bagi mahasiswa, yaaa.. begitu kata nya.. MySpace

Kalau kawan2 membaca postingan bloggerwati yang menginspirasiku itu, pastilah ada kata langit yang dijadikan kiasan dalam artian yang lebih luas maksudnya. Bloggerwati kenalanku ini memang pandai menulis, mungkin jika ia kelak bernasib bagus, ia akan berdiri sejajar dengan Dee. Aminnnn... MySpace Dan ini tidak berlebihan, aku sering berkunjung ke blog dia dan aku juga lumayan banyak baca tulisan Dee. 11-12 lah selisihnya..

Tentang Langit...
Pernah dengar lagu nya Peterpan yang berjudul Taman Langit? Kenapa mesti Peterpan? apa karena sekarang lagi rame-ramenya kasus vokalisnya? Hahaha.. bukan soal apa-apa, kebetulan yang aku ingat cuma itu, ya itulah jadi yang kutulis.. Kalau kita coba terjemahkan sedikit maksud dalam lagu itu mungkin adalah tentang kenyataan bahwa seorang itu punya kehidupan sendiri-sendiri, jadi langit merekapun sendiri-sendiri. Persis seperti yang disampaikan dalam postingan bloggerwati kita itu "Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku bisa menjunjung langitku sendiri" dan "...Kau hanya sedang tersilau oleh cahaya matahari yang menghalangimu melihat birunya langit. Percayalah bahwa kau bisa menjunjung langitmu sendiri...."

Dan Kini Langitku... MySpace
Langitku adalah perjuanganku dan keluargaku. Hanya dua itu saja kini. Dan sebaiknya hanya kepada dua itu aku serahkan semua perhatian dan keteguhanku. karena dua itu lah yang kelak akan selalu ada mendampingi hari depan ku. Bukan aku tak percaya dengan apapun diluar itu. Aku hanya takut silau dan lupa akan langit ku sendiri. Dan akan lebih aku takutkan lagi jika rupanya tak akan ada satupun yang mau menuntunku menemukan jalan untuk mendapat menjunjung langitku sendiri kembali. Seperti dulu, di suatu saat ketika masaku bersinggungan dengan dunia mereka diluar naungan langitku. Aku tahu aku mampu, dan aku lebih kuat dari yang aku tahu sekalipun. (sekali lagi untuk kata-kata ini aku kembali ucapkan terima kasih buat kawan bloggerwati itu hehehehe..)

Lalu Ada Mereka...
Aku kira aku kuat sendiri menjunjung langitku, Iya aku kuat memang. Tapi, suatu kali aku pernah merasa lutut ini seakan terus tertunduk lesu hampir mencium bumi. Disaat itu mereka hadir, mereka hadir seperti angin yang memberi kesegaran yang berbeda, kesegaran yang menguatkan. Namun mereka tetaplah angin, mereka tidak akan mantap selalu dibawah langit yang kujunjung, karena angin adalah udara yang bergerak. Maka mereka akan terus bergerak lalu berhenti dibawah langit mereka sendiri. Tapi mereka pergi dengan ucapan terima kasih yang kusematkan dalam setiap sela ikatan antar partikel mereka yang berongga. Membuatku sadar bahwa bagaimanapun mereka dan aku punya langit yang berbeda. Sesekali kami akan tetap saling melewati naungan kami satu sama lain, meninggalkan kesegaran yang menguatkan lalu kembali bergerak agar tak tertahan silau yang melenakan. MySpace

Perjuanganku adalah menjalani apa yang kini ku hadapi dengan memegang prinsip teguh yang tak akan luntur oleh pemikiran-pemikiran pragmatis yang mencari aman dan tanpa identitas. Perjuanganku juga adalah keberanian untuk menjadi beda walau harus melawan arus, karena apa yang ada dalam kepalaku akan kugapai dengan cara yang ingin kunikmati tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Dan semua ini bukan untuk ku sendiri saja, tapi juga untuk keluargaku.

Read more »

5.29.2010

Simpan Saja Dalam Buku


Ada kawan ku yang membuat buku untuk menghadiahi ayahnya ketika sang ayah berulang tahun beberapa bulan lalu... salut dan bangga melihatnya :D !! dan dikatakannya bahwa ayahnya terharu lalu speechless!

Ada juga kawan ku yang mengabadikan kecintaannya terhadapa bahasa daerah kampung halaman saya, yaitu bahasa Ogan dengan membuat Kamus Indonesia-Inggris-Ogan... It is amazingly so cool!!!

Buku ya.. Buku.. cuma sebuah kata yang terdiri dari empat huruf tapi isinya... semua tahu bahwa kadang seisi dunia inipun hampir bisa dirangkum dalam wadah empat huruf itu. Hebat. Memang begitu adanya. Katakanlah misalnya biografi Nabi Muhammad SAW mulai dari saat beliau lahir hingga beliau meninggal, rentang waktu sekitar 60 tahun itu terangkum dalam sebuah buku setebal hampir 800 halaman yang dikarang oleh Muhammad Husain Haikal.

Atau Perahu Kertas, sebuah novel ringan tapi penuh isi yang ditulis oleh Dee ini, separuh kehidupan tokoh Kugy dan Keenan ada didalam lembaran kertas buku novel itu, sama seperti Into The Wild-nya John Krakauer tentang hidup seorang Christopher Johnson McCandless, kenangan tetang live-off-the-land adventure nya tersimpan disitu, membuat kenangan kisah hidup tokoh bernama Kugy, Keenan dan Christopher bisa hidup sampai sekarang.

Sekali lagi kalau begitu, sebuah buku itu cukup hebat untuk menyimpan kenangan, dan tak cukup sampai disitu saja. Bagi seorang penulis maka buku adalah wujud kreatifitasnya, bagi seorang adventurer maka buku adalah bukti nyata petualangannya, dan lain lagi bagi seorang yang introvert maka buku adalah sahabat akrab yang paling tau apa isi kepala dan hatinya. Namun jika semuanya di gabungkan maka buku adalah wujud sebuah eksistensi tentang suatu cerita yang pernah ada dan hidup dalam kehidupan seseorang baik itu nyata atau sebuah imajinasi. Buku menyimpan semua itu, yang nanti akan bercerita kepada generasi mendatang bahwa sang penulisnya pernah ada dan hidup serta mengalami apa yang ia tulis.

Kalau begitu kini aku sedang berbicara tentang menulis sebuah buku...karena menulis buku itu kadang menjadi bukti adanya sisi humanis seseorang yang tidak terlihat jika sekilas, seperti apa yang dilakukan seorang Mantan Bareskrim Susno Duaji untuk membela dirinya dari segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya terkait dengan kasus Century, persis sama seperti yang dilakukan Wapres Boediono ketika gelombang tuduhan antek neoliberalist tertuju kepadanya. Bahkan salah satu Presiden USA pun menuliskan memoar tentang dirinya sendiri dengan judul Dreams From My Father. Bagaimanapun setiap orang punya cara yang berbeda untuk mengekspresikan diri, salah satunya adalah dengan menulis Buku.

Sulitkah kemudian untuk menulis buku? Yang pasti semua pasti semua orang pasti bisa menulis,termasuk aku. Tidak peduli apakah bagus atau tidak tulisan itu, karena kalau kita berbicara tentang kreativitas maka tidak ada satu orang pun yang boleh mencela atau memandang rendah tentangnya, karena kerativitas itu ibarat balita yang belajar berjalan, sesekali jatuh dan kemudian tersungkur untuk seterusnya bangkit lalu berjalan dengan lincah. Aku juga sebetulnya ingin menulis buku, sudah jalan malah.. baru satu bab, tentang apa? tentang salah satu bagian kecil kehidupan ku, tujuannya tidak muluk-muluk, ya itu tadi sebagai wujud eksistensi diri saja. Jadi kelak aku tetap bisa ingat bahwa aku juga adalah manusia yang bisa berkarya, berekspresi dan mengenang kembali sisi humanist ku yang aku tulis di buku itu.

'kalo lo mau nulis buku, menurut gua ya sekarang waktu yang tepat!!!' salah seorang kawanku berkata seperti itu pada satu malam saat kami dalam perjalanan untuk mendaki gunung di Jawa Barat. Diceritakan alasan dan pikirannya lalu aku lihat ada benarnya juga, dengan pemikiranku sendiri aku menambahkan bahwa setiap waktu adalah waktu yang tepat untuk berkarya, karena makin lama dibiarkan maka ide itu akan mati, Ideas without action is worthless.

Mungkin sebaiknnya aku mulai saja menulis sebuah buku.. bukan untukku, bukan untuk mereka tapi untuk eksistensiku didunia ini..

Read more »