7.29.2011

Dan Drama Berlanjut.


Aku tertegun didepan monitor laptop ini, bingung mau memulai dari mana, semuanya sudah begitu jelas ketahuan, namun mereka berdatangan dari segala arah membuat imajinasiku seperti terkunci dalam hingar bingar lintasan partikel memori yang membentuk kilatan cahaya bak komet yang menggurat warna keemasan di biru gelap malam. Tertunduk. Hening.

Aktifitas ku sehari-hari biasanya mampu menuntun rasio ini melompat jauh lalu membuat rasa-rasa yang seperti tidak penting ini sesaat terpendam didalam. Hanya sesaat, namun hari ini kerinduan pada beberapa orang yang mengalir dalam riak pertalian darah di nadi ku, demi apapun telah membuatku menyimpan dua wajah dalam satu ekspresi. Haru dan Rindu.

mereka lahir lebih dari lima puluh tahun yang lalu, tidak banyak orang yang tahu tentang siapa dia, selain tentu saja orang-orang yang hadir dalam kehidupan mereka yang kelak membawa kelanjutan kisah di mereka di masa depan

Cerita ini dimulai ketika di tahun 1920an seorang pedagang asli India yang tinggal di pesisir pantai Malabar, bernama PP Amo memutuskan untuk berlayar makin ke timur melintasi Teluk Benggala yang mengarah ke Laut Andaman menuju Selat Malaka. Tidak ada data pasti apa tujuan beliau mengarungi jarak sejauh itu, namun di zaman itu hal yang menjadi magnet utama adalah lalu lintas perdagangan yang begitu ramai, terutama di Selat Malaka yang lazim menjadi tempat persinggahan para pelaut atau pedagang dari seantero negeri. Jadi besar kemungkinan beliau adalah seorang pedagang yang mengambil resiko, mencoba peluang lalu meninggalkan negeri asalnya dengan berlayar. Hal ini bukannya tanpa alasan, karena kelak waktulah yang akan menjelaskan.

Beliau berpostur tinggi besar, mata besar dan hidung mancung, serta kulitnya coklat. Dan seperti lazimnya orang India, ia memiliki rambut wajah yang menambah kesan seram padanya. Seorang anak keturunannya menyebutkan bahwa beliau sempat singgah lama di pulau kecil bernama Temasek lalu meneruskan perjalanannya sampai menjejak tiba di Pulau Jawa, kala itu masih tahun 1920an. Garis takdir akhirnya sampai juga, disini ia berjumpa seorang wanita bernama Asyiah asal Kebumen, Jawa Tengah yang kemudian menjadi istrinya. Aku agak segan menerka-nerka mengenai dimana dan bagaimana mereka berjumpa. Yang aku tahu kemudian ia menjalankan aktifitas sehari-hari berdagang kain walau tidak lama, karena sempat terungkap cerita bahwa ia hendak mengajak sang istri pulang ke negara asalnya, India dan untuk melanjutkan hidup sebagai petani.

Sang istri menolak dan mungkin atas dasar rasa cintanya pada sang istri, ia mengalah dan akhirnya menetap di Pulau Jawa yang kala itu masih satu kesatuan dalam teritori Hindia Belanda. Kala itu negeri ini masih diwarnai isu rasial yang dimotori oleh Penjajah Belanda yang berupaya untuk mempertahankan dominasinya dalam strata ekonomi dengan membatasi jumlah non-Belanda yang berpeluang hidup layak dengan menjadi pedagang, karena dianggap suasana menjadi makin tidak kondusif, ia dan teman-temanya berinisiatif untuk berpindah mencari tempat dimana mereka bisa mencari nafkah dengan tenang. Selanjutnya, mereka makin terdesak ke barat sampai harus menyebrang ke Pulau Sumatera, yang dahulu di era jaman Pra Kolonialisme bernama Pulau Swarnadwipa atau Swarnabhumi dan menetap di sebuah wilayah jauh dari Palembang, yaitu Baturaja.

Di wilayah kecil ini, mereka yang berpindah dari Jawa, termasuk seorang PP Amo tadi tinggal menetap membentuk perkampungan bernama Kalam, yang kini dikenal dengan nama Desa Sukajadi, dari sinilah kehidupan seorang ia sebagai pedagang, sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai kakek dimulai. Kehidupan yang mungkin sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Ia meninggalkan India tanah kelahirannya dan menetap sebagai seorang pedagang kain di kota kecil di Pulau Sumatera. Berkat keahliannya dalam berdagang, ia akhirnya sukses bahkan sanggup membangun toko miliknya sendiri, yang ia namai dengan Toko Jakarta. Aku pernah mendengar bahwa sebelum memiliki toko ini, ia menyewa toko kecil sebagai langkah memantapkan rintisan usahanya, dan dimasa-masa yang tentu saja penuh perjuangan ini tepatnya tahun 1954 salah seorang putrinya bernama Rukiah lahir.

Ia begitu menyayangi anak-anaknya, pernah aku melihat poto ia dengan tiga orang putrinya, diambil antara tahun 1954-1956 terlihat postur gagah dan tegarnya begitu tampak jelas dipoto itu. Tampak salah seorang putrinya yang bernama Rukiah dalam poto itu memegang balon, tampak lucu, gemuk dengan bola mata yang nyaris menyamai sang ayah.

Istrinya, Aisyah adalah tipikal seorang perempuan Jawa yang tidak banyak bicara, dan setiap emosi entah senang atau sedih semuanya bicara dalam satu sikap yaitu Tangis. Ia adalah ibu bagi 10 orang anak-anak dari suaminya. Tak banyak yang bisa sang istri ceritakan selain sebuah figura besar berisi poto ia dan sang suami dalam seragam resmi yang sepertinya diambil sesaat setelah mereka menikah, di figura itu, ia nampak cantik dalam kebaya dan sanggul khas wanita Jawa, sungguh perpaduan yang tidak biasa, bagaimana tidak? Ia yang berkulit putih dan bermata sipit menjadi seorang istri yang berkulit agak gelap dan bermata lebar. Namun ya, jodoh hanya ALLAH.SWT yang tahu.

Sebagaimana kelaziman seorang istri di jaman itu, maka rutinitas rumah tangga adalah profesi mulia yang tidak akan mampu mengisi pundi-pundi uang bagi ekonomi keluarga tapi lebih dari itu adalah ketenangan kehidupan berumah tangga, karena menghadirkan suasana rumah yang merupakan atap bagi anak dan suaminya dalam keadaan layak dan memberi ketenangan. Begitulah Aisyah. Istri dari seorang PP Amo.

Kehidupan bagi keduanya makin menua, kini giliran tiba anak-anak mereka yang tumbuh dewasa, Rukiah adalah salah satu diantara mereka. Ia tumbuh dewasa menjadi seorang wanita berambut panjang dan berkacamata yang justru menjadi ia makin cantik, ia sendiri kemudian adalah separuh India dan separuh Jawa. Namun begitu, matanya yang lebar dan batang hidungnya yang mancung tidak akan membuat orang menyangsikan bahwa ia adalah putri dari seorang PP Amo, seorang pedagang tekstil dari India.

Dan begitulah, drama kehidupan pun berlanjut kisah kepada generasi sesudahnya. PP Amo dan Aisyah adalah dua orang yang telah mengalirkan darahnya kepadaku melalui anak perempuan mereka, Rukiah. Ibuku. Seorang separuh India dan separuh Jawa. Dan kemudian aku mewarisi seperempat darah sang pedagang India juga seperempat darah Jawa.

Read more »

7.28.2011

Sadari dan Jalani Saja.


Tidak semua orang punya prinsip, itu karena tidak mudah berpegang teguh atas prinsip tersebut, ada harga yang harus dibayar, yang paling murah adalah ketidaknyamanan, kekhawatiran dan kegelisahan. Ketiganya baru akan muncul bereaksi waktu dihadapkan pada keadaan yang membuat prinsip tersebut diuji.

Prinsip hidup itu banyak, tergantung urusan apa dulu yang dijalani, postingan ini aku buat mengenai urusan dalam mencari ilmu, prinsip ku dalam urusan yang satu ini dengan jelas aku buat dalam postingan inihhh..., dan makin kesini, aku makin paham bahwa hidup dengan memiliki sebuah prinsip itu menuntut adanya konsistensi sampai akhirnya indah pada waktunya.

Aku yakin tidak semua orang memiliki prinsip yang sama sepertiku, ada yang mirip atau bahkan berbeda sama sekali, itu semacam konsekuensi dalam kehidupan sosial yang membuat kita akan selalu terhubung dengan banyak orang karena berbagai urusan dan alasan, namun hal ini tidak boleh jadi masalah, karena perbedaan prinsip tidak boleh menjadi alasan untuk menarik diri, dan setiap orang pun sebaiknya tidak boleh terlalu memaksakan prinsipnya kepada orang lain, meremehkan prinsip orang lain dengan merasa prinsip nya paling benar.

Tapi kenyataanya adalah, aku tidak mungkin memaksakan agar seseorang dapat bertindak dan bersikap seperti yang aku mau, yang aku bisa lakukan adalah menyadari bahwa yang kini aku hadapi adalah sebuah tempat yang menguji seberapa tangguh aku dalam menjaga keyakinan akan prinsip yang sudah kupancangkan dalam-dalam sejak lama. Sekedar sadar saja tidak cukup tapi jika sudah sadar pun rasanya sudah sangat layak diapresiasi, sebab ditempat itu terjadi banyak kecamuk yang harus ditenangkan, mulai dari rasa amarah, takut, khawatir dan semacam perasaan tersingkir atau tidak dihargai lagi.

Bagiku, untuk sementara ini, memiliki kesadaran saja sudah cukup. Karena dengan jadi sadar, tidak ada lagi yang perlu aku cemaskan, takutkan atau khawatirkan, sebab aku paham esensi dari prinsip yang aku jalani, dan apapun yang mereka lakukan, mereka yang bersebrangan prinsip denganku, atau beda cara pandang atau pemahaman atau apa saja itu namanya, tidak akan merugikanku dalam berusaha barang sedikitpun, aku punya cita-cita tapi aku tidak mau cita-cita ku membuat ku menjadi orang yang ambisius dalam berusaha sampai menegasikan makna kebesaran ALLAH.SWT.

Lalu aku nikmati saja hari-hariku..

Read more »

7.18.2011

Kandang Badak, Pangrango Saja


Betis dan paha masih pegal dan sakit, tapi enak. Kok bisa?? Ya bisalah!! :D. Namanya juga manusia apa aja bisa. Gila.. sombong benar ah! hahahaha.. katanya sihhh apa saja yang bisa dipikirkan ya pasti bisa kita wujudkan. Cuman bagaimana dengan cerita dibawah ini! *tabuh genderang*

Malam tanggal 16 Juli dua hari yang lalu, aku dan ber tujuh temans baru turun dari puncak Gunung Pangrango (3019mdpl) setelah trekking 3 jam dari Pos Kandang Badak dan kembali turun ke Pos yang sama dengan waktu tempuh dari Puncak Pangrango sekitar 2,5 jam. Perjalanan menuju Puncak Pangrango ini cukup mengguncang emosi karena jalurnya yang memang meliuk-liuk apalagi kami dikejar hari yang semakin gelap, untunglah walau sudah menjelang magrib masih bisa juga menikmati Mandalawangi. Lembah dibelakang Pangrango, dengan dingin yang luar biasa, juga indahnya Edelweis yang anggun dan damai. *sok puitis*.

Begitu sampai di tenda dan istirahat sebentar alakadarnya seadanya secukupnya sewajarnya (bosen gak sih? :D) kami langsung menyiapkan kompor, nesting, logistik, air, dll. Kemudian tidak lama aksi memasak pun dimulai, diawali dengan merebus air untuk bikin minuman lalu masak nasi dan masak lauk utamanya. Aku membuat kopi nescafe rasa mocca sedikit gula dan halus kopinya (emosi gak sih bacanya :P) lalu menghirupnya dengan nikmat khidmat dan ahhhh kena banget sensasinya menghangatkan tubuh yang ditusuk-tusuk angin malam yang dingin tapi terang bulan jadi suasananya pas, tapi jangan dibayangkan cahanya remang-remang kayak warung remang-remang ya.. :)) *apasih*

Ini masih jumawa, baru turun ceritanya. Dan pas tiba acara makan bersama, TIDAK TAHU KENAPA perut ini jadi tiba-tiba hilang selera, mau makan tidak ada nafsu, tidak ada logika dan tidak ada perasaan, yang ada hanyaa... ahhh entahlah.. *mulai meracau*. Dan akhirnya setelah dibujuk dengan ucapan:

'pliss lu makan ya, kita udah capek jalan hari ini belum lagi besok pagi mau muncak ke Gede, jadi pliss lu makan dikit doang juga gak apa-apa...'


(Dalam hati aku bilang: memangnya nama aku Cuplis!) Jadinya masuk juga itu 3-4 sendok nasi sama lauk dan ujung-ujungnya tidur, dan setel alarm jam 02.45 am 17 Juli. Masuk sleeping bag urusan selesai, dan mari kita lanjutkan cerita hari esok, tidurlah nak.. hari sudah malam.. besok kau harus kembali berjuang. *ujar induk kancil kepada anak kancil yang tadi sore hampir masuk perangkap petani* :D. Tepat waktu alarm bunyi aku juga terbangun lalu langsung ngumpulin nyawa pakai jaket, bawa barang-barang yang perlu (headleamp, dompet, air minum, snack, jaket) dan iseng- iseng membangunkan kawan sebelah yang akhirnya ikut juga ke Puncak Gede.

Begitu keluar tenda, langsung diserang hawa dingin, parahnya lupa pakai kaos kaki, ah tidak apalah nanti juga kalau sudah jalan bakalan hangat sendiri, tapi ahh udah keburu disusul mual jadinya segera cari pegangan pohon kayu dan terjadilah muntahan bukan lahar di Pos Kandang Badak, bukan lahar tapi isi perut ku yang pas lewat mulut ini rasanya asam, pahit jadinya bukan nano-nano. Tapi itu aku belum nyerah, masih jumawa masih yakin bakalan bisa dan masih masih yang lainnya.. :). Sudah aku coba masukan dua sobekan roti tawar, tapi mental, minum air malah jadi mulas, ya sudah jalan terus saja. Tapi akhirnya belum ada setengah jam berjalan, muntahan lahar dari perut ku makin kuat mendesak muncrat mau keluar, dan akhirnya jebol juga pertahanan yang dari tadi aku jaga, dibawah terang bulan malam bumi Cibodas, aku terguling menahan perut sambil muntah dengan posisi kepala dekat dengan tanah. *muntah aja didramatisir*.

Tapi masih yakin aja bakalan bisa, setelah bisa tegak dan jalan lagi, sekitar 10 menit jalan mungkin, akhirnya mual tadi pindah keatas, tepatnya ke kepala alias pusing, tempat yang katanya membuat manusia bisa berbangga karena punya akal. Aku coba menenangkan diri bersandar dibawah pohon, menguasai diri, berpikir jernih. Tapi banyak ragunya daripada yakinnya, ragu daripada nanti merepotkan, ragu nanti dari pada malah sudah terlalu jauh jalan malah harus balik dan ragu karena diserang pertimbangan daripada daripada yang lainnya. Dan akhirnya:"AKU TURUN, MUNDUR!"

Begitulah, karena kesalahan tidak makan tadi malam, aku gagal menuju puncak Gede, hanya Pangrango saja, ada rasa kecewa, tapi sudah kejadian jadi percuma disesali, lain kali saja mungkin, toh tidak akan lari Gunung Gede dikejar, yaaa.. kecuali kalau tanahnya diuruk buat pelebaran komplek perumahan yaaa.. baru buru-buru kesana!

Andai kuulang waktu.. kukan kembali ke malam itu.. dan kan ku habisi makan malamku.. Ah.. tapi sudahlah, ALLAH tidak suka kalau terlalu menyesal, berandai-andai dan sejenisnya. :). Btw, itu potonya belum dikopi dari flashdisk temen jadinya yaaa.. yang pas saja dulu, yaitu BADAK! :))

Read more »

7.15.2011

Belum Ada Judul


Buatmu, terima kasih sudah memberi cinta, perhatian, dan sayang. Pria ini bukan mereka yang dengan mudah merasa layak dicinta, karena setiap orang punya kisah. Tapi ia juga manusia biasa yang tahu dan sadar bahwa ia juga ingin mencinta. Disatu waktu nanti semoga cintanya bertemu dalam semua rasa yang satu, di saat yang penuh restu.

Kau tahu, kehadiran mu sudah menjadikan hari-hari pria ini bukan sekedar hitam putih. Dan baginya hanya sebuah doa saja semoga kiranya Tuhan memberi dan merestui jua. Tinggi harapan dan keyakinan pria ini bahwa dirimulah yang ia tunggu-tunggu untuk menjadi pendamping menjalani hidup kedepan dengan segala lika liku yang menunggu.

Dan diatas semua itu, sampai sejauh ini, tidak ada yang lebih penting baginya selain rasa nyaman yang engkau ciptakan yang membuatnya merasa telah diterima apa adanya. Tanpa harus berpura-pura manis, baik, rapi atau sopan. Ia selalu tenang karena ia bisa menjadi dirinya sendiri setelah ia lelah berputar-putar menjadi dan menjalani hidup yang bukan dirinya.

Dalam diam.. di tengah hiruk pikuk dunia yang penuh ambisi duniawi ini, dihatinya ada gema suara kerinduan dan rasa cinta untuk mu, tempat bagi pria ini memberi rasa sayang, cinta dan perhatiannya.

15 Juli 2011, 01.47 WIB
Rembulan Penuh malam ini, sayang.

Read more »

7.13.2011

Buruk Baik Buruk Baik


Sudah hampir 7 bulan ini aku mengajar les privat, kebutuhan sehari-hari dikampus cukup banyak terbantu dari sini, aku memang tidak pernah pasang tarif, seikhlasnya dikasih ya itu yang aku terima, dan alhamdulillah cukup saja. :D. Tapi kalau aku pikir balik ke saat-saat kenapa bisa akhirnya mengajar les privat ini, aku cuma bisa diam saja.

Tahun lalu, aku membantu adik kawan kos yang kena tilang di daerah Tanah Kusir, waktu itu kondisi uang lagi pas-pasan, dan kesalahan memang ada di kami, cukup banyak. Jadi pas sampai di lokasi dimana motor ditahan, aku langsung menemui polisi yang ternyata orang Batak, marganya Hutajulu. Biasa, orang Batak memang bernada tinggi kalau bicara.

Aku pun sudah maklum kalau itu, sama-sama dari Sumatera juga, cuman karena tuntutan peran sebagai polisi yang menangkap tilang jadinya Pak Hutajulu ini jadi lebih sangar, sementara adik sikawan tadi berdiri disebelah ku, aku membuka obrolan dengan Pak Hutajulu dan kemudian dialog pun mengalir dengan intonasi berimbang harmonis, satu tinggi membentak-bentak, satu lagi tenang (berusaha tenang sebetulnya) dan berusaha sesopan atas nama penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Waktu itu aku terpaksa berbohong (maaf ya Pak :D), aku mengaku berasal dari NAD sama seperti adik si kawan tadi, supaya meyakinkan, dan aku sebut saja kini aku sedang kuliah sudah masuk di tahun kedua terakhir di STAN jurusan Pajak, dan mohon kemakluma beliau untuk memaafkan kesalahan adik si kawan yang sudah melanggar peraturan (gak pakai helm, plat nomor expired, gak bawa STNK), dan naek motor sampai ke pertigaan Tanah Kusir ini untuk mencari kerjaan sampingan di bengkel. Sebetulnya waktu itu aku sudah menyiapkan uang 50rb buat yaaaa... you know what i meant.. :)), tapi setelah aku jelaskan kondisinya dan mau menyerahkan uang tadi, Pak Hutajulu nya menolak dan justru bertanya mengenai kuliah ku.

Ahhh... rupanya disini dimulai cerita kemudian, rupanya Pak Hutajulu ini juga pengen anaknya (namanya Hendrik) bisa diterima di STAN dan sudah ikut Bimbel STAN di LIA Bintaro, namun beliau berkata bimbel disana mahal dan anaknya sering saja mengeluh karena tenaga pengajarnya yang kurang bisa merangkul. Dan, Pak Hutajulu kemudian ngomong ke aku bahkan dengan menurunkan nada bicara meminta bantuan kesediaan ku mengajar privat untuk anaknya, bahkan bertanya aku mau minta dibayar berapa.

Tapi aku kira sudah OOT, jadinya aku tidak terlalu menggubris karena yang aku pikir cuma bagaimana mendapatkan kembali motor itu pulang kekos, tapi rupanya Pak Hutajulu serius, dan barulah kemudian aku mulai memikirkan ulang tawarannya, sebetulnya aku tidak berani pasang tarif karena dua hal, yaitu karena aku maklum penghasilan Polantas yang sudah menjadi kepala keluarga tentu banyak kebutuhan lain, dan kemudian aku enggan menjadi beban moral jika aku tentukan harga, seolah-olah muncul keharusan/kontrak yang memberi kepastian bahwa anak nya pasti lulus.

Aku ambil keputusan, Ok aku mau, dan aku putuskan terserah Pak Hutajulu saja mau bayar berapa, namun dengan catatan, i promised nothing. Dan kursusnya baru dimulai setelah USM STAN 2010 diumumkan hasilnya karena anaknya yang sudah kadung kursus di LIA. Pembicaraan usai, dan sebagai rasa terima kasih, Pak Hutajulu memberikan motor itu kepada kami tanpa permintaan apa2. Aku senang saat itu karena bisa membantu kawan, namun aku sadar tanggung jawab ku yang lebih besar mulai bertambah didepan nantinya.

Memang sudah jalan ceritanya ternyata Hendrik tidak lulus dan jadilah sejak beberapa bulan dari saat itu ia rajin datang ke kos, sekitar 2 kali dalam seminggu dengan jadwal yang fleksibel mengikuti jadwal kuliah dan aktifitas ku yang sering naik turun gunung. Enak kan? :) lagipula metode belajar dengan Hendrik aku memposisikan diri sebagai teman dan aku juga tahu bahwa tidak semua orang tahan belajar selama berjam-jam itu kenapa aku tidak pernah terlalu lama kalau belajar dengan Hendrik, paling lama dua jam sekali pertemuan, dan pulang selalu membawa PR.

Setiap sebulan sekali, Pak Hutajulu melalui Hendrik selalu memberikan amplop berisi uang bayaran les, biayanya alhamdulillah lebih dari cukup untuk aku gunakan dalam kebutuhan sehari-hari, selain itu aku juga senang mengajar ini karena mencegah otak dari ketumpulan.

Semua bermula dari kejadian penilangan, seperti sebuah kebetulan, dan seolah bermula dari sebuah kejadian yang dianggap buruk, namun itu semakin menguatkanku bahwa jalan cerita hidup ku ini sudah diatur oleh ALLAH.SWT karena dari situ muncul kebaikan2 yang bisa aku rasakan. Kalau saja malam itu, aku enggan membantu kawan ku mengambil motor adiknya yang ditilang... it will never run this way. Alhamdulillah terima kasih ya ALLAH..

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216). Tak selamanya hal yang kita benci tidak baik dan tak selamanya hal yang baik selalu baik. Sesungguhnya Allah Maha Pemilik Kebaikan yang Abadi.

Read more »

7.11.2011

0842 0711


Semalam begadang ngerjain tugas sampai jam 2 lalu ngutak ngatik blog baru tidur jam 3, alarm sudah disetel jam 4.30, ah indah nya hidup ini! yakin besok akan menjalani hari seperti biasa, masuk kuliah jam 8, ngajar les, nonton film, ngurusin kegiatan, dll!

Ah, tapi rencana tinggal rencana, kupingku tidak mempan diserang dering alarm dari hp, atau mungkin sebetulnya aku bangun terus pencet tombol off? Pas bangun liat jam sudah pukul 08.42, padahal kuliah mulai jam 8! sudah telat 40 menit lebih, mandi, sholat?? wah sudah jam segini, gak apalah hajar aja yang penting dilaksanakan, nyetarter motor, langsung kebut kekampus! Parah, padahal ketua kelas, kelakuan begini, ya maaf! :D

Kejadian seperti pagi tadi itu, terjadi tidak sengaja, ya mana mau telat, 1 jam malah, untungnya pas sampai dikampus (setelah dua kali hampir jatoh dari motor karena ngebut) dosennya belum datang. Tapi kecewa juga, karena tidak ada kawan (hanya Fadli yang kebetulan juga wakil ketua kelas) yang menghubungi untuk sekedar menanyakan via sms atau telpon mengingatkan bahwa ada kuliah jam 8 pagi sementara jam segitu masih aku masih dikasur. Tapi ya sudahlah, tidak baik selalu mengharapkan orang lain, dan jangan menyalahkan siapapun, hadapi saja lalu tersenyumlah.. :)

Dulu juga pernah pas hari pertama pengangkatan sebagai CPNS apa PNS aku lupa, tahun 2007 kesiangan juga, buru-buru naik bis kota turun di Gatot Soebroto Jakarta Selatan sampai kantor sudah telat weeee.. :D. Lucu sih kalo diingat-ingat, lucunya itu disuasana buru-burunya itu. Ada seni, seni menekan kepanikan dan tetap kalem, and everything is gonna be OK., biasanya kalau sudah begini aku cenderung grasa grusu, tapi harusnya tidak begitu ya? toh, kondisinya sama saja. Ya, belajar dr pengalaman.

Sengaja aku posting kejadian lucu ini, lucu bagiku ini, karena jarang-jarang aku telat sampai separah itu, memang kalau dipikir-pikir bakat telat itu sudah ada sejak jaman SMP, rumah dekat tapi telat terus sampai sekolah sampai-sampai Kepala Sekolah bosan memberi hukuman mungut sampah keliling sekolahan :)). Sekalian jadi kenangan yang yaaa... mana tau dibaca sama anak cucuku nanti tentang kelakuana bapaknya yang juga manusia biasa ini. Halahh... jadi kangen ma kamu di sana :)

Read more »

Menerawang Gili Trawangan


Ada satu pulau kecil di Provinsi Nusa Tenggara Barat, bernama Pulau Trawangan dan terkenal dengan nama Gili Trawangan (Gili, dalam Bahasa Sasak artinya Pulau), dalam rangkaian pendakian Rinjani kemarin, aku menyempatkan diri singgah ke pulau ini. Dan, baru saja beberapa menit aku menjejak di pulau ini, aku mengalami semacam cultural shock aku seperti merasa asing di negara ku sendiri, karena banyaknya turis asing wara wiri sepanjang jalan di pulau ini.

Untuk mencapai Gili Trawangan, kita harus menuju pelabuhan Bangsal yang berada di Lombok Utara masuk secara administratif dalam kabupaten Bayan, dengan membayar tiket boat seharga Rp 30.000,- dan menyebrangi selat selama kurang lebih 1 jam, maka akan sampai di pulau yang banyak menyembunyikan keindahan sekaligus kehidupan budaya yang bak paradoks dalam kehidupan nyata. Dari kejauhan sebelum mendarat, pasir putih di tepian pantai membuat Gili Trawangan begitu indah, belum lagi biru terang laut di tepinya yang sesekali berkilau karena memantulkan cahaya matahari seakan menambah keinginan untuk segera menjelajah lebih jauh lagi ke pulau ini.


Begitu tiba, aku dan dua orang rekan seperjanan, segera mencari penginapan, dan karena menyadari 'ketebalan' dompet kami, membuat kami enggan menanyakan harga penginapan yang berjejer rapi ditepi pantai dengan view yang indah. Jadinya, untuk mencari penginapan dengan harga yang lebih miring, kami semakin masuk kedalam, dan makin kedalam harga penginapan makin murah dan tentunya makin jauh dari tepi pantai. Ada kawan yang menawarkan penginapan namun harganya masih terlalu tinggi menurut kami, dan setelah cukup lama mencari akhirnya dapat juga penginapan dengan ruang kamar yang luas pas untuk bertiga, kamar mandi ada dua (1 dalam 1 luar) dan kipas angin seharga Rp 100.000/malam, yang aku yakin kalau ditawar lagi jadi Rp 90-80rb mungkin masih mau.


Mandi, istirahat, bongkar carrier, sholat, terus lapar. Kita bertiga langsung hunting makanan tapi sudah sadar situasi makanya cari lokasi makan yang agak dalam ketimbang yang dipinggir pantai yang dipasang dengan harga standar turis asing. Sudah mahfum kalau penduduk setempat memanfaatkan kondisi pengunjung turis asing dengan pasang harga tinggi makanya kita tidak mau mengganggu pancing rejeki mereka. Akhirnya ketemu warteg yang posisinya masuk gang, dan ada tulisan Warung Jawa, kami makan disana, aku masih ingat makan ayam gorang, sayur, tempe harganya Rp 7.000,- bayangkan kalau ditepi pantai tadi mungkin bisa Rp 10.000 bahkan Rp 12.000,-. Tapi ya itu, makannya tidak bisa sambil menikmati pantai.
bodo amat, yang penting kenyang dan sanggup muterin pulau.



Selanjutnya adalah tentang menikmati sore di Tepi pantai Gili Trawangan ini. Bisa duduk diatas pasir putih, sambil menikmati angin pantai dan memandang langsung Puncak Rinjani diseberang sana, adalah pengalaman yang begitu berharga, tapi untuk bisa sampai setenang ini butuh waktu, maklum selama ini hanya lihat di TV cewe-cewe bule pakai bikini two pieces, nah kali ini mereka wara wiri didepan mata, ya bagaimana gak naek turun, degap degup jadinya. :D



Di sepanjang pantai ini, para pengunjung bisa dengan bebas lalu lalang, bahkan para turis asing tampak santai dan enjoy berjalan sambil memegang bir di tangan mereka, makanya di sini Bir laku keras, karena bagi turis asing, Bir sudah seperti minuman wajib di setiap kondisi. Kami bertiga terus berjalan ke arah timur pulau (sengaja, karena sisi barat giliran besoknya), melihat penangkaran penyu dan sepanjang jalan di tepian pantai ini banyak sekali disediakan semacam shelter atau exotic hut dimana para pengunjung bisa santai disana sambil menanti sunset. Suasanannya memang romantis, ah.. semoga saja nanti saya bisa mengajak istri saya (kalau sudah menikah nanti) menikmati sunset ditepi pantai yang indah.



Ketika matahari tenggelam kami sudah berada tepat di spot yang pas, benar-benar bersyukur aku bisa menikmati pemandangan ini, melihat matahari pelan-pelan tenggelam ditelan laut, perlahan menyisakan guratan cahaya kuning yang menyembul di langit senja. Disaat seperti ini aku sempat menelpon pacar di Sumatera Selatan untuk menceritakan apa yang baru saja aku lihat sekaligus menggambarkan dan berandai-andai kelak bisa mengajaknya kemari.


Setelah hari mulai gelap, kami bertiga kembali ke penginapan namun aku menyempatkan ke masjid setempat untuk sholat, penduduk asli Gili Trawangan ini mayoritas muslim dan di pulau ini ada dua masjid, rasanya begitu kontras, masjid dibelakangnya sementara begitu keluar didepannya party-party and bars berjejer begitu ramai. Tapi ya sudahlah, toh aku yakin kenapa kondisi ini masih bertahan tentunya karena ada semacam rasa saling mengerti atau juga saling membutuhkan antara turis pengunjung dengan penduduk setempat. Sambil jalan kami membeli makan dan minuman (minuman mineral kemasan botol 1,5L merk NARMADA).

Saat kami berada dipulau ini, pas sedang bulan rembulan penuh, jadinya ada semacam full moon party yang diadakan bar setempat dan biasanya kalau sudah party suasanannya jadi ramai, tapi aku tidak sempat ikut, capek, ketiduran. Sebetulnya ingin juga menikmati sajian khas seafood disini tapi harus realistis dengan kantong, apalagi kalau lihat warnet.. ahh the rate does not make sense to me!.



Keesokan harinya disiang hari setelah makan, kami mulai jalan lagi keliling pulau tapi dengan tujuan sisi barat pulau, bagian ini rupanya memang tidak segemerlap bagian timur yang memberikan banyak tempat hiburan dan fasilitas lainnya, disini masih cukup banyak lahan kosong yang belum digunakan bahkan beberapa cafe dan cottages seperti tidak terawat, sebetulnya hanya tidak lebih dari 1 (satu) jam untuk mengelilingi pulau ini sampai habis jika menggunakan kidomo (andong kalau di Jogkakarta), namun kami lebih memilih jalan kaki agar lebih puas menikmati. Jujur saja, karena masih belum terlalu terjamah inilah sebetulnya pantai disisi barat ini lebih cantik dan bersih dan jika air laut sedang surut, tepiannya bisa terlihat hingga beberapa meter sehingga kita bisa melihat terumbu karang yang indah dan kepiting laut yang berwarna-warni.


Aku memisahkan diri dari dua kawan ku tadi, karena mereka mau pulang duluan sekalian mau makan. Tapi akhirnya ketemu lagi di tempat yang pas untuk melihat sunset menjelang senja dan memanfaatkan momen ini untuk diabadikan. Karena tidak terasa keesokan harinya kami harus sudah meneruskan perjalanan pulang ke Jakarta. Sementara Yoga, memutuskan pulang naik pesawat dan untungnya di Gili Trawangan ini banyak tersedia travel agent yang melayani jasa pembelian tiket pesawat termasuk juga paket perjalanan wisata di Pulau Lombok bahkan ke Nusa Tenggara Timur.

Poto iseng:


Read more »