3.31.2012

Jelajah Waktu


Sesekali aku lebih suka menyendiri daripada bergabung dengan teman2, namun aku belajar untuk mencairkan suasana bila baru bergabung dengan suatu komunitas baru agar merasa lebih diterima, itu saja. Kalau sedang sendiri itu seperti diberi kesempatan untuk berlari menjelajah waktu, tanpa kaki yang dirantai, tangan yang diborgol atau mulut yang dikunci, bagai diberi kebebasan tanpa belenggu barang sedikit pun. Lepas merdeka!

Lagu dari Peter Pan yang judulnya Tertinggalkan Waktu, mengingatkan ku akan banyak momen dan tetap cocok sejauh apapun dimensi waktu yang kujelajahi

Kau terbangun dari tidur panjang yang lelahkanmu
Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu

* Kau harapkan keajaiban datang
Hadir dipundakmu
Kau harapkan keajaiban melengkapi khayalmu

Reff: Kau biarkan mimpi tetap mimpi
Yang melengkapi khayalmu
Kau terhenyak dan terbangunkan
Dan harapkan keajaiban datang hadir dipundakmu

Kau mencari letak masa lalu yang lepaskanmu
Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu

Repeat *
Repeat reff [2x]

hadir di pundakmu


Tapi kalau sudah keluar dari fantasi jelajah dimensi waktu, aku harus segera kembali ambil tiket untuk naik pesawat terbang kembali ke dunia nyata dan bersiap dengan kaki yang dirantai, tangan yang diborgol atau mulut yang dikunci serta kebebasan yang sedikit terbelenggu. Begitulah. Ah, hidup ini...

Read more »

3.25.2012

Bila Beristri Nanti Masihkah Aku Mendaki?


Ini soal hobi yang sulit diingkari, yang sudah ada sejak dulu waktu masih jaman kanak- kanak. Kala itu sudah menjadi kesenanganku menelusup rimba bukit di depan rumah atau berenang menyebrangi sungai menuju desa seberang, rasa takut atau resiko yang timbul tenggelam selalu aku lawan, belakangan aku baru tahu bahwa itulah yang disebut dengan keberanian, yaitu terus maju melangkah walau diserang rasa ragu, takut atau semacamnya.

Seiring waktu sejalan dengan kesibukan sebagai pemuda tanggung berstatus pelajar SMA, hobi itu sempat pergi entah kemana, hilang. Terus begitu sampai sudah jadi mahasiswa selama setahun di perbatasan Bintaro- Jurangmangu bahkan hingga sudah mulai bekerja di Jakarta. Sampai akhirnya menjelang penghujung tahun 2008, ada tawaran dari senior di kantor yang hendak mendaki Papandayan di Garut, pas juga saat itu aku memang butuh hiburan karena sedang bosan dengan rutinitas. Gayung bersambut, kami berangkat! Bertiga saja.

Dari situ, aku sadar bahwa hobi yang tadinya kukira sudah pergi ternyata hanya bersembunyi menunggu untuk kembali lagi. Benar saja karena setelah debut Papandayan itu, adrenalin ku terpacu untuk kembali mendaki. Ini mengantarkanku menapaki medan berat pendakian di tanah Jawa hingga ke Tanah Suku Sasak di Pulau Lombok NTB. Banyak pendakian yang sudah kulakukan menjadi cerita dan pelajaran bernilai; Papandayan, Semeru, Gede, Pangrango, Salak, Cikuray, Ciremai, Rinjani, Merapi, Raung dan Merbabu.

Hobi yang gejolaknya tak terlihat oleh mata, tak teraba oleh tangan namun kadang terasa oleh dompet ini, belakangan menjadi pertanyaan dalam benak ku. Bagaimana nanti jika aku sudah punya istri dan anak, apakah masih bisa aku melakukan pendakian dengan bebas seperti sekarang ini? Tentu banyak pertimbanganya, mulai dari waktu hingga uang untuk membelikan anak susu. Ah sudahlah, hari esok punya kekhawatirannya sendiri, sekarang bagaimana sekarang saja dan nanti bagaimana nanti saja. Sebab selalu akan ada logika dan kata hati untuk memutuskan setiap pilihan.

Yang aku pikirkan sekarang ini adalah bahwa aku mencintai keluargaku kini dan nanti, namun aku juga cinta dengan pendakian gunung, tapi akan selalu ada cerita yang harus terhenti dan sementara itu cinta akan terus melaju berjalan seiring harapan yang menyertainya. Aku harap aku tidak sampai kehilangan logika dalam memaknainya. Kini, aku tidak sabar menantikan bulan Mei, karena insyaALLAH, aku akan mendaki gunung Kerinci dan Dempo bersama rombongan dari Bandung, Cikarang dan Jakarta.

P.S:
------
#Sembari menulis ini, kadang pikiran ku menerawang ke Latimojong, Lauser dan Tambora.

Read more »

3.23.2012

It Is What It Is


Sejujurnya, banyak hal yang tidak bisa kuterima, atau setidaknya membuatku kecewa dalam hidup. Namun sebagai pelaku takdir aku hanya bisa menerima. Reaksi macam apa yang belum aku keluarkan atas semua itu. Marah macam anjing gila, mengutuk takdir, adu kepala lawan dinding, hingga menangis tanpa air mata pun sudah tapi pada akhirnya aku harus merelakan itu terjadi. Sebaik apapun aku menangkalnya, semua tetap saja terjadi karena tampaknya memang harus terjadi. It is what it is.

Aku bukan fatalist karena aku masih mampu dan mau berusaha sebisanya sebelum berkata, That is what we call Destiny! Apapun yang sudah terjadi, pada suatu titik lelah aku sadari sebagai kesatuan fragmen- fragmen kehidupan yang terangkai tanpa sadar menjadi suatu cerita berkaitan, walau diisi oleh tokoh di tempat dan waktu yang tidak aku tahu. Namun, ditengah semua itu aku masih menjaga harapan dan keyakinan tentang hari depan yang lebih baik. I just keep a faith for things i have been hoping for.

Sejak lama hingga kini aku belajar membuang rasa malu menjalani hidup dengan realistis, apa adanya. Semua hal yang sudah terjadi kadang membayang- bayangi dan menggamangkan kaki untuk melangkah kedepan namun prinsip ku terus kupupuk yaitu menjalani hidup sebagai manusia yang bermanfaat, i just feel destined that way for any destination i am heading to. Aku berdoa semoga ALLAH.SWT berkenan menuntun ku dan keluarga ku selalu dalam hidup ini agar menjadi lebih baik.

Karena memang fragmen kehidupan terjadi begitu saja tanpa kebetulan, dan kita selalu ada didalamnya, tanpa sadar menjadi pelaku takdir, sehebat apapun usaha kita memaknainya.

P.S:
-----
Gambar ini diambil dari sini.. via google.

Read more »

3.19.2012

Hari- hari Tanpa Pulsa


Sudah dua hari ini mobile phone dua- duanya tanpa pulsa. Bersyukur sedari kemarin tidak ada pesan masuk yang harus dibalas, atau panggilan masuk yang terlewatkan (missed call) yang membuat muncul tanggung jawab untuk telepon balik. Hanya setiap pagi saja reminder lama dari salah satunya berbunyi, reminder yang sudah ada sejak jaman kuliah dulu, harusnya ku reset saja. Parah!

Bagian yang kurang enak dari masa tidak ada pulsa adalah kalau pas rindu pada orang- orang terdekat melanda. Tidak enaknya karena dua hal: pertama rasa sungkan untuk minta 1- 2 sms ke orang lain dan bila serangan sms kangen dari kekasih dalam modus sangkaan sombong, tanpa kabar, dan lain sebagainya mulai datang. Andai hp bisa berdiri sendiri tanpa pulsa, alangkah indahnya dunia! karena di mata sebagian orang, secanggih apapun hp bila tanpa pulsa ia tetap saja sebuah kotak biasa. Semua ketidakenakan itu tadi bisa lebih parah bila disaat yang sama muncul pula sms dari seseorang untuk minta tolong karena berada dalam situasi mendesak, rasanya seperti menjadi orang yang paling merasa bersalah saja.

Apa hendak dikata, tak selamanya hp dan pulsa selalu bisa bersama. Dan sayangnya pulsa selalu diharap untuk selalu ada, karena dunia tidak akan pernah mau tahu, bagi nya ketika sudah ada hp maka harus ada pulsa. Aku pun tidak mau barang sehari saja hp ini terisi tanpa pulsa, kalau bisa kuisiskan sejuta sekaligus mungkin sudah lama kuisikan. Namun sayang penjual pulsa punya cara sendiri agar dagangannya tetap laku, agar kami- kami sang pemilik hp ini tetap membutuhkan kehadiran mereka ditengah serangan rasa rindu, atau ketika dirundung sms kangen bermodus sangkaan tanda cinta.

P.S:
-----
#Sayang, maaf aku lagi tidak ada pulsa... :)
#Gambar diambil dari sini...

Read more »

3.18.2012

DPR: Duku Pisang & Rambutan


Tadi sore aku ke Bundaran Masjid Agung, berdiri disana dekat monumen yang berlambang Pancasila. Sekitar hampir 30 menit menunggu disana, akhirnya Mobil Travel dengan plat BG 7816 L-300 warna putih yang aku tunggukan muncul juga. Bapak mengirim paket yang dititipkan lewat mobil ini, paket itu beliau bungkus dalam kardus bekas magic jar yang isinya buah Duku, Pisang dan Rambutan yang merupakan hasil panen kebun sendiri yang biasa Bapak rawat tiap petang sejak dahulu hingga kini.

Kemudian aku pulang membawa paket itu dengan menggunakan motor dapat pinjam dari teman, paket itu rupanya cukup besar untuk ku taruh didepan akhirnya dengan sedikit nekat aku letakkan saja di jok belakang tanpa tali pengikat hanya bermodal jalan-pelan dan bismillah. Aku ambil rute Sudirman lalu tembus ke Rivai, dan alhamdulillah tiba dikos dengan selamat. Setelah paket aku buka, sebagian langsung aku sisihkan untuk diberikan ke Ibu dan tetangga kamar kos. Selebihnya untuk dimakan sendiri dan rencananya sebagian lagi akan kubawa ke kantor untuk dibagi- bagikan.

Monumen tempat aku menunggu sore tadi itu, bukan tempat baru bagi ingatanku, ada potoku dan kakakku pada suatu hari 18 tahun yang lalu waktu umurku masih 7 tahun, sebab Bapak masih tugas di Palembang dan sesekali walau bisa dibilang jarang kami datang ikut serta menemani beliau walau hanya hitungan hari. Saat itu aku dan kakak diajak jalan- jalan. Monumen itu masih tetap sama kini, seperti 18 tahun lalu ketika poto itu diambil dan kini tersimpan dalam album keluarga dirumah walau sudah cukup usang namun tetap jelas untuk dilihat.

Waktu postingan ini ditulis, Rambutan sudah habis, Pisang sengaja kusisihkan untuk sarapan besok sementara Duku sudah sisa setengah lagi karena sudah kubagi- bagi dan kumakan sedari tadi. Alhasil? aku sakit perut lantaran kebanyakan makan Duku. Sebab mau bagaimana lagi, memang sudah lama aku menunggukan makan Duku hasil panen kebun Bapak. Terima kasih Pak, semoga rejeki yang halal dari ALLAH. SWT selalu menyertai kita sekeluarga, amin.. :)

Read more »

3.17.2012

Profesionalitas atau Rasa Tidak Enak? Pilih!


Baru saja pagi ini, teman akrab dari kekasihku menelepon untuk meminta bantuan untuk membuatkan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Sempat sebelumnya aku jelaskan bahwa prosesnya tidak lah rumit, hanya datang ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai alamat kegiatan usaha berada dengan membawa dokumen yang disyaratkan: Kartu NPWP dan Surat Permohonan lalu langsung datang untuk melaporkan, setelah itu proses berjalan dengan sendirinya, selesai dan tanpa ada biaya.

Begitu ku jelaskan kepada nya, namun yang ia inginkan bukan hanya sekedar penjelasan rupanya, tetapi sekaligus langsung jadi saja atau terima jadi/ tahu beres saja. Disini aku keberatan bukan karena aku enggan membantu namun rasanya jika dibiasakan akan tidak mendidik masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi ada semacam background process yang membuat Wajib Pajak harus datang sendiri seperti penandatanganan, pembuktian alamat hingga verifikasi lapangan atau kegiatan usaha. Tapi apa daya, sang teman sudah terlanjur kecewa mendengar bahwa aku tidak bisa membantu jika ia hanya mau tahu beres karena ku jawab itu tidak mendidik, karena mungkin memang belum sempat aku jelaskan background process itu tadi.

Aku berpikir tentang kekasihku, bagaimanapun sang teman adalah teman akrabnya. Kekasihku pun sering meminta bantuannya untuk urusan pribadinya, namun mendengarku menolak permintaan teman akrabnya tentu membuatnya kecewa atau paling tidak membuatnya singkuh untuk meminta bantuan sang teman di masa mendatang. Tapi jika permintaan temannya kuturutkan, akan lebih banyak lagi yang aku langgar, mulai dari kode etik ku sebagai pegawai hingga kata hati ku sendiri. Ku harap sang teman tadi bisa mengerti dan maklum mengapa aku mengambil sikap demikian serta tetap bersikap biasa kepada kekasihku tanpa mengait-ngaitkan kekecewaanya barusan.

Sebetulnya, ini buka kali pertama aku menolak dimintai bantuan untuk hal- hal yang tidak sesuai aturan, pernah dulu terkait masalah PBB dan PPN bahkan oleh orang- orang yang masih merupakan keluarga sendiri. Aku menolak dengan tegas untuk memberi bantuan karena kudapati itu menyalahi kode etik, tapi apa lacur aku malah dituding sombong lantaran sudah bekerja di Ditjen Pajak. That’s people, they will keep on talking, and the way i respond is what makes me, begitu akhirnya aku mengambil kesimpulan dengan tidak terlalu mendengarkan perkataan mereka, yang penting aku bekerja dengan benar dan lurus.

Aku bilang ke kekasih ku, bukan maksud aku untuk tidak mau membantu, namun itu memang diluar kuasaku karena tidak sesuai dengan ketentuan. Mungkin salah ku memang belum sempat menjelaskan dengan detil dan langsung tembak bahwa jika ku bantu itu maka itu adalah sikap yang tidak mendidik Wajib Pajak, tolong jelaskan saja kondisinya ke teman mu semoga ia mau mengerti, begitu ku pinta kepadanya. Ini mungkin yang disebut dengan ujian dalam menjalankan prinsip, disaat kita memegang teguh prinsip maka disaat yang sama orang- orang akan berpikir kita susah diajak kompromi dan berkribadian sulit. C’est la Vie.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini...

Read more »

3.15.2012

American: From Don's Side.


Ini kelanjutan postingan kemarin, tentang Don, orang asli Indonesia yang sudah 25 tahun menetap di Oklahoma, Amerika Serikat dan akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia tepatnya di Palembang. Aku menemui Don di kediamannya pada suatu siang pekan lalu. Aku masuk kedalam rumahnya dan saat itu ia sedang berbenah sendirian dirumahnya dengan peralatan mekanik tergeletak bebas, nampak baru saja dipakai. Ia sendirian tanpa sewa tukang atau jasa teknik serupa. "If you can do it by yourself, then do it", seperti itu katanya.

Hampir sekitar 1 jam kami ngobrol seputar asal daerah, sekilas kehidupannya di Amerika lalu kami berlanjut makan siang ke Waroeng Steak (WS) Jalan Diponegoro setelah sebelumnya kami Sholat Zuhur di Masjid At-Tiq. Don mengatakan dari sana nanti ia langsung mau ada urusan ke Plaju sehingga kami menggunakan motor masing- masing. Motorku kebetulan masih di Baturaja untung ada kawan yang mau kasih pinjam. Dari 1 jam awal itu, tampak sekali bahwa tidak ada yang tersisa tentang keIndonesiaan Don, kecuali satu yaitu wajahnya. Selebihnya semua sudah jadi Amerika.

Di WS kami memesan makanan, dan sambil makan kami melanjutkan cerita, kali ini aku memulai pembicaraan seputar apa yang sering ku dengar tentang Amerika. Aku mulai dengan bertanya: apa betul di sana orang- orang cenderung egois atau tidak peduli satu sama lain?

Don merenung sejenak, lalu mengatakan dan mulai berkata bahwa: Orang sana itu selalu membedakan mana yang menjadi urusannya dan mana yang bukan, sehingga kesan nya tampak tidak saling peduli. Ini ditandai dengan ketika mulai berkenalan dengan orang lain mereka cenderung untuk bicara hal yang sifatnya tidak personal, melainkan seputar apa yang ia ketahui lebih dulu tentang hal non- personal orang itu: Misalnya mereka tahu bahwa kau bekerja di Pajak maka mereka berbicara dengan fokus seputar pajak tanpa jumping. Lain halnya dengan disini, yang akan selalu mulai dengan membicarakan seputar asal daerah, suku, keturunan, agama, silsilah keluarga dan hal personal lainnya. "Everybody is like a policeman in here.." kata Don.

Don juga mengatakan bahwa mereka tegas dalam hak apabila dilanggar. Don sempat jengkel ketika suatu hari dihalaman rumahnya baru- baru ini ada mobil parkir tanpa izin dahulu ke ia, dan ini membuatnya sempat bersitegang dengan si empunya mobil yang tidak terima ketika Don 'marah' dan ybs justru mengancam bahwa ia adalah anggota TNI dan sanak saudaranya adalah orang berpangkat. "That is not my bussiness, just move your car and it is done!" ujar Don membalas. Awalnya di Indonesia ini ia sempat mengalami cultural shock dan hingga kini pun masih ujarnya mengakui terutama fakta bahwa 25 tahun lalu di Masjid Agung ia kehilangan sandal, dan ini masih terjadi ketika beberapa waktu lalu ia sempat tarawih di sana, "25 years and there is nothing changing, it remains the same.." ujarnya.

Aku hanya belum paham bagaimana seseorang menjadi demikian rasional, mungkin memang adat budaya kehidupan sehari- hari disana yang membentuk kepribadian itu, aku mulai berpikir tentang cara hidup seperti itu. Setiap pribadi sibuk dengan urusan dan tanggung jawab pribadi masing- masing, perkara kemanusiaan dan perhatian sesama manusia muncul jika memang dibutuhkan atau disaat yang tepat sehingga tidak salah tempat.

Di satu titik, pembicaraan kami sampai pada bagaimana Don bisa bercita- cita untuk ke Amerika. Ia memang kuliah di Oklahoma State University untuk Program Agrikultur. Semua bermula kala ia masih kecil dan saat itu ia melihat poto di Majalah National Geografic yang menampilkan gambar pemandangan dengan langit biru bersih, yang berada di Amerika. Don kecil terpesona dan berniat untuk suatu hari bisa ke Amerika, entah bagaimana caranya ia selalu menjaga mimpinya dalam setiap kehidupan sehari- harinya yang membuat ia semangat mempelajari Bahasa Inggris hingga fasih. Ia mengeluarkan kesimpulan: "Just keep your dream alive and be ready, prepare yourself consistently and in a well- programmed steps, because it is you waiting for the opportunity not vice versa.."

Menjelang pukul 13.30 kami selesai makan siang, dan aku mengucapkan terima kasih banyak kepada Don, begitu juga sebaliknya. Nice to meet you, ucapku. Ia menjawab pula dengan Nice to meet you, too dengan mengatakan agar tetap sesekali berkunjung ke kediamannya, jangan sungkan ujarnya. Setelah itu kami berpisah di kelokan jalan yang berbeda pada suatu siang yang penuh inspirasi bagi ku yang juga bercita- cita dapat kuliah ke Amerika, amin. Terima kasih Don!

P.S:
----
Gambar diambil dari sini...

Read more »

3.11.2012

Palembang Oklahoma


Perkenalan yang serentetan cerita sebelumnya menunjukkan bahwa memang tidak ada yang kebetulan dalam hidup...

Lewat teman, aku dikenalkan kepada orang Indonesia asli yang sudah 25 tahun menetap di Amerika Serikat, Oklahoma tepatnya. Ia memutuskan kembali ke Indonesia dan merintis usaha di kota Palembang. Siang tadi aku baru saja mengunjunginya dan kami sempat makan siang di Waroeng Steak Jalan Diponegoro.

Semua bermula saat aku mulai berpikir untuk mencari penghasilan tambahan di kota ini, kupikir mengajar Bahasa Inggris sebagai tutor after working-hour bisa jadi alternatif. Aku survey ke beberapa lembaga kursus di kota Palembang ini dan mulai menyiapkan berkas, yang ternyata masih tertinggal di Baturaja.

Mentok, akhirnya aku coba menghubungi teman dan ia merekomendasikan untuk menghubungi keluarganya yang baru saja pindah dari Amerika dan mendirikan kursus Bahasa Inggris di Palembang, dan aku menghubungi keluarganya via sms dan rupanya lagi belum ada pembukaan tenaga baru. That is not all, karena Don, (nama aku samarkan), mengundangku ke rumahnya untuk sekedar berbincang santai.

Beberapa hari setelahnya aku belum sempat memenuhi undangan Don karena masih sibuk mencari kamar kos yang baru, belum lagi pekerjaan dikantor tidak bisa ditinggal. Di satu akhir pekan, waktu aku mencari kos di sekitar Bukit Besar dengan jalan kaki hingga ke bilangan Rivai, saat itu aku melewati sebuah tempat kursus Bahasa Inggris yang tak diduga rupanya itulah milik Don. Benar- benar sebuah kebetulan yang tidak diduga karena mungkin memang sudah begini yang namanya takdir.

Tapi waktu itu aku belum langsung berkunjung karena kupikir bertemu dengan orang yang sudah 25 tahun hidup di Amerika tentu memiliki budaya dan cara yang berbeda, jadi ada hal yang harus disiapkan supaya tidak terkejut, lagipula aku harus meyakin kan diri supaya Bahasa Inggrisku tetap mampu mengimbanginya supaya percakapan tetap nyambung. Sampai ketika tadi aku berkunjung kerumahnya dan sempat makan siang bersama baru disitu banyak aku dapat pelajaran dan ilham berharga...

Bersambung...

P.S:
-----
Nama dalam postingan ini sengaja di samarkan untuk menghargai privasi dan cerita selanjutnya memuat informasi adat dan budaya Amerika serta sebuah pelajaran berharga.

Gambar diambil dari sini...

Read more »

3.10.2012

Minyak Indonesia: Riwayatmu Kini...


Di masanya, ketika sektor Migas menopang porsi besar penerimaan negara kala itu dekade 1970an hingga 1980an, negara ini menyandarkan penerimaan negara dari hasil penjualan minyak, masyarakat menikmati harga BBM murah ditambah lagi kala itu cadangan minyak bumi masih jauh dari langka, tapi itu dulu. Kini semua tidak lagi begitu, Antrian panjang mudah ditemui di SPBU tepi jalan, bahkan kini BBM kembali naik harga mencapai Rp. 6000/L untuk Premium per April ini. Ada apa sebenarnya?

Harga BBM di negara kita terpengaruh oleh kondisi harga minyak dunia yang sedang naik, karena Iran menyetop ekspor minyaknya sebagai respon atas sanksi yang diterapkan PBB atas tuduhan mereka kepada Iran yang mengembangkan senjata nuklir untuk mengancam dunia. Sejauh ini klaim dari Iran, pengembangan nuklir yang mereka lakukan murni untuk pengayaan sumber energi.

Fakta Pengelolaan Minyak di Indonesia.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa lantas kita terpengaruh oleh harga minyak dunia? bukankah negara kita kaya minyak? Ironis memang, cadangan minyak negara kita begitu banyak walau sifat SDA ini tidak dapat diperbaharui namun setidaknya kita beruntung bahwa kita masih ada potensi untuk dikelola. Fakta nya kini adalah pengelolaan minyak kita kebanyakan dilakukan oleh kontraktor asing dibawah pengawasan BPP MIGAS.

Pengelolaan oleh pihak asing ini menggunakan prinsip kerja sama bagi hasil dengan persentase 85% untuk pemerintah Indonesia dan 15% untuk kontraktor asing, pembagian dilakukan berdasarkan hasil bersih volume produk yang diperoleh, setelah dikurangi dengan biaya produksi yang menurut kesepakatan kerja sama akan ditanggung oleh pemerintah Indonesia dan ditalangi dulu oleh kontraktor asing tersebut dimana pihak kontraktor yang akan menyediakan semua alat, teknisi, SDM hingga pengolahan produk. Inilah yang disebut dengan Cost Recovery.

Setiap bagian yang menjadi milik pemerintah Indonesia akan langsung dialokasikan peruntukannya sesuai dengan kebutuhan dalam negeri, yaitu 85% untuk pemerintah pusat dan 15% untuk daerah penghasil yang diberikan dalam bentuk uang tunai senilai harga minyak yang ditetapkan dalam APBN. Yang menjadi permasalahan adalah ketika bagian bersih milik pemerintah Indonesia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, maka saat itu opsi yang diambil adalah dengan mengimpor minyak dari negara lain.

Mengapa Kita Sampai Berkekurangan Minyak?

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa jatah pemerintah sampai bisa kurang? padahal prosentasenya cukup besar hingga 85% dibanding dengan kontraktor rekanannya.Karena dasar pembagiannya adalah hasil neto ini membuat total bersih volume minyak yang dapat diperhitungkan menjadi lebih sedikit. Belum lagi biaya pemulihan atau Cost Recovery yang harus ditanggung pemerintah kadang bisa menjadi celah bagi kontraktor nakal untuk memalsukan biayanya. Andaikan pemerintah memiliki kemampuan untuk mengelola sendiri proses minyak mentah hingga berwujud minyak jadi maka biaya pemulihan tidak bisa menjadi alasan pengurang yang beberapa merupakan biaya tetap. Bahkan jika saja kontraktor pengelola adalah bukan asing maka bukan tidak mungkin semua hasil pengelolaan dapat masuk menjadi milik Indonesia.

Hanya Pertamina unit milik Indonesia yang hingga kini berperan sebagai pengelola hingga penyalur BBM ke seluruh Indonesia, itupun tidak pernah lepas dari gonjang ganjing isu korupsi dan intervensi politik sehingga dari segi performa masih jauh tertinggal dari Petronas milik negara tetangga. Dengan keadaan yang memberatkan ini maka APBN terus digelantungi oleh subsidi BBM yang tidak seharusnya ada karena jika minyak kita ada di tangan pengelola yang baik maka produksi bersih milik kita mungkin saja cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, atau jika pun tidak harus nya tidak sampai sebesar Potential Loss karena pengelolaan yang tidak tepat.

Simulasi Perhitungan Harga BBM (Premium)

Berikut saya mencoba membuat simulasi sederhana perhitungan besaran subsidi BBM yang akan masuk sebagai pos belanja negara dalam APBN dengan asumsi harga minyak dalam APBN sesuai dengan harga minyak dunia kini yaitu 106,76US$/Barrel dengan Alpha (semua biaya margin dan biaya pemulihan) sebesar Rp 631,23/L.

Harga minyak mentah 106,76 US$/Barrel
Alpha 631,23 Rp/L
Konversi Harga Minyak Mentah
Harga Dasar Premium (HDP) = MOPS + Alpha
MOPS = 14% (toleransi varian harga semua produk minyak)

MOPS adalah harga rata- rata produk minyak yang diperdagangkan dalam bursa produk minyak di Singapura, dikeluarkan oleh Platt (perusahaan jasa penyedia data transaksi minyak dan gas bumi) dan dijadikan referensi perhitungan harga BBM dalam negeri kita sesuai dengan Perpres No 55 Tahun 2005. MOPS memuat informasi dalam persentase atas besaran varian harga rata- rata produk minyak.

1 Barrel = 158,98 Liter = 0,671719713 US$/L
Kurs Rupiah = Rp9.000 = Rp 6045,48/L
HDP Exc. MOPS = Rp 6676,71
HDP Inc. MOPS = Rp 7611,45
Harga Konsumen Sekarang=Rp 6000
Selisih Harga= Rp 1611,45
Akumulatif= Rp 1611,45 * Q
Subsidi BBM= ∑Q*(MOPS(1+ α+ Tax) - Harga BBM

Dimana Q adalah jumlah kuota yang disepakati oleh DPR menurut asumsi kebutuhan yang diperlukan dan harga BBM adalah yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Keppres. Adapun semua data yang saya coba gunakan dalam perhitungan diatas didapat dari internet dan rumus untuk menghitung subsidi BBM didapat dari IDEE Riset. Total tanggungan subsidi BBM sebesar Rp. 1611,45*Q harusnya tidak pernah ada jika optimalisasi pengelolaan minyak menjadi fokus perhatian untuk kelangsungan jangka panjang. Sejauh ini kondisi pengelolaan dengan metode kontrak bagi hasil terbukti membuat negara kita kekurangan.

Mengembalikan Kejayaan Topangan Minyak dalam Perekonomian

Intinya barang kali memang Indonesia kekurangan SDM dalam mengelola minyak, mulai dari tahap penggalian, pengolahan hingga proses menjadi minyak jadi. Selain itu kurangnya infrastruktur dan alat konstruksi penopang pengelolaan menjadi alasan yang membuat kita membutuhkan kehadiran kontraktor asing yang siap dengan sarana dan SDM. Investasi jangka panjang pemerintah dalam sektor ini dapat ,walau mungkin lambat, mengembalikan kedudukan minyak sebagai sumber pendapatan negara.

Selain itu, sembari berjalan untuk menjadi mandiri dalam pengelolaan, mungkin bisa di kuatkan lagi pengawasan terhadap poin- poin kerja sama dengan kontraktor asing khususnya terkait dengan Biaya Pemulihan yang kadang bisa menjadi celah yang membuat pemerintah kecolongan.BP Migas selaku unit yang menjalankan fungsi pengawasan ini harus membuat regulasi yang tegas dan tidak memberi ruang yang bisa diperdebatkan dalam regulasi itu, karena biasanya ada daerah abu- abu yang rawan penyimpangan.

Disclaimer

Saya selaku penulis mengakui kekurangan sehingga dengan segala rasa hormat, penulis ucapkan terima kasih banyak kepada lembaga riset IDEE (Institute of Development Energy Economics) dan kepada sajian data informatif yang ada di internet. Saran dan kritik selalu saya tunggukan.

Read more »

3.08.2012

Diorama Dalam Cerita


Aku sudah mulai akrab dengan Jl Kapten Ahmad Rivai Palembang, setiap pagi dan sore hari, jalan ini aku tempuh terus lurus ke perempatan jalan sampai menghilang dikelokan menuju kawasan Kambang Iwak. Banyak hal yang lalu biasa aku lihat mulai dari ketika kehidupan baru saja mulai bergeliat hingga ketika kembali matahari mulai turun pertanda senja tiba. Hari masih terang- terang tanah biasanya...

Lain jiwa lain cerita, kadang kala di setiap beberapa puluh langkah, pikiran ini sudah melayang melintasi batas ruang dan waktu, jauh ke sisi Barat pulau Lombok di Desa Senaru, karena diwaktu yang sama ada cerita tentang Pak Rasiana yang kala itu tengah bermain bola dengan para pemuda setempat untuk persiapan pertandingan antar desa. Hidup beliau sederhana, menghabiskan masa tua di kaki gunung Rinjani bersama dua putri dan istri, ia membuka toko makanan sederhana yang bisa dibilang agak jauh dari sentra keramaian dan sehari- harinya beliau kadang bekerja menjadi tukang ojek, ambisi hidup dengan beratasnamakan kedudukan dan pangkat sepertinya tidak berani singgah ke jiwa Pak Rasiana dan keluarga. Sungguh tenang.

Sementara itu disaat yang sama pula, di Jakarta sana, ada jiwa yang sering kali pikirannya tak lepas dari strategi dan langkah agar bisa menapaki tangga karir dengan mulus, kadang kala dalam diam pikirannya bekerja memperhatikan perjalanan karir rekan sejawatnya atau para pembesar diatas sana sekaligus menertawakan mereka yang menurut nya kurang cerdas, tak pandai strategi dsb. Semuanya mengarah pada ambisi terpendam yang tidak bisa diam dalam cerminan langkah dan sikap, meski mulutnya bungkam. Tidak kah kau ingin hidup tenang kawan? Begitu hebatkah strategi mu sehingga kau berani menegasikan takdir ALLAH.SWT? Sungguh malang. Ambisi demi pangkat sudah bercokol menggerus ketulusan kerja mu.

Ingin suatu saat bisa kembali mengunjungi kediaman Pak Rasiana jauh nun di Barat Lombok sana, mungkin kelak suatu saat yang tidak dalam waktu dekat ini. Ingin pula kelak dapat kembali ke Jakarta untuk mengenyam pendidikan di STAN, kini dan kala itu diorama hidup disetiap sudut dunia akan tetap berjalan dengan berbagai cerita, watak dan kejadian. Dan hidup tidak akan berarti apa- apa tanpa menjalaninya dengan prinsip dan pendirian serta satu belahan jiwa yang akan selalu hadir menguatkan.


Read more »

3.04.2012

Awal Maret Ini


Ini sudah awal Maret, pekerjaan dikantor baru sudah berjalan dua minggu. Aku suka dengan suasana kerjanya, orang- orangnya dan sensasinya. Tapi hidup di kota ini rupanya tidak mudah, Palembang sudah hampir setara Jakarta, biaya hidupnya, pergaulannya, dan dinamisasinya. Aku cuma terkejut dan jujur saja ini membuatku sampai hari ini masih belum sadar betul bahwa aku tinggal di Palembang, bukan Jakarta.

Sudah dua minggu ini perjalanan dari tempat tinggal ke kantor kutempuh seperti masih jaman sekolah saja, jalan kaki. Sehat dan hemat, karena ongkos transport dihitung sebulan bisa dialihkan untuk PP ke Baturaja pulang kampung. Lalu sehari- hari untuk urusan makan (kebanyakan) mau makan di warung Padang atau di warung Tegal biasa, harganya nyaris sama. Warung Makan Padang disini ternyata kehilangan prestisiusnya, kalau para Uda dan Uni mau menaikkan harga mungkin harus berpikir panjang.

Hingga hari ini aku masih rutin menjalin kontak dengan teman- teman di Jakarta, khususnya dengan mereka yang satu hobi sependakian dan atau kawan satu almamater kuliah dulu. Biasalah, urusan masa di kampus dahulu ada saja yang belum selesai. Sementara dengan mereka yang satu pendakian, aku sejujurnya rindu untuk turun ke rimba, mendaki dan merasakan tantangan alam dalam udara dingin dan angin kencang.

Namun aku berpegang pada satu hal bahwa semua yang terasa baru di hari ini, kelak akan tiba masanya akan terasa seperti terjadi kemarin saja, aku sadar bahwa semua ini akan dan harus aku lewati, kadang masa lampau memang begitu terasa indahnya.

Kata orang, itulah yang disebut zona nyaman, dan setiap pribadi yang keluar dari zona nyaman tentu akan merasakan ketidaknyamanan dalam berbagai bentuk: Kesepian, Keterkejutan, kekhawatiran dan apapun namanya. Dan diantara semua itu ada hal yang membuat kita sebagai pribadi untuk tetap bertahan, yaitu: Doa, Usaha dan Tawakkal.

P.S:
-----
Hari ini pindah Kos ke Kawasan A. Rivai.

Gambar diambil dari sini...

Read more »