6.28.2013

Sekadar Renungan Malam

Bahagia itu mudah, asal tahu apa tujuan hidup. Sebab dengan begitu tidak perlu lagi terusik oleh kiri kanan. Tahu berarti mengerti apa yang dilakukan, bagaimana dan untuk apa. Mengerti artinya paham bahwa bahagia itu ada didalam proses bukan pada hasil. Mustahil hasil didapat kalau tidak tahu bagaimana menjalani.

Bahagia itu tiada bentuk, cuma tandanya merasa lapang dan syukur. Keduanya pun tidak kasat mata. Lapang hidup seperti berbaring di lahan hijau terbuka dengan hembusan semilir angin bukit. Syukur itu merasa cukup, meski dimata orang justru masih kurang. Sebab mereka melihat dengan mata, sementara untuk melihat keduanya justru lewat hati.

Bahagia itu tidak mahal dan sederhana saja. Belitan nafsu yang membuatnya rumit. Mengingini lebih dari yang dibutuhkan, membandingkan rejeki dengan yang lain dan ingin maju melesat sendirian adalah tiga fenomena yang jadi setitik nila dalam belanga susu kehidupan. Hidup tetap perlu arah dan cita- cita untuk hari depan namun tidak dengan mengabaikan nikmat hidup hari ini.

Bagi siapapun yang mengaku sebagai mahluk yang ber Tuhan. Bahagia itu soal mudah, jalani hari, isi dengan hal seiring tujuan dan cita- cita, syukuri rejeki hari ini agar hati menjadi lapang, sebab Tuhan sudah memberi kita masing- masing hati. Jika pun masih sulit, kembalikan pada NYA sebagai pembolak- balik hati sekaligus penjaganya.

Read more »

6.20.2013

Orang Baik

Pada akhirnya saya memilih untuk mengingat kebaikan mereka, mungkin seumur hidup saya.

Dalam hidup, setiap orang tentu berurusan dengan orang lain, entah sedikit atau banyak, entah langsung atau pun tidak dan bisa jadi dari situ ada kesan, cerita atau ingatan yang terbentuk. Kadang ingatan itu tidak mengenakkan, membuat hina atau seperti diremehkan. Sakit? Tentu saja. Bahkan meninggalkan luka batin yang mengendap lama. Namun, ada kalanya juga ingatan itu menyenangkan, haru dan mendalam. Rindu? Pasti! Bukan tak mungkin seperti ingin memutar kembali waktu dan mengulanginya.

Tapi hidup tetap terus berjalan. Memori sepanjang hari yang telah lalu masih akan terus terbawa seiring waktu, termasuk memori tentang kesan pada kawan lama yang sempat kita jumpai dulu. Seandainya memilih ingatan semudah memilih makanan diatas meja, atau memilih pakaian didalam lemari, tentu kita akan memilih untuk mengingat semua hal baik dan menyenangkan saja. Sayangnya, ini semua soal sepotong hati masing- masing kita yang berbeda- beda. Tidak semua orang mampu menguasai hatinya, ada yang menjadi budak prasangka dan ada juga yang menjadi tuan sepenuhnya.

Tidak ada yang abadi didunia, semua bisa berubah. Mungkin ini sebab hidup dinamai Misteri Ilahi. Karena memang cuma ALLAH saja yang tahu soal akhir. Orang yang mungkin dulu pernah menggoreskan luka batin pada kita bisa jadi akan menjadi orang yang akan memberi bantuan moriil disaat kelak dengan tidak terduga. Dan sebaliknya bukan tidak mungkin orang yang selama ini baik dengan kita suatu saat akan dihinggapi ketidakmampuan untuk berbuat baik. Benar lah Hadist Nabi Muhammad (Peace Be Upon Him) benar bahwa sebaik- baik perkara adalah di pertengahan (kurang lebih inti redaksinya demikian).

Menyimpan dendam akan memakan energi, menunaikannya pun akan melahirkan keburukan yang bisa jadi lebih besar lagi. Sebaliknya, memaafkan dan menerima kehidupan akan membuka kelapangan hati dan ketenangan. Dan bila suatu saat kita tengah menyelenggarakan suatu hajat dan dukungan mengalir deras dari teman- teman yang dulu sempat singgah dalam kehidupan kita, bisa jadi mereka adalah manusia- manusia yang sudah lapang hatinya dan tenang jiwanya sebab bukan tidak mungkin selama ‘seperjalanan’ dengan mereka kita sudah menggoreskan salah dan kecewa, namun mereka memaafkan bahkan melupakan.

Semoga ALLAH membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang lebih baik lagi bagi mereka dan keluarganya.

Ebas

Sore hari di Pulau Bangka

Read more »

6.19.2013

Meluruskan Pameo "Kalau Bisa Cepat, Mengapa Harus Lambat?"

Berurusan dengan birokrasi sejak dulu identik dengan petugas yang lambat, acuh tak acuh dan labirin tahap yang berbelit. Mungkin bagi sebagian masyarakat tentang hal itu serupa dulu serupa pula sekarang, tidak ada perubahan yang kentara meski reformasi sudah berjalan 15 tahun lamanya. Tapi saya kira hal tersebut tidak mutlak berlaku bagi Ditjen Pajak dengan semua jajarannya. Reformasi ditubuh DJP sejak lebih dari 5 tahun silam telah membawa arus deras perubahan cara kerja dan sudut pandang aparatnya.

Akan tetapi masyarakat tidak boleh lupa, bahwa seprofesional apapun Ditjen Pajak menjalankan tugas tentu masih tetap berpegang teguh dengan prosedur dan kode etik. Disinilah kita semua harus duduk bersama memahami bahwa proses pelayanan yang profersional bukan berarti melulu harus cepat dengan membabat habis tahapan yang mungkin diperlukan sebagai alat kontrol internal.

Saya tergelitik untuk menulis perihal ini dipantik oleh satu peristiwa kecil saat ada seorang wajib pajak dengan status PKP dicabut (Pengusaha Kena Pajak) meminta untuk dikukuhkan kembali. Saya jelaskan kepadanya agar sebaiknya mengajukan permohonan baru saja dengan masa waktu penyelesaian 5 (lima) hari kerja. Ia sendiri sudah sejak Desember 2012 dicabut status sebagai PKP karena pelaporan SPT Masa PPN nya selalu NIHIL. Dan lucunya ia sama sekali tidak tahu bahwa ia sudah dari lama tidak lagi berstatus sebagai PKP. Ini indikasi bahwa kebanyakan dari kita masih cenderung ‘sungkan’ mencari tahu dengan alasan ‘belum perlu’.

Wajib Pajak itu cukup kooperatif dengan segera menyiapkan berkas persyaratan seperti foto lokasi, denah, SITU, SIUP, NPWP dan KTP pimpinan hingga fotokopi akta pendirian. Dan sesaat setelah lengkap ia saya arahkan untuk langsung menyerahkan kelengkapan tersebut ke loket antrian. Ia sempat menyampaikan bahwa ia ingin segera proses ini diselesaikan karena ia berkepentingan untuk menyegerakan urusan dengan rekanan dari kontrak yang sudah selesai ia kerjakan. Saya tersenyum dan menangguk tanda mengerti, lagipula memang begitu kelaziman yang terjadi, dengan alasan ‘butuh cepat’ wajib pajak seperti punya amunisi untuk berharap diprioritaskan.

Setelah berkas ia laporkan, ia masih menemui saya yang intinya memohon agar permohonannya diutamakan segera. Saya menjawab bahwa begitu berkas sudah saya terima dari loket maka akan segera saya kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saya. Wajib pajak tersebut lalu pamit tak lupa sambil menyisipkan kalimat: “Pak kalau memang ada caranya supaya ini bisa cepat selesai, kasih tahu saja ya! Nanti saya siapkan”

Begitulah adanya memang, selalu saja ada alasan demi kepentingan pribadi. Pada cerita diatas, terlihat sekali bahwa wajib pajak tersebut tanpa sadar menunjukkan bahwa pola pikirnya sama sekali belum berubah mengiringi modernisasi di tubuh Ditjen Pajak. Padahal siapapun tentu ingin semua urusanya selesai secepatnya namun bukan dengan labrak sana sini semau sendiri. Apalagi untuk permohonan status Pengusaha Kena Pajak harus dilakukan survey lapangan untuk memastikan kebenaran alamat dan kelayakan usaha, wawancara seputar gambaran bisnis dan lainnya. Jika tahapan ini dilanggar, siapa yang jamin bahwa setiap pemohon layak dikukuhkan sebagai PKP? Siapa yang jamin nanti kalau suatu saat mereka melakukan transaksi fiktif?

Birokrasi yang profesional hanyalah mungkin terwujud jika perubahan yang diusung ditanggapi profesional oleh masyarakat, termasuk birokrasi yang mengalir didalam tubuh Ditjen Pajak.

Read more »

6.18.2013

Pajak Dimata Seorang Pendulang Timah

Suatu siang datanglah seorang pria dengan langkah kaku dan tatapan mata yang sayu ke kantor, saya lupa nama lengkapnya, hanya saja saat saya menerimanya terlihat sekali rona kecemasan yang ia bawa sejak seharian tadi mungkin. Ternyata ia datang ke kantor dengan membawa surat himbauan yang saya kirimkan pekan lalu. Himbauan itu berisi pemberitahuan kepadanya agar segera melaporkan SPT Tahunan Orang Pribadi.

Sebisanya saya mencairkan suasana dengan menjelaskan kepadanya bahwa surat himbauan itu tidak membawa sanksi apa- apa, sebab saya kira bisa jadi hal itulah yang membuat ia terkesan seperti cemas dan takut. Lalu saya segera memintanya saat itu juga mengisi SPT Tahunan dan melaporkannya ke loket Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) di lantai dasar. Sebelum menyelesaikan semua urusan tersebut, saya sempat menanyakan kepadanya muasal penyebab keterlambatan pelaporan itu. Ia kemudian menceritakan secara runut bahkan sejak awal bagaimana ia bisa mendapatkan NPWP.

NPWP itu ia dapat setelah perusahaan tempat ia bekerja mewajibkan semua pegawainya memiliki NPWP, padahal saat itu ia hanya bekerja sebagai tenaga buruh harian lepas. Ia bekerja untuk perusahaan penambangan Timah dengan sistem upah mingguan. Namun demikian, saat ini sedang tidak memiliki pekerjaan lagi. Ketidakmengertiannya soal pajak menyebabkan ia tidak terpikir untuk mengajukan permohonan Non Efektif sementara waktu. Setelah ia mengisi SPT Tahunan yang semua ia buat NIHIL itu, ia sempat menceritakan kebingungan dan kecemasannya sejak dari hari pertama menerima surat himbauan tersebut, terlebih ia berasal dari wilayah yang jauh dari kantor ini.

Saya membayangkan kecemasan yang ia alami tentu berkelindan seputar biaya denda yang harus ia bayar atau malah sanksi pidana. Kelegaan nya mendapati bahwa surat himbauan itu tidak membawa sanksi apa- apa membuat saya merasa senang. Saya sempatkan juga memberitahukan kepadanya agar untuk sementara mengajukan permohonan sebagai Wajib Pajak Non Efektif, karena saya pikir dengan kondisi yang ia ceritakan tentu penghasilannya masih dibawah batas Penghasilan Tidak Kena Pajak. Usai itu, saya antar wajib pajak itu ke loket TPT untuk mengambil antrian supaya ia tidak lagi kebingungan dan tuntas semua urusannya.

Bapak itu adalah seorang pendulang timah, dimatanya pajak adalah sesuatu hal yang jauh dan tinggi sekali. NPWP pun ia tidak tahu, namun menarik mencermati bagaimana pajak dimatanya adalah hal yang tidak membumi bahkan menakutkan dan meski begitu apresiasi tinggi layak ditujukan kepadanya karena meski dengan gambaran seperti itu ia tetap mau tampil berani memenuhi kewajibannya. Ia adalah orang yang berani dimata saya bukan karena ia tidak punya rasa takut namun justru karena ia berani hadir melawan rasa takutnya.

Cerita soal seorang dirinya tadi adalah cerita yang jauh dari sorot media dan puja puji khalayak. Sementara kita tentu sudah terbiasa melihat banyak masyarakat yang secara kasat mata hidup sejahtera namun menghindari kewajiban pajak bahkan untuk sekadar memiliki NPWP dan melaporkan SPT Tahunan sekalipun. Tidak perlu kita cari tahu jawaban atas realita ini tetapi mungkin kita perlu belajar kembali soal keberanian dan kesadaran kepada Bapak itu tadi yang bekerja hanya sebagai seorang pendulang timah.

Read more »

6.17.2013

Size Does Not Matter. The Effort Does.

Saya hampir genap satu bulan menjadi Account Representative (AR) di Ditjen Pajak. Namun setidaknya saya sudah cukup terbiasa melihat apa dan bagaimana pekerjaan AR itu, salah satunya adalah membuat surat himbauan. Maklum sebelumnya saya bertugas sebagai pelaksana pendukung bagi para AR sehari- hari dikantor.

Di minggu pertama bertugas menjadi AR, saya belajar membuat himbauan. Sumber data yang saya gunakan adalah hasil analisa penyandingan omset lewat perhitungan terbalik antara Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai. Suatu hari sambil menganalisa data saya menemukan data setoran PPN yang tidak sebanding dengan omset Pajak Penghasilan yang dilaporkan di SPT Tahunan wajib pajak yang bersangkutan. Dengan jumlah setoran PPN sebesar Rp. 5.826.000,00 itu artinya omset yang telah dipungut PPN sebesar 10X PPN sebanding dengan Rp. 58.260.000,00 Sementara pelaporan di SPT Tahunan menyebutkan bahwa omsetnya mencapai Rp. 100.765.000,00 sehingga memunculkan selisih yang patut dipertanyakan dengan rincian sebagai berikut:

Penyerahan Total................................ Rp. 100.765.000
Penyerahan Sudah Dipungut dan Belum Dilapor..... Rp. 58.260.000
Penyerahan Belum Dipungut dan Belum Dilapor..... Rp.42.505.000
Dasar Pengenaan Pajak.......... ................ Rp.42.505.000
Pajak Pertambahan Nilai (PPN). ................. Rp. 4.250.500

Surat himbauan kemudian saya buat lalu disetujui Kepala Seksi dan Kepala Kantor. Intinya dalam surat itu, saya minta kepada wajib pajak agar memberi tanggapan paling lama 21 hari kerja sejak surat diterima. Sebetulnya saat itu, saya sempat berpikir dua kali, apa saya yakin temuan ini saya tindak lanjuti? apalagi data tersebut sudah 2 tahun yang lewat dengan jumlah yang tidak terlalu besar, sementara diluar sana masih banyak oknum wajib pajak yang mengemplang pajak puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Dan yang lebih berat lagi adalah bahwa kemungkinan kelalaian ini terjadi karena ketidaktahuan si wajib pajak.

Namun, kewajiban adalah kewajiban. Setiap rupiah potensi penerimaan negara tidak boleh menguap begitu saja, jadilah kemudian surat himbauan itu dikirimkan ke alamat wajib pajak. Selang beberapa hari kemudian, benar saja, seorang perwakilan wajib pajak datang menemui saya ke kantor. Saat itu saya sudah siap beradu argumentasi bila saja wajib pajak mempertanyakan dasar himbauan yang saya buat dan saya juga sudah siap menerima penjelasan apabila wajib pajak mampu memberikan bukti bahwa semua kewajiban sudah ditunaikan, karena bisa jadi kekeliruan berasal dari data internal kantor.

Di menit- menit kemudian terungkap bahwa benar ada PPN yang belum ia setorkan atas penjualan yang ia lakukan. Mirisnya, ia sama sekali tidak menyadari keteledoran tersebut bahkan sama sekali tidak mengetahui bahwa telah terjadi transaksi penjualan sepanjang tahun 2011. Setelah bercerita lebih jauh akhirnya diketahui bahwa saat itu perusahaan yang ia pimpin sebenarnya sedang dalam status ‘dipinjam’ secara kekeluargaan oleh rekannya. Rekan peminjam itulah yang melakukan penjualan atas nama perusahaan miliknya, entah tidak mengetahui kewajiban untuk menyetorkan PPN atau dengan niat sengaja, rekan tersebut sama sekali tidak memberitahukan ke pemilik perusahan.

Lebih jauh lagi, yang terjadi justru rekan tersebut terkesan hendak ‘cuci tangan’ dan enggan menyetorkan uang negara yang telah ia pakai. Usai wajib pajak tersebut menjelaskan semuanya, giliran saya memberi tanggapan. Saat itu saya bagai berdiri di antara empati kepadanya dan sikap profesional sebagai seorang AR. Peraturan tetaplah peraturan, negara sama sekali tidak mengetahui bahwa dilapangan terjadi praktik pinjam- meminjam seperti itu. Dan atas transaksi apapun yang dilakukan, maka negara akan merujuk ke pemilik perusahaan yang tercatat secara resmi/ diakui negara. Begitulah kurang lebih pernyataan yang saya berikan kepadanya sembari menegaskan bahwa kewajiban tersebut harus segera dipenuhi.

Akhirnya wajib pajak tersebut menyadari bahwa kelalaian yang ia lakukan membuahkan tanggung jawab yang harus segera dilunasi dan memberi pelajaran berharga soal kepercayaan dan profesionalisme. Dan saya sendiri memetik pelajaran bahwa jangan memandang sebelah mata potensi penerimaan negara yang dapat menguap yang mungkin terjadi karena ketidakmengertian wajib pajak, sebab bisa jadi disitulah ladang untuk melakukan sosialisasi langsung dan memberikan bimbingan edukatif kepada wajib pajak.

Ebas
Pangkal Pinang, Juni 2013

Read more »