4.20.2013

Catatan Penjaga Loket

Derik mesin printer dotmatrix..
Denting bel antrian..
Menghadapi banyak wajah setiap hari..

Itulah rutinitas ku sejak seminggu lalu. Setiap hari dari Senin ke Jumat, di loket nomor satu (ada empat loket) aku ditugasi sebagai penerima laporan dan surat dari para wajib pajak (WP). Ini tempat yang baru dengan tantangan dan pelajaran yang juga baru. Bermula dari pukul 08.00 pagi, saat wajib pajak mulai datang melaporkan SPT Masa atau surat lain, aku harus sudah siap dengan ramah dan penampilan rapi menerimanya hingga petang hari sekitar pukul 16.00 WIB.

Volume pelaporan itu terbilang tinggi, dengan rata- rata lebih dari 250 antrian yang dilayani (tiap pelapor bisa membawa lebih dari 5 laporan), apalagi kalau sudah tanggal batas akhir pelaporan. Bagian terberat dari itu semua adalah bahwa disaat yang sama aku tidak boleh kalah dari rasa lelah dan amarah. Karena memang tingkat beban kerja yang tinggi bisa makin pelik saat ada pelapor yang enggan menaati aturan, tidak mau menerima penjelasan dan memaksa untuk diterima. Ditambah tugas membuat register yang menuntut ketelitian dan kecermatan, maka posisiku rentan membuatku masuk jebakan self-induced misery syndrom.

"Tuhan, beri hamba kekuatan untuk mengemban amanah ini". Doa itu jadi penolong dan penguat. Bahwa hidup tak akan selalu semudah yang dibayangkan, selalu ada pelajaran dalam renungan di tiap doa. Mungkin ini cara Tuhan menjawab doaku menjadi manusia yang berguna. Karena memang, tak bisa dipungkiri bahwa aku senang bila bisa membuat wajib pajak senyum, terutama mereka yang jauh datang untuk menyampaikan bukti setor atas penghasilan mereka dari usaha kecil- kecilan penopang hidup. Tapi semua kesenangan itu harus berhadapan dengan kesabaranku yang rapuh bila bertemu wajib pajak arogan dengan sentimen negatif tentang pajak. Harga diriku gampang sekali terusik cuma melihat mimik sinis dan mendengar ujaran bernada miring mereka. Tapi pekerjaan ini tetap harus dijalankan.

Namun akhirnya terpikir olehku. Mengapa aku harus merasa insecure saat bertemu tipikal wajib pajak seperti ini? Harga diriku jauh lebih besar dari tudingan tak berdasar mereka. Emosiku terlalu berharga bila kukerahkan untuk membalas sikap mereka yang seperti memancing. Kursi loket ini tak boleh jadi saksi drama tak penting karena emosi yang lepas kendali. Kesabaran adalah harga yang harus aku bayar agar bisa menjalankan tugas dengan baik. Hidup cuman sekali maka aku harus berarti. Dan bila saatnya tiba aku ditanya Tuhan, aku cuma ingin menjawab bahwa aku sudah semampuku menjalankan amanah dariNYA dengan baik.

Palembang
20 April 2013 13.50 WIB.

Read more »

4.15.2013

Cerita Ratusan Kilometer

Motor ini memang sekadar benda tanpa nyawa yang aku beli dari teman kuliah pada akhir tahun 2010 seharga Rp. 10.000.000,-. Warnanya biru dengan bodi ramping yang sengaja kusetel lebih tinggi dari aslinya, supaya lebih lincah kalau dibawa ngebut. Tiap kali ganti spare part aku selalu beli produk resmi, walau lebih mahal tapi jaminan daya tahan itu lebih penting dan sejauh ini sudah lumayan banyak suku cadangnya yang aku ganti karena memang sudah susut manfaatnya. Mulai dari gear pack, stang bar, jok, shock, canvass kopling,  accu, sampai tool konektor mesin ke bahan bakarnya.

Tentunya dengan kubawa ke mekanik langganan di bengkel resmi. Sebab memang aku lemah di mekanika, lebih tepatnya tidak begitu tertarik. Padahal, mulai dari urusan sehari- hari sampai ke urusan pekerjaan, aku tidak bisa lepas dari motor ini. Tapi ya sudahlah, mungkin ini jalan Tuhan menciptakan orang- orang sepertiku agar para mekanik mendapatkan rejeki. Meski kekasihku sering protes soal ini, baginya paling tidak aku bisa seharusnya membetulkan sendiri tiap kali ada kerusakan. Bisa sih bisa, cuma ya untuk sebatas perawatan phsycal looking saja.

Dengan perawatan yang terbilang rutin itu, rasanya nikmat sekali melaju membelah jalanan bersama motor ini. Apalagi oli/ pelumas nya paling tidak 2-3 bulan sekali aku ganti. Ratusan kilometer aku kira sudah aku jajal bersama motor ini. Mulai dari Jakarta- Puncak (Jawa Barat) dan Jakarta- Banten- Lampung- Baturaja- Palembang. Perjalanan jauh itu tentunya pula dibarengi dengan cerita aksidental yang memberi pelajaran. Seperti misalnya saat tergelincir karena kondisi becek di ruas jalan Cibinong- Bekasi sampai membuat right brake bar motor ini melengkung bak kumis Si Jampang. Atau ketika lubang besar menganga di daerah Lubuk Batang perbatasan Ogan Komering Ulu sampai membuat ku oleng sesaat. Dan satu lagi, saat menyeberangi Selat Sunda motor ini aku parkir di lambung kapal lalu ombak tinggi membuat semua motor yang terparkir didalamnya roboh, tak terkecuali motor ini. Speedometer dan lampu depannya retak dan baret.

Cerita masih berlanjut. Kini semasa bertugas di Palembang, pekerjaan sebagai surveyor lapangan mengharuskanku keliling Palembang. Motor ini pun jadi berjasa banyak, dengannya aku bisa menyelip lincah diantara kemacetan lalu lintas atau menembus jalan tikus untuk memotong waktu tempuh. Sangat wajar bila pengeluaran rutin ku kemudian adalah untuk pos bensin dan perawatan periodik motor ini. Aku bersyukur sekali karena untuk hal ini, kekasihku, yang aku kunikahi bulan depan bisa mengerti. Karena memang motor ini jadi alat buatku untuk menjemput rezeki dari Tuhan.

Secara fisik dan performa motor ini masih bisa diandalkan. Tugasku merawatnya dan membawanya ke bengkel kalau rusak atau untuk perawatan rutin. Karena bagaimanapun juga, motor ini adalah rezeki. Kalau tidak dijaga nanti susah, segala urusan jadi lambat. Dan karena motor ini juga nanti aku bisa punya cerita untuk anak/ cucu bahwa pernah aku tempuh perjalanan jauh yang menyenangkan dan motor ini adalah saksi bisuku saat jalan berdua bersama ibu/ nenek mereka. Ya, begitulah. Memang meski cuma benda tanpa nyawa, tetapi cerita sudah banyak dilalui bersamanya, kini dan mungkin juga nanti.

Read more »

4.06.2013

Dear Mama.

Dear Mama.

Hari ini anakmu ini sudah melamar kekasihnya. Ya hari ini, 05 April 2013. Lumayan banyak tetamu dan sanak famili kita yang ikut mengiringi saat- saat menuju prosesi tadi siang. Mungkin ada sekitar 30 orang. Acaranya khidmat tapi degup jantung putramu ini kencang, lantaran tak putus doa demi kelancaran acara, apalagi ada rengek cengeng tiga bocah (Lili, Alvin dan Syifa) yang membuat geram. Tapi ya, namanya juga bocah.

Hari ini anakmu sudah setapak lebih dekat dengan arti hidup, Ma. Soalnya begini beberapa tahun lalu Papa pernah bilang bahwa hidup lelaki yang sebenarnya itu dimulai saat ia jadi seorang suami. Berat Ma, tapi mau bagaimana lagi. Kalau tidak begini hidup akan seperti ini saja, tanpa arah, tanpa tujuan. Dan ananda kira tragedi seorang lelaki adalah saat ia tidak punya keberanian dan tanggung jawab. Mama tentu setuju sekali bukan? Anakmu ini ingat betul akan kegandrunganmu pada sikap tanggung jawab.

Hari ini anakmu sadar bahwa rentetan perhatian yang dulu kerap ia terima darimu saat masih kanak- kanak akan kembali lagi. Mama dulu rajin sekali memastikan agar baju ku rapi jadi kalau ditanya orang 'anak siapa?' bisa ananda sebut nama Papa seperti yang Mama nasihatkan. Tapi tentu saja kini perhatian itu kan berbeda muasal dan cara tapi sama tujuan dan bentuknya. Ah, anakmu ini memang berantakan, menyusun baju dalam lemari pun tak rapi. Hal yang sering dulu membuat Mama marah dan mungkin membatin lelah.

Bulan depan Ma, insyaALLAH tanggal 12 Mei acaranya di Gedung Masjid Agung Baturaja. Akad dan resepsi di hari yang sama. Entah dari sana Mama bisa lihat atau tidak, ananda tidak tahu. Namun, ananda kira bila Mama masih ada di dunia tentu Mama bahagia melihat ananda yang 13 tahun lalu masih bocah kini sudah berani melamar anak gadis orang dan kan menikahinya. Semoga langkah anakmu ini adalah jalan menantang tragedi menuju mulia, dan demi apapun, tak kan terputus doa untukmu Mama.

Baturaja.
April 2013.

Read more »