9.26.2011

Catatan Reuni Sekolah


Minggu lalu, di Taman Mini Indonesia Indah Rumah Anjungan Sumatera Selatan untuk yang kali kedua aku menghadiri acara halal bihalal sekaligus temu kangen Alumni SMA N 1 Baturaja (Ogan Komering Ulu) yang berdomisili di Jabodetabek, berada di sana sampai pukul 14.00 WIB, demi apapun telah melemparkan memori dan pikiran ini ke masa lalu dan benar adanya bahwa life is an art of drawing without an eraser and i just found out that it is damn true.

Acara ini dihadiri semua angkatan, seingatku yang tertua hadir adalah angkatan 1976, 4 tahun lebih muda dari angkatan Almh. Ibu yang juga merupakan alumni sekolah yang sama, bahkan kami sempat diajar dua guru yang sama dan sang guru juga mengenal Almh. Dan yang termuda adalah aku, angkatan 2004. Harusnya banyak, namun yang hadir cuma aku.

Rumah adat Sumatera Selatan, sebuah rumah panggung yang sudah mulai jarang ditemui di banyak wilayah Bumi Sriwijaya ini bahkan bisa dibilang di jalan tempat tinggalku, rumah kami menjadi 4 dari sekian puluh rumah yang masih bisa dibilang bernafas adat. Selebihnya sudah berkonsep minimalis, berdinding semen kokoh, modern. Namun rumah tempat tinggalku bukan sekedar rumah, dan lebih manis dari sekedar home sweet home. Pernah ada sejarah, cerita dan kenangan dua generasi keluarga. Dulu rumah itu terasa begitu besar waktu aku masih kecil, namun rumah itu aku lihat mulai seperti mengecil disaat aku tumbuh besar. Entah kenapa.

Semua barang kuno khas rumah dulu itu, membuat semua gambaran cerita lampau menjadi sangat nyata, bahkan bergerak hidup dalam banyangan ku. Menyajikan kaleidoskop soal kenakalan atau kebodohan kami para cucu yang tidak akan bisa aku hapus atau perbaiki lagi. Di saat yang sama, seperti waktu yang terus melaju meninggalkan hari kemarin dengan kenangan, ada pula kilasan potret saat saat bahagia bersama dengan orang terkasih yang sudah pergi mendahului. Ikhlas saja dan sebaiknya lanjutkan hidup kini.
Bukan tak sayang, tapi doa aku kira lebih bermanfaat dari air mata.

Aku tidak akan banyak bercerita sudah jadi apa saja para alumni SMA ku. Karena aku termasuk salah satu yang menghindari esensi reuni sebagai ajang unjuk keberhasilan, menggali relasi untuk mengukuhkan nepotisme dan kesempatan membuktikan siapa kita sekarang dan hal lain yang bertendensi menciptakan jurang sosial. Yang ada dalam benakku sederhana saja, kenapa kemudian tiba-tiba saat itu, aku merasa kepemilikan kartu nama menjadi penting sebagai nilai jual dalam sebuah perkenalan? Karena memang sampai sejauh ini aku belum punya alasan kuat untuk memilikinya. Bukan tidak mungkin aku punya, tapi nanti, time will tell, as it passes us by.

Tentang reuni, seorang alim pernah berkata bahwa salah satu esensinya adalah mendekatkan yang jauh, sehingga kemudian menjalin silaturahim. Dan tentu saja bagi aku yang masih terbilang muda ini, melihat mereka yang sudah jauh diatas, adalah kesempatan untuk belajar dari pengalaman mereka, karena aku tidak punya penghapus kalau dalam hidup aku melakukan kesalahan, jadi sebelum berbuat salah sebaiknya aku pastikan aku memang belum pernah belajar atau terpikirkan mengenai hal itu, supaya kesalahan tadi berbuah pelajaran dan tidak memperpanjang daftar penyesalan. Sehingga kalau nanti umurku panjang, dimasa depan aku akan melihat kaleidoskop perbuatan baik dan pengorbanan yang tepat yang sudah aku lakukan.

2 komentar:

  • Putri Baiti Hamzah says:
    27 September 2011 at 11:04

    Hehhehhe...aku jugo punyo foto gaya makitu,kak ^^

    Ehehhehe,tapi yang bagian depan,jadi dk katek poon-poon yg kelihatan seolah2 bener2 lagi di dusun cakitu T^T

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    27 September 2011 at 13:40

    @Putri: pernah kesano jugo memangnyo Dek? bukan gaya itu tu.. memang pas diambek nyo lagi dak nyadar #alibi :)

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.