9.27.2011

Orkestra Ekonomi Pasar Rokok


Invisible Hand, begitu Adam Smith menyebut pemandu tak tampak yang mengatur ekonomi pasar. Skala lokal saja kita sebut. Kita ambil contoh pasar Rokok, karena merupakan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan pengaturan yang dijalankan sang pemandu ada dua instrumen sederhana yang memberi informasi lengkap dalam menentukan harga, yaitu: Permintaan dan Penawaran (demand & supply).

Rokok, terlepas dari segala kontroversi secara sosial dan agama, dalam postingan ini hanya aku maksudkan sebagai contoh sederhana untuk membantu memahami bagaimana suatu sistem perekonomian berjalan dengan membahas dari sisi penawaran dan permintaannya. Penawaran sendiri dalam konteks ini adalah semua jumlah yang mampu dijual produsen rokok dan Permintaan adalah semua rokok yang dibutuhkan konsumen, keduanya bertemu di pasar secara transaksional menghasilkan suatu titik yang memuaskan kemampuan kedua pihak.

Permintaan atas rokok diawali akan adanya kebutuhan konsumen atas rokok, yang bisa kita buat menjadi dua segmentasi: Remaja dan Dewasa. Dengan menggambarkan situasinya secara sederhana hanya terdiri dari dua unsur saja (prinsip cateris paribus) maka tingkat permintaan atas rokok sangat dipengaruhi oleh tingkat harga, dan kaum Remaja menjadi konsumen yang sangat peka jika harga meningkat.

Akan tetapi cerita belum berakhir sampai disitu, ada faktor lain yang dalam dunia nyata tidak bisa dianggap nihil; yaitu: Pendapatan, Barang Substitusi dan Selera. Pendapatan yang meningkat tetap tidak akan membuat konsumen mengurangi konsumsi rokoknya, atau jika pendapatan tetap sekalipun sementara ada barang substitusi lain seperti rokok tembakau sederhana, maka konsumsi produk lain serupa rokok pun tetap tinggi, apalagi kalau sudah menyangkut urusan selera.

Di negara kita, usaha untuk menangkal regresifitas konsumsi rokok adalah dengan menambah himbauan tertulis/peringatan bahaya merokok dan produk tembakau lainnya di kotak rokok dan menayangkan sejumlah iklan layanan masyarakat mengenai larangan merokok, sementara menerapkan tarif baru atas pajak untuk rokok belum menjadi pilihan yang populer yang bisa diambil. Karena perlu dipikirkan dampak buruk yang muncul jika harga rokok meningkat, seperti meningkatnya kriminalitas.


Sementara disisi lain, para produsen yang menghasilkan rokok akan terus bergerak memproduksi sejumlah rokok menyesuaikan dengan kondisi permintaan dipasar, meskipun ada kondisi yang membuat permintaan rokok menurun karena harga meningkat, lazimnya para produsen berinovasi dengan menekan biaya produksi melalui pemanfaatan tekonologi dan mencari sumber input lain yang harganya lebih murah. Namun jika hal ini gagal diupayakan produsen maka penawaran akan mengalami kelesuan bahkan bisa dibawah jumlah yang diminta (shortage) akibatnya pilihannya ada dua: membatasi jumlah produksi atau menaikkan harga untuk membiayai ongkos produksi namun dengan menyertakan inovasi yang meningkatkan nilai rokoknya.

Dua kondisi dari Penawaran dan Permintaan ini tidak bisa berjalan masing-masing, sebab saling bergantung satu sama lain. Jika digambarkan dalam sebuah kurva maka keduanya akan bertemu pada satu koordinat, yaitu kuantum dan harga. Sehingga harga yang menentukan tingkat permintaan rokok dan berapa jumlah rokok yang diproduksi pada jumlah yang memenuhi kebutuhan kedua pihak. Secara tidak langsung hal ini sudah terdesentralisasi dan memberikan pasar peran yang cukup besar dalam membuat keputusan melalui tarik ulur kepentingan dalam kegiatan Penawaran dan Permintaan. Dan Gregory Mankiw berpendapat bahwa sistem harga adalah sebuah tongkat dirigen yang dipakai untuk seluruh orkestra ekonomi. Itu berarti begitu juga untuk orkestra ekonomi rokok.

P.S:
----
Gambar diambil dari ini, melalui google.

3 komentar:

  • Fly^Pucino says:
    3 October 2011 at 16:02

    terima kasih untuk EW yang mengangkat maeri ini. gara-gara baca ini, kemaren waktu presentasi di depan bapak-bapak dan ibu-ibu undangan dalam rangka dijadikan nara sumber.. aku sedikit banyak ada jawaban. kenapa cabe impor masuk saat petani lagi diatas angin karena harga cabe melambung tinggi.

    sayang aku ga ditanya dari mana dasarnya aku menjawab spt itu. klo ditanya... pasti aku jawab.. "baca aja di BSE" haaaaaaaaahahahahahahahha

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    3 October 2011 at 17:33

    @AD: waduh, aku sendiri kl dalam posisi menjelaskan agak bingung juga mungkin, maklum baru sekedar paham secara teori belum sampai tahap presentasi :D.. tapi senang aja ternyata berguna buat AD :D

  • gga says:
    18 November 2011 at 20:01

    OOO :10: :1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12:

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.