10.24.2011

Merapi, Kali Ini.


Akhirnya tercapai juga keinginan mendaki gunung di Jawa Tengah. Merapi, kali ini. Alhamdulillah walau agak gentar kalau aku ingat erupsi nya yang masih baru dalam hitungan tahun, sampai juga ke puncaknya yang pekat belerangnya dan panas uapnya, 2911 mdpl lewat jalur Selo, Semarang.

Akhir pekan ini, 21-23 Oktober aku ikut serta dengan 23 orang yang dikoordinir oleh Lisna (temen sependakian Semeru dan Ciremai beberapa waktu lalu) merapat ke Merapi, beberapa orang dari kami berangkat dari Stasiun Senen menumpang Kereta Tawang Jaya tujuan Stasiun Semarang Poncol, selebihnya naik dari Stasiun Bekasi dan 1 orang di Terminal Terboyo, Semarang. Kereta Ekonomi yang kami tumpangi lebih tertib, tidak berjejalan dan tidak ada yang berdiri.

Berangkat dari Jakarta pukul 21.30 malam kami sampai di Semarang pukul 06.00 pagi waktu setempat, istirahat sejenak dan sarapan pagi di warung makan keluar stasiun (tapi menurutku kurang recommended karena harganya mahal untuk ukuran wilayah Jawa yang sering aku dengar murah biaya makan). Sekilas aku perhatikan Semarang memang khas, dibeberapa titik banyak bangunan yang masing sangat khas era Belanda-nya, wajar kalau sempat dijadikan salah satu lokasi syuting SHG 6 tahun lalu.

Perjalanan lanjut menuju Terminal Terboyo, untuk transit menuju Boyolali sekaligus menjemput Bang Jainer Hasudungan (anggota tim berangkat dari stasiun kereta Api Cirebon). Kemudian dengan menumpang Bis Ekonomi non-AC kami total 23 orang menuju Boyolali, perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam, melintasi beberapa daerah yang sering aku dengar salah satunya : Salatiga. Sekitar siang pukul 10 pagi kami sudah tiba di Terminal Boyolali, setelah berbenah diri sejenak perjalanan lanjut kembali dengan menumpang angkutan 3/4 tipe ELF jurusan Selo yang langsung akan mengantarkan kami ke Base Camp pendakian Merapi.

Wilayah Selo itu ibarat kawasan Puncak, Selo Pass begitu warga sekitar menamainya, di akhir pekan menjadi ramai kunjungan wisatawan untuk menikmati pemandangan dari ketinggian yang langsung mengadap ke Gunung Merbabu. Kurang lebih 1 jam kemudian kami tiba di Pos Pendaftaran pendakian, dan setelah hampir 2 jam istirahat dan persiapan kamipun mulai mendaki.


Pendakian dimulai dengan melintasi jalur aspal sebagai pembuka, namun terbilang tinggi juga tanjakannya. Sampai kemudian mulai memasuki area perkebunan warga. Aku agak terkejut secara fisik dengan medan kali ini, walau sudah masuk ke area perkebunan sekalipun, tidak banyak ditemui kawasan hutan pepohonan menahun yang biasanya membuat trekking tidak terlalu panas, yang ada hanya pepohonan perdu begitu terus sampai ke perbatasan vegetasi.

Ini membuat aklimatisasi tubuhku agak lambat, jantung berdegup kencang dan cepat namun beberapa kali aku paksakan untuk terus berjalan. Jalur yang ada memang cukup jelas namun banyak percabangan, semacam jalur yang baru dibuka. Menjelang magrib kami istirahat di tanah yang cukup datar, agak luas untuk Sholat dan bersantai. Dari sini, kami kembali mendaki dan masing-masing mulai menyalakan senter. Baru beberapa menit trekking tiba-tiba hujan cukup deras, mentalku agak gentar disini, mungkin karena sudah agak lama tidak mendaki bersamaan dengan hujan, terakhir tahun lalu, aku ingat betul itu, waktu ke Cikuray.

Tujuan kami adalah mendirikan tenda di pos terakhir, Pasar Bubrah. Hujan masih turun sementara angin justru bertiup makin kencang, ujian yang berat aku pikir, sudah mental sempat agak down kini fisik juga diserang, namun beginilah alam. Ketika sudah tiba di batas vegetasi kawasan batuan cadas, angin yang berhembus kian kencang,belum lagi kata seorang kawan berkata bahwa jalurnya sudah banyak berubah pasca erupsi, hopeless. Baru kali ini aku mendaki gunung yang untuk menuju ke pos terakhirnya saja seperti beratnya medan untuk menuju puncak, hanya bebetauan kering yang cukup curam. Aku pikir dalam hati: Bagaimana menuju puncaknya nanti??

Akhirnya setelah bersusah payah, kami tiba di Pos Pasar Bubrah, pos ini berupa dataran luas yang banyak bebatuan. Malam itu pukul 22.00 dan kami langsung mendirikan tenda, dibawah intimidasi angin malam Merapi yang dingin yang kencang, adalah sebuah pengalaman baru atau ujian baru, entahlah aku bingung juga, begitulah memang selalu ada kapok kalau sedang susahnya begitu, tapi kembali rindu kalau sudah usai begini, inilah katanya yang dinamakan candu.


Pagi kami sudah bangun, sudah agak terang suasana dari luar tenda. Aku mau keluar cuman rasanya malas, bagus di dalam tenda saja. Kalau ingat angin tadi malam rasanya sungkan untuk summit attack, terbayang kencang dan dinginnya pasti, namun setelah Sholat Subuh aku pakai baju empat lapis, celana dua lapis, kupluk dan kaos kaki dua lapis lalu keluar bergabung dengan tim yang akan menuju puncak. Setelah lengkap membawa logistik dan air minum kami bergerak, tapi tidak lupa berdoa, itu jangan lupa.

Kami mulai menapaki punggungan Merapi dari jalur yang murni bebatuan kerikil sebesar kepala bayi hingga medan dengan batuan karang sebesar bola kaki. Harus ekstra hati- hati agar pijakan yang salah tidak melongsorkan batuan tadi ke tim yang ada dibawah. Batuan yang keras bisa dijadikan pegangan namun hati-hati dengan batuan kapur yang rapuh, jangan salah ambil pegangan. Aku terus menapak satu dua hingga tiga langkah lalu istirahat menghela nafas sambil memperhatikan jalur didepan yang baik diambil.

Bersyukur medan berat yang dilewati tadi malam ternyata memberikan aku keyakinan dan kekuatan untuk bisa menuju puncak. Medan ke puncak memang lebih berat, lebih terjal dan lebih berbatu dibanding track terakhir menuju Pasar Bubrah hanya bedanya angin tidak sekencang tadi pagi, cuma kabut saja yang sering mengganggu pandangan. Tidak perlu pakai tali atau SRT untuk melewati medannya, namun harus pandai melihat mana jalur yang pas untuk dilewati dan minimum resikonya. Sekitar 2 jam mendaki puncak, akhir nya aku tiba juga, seperti biasa, aku sujud syukur dan menyadari aroma pekat belerang di Puncak ini sangat kuat dan memang sebaiknya harus segera turun, pemandangan di kawah sangat pekat kabutnya seperti mendidih saja mungkin. Sementara disisi lain, hamparan kota Semarang tampak kecil seujung kuku tidak berarti. Sungguh suatu anugrah bisa melihat dan menikmati ini semua.


Tidak ada pilihan lain jika sudah tiba dipuncak, kecuali turun. Begitu juga kalau sudah digunung. Kami mulai berangsur-angsur turun, namun hanya aku yang salah ambil jalur, maksud hati mau by pass tapi malah hampir terhempas di jalur berpasir kerikil yang rentan dilewati bebatuan yang jatuh dari atas. Nyawa taruhannya, untung dasar nasib umur masih panjang akhirnya sampai juga dibawah sambil berlari atau sandboarding
di jalur yang landai dan aku baru sadar bawah Pos Pasar Bubrah ini luas sekali, dan ada banyak tenda pendaki di sisi sisi yang lain. Dari Pasar Bubrah, Sindor- Sumbing dapat terlihat jelas (CMIIW) dan Merbabu juga tampak.

Begitu tiba di Pasar Bubrah, kami semua langsung repacking dan menyiapkan untuk segera turun kembali ke peradaban. Tentunya setelah makan siang dan merekam kebersamaan dalam gambar kenangan (singkatnya: berfoto), akhirnya 23 orang ini turun kembali karena dikejar jadwal kereta pukul 19.00. Meninggalkan Puncak Merapi dan Pasar Bubrah dengan kebisingan angin yang tenggelam dimakan hening bebatuan. Meninggalkan hembusan angin dingin yang tadi malam bergerak hebat mengarak awan mencerahkan sang mega menjadi biru terang kontras berlatar kepulan kawah sang Merapi.

Untuk 23 orang tim pendakian Merapi via Selo: (Mbak Wiwik, Arief, Uwi, Bang Jainer, Oblok, Lisna, Yuda, Bang Lukman, Oji, Ichank, Aconk, Kofle, Pak Lurah, Bange, Iyenk, Mbak Efi, Kang Erry, Dani, Harun, Kentung, Eddy. Terima kasih banyak untuk kebersamaannya dan aku tunggu kalau ada kabar mau mendaki lagi. :D

Ebas
Sudut Kamar.

4 komentar:

  • Achmad Widad says:
    24 October 2011 at 22:04

    wah, sampe Boyolali ya..mas, selamat datang Sugeng Rawuh, kalo saya tahu tak aturi pinarak (tak suruh mampir..) kerumahku..., tak sediakan jagung bakar sama singkokng bakar

  • Putri Baiti Hamzah says:
    25 October 2011 at 18:21

    Sughoiiiiii

    Dah nyampe merapi aja dirimu bang ew...dari pasar bubrah bisa liat sindoro-sumbing...mantepplahhh

    Menegangkan juga ya medannya bebatuan kering kerontang gitu

    Kali ini timnya nampak lain ya...all of them look so expert in mountaineering ^^ atau perasaanku aja ya,soalnya klihatan santai dan gak berlebihan gitu @foto pertama,itu carriernya emang sedikit dari awal atau sedikit karena udah muncak?,wkwkwk #sotoy

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    25 October 2011 at 20:20

    @achmad: terima kasih Mas, kemaren rombongan berangkatnya dan jadwalnya juga mepet jadi g sempat mampir buat sekedar jalan2 ke sekitaran Boyolali atau Semarang :D semoga sukses Mas bisnis kambing nya.. amin.. :D

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    25 October 2011 at 20:28

    @Putri: Iya, alhamdulillah.. medanya memang beda dengan gunung kebanyakan jawa barat, panas dan kering tp kadang hujan juga dan angin nya kencang dingin, itu carrier ditinggal di pos terakhir sebelum muncak, ah sama2 aja, sama2 hobi dan sama2 masih belajar hehehe... terima kasih ya :D

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.