12.28.2010

Persaudaraan Tanpa Atribut


Hidup adalah rangkaian pilihan, begitu ujar salah seorang saudara saya.

Ketika dua bulan lalu saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ikut serta sebagai siswa dalam pendidikan dan pelatihan STAPALA 2011, maka disaat itu saya memilih dan saya bertanya dengan dalam ke relung jiwa saya apa benar ini jalan yang benar-benar saya inginkan? batin saya ...berucap lirih menjawab, jawaban yang tidak bisa saya pungkiri kebenarannya.

Kemudian saya menenggelamkan identitas saya sebagai mahasiswa biasa menjadi mahasiswa plus siswa diklat STAPALA, menjalani hari-hari dengan dua peran yang disimbolkan dengan warna putih-hitam dipagi hingga siang hari dan orange-hijau dipetang hingga malam hari. Dua bulan lamanya, November- Desember 2010. Dua bulan yang menjadi masa-masa yang sangat terkenang dan berkesan dalam hidup saya, dua bulan yang membuat saya menjamah lebih dalam setiap sudut kampus ini, dan dua bulan yang telah membuat saya mendapatkan lebih dari
apa yang saya niatkan saat pertama kali memilih untuk mendaftarkan diri sebagai siswa diklat STAPALA.

Masa-masa diklat yang saya jalani bertepatan dengan masa libur semester, sehingga praktis tidak menganggu kegiatan perkuliahan, seperti kekhawatiran orang kebanyakan yang enggan ikut kegiatan ekstrakurikuler. Ada semacam kepuasan saat saya belajar banyak hal baru didalam diklat STAPALA, seperti: pengetahuan tentang teknis survival, navigasi, manajemen perjalanan dan penanganan medis. Saya yang dulu begitu serampangan setiap kali berpetualang menjadi lebih tahu bagaimana sebaiknya merancang dan menyiapkan banyak hal sebelum menyambangi alam bebas. Apa cukup sampai disitu? tentu tidak. Ada perubahan yang begitu drastis jika kini sayaberkaca melihat tubuh saya sendiri, 8 Kilogram berat badan saya menyusut. Semua karena latihan fisik mulai dari lari, push-up, sit-up, back-up dan bending yang pasti jadi menu wajib setiap kali menghadiri diklat.

Diklat tahap awal menjadi masa-masa yang berat bagi saya secara fisik dan mental, karena saat itu saya harus berjuang menyesuaikan diri dengan tempaan fisik yang begitu diharuskan, namun dari situ banyak hal yang telah saya benahi, tidak terlalu sering lagi saya push-up dengan posisi huruf V terbalik, bahkan kini saya alhamdulillah sanggup lari jogging dikampus sebanyak 5-7 putaran. Secara mental saya harus melawan ego dan emosi, bukan karena saya ini raja atau malaikat, namun lebih karena saya harus menjadi biasa diperlakukan dengan cara yang tidak biasa saya dapatkan, semua demi kelangsungan keikutsertaan saya didalam diklat yang harus saya jagakan.

Perjalanan diklat yang saya temui menghantarkan saya menjumpai beragam sensasi antara perubahan diri dan peningkatan potensi, didalamnya ada banyak kejutan, hentakan, rasa takut, rasa cemas dan pengerahan segala daya upaya untuk menaklukannya, ibarat lompatan-lompatan percik hujan yang akhirnya kembali menyatu kedalam aliran yang tenang lalu hanyut ke muara sungai menuju lautan. Begitu juga mungkin saya, setiap kecil pengembangan potensi yang terjadi tanpa saya sadari, pasti telah masuk kedalam alam bawah sadar saya membentuk diri saya yang baru.

Dalam tahapan-tahapan yang terjadi selanjutnya adalah semua semakin terasa tidak mudah, perjuangan makin terasa berat. Saya semakin sadar bahwa menjadi anggota STAPALA tidaklah semudah saat sekedar menyerahkan formulir pendaftaran. Ada rasa salut kepada mereka-mereka yang telah lebih dahulu dan berhasil melewati apa yang tengah saya jalani kini.

Tahapan yang kian berat yang harus saya jalani dalam diklat ini menempatkan saya sebagai seorang yang harus berjuang lebih melawan segala keterbatasan bahkan yang belakangan mulai muncul menyertai tanpa saya duga sebelumnya. Jujur, saya menikmati setiap tantangan di setiap level yang dimunculkan, apa lagi saya tahu betul bahwa saya tidak sendirian menjalaninya, ada tiga puluh orang lebih orang yang saya anggap sudah menjadi saudara seperjuangan didalam diklat ini, apalagi posisi saya sebagai kapten membuat saya memiliki naluri untuk mengenal setiap mereka lebih kenal dan lebih akrab. Carrier berat yang berisi peralatan pendakian, menjadi elemen baru yang selalu dibawa sebagai tambahan dilevel yang baru disetiap latihan fisik yang kami jalani. Hanya mereka yang pernah mengalaminya yang tahu betul bahwa push up dengan membawa Carrier bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Saya sebisanya mengerahkan tenaga yang terbaik yang mampu saya berikan.

Perjuangan yang kami tempuh bersama, Tekanan yang kami hadapi serempak dan semangat yang kami tumbuhkan satu sama lain rupanya telah lambat laun mengukuhkan kami menjadi pribadi-pribadi yang senasib dan sepenanggungan. Mulailah tumbuh cerita tentang terbentuknya persahabatan dan rasa saling pengertian menghadapi perbedaan diantara tiga puluh lebih kepala kami ini. Pernah ada cerita saat disenja hari kami bersama disatukan di hutan jati belakang kampus, hutan yang dulu tampak begitu tak bermakna ternyata telah menjadi
saksi bisu banyak kenangan perjalanan ini. Kita tahu betul seperti apa nampaknya wajah kampus ini dimalam hari ketika dibanyak kesempatan kami belajar bersama memahami materi yang tak sempat kami cerna dalam-dalam sewaktu diklat. Semua bisa kami alami, dan akhirnya kini saya kenang karena garis takdir telah mempertemukan kami melalui diklat STAPALA 2011.

Namun jika garis takdir itu seperti jalanan yang tidak pernah terduga rutenya, maka ia ibarat jalanan penuh liku. Dan kita pernah menjalaninya, merasakan kebersamaan sambil menyatukan visi dan meyakinkan hati bahwa kita akan memperjuangkan pilihan yang telah kita ambil yang sejatinya adalah memperjuangkan apa yang menjadikan kita mau melangkah sampai sejauh ini. Dalam diam saya kembali merenungi lirih jawab yang terucap dalam hati dulu saat saya memilih mendaftarkan diri. Apa yang kini sedang saya lakukan? Untuk apa saya melakukan semua ini? Apa ini benar-benar dorongan naluri? atau hanya sekedar mencari wahana untuk eksistensi diri? Saya sering merasa bodoh karena kadang lambat menyadari apa yang sebetulnya terbaik buat saya. Tapi wajar, karena saya memang tidak bisa menerawang masa depan, yang saya bisa hanya mencoba dan ini saya anggap sebagai proses pembelajaran yang tidak pernah salah untuk dijalani.

Berulang kali saya berusaha meyakinkan diri bahwa inilah yang terbaik untuk saya, tak henti-hentinya saya menguatkan diri untuk tetap bertahan dibatas maksimal yang saya bisa, karena saya mulai menyadari satu hal yang sepertinya menggerogoti saya dari dalam, namun saya tidak mau menyerah, dan walaupun saya harus kalah, saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya kalah secara terhormat, kalah setelah berjuang semampu yang saya bisa, walau mungkin saja banyak orang akan menilai lain. Di setiap langkah gontai yang kelelahan dan didalam hati saya yang terdiam, saya mulai harus mengakui bahwa ketika saya pertama kali mendaftarkan diri untuk menjadi bagian diklat ini, itu semua murni karena saya hanya ingin menjadi bangga dengan mengenakan seragam dan slayer kebesaran dibawah naungan organisasi yang dipandang elit, kompak bahkan ekslusif ini. Ada persaudaraan yang erat didalamnya kata banyak orang, dan saya akui memang benar begitu adanya, paling tidak begitulah yang saya lihat.

Tapi rupanya, semua kebanggaan yang saya dambakan itu tak cukup kuat untuk memotivasi saya, justru dalam perjalanan cerita diklat saya, saya menemukan hal lain yang jauh lebih berharga daripada kebanggaan itu, saya telah menemukan persaudaraan yang dalam, atas nama SABUMI bersama saudara-saudara seperjuangan diklat saya. Satu hal yang telah meluluhlantakkan pandangan saya yang begitu sempit, tentang arti kebanggaan yang tersemat hanya dalam seragam, slayer dan nomor keanggotaan. Yang bahkan jika saya telah mendapatkan itu semua, saya tidak yakin bisa menjadi pribadi yang bermanfaat seutuhnya, karena niatan saya yang hanya ingin mencicipi kebanggaan semata. Dan akhirnya semuanya muncul sebagai satuan ukur yang mendasari keputusan saya untuk berbelok mengambil jalan lain, walau ada sedikit semacam rasa sesal bahwa akhirnya saya tidak bisa menjadi bagian komunitas yang mendapat tempat istimewa dikampus ini, namun saya mendapatkan persaudaraan yang menguatkan sekaligus membuat sisi kemanusiaan saya terkuatkan.

Bahwa kita pernah saling gendong, berat sekali badanmu saudaraku!!!
Bahwa kita pernah Olahraga bersama, keringat kita jatuh kebumi yang menyatukan kita saudaraku!!!
Bahwa kita pernah saling mendukung dan menguatkan, selamanya akan tetap begitu saudaraku!!!
Bahwa kita pernah berpoto, tertawa dengan begitu ceria, jangan lupakan itu saudaraku!!!

Dan saya sudah begitu mengenal cara bicara, cara berjalan dan cara tertawa kalian, semuanya tidak akan hilang,walau mungkin jalan yang kita ambil berbeda, karena hidup adalah rangkaian pilihan. namun bagi saya semuanya harus lenyap dibawah SABUMI yangmembuat saya sadar bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kekeluargaan yang tidak mengkotakkotakan serta menerima segala kekurangan dan perbedaan masing-masing dari kita. Saya ikhlas bahwa kini akhirnya saya tidak bisa menjadi anggota STAPALA, namun berat rasanya bila saya harus kehilangan semangat persaudaraan yang menyatukan kita. Untuk itu, dimanapun kita, apapun afiliasi yang mengikat kita, jangan pernah melupakan SABUMI karena kita sama-sama tahu, bukan seberapa seringnya bertemu, bukan pula seberapa banyaknya persamaan yang ada yang membuat orang-orang itu layak disebut bersaudara, namun justru pada seberapa sering ia ingat dan menyebutkan saudara-saudaranya dalam untaian doa yang ia panjatkan.

EBAZ - 033/SBM/2011

3 komentar:

  • azhyzmaghfur says:
    11 February 2011 at 04:08

    padang hijau di balik gunung yang tinggi
    berhiaskan pelangi setelah hujan pergi
    ku terdampar di tempat seindah ini
    seperti hati sedang, sedang jatuh cinta

    ku bahagia merasakannya
    andaikan aku bisa di sini selamanya
    ‘tuk menikmatinya

    sungai mengalir sebebas aku berpikir
    hembusan angin dingin membawa aku berlari
    mensyukuri semua yang telah kau beri
    hati yang rapuh ini kau kuatkan lagi

    BIP - Pelangi dan Matahari

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    11 February 2011 at 07:13

    @Teplox:lagu ini keren Plox.. lebih keren drpada lagu Shincan yang kita bawakan waktu grand party haha.. :))

  • Anonymous says:
    4 March 2011 at 15:09

    Tulisan bagus ! tetap semangaaat ! Indra Jabrix 263/spa/90 waka Forum Stapala Alumni

    http://stapalastan.wordpress.com/

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.