11.05.2010

Catatan Akhir Kuliah (Tingkat 2)


Cerita kita dimulai jauhh sebelum kita dipertemukan, semuanya berawal ketika Tuhan mengatur segala ketetapanya dalam sebuah kitab bernama Lauhil Mahfudz, disana tinta yang tertuliskan nama kita sudah mengering tak bisa diubah dan tak bisa dibantah, semua kita hanya pasrah menjalani hidup yang melemparkan kita ke segala arah. Kemudian suatu hari dalam garis Takdir kita, tepatnya pada tanggal 4 Januari 2010, nama-nama kita tertera dalam suatu Papan Pengumuman berjudulkan suatu cerita yang melingkupi kita hingga sekarang ini, "2B D3 Pajak Khusus". Dan saya menjadi salah satu bagian bersama tiga puluh lebih nama lainnya. Suatu kebahagiaan, karena perjuangan panjang akhirnya berbuah manis; Suatu Kelegaan karena akhirnya bisa melepaskan diri sejenak dari rutinitas kantor dan Suatu Keharuan bahwa akhirnya bisa menapak jalan untuk satu tahap lebih maju dalam menggapai cita-cita.

Kemudian kita menjadi saling mengenal satu sama lain; nama-nama yang tadinya hanya bisa saya lihat dalam barisan absen akhirnya bisa juga saya jumpai; dan ternyata kita begitu berbeda dalam semua, kita datang membawa cerita, budaya, karakter dan kekhasan masing-masing yang menjadikan kelas kita begitu berbeda dan kemudian menjalani masa-masa dimana semua perbedaan itu melebur dalam harapan untuk dapat maju, berkembang dan tumbuh bersama. Masa-masa awal kebersamaan kita dalam hitungan beberapa bulan pertama menjadi momen-momen layaknya bulan madu sepasang pengantin baru, bulan madu yang kita nikmati dalam acara makan bersama secara sederhana dirumah beberapa rekan kita, hegemoni yang kita rasakan saat mengangkat tropi kemenangan turnamen futsal, menikmati obrolan santai di AMIGOS serta keceriaan-keceriaan lain yang mungkin hanya bisa dirasakan kembali saat kita melihat poto-poto besutan beberapa rekan kita saat masa-masa awal kuliah.



Ada pula saat-saat yang kita jalani bagaikan kecemasan dan keterkejutan menyertai didalamnya, yaitu ujian kembali untuk kali pertama setelah sekian tahun jiwa intelektual kita membaur dalam kesibukan dunia kerja, rutinitas kantor dan hal-hal berbau birokrasi lainnya. Tapi semuanya hampir telah kita lewati dengan usaha yang hanya diri kita sendiri yang mampu mengevaluasinya dan semoga usaha terbaik yang dapat kita persembahkan akan mengantarkan kita pada hasil terbaik yang hanya Tuhan pula yang tahu apa itu yang terbaik bagi kita. Semuanya yang kita alami sekarang ini seperti perjalanan menuju ke puncak gunung, kita telah melewati banyak tahap yang kadang melelahkan namun kadang juga membuat kita tersenyum karena kita sadar bahwa semua itu akan ada ujungnya, persis seperti gunung yang mempunyai puncak dan semakin jauh kita melangkah menuju ke puncak itu maka akan makin berat medannya namun sadarkah kita bahwa pemandangan yang akan dapat kita lihat juga semakin indah?



Layaknya cerita dalam satu keluarga, begitulah kemudian kita..

Ada kenangan tentang terbentuknya persahabatan, cerita perjuangan dan upaya pengertian yang mungkin saja telah membentuk kenangan dalam diri kita masing-masing, dan akan terbawa dalam hidup kita untuk hitungan belasan atau puluhan tahun kemudian. Hanya diri kita yang tahu betapa kita telah banyak berjuang dan bertahan untuk bisa berdiri sampai sejauh ini, dan mengapa kita memilih untuk mau tetap bertahan, sekali lagi hanya diri kita yang tahu.

Dalam perjalanan itu, sadar atau tidak sadar kita sedang menjalani suatu proses yang seharusnya akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, saya sendiri menyadari betapa banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan yang saya bawa saat awal-awal pertemuan kita, dan semuanya mengemuka dalam perjalanan saya untuk menjadi lebih baik, namun itu bukan berarti bahwa kini saya adalah manusia yang baik, masih banyak yang perlu dibenahi. Agar kelak jika saya mati saya tercatat sebagai seorang yang sedang dan terus memperbaiki diri, walau entah sudah sejauh mana. Begitu juga semoga kita semua..



Kemudian ada pula saat-saat waktu di pulau tidung, buka puasa bersama, turnamen badminton, dan kini jaket dan buku kenangan proyek akhir yang sedang menunggu akan menjadi bukti bahwa kita pernah tinggal dalam satu perjuangan kuliah bersama di Ibu kota, Jakarta. Kota sejuta paradoks kata orang, yang didalamnya keangkuhan gedung bertingkat menjadi atap bagi banyak kaum papa yang kurang berada, yang didalamnya ketulusan dan kelicikan bisa sangat sulit dibedakan, maka jadilah banyak orang didalamnya memilih untuk menjadi anti-sosial. kemudian dimana saya berada? Ah tak usah lah dipikirkan... Saya juga merasa masih kotor untuk menganggap diri saya bersih.Kebenaran hanya dari Tuhan dan dunia hanya persinggahan..



Takdir kebersamaan kita dalam cerita keluarga "2B D3 Pajak Khusus" kini tinggal hitungan hari lagi, tak ada hal buruk yang ingin kita kenang, tapi kita juga bukan malaikat yang diciptakan tanpa hawa nafsu, tanpa sengaja tentu saja ada hal yang menjadikan setan tertawa menang atas kekalahan kita menaklukannya, namun demikian kita dikaruniai akal sehat yang sebaiknya kita gunakan untuk menyadari bahwa hal buruk yang telah terjadi sebaiknya jangan terulang lagi. Buat kawan-kawan sekelas saya; saya sadar bahwa sebagai seorang kawan saya bukanlah kawan yang sempurna, dan sebagai ketua kelas saya juga bukan ketua kelas yang sempurna; kadang saya lalai bahwa seorang kawan itu harus selalu mengerti dan ada untuk kawannya juga kadang saya juga lupa bahwa menjadi seorang pemimpin berarti menjadi seorang pelayan. Untuk itu saya mohon maaf, semoga kedepan kita semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang matang dan kuat dalam mengemban amanah kehidupan. Sehingga kelak jika kita bertemu lagi, kita tidak akan lupa bahwa kita telah banyak belajar tentang nilai-nilai kehidupan dalam masa kebersamaan kita.



Salam,

Erikson Wijaya

6 komentar:

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.