9.09.2010

Belenggu Harta


Mengapa orang yang pintar secara pendidikan dan gelar akademis pun masih saja lupa dan akhirnya menjadi sombong?? sungguh aku takut.. karena jika orang yang pintar saja bisa terkontaminasi lalu bagaimana dengan orang yang biasa-biasa saja seperti aku dan banyak orang lainnya mungkin.. Ah, kadang aku takut menjadi kaya dan berharta jika mengingat dan melihat mereka yang terlupakan olehnya.. :(

Harta.. H-A-R-T-A, menurut KBBI, harta itu sama dengan barang (uang dsb) yg menjadi kekayaan; barang milik seseorang; dan berharta sama saja dengan memiliki harta. Nah, karena semua tahu bahwa (nyaris) semua urusan dunia ini memerlukan uang, sehingga akan menjadi suatu kebanggan kalau berharta. Bangga karena semua urusan tidak akan lagi menjadi penghalang, dan dalam hitungan detik semua beres.

Mungkin itu kenapa orang jadi sombong jika berharta, belum lagi dampak-dampak lainnya, dampak seperti meningkatnya status sosial dan banyaknya pujian dan mendekatnya orang-orang yang mungkin menyimpan kepentingan. Semua kepemilikan pada akhirnya membuat bangga, ya sekali lagi bangga. Dan itulah kenyatannya. Salahkah? aku lebih memilih untuk menyalahkan karena menurutku bangga itu beda tipis sekali dengan sombong, akibatnya jika kebanggan yang muncul itu dipelihara maka bukan tidak mungkin ia akan meningkat menjadi sombong. Dan orang yang sombong cenderung tidak mau mendengar nasihat sehingga sulit untuk kembali menjadi rendah hati.

Tapi kemunculan rasa bangga itu tidak bisa ditampik, ia seperti rumput yang tumbuh saat seorang petani berkebun. Hal yang bisa dilakukan adalah menyianginya dan menyemprotkan pestisida agar rerumputan itu mati atau lambat pertumbuhannya, sedikit saja seorang petani lambat menindakinya, maka rumput itu akan tumbuh lebih tinggi dari tumbuhan itu sendiri, keadaan ini sama dengan yang kita alami, jika saja kita lambat menyadarinya, maka kebanggaan itu akan menjelma menjadi kesombongan yang membuat kita merasa lebih baik dari orang lain dan berujung pada pemikiran bahwa kita berhak untuk mendikte kehidupan orang lain, berhak untuk dilayani dan berhak untuk dimuliakan. Padahal, ahhhh..

Namun mengapa orang yang pintar dan tinggi secara akademis pun kadang lalai prihal ini, sering justru merekalah yang tanpa sadar telah hanyut oleh kepemilikan harta itu, tanpa sadar mereka merasa terus menerus tertantang untuk berlomba menambah harta kekayaan mereka, sehingga kehadiran mereka yang kekurangan dan membutuhkan dianggap hanya sebagai benalu yang tidak membawa manfaat, akhirnya muncullah cacian dan makian kepada mereka yang dinilai kurang berharta itu. Apa mungkin gelar kesarjanaan dan kecerdasan otak tidak berperan penting disini?? Mungkin benar begitu.

4 komentar:

  • BABY DIJA says:
    15 September 2010 at 19:36

    assalamualaikum Om...
    Dija mau syukuran (giveaway) ultah yang ke setengah nih

    Om ikutan yaaaa

  • Elsa says:
    15 September 2010 at 19:44

    maaf lahir batin ya Son..
    maaf telat ngucapinnya

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    17 September 2010 at 10:37

    @Dijja: Dija, maaf bru bls, om ucapkan mohon maaf lahir bathin,heheheh.. wah jauhhh maaf ya Dija, g bs dtg.. selamat ulang tengah tahun Dija, semoga sehat selalu dan jadi anak yg sholehah, amin ..:D

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    17 September 2010 at 10:40

    @Elsa: sama2 mbak.. :D

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.