5.22.2009

Dalam mimpi:Neoliberalisme itu apa, son??


'Lebih suka kami melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan, daripada melihatnya sebagai embel-embel daripada suatu negara asing' (Bung Hatta)... assalamualaikum kawan2...pernah baca kutipan diatas?atau yaa... sempat terbesit pikiran yang sama atau mirip2?well, kutipan diatas itu saya ambil dari sebuah buku berjudul 'Tonggak Pemikiran Bapak Bangsa, Mahakarya Soekarno-Hatta', tanpa ada niat memposisikan diri saya sebagai pengagum atau pemuja, maka jadilah kutipan yang menggugah itu saya masukkan ke dalam postingan ini, landasan berpikirnya ya... tak jauh2,yakni memposisikan diri saya sebagai angkatan muda Indonesia, sebagaimana juga kawan2 yang laen :D yang bisa mengambil yang bagus2 dari pikiran dan tindakan para pendahulu kita, termasuklah Soekarno-Hatta. dalam postingan kali ini, saya tidak akan berdalam2 menuliskan tentang ragam tokoh dan pikiran mereka atau pemikiran yang dituduhkan ke mereka, namun saya maunya berbagi tentang pemikiran itu sendiri, yaitu sebuah pemikiran yang sekarang sedang diangkat2 dan dituding merugikan negara kita yaitu, pemikiran atau paham Neo-Libelarisme.

Setelah didorong rasa ingin tahu dan niat tulus buat bikin BSE (BlogSiErikson) ini tetap BisaSelaluEksis,hehehe... makanya pas kemaren hari lalu itu saya sempetin maen ke rumah om google buat cari tahu lebih jauh dan bisa kenal dekat dan paham apa itu yang namanya Neo-Libelarisme, dan kemudian setelah ketemu dan dibaca2,maka ada baiknya kalo kita merunut ke belakang lebih jauh ke tahun 1930an adalah ketika paham NeoLiberalisme ini belum dikenal sama sekali, disitu sejarah tentang pemikiran/paham ini dimulai yaitu ketika di tahun 1930an dunia sedang mengalami resesi global terutama di USA dan Eropa, dan pada saat itu teori ekonomi klasik dianggap telah berhasil menyelematkan perekonomian global, ekonomi klasik ini dimotori oleh John Maynard Keynes dan peganut paham ini disebut dengan Keynesian, termasuk waktu itu juga adalah IMF dan World Bank juga dikenal sebagai si kembar Keynesian, dalam paham ini perputaran kegiatan pereknomian tidak boleh sepenuhnya dilepas total ke mekanisme pasar, melainkan tetap harus ada campur tangan pemerintah melalui kebijakan yang membatasi keleluasaan swasta dalam beraktivitas. sementara itu pemikiran semacam Neoliberal belum lagi dikenal, yang ada hanyalah segelintir orang yang secara diam2 tetap menyebarkan pemikiran ini secara perlahan namun juga terorganisir, melalui lembaga pendidikan ataupun yayasan yang didanai oleh perusahaan atau bank2 swasta di eropa yang ingin memainkan dominasi dan menegasikan campur tangan pemerintah, dan Friedrich Von Hayek disebut2 sebagai bapak Neoliberal.

antara Keynesian (Neoklasik) dengan Neoliberalisme ini terdapat perbedaan yang sangat prinsip yang tidak memungkinkan keduanya berjalan berdampingan, jika Keynesian menghendaki pemerintah tetap memberi perhatian yang dalam lewat campur tangan yang mayoritas agar perekonomian dikuasai oleh negara, bukan perusahaan swasta, maka bertentangan dengan Neoliberalisme yang menginginkan agar pemerintah menyerahkan speenuhnya perekonomian kepada mekanisme pasar, kebijakan pemerintah sebisa mungkin diminimumkan atau kalo perlu dihilangkan. singkatnya dalam Keynesian pelaku ekonomi ada 4 yaitu konsumen, produsen, distributor dan pemerintah, namun pada Neoliberalisma, hanya tiga saja yaitu minus pemerintah. nahh... coba kalau saya ingat2 kembali ke buku teks pengantar pelajaran ekonomi sejak jaman SMP dulu selalu saja diajarkan bahwa pelaku ekonomi adalah produsen, konsumen dan distributor. tidak ada disebut pemerintah sebagai bagian siklus itu, artinya sudah sejak beberapa waktu lamanya inilah sistem Neolibelarisme telah menjalar menjadi pola pikir sistem perekonomian yang berjalan di banyak negara, pendapat saya ya... Indonesia juga termasuk telah kena pengaruhnya.
apa yang menjadi salah dengan sistem ini?siapa yang menjadi dirugikan dengan terterapkannya pemikiran ini?apa benar sistem ini telah membawa keuntungan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduk Indonesia?dan mengapa sistem ini menjadi kian ditakuti dan bahkan dibenci banyak negara?

mmmhhh.. dengan penyebaran yang terorganisir dan perencanaan yang matang serta pendanaan yang cukup, badan2 atau organisasi2 penganut sistem ini telah berhasil menyempalkan kredo ini ditengah dominasi teori neoklasik hingga akhirnya ketika banyak pelaku ekonomi (perusahaan swasta dan pemerintah) dunia mulai melirik ke pemikiran ini, terutama dimulai dari Eropa, ketika Inggris akhirnya yang ketika itu dibawah Margareth Tatcher menjadi penganut paham ini dan diikuti oleh Triumvirat WTO, World Bank dan IMF dengan alasan kebebasan dalam memilih, telah menunjukkan bahwa semua daya upaya mereka untuk menggeser dominasi campur tangan pemerintah telah berhasil mereka lakukan. dalam prinsip Neoliberalisme semua kegiatan ekonomi dilaksanakan secara bebas tanpa ada terikat dimensi jarak dan bahkan juga mengabaikan nilai2 yang terkandung didalam sistem pemerintahan suatu negara. yang menyedihkan adalah ketika Kediktatoran yang memberikan peluang kebebasan bertindak ekonomi lebih mereka sukai daripada demokrasi namun membatasi kebebasan kegiatan ekonomi mereka. tidak peduli mereka penderitaan macam apa yang terjadi di suatu negara yang menerapkan sistem ini asalkan kegiatan ekonomi tetap berjalan, uang masuk dengan keuntungan yang berlipat meski itu harus dijalankan diatas nilai2 penghormatan atas hak2 asasi manusia, ketimpangan sosial dan hal2 buruk lainnya yang bagi mereka hanyalah konsekuensi yang alamiah. atau istilah Toni Blair itu adalah hal-hal yang palsu!!

Indonesia mulai menjadi bagian atau mulai berkenalan dengan sistem ini adalah ketika ditahun 1970an masih dibawah rejim Soeharto melakukan impor besar2an atas peralatan senjata perang/tempur dari Inggris, dan Inggris yang merasa bahwa Indonesia adalah pasar yang loyal berusaha untuk membuat kondisi ini tetap terjaga, hingga akhirnya kondisi ini membuat terbentuknya hubungan antara negara kaya sebagai produsen dan penjual dengan negara berkembang sebagai pembeli dan penerima produk, lebih jauh lagi hubungan semacam ini terbentuk dengan tidak terikat jarak,melainkan semuanya bebas, mengglobal, atau yang lebih dikenal dengan istilah Globalisasi Pasar atau Kapitalisme Global, semua pemilik modal/perusahaan besar yang berada di segelintir negara kaya dapat memasarkan produknya hingga ke ujung Asia atau Afrika, dan tentunya dalam pelaksanaanya slelau diikuti dengan standar Neoliberalisme itu sendiri, yaitu : Minimalisasi atau bahkan Nihilisasi peraturan pemerintah yang merugikan perusahaan/pengusaha/pelaku usaha (Deregulasi), kebebasan bertransaksi ekonomi tanpa campur tangan pemerintah (Liberalisasi), Pengalihan aset2 negara menjadi milik swasta (Privatisasi) dll. begitu juga yang terjadi dengan Indonesia ketika mulai berkenalan dengan sistem ini, yang pengaruhnya mulai terasa ketika pemerintah di era 1980an mulai mengeluarkan berbagai paket deregulasi selalu dengan alasan agar tercapai efisiensi yang lebih besar dalam pelaksanaan kegiatan perekonomian. semenjak saat itu barang2 dari asing sebagai akibat pamasaran global yang dilakukan segelintir kaum pemilik modal (kapitalis) mulai secara deras masuk ke Indonesia, selain itu penghapusan2 kebijakan campur tangan pemerintah terhadap kegiatan perekonomian telah membuat terjadinya semacam pemusatan penguasaan perekonomian dari pemerintah ke sejumlah pemilik modal yaitu kroni2 suharto yang waktu itu memiliki uang yang cukup untuk menjalankan aset2 negara yang diprivatisasikan/dijual ke swasta,aset/perusahaan negara dijual kemudian mereka juga yang membelinya (keluarga dan kroninya).Jadi meski selalu dengan alasan efisiensi yang lebih besar, peralihan perekonomian dari pemerintah ke pemilik modal telah membuat terjadinya pemusatan dan belum tentu menjanjikan pemerataan manfaat ke seluruh rakyat, yang ada malah keuntungan yang diperoleh bisa ditentukan tanpa ada rasa takut akan kebijakan pemerintah yang menghambat (meski kaum pemilik modal ini tidak menolak adanya kebijakan pemerintah dibidang pajak dan subsidi bagi mereka) dan semuanya mengalir kekantung pribadi pemilik modal dan bagi mereka, rakyat adalah pihak yang harus menanggung sendiri ketidakmampuan mereka memenuhi kebutuhan yang paling mendasar sekalipun, bukan pemerintah. yang lebih merugikan lagi adalah jika privatisasi atas aset2 negara yang menguasai kepentingan hidup rakyat banyak diberikan ke pihak swasta yang bekerja sama dengan pihak asing dengan kontrak kerja puuluhan tahun lamanya, seperti yang terjadi ketika Presiden Soeharto menjual PT PDAM Jaya ke dua perusahaan anaknya Sigit Harjojuando dan Bambang Trihatmojo yang kemudian oleh mereka di gandengkan dengan Perusahaan air dari Inggris (Thames Water Indonesia) dan dari Perancis (Lyonesse Des Eaux), selain nyata2 hal ini tidak sesuai dengan UUD 45 Pasal 33 Ayat 1 dan UU No 1 Tahun 1961 yang melarang swastanisasi air minum, kontrak kerja keduanya berlangsung selama 25 tahun meskipun akhirnya dikembalikan ke negara namun posisi kedua perusahaan asing ini semakin kukuh lantaran kontrak kerja ini sehingga berganti nama menjadi PT PAM Lyonesse Jaya (Palyja) dan PT Thames PAM Jaya dengan penguasaan saham 90%, kedua perusahaan besar ini telah semaunya menjual air minum Rp2400/m3 padahal harga jual ke konsumen (rakyat,red) hanya Rp 2.130/m3 akibatnya kekurangan untuk memampukan daya beli rakyat ditanggung oleh pemerintah.
Dalam prinsip Neoliberalisme tidak ada dikenal air, listrik, beras atau semacamnya sebagai bahan dasar pokok pemenuhan hajat hidup, yang ada semuanya dapat diolah, semuanya dapat diserahkan ke swasta untuk pengelolaan yang lebih kompetitif, namun landasan teori ini tidak terwujud dalam praktiknya dilapangan, seperti ketika akhirnya beras2 impor masuk secara massal ke negara kita dengan harga yang jauh lebih murah dari harga beras yang diproduksi petani, kondisi ini mengakibatkan kehidupan petani Indonesia semakin tidak menentu, mereka dirugikan dengan menjual beras dibawah nilai yang mereka keluarkan untuk produksinya agar bisa mengikuti kemauan pasar, fungsi BULOG sebagai penjaga kestabilan harga dilampaui oleh pihak swasta yang berlomba2 memasukkan beras dan menjualnya kembali dengan harga yang murah dan tetap saja dengan keuntungan yang tinggi. kondisi ini berujung dengen ketahanan pangan dan kebangkrutan petani Indonesia. setelah itu rentetan kerugian yang diakibatkan oleh Neoliberalisme ini telah menjadikan kehidupan perekonomian semakin tidak menentu, dimana kondisi ini sudah mulai terbaca oleh IMF dan World Bank yang sebelumnya sudah sering datang ke Indonesia dengan tujuan membantu peningkatan perekonomian negara berkembang dengan memberikan bantuan/hibah agar kegiatan ekonomi bebas dalam prinsip pasar global yang mereka sarankan tetap berjalan, kini telah datang dengan tujuan lain yaitu untuk menawarkan bantuan hutang pinjaman untuk pemulihan kondisi ekonomi negara yang tidak mampu mengimbangi dominasi swasta/asing.
tetapi meski dengan status pinjaman dengan bunga yang ringan, nilai politis nya jauh lebih besar. hutang yang telah diberikan dijadikan alat untuk mendikte pemerintah negara suatu negara agar mau menjalankan kebijakan yang IMF atau world bank jalankan, yang disusun dalam suatu LoI (Letter of Intent), akibatnya karena dalam posisi tawar yang lemah, menyebabkan pemerintah menjadi tidak ada pilihan lain (TINA=There Is No Alternatives) dan memang itu yang diinginkan kaum liberal sebagaimana Tatcher, Hayek dsb. lambat laun kondisi ini semakin menjangkiti kondisi keuangan suatu negara, kemandirian bangsa menjadi sulit terwujud karena kebijakan yang dipaksakan asing untuk dituruti, bahkan terjadi semacam ketergantungan terhadap pihak asing, dan kondisi ini diperparah dengan adanya praktik korupsi yang dilakukan atas dana pinjaman yang dikucurkan asing, mereka pun bukannya tidak tahu, namun masih saja mereka meneruskan pinjaman itu, bagi mereka Bussines Must Go On, terserah itu uang mau diapakan oleh negara yang bersangkutan, yang penting keperluan mereka di negara ini terwujud, keuntungan mengalir ke mereka dan pasar bebas semakin bebas merambah dan menguasai dalam negeri suatu negara, keadaan ini sudah banyak terjadi di negara2 berkembang, utamanya semenjak krisis melanda asia ditahun 1998, IMF dan World Bank masuk ke negara2 itu dengan tujuan memberikan pinjaman sekaligus sebagai jalan masuk ke sistem perekonomian negara tersebut agar secara tanpa sadar menerapkan perekonomian liberal yang menyebabkan banyaknya perusahaan asing2 dari negara2 kaya menguasai pasar negara itu tanpa campur tangan pemerintah, bahkan barang kebutuhan pokok sekalipun.
di Indonesia, negara kita, meskipun paham neoliberal ini belum sepenuhnya masuk dan menguasai, namun kecendrungan ke arah itu bisa saja semakin berlanjut jika moral para pengambil kebijakan belum berubah untuk beralih ke kebijakan perekonomian yang sepenuhnya memihak ke rakyat. beruntung kita masih memiliki UMR yang meskipun masih belum bisa membuat buruh hidup mensekolahkan dua orang anaknya, tapi telah membuat perusahaan kapitalis dunia meraup untung besar untuk setiap produk yang dikerjakan oleh tangan2 pekerja indonesia, jika saja mereka tahu bahwa untuk satu helai celana boxer yang memberi keuntungan suatu perusahaan asing sebesar Rp 112.000 hanya tidak sampai 0,01% yang diperuntukkan bagi mereka per laba per produknya, mereka tentu akan menuntut ke perusahaan itu, dan menolak bekerja untuk mereka. dan tentu saja lambat laun mereka akan mengetahui juga tentang hal ini, suatu saat dimana sistem kapitalisme akan diruntuhkan dan berakhirnya kejayaan para segelintir penguasa ekonomi dunia yang menikmati kekayaan diatas penderitaan negara berkembang.

nahh.. kira2 begitulah pemahaman saya dari yang saya baca2 kemaren itu, hehehhhee.... kalau ada yang mau komentar silahkan ya.. dengan senang hati diterima, yaaaa..mana tau ada salah2 kata yang perlu dibenerin, ok? karena jika seorang dokter sekaliber Ibnu Sina/Avisenna saja mau belajar dan mendengar apalagi saya ini yang masih jauh dibanding beliau, hehehhee..
Wassalamualaikum

18 komentar:

  • cahyoedi says:
    22 May 2009 at 09:02

    postingan berat..
    butuh waktu biar bisa komen..
    sementara kasih komen ga penting dulu..

    PERTAMAX...!!!

  • Erikson says:
    22 May 2009 at 09:05

    hahah, bisa2 aja mas cahyo oiiii :D

  • bowocalm say's says:
    22 May 2009 at 09:08

    waahh...
    panjang son kayak kereta,,
    hihihi
    walopun td pagi ngisi pertamax
    gagal pertamax qw..
    ^_^

  • Erikson says:
    22 May 2009 at 09:12

    sekali2 wo.. kita manjang2in tali kelambu.. hehehe :D

  • irrr says:
    22 May 2009 at 09:14

    ngomen pertamaxx di bse ah,,,

    mnurutku sih son, bukannya indonesia nganut neoliberalisme dri dulu. tapi pelajaran di smp itu hanya memberikan gambaran dasar perekonomian.
    pelaku dasarnya (yang sederhana) itu ya ketiga mahluk itu *produsen, konsumen, distributor* sebagai gambaran sederhananya mungkin gini : ada orang pembuat gula, lalu dijual di warung, dan pembelinya ibu rumah tangga :D

    kalo sejak dulu kan negeri kita tercinta ini campur tangan pemerintah dalam perekonomian udah besar banget.... dan menurutku, negara yang perekonomiannya dilepas gitu aja adalah mustahil ada.

  • Erikson says:
    22 May 2009 at 09:20

    waw... thanks mas http://irrr.wordpress.com :D

  • rerere says:
    22 May 2009 at 09:46

    setuju ama irawan

    In my humble opinion,
    kayaknya sepenglihatan ku yang nggak update ini
    mekanisme harga di pasar nggak dilepas begitu aja oleh pemerintah..

    beberapa barang tertentu bukannya masih dikendalikan pemerintah? peredarannya , harganya disubsidi? dll dll

    trus pemberian insentif buat sektor2 industri tertentu sebagai bantuan karena global crisis menurut gw juga slah satu bentuk (walopun kayaknya ga langsung) usaha pemerintah untuk mengendalikan mekanisme pasar...

    kalo pemerintah sekarang dibilang "terlalu" melepaskan ekonomi pada mekanisme pasar dan percaya sama the invincible hand, hmmm ga tau juga ya, soalnya menurut gw pemerintah masih punya kebijakan2 fiskal.
    seberapa liberal mungkin tergantung dari persepsi yang melihat seberapa "terlalu lepas" pemerintah melepaskan ekonomi pada mekanisme pasar... ato ada tolak ukurnya mungkin? gw ga tau deh
    so i think its a matter of personal judgement

    *komentar ga mutu, hihihi

  • JN says:
    22 May 2009 at 10:10

    pendapat irr masuk logika, dan emang nyata

    tapi aku memang sering dibilang sesat logika, gini gini

    permasalahannya adalah pada kebutuhan dan pencukupan kebutuhan.

    indonesia memang telah menuju krisis ekonomi panjang sejak 1955 menurutku,kepemimpinan yang dianut sejak saat itu bukan berdasarkan "gagasan dan ide" tapi berdasarkan "pembandingan dan contek" sehinggga cara mencukupi kebutuhan negara ini sudah melenceng jauh dari UUD.

    begitupun dari segi ekonomi.

    ekonomi gagasan dan ide adalah ekonomi yang memiliki satu ciri "originalitas"
    - bukan karena berbeda dengan negara lain, tapi karena cara pemenuhan kebutuhannya di sesuaikan dengan kebutuhan negara itu sendiri-//

    - yang ada malah guru, dosen, instruktur, mengajarkan untuk membanding bandingan republik ini dengan negara lain !!! dengan alasan sebagai tolak ukur !kemudian mencontohnya !( mental plagiat) muak aku kalo ajaran yahudi seperti itu kita ikuti -


    makanya ada pasal 33 di UUD,
    dan pasal 27 poin B
    ( baca sendiri yah )

    kalo soal neoliberal seh aku gak mau comment
    bukan apa apa.....
    ada isu yang " aneh beberapa minggu kebelakang"
    bikin aku bad mood

    thanks ya rik....hihii
    just pendapat .... kalo sesat mungkin dah bakat

  • Anonymous says:
    22 May 2009 at 14:52

    Assalamu'alaykum Wr Wb

    Intinya faham neoliberalisme adalah faham mudhorot bagi umat, buatan kafir yang melanggar etika muamalah bagi pemeluk islam, karena dalam faham itu memberikan akses kepada pihak - pihak (privatisasi) kepada segelintir kelompok modal untuk menguasai bidang - bidang sektor penting yang memberikan dampak luas kepada masyarakat, maka perlu kita waspadai dan cermati bahwa penguasa / pemerintah akan merugikan kepentingan umat (mayoritas muslim ) di indonesia karena pola prinsip para ekonom di indonesia masih berkiblat kepada orang - orang kafir yang telah kita tahu bersama, berbasis riba, berorientasi kapitalis. Contohnya kita ingat , ketika perusahaan BUmN seperti pertamina, dibuka saham go public, air mineral yang dijual kepada asing PT. danone merek Aqua, freepot yg telah di kerok habis Amerika. Kita lihat solusi islam mengenai ini.

    Dalam pandangan Islam SDA termasuk didalamnya energi yang ada di muka bumi ini tidaklah bebas untuk dimiliki oleh individu, sebagaimana yang ada dalam pemahaman ekonomi Kapitalisme. Di dalam Islam, status kepemilikan harta dikategorikan dalam 3 kelompok, yaitu:

    1. Kepemilikan individu: izin Asy-Syâri' atas zat atau manfaat tertentu yang memungkinkan setiap orang untuk memanfaatkannya secara langsung atau mengambil kompensasi ('iwâdh) dari barang tersebut.

    2. Kepemilikan umum: izin Asy-Syâri' kepada suatu komunitas untuk bersama-sama memanfaatkan suatu benda.

    3. Kepemilikan negara: harta yang tidak termasuk kategori milik umum, namun terkait dengan hak kaum Muslim secara umum.


    Rasulullah saw. bersabda:

    Manusia itu berserikat (memiliki hak yang sama, red.) dalam tiga perkara: air, hutan, dan energi. (HR Ahmad dan Abu Dawud).


    Jika ada yang berpendapat bahwa sumber-sumber energi seperti minyak bumi, gas, batubara dan sebagainya dimasukkan ke dalam kategori pertambangan, Rasulullah saw. juga sudah memberi ketentuan umum berkaitan dengan pertambangan. Ada riwayat yang berasal dari Abyadh bin Hamal, bahwa ia pernah meminta kepada Rasul untuk mengelola tambang garamnya, lalu Rasul memberikannya. Setelah dia pergi, ada seorang laki-laki yang mempertanyakan tindakan Rasul saw., "Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (al-mâ'u al-'iddu)." Rasulullah kemudian bersabda, "Tariklah tambang tersebut darinya." (HR at-Tirmidzi).

    Hadis tersebut menyerupakan garam dengan air yang mengalir karena jumlahnya tidak terbatas. Hadis ini menjelaskan bahwa Rasullah saw. memberikan tambang garam kepada Abyadh, yang menunjukkan individu boleh memiliki tambang, jika tambang tersebut kecil. Tatkala Beliau tahu bahwa tambang tersebut merupakan tambang yang besar, Beliau mencabut kembali pemberiannya dan melarang tambang itu dimiliki oleh pribadi, karena tambang yang besar tersebut merupakan milik umum.

    Maka masih kita memilih pemilih pemimpin dan sistem yang salah yang menjerumuskan kita dalam azab Allah yang pedih. Nau'dzubillahi min dzalik.

    Islam adalah solusi nyata yang sediakan Khalik kepada kita untuk kemaslahatan dunia dan akhirat,

    abu ghaisan

  • berkejaran says:
    22 May 2009 at 16:58

    cocok bro awakmu jadi ekonom
    nggantiin alm. begawan ekonomi soemitro hehehe
    tar biar jadi T juga kek prabowo klu verivikasi kpk
    wekekek
    amin d

  • Anonymous says:
    22 May 2009 at 17:15

    oke rik.. mantap kali nih postingan nya,mengharukan nama bangsa

  • spyrogyra_sp says:
    22 May 2009 at 17:20

    nulis apo dio kau ni rik? dalem nian, panjang nian pulo, belum lagi abiz tulisan, la nak tepejem mato ni, hwahahhaa...
    susah nak komen be mutu men cak ini....hihihihi
    btw, nais post bae bro..keep posting daaah..
    Lanjutkan!!!!
    ---------
    baco lagi ah...po dio nian inti sari dari tulisan ini ni...

  • Lambe Kuning says:
    22 May 2009 at 17:40

    tah apa dia ni

  • Erikson says:
    25 May 2009 at 07:07

    @berkejaran: amin :) halah kau gal... timbang nulis beginian aja jadi ekonom.. hehehe, masih jauuhhhh :P

    @anonim:makasih ya :)

    @spyrogira_sp:sekali2la kita buat yang panjang, thanks dan..

    @lambe kuning: *&(&%^$^@$#%#$

  • Cebong Ipiet says:
    30 May 2009 at 16:40

    ah itu kan teori nya saja... kenyatannya g selalu 100% sesuai teori. dari dulu kan udah ada campur tangan pemerintah bo' , lagi kampanye aja makanya di gede gedein. Mo teori ekonomi apapun, kalo para pengambil kebijakan masih mikirin perut sendiri, y sama aja.
    coba kalo rakyat ud dpt bekal pendidikan dan pelatihan, yakin deh mau ekonomi apapun, bisa nyari makan sendiri dan bertahan hidup

  • Erikson says:
    31 May 2009 at 10:48

    tapi sampe sekarang pendidikan masih mahal bong.. makanya orang2 pada ketakutan kalo ekonomi gak berpihak ke rakyat :)

  • vici says:
    1 June 2009 at 10:40

    hmm.. buat saya neolib hanyalah jadi istilah politik sesaat, alias komoditi media menjelang pilpres. buat saya istilah tidaklah begitu penting, yang penting adalah apakah pemimpin itu pro rakyat atau konglomerat, pro asing atau tidak. terkait 3 calon presiden kita: kasus exxonmobil@blok cepu, suntikan dana ke BEI membuat saya ragu kalo SBY pro rakyat. JK pernah bilang Pasar Tanah Abang lebih penting dari Pasar Modal, tapi proyek nepotisme nya yang bertebaran membuat saya ragu, Mega-Pro? ah sudahlah, tak usah bicarakan lagi Nyonya Tua yang satu ini..

  • Erikson says:
    1 June 2009 at 11:22

    @vici:jadi bingung, apa2 sekarang semua diungkit2 buat dagangan kampanye.. terutama oleh 3 calon itu dan semua pendukungnya... bukan presiden yang memelas yang kami cari, yang sibuk mencari simpati dan meminta empati, bukan juga presiden yang grusa grusu terbawa emosi sesaat, bukan juga presdien yang sangat pandai memainkan simbol2 kerakyatan, yang kami cari adalah presiden yang berkomitmen dengan kata2nya, punya intregritas dan menepati janji.. (halah.. si Erikson sok serius, hehhehe)

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.