7.09.2012

Kelamnya Perdagangan di Masa Lampau Nusantara

Sejarah Indonesia berdiri dengan salah satu pondasi dari aspek perdagangan, sebuah aspek yang sudah sejak lama menjadi ciri khas nusantara sejak sebelum abad ke 16, saat itu perairan nusantara menjadi jalur perdagangan pelaut- pelaut ulung dari Makassar, Sumatera bahkan dunia luar mulai dari Asia hingga Eropa.

Namun, dari aspek perdagangan inilah sejarah panjang yang penuh penindasan dan penjajahan mendapatkan jalannya. Kala itu, ketika perdagangan hanya melibatkan sebagian besar peran pedagang- pedagang lokal, tidak dikenal adanya monopoli atau dominasi tunggal kaum atau golongan tertentu. Tetapi ketika bangsa Eropa mulai bersaing yang dimotori (Inggris, Belanda dan Portugis) untuk memainkan peran sebagai pelaku usaha di nusantara, saat itu warna perdagangan pelan- pelan berubah menjadi praktik monopoli yang kian mereduksi diri menjadi upaya eksploitasi.

Dalam hal perebutan dominasi peran, Belanda mampu menancapkan eksistensi dengan membentuk kongsi dagang bernama VOC sebagai pelaku usaha yang memainkan peran sebagai pemasok rempah- rempah ke negara induk dengan memonopoli perdagangan di nusantara, bahkan ketika itu pedagang- pedagang lokal bisa dikatakan kalah bersaing sehingga berubah peran dari sebagai pelaku usaha perdagangan menjadi hanya sebagai pemasok kebutuhan VOC dengan kata lain, komoditi dagang yang disediakan oleh pedagang lokal dijual kepada VOC dengan harga tertentu yang sudah dimonopoli VOC untuk kemudian oleh Belanda diperdagangkan kembali di Eropa dengan harga yang lebih tinggi, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui; memenuhi kebutuhan rempah- rempah negara induk dan menjadi pedagang di Eropa.

VOC dikepalai oleh Gubernur Jenderal, sebuah jabatan yang dibuat Pemerintah Belanda untuk mengkoordinir perdagangan di nusantara. Sampai akhirnya menjelang tahun 1800, instabilitas kondisi dalam negeri Belanda dan persaingan di kancah Eropa yang membuat Belanda makin tersisih menjadikan VOC terpinggirkan sehingga akhirnya pada Desember 1799 VOC dibubarkan dan kendali langsung berada dibawah Pemerintah Negeri Belanda, termasuk penyerahan wilayah kekuasaan perdagangan yang dikuasai VOC. Disinilah sejarah kelam penjajahan bermotif eksploitasi oleh Belanda di Indonesia dimulai secara nyata.

Sampai disini, saya hendak mengajak rekan- rekan bertukar pikiran dengan poin- poin bahasan sebagai berikut:

1. Bagaimana latar belakang pedagang- pedagang nasional pada akhirnya kalah bersaing dengan pedagang Belanda (melalui VOC) dan kemudian hanya menjadi sebagai pedagang pemasok, bukan pemain utama? Sebuah keadaan yang akhirnya membuat eksistensi Belanda makin kuat dan berkepanjangan.

2. Ketika akhir tahun 1799 dan VOC bubar, dan praktik perdagangan VOC dialihkan langsung ke Pemerintah Negeri Belanda, mengapa saat itu kondisi internal nusantara membiarkan penyerahan kekuasaan tersebut sehingga terkesan membiarkan penguasaan oleh Belanda kian berkelanjutan? Apa karena belum adanya persatuan nusantara?

3. Jika memang ada yang kurang tepat dalam artikel yang saya buat diatas, silahkan disampaikan agar tidak terjadi kekeliruan sejarah.

P.S:
-----
1. Disarikan dari Buku: Bung Hatta dan Ekonomi Islam karya Anwar Abbas.
2. Untuk cerita lengkap sejarah asal muasal motif kedatangan bangsa barat dalam blantika perdagangan nusantara bisa dibaca disini dan disini.

1 komentar:

  • ninneta says:
    11 July 2012 at 22:42

    Hi keluarga blogger ku...

    sungguh aku merindu kamu....

    Seorang indigo lagi buntu karena otak terlalu kacau...
    Nggak bisa berkisah di rumah moody dulu...
    Sedang mencoba berkisah dengan cara yang lebih ringan..

    kunjungi rumahku yang lain yaaaa...

    yang berminat sama urusan kecantikan:
    plumblush

    yang berminat sama urusan fotografi:
    mofoto


    -N-

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.