Bila Beristri Nanti Masihkah Aku Mendaki?


Ini soal hobi yang sulit diingkari, yang sudah ada sejak dulu waktu masih jaman kanak- kanak. Kala itu sudah menjadi kesenanganku menelusup rimba bukit di depan rumah atau berenang menyebrangi sungai menuju desa seberang, rasa takut atau resiko yang timbul tenggelam selalu aku lawan, belakangan aku baru tahu bahwa itulah yang disebut dengan keberanian, yaitu terus maju melangkah walau diserang rasa ragu, takut atau semacamnya.

Seiring waktu sejalan dengan kesibukan sebagai pemuda tanggung berstatus pelajar SMA, hobi itu sempat pergi entah kemana, hilang. Terus begitu sampai sudah jadi mahasiswa selama setahun di perbatasan Bintaro- Jurangmangu bahkan hingga sudah mulai bekerja di Jakarta. Sampai akhirnya menjelang penghujung tahun 2008, ada tawaran dari senior di kantor yang hendak mendaki Papandayan di Garut, pas juga saat itu aku memang butuh hiburan karena sedang bosan dengan rutinitas. Gayung bersambut, kami berangkat! Bertiga saja.

Dari situ, aku sadar bahwa hobi yang tadinya kukira sudah pergi ternyata hanya bersembunyi menunggu untuk kembali lagi. Benar saja karena setelah debut Papandayan itu, adrenalin ku terpacu untuk kembali mendaki. Ini mengantarkanku menapaki medan berat pendakian di tanah Jawa hingga ke Tanah Suku Sasak di Pulau Lombok NTB. Banyak pendakian yang sudah kulakukan menjadi cerita dan pelajaran bernilai; Papandayan, Semeru, Gede, Pangrango, Salak, Cikuray, Ciremai, Rinjani, Merapi, Raung dan Merbabu.

Hobi yang gejolaknya tak terlihat oleh mata, tak teraba oleh tangan namun kadang terasa oleh dompet ini, belakangan menjadi pertanyaan dalam benak ku. Bagaimana nanti jika aku sudah punya istri dan anak, apakah masih bisa aku melakukan pendakian dengan bebas seperti sekarang ini? Tentu banyak pertimbanganya, mulai dari waktu hingga uang untuk membelikan anak susu. Ah sudahlah, hari esok punya kekhawatirannya sendiri, sekarang bagaimana sekarang saja dan nanti bagaimana nanti saja. Sebab selalu akan ada logika dan kata hati untuk memutuskan setiap pilihan.

Yang aku pikirkan sekarang ini adalah bahwa aku mencintai keluargaku kini dan nanti, namun aku juga cinta dengan pendakian gunung, tapi akan selalu ada cerita yang harus terhenti dan sementara itu cinta akan terus melaju berjalan seiring harapan yang menyertainya. Aku harap aku tidak sampai kehilangan logika dalam memaknainya. Kini, aku tidak sabar menantikan bulan Mei, karena insyaALLAH, aku akan mendaki gunung Kerinci dan Dempo bersama rombongan dari Bandung, Cikarang dan Jakarta.

P.S:
------
#Sembari menulis ini, kadang pikiran ku menerawang ke Latimojong, Lauser dan Tambora.

Comments

  1. Pertanyaan saya simple, kapan beristri?

    ReplyDelete
  2. @Dio: Bila saatnya tiba, as planned but things are already arranged as destined. Thanks sudah mampir Dio :))

    ReplyDelete
  3. Kalau istrimu nanti seorang pendaki juga tentunya ndak akan sulit minta ijinnya bro hehe good luck ya, wish u will find her as soon as possible :)

    ReplyDelete
  4. @Seagate: ya katanya gt, kl hiker couple kawin jadi malah sering nanjak tuh, lain kl yang satunya bukan hiker haha.. thanks for the wish but i got her already Mas, kebetulan pacar ku bukan hiker Mas, makanya ini jadi bingung, orang diajakin ngobrol soal pendakian aja langsung cemberut kok haha..

    ReplyDelete
  5. ...Tuhan memberikan Jodoh dari Kaum nya. Dari org yg menyempurnakan diri mu. Jika kamu Suka Mendaki, meski istri mu tak suka setidaknya sesekali waktu ia akan memperbolehkan kamu menjalani hobby mu itu, lagian hobby mu positive. selama tidak melupakan nafkah lahir bathin segalanya bisa di bicarakan.

    Pecak iju ku pas ngan ke humah ku waktu itu.
    aman ijab kabari aku, aku pasti datang, aku yg MC yee... halah ide. awas.!!

    ReplyDelete
  6. keren hobinya.. ^_^
    ya, tinggal pamit sama istri,, sesekali ditinggal ndaki kan ngga papa toh mas? :D

    ReplyDelete
  7. @Indra: i got the point :'selama tidak melupakan nafkah lahir bathin segalanya bisa di bicarakan.' Dan aku yakin memang begini seharusnya. apalagi masukan ini datang dr seorang Indra yang sudah lama menjalani kehidupan berumah tangga. Siap Lur,kukabari ngan begitu lah parah hari nye. Terime kaseh la mampir.. :)

    ReplyDelete
  8. @goespin: mau ikut Pin? haha.. moga aja gpp :)) terima kasih Pin sudah mampir, Goespin sendiri hobinya apa?

    ReplyDelete
  9. Itulah pilihan yang sangat sulit, tapi kalau bisa jangan mendaki bang biar istri juga ke urus, karena jika istri di tinggal2 juga pasti perasaanX Gmn gitu hehehe

    ReplyDelete
  10. Kayaknya aku malah kebalikan son. Aku cita2 terpendam adalah pengen mendaki, yg sayangnya dari jaman masih kuliah dulu belom kesampean.

    Nah sekarang setelah berkeluarga dan punya anak, tetep pengen mendaki yang sampe sekarang belom terbayang entah kapan. Karena sekarang kan harus seizin suami yaaa, dan ternyata suami itu kurang suka kegiatan2 ekstrim luar ruangan macem mendaki, hiking, trekking or even rafting. Hahaha. Tapi untuk rafting, akhirnya udah berhasil bujukanku. Tinggal mendakinya aja nih. Doakan saya yah...

    Btw, kapan nikahnya nih? ditunggu undangannya, kalopun ga bisa hadir, insyaAlloh tetap mendoakan :)

    Salam Super *berasa Mario Teguh* :D

    ReplyDelete
  11. @SystemOfBlog: wah situ ngerti jg y soal perasaan, iya benar juga Mas apalagi kalau ditambah sungkan untuk menyampaikannya makin jadi tuh :) thanks for the tip Mas dan thanks juga sudah main kesini :D

    ReplyDelete
  12. @Arrazaaq: di Medan ada Sibayak Sinabung, dua gunung yang tidak terlalu tinggi yang dapat mulai didaki dari ketinggian yang cukup lumayan sehingga tidak harus berlelah2 dulu seperti gunung Ciremai di Kuningan yang start pendakiannya dari 800mdpl dari total 3078mdpl haha.. mohon doanya ya, insyaALLAH undangannya disampaikan.

    *ai Yuk, agak2 geli aku bebaso Indonesia dengan kamu hahaha.. :))

    ReplyDelete
  13. jawabannya Masih tapi Mendaki "gunung" yang lain Son ^_____^V

    ReplyDelete
  14. jangan beli tiket pulang dulu yo... ahahahahahaaa.... :p

    ReplyDelete
  15. ya kalo kata ane mah boleh2 aja tetap aga di atur waktunya jangan sampai terlalu sering..:D

    ReplyDelete
  16. @Jizu: asik g tuh? enak kayaknya ya.. tau dah yang udah ngerasain haha.. Btw lu bener2 Legend HQDGT ah hahaha, tq Jizu sudah main kemari.. :D

    ReplyDelete
  17. @AD: haha, ada yang coba buka memori Raung! udah terlanjut dibeli AD, tp insyaALLAH kali ini g dikejar waktu macam waktu itu, kali ini lebih santai dan semoga lancar, amin. Thanks ya sudah mampir dan tunggu lain waktu kalau aku nanjak ke Jawa Timur lagi akan aku repotkan lagi AD kayaknya haha.. :D

    ReplyDelete
  18. rasanya gimna ya hidup di alam liar ?

    ReplyDelete
  19. @Jelly: G bs ditulis kl soal rasa om, harus dicobain langsung hehe.. cobain aja sekali2, menurut pengalaman efeknya ada dua: kapok atau nyandu hahah.. thanks dah mampir ya :)

    ReplyDelete
  20. aku hobi jalan2, untungnyo bini aku galak jalan2 jugo jadi pacak jalan samo2 :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.

Popular posts from this blog

Teka Teki Silang (TTS)

Musim Kemarau Panjang

Satu Lilin Dua Cerita